It is currently Mon Aug 31, 2015 5:27 am

SarapanPagi Biblika

Bible Study / Christian Library

YESUS DAN HUKUM TAURAT

User avatar
 
Posts: 11003
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

YESUS DAN HUKUM TAURAT

Post by BP » Mon Nov 30, 2009 5:48 pm

YESUS DAN HUKUM TAURAT


* Matius 5:17-48
5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
5:21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
5:23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
5:24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
5:25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
5:26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.
5:27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.
5:29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.
5:30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
5:31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.
5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.
5:33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.
5:34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,
5:35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar;
5:36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun.
5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
5:38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
5:40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
5:41 Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?
5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."




I.Ayat 17-20, Hukum Taurat di Mata Yesus Kristus


Injil Matius ditulis untuk orang Kristen yang berasal dari orang Yahudi. Untuk mereka menjadi persoalan penting mengetahui bagaimana sikap Tuhan Yesus terhadap hukum-hukum dari dalam Perjanjian Lama.

Dalam ayat 17 diberi sebagai rumusan, umum bahwa Yesus tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya. Dengan hukum Taurat dimaksudkan perintah-perintah Tuhan dalam lima Kitab (pentateukh) yang pertama Perjanjian Lama, dan "kitab para nabi" ditambahkan supaya seluruh Perjanjian Lama disebutkan.


5:17 LAI TB, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
KJV, Think not that I am come to destroy the law, or the prophets: I am not come to destroy, but to fulfil.
TR, μη νομισητε οτι ηλθον καταλυσαι τον νομον η τους προφητας ουκ ηλθον καταλυσαι αλλα πληρωσαι
Translit interlinear, mê {janganlah} nomisête {kalian menyangka} hoti {bahwa} êlthon {Aku sudah datang} katalusai {untuk membatalkan} ton nomon {hukum taurat} ê {atau} tous prophêtas {(kitab-kitab) para nabi} ouk {bukan} êlthon {Aku datang} katalusai {untuk membatalkan} alla {melainkan} plêrôsai {untuk memenuhi/ melakukan dengan penuh}

Beberapa tindakan Yesus yang terdahulu membuat orang Farisi ini punya persangkaan sehingga Yesus Kristus berkata, 'mê nomisête', "janganlah kalian menyangka".

"Meniadakan", 'καταλυσαι - katalusai' dari kata 'καταλυω - kataluô' bermakna "membinasakan" (bandingkan dengan KJV 'to destroy') atau "memecahkan" kesatuan antara hukum Taurat dengan kitab para Nabi sebagai satu kesatuan.

ηλθον - êlthon 'Aku sudah datang': adalah suatu istilah yang sering dipergunakan Yesus yang berarti bahwa Ia sudah datang di dunia untuk menjalankan suatu tugas yang mulia yang diberi oleh Bapa. Tetapi apa yang dimaksudkan dengan "menggenapi perintah Tuhan dari dalam Perjanjian Lama"? Mungkin terjemahan yang paling baik ialah bahwa Yesus mau merealisasikan perintah-perintah itu secara penuh. Kata Yunani yang dipakai di sini ialah "πληροω - plêroô", yang berarti bahwa Tuhan Yesus mau melaksanakan dan menjelaskan perintah-perintah Allah dalam "ukuran penuh".

Mari kita kaji kata Inggris 'fulfill' dengan bahasa asli Perjanjian Baru. Matius 5:17 menulis 'πληρωσαι - plêrôsai', aorist aktif infinitif dari kata 'plêroô' dan jika ditelusuri asal-usulnya lagi, berasal dari 'πληρης - plêrês' ( =penuh), akhirnya berasal dari kata dasar 'πιμπλημι - pimplêmi (= mengisi). Selanjutnya kita kaji makna kata dasar πληροω - plêroô ini.

πληροω - plêroô, berarti 'memenuhi' dalam arti melakukan),

* Online Bible Greek Lexicon memberikan pengertian kata ini sebagai [1] to make full, to fill up, i.e. to fill to the full; [2] to render full, i.e. to complete

* The Complete Word Study Dictionary: New Testament, © 1992 AMG International Inc. menulis lebih komplit lagi, saya kutip garis besarnya saja.

'plêroô', sontracted plêrô, future 'plêrôsô', from 'plêrês', full, to make full, fill.

[1] Particularly, to fill a vessel or hollow place; passive.
[2] Figuratively, to fill, supply abundantly with something, impart richly, imbue with, followed by accusative, often also with an adjunct of that with which someone is filled or supplied.
[3] To fulfill, perform fully, with the accusative.
[4] To fulfill,bring to a full end, accomplish, complete.

Ada beberapa kata yang dibentuk pula dari kata 'plêroô' seperti
'anaplêroô' (diisi dari atas), 'ekpleroô' (diisi dari luar), 'plêrôma' (yang mengisi) dan 'sumplêroô' (diisi bersama-sama).

Untuk mempermudah penelaahan, saya kutip lagi ayat-ayat dengan kata 'plêroô' dan kata-kata bentukannya, Anda bisa cocokkan antara terjemahan King James Version dengan terjemahan LAI.

* Matius 9:16, "Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal ('PLÊRÔMA') itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.

* Lukas 3:5, "Setiap lembah akan ditimbun ('PLÊROÔ') dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan,"

* Lukas 8:23, "Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur. Sekonyong-konyong turunlah taufan ke danau, sehingga perahu itu kemasukan ('SUMPLÊROÔ') air dan mereka berada dalam bahaya."

* Yohanes 12:3, "Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak 'semerbak' ('PLÊROÔ') di seluruh rumah itu."

* Yohanes 16:6, "Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, sebab itu hatimu berdukacita (Yunani: 'hê lupê [kesedihan] PEPLÊRÔKEN {ia sudah mengisi] humôn [kalian] tên kardian [hati]."

The Complete Word Study Dictionary menafsirkan Matius 5:17 dengan "mengakhiri", Yesus Kristus mengakhiri hukum Taurat sesuai dengan angka [4] di atas.

Dengan demikian, Matius 5:17 menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah pelaku penggenap Hukum Taurat. Dalam dalam Ajarannya mencanangkan tatanan baru, yaitu Hukum yang baru, yaitu Hukum Kasih. Dimana setiap umat Kristus yang melaksanakan kasih, mereka juga telah menggenapi tuntutan-tuntutan Hukum Taurat. Dengan ini selaras dengan kata 'plêroô' dalam Roma 13:10 :


* Roma 13:10
LAI TB, Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.
KJV, Love worketh no ill to his neighbour: therefore love is the fulfilling of the law.
TR, η αγαπη τω πλησιον κακον ουκ εργαζεται πληρωμα ουν νομου η αγαπη
Translit interlinear, hê agapê {kasih} tô plêsion {kepada sesama} kakon {yang jahat/ yang salah} ouk {tidak} ergazetai {melakukan} plêrôma {pemenuhan (perbuatan memenuhi/ melakukan)} oun nomou {hukum taurat} hê agapê {kasih (adalah)}

    Kata kerja πληρωμα - plêrôma, plêroô berarti memenuhi dalam arti melakukan. Plêrôma bermakna 'perbuatan memenuhi (melakukan)'


Dalam Matius Pasal 5 ini, Yesus Kristus memberikan pengajaranNya dengan pijakan Hukum Taurat yang telah dikenal oleh masyarakat Yahudi, dan Yesus menekankan suatu taatanan baru dalam pelaksanaannya yaitu dengan pijakan Hukum Baru yang Ia canangkan, yaitu HUKUM KASIH. Kasih adalah Undang-undang Dasar Kerajaan Allah. Kata-kata "Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia" Adalah suatu petunjuk supaya orang Kristen terhindar dari perbuatan jahat bila mereka memelihara kasih. Maka menyusulah kesimpulan : KASIH ADALAH JALAN MEMENUHI HUKUM TAURAT.

Dalam Pasal 5 ini Yesus Kristus menjelaskan arti yang paling dalam dari perintah-perintah Tuhan itu." Nanti dalam ayat 21-48 Yesus hendak memberi contoh-contoh dari arti yang terdalam dari perintah-perintah Tuhan dalarn Perjanjian Lama itu.


5:18 LAI TB, Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi
KJV, For verily I say unto you, Till heaven and earth pass, one jot or one tittle shall in no wise pass from the law, till all be fulfilled.
TR, αμην γαρ λεγω υμιν εως αν παρελθη ο ουρανος και η γη ιωτα εν η μια κεραια ου μη παρελθη απο του νομου εως αν παντα γενηται
Translit interlinear, amên {sesungguhnya} gar {karena} legô {Aku berkata} humin {kepadamu} heôs an {sampai} parelthê {berlalu} ho ouranos {langit} kai {dan} hê gê {bumi} iôta {iota (titik)} hen {satu} hê {atau} mia {satu} keraia {garis kecil (dari sebuah huruf)} ou mê {pasti tidak} parelthê {berlalu} apo {dari} tou nomou {Taurat} heôs an {sampai} panta {semua} genêtai {terjadi}.

    ιωτα - iôta adalah huruf Ibrani "YOD" atau "WAW", yang artinya "titik" dan garis kecil. huruf ini dalam tulisan Ibrani sering boleh saja dihilangkan.

"selama belum lenyap langit dan bumi ini" artinya pada masa ini --> ini menunjukkan keabadian Taurat itu.

dikontraskan dengan :

"satu ιωτα - iôta atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi"

Kata "ditiadakan": Yunani "παρελθη - parelthê' dari kata παρερχομαι - parerkhomai adalah kata yang sama dengan lenyap.


Dalam ayat 18 Kristus menegaskan hukum Taurat tidak akan ditiadakan, bahkan satu iota' (huruf Ibrani yang terkecil) dan satu titik (sebenamya satu garis kecil pada huruf-huruf Ibrani) tidak akan dihilangkan "sebelum semuanya terjadi". Ayat 18 ini banyak sekali diperdebatkan, bagi kalangan yang ingin menempatkan Syariat Taurat berlaku dalam ibadah Gereja ayat 18 ini seringkali dipakai sebagai dasar legitimasinya. Namun mereka mengabaikan frasa terakhir dari ayat ini yaitu "sebelum semuanya terjadi"

Perhatikan kata 'παρελθη - parelthê', "berlalu", diterjemahkan oleh LAI dengan "lenyap", KJV 'pass'. Kata itu ditulis dalam bentuk second aorist aktif subjunktif dari kata 'παρερχομαι - parerkhomai'. Bentuk second aorist ini hampir sama dengan 'past tense' dalam bahasa Inggris yaitu menyatakan sesuatu hal pernah terjadi atau pernah dilakukan. Tidak menyatakan terus-menerus atau berulang kali, melainkan perbuatan pada satu titik waktu, oleh karena itu biasanya digunakan terjemahan dalam simple past meskipun adakalanya diterjemahkan dalam 'present tense' seperti KJV.

Dari kaidah tata bahasa, ungkapan ini bermakna pada masa itu yaitu pada saat Yesus Kristus berkata demikian, bukan pada masa yang akan datang. Bandingkan dengan kata 'παρελθη - parelthê' ("berlalu") dalam ayat-ayat lain:

* Matius 24:34, "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu ('parelthê'), sebelum semuanya ini terjadi."

* Markus 14:35, "Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu ('parelthê') dari pada-Nya."


Frasa yang paling penting namun sering diabaikan dalam Matius 5:18 adalah frasa "sebelum semuanya terjadi"

"semuanya terjadi" : Yunani "γενηται - genêtai" dari kata γινομαι - ginomai. Kata ini sering dipakai oleh Matius untuk sesuatu yang terjadi sebagai penggenapan nubuat (bandingkan dengan Matius 1:22, 21:4, 24:6, 26:54, 56) sbb:

Matius 1:22 : Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi
Matius 21:4 : Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi


Matius 24:6 : Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.
Matius 26:54 : Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?
Mat 26:56 : Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi." Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.


Pada Matius 24:34-35 sejajar dengan Matius 5:18 :


* Matius 24:34-35
24:34 LAI TB, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi
TR Translit, amên legô humin hoti ou mê parelthê hê genea autê heôs an panta tauta genêtai
24:35 Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu
TR Translit, ho ouranos kai hê gê pareleusetai pareleusontai hoi de logoi mou ou mê parelthôsin


Kata γινομαι - ginomai dan παρερχομαι - parerkhomai sama-sama dipakai dalam ayat diatas. Maka bisa kita tarik kesimpulan bahwa pada masa ini tidak akan ada yang dilenyapkan dari Firman yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Sampai semua yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama tentang Mesias sudah terjadi, dengan begitu artinya yang sepenuhnya sudah nyata. Dan karya Kristus telah menggenapinya di kayu salib, maka dengan ini Taurat itu telah tergenapi/ diakhiri oleh Kristus.


Selanjutnya kita teruskan ke ayat 19, supaya lebih :


5:19 LAI TB, Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
KJV, Whosoever therefore shall break one of these least commandments, and shall teach men so, he shall be called the least in the kingdom of heaven: but whosoever shall do and teach them, the same shall be called great in the kingdom of heaven.
TR, ος εαν ουν λυση μιαν των εντολων τουτων των ελαχιστων και διδαξη ουτως τους ανθρωπους ελαχιστος κληθησεται εν τη βασιλεια των ουρανων ος δ αν ποιηση και διδαξη ουτος μεγας κληθησεται εν τη βασιλεια των ουρανων
Translit interlinear, hos ean {siapa saja yang} oun {karena itu} lusê {meniadakan/memperlunak} mian {satu} tôn entolôn {dari perintah-perintah} toutôn {ini} tôn elakhistôn {yang paling kecil} kai {dan} didaxê {mengajarkan} houtôs {demikian} tous anthrôpous {orang-orang} elakhistos {yang paling kecil} klêthêsetai {ia akan dipanggil} en {didalam} tê basileia {Kerajaan} tôn ouranôn {Surga} hos d an {tetapi siapa saja} poiêsê {melakukan} kai {dan} didaxê {mengajarkan} outos {(orang) ini} megas {yang besar} klêthêsetai {akan dipanggil} en {didalam} tê basileia {kerajaan} tôn ouranôn {Surga}


Ayat diatas memperluas prinsip dari apa yang "digenapi" dengan datangnya Kristus, ke sikap para murid terhadap hukum Taurat.

Kata "λυση – lusê", verb – ditulis dalam bentuk aorist active subjunctive - third person singular
Dari kata λυω - luo, leksikon Yunani, to loosen -- break (up), destroy, dissolve, (un-)loose, melt, put off

Kata "λυση – lusê" (meniadakan/ memperlunak), yang dilakukan oleh orang-orang Farisi. Dengan cara penafsiran mereka yang kasuistik, mereka membuat Hukum Taurat itu dapat gampang dilaksanakan karena memperlemah (memperlunak) kuasa moral Hukum Taurat itu. Mereka akan "menduduki tempat yang paling rendah….., menduduki tempat yang paling tinggi…" artinya secara harfiah akan disebut "tak berarti"

Sebaliknya, Yesus mengatakan "yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga".
segala perintah menunjuk kepada Hukum Taurat PL dan hal-hal yang segera menyusul, yakni rumusan Kristus yang lebih dalam tentang Hukum Taurat yang menunjukkan kepada penggenapan sesungguhnya (Matius 5:38, Matius 22:34-40 dst).

Maka setelah "semuanya terjadi" (Matius 5:18) dilaksanakan oleh Yesus Kristus, lahir, melakukan pelayanan pengabaran Injil, mati, dan bangkit. Ia sendiri yang adalah Empunya hukum Taurat menggenapi Taurat.
Selengkapnya penjelasan untuk ayat diatas, dapat dibaca di menggenapi-dan-membatalkan-taurat-vt545.html#p1022

-----

Untuk itulah, Rasul Paulus, seorang Ahli Taurat yang mengerti betul apa itu Taurat dan juga mengerti betul ucapan Yesus tentang Taurat dapat mengatakan :


* Roma 10:4
LAI TB, Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.
KJV, For Christ is the end of the law for righteousness to every one that believeth."
TR, τελος γαρ νομου χριστος εις δικαιοσυνην παντι τω πιστευοντι
Translit interlinear, telos {akhir/ kesudahan/ tujuan} gar {sebab} nomou {hukum taurat} khristos {Kristus (adalah)} eis {sehingga} dikaiosunên {status yg dibenarkan} panti {bagi setiap} tô {(orang) yang} pisteuonti {percaya}


Dalam terjemahan LAI-TB (dan KJV) urutan kata-kata ayat 4a dalam bahasa asli dibalik. Terjemahan harfiah berbunyi : "Kegenapan/ kesudahan hukum Taurat ialah Kristus, demi kebenaran bagi tiap-tiap orang percaya"

Bandingkan terjemahan Douay-Rheims yang menulis demikian:
For the end of the law is Christ, unto justice to every one that believeth.

Dalam Perjanjian Baru, kata "τελος - telos" paling sering sebagai kata akhir/ end/ kesudahan sebagai lawan dari 'awal'. Disamping itu juga bermakna 'tujuan/ maksud' seperti dalam 1 Timotius 1:5. Tapi juga berunsur 'penggenapan' (bandingkan Lukas 22:37). Dan Yesus Kristuslah penggenap dari hukum Taurat itu. Dalam terjemahan KJV dan Douay-Rheims agaknya lebih mudah dipahami, karena kita tentu paham bahasa Inggris dalam memaknai 'the end of the law' di atas. Maksudnya pemanfaatan hukum Taurat untuk mengerjakan kebenaran, ataupun sebagai syariat agamawi sudah tidak diperlukan lagi. Karena umat Kristus telah menerima hukum yang baru, Hukum Kristus yaitu Hukum Kasih. Perbuatan kasih adalah suatu perbuatan2 yang memenuhi hukum Taurat.
Disini, bagaimanapun "telos" mengandung arti 'kesudahan, akhir'.

Dari kata dasar yang sama "telos" kita mengenal ungkapan : "Sudah genap, sudah berakhir, SUDAH SELESAI", "τετελεσται - tetelestai", dalam ayat ini :


* Yohanes 19:30
LAI TB, Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
KJV, When Jesus therefore had received the vinegar, he said, It is finished: and he bowed his head, and gave up the ghost.
TR, οτε ουν ελαβεν το οξος ο ιησους ειπεν τετελεσται και κλινας την κεφαλην παρεδωκεν το πνευμα
Translit interlinear, hote {sesudah} oun {oleh karena itu} elaben {Dia menerima} to oxos {anggur asam} ho iêsous {Yesus} eipen {Dia berkata} tetelestai {sudah selesai} kai {dan} klinas {menunduk} tên kephalên {kepala} paredôken {Dia menyerahkan} to pneuma {Roh}


Perkataan terakhir dari 7 perkataan salib "tetelestai" (sudah selesai) menggunakan kata perfek yang berarti penebusan telah dilaksanakan, sekali untuk selamanya, efeknya terasa hingga kini. Perfect Tense dalam tata bahasa Yunani ini memiliki fungsi yang khas. Tidak ada padanan baik dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang mampu menyatakan makna yang terkandung di dalamnya secara utuh.

Perfect Tense melibatkan tiga gagasan: tindakan yang berlangsung intensif; tindakan yang mengarah pada titik penyelesaian; dan keberadaan dari hasil tindakan. Proses yang dilibatkan dalam Perfect Tense adalah proses yang telah mencapai penyelesaian dengan suatu hasil pasti dari sudut pandang pembaca.



Kembali ke Matius pasal 5, Yesus Kristus merujuk kepada diriNya yang akan segera mengajarkan kegenapan Taurat, revitalisasi dari Taurat yang Ia rumuskan dalam Hukum yang baru, yaitu HUKUM KASIH :


5:20 LAI TB, Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
LAI TL, Karena Aku berkata kepadamu: Jikalau tiada kebenaranmu terlebih daripada kebenaran segala ahli Taurat dan orang Parisi, sekali-kali tiada dapat kamu masuk ke dalam kerajaan surga
KJV, For I say unto you, That except your righteousness shall exceed the righteousness of the scribes and Pharisees, ye shall in no case enter into the kingdom of heaven.
TR, λεγω γαρ υμιν οτι εαν μη περισσευση η δικαιοσυνη υμων πλειον των γραμματεων και φαρισαιων ου μη εισελθητε εις την βασιλειαν των ουρανων
Translit, legô gar humin hoti ean mê perisseusê humôn hê dikaiosunê humôn pleion tôn grammateôn kai pharisaiôn ou mê eiselthête eis tên basileian tôn ouranôn.


Disini padanan kata Yunani δικαιοσυνη - dikaiosunê, kebenaran, dalam terjemahan lama (TL) lebih tepat daripada "hidup keagamaan" (TB). Keagamaan berbau kepada inisyatif manusia, justru kurang tepat menggambarkan syarat masuk surga.
lebih benar : lebih benar, bukan lebih besar! Ahli-ahli Taurat yang adalah orang-orang yang menganggap dirinya sebagai pengajar Hukum Taurat, dan Farisi adalah orang-orang yang mengaku mengerjakan hukum Taurat. Masuk ke dalam Kerajaan Surga itu tergantung pada hubungan dengan Allah dan ini harus diperlihatkan dalam kehidupan dan ajaran yang bersifat mendalam. Kita dituntut untuk melakukan kebenaran itu sebagai syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Yesus mengatakan bahwa "hidup keagamaan" (kebenaran) orang yang percaya kepada-Nya harus lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi membuat banyak peraturan tambahan untuk hukum Taurat, tetapi seringkali melupakan inti hukum Taurat, yaitu kasih yang murni kepada Tuhan dan kasih yang murni terhadap sesama manusia. Siapa yang hidup tanpa kasih yang murni itu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Tuhan.

Berkaitan dengan Matius 5:18 yang sering disalah-artikan sebagai legitimasi Taurat berlaku juga bagi jemaat Kristus, marilah kita pahami lagi dengan perkataan yang diucapkan sendiri oleh Yesus Kristus :


* Lukas 16:16
LAI TB, Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes; dan sejak waktu itu Kerajaan Allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya.
KJV, The law and the prophets were until John: since that time the kingdom of God is preached, and every man presseth into it.
TR, ο νομος και οι προφηται εως ιωαννου απο τοτε η βασιλεια του θεου ευαγγελιζεται και πας εις αυτην βιαζεται
Translit Interlienar, ho nomos {(kitab) Taurat} kai {dan} hoi prophêtai {(kitab) nabi-nabi} heôs {hingga} iôannou {yohanes} apo tote hê basileia tou theou euaggelizetai kai pas eis autên biazetai


Cermati kata Yunani εως - "heôs", yang merujuk kepada "batasan waktu"

Meski Kata "berlaku" adalah tambahan dari penterjemah sebagai sajian terjemahan kontekstual. Namun hal tsb tidak "sepenuhnya salah" (jikalau ini hendak dipermasalahkan).
Kita juga dapat mengabaikan kata "berlaku" dalam terjemahan tsb. Tetapi kita akan menemui "kata spesifik" terhadap batasan waktu yaitu kata Yunani "heôs".


Kita akan pelajari kata Yunani "heôs", "hingga" yang jelas merujuk kepada waktu sebelum sesuatu terjadi, yang tidak dapat diterapkan sesudahnya. Sebagai contoh, kita lihat ayat-ayat berikut ini :


* Matius 5:26
LAI TB, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum (HEÔS) engkau membayar hutangmu sampai lunas.
KJV, Verily I say unto thee, Thou shalt by no means come out thence, till (HEÔS) thou hast paid the uttermost farthing.
TR, αμην λεγω σοι ου μη εξελθης εκειθεν εως αν αποδως τον εσχατον κοδραντην
Translit amên legô soi ou mê exelthês ekeithen heôs an apodôs ton eskhaton kodrantên


* 1 Korintus 16:8
LAI TB, Tetapi aku akan tinggal di Efesus sampai (HEÔS) hari raya Pentakosta,
KJV, But I will tarry at Ephesus until (HEÔS) Pentecost.
TR, επιμενω δε εν εφεσω εως της πεντηκοστης
Translit epimenô de en ephesô heôs tês pentêkostês


Jika Yesus menyatakan Hukum Taurat HINGGA Yohanes. Artinya Yesus telah memproklamirkan bahwa Dia adalah Hukum yang baru itu sendiri. Yesus Kristus adalah Hukum. Ia berotoritas merombak dan mereformulasikan Hukum Taurat.

Kita harus menyadari bahwa Yesus Kristus justru "merombak hukum yang lama itu" menuju kepada kemunian HUKUM YANG BARU, yang lebih kepada hakikatnya yang bersifat moral spritual.

Yesus Kristus adalah Allah. Karena Ia Allah, Ia mempunyai otoritas :

1. Membuat hukum dan
2. Mereformulasi hukum-hukum.

Hukum yang telah direformulasi, tidak dapat dikatakan sebagai HUKUM LAMA (yang sudah ada)

Dia adalah HUKUM itu sendiri.

inilah contoh Hukum-hukum yang telah dirombak itu :

Dari Kitab Matius :

5:21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

5:27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

5:31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.
5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.

5:33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.
5:34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,

5:38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.


Tuhan Yesus Kristus menunjukkan diriNya berotoritas penuh dalam legislasi hukum. Berkali-kali Ia menjejalkan pemurnian Hukum dengan mengkontraskan apa yang diterima manusia secara tidak murni/ tidak dalam kepenuhan Makna.


Artikel terkait :
Arti dari Matius 5:20 Hidup "Kegamaanmu", di arti-dari-matius-5-20-hidup-kegamaanmu-vt2564.html#p14778

User avatar
 
Posts: 11003
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

Re: YESUS DAN HUKUM TAURAT

Post by BP » Mon Nov 30, 2009 6:04 pm

II. Ayat 21-47, Reformasi Kristus terhadap Hukum Taurat


Sekarang kita kaji hukum-hukum yang telah dirombakNya itu :


1. Membenci - Membunuh


5:21 LAI TB, Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
KJV, Ye have heard that it was said of them of old time, Thou shalt not kill; and whosoever shall kill shall be in danger of the judgment:
TR, ηκουσατε οτι ερρεθη τοις αρχαιοις ου φονευσεις ος δ αν φονευση ενοχος εσται τη κρισει
Translit interlinear, êkousate {kalian telah mendengar} hoti {bahwa} errethê {(itu) telah dikatakan} tois {kepada orang2} arkhaiois {yang mula2/ dahulu} ou {jangan} phoneuseis {membunuh} hos d an {dan siapa saja yang} phoneusê {membunuh} enokhos {bersalah (dapat dituntut)} estai {ia adalah} tê krisei {kepada penghakiman/ penghukuman}

5:22 LAI TB, Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
KJV, But I say unto you, That whosoever is angry with his brother without a cause shall be in danger of the judgment: and whosoever shall say to his brother, Raca, shall be in danger of the council: but whosoever shall say, Thou fool, shall be in danger of hell fire.
TR, εγω δε λεγω υμιν οτι πας ο οργιζομενος τω αδελφω αυτου εικη ενοχος εσται τη κρισει ος δ αν ειπη τω αδελφω αυτου ρακα ενοχος εσται τω συνεδριω ος δ αν ειπη μωρε ενοχος εσται εις την γεενναν του πυρος
Translit interlinear, egô {Aku} de {tetapi} legô {berkata} humin {kepada kamu} hoti {bahwa} pas {setiap} ho {(orang yang )} orgizomenos {memarahi} tô adelphô {saudara} autou {nya} eikê {tanpa suatu sebab} enokhos {bersalah (dapat dituntut)} estai {ia akan menjadi} tê krisei {kepada penghakiman/ penghukuman} hos d {(dan siapa saja)} an eipê {berkata} tô adelphô {kepada saudara} autou {nya} raka {hai orang '<edited>'} enokhos {bersalah (dapat dituntut)} estai {ia akan menajdi} tô sunedriô {kepada mahkamah} hos d {(dan siapa saja)} an eipê{berkata} môre {hai orang tolol (hai yang memberontak)} enokhos {bersalah (dapat dituntut)} estai {ia akan menjadi} eis {kedalam} tên geennan {neraka} tou puros {api}


Ayat 21-22. Di sini Yesus mulai memberi contoh-contoh tentang arti yang dalam dari hukum Taurat. Ia menyebut hukum yang keenam dari "Kesepuluh Firman": "Kamu telah mendengar yang difirmankan oleh Tuhan kepada nenek moyang kita (di gunung Sinai): janganlah membunuh (Keluaran 20: 13); siapa yang membunuh harus dihukum (Bilangan 35:16-18)".

Perhatikan ayat diatas, betapa Yesus berani-beraninya "meningkatkan" standard moral terhadap apa yang telah difirmankan Allah dalam 'ASERET HADEVÂRÏM (Sepuluh firman) yang telah menjadi hukum baku diantara bani Israel. Yesus memperhadapkan "apa kata firman Allah" dengan "apa kata Yesus". Itu jelas tidak bisa dilakukan oleh "Akunya" Yesus dengan otoritas yang kurang dari Allah!. Maka, apa yang dikatakanNya dalam Matius 5:21-22a jelas adalah suatu perkataan Otoritas, dimana yang mengucapkan itu merasa diriNya adalah Allah.

Kalau hukum Taurat berbunyi: "jangan membunuh", maka hampir setiap orang di antara kita dapat berkata, bahwa ia belum pernah membunuh orang. Tetapi Yesus memperlihatkan arti yang dalam dari hukum itu; kita dapat "membunuh" orang yang lain dalam hati kita juga. Yesus mengatakan: "setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum". Di sini tidak dimaksudkan "kemarahan sebentar". Prof. W. Barclay menerangkan bahwa untuk "marah sebentar" dalam bahasa Yunani dipakai kata "θυμος - thumos". Tetapi di sini dalam naskah asli asli dipakai kata "οργη - orgê", yang berarti kemarahan yang tetap, atau dengan kata lain kebencian. Tuhan Yesus dengan.seluruh kewibawaan-Nya sebagai guru yang tertinggi ("Aku berkata") menerangkan bahwa kebencian adalah membunuh dalam hati dan sebab itu patut dihukum.

Kemudian Yesus menyebut kata-kata yang dipakai untuk menghina sesama manusia; itu juga semacam membunuh dan adalah hal yang melawan kasih terhadap sesama manusia. Kata-kata penghinaan itu diterjemahkan oleh LAI dengan bebas, sebagai "kafir" dan "jahil". Kata yang pertama dalam naskah asli berbunyi "raka", dan itu adalah suatu kata Aram yang berarti "orang yang kepalanya kosong". Kata yang kedua dalam naskah asli berbunyi: "moros" yang berarti "bebal", mungkin dengan arti sampingan "orang yang tidak mau mengenal Allah" (Mazmur 14:1: "Orang bebal berkata dalam hatinya: Tidak ada Allah").

Sebab itu kata "moros" itu dapat dianggap sebagai lebih keras dari kata "raka", dan mungkin sebab itu Yesus meningkatkan hukuman: siapa yang tanpa kasih menghina dengan kata-kata "engkau raka, yaitu kosong kepala" sepatutnya dihukum oleh Mahkamah Agama (Sanhedrin di Yerusalem), dan siapa yang tanpa kasih menghina dengan kata¬kata "engkau bebal, yaitu jahat" sepatutnya dihukum dalam neraka. Sekurang-kurangnya adalah jelas bahwa Yesus menerangkan arti yang dalam dari perintah "dengan membunuh"; kebencian dan juga kata-kata penghinaan yang muncul dari kebencian adalah semacam pembunuhan.


Artikel terkait :
REFORMASI YESUS KRISTUS: 1. Reformasi atas Penyimpangan terhadap Firman Ke-enam, di reformasi-yesus-kristus-vt3067.html#p17046




5:23 LAI TB, Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
KJV, Therefore if thou bring thy gift to the altar, and there rememberest that thy brother hath ought against thee;
TR, εαν ουν προσφερης το δωρον σου επι το θυσιαστηριον κακει μνησθης οτι ο αδελφος σου εχει τι κατα σου
Translit, ean oun prospherês to dôron sou epi to thusiastêrion kakei mnêsthês hoti ho adelphos sou ekhei ti kata sou

5:24 LAI TB, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
KJV, Leave there thy gift before the altar, and go thy way; first be reconciled to thy brother, and then come and offer thy gift.
TR, αφες εκει το δωρον σου εμπροσθεν του θυσιαστηριου και υπαγε πρωτον διαλλαγηθι τω αδελφω σου και τοτε ελθων προσφερε το δωρον σου
Translit, aphes ekei to dôron sou emprosthen tou thusiastêriou kai upage prôton diallagêthi tô adelphô sou kai tote elthôn prosphere to dôron sou


Ayat 23 dan 24. Dalam ayat ini dengan satu contoh dijelaskan bagaimana harus dipentingkan hubungan kasih dengan sesama manusia; apabila seorang mau membawa korban dan ia teringat bahwa saudaranya dapat menuduhnya dengan benar tentang sesuatu, baiklah ia lari dan berdamai dulu dengan mengakui kesalahannya. Dalam ayat 22, 23 dan 24 Yesus mempergunakan perkataan "saudara", yang berarti sesama Yahudi. Dalam "Khotbah di Bukit" Yesus berbicara kepada orang-orang Yahudi, dan karena alasan praktis itu Ia berkata tentang sesama Yahudi. Tetapi hal itu dengan sendirinya tidak boleh menghalangi kita dalam mengenakan kata-kata-Yesus kepada diri kita juga.


5:25 LAI TB, Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
KJV, Agree with thine adversary quickly, whiles thou art in the way with him; lest at any time the adversary deliver thee to the judge, and the judge deliver thee to the officer, and thou be cast into prison.
TR, ισθι ευνοων τω αντιδικω σου ταχυ εως οτου ει εν τη οδω μετ αυτου μηποτε σε παραδω ο αντιδικος τω κριτη και ο κριτης σε παραδω τω υπηρετη και εις φυλακην βληθηση
Translit, isthi eunoôn tô antidikô sou takhu heôs hotou ei en tê hodô met autou mêpote se paradô ho antidikos tô kritê kai ho kritês se paradô tô hupêretê kai eis phulakên blêthêsê

5:26 LAI TB, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.
KJV, Verily I say unto thee, Thou shalt by no means come out thence, till thou hast paid the uttermost farthing.
TR, αμην λεγω σοι ου μη εξελθης εκειθεν εως αν αποδως τον εσχατον κοδραντην
Translit, amên legô soi ou mê exelthês ekeithen heôs an apodôs ton eskhaton kodrantên

Ayat 25 dan 26. Di dalam kedua ayat ini Yesus memberi suatu contoh lagi tentang hal memelihara hubungan kasih dengan sesama manusia. Apabila engkau mempunyai perkara dengan seorang lain dan pergi bersama-sama dengan dia kepada hakim, maka paling baik kalau dicoba mengadakan perdamaian di tengah jalan. Itulah kelakuan penuh kasih; banyak perkara di dunia tetap perkara, bahkan menjadi perkara yang semakin hebat, sebab dari dua pihak tidak ada satu yang mau menjadi yang pertama dalam hal mencari perdamaian.

Seperti dijelaskan di atas, Injil Matius ditujukan kepada orang Yahudi, di sana terdapat banyak istilah-istilah yang berlaku dalam budaya Yahudi yang tidak diberikan keterangannya, Tuhan Yesus menggunakan istilah "hutang" dalam Matius 5 ayat 26. "DOSA ADALAH HUTANG" dalam pola pikir semitik. Dosa tidak akan dapat diampuni tanpa ada harga yang dibayar.

Dalam kedua ayat ini Tuhan Yesus memberi suatu contoh tentang hal memelihara hubungan kasih dengan sesama. Apabila engkau mempunyai perkara dengan orang lain dan kemudian pergi bersama dia menghadap sang hakim, maka paling baik kalau dicoba mengadakan perdamaian di tengah jalan.

Sebab kalau perkara itu diteruskan, kita belum tentu tahu bahwa pihak kitalah nanti yang akan menang dalam pengadilan, bahkan perkaranya bisa menjadi2 dans emakin rumit. Banyak orang berpikir bahwa dirinya yang benar dan nanti pasti menang di pengadilan. Namun Yesus mengajarkan, selama masih ada dalam perjalanan (kehidupan kita di dunia) kita sudah bersedia mendamaikan diri kita dengan orang lain, jangan tunggu sampai menghadap Sang Hakim yang tertinggi di akhirat nanti.

Sebelumnya, Tuhan Yesus mengajar "membenci/ marah" kepada saudaranya juga termasuk membunuh (Matius 5:21-22a). Maka, janganlah sampai "dosa marah/ membenci" ini disimpan berlarut-larut sampai kita menghadap Sang Hakim. Karena pada saat itu kita tidak akan dapat membela diri kita (membayar dosa/ hutang)

Apabila "penjara" melambangkan neraka, maka kemungkinan pelunasan tidak akan ada. Tuhan Yesus dalam kiasannya di ayat 26 memberitahukan secara implisit dosa yang disimpan akan mendatangkan hukuman yang kekal. Alkitab dengan jelas menyebutkan bahwa orang2 yang ada di neraka akan berada disana untuk selama-lamanya (Matius 25:41,46) sebab hutang mereka tidak mungkin terbayar.

User avatar
 
Posts: 11003
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

Re: YESUS DAN HUKUM TAURAT

Post by BP » Mon Nov 30, 2009 6:30 pm

2. Membayangkan Zinah - Berzinah


Tidak melakukan zinah, belumlah cukup bagi hukum Yesus, karena membayangkan zinah menurut ukuranNya, adalah sudah termasuk zinah!. Manusia tidak boleh berzinah dari sumbernya, yaitu dari dalam hati dan pikirannya yang penuh nafsu.


* Matius 5:27-28
5:27 LAI TB, Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
KJV, Ye have heard that it was said by them of old time, Thou shalt not commit adultery:
TR, ηκουσατε οτι ερρεθη τοις αρχαιοις ου μοιχευσεις
Interlinear, êkousate {kamu telah mendengar} hoti {bahwa} errethê {itu telah dikatakan} tois archaiois {dahulu kala} ou {janganlah} moikheuseis {berzinah}

5:28 LAI TB, Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.
KJV, But I say unto you, That whosoever looketh on a woman to lust after her hath committed adultery with her already in his heart.
TR, εγω δε λεγω υμιν οτι πας ο βλεπων γυναικα προς το επιθυμησαι αυτης ηδη εμοιχευσεν αυτην εν τη καρδια αυτου
Translit interlinear, egô {Aku} de {tetapi} legô {berkata} humin {kepadamu} hoti {bahwa} pas {setiap (orang)} ho {yang (maskulin)} blepôn {memandang} gunaika {perempuan} pros {dengan maksud} to epithumêsai {menginginkan dengan maksud birahi} autês {kepadanya (feminin)} êdê {karena itu kini} emoikheusen {ia telah berzinah dengan} autên {dia (feminin)} en {di dalam} tê kardia {hati} autou {-nya (maskulin)}


Ayat di atas memang lebih ditekankan untuk laki-laki, sekalipun tentu juga berlaku untuk perempuan.

Catatan :
- ο – ho, definite article - nominative singular masculine

- βλεπων – blepôn, verb - present active participle - nominative singular masculine dari kata βλεπω – blepô. Leksikon Yunani : to look at -- behold, beware, lie, look (on, to), perceive, regard, see, sight, take heed.

- επιθυμησαι – epithumêsai, verb - aorist active middle or passive deponent, dari kata επιθυμεω - epithumeô leksikon Yunani: to set the heart upon, i.e. long for (rightfully or otherwise) -- covet, desire, would fain, lust (after).


Ayat 27-28 - "Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya".

Kata-kata "setiap orang yang memandang" dalam Alkitab bahasa asli (Yunani) menggunakan bentuk masculine / laki-laki.

Mengapa ditekankan pada laki-laki? Karena pada umumnya orang perempuan baru terangsang melalui sentuhan, sedangkan orang laki-laki sudah terangsang melalui penglihatan.


Dan cukup menyentakkan, ketika Yesus melanjutkan ayat tersebut dengan ayat 29-30, yang amat tajam hukumannya :


5:29 LAI TB, Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.
KJV, And if thy right eye offend thee, pluck it out, and cast it from thee: for it is profitable for thee that one of thy members should perish, and not that thy whole body should be cast into hell.
NIV, If your right eye causes you to sin, gouge it out and throw it away. It is better for you to lose one part of your body than for your whole body to be thrown into hell.
TR, ει δε ο οφθαλμος σου ο δεξιος σκανδαλιζει σε εξελε αυτον και βαλε απο σου συμφερει γαρ σοι ινα αποληται εν των μελων σου και μη ολον το σωμα σου βληθη εις γεενναν
Translit Interlinear, ei {jika} de {maka} ho ophthalmos {mata} sou {mu} ho dexios {yang kanan} skandalizei {menjatuhkan (ke dalam dosa)} se {engkau} exele {cungkillah} auton {dia} kai {dan} bale {buanglah} apo {dari} sou {mu} sumpherei {(itu) lebih baik} gar {karena} soi {bagimu} hina {bahwa} apolêtai {menjadi kehilangan} hen {satu} tôn melôn {dari anggota-anggota (tubuh)} sou {-mu} kai {dan} mê {tidak} holon {seluruh (utuh)} to sôma {tubuh} sou {-mu} blêthê {dibuangkan} eis {ke dalam} geennan {neraka}

5:30 LAI TB, Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
KJV, And if thy right hand offend thee, cut it off, and cast it from thee: for it is profitable for thee that one of thy members should perish, and not that thy whole body should be cast into hell.
NIV, And if your right hand causes you to sin, cut it off and throw it away. It is better for you to lose one part of your body than for your whole body to go into hell.
TR, και ει η δεξια σου χειρ σκανδαλιζει σε εκκοψον αυτην και βαλε απο σου συμφερει γαρ σοι ινα αποληται εν των μελων σου και μη ολον το σωμα σου βληθη εις γεενναν
Translit Interlinear, kai {dan} ei {jika} hê dexia {kanan} sou {mu} kheir {tangan} skandalizei {menjatuhkan (ke dalam dosa)} se {engkau} ekkopson {penggallah} autên {dia} kai {dan} bale {buanglah} apo {dari} sou {-mu} sumpherei {(itu) lebih baik} gar {karena} soi {bagimu} hina {bahwa} apolêtai {menjadi kehilangan} en tôn melôn {dari anggota-anggota (tubuh)} sou {-mu} kai {dan} mê {tidak} holon {seluruh (utuh)} to sôma {tubuh} sou {-mu} blêthê {dibuangkan} eis {ke dalam} geennan {neraka}


Bandingkan dengan


* Matius 18:8-9
18:8 LAI TB, Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal.
KJV, Wherefore if thy hand or thy foot offend thee, cut them off, and cast them from thee: it is better for thee to enter into life halt or maimed, rather than having two hands or two feet to be cast into everlasting fire.
NIV, If your hand or your foot causes you to sin, cut it off and throw it away. It is better for you to enter life maimed or crippled than to have two hands or two feet and be thrown into eternal fire.
TR, ει δε η χειρ σου η ο πους σου σκανδαλιζει σε εκκοψον αυτα και βαλε απο σου καλον σοι εστιν εισελθειν εις την ζωην χωλον η κυλλον η δυο χειρας η δυο ποδας εχοντα βληθηναι εις το πυρ το αιωνιον
Translit interlinear, ei {jika} de {adapun} ê kheir {tangan} sou {-mu} ê ho pous {kaki} sou {-mu} skandalizei {menjatuhkan (ke dalam dosa)} se {wngkau} ekkopson {penggalah} auta {dia} kai {dan} bale {buangkan} apo {dari} sou {mu} kalon {baik} soi {bagimu} estin {adalah} eiselthein {masuk} eis {ke dalam} tên zôên {hidup (kekal)} khôlon {yang cacat} hê {atau} kullon {yangkakinya dipotong} ê {daripada} duo {dua} kheiras {tangan-tangan} ê {atau} duo {dua kaki-kaki} podas {mempunyai} ekhonta {mempunyai} blêthênai {dibuang} eis {ke dalam} to pur {api} to aiônion {kekal}

18:9 LAI TB, Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.
KJV, And if thine eye offend thee, pluck it out, and cast it from thee: it is better for thee to enter into life with one eye, rather than having two eyes to be cast into hell fire.
NIV, And if your eye causes you to sin, gouge it out and throw it away. It is better for you to enter life with one eye than to have two eyes and be thrown into the fire of hell.
TR, και ει ο οφθαλμος σου σκανδαλιζει σε εξελε αυτον και βαλε απο σου καλον σοι εστιν μονοφθαλμον εις την ζωην εισελθειν η δυο οφθαλμους εχοντα βληθηναι εις την γεενναν του πυρος
Translit Interlinear, kai {dan} ei {jika} ho ophthalmos {mata} sou {-mu} skandalizei {menjatuhkan (kedalam dosa)} se {engkau} exele {cungkillah} auton {dia} kai {dan} bale {buanglah} apo {dari} sou {mu} kalon {baik} soi {bagimu} estin {adalah} monophthalmon {bermata satu} eis {ke dalam} tên zôên {hidup (kekal)} eiselthein {masuk} ê {daripada} duo {dua} ophthalmous {mata} ekhonta {mempunyai} blêthênai {dibuangkan} eis {ke dalam} tên geennan {neraka} tou puros {yang berapi}


Catatan :
- σκανδαλιζει – skandalizei verb - present active indicative - third person singular. dari kata σκανδαλιζω – skandalizô, Leksikon Yunani, to entrap, i.e. trip up (figuratively, stumble (transitively) or entice to sin, apostasy or displeasure) -- (make to) offend.


Ada beberapa hal yang perlu dibahas dari text tersebut di atas:


a) Kata 'menyesatkan'. , Yunani, "σκανδαλιζει – skandalizei", NKJV/RSV/NIV: 'causes you to sin' (= menyebabkan kamu berdosa). NASB: ‘makes you to stumble’ (= membuat kamu tersandung).


b) Arti dari ungkapan 'mencungkil mata kanan' dan 'memenggal tangan kanan'.

'mata kanan' dan 'tangan kanan' menunjuk pada dosa-dosa yang paling menyenangkan dan paling disukai. Maka Perintah ini tidak boleh diartikan secara hurufiah!. Arti yang umum dari text ini adalah ini: 'Ambillah tindakan drastis untuk membuang apapun yang secara alamiah akan mencobai engkau ke dalam dosa'


Dengan kata-kata metaforis ini, Yesus yang biasanya lemah-lembut itu, kali ini menyampaikan pesan keras mengenai tanggung-jawab pihak pria dalam kaitannya dengan potensi zinah yang bisa diakibatkan oleh ulah-matanya yang "keranjang" (mata jelalatan melihat perempuan). Tanggung-jawab ini harus tegas-tegas dipikulkan kepada sumber dirinya yang mendatangkan dosa birahi baginya, yaitu dengan "merombak dari dalam dirinya sendiri secara drastis".

Yesus tidak secara sepihak membebankan pihak perempuan untuk menutup auratnya (seluruh tubuhnya) karena keberdosaan mata si-laki-laki. Namun pihak laki-lakilah yang pertama-tama harus mempersoalkan matanya sendiri.

Sekalipun Yesus mengerti akan kelemahan mata laki-laki, yang tidak pantas di-eksploitasi pihak perempuan, namun dimanapun, Yesus selalu menuding ke titik-sumbernya, dan tidak memberi peluang bagi si-pendosa untuk meng-kilahkannya kepada pihak lain atau "dunia luar". Yesus mengecam orang-orang yang hanya pandai menuding kesalahan orang luar, itu disebutNya sebagai "munafik" :

* Matius 7:5
Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu (orang lain)."



Dan Ia mengingatkan tanggung-jawab mata bagi setiap pemiliknya, karena matalah yang akan memberi dampak kepada seluruh jiwa-raga kita :


* Lukas 11:34
Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu.


Kesalahan Adam di taman Eden jangan terulang lagi. Adam seharusnya langsung mengakui kesalahannya, dan tidak melemparkan kepada Hawa yang melemparkannya lagi kepada ular!. Yesus minta kita masing-masing, laki-laki dan perempuan tanpa kecuali, berjuang drastic kedalam, tidak menajdi batu sandungan yang satu terhadap yang lain, dan berdoa untuk mendapatkan kekuatan dan kelepasannya :

"Bapa kami yang di sorga, …………. janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Matius 6:9,13).

User avatar
 
Posts: 11003
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

Re: YESUS DAN HUKUM TAURAT

Post by BP » Mon Nov 30, 2009 8:56 pm

3. Perceraian


5:31 LAI TB, Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.
KJV, It hath been said, Whosoever shall put away his wife, let him give her a writing of divorcement:
TR, ερρεθη δε οτι ος αν απολυση την γυναικα αυτου δοτω αυτη αποστασιον
Translit interlinear, errethê de hoti hos an apolusê tên gunaika autou dotô autê apostasion


Ayat 31 dan 32. Tuhan Yesus menyebut pula sebagian dari hukum Taurat: "siapa yang menceraikan isterinyaharus memberi surat cerai kepadanya" (Ulangan 24:1-4). Tujuan surat cerai dalam Perjanjian Lama tentulah supaya merupakan perlindungan untuk wanita dalam pernikahan. Membuat suatu surat pada masa dulu merupakan pekerjaan yang memakan banyak waktu. Jadi jikalau suami harus membuat surat cerai, maka perceraian itu tidak mungkin diadakan dalam emosi dalam bebe¬rapa detik saja. Apalagi 'surat cerai itu memberi "status yang jelas" kepada wanita itu. Tambahan pula dikatakan dalam Ulangan 24: 1 bahwa surat cerai hanya boleh dibuat kalau suami mendapati "apa-apa yang tidak senonoh pada isterinya". Pada masa Tuhan Yesus, Rabi Syammai dan murid-muridnya menafsirkan "apa-apa yang tidak senonoh" sebagai perzinahan, dan hanya mengizinkan seorang laki-laki untuk menceraikan isterinya apabila ia mendapati isterinya telah berzinah. Tetapi pada waktu Tuhan Yesus ada rabi-rabi (guru agama) yang lain, seperti murid-murid Rabi Hillel yang berpendapat bahwa misalnya kekurangan dalam hal memasak makanan sudah dianggap sebagai "hal yang tidak senonoh" dan sebagai alasan untuk perceraian. Tuhan Yesus meluruskan hukum yang berbelok :

5:32 LAI TB, Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.
KJV, But I say unto you, That whosoever shall put away his wife, saving for the cause of fornication, causeth her to commit adultery: and whosoever shall marry her that is divorced committeth adultery.
TR, εγω δε λεγω υμιν οτι ος αν απολυση την γυναικα αυτου παρεκτος λογου πορνειας ποιει αυτην μοιχασθαι και ος εαν απολελυμενην γαμηση μοιχαται
Translit Interlinear, egô {Aku} de {tetapi} legô {berkata} humin {kepadamu} hoti {bahwa} hos an {siapa yang} apolusê {menceraikan} tên gunaika {istri} autou {-nya} parektos {kecuali} logou {alas an/ persoalan} porneias {perzinahan} poiei {membuat} autên {dia (she)} moikhasthai {berzinah} kai {dan} hos ean {siapa yang} apolelumenên {(perempuan yang) dicerai} gamêsê {menikahi} moikhatai {ia berzinah}


* Matius 19:9
LAI TB, Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."
KJV, And I say unto you, Whosoever shall put away his wife, except it be for fornication, and shall marry another, committeth adultery: and whoso marrieth her which is put away doth commit adultery.
TR, λεγω δε υμιν οτι ος αν απολυση την γυναικα αυτου ει μη επι πορνεια και γαμηση αλλην μοιχαται και ο απολελυμενην γαμησας μοιχαται
Translit Interlinear, legô {Aku berkata} de {tetapi} humin {kepadamu} hoti {bahwa} hos an {siapa yang} apolusê {menceraikan} tên gunaika {istri} autou {-nya} ei mê {kecuali} epi {karena} porneia {perzinahan} kai {dan} gamêsê {menikahi} allên {(perempuan) lain} moikhatai {(ia berzinah)} kai {dan} ho apolelumenên {(perempuan yang) dicerai} gamêsas {menikahi} moikhatai {ia berzinah}


"Kecuali" karena perzinahan :

Matius 5:32 menggunakan kata "παρεκτος – parektos", leksikon Yunani, 1) except, with the exception of (a thing) 2) besides, kecuali .

Matius 5:19 menggunakan kata "ει μη - ei mê", leksikon Yunani : if not, except, but, kecuali.


Jelas kedua ayat ini menggunakan kata "kecuali".

Agaknya ayat-ayat dalam Matius ini sulit dimengerti dan "rawan" sebagai pembenaran bagi keinginan para suami untuk menceraikan istri jika ia mendapati istrinya berbuat tidak senonoh. Namun, marilah kita bandingkan 2 ayat dalam Matius ini dengan apa yang tertulis dalam kitab-kitab Injil lainnya :


* Markus 10:11-12
10:11 LAI TB, Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.
KJV, And he saith unto them, Whosoever shall put away his wife, and marry another, committeth adultery against her.
TR, και λεγει αυτοις ος εαν απολυση την γυναικα αυτου και γαμηση αλλην μοιχαται επ αυτην
Translit interlinear, kai {lalu} legei {Ia berkata} autois {kepada mereka} hos ean {siapa yang} apolusê {menceraikan} tên gunaika {istri} autou {-nya} kai {dan} gamêsê {menikahi} allên {(perempuan) lain} moikhatai {ia berzinah} ep {terhadap} autên {dia}

10:12 LAI TB, Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."
KJV, And if a woman shall put away her husband, and be married to another, she committeth adultery.
TR, και εαν γυνη απολυση τον ανδρα αυτης και γαμηθη αλλω μοιχαται
Translit interlinear, kai {dan} ean {jikalau} gunê {perempuan (istri)} apolusê {menceraikan} ton andra {suami} autês {-nya} kai {dan} gamêthê {menikahi} allô {(laki-laki) lain} moikhatai {ia berzinah}


Hal senada dengan Markus, muncul juga dalam Lukas :


* Lukas 16:18
LAI TB, Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah."
KJV, Whosoever putteth away his wife, and marrieth another, committeth adultery: and whosoever marrieth her that is put away from her husband committeth adultery.
TR, πας ο απολυων την γυναικα αυτου και γαμων ετεραν μοιχευει και πας ο απολελυμενην απο ανδρος γαμων μοιχευει
Translit interlinear, pas {setiap} ho {(orang) yang} apoluôn { menceraikan} tên gunaika {istri} autou {-nya} kai {dan} gamôn {menikahi} heteran {(perempuan) lain} moikheuei {ia berzinah} kai {dan} pas {setiap (orang)} ho {(orang) yang} apolelumenên {(perempuan yang) diceraikan} apo {dari} andros {suami (-nya)} gamôn {menikahi} moikheuei {ia berzinah}


Apa yang tertulis dalam Markus dan Lukas ini memberi kesan bahwa Tuhan Yesus melawan setiap perceraian baik dari pihak istri maupun suami, juga apabila ada perzinahan. Markus lebih memberikan inti pengajaran Yesus, walaupun Markus mengerti juga bahwa seorang suami tidak bisa membiarkan istrinya apabila ia "serong" mengadakan hubungan seksual dengan laki-laki lain, atau sebaliknya.

Mungkin, kita dapat mengartikan apa yang tertulis dalam Matius itu merumuskan maksud Tuhan Yesus dengan lebih teliti bahwa pada pokoknya Yesus melawan setiap perceraian, tetapi apabila seorang istri sangat kurang setia, maka sulitlah pernikahan itu berjalan terus. Namun apakah demikian pembenarannya?

Coba Anda bandingkan Matius 5:32 dan Matius 19:9 dengan ayat ini:

* Matius 1:19
Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.



Sebagai umat Kristiani, kita tentu tahu bahwa pada saat itu Yusuf "belum menikah" dengan Maria, silakan Anda kaji apakah benar Yusuf boleh "menceraikan" Maria pada saat itu? Tentu tidak boleh, bukan? Itulah makna Matius 5:32 dan 19:9 di atas jika dikaji dari pola pikir dan tradisi Yahudi. Terlebih lagi, harus kita mengerti juga, bahwa berdasarkan hukum Yahudi, jika istri kedapatan berzinah, bukan perceraian yang dihadapinya melainkan hukuman rajam sampai mati:


* Imamat 20:10
Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu.



Dengan demikian, menceraikan "karena zinah" atau dengan alasan "si istri melakukan perzinahan" bukanlah opsi yang dimungkinkan pada Hukum Taurat. Karena sanksi dari perzinahan itu sebenarnya bukanlah perceraian tetapi hukuman mati dengan rajam.

Yesus Kristus konsisten dengan pengajaran pada Perjanjian Lama, bahwa perceraian dianggap sebagai sesuatu yang tidak patut :


* Maleakhi 2:16
Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel -- juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!




Selanjutnya dapat kita baca penjelasan lebih lanjut dalam artikel di bawah ini:


BP wrote:Reff : 12-perceraian-dan-pernikahan-kembali-vt1010.html#p3124

Mendengar & Mengerti & Memandang & Menanggap
Ucapan Yesus Yang Sulit, 12 :


Perceraian dan Pernikahan Kembali




* Markus 10:11-12
10:11 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.
10:12 Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."



Ini adalah perkataan yang keras, dipandang oleh para jurid yang mula-mula mendengarnya; dan yang tetap merupakan perkataan keras bagi murid-murid masa kini.

Tuhan Yesus diminta untuk memberikan sebuah ketetapan mengenai sebuah hukum yang sedang diperdebatkan dalam aliran-aliran Yahudi. Didalam Ulangan 24:1-4 terdapat sebuah hukum tersembunyi 'apabila seorang laki-laki menceraikan istrinya sebab didapatinya "yang tidak senonoh" padanya dan ia kemudian menikah dengan orang lain yang juga menceraikannya, maka suaminya yang pertama tidak boleh mengambil dia kembali menjadi istrinya'


* Ulangan 24:1-4
24:1 "Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya,
24:2 dan jika perempuan itu keluar dari rumahnya dan pergi dari sana, lalu menjadi isteri orang lain,
24:3 dan jika laki-laki yang kemudian ini tidak cinta lagi kepadanya, lalu menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu serta menyuruh dia pergi dari rumahnya, atau jika laki-laki yang kemudian mengambil dia menjadi isterinya itu mati,
24:4 maka suaminya yang pertama, yang telah menyuruh dia pergi itu, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi isterinya, setelah perempuan itu dicemari; sebab hal itu adalah kekejian di hadapan TUHAN. Janganlah engkau mendatangkan dosa atas negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.



Hukum ini, yang melarang seorang laki-laki yang telah menceraikan istrinya untuk rujuk kembali setelah ia hidup bersama dengan suami yang kedua, tidak memberi petunjuk mengenai tata cara perceraian. Perkataan ini membuat kita beranggapan bahwa membuat kita beranggapan bahwa kata perceraian telah ada. Didalam hukum Perjanjian Lama (PL) tidak ada perintah yang jelas-jelas berbicara mengenai perceraian. Tetapi dalam konteks ini tersirat bahwa untuk menceraikan seorang wanita, seorang laki-laki harus menulis sebuah pernyataan bahwa wanita itu bukan istrinya lagi : "ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya" (Ulangan 24:1). Di bagian lain dalam PL, perceraian dianggap sebagai sesuatu yang tidak patut :


* Maleakhi 2:16
Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel -- juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!



Tetapi dalam Ulangan 24 ada anggapan bahwa seorang laki-laki boleh menceraikan istrinya, dan bahwa ia boleh melakukan itu berdasarkan "sesuatu yang tidak senonoh" atau "sesuatu yang memalukan" yang ia dapati dari diri istrinya.

Para penafsir Hukum Taurat yang hidup di sekitar zaman Tuhan Yesus tidak saja memikirkan tentang apa arti sesungguhnya dari kalimat ini. Mereka bertanya "Apa yang dimaksudkan dengan 'ketidak-senonohan' atau 'ketidak-patutan' yang membenarkan seorang laki-laki untuk menceraikan istrinya"

Ada dua aliran utama : yang satu menafsirkannya secara ketat, yang lain menafsirkannya lebih luwes. Aliran pertama, yang mengikuti petunjuk Shammai, seorang rabbi yang tersohor yang hidup sekitar satu generasi sebekum Yesus Kristus berkata bahwa "seorang laki-laki diberi wewenang untuk menceraikan istrinya bila ia mengawininya dengan anggapan bahwa istrinya itu masih gadis, tetapi kemudian ia mendapatkan bahwa istrinya itu sudah tidak gadis".

Memang ada undang-undang yang memuat hal ini dalam Ulangan 22:13-21. Akibatnya bisa sangat serius bagi pengantin-wanita bila bukti yang ada di-interpretasikan bahwa ia pernah melakukan hubungan-sex yang haram sebelum menikah, maka inilah pengertian 'sesuatu yang tidak senonoh' itu :


* Ulangan 22:13-21
22:13 "Apabila seseorang mengambil isteri dan setelah menghampiri perempuan itu, menjadi benci kepadanya,
22:14 menuduhkan kepadanya perbuatan yang kurang senonoh dan membusukkan namanya dengan berkata: Perempuan ini kuambil menjadi isteriku, tetapi ketika ia kuhampiri, tidak ada kudapati padanya tanda-tanda keperawanan --
22:15 maka haruslah ayah dan ibu gadis itu memperlihatkan tanda-tanda keperawanan gadis itu kepada para tua-tua kota di pintu gerbang.
22:16 Dan ayah si gadis haruslah berkata kepada para tua-tua itu: Aku telah memberikan anakku kepada laki-laki ini menjadi isterinya, lalu ia menjadi benci kepadanya,
22:17 dan ketahuilah, ia menuduhkan perbuatan yang kurang senonoh dengan berkata: Tidak ada kudapati tanda-tanda keperawanan pada anakmu. Tetapi inilah tanda-tanda keperawanan anakku itu. Lalu haruslah mereka membentangkan kain itu di depan para tua-tua kota.
22:18 Maka haruslah para tua-tua kota itu mengambil laki-laki itu, menghajar dia,
22:19 mendenda dia seratus syikal perak dan memberikan perak itu kepada ayah si gadis -- karena laki-laki itu telah membusukkan nama seorang perawan Israel. Perempuan itu haruslah tetap menjadi isterinya; selama hidupnya tidak boleh laki-laki itu menyuruh dia pergi.
22:20 Tetapi jika tuduhan itu benar dan tidak didapati tanda-tanda keperawanan pada si gadis,
22:21 maka haruslah si gadis dibawa ke luar ke depan pintu rumah ayahnya, dan orang-orang sekotanya haruslah melempari dia dengan batu, sehingga mati -- sebab dia telah menodai orang Israel dengan bersundal di rumah ayahnya. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.



Aliran yang lain mengikuti ajaran ahli sezaman dengan Shammai, yaitu Rabbi Hilel, ia berpendapat bahwa 'sesuatu yang tidak senonoh' bisa mencakup segalasesuatu yang dianggap melawan atau kasar oleh suaminya. Ia bisa tidak lagi dicintai karena berbagai sebab – jika ia menghidangkan makanan yang kurang lezat misalnya, atau bahkan (begitu kata seorang rabbi) karena ia merasa istrinya kurang cantik dibandingkan dengan wanita lain.
Harus ditekankan bahwa para nabi yang memberikan penafsiran-penafsiran 'liberal' ini bukannya ingin mempermudah perceraian. Mereka hanya berminat untuk menyatakan apa yang mereka percayai dari suatu ayat tertentu.

Dan terhadap latar belakang yangs edemikianlah Tuhan Yesus diundang untuk mengatakan apa yang menjadi pendapatNya. Orang-orang Farisi yang melontarkan pertanyaan kepadaNya mempunyai pendapat-pendapat yang berbeda mengenai hal ini.
Dalam catatan Matius mengenai kejadian ini, mereka bertanya :


* Matius 19:3
Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"



Bila jawaban Tuhan Yesus adalah 'YA' maka mereka ingin tahu untuk alasan-alasan apa menurut Dia perceraian itu dimungkinkan. Tuhan Yesus memebrikan jawabanNya kepada mereka dan kemudian, secara pribadi, Ia menjelaskannya demi kebaikan murid-muridNya yang telah mendengarNya :


* Matius 19:4-6
19:4 Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?
19:5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."



Yesus tidak setuju dengan perceraian, terhadap pandanganNya ini muncul pertanyaan :

* Matius 19:7
Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"



Musa dianggap telah memberi izin untuk perceraian dengan membuat 'surat cerai' , tepat sekali memang "Musa memberi izin", dan bukan "Musa memerintahkan".
Undang undang yang menjadi acuan mereka, seperti yang kita lihat dalam Ulangan 24:1-4, dengan seadanya menerima prosedur perceraian yang ada, dan menjalinnya dalam sebuah perintah yang berhubungan dengan kemungkinan-kemungkinan yang lebih lanjut.
Kita lihat jawaban Yesus demikian :

* Matius 19:8
Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.



Tuhan Yesus mengatakan kepada mereka bahwa 'justru karena ketegaran hatimu-lah', maka 'Musa menuliskan perintah ini untuk kamu'. kemudian sama seperti dengan hukum hari Sabat, demikianlah hukum pernikahan. Yesus kembali kepada prinsip utama "Sebab pada awal dunia", kataNya "Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan". 'Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya untuk bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia' (Markus 10:2-9 bandingkan dengan Matius 19:4-6)

Tuhan Yesus mengingatkan mereka akan ajaran Alkitab mengenai Lembaga pernikahan harus selaras dengan tujuan Allah menetapkan eprnikahan. Pernikahan ditetapkan untuk menciptakan sebuah kesatuan baru dari dua pribadi, dan tidak ada peraturan yang dibuat untuk menceraikan kesatuan itu.

Tuhan Yesus tidak meng-agung-agungkan pernikahan. Ia tidak mengatakan bahwa setiap pernikahan dilakukan di Surga. Namun pernikahan ditetapkan oleh Allah untuk manusia di bumi. Atas pertanyaan "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya?" maka jawabannya, kita simpulkan adalah tidak; Tidak dengan alasan apa saja!.

Ada sisi yang menarik dari jawaban Tuhan Yesus kepada orang-orang Farisi yang dengan mudah bisa lewat dari pertahian kita. Penafsiran yang kaku dari aliran Shammai dan penafsiran 'liberal' dari aliran Hilel, keduanya memandang dari segi suami.
Dalam penafsiran yang kaku, kegadisan pengantin-perempuan menjadi pokok yang tidak boleh diabaikan; kesucian pengantin laki-laki sebelum pernikahan tidak masalah.
Sedangkan penafsir 'liberal' sangat bebas dalam kepentingan suami, artinya, ia memperbolehkan menceraikan istrinya dengan berbagai macam alasan. Tetapi kalau menyangkut kepentingan istri, aliran ini sangat tidak liberal, karena si istri tak punya kesempatan untuk memperbaiki diri jika suaminya memutuskan untuk menceraikannya menurut hukum yang ditafsirkan secara 'liberal' itu.

Apa yang benar dari penafsiran-penafsiran ini dan yang benar dari usaha mereka untuk memperluas hukum Allah dengan undang-undang mereka sendiri ialah : bahwa ketegaran hati manusia itu sendiri yang membuat perceraian itu dibenarkan.

Ketidak-seimbangan Hukum Taurat ini merugikan pihak perempuan. Tetapi keputusan Tuhan Yesus yang merujuk pada tujuan Sang Pencipta mengakibatkan 'ketidak-seimbangan' itu menjadi seimbang. Tidak mengherankan bahwa kaum wanita selalu mendapatkan di dalam diri Tuhan Yesus seorang Sahabat dan Pembela.

Secara sepintas lalu kita bisa melihat bahwa Yesus mengacu pada peraturan penciptaan. Tuhan Yesus menggabungkan ayat mengenai kisah penciptaan dalam Kejadian pasal 1 dengan sebuah ayat di Kejadian pasal 2. Dalam Kejadian 1:27 "Ketika Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya", maka 'manusia' yang Ia ciptakan sedemikian itu adalah manusia dengan 2 jenis kelamin "laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka". Dan didalam Kejadian 2:24, setelah kisah pembentukan Hawa dari tulang rusuk Adam, kita membaca : "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging".
Tuhan Yesus mengutip kata-kata ini sebagai Firman Allah. Adalah dibawah ketetapan Allah bahwa kedua orang itu menjadi satu : laki-laki tidak diberi wewenang untuk mengubah ketetapan itu.



Gugatan cerai dari pihak istri :


Ketika murid-murid meminta Tuhan Yesus untuk menerangkan ketetapanNya, ia mengulanginya kembali dengan mengucapkan kedua pernyataan yang dikutip di awal bab ini :

* Markus 10:12
Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."



Pernyataan yang kedua menunjuk pada suatu situasi yang tidak dipandang dalam Hukum PL, yang tidak memberi beluang bagi seorang istri untuk menceraikan suaminya dan mengawini laki-laki lain. Karena itulah orang menganggap bahwa pernyataan yang kedua ini merupakan sesuatu yang wajar ditambahkan pada ketetapan asli Tuhan Yesus saat ke-Kristenan memasuki dunia orang kafir, Di dalam beberapa sistem perundang-undangan orang kafir, Seorang sitri dimungkinkan untuk mengajukan gugatan perceraian. Hukum ini tidak dikenal dalam tradisi Yahudi. Tetapi di saat Tuhan Yesus berbicara, tanah Israel dijajah oleh Romawi dan tentu saja juga berlaku hukum sipil Romawi yang memungkinkan seorang istri menggugat cerai suaminya, maka untuk inilah Tuhan Yesus juga menyoroti gugatan cerai dari sisi seorang istri.

Kurang dari sepuluh tahun sebelumnya, Herodias, seorang cucu perempuan Herodes yang Agung yang menikah dengan pamannya Herodes Philip dan hidup dengannya di Roma. Kemudian ia jatuh cinta dengan paman yang lain, yaitu Herodes Antipas, penguasa Galilea dan parea, saat Herodes Antipas berkunjung ke Roma. Supaya Herodias bisa mengawini Antipas (hal mana juga dikehendaki Antipas), ia menceraikan suaminya yang pertama. Ia melakukan dibawah hukum Romawi karena ia seorang warga negara Roma (sama sepertis emua keluarga Herodes).
Seorang wanita yang menikah dengan pamannya tidak melanggar hukum Yahudi, seperti yang dianggap pada masa itu, tetapi menikah dengan saudara suaminya benar-benar melanggar hukum Yahudi. Yohanes pembabtis dipenjarakan oleh Herodes Antipas karena ia menegaskan bahwa Antipas telah melanggar hukum karena menikah dengan istri saudaranya.

Tuhan Yesus memang tidak menyebutkan nama, tetapi siapapun pada waktu itu, baik di Galilea atau Perea yang mendengar kisah tentang seorang wanita yang menceraikan suaminya dan kemunian menikah dengan orang lain, akan membayangkan Herodias. Seandainya Herodias mendengar Tuhan Yesus mengatakan bahwa ia hidup dalam perzinahan, pastilah ia dendam seperti dendamnya kepada Yohanes Pembabtis.



Perceraian kecuali karena zinah :


Tetapi yang sulit diterima oleh murid-muridNya ialah perkataanNya mengenai perceraian dan pernikahan ulang dari pihak laki-laki. Tidak dapatkan seorang laki-laki bebas dari istrinya karena alasan apapun? Kelihatannya tidak, emnurut penjelasan yang gamblang dari Tuhan Yesus. Karena itu, tidak mengherankan bahwa dalam berlalunya waktu, ketegaran hati mereka telah mengubah ketetapanNya, sama seperti sebelumnya, ketegaran hati manusia telah mengubah tujuan mula-mula dari Sang Pencipta.


Dalam tulisan Matius mengenai diskusi ini, ketetapan Tuhan Yesus ini dirinci dengan keterangan :

* Matius 19:9
Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."



Kekecualian yang sama ini muncul kembali dalam perkataanNya yang lain dalam Injil ini, yaitu dalam Khotbah di bukit :

* Matius 5:32
Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.



Ketetapan dalam bentuk yang terakhir ini muncul juga dalam Lukas :

* Lukas 16:18
Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah."


Bandingkan dengan :

* Markus 10:11-12
10:11 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.
10:12 Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."



Tetapi Lukas dan Markus tidak menulis anak kalimat pengecualian. Maka, apa yang harus kita pahami dengan 'anak kalimat' pengecualian ini? Rasul Paulus menjelaskannya demikian :


* 1 Korintus 7:10-16
7:10 Kepada orang-orang yang telah kawin aku -- tidak, bukan aku, tetapi Tuhan -- perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.
7:11 Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.
7:12 Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.
7:13 Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.
7:14 Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus.
7:15 Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera.
7:16 Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah engkau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu?



Inilah pemahaman yang benar mengenai "perkecualian', seseorang bisa saja terlanjur bercerai, atau karena suatu kasus tertentu ia 'harus bercerai'. Misalnya seseorang bisa saja tdak bisa mengampuni perbuatan pasangannya yang 'mengkianatinya' dengan berselingkuh dengan orang lain sehingga kemudian mereka memilih jalan bercerai. Bagaimana menyelesaikan kasus ini, bolehkah ia menikah lagi?

Rasul Paulus menasehatkan "jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya". Karena bagaimanapun Allah tidak menyetujui perceraian (Maleakhi 2:16; Matius 19:4-6). Tuhan Yesus memperingatkan agar manusia kembali kepada fitrahnya, yaitu bahwa sejak semula Allah men-design institusi perkawinan dengan mempersatukan satu orang laki-laki kepada satu orang perempuan .

Sumber :
FF Bruce, Ucapan Yesus yang Sulit, SAAT Malang, p 47-55.


Artikel terkait di :
1. YESUS MELURUSKAN POLIGAMI DAN KAWIN-CERAI, di yesus-meluruskan-poligami-dan-kawin-cerai-vt713.html

2. Reformasi atas Penyimpangan terhadap Firman Ketujuh, di reformasi-yesus-kristus-vt3067.html#p17053

3. Tanya Tentang Matius 5:32, di tanya-tentang-matius-5-32-vt1753.html#7234

User avatar
 
Posts: 11003
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

Re: YESUS DAN HUKUM TAURAT

Post by BP » Mon Nov 30, 2009 9:17 pm

4. Bersumpah


5:33 LAI TB, Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.
KJV, Again, ye have heard that it hath been said by them of old time, Thou shalt not forswear thyself, but shalt perform unto the Lord thine oaths:
TR, παλιν ηκουσατε οτι ερρεθη τοις αρχαιοις ουκ επιορκησεις αποδωσεις δε τω κυριω τους ορκους σου
Translit, palin êkousate hoti errethê tois arkhaiois ouk epiorkêseis apodôseis de tô kuriô tous orkous sou

5:34 LAI TB, Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,
KJV, But I say unto you, Swear not at all; neither by heaven; for it is God's throne:
TR, εγω δε λεγω υμιν μη ομοσαι ολως μητε εν τω ουρανω οτι θρονος εστιν του θεου
Translit, egô de legô humin mê homosai holôs mête en tô ouranô hoti thronos estin tou theou

5:35 LAI TB, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar;
KJV, Nor by the earth; for it is his footstool: neither by Jerusalem; for it is the city of the great King.
TR, μητε εν τη γη οτι υποποδιον εστιν των ποδων αυτου μητε εις ιεροσολυμα οτι πολις εστιν του μεγαλου βασιλεως
Translit, mête en tê gê hoti hupopodion estin tôn podôn autou mête eis hierosoluma hoti polis estin tou megalou basileôs

5:36 LAI TB, janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun.
KJV, Neither shalt thou swear by thy head, because thou canst not make one hair white or black.
TR, μητε εν τη κεφαλη σου ομοσης οτι ου δυνασαι μιαν τριχα λευκην η μελαιναν ποιησαι
Translit, mête en tê kephalê sou homosês hoti ou dunasai mian trikha leukên hê melainan poiêsai

5:37 LAI TB, Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
KJV, But let your communication be, Yea, yea; Nay, nay: for whatsoever is more than these cometh of evil.
TR, εστω δε ο λογος υμων ναι ναι ου ου το δε περισσον τουτων εκ του πονηρου εστιν
Translit, estô de ho logos humôn nai nai ou ou to de perisson toutôn ek tou ponêrou estin


Ayat 33-37. Di sini Yesus mulai berbicara tentang sumpah. Ia berkata: Kamu telah mendengar pula yang difirmankan (oleh Tuhan dalam hukum Taurat) kepada nenek moyang: 'Jangan bersumpah palsu, melamkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan "'. Betul kita membaca dalam hukum Taurat dalam Imamat 19:12: "Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama, Allahmu."

Pada masa Tuhan Yesus, sudah menjadi suatu penyakit orang Yahudi untuk selalu menguatkan ucapannya dengan sumpah. Sebab orangYahudi takut untuk memakai nama Allah, maka mereka seringkali dalam sumpah mengganti nama Allah dengan kata lain, misalnya: demi Taurat, demi Yerusalem, demi kepalamu. Dalam Matius 23:16 dapat kita melihat bahwa orang Yahudi kadang-kadang membuat perbedaan-perbedaan yang aneh di antara sumpah yang mengikat ("demi emas Bait Suci") dan sumpah yang tidak mengikat ("demi Bait Suci"). Ada akal busuk yang lain, yang dipakai oleh orang Yahudi juga; tentang seorang Rabi (guru agama) yang terkenal diceritakan bahwa ia pernah bersumpah, tetapi "meniadakan sumpah itu dalam hatinya."

Sumpah palsu merupakan pelanggaran yang serius dalam setiap kode hukum. Demikian halnya dalam Hukum Taurat, sumpah palsu dilarang :


* Keluaran 20:7,16
20:7 LAI TB, Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
KJV, You shall not take the name of the LORD your God in vain; for the LORD will not hold him guiltless that takes his name in vain.
Hebrew,
לֹא תִשָּׂא אֶת־שֵׁם־יְהוָה אֱלֹהֶיךָ לַשָּׁוְא כִּי לֹא יְנַקֶּה יְהוָה אֵת אֲשֶׁר־יִשָּׂא אֶת־שְׁמֹו לַשָּׁוְא׃ פ
Translit, LO' TISA' 'ET-SHEM-YEHOVAH 'ELOHEYKHA LASYAV' KI LO' YENAKEH YEHOVAH 'ÊT 'ASYER-YISA' 'ET-SYEMO LASYAV'

20:16 LAI TB, Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
KJV, Thou shalt not bear false witness against thy neighbor.
Hebrew,
לֹא־תַעֲנֶה בְרֵעֲךָ עֵד שָׁקֶר׃ ס
Translit, LO'-TA'ANEH VERE'AKHA 'ED SYAKER


Mengucapkan sumpah palsu dalam nama Allah adalah dosa bukan saja terhadap nama itu, tetapi termasuk berdosa terhadap pribadi Allah sendiri.
Untuk selanjutnya, jangkauan hukum ini diperluas dengan memasukkan setiap penggunaan nama ilahi secara remeh atau sembarangan, sampai-sampai dalam tradisi Yahudi diputuskan bahwa cara yang paling aman adalah tidak menyebut namaNya sama sekali. Itulah sebabnya nama Allah Israel יהוה – "YHVH" tidak pernah dieja sama sekali, dan mereka menggantinya dengan menyebut "ADONAY". Kebiasaan ini dimaksudkan sebagai bentuk pencegahan "menyebut nama TUHAN (YHVH) dengan sembarangan".

Yesus Kristus berkata "Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan (Matius 5:33).

Matius 5 ayat 34-36 Tuhan Yesus menerangkan bahwa semua sumpah adalah sumpah demi Tuhan. Sebab kalau seorang bersumpah "dengan langit", ia harus insaf bahwa langit adalah takhta Allah (kutipan dari Yesaya 66:1). Dan kalau ia bersumpah "demi bumi", baiklah ia menginsafi bahwa bumi "tidak lepas dari Tuhan, melainkan merupakan tumpuan kaki Tuhan" (kutipan pula dari Yesaya 66:1). Dan kalau seorang bersumpah "demi Yerusalem", baiklah ia sadar, bahwa Yerusalem adalah "kota Raja Besar", yaitu kota Allah (menurut Mazmur 48:3); dan kalau ia bersumpah "demi kepalanya", maka kepala itu bukan suatu hal yang lepas dari Tuhan, melainkan milik Tuhan; seorang manusia tidak bisa memutihkan atau menghitamkan rambutnya. Orang Yahudi biasanya mempunyai rambut hitam, seperti orang Indonesia. Mengubah warna rambut dengan cat adalah hal yang sudah dipraktekkan pada waktu itu, tetapi tidak oleh orang sederhana di Galilea.

Menyadari keseriusan sumpah demi nama Allah apabila kebenaran kalimat itu tidak mutlak kepastiannya, yang bertendensi menggantikan nama Allah dengan yang lain (ayat 34) misalnya Langit/ Surga, ataupun bentuk bentuk lain (demi kota, demi kepala, ayat 35-36) dengan pemikiran bahwa kalau-kalau sumpahnya itu palsu akan sedikit lebih diampuni, itupun tidak diperkenankan oleh Yesus.

Dari perikop lain dari Injil ini (Matius 23:16-22), dapat dikumpulkan adanya beberapa ketentuan bahwa ada sumpah-sumpah yang lebih mengikat atau kurang mengikat disesuaikan dengan persisnya kata-kata sumpah yang diucapkan. Tentunya hal ini merupakan masalah etis yang tidak begitu berarti.

Satu hal yang perlu diketahui, bahwa orang dilarang bersumpah palsu, baik dalam nama Allah maupun bentuk kata-kata lainnya. "Bayarlah apa yang engkau sumpahkan". Pengkhotbah mengatakan demikian :


* Pengkhotbah 5:3-5
5:3 Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. 5:4 Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya.
5:5 Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu?



Jelas sekali dalam Matius 5:37 Yesus berkata "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat". Yesus merekomendasikan standard yang lebih tinggi kepada murid-muridNya bahwa mereka harus berkata ya kalau ya, dan tidak kalau tidak.
Gema perkataan ini terdengar lagi dalam bagian PB lainnya :


* Yakobus 5:12
Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.



Pengikut-pengikut kristus harus dikenal sebagai pelaku perkataan mereka, baik pria maupun wanita. Apabila mereka dikenal sebagai orang-orang yang mempunyai perhatian khusus yang teliti terhadap kebenaran , maka segala yang mereka katakan akan dipercaya walau tanpa sumpah sekalipun. Ini bukan sekedar teori; ini merupakan kenyataan dalam pengalaman.
Reputasi seseorang dalam kejujuran itulah yang diajarkan Yesus, sehingga murid-muridNya karena reputasinya orang mempercayai bahwa kata-katanya selalu berdasarkan fakta yang benar, mengatakan ya karena ya, dan mengatakan tidak karena tidak. Jikalau seseorang sudah dikenal kejujurannya, siapapun tak akan menuntut suatu sumpah darinya.

Jadi Yesus menerangkan bahwa segala sumpah adalah sumpah demi Tuhan. Tetapi, kata Yesus, lebih baik sama sekali tidak dipakai sumpah, melainkan hanya "ya" yang dapat dipercayai dan "tidak" yang dapat dipercayai. Kalau manusia tidak berkata secara benar maka hubungan yang baik di antara manusia akan dirusakkan, dan justru hubungan yang baik di antara manusia adalah suatu undang-undang dasar Kerajaan Tuhan:

Apakah Tuhan Yesus di sini melarang juga bersumpah di muka hakim? Aliran Quaker dan aliran Menonit beranggapan demikian. Tetapi Tuhan Yesus di sini berbicara tentang sumpah-sumpah yang. dipakai dalam kehidupan sehari-hari saja yang kebiasaan Yahudi selalu bersumpah tidak boleh diikuti oleh pengikut-pengikut Kristus, tetapi harus diganti dengan kejujuran besar (ayat 37 : "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak") . Mereka harus menganggap kebiasaan selalu bersumpah sebagai hal yang berasal dari si jahat (yaitu Iblis), atau (seperti dapat diterjemahkan juga) sebagai akibat dari kejahatan yang ada di dunia. Sebaliknya pemerintah terpaksa menuntut 'sumpah, sebab pemerintah tidak saja berhadapan dengan orang yang taat benar kepada Tuhan Yesus!


Artikel terkait :

3. Reformasi atas Penyimpangan terhadap Firman Ketiga, di reformasi-yesus-kristus-vt3067.html#p17055

User avatar
 
Posts: 11003
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

Re: YESUS DAN HUKUM TAURAT

Post by BP » Tue Dec 01, 2009 9:00 am

5. Hukum Pembalasan/ Lex Talionis vs Tindakan Nyata Kasih


5:38 LAI TB, Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
KJV, Ye have heard that it hath been said, An eye for an eye, and a tooth for a tooth:
TR, ηκουσατε οτι ερρεθη οφθαλμον αντι οφθαλμου και οδοντα αντι οδοντος
Translit interlinear, êkousate {kamu telah mendengar} hoti {bahwa} errethê {itu telah dikatakan} ophthalmon {mata} anti {ganti} ophthalmou {mata} kai {dan} odonta {gigi} anti {ganti} odontos {gigi}

5:39 LAI TB, Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
KJV, But I say unto you, That ye resist not evil: but whosoever shall smite thee on thy right cheek, turn to him the other also.
TR, εγω δε λεγω υμιν μη αντιστηναι τω πονηρω αλλ οστις σε ραπισει επι την δεξιαν σου σιαγονα στρεψον αυτω και την αλλην
Translit interlinear, egô {Aku} de {tetapi} legô {berkata} humin {kepada kalian} mê {jangan} antistênai {melawan} tô {(orang) yang} ponêrô {jahat} all {melainkan} hostis {siapa yang} se {engkau} rapisei {(ia akan menampar)} epi {pada} tên {yang} dexian {kanan} sou {(-mu)} siagona {pipi} strepson {palingkanlah} autô {kepadanya} kai {dan} tên {yang} allên {[pipi] lain}

5:40 LAI TB, Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
KJV, And if any man will sue thee at the law, and take away thy coat, let him have thy cloak also.
TR, και τω θελοντι σοι κριθηναι και τον χιτωνα σου λαβειν αφες αυτω και το ιματιον
Translit interlinear, kai {dan} tô {(kepada orang) yang} thelonti {menghendaki} soi {engkau} krithênai {dihakimi} kai {dan} ton khitôna {baju (yang dipakai didalam jubah)} sou {(-mu)} labein {mengambil} aphes {biarkanlah} autô {dia (ambil)} kai {juga} to himation {jubah (itu)}

5:41 LAI TB, Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
KJV, And whosoever shall compel thee to go a mile, go with him twain.
TR, και οστις σε αγγαρευσει μιλιον εν υπαγε μετ αυτου δυο
Translit interlinear, kai {dan} hostis {siapa} se {engkau} aggareusei {(ia akan memaksamembawa barang)} milion {mil} hen {satu} upage {pergilah engkau} met {bersama} autou {dia} duo {dua [mil]}

5:42 LAI TB, Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
KJV, Give to him that asketh thee, and from him that would borrow of thee turn not thou away.
TR, τω αιτουντι σε διδου και τον θελοντα απο σου δανεισασθαι μη αποστραφης
Translit interlinear, tô {dab} aitounti {meminta} se {engkau} didou {berilah} kai {dan} ton {orang yang} thelonta {hendak} apo {dari} sou {-mu} daneisasthai {meminjam} mê {janganlah} apostraphês {berpaling dari}



Ayat 38-42. Dalam ayat-ayat ini Kristus memberikan empat contoh tentang kasih terhadap sesama manusia (karena sesungguhnya kasih itu merupakan undang-undang dasar Kerajaan Allah).

Tuhan Yesus bertitik tolak pula dari sebagian hukum Taurat dalam perjanjian Lama. Dalam Imamat 24:19 dan 20 ada tertulis: "Apabila seseorang membuat orang sesamanya bercacat (artinya, melukai badannya), maka seperti yang telah dilakukannya, begitulah harus dilakukan kepadanya: patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi; seperti dibuatnya orang lain bercacat, begitulah harus dibuat kepadanya". Jadi, apabila seorang menyerang orang lain dan mematahkan satu gigi daripadanya, maka sebagai hukuman satu gigi dari penyerang itu harus dipatahkan, dan seterusnya.

Tidaklah dimaksudkan dalam hukum Taurat bahwa orang yang sudah diserang itu boleh menjalankan hukuman itu sendiri; di Taurat diberi pedoman kepada hakim, bagaimana hakim harus menghukum." Jadi seorang Yahudi yang giginya dipatahkan orang lain, dapat meminta kepada hakim supaya orang yang telah menyerangnya itu dihukum. Pada masa Tuhan Yesus gigi yang harus dipatahkan atau mata yang harus dicungkil (sebagai hukuman) sering diganti dengan uang. Flavius Josephus, seorang penulis Yahudi, yang hidup sedikit waktu setelah Yesus, menulis bahwa orang yang dilukai boleh menuntut uang sebagai ganti luka itu.

Tuhan Yesus tidak meniadakan pedoman kepada hakim itu, tetapi Ia mengatakan: jangan lari kepada hakim; jangan melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, bahkan siapapun yang menampar pipi kanan-mu (suatu penghinaan besar di antara orang Yahudi!), berikanlah juga kepadanya pipi kirimu. Itulah contoh kesabaran dan kasih, yang mungkin akan mengharukan dan memperbaiki penjahat itu.

Jangan kita berpendapat bahwa Tuhan Yesus di sini memberi suatu perintah, yang selalu harus dijalankan secara harfiah. Hal yang tetap dituntut oleh Yesus ialah kasih. Tetapi waktu muka Yesus sendiri ditampar di hadapan Sanhedrin, Ia tidak memberi pipi yang lain, melainkan Ia menegur orang yang menampar itu (Yohanes 18:22, 23). Paulus juga memprotes waktu ia ditampar (Kisah 23:3). Pasti disamping "kasih lembut" ada juga "kasih keras" untuk memperbaiki orang. Tetapi apabila kita menegur atau melawan seseorang yang jahat, harus jelas bahwa itu berasal dari kasih. Kalau kita membalas kebencian dengan kebencian, maka keadaannya menjadi semakin buruk.

Tolstoi juga telah menarik konsekuensi yang terlalu jauh, waktu atas dasar kata-kata Tuhan Yesus ini dia mau menghilangkan semua lembaga pengadilan dan polisi. Tuhan Yesus memanggil kita saja supaya kita penuh kesabaran dan penuh kasih terhadap orang yang berbuat jahat terhadap kita. Kata "saja" sebenamya tidak cocok di sini, sebab kesabaran dan kasih adalah hal-hal yang besar, yang hanya dapat dipraktekkan oleh kita apabila kita memperhatikan kasih yang sempur¬na yang diperlihatkan oleh' Yesus dan apabila kita mohon dalam doa supaya Tuhan tanamkan kasih ke dalam hati kita.

Contoh yang kedua yang diberikan Yesus ialah suatu perkara, di mana seseorang menuntut baju kita (mungkin sebagai jaminan), adalah perbuatan kesabaran dan kasih dan keinginan kepada perdamaian apabila kita menyerahkan jubah juga.

Contoh kasih dan kesabaran ialah juga apabila seorang Yahudi, yang dipaksa oleh seorang serdadu untuk mengantarnya sejauh satu mil (kira-kira satu 1,5 Km), berjalan bersama-sama dengan serdadu itu sejauh dua mil. Di sini secara harfiah dikatakan paksaan oleh alat-alat perintah, tetapi dapat dikenakan kepada "paksaan" yang lain juga.

Contoh yang terakhir diambil dari orang yang mau meminta atau meminjam dari kita. Pada pokoknya kita harus rela untuk memberi. Tetapi pasti kadang-kadang, justru karena kasih, permintaan harus ditolak, sebab menolak adakalanya cara yang terbaik untuk "mendidik" orang.

Jelaslah apa yang dimaksudkan oleh Yesus dalam keempat contoh ini, yaitu bahwa pengikut-pengikut Tuhan Yesus tidak boleh menjadi orang yang selalu mempertahankan haknya, dan yang mengabdi kepada kepentingan sendiri. Kasih harus merupakan dorongan yang terdalam pada orang yang percaya kepada Kristus, kasih adalah mengorbankan "hak" dan "kepentingan" kita.


Artikel terkait :
4. REFORMASI TERHADAP HUKUM PEMBALASAN, di reformasi-yesus-kristus-vt3067.html#p17056

DITAMPAR PIPI KANAN, BERIKAN PIPI KIRI, si ditampar-pipi-kanan-berikan-pipi-kiri-vt371.html#p788

User avatar
 
Posts: 11003
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

Re: YESUS DAN HUKUM TAURAT

Post by BP » Tue Dec 01, 2009 10:00 am

6. Mengasihi Musuh


5:43 LAI TB, Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
KJV, Ye have heard that it hath been said, Thou shalt love thy neighbour, and hate thine enemy.
TR, ηκουσατε οτι ερρεθη αγαπησεις τον πλησιον σου και μισησεις τον εχθρον σου
Translit interlinear, êkousate {kau telah mendengar} hoti {bahwa} errethê {telah dikatakan} agapêseis {kasihilah} ton plêsion {sesama} sou {-mu} kai {tetapi} misêseis {bencilah} ton {orang yang} ekhthron {memusuhi} sou {-mu}

5:44 LAI TB, Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
KJV, But I say unto you, Love your enemies, bless them that curse you, do good to them that hate you, and pray for them which despitefully use you, and persecute you;
TR, εγω δε λεγω υμιν αγαπατε τους εχθρους υμων ευλογειτε τους καταρωμενους υμας καλως ποιειτε τους μισουντας υμας και προσευχεσθε υπερ των επηρεαζοντων υμας και διωκοντων υμας
Translit interlinear, egô {Aku} de {tetapi} legô {berkata} humin {kepadamu} agapate {kasihilah} tous {orang-orang} ekhthrous {yang menjadi musuh} humôn {-mu} eulogeite {berkatilah} tous {mereka yang} katarômenous {menghujat} humas {-mu} kalôs {baik} poieite {berbuat} tous {kepada mereka} misountas {yang membenci} humas {-mu} kai {dan} proseukhesthe {berdoalah} huper {bagi} tôn {orang-orang yang} epêreazontôn humas kai {dan} diôkontôn {menganiaya} humas {kamu}

5:45 LAI TB, Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
KJV, That ye may be the children of your Father which is in heaven: for he maketh his sun to rise on the evil and on the good, and sendeth rain on the just and on the unjust.
TR, οπως γενησθε υιοι του πατρος υμων του εν ουρανοις οτι τον ηλιον αυτου ανατελλει επι πονηρους και αγαθους και βρεχει επι δικαιους και αδικους
Translit, hopôs genêsthe huioi tou patros humôn tou en ouranois hoti ton hêlion autou anatellei epi ponêrous kai agathous kai brekhei epi dikaious kai adikous

5:46 LAI TB, Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
KJV, For if ye love them which love you, what reward have ye? do not even the publicans the same?
TR, εαν γαρ αγαπησητε τους αγαπωντας υμας τινα μισθον εχετε ουχι και οι τελωναι το αυτο ποιουσιν
Translit, ean gar agapêsête tous agapôntas humas tina misthon ekhete oukhi kai hoi telônai to auto poiousin

5:47 LAI TB, Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?
KJV, And if ye salute your brethren only, what do ye more than others? do not even the publicans so?
TR, και εαν ασπασησθε τους αδελφους υμων μονον τι περισσον ποιειτε ουχι και οι τελωναι ουτως ποιουσιν
Translit, kai ean aspasêsthe tous adelphous humôn monon ti perisson poieite oukhi kai hoi telônai houtôs poiousin


Ayat 43-47. Di sini Tuhan Yesus mempergunakan kembali hukum Taurat sebagai titik tolak untuk ajaran-Nya. Ia mengatakan: "Kamu telah mendengar firman (yaitu firman Tuhan, yang tertulis dalam Imamat 19:18): Kasihilah sesamamu manusia". Akan tetapi kita harus insaf bahwa dalam buku Imamat "sesama manusia" itu terbatas kepada orang Israel. Hal tersebut menjadi jelas dari dalam bagian pertama ayat yang tadi disebutkan (Imamat 19:18), yang berbunyi: "Janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu". Dalam hukum Taurat ditulis bahwa orang Israel harus bersikap keras terhadap orang Kanaani; orang Israel harus membasmi orang Kanaani itu (Ulangan 7). Oleh sebab itu Yesus mengatakan bahwa dalam hukum Taurat ada tertulis "bencilah musuhmu" .

Tuhan Yesus mengatakan: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu" (Matius 5:44). Tuhan Yesus tidak bermaksud mengecam penntah Allah bahwa Orang Kanaani harus dibasmi. Tetapi alasan yang terdalam untuk perintah Tuhan itu ialah supaya orang Israel jangan dibujuk oleh orang Kanaani untuk meninggalkan Allah dan beribadah kepada illah-illah lain (Ulangan 7:4). Tuhan Yesus mau supaya agama salah orang kafir dibenci, tetapi dengan serentak orang kafir sebagai manusia dikasihi. Begitulah selalu harus sikap kita terhadap penjahat siapapun: membenci kesalahannya, tetapi mengasihi orangnya. Tuhan Yesus menjadi teladan untuk sikap itu, waktu la bertemu dengan seorang perempuan Samaria (Yohanes pasal 4).

Pada kesempatan itu Ia tidak berkompromi dengan agama orang Samaria; Ia mempertahankan bahwa orang Samaria menyembah apa yang mereka tidak kenal, dan bahwa keselamatan datang dari bangsa Yahudi (Yohanes 4:22); tetapi terhadap perempuan Samaria itu Ia menunjukan kasih.

Dalam Matius 5:44 Tuhan Yesus mengatakan: "Kasihilah musuhmu". Musuh di sini berarti semua macam musuh, entah orang kafir di luar Israel, entah golongan di dalam Israel yang memusuhi golongan-golongan yang lain, entah musuh-musuh pribadi. Dan baiklah kita insaf bahwa "kasih" terhadap musuh bukan terdiri atas perasaan hati saja, melainkan terdiri atas kemauan dan perbuatan (Prof. J. Schniewind).

Kasih adalah undang-undang dasar Kerajaan Allah. Mengasihi setiap orang adalah "hukum yang baru" yang dinyatakan oleh Yesus dengan cara lebih jelas daripada Perjanjian Lama.

Betapa lega hati kita, apabila kita mengasihi musuh-musuh kita! Ketegangan dan kepahitan hilang dari hati kita, dan sikap kita menjadi "sikap yang membangun."

Yesus mengatakan: "Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5 ayat 44). Mendoakan musuh-musuh kita adalah suatu alat yang kuat untuk menghilangkan rasa kebencian dari dalam hati kita. Marilah kita mempraktekkan doa itu. Pembaca-pembaca pertama Injil Matius, orang Yahudi yang sudah menjadi Kristen, dianiaya oleh orang yang mau tetap beragama Yahudi (lihatlah Kisah Para Rasul).

Yesus meneruskan: "dengan demikian kamu menjadi anak-anak dari Bapamu di Sorga". Dalam Ulangan 14:1 dikatakan kepada bangsa Israel: "Kamulah anak-anak TUHAN, Allahmu." Rabi-rabi (guru agama) Yahudi suka mengutip ayat itu.

Tetapi anak-anak harus menyerupai bapaknya. Allah menerbitkan matahari dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan yang tidak benar; dengan cara' yang sama orang yang sungguh anak Allah harus menunjukkan kasih terhadap orang yang baik dan yang tidak baik.

Kemudian dalam ayat 45 dan 47 Yesus memberi contoh-contoh tentang kasih yang terlalu terbatas. Kalau kita mengasihi orang yang mengasihi kita, maka hal itu dilakukan juga oleh orang pemungut cukai (yang pada masa itu biasanya orang yang kasar dan tidak jujur).

Jikalau kasih kita terbatas kepada orang yang mengasihi kita, maka tidak ada upah dari Tuhan! (tentang "upah dari Tuhan" lihatlah tafsiran yang sudah diberi pada Matius 5:12). Dan apabila kita hanya memberi salam kepada saudara-saudara kita (artinya orang yang kita anggap sebagai saudara), maka itu hal biasa saja; juga orang yang tidak mengenal Allah (artinya kafir) tahu memberi salam kepada saudara-saudaranya.

Tuhan Yesus berbicara tentang memberi salam, sebab orang Yahudi menganggap hal memberi salam sebagai bagian penting dari pergaulan. Biasanya orang Yahudi memberi salam itu dengan kata-kata "SYALOM ALEKHA", Kata-kata itu sebenarnya" suatu doa supaya orang yang mendengar salam itu sejahtera dalam semua hal badani dan rohani.

Ada satu kesulitan yang terletak dalam kaitan sentimental kata 'kasih' yang dimiliki kebanyakan kita. Kasih yang dibicarakan oleh hukum dan Injil bersifat amat praktis, demikian ditegaskan lagi oleh Rasul Yohanes :

* 1 Yohanes 3:18
Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.



Mengasihi sesama manusia diwujudkan melalui cara menolong dia pada saat dibutuhkannya. Akan tetapi, apabila kita berpikir bahwa kita harus mengembangkan lebih banyak perasaan Kristiani terhadap musuh, Yesus menunjukkan jalannya ketika Dia berkata :

* Lukas 6:28
mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.



Terhadap ajaran untuk mengasihi musuh, dan mendoakan musuh. Yesus Kristus dengan jelas telah memberi teladan, ketia Ia dianiaya dalam siksa salib, Ia tetap bisa mendoakan musuh-musuhNya dengan doa pengampunan "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34). Barangsiapa melaksanakan perintah ini dalam tindakannya, meyakinkan kita bahwa ketekunan kita dalam mendoakan seseorang yang tidak kita sukai, walaupun banyak hal yang dapat mengalangi kita untuk memulainya, membawa suatu perubahan yang nampak dalam sikap.

Jalan terbaik untuk meghancurkan musush adalah menjadikan seorang sahabat. Rasul Paulus dalam hal ini meringkas pengajaran Yesus Kristus demikian :


* Roma 12:21
Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!



MENGASIHI MUSUH, di 16-kasihilah-musuhmu-vt1023.html#p11091

User avatar
 
Posts: 11003
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

Re: YESUS DAN HUKUM TAURAT

Post by BP » Tue Dec 01, 2009 11:03 am

III. Penutup : Kamu Harus Sempurna


5:48 LAI TB, Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."
KJV, Be ye therefore perfect, even as your Father which is in heaven is perfect.
TR, εσεσθε ουν υμεις τελειοι ωσπερ ο πατηρ υμων ο εν τοις ουρανοις τελειος εστιν
Translit interlinear, esesthe {harus adalah} oun {karena itu} humeis {kalian} teleioi {sempurna} hôsper {seperti} ho patêr {Bapa} humôn {kalian} ho {yang} en {di dalam} tois ouranois {surga} teleios {sempurna} estin {adalah}


Ayat 48. Dalam ayat ini TuhanYesus menutup dengan kata-kata: "haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di Sorga adalah sempurna". Adalah hampir hal yang tentu bahwa di sini Yesus ingat akan dua ayat dari dalam Perjanjian Lama, yaitu Imamat 19:2 yang berbunyi: "kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu kudus" dan Ulangan 18:13 yang berbunyi: "haruslah engkau hidup dengan tidak tercela di hadapan TUHAN Allahmu." .

Kalau patut anak-anak Tuhan menyerupai Bapanya di Sorga, maka tidaklah bisa lain daripada mereka berusaha untuk menjadi kudus seperti Tuhan adalah kudus. Dalam Matius 5 sudah cukup diperlihatkan bagaimana pola kehidupan yang kudus; terdiri antara lain atas kejujuran dalam kata-kata kita (ayat 37). Kesucian dalam pergaulan kita dengan wanita (ayat 28),. dan dengan sendirinya juga kesucian wanita dalam pergaulan dengan laki-laki, dan kasih terhadap semua- orang, juga musuh-musuh kita (ayat 44).

Untuk "sempurna" di ayat 48 dalam bahasa Yunani dipakai kata τελειος - "teleios". Banyak ahli berpendapat bahwa kata itu berarti "kelakuan yang tak terbelah dua", artinya bahwa kita tidak boleh menghiraukan perintah-perintah Tuhan selama satu minggu dan pada minggu yang berikutnya tidak lagi. Itulah "kelakuan yang terbelah dua".
Juga ada '''kelakuan yang terbelah dua" kalau kita menghiraukan beberapa perintah Tuhan, dan menyingkirkan perintah-perintah yang lain. Tuhan Yesus mau supaya kita hidup dengan kelakuan yang tidak terbelah.

"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." Ini memang terdengar bagai 'nasehat' tentang 'kesempurnaan' dalam arti yang sangat harfiah. "Menjadi sempurna seperti Allah"? siapakah yang bisa mencapai kesempurnaan seperti itu? Apakah bukan Cuma membuang-buang waktu meskipun kita baru untuk mencobanya saja?

Namun, konteks perkataan ini menolong kita untuk memahami ketegarannya. Mengapakah murid-murid Tuhan Yesus, para ahli waris Kerajaan Allah harus membalas kejahatan dengan kebaikan?
Hukum purba berbunyi "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Imamat 19:18 ), tetapi kegenapan perintah itu tergantung dari jawaban atas pertanyaan "Siapakah sesamaku manusia?" (Lukas 10:29).
Ketika Tuhan Yesus mendapat pertanyaan itu, Ia menceritakan kisah tentang orang Samaria yang baik hati untuk menunjukkan bahwa 'sesama'ku dalam arti yang dimaksudkan oleh perintah itu ialah siapapun yang memerlukan pertolongan, siapapun yang bisa aku layani dengan ramah.
Tetapi orang-orang Israel pertama-tama yang diberi perintah itu tidak menganggap orang Kanaan sebagai 'sesama' dalam arti harus dikasihi. Dan keturunan mereka di zaman Perjanjian Baru tidak menganggap seorang Romawi, atau seorang Samaria, dan semua orang non-Yahudi sebagai sesama pula/

Kebanyakan sistem etika menekankan kewajiban seseorang kepada sesamanya; tetapi gerak maju dalam etika ditandai oleh wawasan yang meluas. Yang terkandung dalam jawaban atas pertanyaan 'Siapakah sesamaku manusia?' Mengapakah aku harus ramah kepada orang yang tidak ramah kepadaku? Bila seseorang berbuat jahat kepadaku, mengapa aku tidak boleh membalas kejahatan yang setimpal dengan apa yang diperbuatnya? "Karena" Tuhan Yesus "Allah sendiri memberi kita teladan dalam hal ini".
Yaitu "Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar" (Matius 5:45).

Allah mencurahkan berkatNya tanpa diskriminasi. Pengikut Tuhan Yesus adalah 'anak-anak Allah', sehingga mereka ini harus memancarkan kemiripam keluarga dengan berbuat baik kepada semua orang tanpa diskriminasi pula. Maka, sebagai anak-anak Allah, mereka harus menjalani jalan yang sempurna dalam melakukan perbuatan baik, sama seperti Allah.

Perintah yang sama muncul dalam konteks yang serupa, tetapi dalam kata-kata yang sedikit berbeda, yaitu :


* Lukas 6:36
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."



Bagaimanapun perintah Tuhan Yesus ini tidak sulit untuk dipahami, walaupun mungkin sulit untuk dilakukan. Jadilah Anak-anak Allah yang mencerminkan kasih Bapa kita di Surga.



Blessings,
BP
December 1, 2009


Return to Taurat, Yudaisme, Adat Yahudi

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests