SarapanPagi Biblika

Studi Alkitab & Pustaloka Kristiani
It is currently Fri Jul 30, 2010 12:36 am

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 2 posts ] 
Author Message
 Post subject: Tragedi Kemiskinan : Berebut Zakat, 21 Ibu Tewas
PostPosted: Tue Sep 16, 2008 7:24 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6387
Berebut Zakat, 21 Ibu Tewas


Image
[FOTO: ARIFIN/RADAR BROMO/JPNN]
KERUMUNAN MAUT: Ribuan ibu berdesak-desakan di depan musala Haji Syaikhon di Pasuruan untuk menerima pembagian zakat Rp 30 ribu kemarin



Selasa, 16 September 2008


PASURUAN - Membagikan zakat memang wajib dan diganjar pahala. Namun, jika dilakukan serampangan, malah menuai bencana bahkan mendatangkan dosa. Pembagian zakat oleh pengusaha dermawan asal Pasuruan, Haji Syaikhon, 55, kemarin (15/9) bisa menjadi pelajaran.

Maksud hati ingin membantu fakir miskin dengan zakat Rp 30.000, tapi malah berujung tragedi tewasnya 21 orang, satu kritis, dan 12 orang terluka. Atas keteledoran itu, kini Syaikhon, istri, dan tiga anaknya beserta belasan panitia dibawa ke Mapolres Kota Pasuruan. Mereka diamankan dari amarah warga.

Radar Bromo (Jawa Pos Group) melaporkan, kejadian yang memilukan umat Islam yang sedang menjalani ibadah puasa itu berawal dari keputusan Syaikhon untuk kembali menerapkan pola pembagian zakat masal. Pengusaha kulit dan peternak sarang burung walet tersebut mengundang warga ke rumahnya di mulut Gang Pepaya Jalan Wahidin Selatan, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, untuk menerima uang tunai Rp 30 ribu per orang.

Undangan bagi-bagi duit di tengah ekonomi sulit seperti sekarang itu kontan menarik ribuan orang untuk datang. Apalagi, jumlah yang dibagikan tahun ini lebih besar daripada tahun lalu yang hanya Rp 25 ribu. Umumnya warga mendengar adanya pembagian uang Syaikhon itu dari mulut ke mulut. Sebagian menguping siaran Radio FM Ramapati Pasuruan. ''Sedekah itu juga diumumkan di radio,'' ungkap salah seorang warga.

Mereka yang berbondong-bondong ke rumah Syaikhon bukan hanya tetangga sekitar, tapi juga dari daerah pedesaan wilayah Kabupaten Pasuruan yang berjarak sekitar 20 kilometer. Bahkan, ada beberapa yang datang dari luar kota seperti Jember dan Kediri. Ingin mendapat lokasi terdepan, mereka nyanggong (menunggu) pembagian zakat di depan rumah Syaikhon sejak usai sahur.

Melihat warga yang datang membeludak, panitia yang semua berasal dari keluarga Syaikhon memutuskan memindah lokasi pembagian zakat dari rumahnya ke musala Al Raudatul Jannah yang berjarak sekitar 10 meter. Mulut Gang Pepaya sampai samping musala ditutup gedek (anyaman bambu).

Di samping musala itu kemudian diberi celah untuk pintu masuk. Semua calon penerima zakat harus melalui pintu masuk tersebut, kemudian diberi tanda tinta merah di tangannya. Selanjutnya, mereka mengantre di depan musala yang berpagar besi. Di depan musala ada tanah lapang 8 x 4 meter. Di tempat itu panitia menyediakan 13 tenda kecil.

Jumlah warga yang datang ke rumah Syaikhon diperkirakan mencapai belasan ribu orang. Angka persisnya simpang siur. Ada yang menyebut kerumunan manusia itu mencapai 30 ribu orang. Warga yang hampir semua ibu-ibu yang sebagian membawa balita tersebut meluber mulai Gang Pepaya sampai Jalan Wahidin, jalan raya yang menghubungkan Surabaya-Malang dan Probolinggo.

Sekitar pukul 08.00, Syaikhon dan putranya, Vivin, 30, dan Faruq, 28 terlihat sibuk menata pembagian zakat. Keduanya menata pagar untuk jalan akses penerima zakat di dalam musala. Beberapa saat kemudian, terlihat istri Syaikhon, Ny Hanifa, 50. Ia berjalan memakai tongkat sambil dituntun beberapa keluarganya menuju musala.

Mulai sekitar pukul 09.00, pembagian zakat dimulai. Pintu musala sebelah utara akhirnya dibuka panitia. "Masuknya satu satu. Jangan dorong-dorongan," ucap seorang panitia kepada massa yang berkumpul di depan musala. Walau aksi pembagian zakat berada di dalam musala, namun jumlah massa yang berada di luar musala diperkirakan ada sekitar empat ribu orang.

Panitia yang bertugas membagikan zakat membuka pagar yang berukuran dua meter tersebut. Bukaan pintu pagar dibuka hanya cukup untuk satu orang yang masuk ke dalam musala. Panitia pun membatasi orang yang masuk ke dalam musala sebanyak lima orang sampai sepuluh orang. Jika yang di dalam telah menerima dan keluar lewat pintu selatan, barulah panitia membuka pintu pagar depan kembali. Begitu seterusnya.

Bagi orang yang telah menerima zakat sebesar rp 30 ribu, orang tersebut harus diberi sumba (pewarna) yang diletakkan di pintu keluar sebelah Selatan musala. Dua orang panitia zakat bertugas mencelupkan jari tangan massa yang telah mendapatkan uang. Sembari Ny Hanifa membagikan zakat, terlihat H Syaikhon berlalu lalang mengawasi. Sambil mengenakan baju hitam, lelaki tersebut memegang ponselnya. Namun ia lebih sering keluar dari dalam musala melalui pintu keluar.

Memasuki pukul 09.15, hampir sekitar lima puluh orang telah menerima zakat. Usaha mereka berlomba terbilang cukup semangat untuk memasuki pintu masuk musala. Sebab, mereka harus berdesak-desakan dengan sesama penerima. Ada pula massa yang kebingungan dengan anak yang digendongnya. "Mas, tolong anakku bawa ke dalam. Aku nggak kuat," ucap Surti, calon penerima zakat, sambil mendorong ke atas anaknya melalui celah pagar. Tak pelak massa lain yang membawa anaknya ikut meminta tolong para wartawan yang meliput dari dalam musala.

Lama-kelamaan pun aksi dorong massa semakin brutal. Mereka ingin cepat-cepat mendapatkan santunan zakat. Hingga akhirnya barisan depan yang berada di pintu musala semakin terhimpit. Ada yang menjerit kesakitan dan banyak juga yang menangis histeris. "Mas..mas mbokku (ibuku) pingsan!" teriak salah satu dari mereka.

Tak pelak para panitia turun menolong massa yang pingsan tersebut. Terlihat pula putra Syaikhon, Faruq, turun langsung di tengah kerumunan massa untuk membawa beberapa orang yang mulai jatuh pingsan. Panitia yang lain sibuk menyiram air dari selang kran musala untuk membuyarkan massa yang menumpuk. Awalnya pertolongan dari pantia memang efektif. Siraman air dari panitia bisa sedikit melonggarkan udara dan hawa panas. Banyak dari mereka yang memanfaakan siraman air tersebut untuk minum.

Namun, sekitar pukul 09.30 aksi dorong-dorongan massa semakin hebat. Banyak kumpulan orang yang jatuh tergeletak ke tanah hingga akhirnya terinjak massa yang lain. "Yo'opo iki (bagaimana ini). Jangan dorong-dorongan, kasian yang jatuh," ucap seorang panitia.

Sayang, penertiban panitia tidak membuahkan hasil. Justru massa semakin menjorok ke pintu masuk musala. Suasana kacau. Massa yang berada di pintu depan musala benar-benar terjebak dan terhimpit pagar.

Jeritan-jeritan histeris menyeruak, bercampur aduk dengan suara orang mengaduh-aduh. Mereka yang sadar dalam kondisi bahaya, berusaha menyelamatkan diri. Tapi, itu tidak mudah bagi yang sudah berada di tengah kerumunan. Tarik menarik demi penyelamatan diri terjadi. Ada wanita yang sampai bajunya robek di tengah tarik menarik itu.

Suasana semakin tak terkendali. Beberapa orang yang terjepit, terinjak, kehabisan napas, berjatuhan. Bahkan sebagian dari mereka ada yang terlihat digotong kedalam musala dalam keadaan meninggal dunia. Korban yang meninggal tersebut akhirnya dirujuk ke rumah sakit. Wartawan pun jadi ikut sibuk membantu mengevakuasi korban. Jatuh satu korban jiwa tak membuat kegiatan itu bubar.

Dengan adanya satu korban yang meninggal tidak menurutkan massa memberhentikan aksi dorong-mendorong. Mereka semua justru bingung tidak bisa menemukan jalan keluar karena jalan dari depan gang Pepaya ditutup. Kontan aksi dorong tersebut semakin menambah jumlah korban. Satu per satu pula korban berjatuhan. Para korban tewas di tempat kejadian lalu dikumpulkan begitu saja di jalan gang.

Sampai pukul pukul 10.15, sudah ada enam orang tewas. Itu belum termasuk mereka yang kritis hingga harus dilarikan ke RSUD dr Soedarsono Kota Pasuruan (RSUD Purut) yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi kejadian. Kondisi massa baru dapat dikendalikan ketika petugas Polsek Purworejo dan Polresta Pasuruan datang ke lokasi sekitar pukul 10.55. Sejumlah anggota yang datang dengan mobil patroli langsung mengamankan kerumunan massa. Kerumunan tersebut baru dapat dibubarkan sekitar pukul 11.10.

Bubaran kumpulan massa tersebut tidak serta merta mengatasi masalah. Sebab, ternyata korban meninggal dunia terus bertambah. Petugas pun langsung mengevakuasi para korban baik yang sudah meninggal maupun kritis dengan mobil patroli polisi dan kendaraan ala kadarnya macam pikap bak terbuka.

Sampai tadi malam, korban tewas dipastikan 21 orang dan satu orang kritis. Semua wanita berusia 30-67 tahun. Dua belas orang lainnya masih dirawat intensif di rumah sakit karena menderita sesak napas serta memar-memar.

Kepala Kepolisian Resor Kota Pasuruan Ajun Komisaris Besar Harry Sitompul menyatakan, umumnya korban tewas karena kekurangan oksigen, pingsan, dan terinjak-injak. Hal itu didasarkan pada hasil pemeriksaan dalam (visum et repertum) terhadap jenazah para korban.

Menurut dia, akibat berdesak-desakan, para korban yang telah kekurangan oksigen jatuh pingsan dan terinjak-injak. Padahal, petugas keamanan dan petugas kesehatan tidak ada di lokasi kejadian, sehingga para korban tidak tertolong.

Sebanyak 21 korban tewas yang telah berhasil diidentifikasi itu sudah diambil keluarganya. Sembilan korban luka masih dirawat di RSUD dr Soedarsono, Kota Pasuruan.


Terancam Bui Lima Tahun

Meski pembagian zakat sudah sering menelan korban, dengan puncak 21 orang tewas kemarin (15/9), H Syaikhon sebagai pembagi zakat belum ditahan polisi. Polisi hanya memeriksa keluarga kaya itu bersama belasan orang lainnya yang terlibat sebagai panitia pembagian zakat.

Hingga tadi malam sekitar pukul 22.00, dua belas orang masih diperiksa penyidik di Mapolresta Pasuruan. ''Pemeriksaan masih berjalan. Bila terbukti, mereka akan dikenai pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan orang meninggal atau luka-luka. Ancaman hukumannya lima tahun penjara,'' tegas Kasatreskrim Polresta Pasuruan AKP Adi Sunarto di sela pemeriksaan.

Panitia penyelenggara pembagian zakat itu, kata dia, sejak awal harus memprediksi bahwa pembagian zakat akan menarik massa yang sangat besar dan berpotensi menimbulkan kericuhan serta keributan. ''Namun, penyelenggara malah tidak berkoordinasi dengan kepolisian,'' ungkapnya. (fun/via/tim/jpnn/kim)

Sumber : http://www.jawapos.co.id/


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Tragedi Kemiskinan : Berebut Zakat, 21 Ibu Tewas
PostPosted: Tue Sep 16, 2008 7:28 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6387
Haji Syaikhon, Juragan Kulit Dermawan yang Terseret Tragedi Zakat Maut


Sebar Keluarga Terdekat, Cari Penerima sampai Pelosok

Tragedi ''zakat maut'' di Pasuruan, Jawa Timur, membuat Haji Syaikhon, 55, disorot. Padahal, haji kaya raya itu sudah berkali-kali membagikan zakat untuk hartanya kepada ribuan orang. Siapa dia dan mengapa tahun ini tradisi mulianya itu berakhir derita?

NURLAILY A. - FANDY A, Pasuruan

Di Kota Pasuruan, keluarga Haji Syaikhon memang dikenal sebagai keluarga berada nan dermawan. Selain pengusaha kulit, dia menjadi pedagang mobil sekaligus peternak sarang burung walet. Lahan sawahnya pun di mana-mana.

Rumah yang ditempati keluarga Syaikhon cukup besar. Bangunan berlantai dua itu berdiri megah di areal sekitar 4.000 meter persegi di tengah Kota Pasuruan. Di sebelahnya ada bangunan yang dijadikan sarang burung walet.

Di dalam rumah bercat hijau muda dengan pagar besi setinggi dua meter tersebut terdapat dua mobil, Suzuki Karimun pink dan Mercedes-Benz. Rumah itu juga dilengkapi parabola.

Di halaman rumah terdapat aneka binatang peliharaan. Salah satunya monyet. Setidaknya, ada tiga primata di kandang rumah Syaikon. Halaman rumah yang asri dengan pepohonan mangga dan mengkudu itu juga dihiasi taman lengkap dengan reliefnya.

Usaha kulit sapi Syaikhon sudah menjadi usaha turun-temurun keluarga. Setelah Syaikhon meneruskan usaha orang tuanya, kini giliran anak-anak Syaikhon yang ikut membesarkan usaha tersebut. ''Ayah saya mengumpulkan kulit-kulit sapi dari para tukang jagal. Setelah dikumpulkan, kulit-kulit tersebut kami bersihkan,'' kata Vivin, 30, putra tertua Syaikhon.

Setelah dibersihkan, kulit-kuli sapi tersebut dimasak, kemudian dilipat rapi untuk dijual ke pabrik pengolah kulit. Biasanya, kulit-kulit itu dijual ke sebuah pabrik di Purwosari, Kabupaten Pasuruan.

Di mata kerabatnya, Syaikhon dinilai agak tertutup. Dia dikenal memiliki banyak profesi. Mulai jual-beli mobil, usaha sarang burung walet, sampai bisnis terbesarnya, yakni pengepul kulit sapi. ''Setiap tahun memang mengeluarkan zakat dalam jumlah besar. Tapi, saya tidak tahu persis berapa nilainya,'' ungkap salah seorang kerabat Syaikhon yang tidak mau namanya dikorankan.

Orang-orang terdekat Syaikhon memang tidak pernah ambil pusing soal besarnya harta dan banyaknya zakat yang dikeluarkan setiap tahun. Namun, kalau soal pembagian zakat, mereka sering mengingatkan agar pembagian itu tidak dilakukan secara terbuka. Memang, dalam bagi-bagi zakat seperti kemarin, Syaikhon hampir tidak banyak melibatkan orang lain, selain keluarga intinya.

Yang menjadi ketua panitia tidak lain adalah putranya. Seperti ketika kejadian maut yang menjemput nyawa 21 pengantre zakat kemarin, ketua panitia diserahkan kepada putra kedua Syaikhon, Faruq, 28. Tapi, dalam praktiknya, dia dibantu kakaknya, Vivin.

Kedua putra Syaikhon itulah yang mengoordinasi beberapa orang yang dilibatkan sebagai panitia. ''Tapi, setiap tahun juga mereka tidak pernah sekalipun melibatkan aparat kepolisian,'' ujarnya.

Setiap dianjurkan untuk melibatkan aparat, keluarga Syaikhon selalu berkilah bahwa mereka sudah meminta bantuan orang-orang ''kuat'' untuk membekingi acara bagi-bagi zakat tersebut. Tidak ada alasan mengapa harus memilih membagikan zakat secara terbuka tanpa kupon, sehingga massa yang antre tidak bisa dibendung.

Para kerabat dekat Syaikhon mengaku sering miris melihat antrean panjang yang selalu mengular setiap ada pembagian zakat di sana. Tapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, itu sudah menjadi hak sepenuhnya Syaikhon dan keluarga.

Beberapa saat setelah kejadian, Syaikhon beserta dua putranya, Vivin dan Faruq, serta beberapa kerabat yang ikut membantu pembagian zakat tersebut diperiksa di Mapolresta Pasuruan. Mereka dimintai keterangan sejak pukul 12.30.

Hanifa, 50, istri Syaikhon, beserta anak ketiga dan keempatnya, Lely, 24, dan Haidar, 21, tak tampak saat itu.

Saat ditemui Radar Bromo, air muka Syaikhon dan kedua putranya masih tampak terkejut campur lelah. Syaikhon belum bersedia diajak berbicara. Hanya putranya, Vivin dan Faruq, yang mau memberikan keterangan kepada media. ''Saya terpaksa batal (puasa), Mas. Kejadian ini di luar dugaan kami,'' ungkap Vivin lemah kepada Radar Bromo.

Bagi-bagi uang menjelang Lebaran menjadi kebiasaan Syaikon sejak enam tahun lalu. Semula, uang yang dibagikan Rp 10 ribu per orang. Saban tahun uang sedekah dinaikkan Rp 5.000. Karena itu, kejadian pengantre zakat pingsan sebenarnya bukan hal baru. Sayangnya, kejadian itu tidak kunjung dijadikan pelajaran.

Berdasar catatan Radar Bromo, tahun lalu, tepatnya 27 September 2007, pembagian zakat Syaikhon juga bermasalah. Saat itu, setiap penerima mendapat zakat Rp 25 ribu. Pembagian zakat saat itu difokuskan di depan rumah Syaikhon. Seperti yang terjadi tahun ini, tidak ada aparat keamanan yang dilibatkan untuk mengamankan kegiatan tersebut. Satu-satunya pengaturan hanya pemberian tinta merah (dari bahan pewarna) di jari para calon penerima.

Akhirnya, terjadi desak-desakan warga. Memang tidak sampai jatuh korban jiwa tahun lalu. Tapi, ada sekitar empat perempuan tua yang jatuh pingsan. Beberapa orang lainnya sampai tercebur sungai selebar 1,5 meter yang melintang di kampung tersebut.

Menurut Vivin, bapaknya mengeluarkan zakat mal dengan cara itu sejak 1980. ''Ayah selalu menyisihkan hartanya sebesar 2,5 persen. Sejak 1980, harta tersebut ayah keluarkan dalam bentuk uang kepada masyarakat,'' jelasnya.

Uang zakat tersebut dibagikan setiap tanggal 15 Ramadan. ''Pembagiannya selalu dilakukan di lingkungan rumah kami,'' ujarnya. Siapa saja yang menerima zakat tersebut? ''Para duafa,'' katanya.

Menurut Vivin, kerabat-kerabatnya yang tinggal di beberapa daerah disuruh mengumpulkan warga sampai pelosok yang masuk golongan duafa. Pada 2007, kata dia, ayahnya mengeluarkan zakat total Rp 75 juta. Zakat itu dibagikan dengan cara yang sama dengan kemarin. Hanya, tahun lalu masing-masing orang menerima Rp 25 ribu.

Untuk pembagian kemarin, per orang menerima zakat Rp 30 ribu. ''Ayah telah mengambil uang Rp 50 juta untuk dikeluarkan sebagai zakat. Biasanya kalau kurang, ngambil lagi ke bank sebanyak yang dibutuhkan,'' jelas Vivin. Tapi, sebelum uang Rp 50 juta itu terbagi seluruhnya, terjadi insiden maut tersebut.

Menurut dia, tewasnya 21 orang itu di luar perkiraan keluarganya. Dia tidak mengetahui akhirnya massa datang membanjir begitu banyak. Yang dia tahu, musala ayahnya tersebut sudah dipenuhi warga. ''Padahal, tahun lalu tidak sampai begini (sampai jatuh korban tewas, Red). Walau tahun lalu situasi juga ramai, kami masih bisa mengendalikan massa,'' tegasnya.

Faruq, putra kedua Syaikhon, menambahkan, dulu sebenarnya pernah memakai kupon untuk pembagian zakat. Namun, hasilnya tidak efektif. ''Waktu itu orang yang curang selalu balik kembali untuk meminta uang lagi. Makanya, kami tidak lagi memakai cara seperti itu,'' katanya.

Akhirnya mereka memilih cara pencelupan jari dengan tinta seperti coblosan. Tapi, tintanya menggunakan pewarna biasa. ''Itu saja masih ada orang yang balik lagi. Sampai saya kejar dan keluarkan warga tersebut,'' tegas Vivin.

Faruq pun menyatakan tidak pernah sampai terpikir memakai jasa pengamanan dari kepolisian. ''Dari pengalaman sebelumnya, keluarga kami saja sudah berhasil mengawasi kondisi,'' ujarnya.

Keduanya mengaku menyesalkan massa yang nekat dorong-mendorong. ''Saya benar-benar tidak tahu kalau jumlah warga bertambah banyak. Yang saya sesalkan, massa tidak sabar, terus berdorong-dorongan,'' ungkap Faruq.

Dorong-mendorong itulah yang menyebabkan jatuhnya banyak korban meninggal karena terinjak dan kehabisan napas. ''Kalau tahu begini, saya memakai pengamanan,'' katanya.

Vivin yang siang itu memakai baju motif garis-garis menyatakan rela dirinya beserta keluarga diperiksa polisi. ''Semua masalah pasti ada jalan ke luar,'' ujarnya.

Dia mengungkapkan lain kali akan mengubah cara pembagian zakat. ''Mungkin kami akan memakai jasa pengamanan,'' tuturnya. (*)


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 2 posts ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
Powered by phpBB & phpBB SEO
Sarapan Pagi © 2006 by BP & Saxman