It is currently Fri Apr 29, 2016 2:51 am

SarapanPagi Biblika

Bible Study / Christian Library

Tentang Kebangkitan Orang Mati dan Roh yang Tidak Bergender

User avatar
 
Posts: 12090
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

Tentang Kebangkitan Orang Mati dan Roh yang Tidak Bergender

Post by BP » Fri May 09, 2008 9:52 am

Tentang Kebangkitan Orang Mati dan Roh yang Tidak Bergender


* Matius 22:23-33 Pertanyaan Orang Saduki tentang Kebangkitan
22:23 Pada hari itu datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya:
22:24 "Guru, Musa mengatakan, bahwa jika seorang mati dengan tiada meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.
22:25 Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Dan karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan isterinya itu bagi saudaranya.
22:26 Demikian juga yang kedua dan yang ketiga sampai dengan yang ketujuh.
22:27 Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati.
22:28 Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia."
22:29 Yesus menjawab mereka: "Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!
22:30 Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.
22:31 Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda:
22:32 Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup."
22:33 Orang banyak yang mendengar itu takjub akan pengajaran-Nya.


(Lihat juga Markus 12:18-27, Lukas 20:27-40)



Ayat 23-28

Ada beberapa orang Saduki, yang bertanya, tetapi hanya dengan tujuan supaya Yesus dipermalukan. Orang-orang Saduki adalah suatu mazhab (sekte) yang kecil, yang terdiri dari imam-imam yang berpangkat tinggi dan orang-orang bangsawan. Orang-orang Saduki itu menolak tradisi-tradisi yang diciptakan oleh orang Farisi. Mereka hanya berpegang kepada "kelima kitab Musa" (yaitu Kejadian sampai Ulangan). Buku-buku lain yang ada dalam Perjanjian Lama, tidak ditolak seratus persen oleh orang Saduki, tetapi mereka menganggapnya lebih rendah, sampai mereka tidak mau menerima bukti-bukti yang diambil dari dalam kitab-kitab itu. Seperti yang dikatakan di ayat 23b, orang Saduki tidak percaya bahwa orang mati akan bangkit pada akhir zaman, dengan alasan bahwa ajaran itu belum ada dalam "kelima kitab Musa". Pengertian ini juga didasarkan dari pengertian bahwa baru di Yesaya 26:19 dan Daniel 12:2 baru dikatakan bahwa "orang mati akan hidup kembali pula."

Orang-orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan, akan adanya malaikat dan roh (Kisah 23 :8), mereka juga tidak menerima adat istiadat lama bangsa Yahudi. Mereka hanya menerima Taurat yang ditulis oleh Musa. Meskipun demikian banyak di antara mereka yang menjadi imam, imam kepala, dan pemimpin lain dalam agama orang Yahudi (Kisah 5: 17; Matius 3: 17; 16: 1, 6, 11, 12; 23: 6-9). Mereka tergolong kepada orang-orang bangsawan dan orang-orang kaya.

Orang Saduki, dapat dikatakan "orang-orang modern" dalam kalangan agama Yahudi dan theologi mereka. Mereka tidak percaya akan hal-hal yang tidak dapat diterangkan oleh pengetahuan manusia, atau akan hal-hal yang tidak dapat mereka mengerti. Demikian juga pada masa sekarang ini ada golongan-golongan dan gereja-gereja yang tidak percaya akan ke-Allahan Yesus Kristus, akan mujizat-mujizat-Nya, akan Alkitab yang diilhami Allah dan juga lain-lain hal. Semua hal yang tidak dapat kita mengerti itu, harus kita terima dengan Iman (lihat L Roma 1: 17; Habakuk 2:4, yang berbunyi, "Orang benar akan hidup oleh iman).

Orang-orang Saduki, yang mendekati Yesus langsung menyebutkan Musa, yang mereka muliakan itu. Mereka mengutip peraturan Musa, tentang kawin dengan isteri saudara yang telah mati (Ulangan 25:5-10). Peraturan itu berbunyi: "Apabila seorang mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka saudaranya harus mengambil janda menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar (Perkawinan Levirat (levirate marriage, Levir, latin, artinya saudara laki-laki suami) adalah aturan menggantikan kedudukan suami yang meninggal jika tidak memiliki anak. Penggantinya adalah saudara laki-laki itu); maka anak sulung yang nanti dilahirkan perempuan itu haruslah dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati itu, supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel".

Kemudian orang-orang Saduki itu bercerita tentang ketujuh orang bersaudara yang mengikuti peraturan Musa, berturut-turut beristerikan seorang perempuan yang tertentu. Hal itu tidak terjadi betul, tetapi memang dapat terjadi. Pertanyaannya, siapakah yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Karena ke-tujuh saudara telah kawin dengan perempuan itu, dan tidak ada keturunan dari semua perkawinan itu sehingga tidak seorangpun yang bisa berhak disebut suaminya.

Dengan pertanyaan itu orang-orang Saduki mencapai tiga tujuan.

1) Mereka memperlihatkan bahwa kebangkitan orang mati sukar dicocokkan dengan hukum-hukum Musa.
2) Mereka ingin supaya kebangkitan menjadi barang tertawaan orang.
3) Mereka ingin supaya Yesus menjadi malu di muka orang di halaman Bait Allah, jikalau Ia tidak tahu menjawab.


Ayat 29-30

Orang-orang Saduki sebenarnya tidak mengerti kitab suci maupun kuasa Allah. Kesalahan orang Saduki ialah kegagalan mereka dalam memahami Alkitab mengenai kebangkitan dan kemampuan Allah untuk mengatus situasi. Pernah para ahli Taurat mencoba memberi keterangan tentang persoalan tersebut; menurut mereka, pada hari kebangkitan, perempuan itu akan menjadi isteri dari suami yang pertama. Tetapi Yesus menempuh jalan yang lain. Yesus mengatakan bahwa orang-orang Saduki tidak mengerti Alkitab (lihatlah ayat 31 dan 32), dan di samping itu tidak mengerti kuasa Allah, artinya apa yang dapat dikerjakan oleh kuasa Allah. Yesus tidak setuju dengan pikiran kebanyakan orang Yahudi pada waktu itu, yaitu bahwa sesudah hari kebangkitan akan ada pula nikah dan pergaulan seksual, sama seperti sekarang ini. Tuhan Yesus mempersalahkan orang Yahudi yang menganggap bahwa sesudah kebangkitan, cara hidup yang sekarang ada, hendak dilanjutkan dan bahwa semua kesenangan akan bertambah.

Yesus menjawab mereka dengan kata-kata, "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah." Mereka hanya belajar dengan otak, tetapi tidak membukakan hati kepada Firman Tuhan, sehingga mereka tersesat. Mereka tidak percaya akan Firman Tuhan yang mengajar tentang kebangkitan dan tentang kuasa Allah yang dapat membangkitkan orang mati. Orang-orang Saduki merupakan lukisan yang tepat dan orang-orang yang hanya mempergunakan otak saja, sehingga mereka tidak dapat sampai kepada kebenaran Allah, yang dapat kita capai Jika kita mempunyai iman, sebab Allah tidak dapat kita lihat.

Di ayat 30 kita lihat jawaban Yesus yang mengatakan bahwa "Apabila orang bangkit dari antara orang mati orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga." Malaikat itu bukan laki-laki ataupun perempuan. Dengan keterangan yang pendek ini, Yesus memecahkan persoalan mereka. Yesus menerangkan bahwa kuasa Allah akan melakukan dua hal yang besar; yang pertama, Ia akan membangkitkan tubuh orang-orang yang diselamatkan; yang kedua, Ia akan menciptakan suatu keadaan yang baru.

Setelah kebangkitan orang akan hidup seperti malaikat yang hidup di sorga. Apa ciri-ciri kehidupan malaikat? Malaikat-malaikat tak pernah mati (hal itu dikemukakan di ayat yang sejajar di Lukas 20:36) dan malaikat-malaikat tidak mengenal kawin-mengawinkan. Ayat ini tidak berarti bahwa hubungan yang sangat erat di dunia ini akan dilupakan pada kehidupan yang akan datang. Tetapi menjelaskan bagaimana semua hubungan itu tidak mempengaruhi kepemilikannya lagi, karena lembaga perkawinan seperti di dunia ini tidak ada lagi. Dan Alkitab mendukung pandangan bahwa keadaan sesudah kebangkitan merupakan persekutuan yang penuh kebahagiaan dan sempurna. Jadi di dunia yang baru orang akan hidup dalam suatu keadaan yang baru. Walaupun Alkitab tidak terdapat suatu lukisan lengkap tentang keadaan baru itu. Namun dapat kita lihat penjelasan senada di 1 Korintus 15:40-50, Paulus mengatakan bahwa betul-betul tubuh akan dibangkitkan, tetapi dalam keadaan baru yang mulia.


Ayat 31 dan 32

Di ayat 29 Yesus telah mengatakan bahwa orang-orang Saduki tidak mengerti Kitab Suci Perjanjian Lama. Ayat 31 dan 32 Yesus menerangkan Kitab Suci itu. Yesus mengetahui bahwa orang Saduki hanya mau menerima bukti-bukti saja yang diambil dari "kelima kitab Musa" (Kejadian sampai dengan Ulangan).

Mereka bersalah karena memandang persoalan itu menurut cara berpikir manusia. Yesus adalah guru yang terbaik, sebab Ia mengetahui inti setiap persoalan. Begitulah Ia menyatakan kesalahan mereka yang sebenarnya, dan memperlihatkan bahwa mereka tidak memahami Alkitab.

Oleh sebab itu, Yesus memperlihatkan bahwa di dalam "kelima kitab Musa" itu ada ayat yang mendukung ajaran bahwa orang mati akan bangkit. Yesus bertanya, "Tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, Yesus mengutip suatu ayat yang terkenal sekali, yakni Keluaran 3:6. Dalam kisah tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya, Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati melainkan Allah orang hidup." Di situ orang Saduki dapat membaca bagaimana Allah menyatakan diri-Nya kepada Musa di semak duri yang menyala. Pada waktu itu Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa dengan bersabda:


* Keluaran 3:6
LAI TB, Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.
KJV, Moreover he said, I am the God of thy father, the God of Abraham, the God of Isaac, and the God of Jacob. And Moses hid his face; for he was afraid to look upon God.
Hebrew,
וַיֹּאמֶר אָנֹכִי אֱלֹהֵי אָבִיךָ אֱלֹהֵי אַבְרָהָם אֱלֹהֵי יִצְחָק וֵאלֹהֵי יַעֲקֹב וַיַּסְתֵּר מֹשֶׁה פָּנָיו כִּי יָרֵא מֵהַבִּיט אֶל־הָאֱלֹהִים׃
Translit, VAYOMER 'ANOKHI ELOHEY 'AVIKHA 'ELOHEI AVRAHAM 'ELOHEY YITSKHAQ VELOHEY YA'AQOV VAYASTER MOSYEH PANAV KI' YARE MEHABIT 'EL-HA'ELOHIM


Pada zaman Musa (kira-kira 1300 sebelum Masehi) Abraham, Ishak dan Yakub sudah meninggal dunia dan sudah beberapa abad dalam kuburnya, namun demikian tetaplah Allah menyebut diri-Nya adalah Allah mereka. Hal itu berarti bahwa mereka tidak mati, oleh karena Allah bukan Allah mayat-mayat, melainkan Allah orang hidup (ayat 32b).

Orang-orang Saduki telah menyebut-nyebut Musa untuk membela kepercayaan mereka bahwa kebangkitan itu tidak ada. Maka, Yesus perlu mengutip kata-kata Musa untuk membuktikan bahwa ada kebangkitan. Ia memberi bukti yang cukup jelas tentang kekekalan jiwa dan tentang kebangkitan orang mati. Allah itu bukan Tuhan orang mati, Dialah yang berkuasa menghidupkan orang mati, maka Allah ialah Tuhan orang hidup.

Allah yang hidup adalah Allah dari orang yang hidup! Allah sendiri hidup terus-menerus, dan kalau Allah telah menghubungkan diriNya dengan seseorang, maka tidak dapat tidak orang itu akan hidup terus-menerus. Dan barulah orang hidup betul kalau manusia seluruhnya, baik roh maupun tubuh, hidup. Oleh sebab itu tubuh Abraham, Ishak dan Yakub akan dibangkitkan pula. Sudah barang tentu bahwa itulah kebenaran yang disampaikan Tuhan Yesus. Memang, menurut filsafat Yunani, tubuh merupakan belenggu bagi roh, sampai orang boleh bersukacita kalau belenggu itu hilang untuk selama-lamanya. Tetapi orang Yahudi mengetahui dari Kejadian 1 dan 2 bahwa tubuh manusia adalah ciptaan Tuhan, sebuah ciptaan yang baik, yang merupakan bagian dari manusia yang lengkap.


Ayat 33

Orang-orang yang hadir sebagai pendengar waktu Yesus berdiskusi dengan orang Saduki menjadi takjub akan pengajaran Yesus. Kita harus insafi bahwa Injil Matius tidak ditulis sebagai sebuah kitab sejarah saja, Matius menyebutkan orang-orang yang takjub atas ajaran Yesus itu, agar anggota-anggota jemaat Kristen dikuatkan dalam kepercayaan bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah pengajar yang luar biasa, dan supaya mereka berani menyebar-luaskan ajaran-ajaran Tuhan Yesus.



Mengenai roh tidak bergender


Apa yang tertulis dalam Matius 22:23-33 mengajarkan kepada kita bahwa Malaikat adalah makhluk roh. Sebagai mahluk roh (sekalipun ditulis dalam Alkitab menggunakan 'kata-ganti' bentuk laki-laki), Malaikat disebut tidak bergender (Matius 22:30, Markus12:25, Lukas 20:35-36). Sehingga tidak ada kawin-dan-mengawinkan antar malaikat.

Ada pengajaran dari agama lain bahwa orang-orang di Surga yang dulunya di dunia melakukan perbuatan baik, mereka akan diberi pahala kesenangan yaitu mereka dapat melakukan perkawinan dengan para bidadari, yang artinya ada gender/ jenis kelamin dan ada aktivitas seksual. Bahkan ada juga sebuah kalangan Kristen tertentu yang mempercayai pendetanya mempunyai "wahyu" bahwa di neraka ada orang-orang yang melakukan aktivitas seksual.

Namun dari keterangan Tuhan Yesus yang adalah Empunya Surga, kita dapat mengerti bahwa anggapan adanya aktivitas seksual di akhirat bertentangan dengan Alkitab. Dengan melihat ayat 30, jawaban Yesus yang mengatakan, " Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga".

Maka jelaslah Malaikat itu bukan laki-laki ataupun perempuan. Dan Manusia yang ada disana seperti Malaikat yang juga tidak bergender. Dengan keterangan yang pendek ini, namun sudah jelas bagi kita untuk mengerti bahwa Yesus memberitahukan kepada kita salah satu suasana kehidupan di akhirat nanti – tidak ada aktivitas seksual!.

Semoga bermanfaat.


Blessings in Christ,
BP
May 9, 2008




Sumber :
JJ De Heer, Injil Matius, BPK Gunung Mulia, 1982, p 436-440.
Dan beberapa sumber lain.


Artikel terkait :
Malaikat pernah bertindak Bejat-Cabul? , di malaikat-pernah-bertindak-bejat-cabul-vt2065.html#p10961

User avatar
 
Posts: 12090
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

Re: Tentang Kebangkitan Orang Mati dan Roh yang Tidak Bergen

Post by BP » Thu Jan 10, 2013 9:55 am

PERTANYAAN MENGENAI PERKAWINAN


* Matius 22:23-28
22:23 Pada hari itu datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya:
22:24 "Guru, Musa mengatakan, bahwa jika seorang mati dengan tiada meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.
22:25 Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Dan karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan isterinya itu bagi saudaranya.
22:26 Demikian juga yang kedua dan yang ketiga sampai dengan yang ketujuh.
22:27 Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati.
22:28 Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia."


Disini diceritakan tentang perdebatan Kristus dengan beberapa orang Saduki mengenai kebangkitan. Perdebatan itu berlangsung pada hari yang sama ketika Ia diserang oleh orang-orang Farisi tentang membayar pajak. Sekarang Iblis menjadi lebih sibuk daripada biasanya untuk melumat dan mengganggu Dia. Saat Itu adalah hari pencobaan (Wahyu 3:10). Kebenaran yang ada dalam Yesus akan tetap berhadapan dengan pertentangan dalam macam-macam perkara. Perhatikan baik-baik di sini:


I. Orang-orang Saduki menentang kebenaran iman yang sangat besar. Mereka berpendapat bahwa tidak ada kebangkitan sama seperti yang dikatakan oleh orang-orang dungu, bahwa tidak ada Allah. Kelompok orang-orang bidah ini disebut Saduki, yang berasal dari nama Sadok, salah seorang murid Antigonus Sochaeus, yang pengajarannya berkembang sekitar dua ratus delapan puluh empat tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus. Mereka mendapat kritik keras dari para penulis bangsa mereka sendiri, yang menyebut mereka sebagai orang berperilaku rendah dan murtad sesuai prinsip yang mereka anut. Jumlah mereka tergolong paling kecil di antara semua sekte yang ada di antara orang-orang Yahudi, tetapi umumnya mereka terdiri dari orang-orang yang tergolong mempunyai kedudukan yang cukup tinggi. Sama seperti orang-orang Farisi dan orang-orang Esseni yang tampaknya mengikuti pandangan Plato dan Pythagoras, orang-orang Saduki ini lebih condong kepada pandangan Epikuros. Mereka menyangkal adanya kebangkitan. Mereka berpendapat bahwa tidak ada kehidupan di masa mendatang. Tidak ada lagi kehidupan setelah kehidupan ini, bahwa ketika tubuh ini mati, jiwa akan musnah begitu saja dan mati bersama tubuh, bahwa tidak akan ada pahala dan hukuman di dunia lain. tidak akan ada pengadilan di surga atau neraka. Mereka mengatakan bahwa selain Allah, tidak ada roh lain lagi (Kisah 23:8), yang ada hanyalah benda dan pergerakan belaka. Mereka tidak mempercayai adanya penyataan Ilahi yang dtsampaikan oleh para nabi maupun penyataan dari sorga, selain apa yang disampaikan Allah di Gunung Sinai. Sekarang muncul ajaran Kristus yang menyampaikan kebenaran besar tentang kebangkitan dan kehidupan yang akan datang dengan lebih jelas daripada apa yang telah diungkapkan selama ini. Oleh karena ttu. Orang-orang Saduki secara khusus menentang pengajaran ini. Sebenarnya orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki saling bermusuhan, tetapi sekarang mereka bersatu melawan Kristus. Injil Kristus selalu menderita tekanan di antara orang-orang munafik dan fanatik yang sarat dengan upacara dan takhayul di satu sisi dan orang-orang yang tidak menghormati bahkan tidak mempercayai adanya Tuhan di sisi lain. Yang pertama melecehkan, dan yang kedua membenci, segala bentuk keilahian, namun keduanya menolak kuasa ke-ilahian itu.



II. Orang-orang Saduki menyerang kebenaran tentang kebangkitan itu dengan mengangkat sebuah kisah rekaan tentang seorang perempuan yang memiliki tujuh suami secara berturut-turut (barangkali sejenis pernikahan yang dialami Tamar, yaitu "Pernikahan Levirat" dan kemudian kedua suaminya meninggal). Mereka percaya begitu saja bahwa kalau memang betul ada kebangkitan, maka tentunya segala sesuatunya akan kembali pada keadaan dan lingkungan yang sama seperti pada saat kini, seperti pada masa khayalan yang direka-reka oleh Plato. Kalau keadaannya begini nantinya, maka betapa janggalnya situasi perempuan ini di kehidupan yang akan datang karena memiliki tujuh suami, atau betapa sulitnya ia nanti, siapa yang akan menjadi suaminya, apakah suami pertama, terakhir, yang paling ia cintai, atau yang paling lama hidup bersamanya.

    1. Mereka mencoba menerapkan hukum Musa dalam masalah yang disampalkan Ini (ayat 24 tentang perkawinan levirat), bahwa saudara suaminya harus menikahi janda tanpa anak yang ditinggal mati oleh suaminya (Ulangan 25:5). dan hal semacam itu telah lama dipraktikkan (Rut 4:5). Sebenarnya hukum semacam itu lebih bersifat politis, karena tercantum dalam peraturan perundangan khusus yang mengatur seluruh bangsa Yahudi, dengan maksud menjaga kehormatan dan warisan keluarga, yang memang mendapat perhatian khusus dari pemerintah mereka.

    2. Mereka mempermasalahkan keadaan ini. Tidak penting apakah masalah ini masalah nyata atau sekadar wacana belaka. Bila masalah ini tidak benar-benar terjadi, mungkin saja akan terjadi. Masalah itu adalah tentang tujuh laki-Iaki bersaudara yang menikahi perempuan yang sama (ayat 25-27).

    Nah, kasus ini beranggapan bahwa:

      (1) Kesedihan besar yang ditimbulkan oleh kematian tertentu di dalam keluarga-keluarga sering membinasakan seluruh kelompok dalam sekejap, jarang (seperti yang disampaikan dalam masalah ini) terjadi secara berurutan sesuai usia (negeri kegelapan tidak memiliki aturan tertentu), tetapi kelompok demi kelompok. Kematian itu memusnahkan keluarga yang bertambah dengan sangat banyak (Mazmur 107:38-39). Bila ada tujuh bersaudara tumbuh dewasa dalam satu rumah tangga, tentunya besar kemungkinan keluarga itu akan berkembang, namun sekarang keluarga besar ini tidak mempunyai anak atau cucu cicit, dan tak seorang pun yang tinggal hidup di tempat kediamannya (Ayub 18:19). Benarlah bila dikatakan bahwa, jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya. Jangan ada seorang pun yang merasa yakin akan kemajuan dan kelangsungan nama dan keluarga mereka, kecuali mereka bisa membuat perjanjian damai dengan kematian, atau membuat kesepakatan dengan kubur.

      (2) Ketaatan tujuh bersaudara ini kepada hukum, sekalipun sebenarnya mereka bisa menolak dengan resiko dipersalahkan (Ulangan 25:7, "Hukum Pernikahan Levirat"). Perhatikanlah, berbagai peristiwa yang menawarkan hati tidak boleh menghalangi kita untuk melakukan kewajiban, karena kita harus diperintah oleh peraturan, dan bukan oleh peristiwa itu. Orang ketujuh, yang harus menanggung risiko terakhir untuk mengawini janda itu (banyak yang mengatakan), adalah seorang yang berani. Saya berpendapat, bila ia melakukannya dengan kepatuhan yang murni terhadap Allah, maka ia adalah seorang yang baik, seorang yang melaksanakan tugasnya dengan jujur.

      Tetapi, akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Perhatikanlah, hidup lebih lama sebenarnya hanyalah penundaan belaka. Mereka yang berumur panjang dan sempat menguburkan keluarga dan tetangga-tetangga mereka, bukanlah orang yang kebal terhadap kematian. Tidak, hari kematian mereka akan datang juga. Piala pahit kematian terus berkeliling, cepat atau lambat kita semua harus meminumnya (Yeremia 25:26).

    3. Mereka menyampaikan ketidakyakinan mereka mengenai jawaban untuk masalah ini (ayat 28). "Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Tidak mungkin ada jawaban atas masalah ini, jadi kami bisa simpulkan bahwa tidak ada kebangkitan." Orang-orang Farisi yang mengaku mempercayai kebangkitan. memiliki anggapan yang sangat kotor dan bersifat kedagingan mengenai hal ini maupun tentang kehidupan yang akan datang. Mereka berharap di sana akan dijumpai kegembiraan dan kesenangan hidup yang hewani. Mungkin hal inilah yang mendorong orang-orang Saduki menolak kebangkitan itu sendiri. Tidak ada yang lebih menguntungkan bagi orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan atau yang tidak beriman, selain daripada sifat duniawi untuk melampiaskan hawa nafsu dan kepentingan duniawi. Orang-orang sesat menolak kebenaran, sedangkan yang suka percaya pada takhayul memutarbalikkannya untuk keuntungan mereka. Sekarang, keberatan orang-orang Saduki ini sebenarnya ditujukan kepada anggapan orang-orang Farisi tersebut. Perhatikanlah, tidak aneh bahwa pikiran-pikiran duniawi memiliki pemahaman yang keliru tentang hal-hal yang bersifat rohani dan kekal. Manusia duniawi tidak menerima hal-hal ini, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan (1 Korintus 2:14). Biarlah kebenaran diletakkan pada cahaya terang, supaya kebenaran itu muncul dalam segala kekuatannya.


III. Yesus Kristus menjawab keberatan ini, dengan mencela kebodohan mereka, dan meralat kesalahan mereka. Ia menunjukkan keberatan mereka ini sebagai keliru dan tidak berdasar.

22:29 Yesus menjawab mereka: "Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!

    1. Yesus Kristus mencela kebodohan mereka (ayat 29), "Kamu sesat." Perhatikanlah, dalam pengadilan Kristus, mereka yang menyangkal kebangktian dan kehidupan yang akan datang akan dinyatakan sebagar orang-orang sesat. Di sini Kristus menegur mereka dengan penuh kelembutan dan kebijaksanaan, tidak tajam (apa pun alasannya) seperti yang kadang-kadang dilakukan-Nya terhadap imam-imam kepala dan tua-tua, "Kamu sesat. sebab kamu tidak mengerti." Perhatikanlah, ketidaktahuan menjadi penyebab kekeliruan. Mereka yang berada dalam kegelapan, menjadi sesat. Kekeliruan terjadi karena menolak terang, dan karena mencoba membuang kunci pengetahuan. Kamu sesat dalam hal ini, sebab kamu tidak mengerti. Perhatikanlah, ketidaktahuan atau kebodohan adalah penyebab terjadinya kekeliruan tentang kebangkitan dan kehidupan yang akan datang. Apakah sebenarnya kebangkitan itu. orang yang paling bijaksana dan terbaik sekalipun tidak akan mengetahui apa-apa mengenainya. Seperti apa kita nanti jadinya, belumlah tampak. Ini adalah suatu kemuliaan yang nanti akan dinyatakan. Bila kita berbicara tentang keadaan jiwa-jiwa yang terpisah, kebangkitan badan, serta kebahagiaan dan kesengsaraan abadi, langsung saja kita akan menjadi bingung. Kita tidak bisa mengatur pembicaraan kita karena semua masih gelap. Tetapi kita tidak dibiarkan tetap tinggal dalam kegelapan mengenar hal ini. Terpujilah Allah karenanya! Dan mereka yang menyangkalnya, bersalah karena sengaja tidak mau tahu atau tidak tersentuh dengan kebenarannya. Tampaknya, di antara orang-orang Kristen pun ada semacam orang-orang Saduki juga, yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati (l Korintus 15:2). dan ada juga beberapa yang memang menyangkaitnya, dengan menjadikan kebangkitan itu sebagai sebuah kiasan belaka dengan mengatakan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung.

    Sekarang perhatikan baik-baik:

      (l) Mereka tidak mengerti kuasa Allah, yang akan memimpin manusia memahami adanya kebangkitan dan kehidupan yang akan datang. Perhatikanlah, kebodohan, ketidakpercayaan, atau kurang kepercayaan tentang kuasa Allah merupakan akar dari banyak kekeliruan. khususnya bagi mereka yang menyangkal adanya kebangkitan. Ketika kita diberi tahu tentang keberadaan dan fungsi jiwa dalam keadaan terpisah dan tubuh, khususnya tubuh yang telah mati dan dikuburkan selama berabad-abad dalam liang kubur, dan telah berubah menjadi debu biasa dan hina, dan kemudian debu ini akan dibangkitkan menjadi tubuh yang sama seperti sebelumnya, hidup, bergerak, dan bertindak, maka langsung saja kita berujar. "Bagaimana mungkin hal-hal ini bisa teljadi?" Alam memberikan pepatah seperti ini. A privatione ad habitum non datur regressus - Kebiasaan menghubungkan sesuatu pada keadaan yang ada akan sirna bersama keadaan ini sendiri. Bila seseorang meninggal dunia, apakah ia akan hidup kembali? Karena orang-orang bodoh tidak mampu memahami caranya, mereka mempertanyakan kebenaran itu. padahal, bila kita sungguh-sungguh percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, maka semua kesulitan ini akan lenyap. Karena itu, pertama-tama kita harus berpegang teguh pada keyakinan bahwa Allah itu mahakuasa, dan bisa melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Setelah itu, tidak akan ada lagi ruang untuk meragukan apakah Ia akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya. Kalau begitu, mengapa kamu menganggap mustahil bahwa Allah membangkitkan orang mati? (Kisah 26:8). Kekuasaan-Nya jauh melampaui kekuasaan alam ini.

      (2) Mereka tidak mengerti Kitab Suci, yang menyatakan dengan tegas bahwa akan ada kebangkitan dan kehidupan yang akan datang. Kuasa Allah yang ditetapkan dan digerakkan oleh janji-Nya merupakan landasan untuk membangun iman. Nah, Kitab Suci mengatakan dengan jelas bahwa jiwa itu kekal, dan akan ada kehidupan lain setelah kehidupan ini. Itulah maksud pengajaran hukum Taurat dan nabi-nabi, bahwa akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar (Kisah 24:14-15). Ayub mengetahui hal ini (Ayub 19:26), Yehezkiel juga menubuatkannya (Yehezkiel 37). dan Daniel menubuatkannya dengan jelas (Daniel 12:2). Kristus bangkit sesuai dengan Kitab Suci (1 Korintus 15:4), begitu juga kita akan dibangkitkan. Oleh karena itu, mereka yang menyangkal kebangkitan mungkin belum meneliti Kitab Suci dengan cermat, atau tidak mempercayainya, atau tidak bisa mengerti makna dan maksudnya secara benar. Perhatikanlah, tidak memahami Kitab Suci akan menimbulkan banyak kerugian.

22:30 LAI TB, Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.
LAI TL, Karena pada hari kiamat kelak tiadalah orang kawin, dan tiada orang dikawinkan, melainkan keadaannya itu seperti malaekat yang di surga.
NIV, At the resurrection people will neither marry nor be given in marriage; they will be like the angels in heaven.
KJV, For in the resurrection they neither marry, nor are given in marriage, but are as the angels of God in heaven.
TR, εν γαρ τη αναστασει ουτε γαμουσιν ουτε εκγαμιζονται αλλ ως αγγελοι του θεου εν ουρανω εισιν
Translit interlinear, en {pada} gar {karena} tê anastasei {(hari/ waktu) kebangkitan, noun - dative singular feminine} oute {juga tidak} gamousin {mereka melakukan pernikahan, verb - present active indicative - third person} oute {tidak juga} ekgamizontai {mereka dinikahkan, verb - present passive indicative - third person} all {melainkan} hôs {seperti} aggeloi {malaikat2} tou theou {Allah} en {di dalam} ouranô {surga} eisin {adalah}.

    2. Yesus meralat kesalahan mereka, dan (ayat 30) membetulkan gagasan bodoh mereka tentang kebangkitan dan kehidupan yang akan datang, serta memperbaiki pengajaran ini dengan dasar yang benar dan abadi. Perhatikan baik-baik keadaan yang terjadi saat kebangkitan:

      (1) Keadaan pada saat kebangkitan itu tidak sama seperti kehidupan yang sedang kita jalani sekarang di atas bumi ini, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan.
      Dalam kehidupan kita sekarang, perkawinan memang diperlukan, dilembagakan dalam kekudusan. Sekalipun bentuk-bentuk kelembagaan lainnya diganggu atau diabaikan, lembaga yang satu ini tidak pernah dikesampingkan, bahkan sampat akhir zaman. Di dunia lama, mereka kawin dan dikawinkan. Ketika orang-orang Yahudi dalam pengasingan di Babel dan tercerabut dari macam-macam ketetapan lain, mereka tetap diminta untuk mengambil istri (Yeremia 29:6). Semua bangsa beradab menyadari pentingnya kewajiban dalam perjanjian pernikahan, yang diperlukan untuk memenuhi hasrat dan melengkapi kekurangan sifat manusia. Tetapi, dalam kebangkitan, tidak akan ada perkawinan. Beberapa orang dengan penuh rasa ingin tahu membahas apakah dalam tubuh yang dipermuliakan akan ada perbedaan jenis kelamin (pendapat orang-orang kuno terbagi mengenai hal ini). 'Tetapi, ada perbedaan jenis kelamin atau tidak, yang pasti tidak akan ada penyatuan jenis kelamin (perkawinan)'. Bila Allah menjadi semua di dalam semua, tidak diperlukan lagi "penolong yang lain", tubuh ini akan menjadi tubuh rohaniah, tidak memiliki lagi hasrat kedagingan yang perlu dipenuhi. Ketika tubuh rohaniah telah disempurnakan, tidak perlu lagi mencari keturunan ilahi yang menjadi salah satu tujuan lembaga perkawinan (Maleakhi 2:15). Di sorga tidak akan ada lagi kemerosotan kehidupan jasmani manusia. dan karena Itu tidak akan ada lagi makan dan minum. Tidak ada lagi kemerosotan keturunan, karena itu tidak ada perkawinan. Di mana maut tidak akan ada lagi (Wahyu 21:4), sehingga tidak perlu lagi ada kelahiran. Kehidupan perkawinan terdiri atas kesukaan dan kesusahan. Mereka yang memasukinya diajar untuk paham bahwa perkawinan itu sesuatu yang bisa berubah-ubah, ada kelimpahan dan kekurangan, ada sakit dan sehat. Dan semuanya ini sesuai dengan keadaan dunia yang bercampur dan penuh perubahan ini. Kalau di neraka tidak ada lagi sukacita, tidak terdengar lagi suara mempelai laki-Iaki dan suara pengantin perempuan, maka di sorga selalu ada sukacita, tidak ada lagi kesusahan, kesakitan, atau kesukaran, dan karena itu tidak perlu ada saling kawin-mengawinkan. Sukacita pada saat itu sungguh suci murni dan rohaniah sifatnya, yang berasal dari perkawinan mereka semua dengan Sang Anak Domba, bukan dari perkawinan di antara mereka satu dengan yang lainnya.

      (2) Kehidupan saat itu sama seperti kehidupan malaikat yang sekarang ada di dalam surga. Hidup mereka seperti malaikat di sorga. Kehidupan malaikat memang demikian adanya, dan tidak diragukan lagi bahwa kita juga akan menjadi seperti itu. Mereka sudah ada di dalam Kristus yang menjadi Kepala mereka, dan yang telah memberi mereka tempat bersama-sama dengan Dia di sorga (Efesus 2:6). Roh orang-orang benar yang sudah disempurnakan akan sama seperti kumpulan beribu-ribu malaikat (Ibrani 12:22-23). Manusia diciptakan Allah hampir sama sepeti Allah (Mazmur 8:6), tetapi dalam penebusan dan pemulihan yang sempurna, manusia akan menjadi seperti malaikat, bersifat murni dan rohaniah seperti malaikat, penuh hikmat dan kasih seperti para Serafim yang diberkati, selalu memuji Allah seperti mereka dan bersama mereka. Tubuh orang-orang kudus akan dibangkitkan dalam keadaan yang sempurna dan mulia, sama seperti roh-roh yang murni dan kudus itu (1 Korintus 15:42 dst), mampu bergerak cepat dan kuat. Oleh karena itu, sekarang kita harus berhasrat dan berusaha sungguh-sungguh melakukan kehendak Allah seperti yang dilakukan oleh para malaikat di sorga, karena kita berharap tidak lama lagi kita akan menjadi seperti malaikat-malaikat yang selalu memandang wajah Bapa. Tuhan Yesus tidak mengatakan apa pun tentang kehidupan orang-orang jahat dalam kebangkitan, tetapi kita bisa mengambil kesimpulan sebaliknya, tentunya mereka akan menjadi seperti setan-setan, karena mereka telah mengumbar semua hawa nafsu mereka.


22:31 LAI TB, Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda:
KJV, But as touching the resurrection of the dead, have ye not read that which was spoken unto you by God, saying,
TR, περι δε της αναστασεως των νεκρων ουκ ανεγνωτε το ρηθεν υμιν υπο του θεου λεγοντος
Translit interlinear, peri {tentang} de {tetapi} tês anastaseôs {kebangkitan} tôn nekrôn {orang2 mati} ouk {tidakkah} anegnôte {kalian baca} to rêthen {apa yang disabdakan} humin {kepada kalian} hupo {oleh} tou theou {Allah} legontos {berfirman}.

22:32 LAI TB, Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup."
KJV, I am the God of Abraham, and the God of Isaac, and the God of Jacob? God is not the God of the dead, but of the living.
TR, εγω ειμι ο θεος αβρααμ και ο θεος ισαακ και ο θεος ιακωβ ουκ εστιν ο θεος θεος νεκρων αλλα ζωντων
Translit interlinear, egô {Aku, personal pronoun - first person nominative singular} eimi {adalah, verb - present indicative - first person singular} ho theos {Allah} abraam {abraham} kai {dan} ho theos {Allah} isaak {ishak} kai {dan} ho theos {Allah} iakôb {yakub} ouk {(Dia) bukan} estin {adalah} ho theos {Allah} theos {dari Allah-nya} nekrôn {orang2 mati} alla {melainkan} zôntôn {orang2 hidup, verb - present active participle - genitive plural masculine}

22:33 LAI TB, Orang banyak yang mendengar itu takjub akan pengajaran-Nya.
KJV, And when the multitude heard this, they were astonished at his doctrine.
TR, και ακουσαντες οι οχλοι εξεπλησσοντο επι τη διδαχη αυτου
Translit interlinear, kai {dan} akousantes {ketika mendengar} hoi okhloi {itu massa} exeplêssonto {ditakjubkan} epi {pada} tê didakhê {pengajaran} autou {-Nya}


IV. Pernyataan yang dipakai Kristus untuk menegaskan kebenaran agung tentang kebangkitan dan kehidupan yang akan datang. Karena hal ini merupakan masalah besar. Ia menganggap tidak akan cukup (seperti juga pada beberapa perbantahan lainnya) untuk hanya mengungkapkan kekeliruan dan alasan licik yang ada dalam bantahan orang-orang Saduki itu, tetapi harus mendukung kebenaran itu dengan pernyataan kokoh yang memberikan dasar bagi kebenaran itu. Kristus menyatakan hukum maupun kemenangan bagi kebenaran itu, supaya para pengikut-Nya bisa mempunyai alasan untuk berharap akan penghakiman dan kemenangan itu.

    1. Dari mana Kristus mengambil penjelasan-Nya? Dan Kitab Suci yang adalah gudang senjata terbesar untuk melengkapi kita dengan senjata-senjata rohani, baik untuk menyerang maupun bertahan. Ungkapan "telah tertulis" merupakan pedang Goliat. Tidakkah kamu apa yang difirmankan Allah?

    Perhatikanlah:

      (1) Apa yang dikatakan Kitab Suci adalah apa yang difirmankan Allah.

      (2) Apa yang dikatakan kepada Musa juga dikatakan kepada kita. Firman itu disabdakan dan ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita.

      (3) Penting bagi kita untuk membaca dan mendengar apa yang telah difirmankan Allah, karena firman itu dinyatakan kepada kita. Pertama-tama difirnankan bagi kamu, wahai orang-orang Yahudi, karena bagi kalianlah firman itu dijanjikan Allah. Penjelasan itu diambil dari kitab-kitab Musa, karena orang-orang Saduki ini hanya mau menerima kitab-kitab ini saja, (menurut pendapat sebagian orang) atau setidaknya kitab-kitab yang diakui seeara resmi saja. Karena itu Kristus mengambil bukti dari sumber yang paling tak terbantahkan. Para nabi setelah Musa lebih banyak mengungkapkan bukti kehidupan yang akan datang daripada yang ada di dalam Taurat Musa. Meskipun Taurat Musa menganggap kekekalan jiwa dan kehidupan yang akan datang merupakan prinsip-prinsip dari apa yang dinamakan ciri khas agama, namun tidak ada pernyataan jelas yang diungkapkan oleh Taurat Musa. Karena banyak bagian dari hukum Taurat itu bersifat khusus bagi bangsa itu, maka perlu disertai dengan peraturan-peraturan lokal dengan sejumlah janji dan ancaman yang bersifat sementara, sedangkan pernyataan jelas untuk mengungkapkan kehidupan yang akan datang disimpan untuk masa-masa berikutnya. Namun, Tuhan Yesus tetap saja menemukan sebuah bukti pernyataan yang sangat mantap mengenat kebangkitan di dalam tulisan-tulisan Musa itu. Banyak kebenaran Kitab Suci masih terbenam di dalam tanah, sehingga perlu digali lebih dalam.


    2. Dasar apa yang dipakai-Nya? (ayat 32), "Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Walaupun bukan merupakan bukti yang dinyatakan dengan jelas, totidem verbis - dengan begitu banyak kata, namun benar-benar merupakan pernyataan yang dengan sendirinya sudah menyimpulkan hal lainnya. Kesimpulan-kesimpulan yang ditarik dari Kitab Suci bila memang disimpulkan dengan benar, maka harus diterima sebagai alkitabiah, karena Kitab Suci ditulis bagi mereka yang menggunakan kemampuan akal budi untuk bernalar.

    Sekarang tujuan penjelasan ini adalah untuk membuktikan:

      (a) Bahwa ada kehidupan yang akan datang. kehidupan lain setelah kehidupan ini, di mana orang-orang benar akan sunggub-sungguh berbahagia terus-menerus. Hal ini dibuktikan dari apa yang dikatakan Allah, "Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub."

        (a1) Menjadikan Allah sebagai Allah seseorang, mengandarkan adanya beberapa hak istimewa dan kebahagiaan yang luar biasa. Jika tidak mengenal Allah sepenuhnya, kita tidak akan dapat memahami kekayaan kata-kata, Aku akan menjadi Allah bagimu, yaitu seorang Penolong seperti diriku sendiri. Allah dari orang Israel adalah Allah bagi orang Israel (1 Tawarikh 17:24). Penolong rohaniah, karena Ia adalah Bapa segala roh, dan karena la memberkati dengan berkat-berkat rohaniah. Ia menjadi Penolong yang mencukupi semuanya, Allah yang mencukupi. Kebaikan yang limpah, Penolong yang abadi. Karena Ia sendiri adalah Allah yang kekal, maka Ia juga akan menjadi Allah selamanya bagi mereka yang ada dt dalam kovenan atau perjanjian dengan-Nya. Firman yang luar biasa ini telah sering disampaikan Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, yang dimaksudkanNya sebagai pahala atas iman dan ketaatan mereka yang utuh karena telah meninggalkan negeri mereka sendiri demi panggilan-Nya. Orang-orang Yahudi sangat menghormati ketiga tokoh ini, dan mereka turut menerima janji Allah turun-temurun.

        (a2) Ternyata ketiga tokoh yang baik ini tidak memiliki kebahagiaan luar biasa dalam kehidupan ini, sebegai kegenapan firman yang begitu luar biasa. Mereka menjadi orang asing di negeri perjanjian, mengembara. dan diimpit kelaparan. Mereka tidak memiliki sejengkal tanah pun selain tanah pemakaman. Tetapi justru hal ini mengarahkan mereka untuk mencari sesuatu yang melampaui kehidupan ini. Dalam hal kenikmatan hidup pada saat itu, mereka jauh tertinggal dibandingkan dengan para tetangga mereka yang adalah orang-orang asing terhadap kovenan ini. Lalu apa yang ada di dunia ini yang membedakan mereka dan para ahli waris iman mereka dari orang lain, yang menggambarkan kemuliaan dan keunggulan kovenan Allah itu? Seandainya tidak ada kebahagiaan yang disediakan bagi para tokoh yang agung dan balk ini di sisi lain dari kematian ini, maka kala-kata Yakub ketika ia telah menjadt tua (Kejadian 47:9), tahun-tahun hidupku sedikit saja dan buruk adanya, akan menjadi celaan kekal terhadap kebijaksanaan, kebaikan, dan kesetiaan Allah yang sering menamakan diri-Nya sebagai Allah Yakub.

        (a3) Oleh karena itu, pastilah ada kehidupan yang akan datang, di mana Allah hidup selamanya untuk memberikan pahala kekal, dan demikian pula Abraham, Ishak, dan Yakub akan terus hidup untuk menerima pahala kekal itu. Apa yang ditulis dalam Ibrani 11:16 menjadi kunci pernyataan ini, ketika ia menulis tentang iman dan ketaatan para tokoh nenek moyang ini di tanah pengembaraan mereka, ia menambahkan, sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka, sebuah kota sorgawi. Secara tidak langsung hal ini menunjukkan bahwa seandainya Allah belum mempersiapkan dengan begitu baik sebuah tempat bagi mereka di dunia lain, dan mengingat bahwa mereka berhasil mempertahankan iman, maka la akan malu menyebut diri-Nya sebagai Allah mereka. Tetapt sekarang Ia tidak merasa malu, karena Ia telah mempersiapkan semuanya bagi mereka, untuk menjawab Iman mereka dengan sebenar-benarnya dan seutuh-utuhnya.


      (b) Bahwa jiwa itu kekal, dan tubuh akan dibangkitkan kembali dan dipersatukan. Bila uraian di atas telah dipahami, maka uraian berikut ini akan menegaskannya. Kehidupan yang akan datang itu juga dibuktikan dengan memperhatikan saat ketika Allah berbicara kepada Musa dari tengah-tengah semak duri, lama setelah kematian Abraham, Ishak, dan Yakub. Allah tidak berkata. "Dahulu Aku," atau "pernah, " tetapi Ia berkata (dengan merujuk pada waktu sekarang ini), "Akulah Allah Abraham." Jadi, Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Dia adalah Allah yang hidup, dan Ia menyampalkan hal-hal penting bagi mereka yang menjadikan Dia sebagai Allah. Seandainya Abraham mati dan segala sesuatu berakhir dengan dia, maka begitu pula hubungan Allah dengan dia sebagai Allahnya. Tetapi, pada saat itu, ketika Allah berbicara kepada Musa. Allah berkata bahwa Dialah Allah Abraham, karena itu pastilah Abraham saat itu dan sampai sekarang masib hidup. Jadi ini membuktikan adanya kekekalan jiwa dalam keadaan yang diberkati, dan karena itu pula bisa disimpulkan adanya kebangkitan tubuh. Jiwa manusia memiliki kecenderungan bersatu dengan tubuhnya, dan karena itu pemtsahan akhir dan kekal antara tubuh dan jiwa akan bertentangan dengan kebahagiaan mereka yang menjadikan Allah sebegai Allah mereka. Tetapi, pemikiran orang-orang Saduki terbalik, mereka mengatakan bahwa persatuan antara tubuh dan jiwa itu begttu dekat, sehingga ketika tubuh mati, maka jiwa juga turut mati bersamanya. Namun, kita juga dapat menggunakan dasar pemikiran yang sama, yaitu bahwa bila jiwa itu hidup, dan pasti demikian, tentunya pada satu saat nanti tubuh Itu juga hidup bersamanya. Di samping Itu, Tuhan itu juga Tuhan bagi tubuh, tubuh itu merupakan bagian penting bagi manusia. Ada sebuah kovenan dengan debu tanah, yang akan selalu diingat, karena kalau tidak, manusia tidak akan berbahagia. Tugas yang diberikan oleh para nenek moyang yang akan meninggal tentang tulang-tulang mereka, merupakan bukti bahwa dengan iman mereka memiliki pengharapan akan kebangkitan tubuh mereka. Namun, pengajaran ini disimpan untuk diungkapkan sepenuh-penuhnya setelah kebangkitan Kristus, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal dunia.


Akhirnya, kita membaca hasil akhir perdebatan ini.

Orang-orang Saduki itu bungkam (ayat 34), dan dengan begitu menjadi malu. Mereka mengira dengan kelicikan, mereka dapat mempermalukan Kristus, tetapi dalam kenyataannya mereka sendirilah yang mempersiapkan aib bagi diri sendiri. Tetapi orang banyak menjadi takjub akan penqajaran-Nya (ayat 33).

1. Karena pengajaran itu baru bagi mereka. Lihatlah, betapa buruknya uraian Kitab Suci yang disampaikan kepada mereka selama ini, sampai-sampai rnereka pun menjadi takjub akan penjelasan-Nya Itu seperti sebuah mujizat, karena mereka mendengarkan janji yang sangat mendasar yang ada dalam kebenaran agung ini. Mereka menyesali para ahli Taurat yang tidak menjadikan kebenaran ini sebegai berita bagi mereka.

2. Karena ada sesuatu yang sangat indah dan agung di dalamnya. Kebenaran akan tampak lebih cerah dan lebih dikagumi bila dipertentangkan. Perhatikan baik-baik, banyak orang yang menyangkal kebenaran menjadi bungkam, dan banyak orang yang mendengar kebenaran itu menjadi takjub, tetapi tidak ada dari mereka yang mau bertobat supaya diselamatkan. Walaupun demikian, dalam kebungkaman dan ketakjuban jiwa-jiwa yang tidak dikuduskan ini. Allah tetap memuliakan hukum-Nya, memuliakan Injil-Nya, dan menjadikan keduanya terhormat.



Sumber,
Tafsiran Matthew Henry, Momentum, 2008, Hal. 1121-1134

Artikel terkait : hukum-pernikahan-levirat-yibum-vt6245.html#p26825

 
Posts: 2
Joined: Tue Jan 15, 2013 11:36 am

Re: Tentang Kebangkitan Orang Mati dan Roh yang Tidak Bergen

Post by church » Tue Jan 15, 2013 11:44 am

Daud secara riil adalah anak ketujuh (1 Tawarikh 2:13-15). Tetapi secara lambang, Daud adalah anak kedelapan (1 Samuel 16:10-11), itulah sebabnya di dalam 1 Samuel tidak semua disebutkan nama-namanya, hanya Eliab, Abinadab, Syama, dan Daud. Lambang dari apa ? Lambang dari Daud yang bersatu dengan Allah, bersatu dalam hayat dan sifat Allah, tetapi bukan dalam ke-Allah-an. Secara alamiah, Daud tidak diperkenan Tuhan. Tetapi setelah Daud bersatu dengan Allah, maka Allah berkenan kepadanya. Barulah Daud mampu melaksanakan kehendak Allah. Dia menjadi anak yang kedelapan, lambang dari Daud bersatu dengan Allah. Dalam membaca Alkitab, perlu wahyu dari Allah, kita tidak bisa membacanya secara huruf hitam di atas putih.

Amin, mulia bagi Tuhan, Tuhan Yesus memberkati.

User avatar
 
Posts: 12090
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

Re: Tentang Kebangkitan Orang Mati dan Roh yang Tidak Bergen

Post by BP » Wed Jan 16, 2013 11:55 am

church wrote:Daud secara riil adalah anak ketujuh (1 Tawarikh 2:13-15). Tetapi secara lambang, Daud adalah anak kedelapan (1 Samuel 16:10-11), itulah sebabnya di dalam 1 Samuel tidak semua disebutkan nama-namanya, hanya Eliab, Abinadab, Syama, dan Daud. Lambang dari apa ? Lambang dari Daud yang bersatu dengan Allah, bersatu dalam hayat dan sifat Allah, tetapi bukan dalam ke-Allah-an. Secara alamiah, Daud tidak diperkenan Tuhan. Tetapi setelah Daud bersatu dengan Allah, maka Allah berkenan kepadanya. Barulah Daud mampu melaksanakan kehendak Allah. Dia menjadi anak yang kedelapan, lambang dari Daud bersatu dengan Allah. Dalam membaca Alkitab, perlu wahyu dari Allah, kita tidak bisa membacanya secara huruf hitam di atas putih.


Angka "8" itu bukan lambang, karena Isai memang mempunyai 8 Anak laki-laki.

Kalau Anda tidak mau atau Anda tidak tertarik kepada penelitian Alkitab secara tekstual, jangan mengabaikan/ meremehkan orang yang mempelajari bukti2 tekstual ayat-ayat di dalam Kitab Suci.
Pengabaian itu bisa masuk kepada pemahaman yang salah.
Mempelajari Alkitab itu sebaiknya lengkap paham tekstual-nya, paham kontekstualnya, paham sejarahnya, dll.

Isai mempunyai 8 Anak laki-laki.

*1 Samuel 16:10-11, 17:12, (a)
16:10 Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN."
16:11 Lalu Samuel berkata kepada Isai: "Inikah anakmu semuanya?" Jawabnya: "Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba." Kata Samuel kepada Isai: "Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari."
17:12 Daud adalah anak seorang dari Efrata, dari Betlehem-Yehuda, yang bernama Isai. Isai mempunyai delapan anak laki-laki. Pada zaman Saul orang itu telah tua dan lanjut usianya.


*1 Tawarikh 2:13-15 (b)
2:13 Isai memperanakkan Eliab, anak sulungnya, dan Abinadab, anak yang kedua, Simea, anak yang ketiga,
2:14 Netaneel, anak yang keempat, Radai, anak yang kelima,
2:15 Ozem, anak yang keenam, dan Daud, anak yang ketujuh;


Jumlah anak laki-laki Isai memang berjumlah 7, dikatakan 8 pada obsen (a) karena menambahi figur Elihu yang adalah anak Isai tetapi berasal dari lain ibu. Sebagaimana yang tercatat di kitab Midrasy orang Yahudi.

Dan hal ini dapat kita temukan pula dalam Alkitab Perjanjian Lama, bahwa memang benar Daud itu masih mempunyai 1 saudara laki-laki lagi diluar nama Eliab, Abinadab , Syama, Nataneel, Radai, dan Ozem yang tidak dicatat dalam 1 Tawarikh 2:13-15.
Dan nama Elihu terdapat dalam ayat ini:

    * 1 Tawarikh 27:18
    LAI TB, untuk suku Yehuda ialah Elihu, salah seorang saudara Daud; untuk suku Isakhar ialah Omri bin Mikhael;
    KJV, Of Judah, Elihu, one of the brethren of David: of Issachar, Omri the son of Michael:
    Hebrew,
    לִיהוּדָה אֱלִיהוּ מֵאֲחֵי דָוִיד לְיִשָׂשכָר עָמְרִי בֶּן־מִיכָאֵל׃ ס
    Translit, LIHUDAH 'ELIHU ME'AKHEY DAVID LEYISASKHAR 'AMRI BEN-MAKHA'EL

Reff:
inkonsistensi-kontradiksi-alkitab-vt566-20.html#p1231

Memang Alkitab juga berisi tentang "lambang-lambang", tetapi tidak boleh semuanya dianggap lambang dan kita mengabaikan bukti tekstualnya. Sebab untuk menyatakan suatu hal dalam Alkitab adalah lambang, juga harus mempunyai dasar-dasar yang kuat dari bukti-bukti teks yang mendukungnya.

Tapi memang banyak akhir2 ini pendeta-pendeta dengan bermodal "sharing pengalaman kesaksian yang bersifat nge-"roh" itu malah laris manis khotbahnya, walaupun banyak yang dikhotbahkannya itu tidak sesuai dengan Alkitab. Memang ada sebagian jemaat-jemaat yang telinganya hanya suka mendengar hal-hal heboh ajaib, yang nge-roh, dengar kesaksian mujizat, yang beginian memang kelihatannya gerejanya laku. Pendetanya tidak perlu belajar Alkitab. Cukup update cerita2 seru saja di mimbar.
Dan ini terbukti laris-manis di beberapa denom gereja2 baru.

;)

 
Posts: 2
Joined: Tue Jan 15, 2013 11:36 am

Re: Tentang Kebangkitan Orang Mati dan Roh yang Tidak Bergen

Post by church » Wed Jan 16, 2013 2:31 pm

Saya tidak mengabaikan atau tidak tertarik kepada penelitian Alkitab secara tekstual. Saya tahu tidak semua dari Alkitab adalah lambang-lambang, dan mungkin saya ada beberapa yang miss dalam membaca Alkitab.
Tujuan saya hanya sekedar sharing, bukan untuk membuktikan siapa yang lebih benar, saya tidak berniat untuk menyinggung siapapun. Kalau ada beberapa kesalahan dalam sharing saya, saya minta maaf, karena saya juga belum 100 persen menguasai Alkitab.

Saya akui mengenai Daud berubah dari anak ketujuh menjadi anak kedelapan, saya memang salah, dalam hal ini memang bukan lambang. Tetapi kalau kita akan menjadi serupa dengan Allah dalam hayat dan sifat, itu adalah benar adanya, tetapi bukan dalam ke-Allah-an.

Dan ada banyak lagi kebenaran-kebenaran yang harus kita ketahui dari bapa-bapa gereja, dari buku-buku mereka, seperti Andrew Murray, Watchman Nee, Witness Lee, dll.
Ada beberapa dari bapa-bapa gereja yang dituduh sesat, kenapa mereka dituduh sesat, karena orang-orang yang menuduh tidak jelas atau tidak tahu kebenaran. Ada selubung yang menutupi mereka untuk menerima kebenaran sehingga mereka menjadi tidak mengerti kebenaran.

Sekali lagi saya minta maaf untuk kesalahan dalam sharing saya, dan tidak ada maksud saya untuk menyinggung siapapun. Terima kasih.

 
Posts: 37
Joined: Thu Jul 25, 2013 6:10 pm

Re: Tentang Kebangkitan Orang Mati dan Roh yang Tidak Bergen

Post by vander123 » Mon Jul 29, 2013 6:02 pm

Alkitab itu firman Tuhan. Roh itu BERGENDER.
Alkitab mengatakan, roh bisa kawin tetapi roh tidak kawin.
Artinya, sampai mati roh tetap bergender namun tidak kawin!


Return to Ajaran

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests