SarapanPagi Biblika

Studi Alkitab & Pustaloka Kristiani
It is currently Fri Jul 30, 2010 12:29 am

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 1 post ] 
Author Message
 Post subject: Tanggapan thd opini di Jawapos, 5 Okt'09
PostPosted: Mon Oct 12, 2009 4:35 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Tue Jul 17, 2007 9:33 pm
Posts: 268
"Sebuah artikel yang sangat bagus, TETAPI...

Jawapos, Senin, 05 Oktober 2009 wrote:

Warning dari Paus Benedict
Oleh: Faisal Ismail


BARU-BARU ini, dalam kunjungan ke Ceko selama tiga hari, Paus Benedict XVI mengadakan upacara misa yang dihadiri 120.000 umat Katolik. Sebagaimana diberitakan dalam International Herald Tribune (28/9), Paus dalam upacara tersebut menyerukan kepada umat Katolik untuk memerangi sekularisme (to combat secularism) dan memperingatkan umat tentang ancaman dan bahaya masyarakat tanpa Tuhan (the dangers of a society without God).

Paus 82 tahun itu menegaskan, alur perkembangan sejarah menunjukkan telah terjadi banyak absurditas di dunia ini yang mengakibatkan manusia tunduk, menyerah, dan tidak berdaya. Dalam keadaan takluk dan tidak berdaya menghadapi berbagai absurditas itu, manusia mencampakkan Tuhan dari horizon pilihan dan perbuatan.

Peringatan Paus itu disampaikan di Ceko, sebuah negara yang dipandang sebagai salah satu pusat kelesuan dan ketidakacuhan agama (religious apathy) di Eropa. Apatisme dan skeptisisme agama yang dipicu daya terjang sekularisme telah mencemaskan dan merisaukan hati Paus.

Sebagai pemimpin spiritual tertinggi dalam hierarki kepemimpinan agama Katolik, peringatan Paus itu terasa sangat tepat dalam menghadapi cekaman sekularisme yang membawa masyarakat Barat pada umumnya menjadi apatis dan tak acuh terhadap Tuhan. Apatisme dan sikap ketidakacuhan terhadap Tuhan dan ajaran-ajaran-Nya pada gilirannya akan dapat menciptakan "masyarakat tanpa Tuhan" seperti yang diperingatkan oleh Paus tersebut.

Akar Sekularisme

Sekularisme adalah paham yang memisahkan agama dari hidup dan kehidupan manusia. Manusia sekuler memandang agama sebagai masalah pribadi dan menolak campur tangan agama dalam ranah publik. Sudah tentu lahirnya sekularisme di Barat memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Akar historis kemunculan dan perkembangan sekularisme di Barat tak dapat dilepaskan dari paham pemisahan agama (church) dari negara (state).

Itu terjadi di Barat bersamaan dengan munculnya era enlightenment (masa pencerahan), humanisme, dan rasionalisme sekitar abad ke-17. Munculnya era pencerahan, humanisme, dan rasionalisme semakin mendewasakan dan mencerahkan alam pikiran masyarakat Barat pada masa itu untuk "membebaskan" kehidupan mereka dari doktrin-doktrin gereja yang dianggap tidak pas lagi dengan perkembangan masalah-masalah keduniawian, termasuk di bidang kenegaraan.

Sebelum lahirnya musim semi sekularisme di Barat, masyarakat Barat dikenal sangat taat beragama. Hal tersebut diindikasikan dengan banyaknya gereja di Barat dan ketaatan mereka melaksanakan kebaktian. Belum ada tanda-tanda dikotomi dan pemisahan agama dari negara (kerajaan) di Barat pada masa itu. Negara (kerajaan) masih menyatu dengan agama.

Bersamaan dengan gerak kemunculan dan derap perkembangan sekularisme di Barat, terjadilah dikotomi antara agama dan negara. Masyarakat Barat menganut doktrin: Serahkan kepada Tuhan segala urusan agamawi yang menjadi wewenang-Nya dan serahkan kepada kaisar segala urusan duniawi yang menjadi tugasnya.

Sejak itu, muncul ide dan paham pemisahan agama dan negara. Agama hanya dianggap sebagai masalah perorangan, tidak diperbolehkan memasuki domain politik dan urusan pemerintahan.

Agama harus dijauhkan dari roda pemerintahan dan kancah kenegaraan. Sejak itu, muncul negara sekuler yang memisahkan agama dari negara, seperti yang kita saksikan sekarang. Para murid berdoa di ruang kelas saja ketika hendak memulai pelajaran tidak diperbolehkan.

Fenomena Indonesia

Dalam hubungan agama dan negara, dikenal negara teokrasi dan sekuler. Negara teokrasi adalah negara yang didasarkan pada agama tertentu dan diperintah kaum clergy. Negara sekuler adalah negara yang tidak didasarkan pada agama, tetapi diasaskan pada paham atau ideologi sekuler. Negara Indonesia yang berdasar Pancasila bukan negara teokrasi, bukan pula negara sekuler.

Eksistensi Departemen Agama dan Pengadilan Agama memperjelas Indonesia sebagai bukan negara sekuler. Bukti gamblang lain yang mengindikasikan Indonesia bukan negara sekuler adalah penyelenggaraan pendidikan agama mulai SD sampai perguruan tinggi. Praktik dan nuansa-nuansa keagamaan yang melekat pada negara Indonesia tidak terdapat di negara-negara sekuler Barat.

Komunitas-komunitas agama di Indoensia memperlihatkan pengamalan agama masing-masing secara taat dan aktif. Masjid, terutama pada Ramadan, dipenuhi para jamaah untuk beribadah. Gereja, pura, klenteng, dan rumah-rumah ibadat lain juga dipenuhi para jemaah dalam rangka melaksanakan ibadat dengan tekun dan giat. Semua fenomena keagamaan itu menunjukkan, terdapat penguatan akidah pada setiap komunitas agama di Indonesia.

Jika asumsi tersebut benar -dan saya yakin di dalamnya mengandung unsur kebenaran-, kita boleh optimistis bahwa rembesan pengaruh sekularisme terhadap masyarakat Indonesia dapat dikurangi, bahkan dibendung.

Secara ideologis, Pancasila pada tataran pemerintahan dan kenegaraan dapat dijadikan tameng untuk menangkal sekularisme. Secara teologis, akidah-akidah dan doktrin-doktrin agama yang dipraktikkan secara benar oleh komunitas-komunitas agama di Indonesia dapat berfungsi menangkal sekularisme pada tataran sosial, kebudayaan, dan kemasyarakatan.

Namun, kerisauan hati dan kecemasan Paus Benedict XVI itu tetap harus mendapat perhatian penuh dan serius dari umat-umat beragama di Indonesia. Masyarakat tanpa Tuhan, apalagi matinya Tuhan seperti yang dikatakan oleh Nietzsche, jangan sampai terjadi di Indonesia. (*)

*) Prof Dr Faisal Ismail MA , Dubes RI di Kuwait

...memerlukan suatu klarifikasi lebih lanjut."

Mari meninjau kutipan dari artikel diatas:

"Bersamaan dengan gerak kemunculan dan derap perkembangan sekularisme di Barat, terjadilah dikotomi antara agama dan negara. Masyarakat Barat menganut doktrin: Serahkan kepada Tuhan segala urusan agamawi yang menjadi wewenang-Nya dan serahkan kepada kaisar segala urusan duniawi yang menjadi tugasnya."

Dan sekarang, marilah membandingkannya dengan sebuah teks dari abad pertama:

"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Tanpa bermaksud menuduh bahwa secara sangat 'halus' penulis artikel diatas berupaya untuk meng-identik-kan akar dari dikotomi agama-negara dengan pengajaran dari suatu agama tertentu di Indonesia. Tetapi kita harus melihat konteks sebenarnya dari teks tersebut diatas, dimana konteks dari teks tersebut sama sekali tidak ada hubungan maupun kaitannya dengan dikotomi antara agama dan negara yang menjadi akar dari sekularisme modern. Teks diatas menjawab suatu pertanyaan "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?" yang kemudian dijawab "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Sekarang kita dapat melihat dengan jelas bahwa konteks penulisan diatas adalah mengenai ketaatan membayar PAJAK kepada kaisar dan sama sekali tidak berhubungan dengan DIKOTOMI antara agama dan negara, bahkan merupakan konsep INTEGRATIF antara agama dan negara.

Selain itu, peristiwa tersebut dilatarbelakangi upaya dari para pemuka agama yang sakit hati kepada Sang Guru, dan berusaha untuk membenturkan-Nya kedalam posisi yang sangat sulit. Kaisar yang dimaksud adalah penjajah di negeri tersebut, sehingga apabila dijawab "boleh bayar pajak", maka golongan nasionalis yang setia kepada bangsa dan kepada agama tradisi akan 'menyerang-Nya'. Namun sebaliknya apabila dijawab "tidak boleh bayar pajak" maka pasukan penjajah yang akan menangkap-Nya, dan inilah tujuan dari para pemuka agama tersebut.

Dan sebagai penutup, sebagaimana yang penulis nyatakan, dikotomi agama-negara tetaplah berakar pada,

"...munculnya era enlightenment (masa pencerahan), humanisme, dan rasionalisme sekitar abad ke-17. Munculnya era pencerahan, humanisme, dan rasionalisme semakin mendewasakan dan mencerahkan alam pikiran masyarakat Barat pada masa itu untuk "membebaskan" kehidupan mereka dari doktrin-doktrin gereja yang dianggap tidak pas lagi dengan perkembangan masalah-masalah keduniawian, termasuk di bidang kenegaraan."

Dimana terasa ganjil sekali nampaknya, bahwa ketika masyarakat barat "'membebaskan' kehidupan mereka dari doktrin-doktrin gereja,...", mereka sekaligus "'menganut' doktrin: Serahkan kepada Tuhan segala urusan agamawi yang menjadi wewenang-Nya dan serahkan kepada kaisar segala urusan duniawi yang menjadi tugasnya.", yang kemudian di klaim sebagai akar-penyebab dari dikotomi agama-negara. Pandangan Nietzche dengan "matinya Tuhan", seperti yang penulis kutip, menegaskan hal tersebut. Dimana yang terjadi bukanlah sekedar pemisahan agama-negara, tetapi 'pembunuhan' (baca:pengabaian;apatisme dan skeptisisme) agama. Dan akhirnya, kalaupun teks tersebut 'dianggap' sebagai akar-penyebab dari munculnya dikotomi agama-negara, maka kemunculan dikotomi tersebut hanyalah akibat INTERPRETASI YANG SALAH yang dilakukan oleh masyarakat barat terhadap teks yang berlatar-belakang budaya timur tersebut.

Semoga dapat menjadi bahan klarifikasi terhadap posisi kekristenan didalam masyarakat sekuler yang ter-dikotomi.

Best regards,


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 1 post ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
Powered by phpBB & phpBB SEO
Sarapan Pagi © 2006 by BP & Saxman