Quote:
Tanggapan atas jawaban Ev. Yakub Tri Handoko, adalah bahwa di sini kita tidak bisa "bermain-main" dengan analogi dan "pembenaran" seperti itu, karena di sini adalah nilai-nilai kepercayaan, keimanan dan dogmatis, yg diyakini berasal dari TUHAN. Jika benar tidak ada lagi autografa yang asli dari kitab suci, bukan berarti melenyapkan pertanyaan kritis kita: "Jika demikian, berarti kitab suci tersebut telah terinfiltrasi, baik disengaja maupun tidak, oleh manusia, yg memiliki "hawa nafsu", tingkat pengetahuan/pemahaman terbatas, latar belakang, sistem nilai/kenyakinan/kepercayaan, sentimen dan motif yang sesuai "selera"nya. Bagaimana bisa mempercayai, menyakini dan mengimani kebenaran yg ada di dalam suatu kitab suci, jika itu adalah "buatan" manusia, yg tidak luput dari kesalahan?". Bukankah konsepsi kita tentang manusia adalah bahwa manusia terlahir sudah menanggung dosa?
Penuduh tidak menunjukkan bagian mana dari kitab suci yang menurutnya telah menyimpang. Penuduh hanya menuduh berdasarkan kesimpulan/dugaan yang sifatnya subjektif. Autografa yang asli dari kitab suci memang sudah tidak ada. Yang ada sekarang adalah salinan-salinan dari naskah asli. Selain itu salinan-salinan yang ada bukan hanya satu, melainkan terdapat banyak salinan. Kami orang kristen, mengimani kalau Roh Kudus telah melakukan "campur tangan" dan menjaga agar penyalinan ulang teks Alkitab, jangan sampai menggeser ajaran-ajaran doktrinal itu sendiri.
Quote:
Tanggapan: Di sini, sekali lagi, terjadi kerancuan cara berpikir. Poin (1) di atas, jelas dia mengakui adanya kesalahan, namun dianggap sedikit dan tidak penting (mengapa "tidak penting"?). Bagaimana bisa kita yakin waktu penyalinan yg tidak terpaut jauh dengan waktu penulisan adalah jaminan kebenaran isi yg ASLI? Bagaimana kita yakin kita menyalin dari sumber ygn asli (apa kriterianya?). Dan, tentu saja, bagaimana kita yakin hasil salinanannya SAMA PERSIS dengan sumbernya (yang juga belum tentu ASLI)?
Pada poin (2), apa jaminan bahwa salinan yg banyak berarti pasti BENAR isinya?
(1)Kenapa adanya kesalahan, namun dianggap tidak penting? dikarenakan kesalahan yang dilakukan tersebut, hanya kesalahan daripada kesalahan pembuat salinan ulang. Kitab Suci tidak sedikitpun dirusakkan oleh adanya salinan ulang yang "kurang sempurna" dalam bentuknya, bukan dalam isi dan pesan-pesan doktrinalnya. Dengan kata lain, kesalahan yang dilakukan tersebut tidak berpengaruh pada pokok-pokok/ inti dari ajaran (doktrin).
(2)Dengan adanya salinan yang banyak, kita bisa membandingkan antara salinan yang satu dengan yang lain. Juga adanya Textual Criticism, sebagai alat untuk menemukan keteledoran/kesalahan yang mungkin saja terdapat dalam salinan ulang Alkitab. Sehingga kesalahan yang ada dapat ditemukan dan dikoreksi.
Quote:
Tanggapan: di sini muncul lagi, "memilih sesuai selera untuk membenarkan pendapat", dan ada pula kontradiksi. Bagaimana kita yakin bahwa yang kita pilih dan yakini benar, adalah yang benar-benar "BENAR"? Apa karena ada (banyak) yg menuliskannya, meskipun banyak salinan yang lebih tua umurnya tidak mencantumkannya? Mengapa yg dipilih yang "Ini" dan bukannya yang "Itu" (anda menangkap "nuansa" manusiawi di sini?).
Ada berbagai macam salinan yang dimiliki. Dari berbagai macam salinan tersebut ada terdapat beberapa perbedaan. Mengapa bisa terdapat beberapa perbedaan?dikarenakan adanya kesalahan dari penyalin ulang. Seperti kita ketahui bahwa pada zaman dulu belum terdapat mesin cetak. Sehingga penyalinan dilakukan secara manual oleh manusia. Melalui Textual Criticism dan dengan terdapatnya banyak naskah-naskah, dapat dilakukan studi dan perbandingan. Sehingga dapat diketahui walaupun ada "bagian yang hilang" yang tidak terdapat dalam satu naskah tertentu, kita dapat menemukan "bagian yang hilang" tersebut dalam naskah-naskah yang lain.
Quote:
Tanggapan: Soal kontradiksi dalam Alkitab, saya yakin, orang yg belum pernah sekalipun membacanya (apalagi mengimaninya), akan dengan mudah menemukannya!
Lalu, apa jaminan bahwa para penulis/penyalin/penterjemah/penyadur Alkitab mendapat bimbingan, petunjuk, dan perlindungan dari Tuhan? Bagaimana dengan karya lainnya, misalnya Bibel versi King James, kenapa direvisi/diganti? Apakah karena tidak memuat kebenaran Tuhan, apakah para penyusunnya tidak mendapat bimbingan dari Tuhan, ataukah karena tidak ada yang anda "inginkan" di situ?
Siapapun bisa mengklaim bahwa saya mendapat bimbingan dari dari Roh Kudus atau Tuhan. Ingat, siapa pun juga!
Mengenai kontradiksi Alkitab dapat dilihat di :
kontradiksi-perjanjian-lama-vt549.htmlkontradiksi-perjanjian-baru-vt543.htmlSecara iman kristen, kami mengimani bahwa para penulis Alkitab mendapat bimbingan Roh Kudus atau dari Tuhan.
2 Samuel 23:2 Roh TUHAN berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku
Yeremia 1:4 Firman TUHAN datang kepadaku
I Tes 2:13 Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi--dan memang sungguh-sungguh demikian--sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya.
Salah satu bukti kalau Alkitab adalah benar dengan adanya nubuatan yang sudah digenapi, sedang digenapi dan akan digenapi.
Mengenai nubuatan:
nubuat-penggenapan-dalam-alkitab-vt1314.htmlnubuat-pl-tentang-mesias-terpenuhi-dalam-diri-yesus-kristus-vt2217.htmlKebenaran Alkitab juga didukung oleh bukti dari arkeologi
penemuan-arkeologis-dan-kebenaran-alkitab-vt964.htmlhttp://www.pekabaran.com/2008/05/05/alk ... arkeologi/http://www.greatcom.org/indonesian/apol ... bag_16.htmMengapa Bible versi King James direvisi/diganti adalah supaya dapat lebih dipahami. Seperti diketahui Bible versi King James, memakai bahasa Inggris yang kuno dan dalam beberapa bagian ada kesulitan, baik dari segi tata bahasa modern, arti, dll. Sehingga dilakukan revisi. Seperti diketahui tidak ada terjemahan yang mutlak sempurna. artinya semua terjemahan cenderung ada menyimpang dari makna teks aslinya. Sekalipun begitu, sebuah Terjemahan Kitab Suci (yang menyeleweng dalam dirinya) tidak menjadikan Kitab itu menyeleweng, menjadi palsu, tidak sah, dan menjadi tidak benar!. Dengan adanya sejumlah terjemahan yang dinilai sangat baik, tidak ada keraguan bahwa Firman Tuhan telah diterjemahkan dan disampaikan dalam lingkupnya yang benar.
Tapi sebenarnya, berdasarkan pandangan Kitab Suci dan pekerjaan Roh Kudus yang terus bersaksi tentang kebenaran Firman, maka kerusakan terjemahan Kitab Suci yang paling parah adalah jikalau terjemahan tersebut (pemahaman dan penghayatan atas teks tersebut) justru tidak mampu membuat para pembacanya memberoleh
"hikmat dan menuntun kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."(2 Timotius 3:15-16) Tuhan mampu membuat Alkitab cukup sempurna melalui dan di dalam keterbatasan manusia. Firman Tuhan yang tidak terbatas, yang harus "diturunkan" kedalam dunia yang terbatas, tentu mengadopsi unsur-unsur keterbatasan yang bisa dianggap sebagai "lemah, salah, penuh kekurangan, dan tidak sempurna". Namun sungguh ia justru tidak pernah kehilangan kewibawaan dan kemampuannya untuk tampil sebagai Alkitab yang benar dan sempurna!
Mengenai orang-orang yang meng-klaim mendapat bimbingan dari Roh Kudus atau Tuhan, tentu saja harus dilakukan pengujian. Apakah benar orang tersebut mendapat bimbingan dari Roh Kudus atau tidak. Dari "buahnya" tentu akan terlihat apakah orang tersebut benar mendapat bimbingan Roh Kudus atau tidak.
I Tes 5:21 Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.
I Yoh 4:1 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.
Quote:
Tanggapan penutup. Saya harap, kita berpikir kritis, sebagai wujud terima kasih kita kepada Tuhan, karena telah diberikan akal, sehingga mampu berkarya, kreatif dan mengetahui, memahami dan mencintai Tuhan.
Berpikir kritis memang perlu. Bahkan Textual Criticism (kritik teks) merupakan wujud dari berpikir kritis.