SarapanPagi Biblika

Studi Alkitab & Pustaloka Kristiani
It is currently Sat Mar 13, 2010 7:11 am

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 3 posts ] 
Author Message
 Post subject: Tanggapan atas Misquoting Jesus
PostPosted: Fri Apr 20, 2007 10:25 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6019
Tanggapan atas Misquoting Jesus



Image



ISI BUKU SECARA UMUM


Sebenarnya tidak ada yang baru dalam buku ini. Sudah banyak teolog yang menyusun buku sejenis, walaupun sikap mereka cenderung berbeda dengan Ehrman. Tetapi tekad Ehrman untuk membawa isu ini ke level jemaat awam dapat dikategorikan sebagai hal baru. Secara sederhana, Ehrman ingin menunjukkan Alkitab tidak bisa di-andalkan. Alasan yang diangkat ada dua. Pertama, para penulis naskah asli Alkitab (autografa) kemungkinan melakukan beberapa kesalahan. Kedua, para penyalin Alkitab melakukan berbagai kesalahan/pengubahan, baik yang disengaja maupun tidak. Di antara dua alasan tersebut, Ehrman hanya memfo-kuskan pada alasan yang kedua. Alur berpikir Ehrman dapat digambarkan sebagai berikut:

Yang disebut firman Allah adalah autografa Alkitab => Autografa sudah tidak ada lagi => Yang tersisa adalah salinan-salinan Alkitab yang saling berbeda => Usaha untuk menentukan autografa berdasarkan perbandingan salinan-salinan tidak bisa diandalkan

Kesimpulan: Alkitab sekarang bukanlah firman Allah yang tidak bisa salah



ANALISIS KRITIS


Kita perlu mengakui pandangan Ehrman bahwa yang disebut firman Allah yang tidak mungkin salah me-ang hanya terbatas pada autografa Alkitab. Salinan, terjemahan ataupun tafsiran kadangkala menunjukkan beberapa kesalahan. Dia juga benar bahwa autografa Alkitab sudah tidak ada lagi (salinan Perjanjian Baru tertua yang kita miliki ditulis tahun 125 M). Dia juga benar soal ribuan salinan yang saling berbeda. Sayangnya, Ehrman tidak mampu mengambil kesimpulan yang benar dari hal-hal tersebut.

Tidak adanya autografa Alkitab seharusnya tidak boleh terlalu meresahkan kita. Pertama, semua buku kuno—baik yang dianggap kitab suci maupun buku sekuler—yang pernah ada di dunia ini sudah tidak memiliki autografa lagi. Kita hanya memiliki salinan-salinannya saja. Seandainya Alkitab diragukan hanya gara-gara tidak menyisakan autografa, maka sikap yang sama seharusnya diterapkan pada semua kitab yang lain.

Kedua, dibandingkan dengan buku-buku kuno lain yang juga tidak memiliki autografa, salinan-salinan Alkitab justru lebih bisa dipercaya. Para cendekiawan biasanya menerapkan uji kualitas yang disebut bibliographi-cal test. Berdasarkan kriteria ini, suatu buku kuno dianggap bisa dipercaya kalau memiliki salinan-salinan:

1. Yang jarak waktu antara penyalinan dengan penulisan aslinya semakin dekat. Semakin dekat dengan waktu penulisan maka salinan tersebut mengalami proses penyalinan yang jumlahnya semakin sedikit, sehingga jumlah kesalahan yang ditimbulkan dari penyalinan tersebut juga relatif lebih sedikit.

2. Yang jumlahnya banyak. Dengan memiliki jumlah salinan yang banyak maka kita memiliki banyak bahan/pertimbangan untuk menentukan mana yang lebih sesuai dengan autografa.Hasil penerapan bibliographical test terhadap Perjanjian Baru dan buku-buku kuno lainnya menunjukkan bahwa salinan Perjanjian Baru memiliki jarak waktu yang terpendek dengan waktu penulisannya. Salinan Perjanjian Baru juga memiliki jumlah yang paling banyak .

Kita bisa menyimpulkan, seandainya Perjanjian Baru diragukan hanya gara-gara tidak memiliki autografa, maka kita juga harus meragukan semua buku kuno yang lain, karena kualitas dan jumlah salinan mereka sangat jauh di bawah salinan-salinan Perjanjian Baru. Sekali lagi, yang terpenting bukanlah memiliki autografa atau tidak, namun seberapa ba-gus dan banyak salinan yang kita miliki.

Ketiga, berdasarkan salinan-salinan yang ada, para cendekiawan berusaha merekonstruksi autografa Alkitab (menentukan salinan mana yang lebih sesuai dengan yang asli) melalui kritik teks (textual criticism). Mereka menerapkan kriteria tertentu untuk menentukan salinan mana yang lebih bisa dipercaya. Misalnya usia salinan, kualitas salinan, karakteristik tata bahasa penulis Alkitab, konteks dari ayat yang diselidiki, dsb.

Kritik teks sudah berkembang sedemikian rupa, sehingga mayoritas cendekiawan telah mencapai persetujuan tentang banyak bagian di dalam Alkitab. Beberapa ayat memang masih diperdebatkan, namun diantara ayat-ayat ini tidak ada yang memengaruhi ajaran Kristen yang pokok. Buku Misquoting Jesus terlalu melebih-lebihkan beberapa ayat yang belum bisa dipastikan ada di dalam autografa atau tidak, seolah-olah ayat-ayat itu sangat memengaruhi runtuh atau berdirinya ajaran Kristen. Beberapa teks yang dipermasalahkan dalam buku Misquoting Jesus juga tidak boleh dilihat secara berlebihan seolah-olah hal tersebut cukup untuk meragukan otoritas Alkitab secara keseluruhan.

Sebagai contoh, seandainya 1Yohanes 5:7b-8a tidak ada dalam autografa (beberapa terjemahan kuno dan salinan Alkitab yang tertua tidak memiliki bagian ini), maka kita masih memiliki ayat-ayat lain yang sangat kuat untuk mendukung doktrin Tritunggal. Begitu pula dengan Yohanes 8:11. Seandainya teks ini tidak ada dalam autografa (salinan kuno tidak memiliki kisah ini; salinan yang lebih muda yang memiliki bagian ini meletakkannya di tempat yang berbeda-beda), maka hikmat dan kasih Kristus kepada orang berdosa masih bisa dilihat dengan jelas di bagian Perjanjian Baru yang lain.



KONKLUSI


Saya setuju dengan semangat Ehrman untuk menyelidiki Alkitab sampai pada autografanya karena hanya autografa Alkitab yang diilhamkan Allah dan bersifat tidak mungkin salah. Bagaimanapun, hal ini tidak berarti bahwa kita boleh merendahkan Alkitab terjemahan modern. Semua terjemahan tersebut dibuat oleh para ahli Alkitab yang juga telah belajar kritik teks. Sesuai dengan segmen pembaca yang ditargetkan, para penerjemah Alkitab telah berusaha semampu mungkin untuk merekonstruksi autografa sekaligus menerjemahkannya ke dalam bahasa populer yang bisa dimengerti oleh orang awam (khusus untuk terjemahan King James Version kita memang harus mengakui bahwa ketika terjemahan ini dibuat, banyak salinan kuno yang belum ditemukan). Dalam hal ini para hamba Tuhan memiliki peranan sentral dalam membimbing jemaat untuk memilih terjemahan yang paling baik (saya sendiri merekomendasikan terjemahan Revised Standard Version dan New American Standard Bible bagi mereka yang bisa bahasa Inggris dan senang menyelidiki Alkitab).

Hal terakhir, soal keyakinan Ehrman bahwa para penulis Alkitab mungkin melakukan beberapa kesalahan sehingga ada kontradiksi dalam Alkitab. Tentang pendapat ini, kita harus dengan tegas menolaknya. Sayangnya, kita tidak memiliki banyak ruang untuk membahas hal ini secara detail. Kita juga harus menolak pandangan Ehrman yang menilai Alkitab hanya sebagai hasil karya manusia yang bisa salah. Allah memang menggerakkan para penulis Alkitab dan Ia meng-gunakan keunikan mereka masing-masing, namun Allah tetap menjaga mereka sehingga apa yang akhirnya di-tulis adalah apa yang dinafaskan Allah (2 Timimotius 3:16) dan didorong oleh Roh Kudus (2 Petrus 1:21). Sekali lagi, penolakan ini untuk sementara hanya bisa dinyatakan saja di sini tanpa disertai argumentasi-argumentasi yang men-dukungnya. Lain waktu kalau Tuhan berkehendak, kita akan membahas hal ini secara khusus.



Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.
Penulis adalah dosen apologetika Sekolah Teologi Reformed Injili Surabaya (STRIS)
Disalin dari : http://www.bahana-magazine.com/?Hot_Iss ... ting_Jesus



Artikel terkait :

- 1 Yohanes 5:7-8 perbedaan Text, di 1-yohanes-5-7-8-perbedaan-text-vt589.html#p1241

- MISQUOTING JESUS : ALKITAB KRISTEN SEHARUSNYA DIKASIHANI, di
mj-alkitab-kristen-seharusnya-dikasihani-vt804.html#p2071


Top
 Profile  
 
 Post subject: Gunakan Akal
PostPosted: Wed Oct 08, 2008 5:16 am 
Offline

Joined: Wed Oct 08, 2008 4:49 am
Posts: 1
Saya hanya MENANGGAPI atas: TANGGAPAN ATAS MISQUOTING JESUS, oleh Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.(Dosen Apologetika Sekolah Teologi Reformed Injili Surabaya (STRIS).

Pertama, jika Dr. Bart D. Ehrman menuntut adanya Autografa Alkitab ASLI/PERTAMA, dengan alasan bahwa semua keyakinan atas kebenaran alkitab harus dimulai dari situ, adalah tidak salah. Logikanya, adalah bagaimana dia bisa percaya pada alkitab yang ada saat sekarang ini, yang diyakini sebagai karya TUHAN, yg ia ketahui telah mengalami BANYAK perubahan oleh manusia, baik disaat penggandaannya (copy) maupun disaat penerjemaahan/penyadurannya, dan baik disengaja maupun tidak.

Jawaban dari Ev. Yakub Tri Handoko, atas hal tsb. di atas, adalah:
"Tidak adanya autografa Alkitab seharusnya tidak boleh terlalu meresahkan kita. Pertama, semua buku kuno—baik yang dianggap kitab suci maupun buku sekuler—yang pernah ada di dunia ini sudah tidak memiliki autografa lagi. Kita hanya memiliki salinan-salinannya saja. Seandainya Alkitab diragukan hanya gara-gara tidak menyisakan autografa, maka sikap yang sama seharusnya diterapkan pada semua kitab yang lain."

Tanggapan
atas jawaban Ev. Yakub Tri Handoko, adalah bahwa di sini kita tidak bisa "bermain-main" dengan analogi dan "pembenaran" seperti itu, karena di sini adalah nilai-nilai kepercayaan, keimanan dan dogmatis, yg diyakini berasal dari TUHAN. Jika benar tidak ada lagi autografa yang asli dari kitab suci, bukan berarti melenyapkan pertanyaan kritis kita: "Jika demikian, berarti kitab suci tersebut telah terinfiltrasi, baik disengaja maupun tidak, oleh manusia, yg memiliki "hawa nafsu", tingkat pengetahuan/pemahaman terbatas, latar belakang, sistem nilai/kenyakinan/kepercayaan, sentimen dan motif yang sesuai "selera"nya. Bagaimana bisa mempercayai, menyakini dan mengimani kebenaran yg ada di dalam suatu kitab suci, jika itu adalah "buatan" manusia, yg tidak luput dari kesalahan?". Bukankah konsepsi kita tentang manusia adalah bahwa manusia terlahir sudah menanggung dosa?

Selain itu, menurut Ev. Yakub Tri Handoko: "dibandingkan dengan buku-buku kuno lain yang juga tidak memiliki autografa, salinan-salinan Alkitab justru lebih bisa dipercaya. Para cendekiawan biasanya menerapkan uji kualitas yang disebut bibliographi-cal test. Berdasarkan kriteria ini, suatu buku kuno dianggap bisa dipercaya kalau memiliki salinan-salinan:

1. Yang jarak waktu antara penyalinan dengan penulisan aslinya semakin dekat. Semakin dekat dengan waktu penulisan maka salinan tersebut mengalami proses penyalinan yang jumlahnya semakin sedikit, sehingga jumlah kesalahan yang ditimbulkan dari penyalinan tersebut juga relatif lebih sedikit.

2. Yang jumlahnya banyak. Dengan memiliki jumlah salinan yang banyak maka kita memiliki banyak bahan/pertimbangan untuk menentukan mana yang lebih sesuai dengan autografa. Hasil penerapan bibliographical test terhadap Perjanjian Baru dan buku-buku kuno lainnya menunjukkan bahwa salinan Perjanjian Baru memiliki jarak waktu yang terpendek dengan waktu penulisannya. Salinan Perjanjian Baru juga memiliki jumlah yang paling banyak .

Tanggapan: Di sini, sekali lagi, terjadi kerancuan cara berpikir. Poin (1) di atas, jelas dia mengakui adanya kesalahan, namun dianggap sedikit dan tidak penting (mengapa "tidak penting"?). Bagaimana bisa kita yakin waktu penyalinan yg tidak terpaut jauh dengan waktu penulisan adalah jaminan kebenaran isi yg ASLI? Bagaimana kita yakin kita menyalin dari sumber ygn asli (apa kriterianya?). Dan, tentu saja, bagaimana kita yakin hasil salinanannya SAMA PERSIS dengan sumbernya (yang juga belum tentu ASLI)?
Pada poin (2), apa jaminan bahwa salinan yg banyak berarti pasti BENAR isinya?

Ketiga, Ev. Yakub Tri Handoko, menyatakan: "Sebagai contoh, seandainya 1Yohanes 5:7b-8a tidak ada dalam autografa (beberapa terjemahan kuno dan salinan Alkitab yang tertua tidak memiliki bagian ini), maka kita masih memiliki ayat-ayat lain yang sangat kuat untuk mendukung doktrin Tritunggal. Begitu pula dengan Yohanes 8:11. Seandainya teks ini tidak ada dalam autografa (salinan kuno tidak memiliki kisah ini; salinan yang lebih muda yang memiliki bagian ini meletakkannya di tempat yang berbeda-beda), maka hikmat dan kasih Kristus kepada orang berdosa masih bisa dilihat dengan jelas di bagian Perjanjian Baru yang lain."

Tanggapan: di sini muncul lagi, "memilih sesuai selera untuk membenarkan pendapat", dan ada pula kontradiksi. Bagaimana kita yakin bahwa yang kita pilih dan yakini benar, adalah yang benar-benar "BENAR"? Apa karena ada (banyak) yg menuliskannya, meskipun banyak salinan yang lebih tua umurnya tidak mencantumkannya? Mengapa yg dipilih yang "Ini" dan bukannya yang "Itu" (anda menangkap "nuansa" manusiawi di sini?).

Terakhir. Ev. Yakub Tri Handoko menyatakan: "Hal terakhir, soal keyakinan Ehrman bahwa para penulis Alkitab mungkin melakukan beberapa kesalahan sehingga ada kontradiksi dalam Alkitab. Tentang pendapat ini, kita harus dengan tegas menolaknya. Sayangnya, kita tidak memiliki banyak ruang untuk membahas hal ini secara detail. Kita juga harus menolak pandangan Ehrman yang menilai Alkitab hanya sebagai hasil karya manusia yang bisa salah. Allah memang menggerakkan para penulis Alkitab dan Ia meng-gunakan keunikan mereka masing-masing, namun Allah tetap menjaga mereka sehingga apa yang akhirnya ditulis adalah apa yang dinafaskan Allah (2 Timimotius 3:16) dan didorong oleh Roh Kudus (2 Petrus 1:21). Sekali lagi, penolakan ini untuk sementara hanya bisa dinyatakan saja di sini tanpa disertai argumentasi-argumentasi yang men-dukungnya. Lain waktu kalau Tuhan berkehendak, kita akan membahas hal ini secara khusus."

Tanggapan: Soal kontradiksi dalam Alkitab, saya yakin, orang yg belum pernah sekalipun membacanya (apalagi mengimaninya), akan dengan mudah menemukannya!
Lalu, apa jaminan bahwa para penulis/penyalin/penterjemah/penyadur Alkitab mendapat bimbingan, petunjuk, dan perlindungan dari Tuhan? Bagaimana dengan karya lainnya, misalnya Bibel versi King James, kenapa direvisi/diganti? Apakah karena tidak memuat kebenaran Tuhan, apakah para penyusunnya tidak mendapat bimbingan dari Tuhan, ataukah karena tidak ada yang anda "inginkan" di situ?
Siapapun bisa mengklaim bahwa saya mendapat bimbingan dari dari Roh Kudus atau Tuhan. Ingat, siapa pun juga!

Tanggapan penutup. Saya harap, kita berpikir kritis, sebagai wujud terima kasih kita kepada Tuhan, karena telah diberikan akal, sehingga mampu berkarya, kreatif dan mengetahui, memahami dan mencintai Tuhan.

May Allah blessed us!
:idea: :idea: :idea: :idea: :idea:


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Tanggapan atas Misquoting Jesus
PostPosted: Sat Oct 25, 2008 8:55 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP
User avatar

Joined: Wed Feb 14, 2007 1:11 pm
Posts: 167
Quote:
Tanggapan atas jawaban Ev. Yakub Tri Handoko, adalah bahwa di sini kita tidak bisa "bermain-main" dengan analogi dan "pembenaran" seperti itu, karena di sini adalah nilai-nilai kepercayaan, keimanan dan dogmatis, yg diyakini berasal dari TUHAN. Jika benar tidak ada lagi autografa yang asli dari kitab suci, bukan berarti melenyapkan pertanyaan kritis kita: "Jika demikian, berarti kitab suci tersebut telah terinfiltrasi, baik disengaja maupun tidak, oleh manusia, yg memiliki "hawa nafsu", tingkat pengetahuan/pemahaman terbatas, latar belakang, sistem nilai/kenyakinan/kepercayaan, sentimen dan motif yang sesuai "selera"nya. Bagaimana bisa mempercayai, menyakini dan mengimani kebenaran yg ada di dalam suatu kitab suci, jika itu adalah "buatan" manusia, yg tidak luput dari kesalahan?". Bukankah konsepsi kita tentang manusia adalah bahwa manusia terlahir sudah menanggung dosa?

Penuduh tidak menunjukkan bagian mana dari kitab suci yang menurutnya telah menyimpang. Penuduh hanya menuduh berdasarkan kesimpulan/dugaan yang sifatnya subjektif. Autografa yang asli dari kitab suci memang sudah tidak ada. Yang ada sekarang adalah salinan-salinan dari naskah asli. Selain itu salinan-salinan yang ada bukan hanya satu, melainkan terdapat banyak salinan. Kami orang kristen, mengimani kalau Roh Kudus telah melakukan "campur tangan" dan menjaga agar penyalinan ulang teks Alkitab, jangan sampai menggeser ajaran-ajaran doktrinal itu sendiri.
Quote:
Tanggapan: Di sini, sekali lagi, terjadi kerancuan cara berpikir. Poin (1) di atas, jelas dia mengakui adanya kesalahan, namun dianggap sedikit dan tidak penting (mengapa "tidak penting"?). Bagaimana bisa kita yakin waktu penyalinan yg tidak terpaut jauh dengan waktu penulisan adalah jaminan kebenaran isi yg ASLI? Bagaimana kita yakin kita menyalin dari sumber ygn asli (apa kriterianya?). Dan, tentu saja, bagaimana kita yakin hasil salinanannya SAMA PERSIS dengan sumbernya (yang juga belum tentu ASLI)?
Pada poin (2), apa jaminan bahwa salinan yg banyak berarti pasti BENAR isinya?

(1)Kenapa adanya kesalahan, namun dianggap tidak penting? dikarenakan kesalahan yang dilakukan tersebut, hanya kesalahan daripada kesalahan pembuat salinan ulang. Kitab Suci tidak sedikitpun dirusakkan oleh adanya salinan ulang yang "kurang sempurna" dalam bentuknya, bukan dalam isi dan pesan-pesan doktrinalnya. Dengan kata lain, kesalahan yang dilakukan tersebut tidak berpengaruh pada pokok-pokok/ inti dari ajaran (doktrin).
(2)Dengan adanya salinan yang banyak, kita bisa membandingkan antara salinan yang satu dengan yang lain. Juga adanya Textual Criticism, sebagai alat untuk menemukan keteledoran/kesalahan yang mungkin saja terdapat dalam salinan ulang Alkitab. Sehingga kesalahan yang ada dapat ditemukan dan dikoreksi.
Quote:
Tanggapan: di sini muncul lagi, "memilih sesuai selera untuk membenarkan pendapat", dan ada pula kontradiksi. Bagaimana kita yakin bahwa yang kita pilih dan yakini benar, adalah yang benar-benar "BENAR"? Apa karena ada (banyak) yg menuliskannya, meskipun banyak salinan yang lebih tua umurnya tidak mencantumkannya? Mengapa yg dipilih yang "Ini" dan bukannya yang "Itu" (anda menangkap "nuansa" manusiawi di sini?).

Ada berbagai macam salinan yang dimiliki. Dari berbagai macam salinan tersebut ada terdapat beberapa perbedaan. Mengapa bisa terdapat beberapa perbedaan?dikarenakan adanya kesalahan dari penyalin ulang. Seperti kita ketahui bahwa pada zaman dulu belum terdapat mesin cetak. Sehingga penyalinan dilakukan secara manual oleh manusia. Melalui Textual Criticism dan dengan terdapatnya banyak naskah-naskah, dapat dilakukan studi dan perbandingan. Sehingga dapat diketahui walaupun ada "bagian yang hilang" yang tidak terdapat dalam satu naskah tertentu, kita dapat menemukan "bagian yang hilang" tersebut dalam naskah-naskah yang lain.
Quote:
Tanggapan: Soal kontradiksi dalam Alkitab, saya yakin, orang yg belum pernah sekalipun membacanya (apalagi mengimaninya), akan dengan mudah menemukannya!
Lalu, apa jaminan bahwa para penulis/penyalin/penterjemah/penyadur Alkitab mendapat bimbingan, petunjuk, dan perlindungan dari Tuhan? Bagaimana dengan karya lainnya, misalnya Bibel versi King James, kenapa direvisi/diganti? Apakah karena tidak memuat kebenaran Tuhan, apakah para penyusunnya tidak mendapat bimbingan dari Tuhan, ataukah karena tidak ada yang anda "inginkan" di situ?
Siapapun bisa mengklaim bahwa saya mendapat bimbingan dari dari Roh Kudus atau Tuhan. Ingat, siapa pun juga!

Mengenai kontradiksi Alkitab dapat dilihat di :
kontradiksi-perjanjian-lama-vt549.html
kontradiksi-perjanjian-baru-vt543.html

Secara iman kristen, kami mengimani bahwa para penulis Alkitab mendapat bimbingan Roh Kudus atau dari Tuhan.

2 Samuel 23:2 Roh TUHAN berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku

Yeremia 1:4 Firman TUHAN datang kepadaku

I Tes 2:13 Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi--dan memang sungguh-sungguh demikian--sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya.

Salah satu bukti kalau Alkitab adalah benar dengan adanya nubuatan yang sudah digenapi, sedang digenapi dan akan digenapi.
Mengenai nubuatan: nubuat-penggenapan-dalam-alkitab-vt1314.html
nubuat-pl-tentang-mesias-terpenuhi-dalam-diri-yesus-kristus-vt2217.html

Kebenaran Alkitab juga didukung oleh bukti dari arkeologi
penemuan-arkeologis-dan-kebenaran-alkitab-vt964.html
http://www.pekabaran.com/2008/05/05/alk ... arkeologi/
http://www.greatcom.org/indonesian/apol ... bag_16.htm

Mengapa Bible versi King James direvisi/diganti adalah supaya dapat lebih dipahami. Seperti diketahui Bible versi King James, memakai bahasa Inggris yang kuno dan dalam beberapa bagian ada kesulitan, baik dari segi tata bahasa modern, arti, dll. Sehingga dilakukan revisi. Seperti diketahui tidak ada terjemahan yang mutlak sempurna. artinya semua terjemahan cenderung ada menyimpang dari makna teks aslinya. Sekalipun begitu, sebuah Terjemahan Kitab Suci (yang menyeleweng dalam dirinya) tidak menjadikan Kitab itu menyeleweng, menjadi palsu, tidak sah, dan menjadi tidak benar!. Dengan adanya sejumlah terjemahan yang dinilai sangat baik, tidak ada keraguan bahwa Firman Tuhan telah diterjemahkan dan disampaikan dalam lingkupnya yang benar.

Tapi sebenarnya, berdasarkan pandangan Kitab Suci dan pekerjaan Roh Kudus yang terus bersaksi tentang kebenaran Firman, maka kerusakan terjemahan Kitab Suci yang paling parah adalah jikalau terjemahan tersebut (pemahaman dan penghayatan atas teks tersebut) justru tidak mampu membuat para pembacanya memberoleh "hikmat dan menuntun kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."(2 Timotius 3:15-16)

Tuhan mampu membuat Alkitab cukup sempurna melalui dan di dalam keterbatasan manusia. Firman Tuhan yang tidak terbatas, yang harus "diturunkan" kedalam dunia yang terbatas, tentu mengadopsi unsur-unsur keterbatasan yang bisa dianggap sebagai "lemah, salah, penuh kekurangan, dan tidak sempurna". Namun sungguh ia justru tidak pernah kehilangan kewibawaan dan kemampuannya untuk tampil sebagai Alkitab yang benar dan sempurna!

Mengenai orang-orang yang meng-klaim mendapat bimbingan dari Roh Kudus atau Tuhan, tentu saja harus dilakukan pengujian. Apakah benar orang tersebut mendapat bimbingan dari Roh Kudus atau tidak. Dari "buahnya" tentu akan terlihat apakah orang tersebut benar mendapat bimbingan Roh Kudus atau tidak.


I Tes 5:21 Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.

I Yoh 4:1 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.
Quote:
Tanggapan penutup. Saya harap, kita berpikir kritis, sebagai wujud terima kasih kita kepada Tuhan, karena telah diberikan akal, sehingga mampu berkarya, kreatif dan mengetahui, memahami dan mencintai Tuhan.

Berpikir kritis memang perlu. Bahkan Textual Criticism (kritik teks) merupakan wujud dari berpikir kritis.


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 3 posts ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
Powered by phpBB & phpBB SEO
Sarapan Pagi © 2006 by BP & Saxman