SIAPAKAH YANG BERNAMA ALLAH ITU ?oleh: Herlianto,
herlianto@yabina.org I. PENDAHULUANDalam dua dasawarsa terakhir ini ada gejala menarik di kalangan Kristen dimana banyak umat mengunjungi Israel untuk melihat situs-situs yang diceritakan dalam Alkitab. Diantara para peziarah itu ada yang kemudian terpengaruh adat-istiadat Yahudi kemudian mempraktekkannya di gereja mereka di Indonesia seperti perayaan Pondok Daun dan juga tari-tarian Yahudi. Namun, diantara mereka ada juga yang terpengaruh fanatisme Yahudi fundamentalis yang kemudian mengganti nama mereka dengan nama Ibrani, ada yang kemudian terpengaruh Yudaisme lalu kemudian menggugat ajaran Tritunggal, dan puncaknya ada yang memuja nama ‘Yahweh’ dalam bahasa asli Ibrani dan beranggapan nama itu tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa manapun, dan terutama menolak penggunaan nama ‘Allah’ dalam Alkitab Indonesia yang dianggap nama berhala Arab.
II. BANGSA & BAHASA IBRANIAda anggapan bahwa bangsa Ibrani adalah bangsa istimewa dengan bahasanya yang bersifat surgawi yang digunakan dari kekal sampai kekal oleh Tuhan dan umatnya, dari anggapan demikian dipercaya bahwa bahasa Ibrani harus dipegang teguh dan nama ‘Yahweh’ dalam bahasa Ibrani tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Benarkah demikian?
Bangsa Ibrani biasanya dikaitkan dengan ‘Eber’ yang adalah cucu Arphaksad, anak Sem, jadi tergolong
rumpun Semitik (keturunan Sem, Kejadian 10:21-25). Eber beranak Peleg, dan Peleg beranak Yehu, dan Yehu beranak Serug. Serug kemudian beranak Nahor, dan Nahor beranak Terah yang adalah ayah Abram (Kejadian 11:10-26). Abram yang kemudian berganti nama menjadi Abraham disebut sebagai orang Ibrani (Kejadian 14:13).
Perlu disadari bahwa bahasa Ibrani bukanlah bahasa surgawi, malah dalam perkembangannya bahasa ini rentan terhadap pengaruh bahasa-bahasa lingkungan yang kemudian memberi nafas sinkretis ke dalamnya. Bahasa
Ibrani Kuno mulai berkembang pada abad-11sM dan tumbuh dari percampuran bahasa Kanani dan Amorit dan menggunakan huruf Kanaan kuno yang terdiri dari 22 huruf. Sekalipun sempat digunakan sebagai bahasa percakapan di samping bahasa Aram pada pemerintahan Sanherib (700sM), pada abad-6sM, bahasa Ibrani yang terdiri dari konsonan itu menjadi bahasa mati (bukan bahasa percakapan) yang hanya digunakan sebagai
Ibrani Kitab Suci. Lama kelamaan bahasa ini tidak dimengerti oleh orang banyak terutama sejak Pembuangan ke Babel, hingga harus diterjemahkan ke dalam bahasa Aram pada masa Ezra (Neh.8:2-9), bahkan sebagian kitab Ezra (4:8–6:18;7:12-26) , Yeremia (10:11) dan Daniel (2:4b–7:28), ditulis dalam bahasa Aram.
Setelah semua kitab Tenakh (PL) ditulis, pada abad-3 sM, berkembang bahasa tulis
Ibrani Misnah yang berbeda dengan Ibrani Kitab Suci dan memasukkan kosakata bahasa Aram, Yunani dan Latin. Sejalan dengan penguasaan budaya helenis sekitar Laut Mati setelah expansi raja Alexander Agung, pada abad-3sM, Tenakh diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (
Septuaginta, LXX). Ibrani Misnah hanya digunakan untuk salin-menyalin kitab suci sedangkan bahasa percakapan umum sehari-hari menggunakan bahasa
Aram dan
Yunani. Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani Koine.
Sejak abad-6M Ibrani Miznah disusul
Ibrani Para Rabi, yang kemudian banyak dipengaruhi bahasa Arab (abad-7 dst) sejalan dengan pendudukan Yerusalem oleh orang Arab namun hanya digunakan sebagai bahasa tulisan. Bahasa Aram dan Arab menggantikan Yunani sebagai bahasa percakapan dan pada periode ini dibuat tanda baca dan vokal oleh keluarga Masoret (abad-6–9M).
Bahasa Ibrani baru mengalami kebangunan sebagai bahasa percakapan
Ibrani Modern, sejalan dengan kebangkitan nasionalisme Yahudi pada abad-19 (Kongres Zionis Sedunia, 1879). Ibrani modern berbeda dengan Ibrani masa-masa sebelumnya karena sudah terlalu lama terpengaruh bahasa Aram, Yunani, Latin dan kemudian Arab. Baru pada tahun 1948 bahasa Ibrani Modern menjadi bahasa nasional sejak kemerdekaan Israel.
III. NAMA EL IBRANI & ALLAH ARAB Tuhan El (dengan padanannya Elohim & Eloah), nama Tuhan yang pertama digunakan dalam Alkitab Kejadian, sebenarnya berasal dari sesembahan ‘il’ Semitik Mesopotamia yang kemudian berkembang dalam dialek-dialek suku-suku keturunan yang kemudian terpencar dari sumber itu. Kita perlu menyadari bahwa para leluhur yang diceritakan dalam kitab Kejadian sebelum migrasi Terah, tinggal di Mesopotamia sekitar sungai Efrat dan Tigris (Kejadian 10-12). Kemudian Terah dan keluarganya termasuk anaknya Abram meninggalkan Mesopotamia dan bermigrasi ke Kanaan (Kejadian 11:31).
Sebagai nama sesembahan, ‘il’ Semitik lebih banyak digunakan sebagai ‘sebutan/ panggilan/gelar’ pada awal bahasa Semitik. Kenyataan ini ditunjukkan dengan jelas di Semitik Timur, Akkadian Kuno (ilu) dan dialek di bawahnya sebelum masa Sargon (2360sM) dan berlanjut sampai masa Babilonia Akhir. Penggunaan sebagai sebutan dijumpai di Semitik Barat Laut, Amorit (ilu, ilum, ila), Ugarit, Ibrani (el), dan Funisia. Di Semitik Selatan ‘il’ dipakai dalam dialek-dialek Arab Selatan, tetapi di Arab Utara disebut ‘ilah.’
Ternyata di kalangan Semitik ‘ilu’ dan ‘el’ juga digunakan sebagai nama diri. Penemuan teks Ugarit pada tahun 1929, menunjukkan bahwa ternyata dalam pentheon Kanaan, ‘il’ adalah nama diri kepala pantheon dan penggunaan sebagai sebutan jarang digunakan. Di Semitik Timur juga dijumpai penggunaan ‘il’ sebagai nama diri sesembahan, juga di Akkadian Kuno. Nama diri ini juga disebut sebagai ‘ilu’ dan ‘ilum’. Seringnya penggunaan ‘il’ sebagai nama diri dalam tulisan ketuhanan di Akkadian menunjukkan bahwa sesembahan ‘il’ (kemudian ‘el’ semitik) adalah tuhan kepala di dunia Semitik Mesopotamia pada masa pra-Sargon.
Penemuan penggalian di Amorit menunjukkan bahwa pada abad-18sM, tuhan ‘il’ memiliki peran besar, dan acapkali dipanggil sebagai ‘ila’ atau ‘ilah.’ Di Arab Selatan, juga dijumpai ‘il’ sebagai nama diri. Dapat disimpulkan bahwa sejak masa awal bahasa-bahasa Semitik di Semitik Timur, Semitik Barat Laut, dan Semitik Selatan, ‘il/el’ sudah digunakan bersama baik sebagai sebutan maupun nama diri, dan sebagai Bapak dan Pencipta Langit dan Bumi.
Dari fakta di atas kita dapat mengetahui bahwa ‘il’ atau ‘el’ memang berasal dari sejarah Semitik Mesopotamia yang kemudian berkembang dalam berbagai dialek menjadi il, ilu, ilum, ila, ilah’, yang dalam dialek Ibrani menjadi ‘el’ yang adalah pencipta langit dan bumi dan yang memanggil Abraham. Kelihatannya untuk membedakan dengan nama sesembahan lain, ketika Musa bertanya dinyatakan nama kedua yaitu ‘Yahweh’ (Keluaran 6:1-2) sebagai Tuhannya khas orang Israel yang keluar dari Mesir, namun selanjutnya, nama diri ‘El’ juga masih digunakan sebagai sinonim Yahweh (bandingkan: ‘El Elohe Yisrael,’ Kej.33:20 dengan ‘Yahweh Elohe Yisrael,' Yosua 8:30)
Dalam dialek Semitik Arab, ‘il’ disebut ‘ila’ atau ‘ilah’ (Allah = al-ilah. Dalam dialek Aram Siria kata sandang diletakkan di belakang (alaha), dalam dialek Ibrani penggunakan kata sandang ‘ha’ di depan untuk ‘el’ tidak umum). Kita mengetahui bahwa dari sumber Islam maupun Kristen bangsa Arab adalah keturunan dari empat jalur Semitik, yaitu melalui keturunan Aram (anak Sem - Palestina Timur Laut), keturunan Yoktan (anak Eber - Arab Selatan), keturunan Ismail (anak Abraham – Arab Utara), dan juga melalui keturunan Ketura (selir Abraham). Dari sini kita dapat melihat bahwa bangsa Arab termasuk rumpun Semitik (keturunan Aram anak Sem), Ibranik (keturunan Quathan/Yoktan anak Eber), dan juga Abrahamik (keturunan Adnan, keturunan Ismail anak Ibrahim), jadi bersaudara dengan orang Israel yang juga termasuk rumpun
Semitik (keturunan Arphaksad anak Sem),
Ibranik (keturunan Pelek anak Eber), dan
Abrahamik (keturunan Ishak anak Abraham).
Dari kitab suci Yahudi (Tenakh/Perjanjian Lama), Kristen (Perjanjian Lama & Baru), maupun Islam (Al-Quran), kita dapat melihat nama-nama yang menunjuk orang-orang yang sama sekalipun dengan dialek berbeda (Abraham/Ibrahim, Yesus/Isa) dan pengajaran/aqidah yang berbeda pula. Peringatan Idul-Adha menunjuk pada nama sesembahan yang sama yaitu ‘El’ Abraham (Ibrani) atau ‘Allah’ Ibrahim (Arab), namun berbeda dalam pengajaran/aqidahnya. Perjanjian Lama (Kejadian 22:1-2) maupun Perjanjian Baru (Ibrani 11:17-19) menyebut Ishak yang dikorbankan Abraham, Al-Quran (QS.37:99-113) tidak secara eksplisit menyebutkannya tetapi tradisi Arab menyebut nama Ismail sebagai yang dikorbankan Ibrahim.
IV. BANGSA & BAHASA ARABPersaudaraan Yahudi dan Arab tidak bisa disangkali dari fakta sejarahnya. Sumber Islam mengakui bahwa bangsa Arab adalah termasuk rumpun Semitik, jadi bersaudara dengan Yahudi:
"Masyarakat Semit yang merupakan penduduk asli gurun pasir Arabia ... . Masyarakat yang berdarah Arab asli dan berbahasa Arab tersebar di sepanjang jazirah Arabia, terbentang dari Yaman dan pantai Afrika dekat Yaman sampai kepada gurun pasir Syria dan Irak Selatan ... . Tradisi Arabia Selatan yang diyakini bahwa mereka merupakan keturunan dari seorang nabi bernama Quahthan, yang di dalam Bibel disebut Joktan, dan Tradisi Arabia Utara yang diyakini sebagai keturunan nabi Adnan, dan darinya terbentuk keturunan Isma'il, putra Ibrahim ... . Istilah Arab berarti "Nomads". Bangsa Arab Utara dipandang sebagai Arab al-Musta'ribah (Arab yang di Arabkan), sementara bangsa Arab keturunan Quahthan yang tinggal di wilayah selatan menamakan dirinya sebagai Arab Muta'arribah, atau suku-suku hasil percampuran dengan Arab al-'Aribah (Arab Asli) ... . Kelompok Arab yang asli ini, yakni keturunan Aram putra Shem putra nabi Nuh".[1]
"Adnan. Anak turunan Nabi Isma'il yang menjadi nenek moyang suku-suku Arabia Utara ... nenek moyang suku Arabia Selatan adalah Quahthan, yang dalam Bibel disebut Joktan".[2]
Sedangkan sumber Kristen pun juga mengakui bahwa sebenarnya bangsa Arab bersaudara dengan bangsa Yahudi:
"Berita Alkitab yang pertama yang memberikan penjelasan mengenai penduduk Arabia adalah Daftar Bangsa-Bangsa dalam kitab Kejadian 10, yang mencantumkan sejumlah orang-orang Arab Selatan sebagai keturunan Yoktan dan Kusy. Kemudian hari sejumlah suku-suku dari Arab Utara disebut sebagai keturunan Abraham melalui Keturah dan Hagar (Kejadian 25). Lagi di antara keturunan Esau (Kejadian 36) sejumlah orang Arab disebut. Di masa Yakub, dua kelompok keturunan Abraham yaitu orang-orang Ismaili dan Medianit dijumpai sebagai pedagang-pedagang caravan (Kejadian 37:25-36)".[3]
"orang Arab mencakup keturunan Aram (Kejadian10:22), Eber (Kejadian 10:24-29), Abraham dari Keturah (Kejadian 25:1-4) dan dari Hagar (Kejadian 25:13-16) ... Keturunan Joktan (anak Eber) mencakup beberapa suku Arab (Kejadian 10:26-29)".[color=red[4][/color]
Jadi, apakah diterima atau tidak, kenyataan sejarah menunjukkan bahwa bangsa Yahudi dan Arab adalah saudara sedarah dengan adanya nenek moyang yang sama, dan dengan demikian sesembahan nenek moyang mereka adalah sama dengan nama ‘Allah’ dalam dialek Arab, sekali pun ajaran/aqidah mengenai El/Allah yang sama itu berbeda karena perbedaan wahyu yang tercantum dalam kitab suci masing-masing yang dianggap sebagai benar dan berotoritas.
-----------------------------------------------
Catatan :
[1] Bangsa Arab, dalam Cyril Glasse,
Ensiklopedia Islam, h.49-50.
[2] Adnan, dalam Glasse, h.12-13.
[3] Arabia, dalam
The New Bible Dictionary, h.54.
[4] Arabians, dalam
The Interpreter's Dictionary of the Bible, vol-1, h.182.
V. NAMA YHVHSelain nama ‘El/Elohim/Eloah’, ternyata Tuhan memberikan nama kedua pada umat Israel melalui Musa (Keluaran 6:1-2), yaitu nama ‘Yahweh,’ sebab pada para leluhur baru dinyatakan nama ‘El’ (Shadday), tetapi bagaimana dengan kitab Kejadian, dimana para leluhur ditulis sudah mengenal nama YHVH (Dalam Alkitab LAI diterjemahkan TUHAN, atau LORD dalam bahasa Inggeris)?
Bila kita mempelajari sifat-sifat Tuhan ‘El’ dan ‘YHVH’, sekalipun keduanya memiliki teologi sama, dapat dilihat bahwa ada sifat baru yang ditunjukkan nama ‘Yahweh,’ yaitu sebagai Tuhan yang menyelamatkan/membebaskan Israel dari perbudakan di Mesir yang dikenal dimasa Keluaran, ini menunjukkan bahwa nama itu baru dikenal bangsa Israel melalui Musa. Tuhan ‘Yahweh’ adalah khas Israel, Tuhan yang dinamis, yang memberikan keteguhan iman bagi Israel dan yang menyatukan mereka menghadapi penindasan perbudakan di Mesir. Tuhan yang menyatakan diri dengan nama baru khas padang gurun ‘Sinai’ itu bisa kita lihat petunjuknya di banyak kitab lain dalam Alkitab Perjanjian Lama (Tenakh) yang tidak bergantung satu dengan lainnya (a.l. Hosea 2;13:4; Yesaya 43:3; Yeremia 2:1 dst; Yehezkiel 20; Amos 2:10 dst; 5:25; dan yang juga dinyatakan penyair kuno Israel yang menyanyikan nyanyian kemenangan seperti dalam nyanyian Debora dalam Hakim 5 dan Mazmur 68:8 dst.).
Kelihatannya dalam proses penulisan dan penyalinan ada usaha intervensi teologis kaum Yahwis untuk mengubah nama ‘El’ dalam kitab Kejadian dengan nama yang baru diperkenalkan itu, dimana kemudian nama ‘YHVH’ tidak sekedar disebut secara eksklusif sebagai ‘Tuhan Israel’ tetapi diperpanjang sampai ke ayat Kejadian dan disebut bahwa “Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN” (Kejadian 4:26. Enos artinya manusia) untuk menunjukkan bahwa Yahweh juga Tuhan umat manusia. Bahkan keberadaan nama ‘Yahweh’ itu kemudian dikaitkan dengan “Penciptaan langit dan bumi” (Kejadian 2:4-7), dan kemudian menghiasi banyak halaman kitab Kejadian (Kitab Pentateuch menurut tradisi ditulis oleh Musa yang sudah diperkenalkan dengan nama YHVH).
“Yahwis mempunyai pandangan lain. Menurutnya, YHVH adalah Allah seluruh umat manusia sejak awal kejadian dunia, dan ‘ibadat kepada Yahweh’ didirikan oleh Enos, sebagai wakil umat manusia pada zaman awal sekali (Kejadian 4:26). Pandangan demikian tidak sesuai dengan kepercayaan bahwa Yahweh baru bertemu Israel di padang gurun. Tampaknya, pandangan Yahwis itu merupakan pandangan teologis dan bukan ingatan historis. Pandangan teologis ini sesuai dengan cara pemikirannya, yaitu bahwa penyataanYHVH bersifat universal dan berlaku untuk seluruh dunia” (Th.C.Vriezen, Agama Israel Kuno, h.125).
Petunjuk lain bahwa Tuhan dengan nama ‘YHVH’ belum dikenal di kitab Kejadian bisa dilihat dari fakta bahwa selama berada di Kanaan, para leluhur dengan Tuhan mereka yang bernama ‘El’ rukun-rukun saja berdampingan dengan orang Kanani yang menyembah Baal, padahal sesudah Keluaran Israel secara tegas dengan nama ‘YHVH’ membumi-hanguskan orang Kanani tanpa ampun. Bahwa Abraham juga belum mengenal nama ‘YHVH’ bisa dilihat dari fakta bahwa ia memberi nama anaknya ‘Ismael’ yang mengandung nama ‘El’ dan bukan nama ‘Yah’. Absennya nama yang mengandung nama ‘Yah’ dalam kitab Kejadian yang banyak hadir sejak kitab Keluaran seperti Abi’yah’, Eli’yah’, dan Yesa’yah’, tetapi hanya nama-nama yang mengandung nama ‘El’ seperti a.l.
Bab ‘El’ (gerbang El),
Mehuya’el’ &
Metusa’el’ (Kejadian 4:18),
Isra’el’ (El yang bergumul. Kejadian 32:28) dan
Ismael (El telah melihat. Kejadian 16:11), menunjukkan bahwa di masa kitab Kejadian kenyataannya hanya dikenal ‘El elohe Yisrael’ (Kejadian 33:20) dan Ialah ‘El Beth ‘El’’ (Kejadian 35:7).
Ujian iman Abraham (yang dirayakan Islam sebagai ‘Idul Adha’) menunjukkan bahwa nama ‘YHVH’ tidak dikenal dalam jalur bangsa Arab keturunan ‘Ismael,’ bahkan Hagar menamai Tuhannya ‘El Roi’ (El yang melihat). Ini memperkuat bukti bahwa nama ‘YHVH’ belum dikenal pada saat Abraham dan baru sesudah Musa keturunan Ishak-Yakub-lah nama ‘YHVH’ dikenal dalam jalur bangsa Israel. Kenyataan ini menunjukkan indikasi bahwa nama Tuhan semula adalah ‘El’ dan baru dalam masa Keluaran dinyatakan nama kedua ‘YHVH,’ namun sekalipun demikian nama ‘El’ masih terus digunakan sebagai sinonim Yahweh sesudah Keluaran (Bilangan 23:4,8,19,22-23;Mazmur 85:8-9;Yesaya 42:5). Demi menguduskan nama Yahweh, Yahweh sering digantikan nama ‘Adonai’ yang bisa berarti ‘YHVH’, ‘Tuhan’ atau Tuan. Yesus diberi dua nama yang mengandung kedua nama itu, yaitu
‘Imanuel’ (El menyertai kita. Matius 1:23) dan ‘Yesus’ (Yahweh adalah keselamatan. Matius 1:21).
VI. PENERJEMAHAN NAMA TUHANDalam Tenakh, nama Tuhan adalah ‘El/Elohim/Eloah’ dan ‘YHVH/Adonai,’ apakah nama ini boleh diterjemahkan? Ternyata data Alkitab memungkinkan hal itu, apalagi bila diingat bahwa bahasa Ibrani bukan bahasa surgawi yang kekal melainkan selalu dalam bahaya dipengaruhi bahasa-bahasa Aram, Yunani, Latin, dan Arab. Sebagian kitab Ezra, Yeremia dan Daniel menerjemahkan ‘El/Elohim/Eloah’ dengan ‘Elah/Alaha’ dalam bahasa Aram dan Yahweh/Adonai dengan ‘Rabb.’ Adanya fakta sudah tidak digunakannya bahasa Ibrani dalam percakapan umum, pada abad-3sM, atas permintaan Ptolomeus Philadelphus, Imam Besar ‘Eliezer’ di Yerusalem mengutus 72 tua-tua Israel ke Alexandria untuk menerjemahkan Tenakh ke dalam bahasa Yunani (
Septuaginta/LXX), dimana nama ‘Yahweh/Adonai’ diterjemahkan menjadi ‘Kurios’ dan ‘El/Elohim/Eloah’ menjadi ‘Theos.’
Selain Tenakh yang digunakan sebagai kitab suci di Bait Allah, LXX-lah yang digunakan umat Yahudi secara umum termasuk di sinagoge. Yesus membaca LXX ketika berkotbah di sinagoge di Nazaret (Lukas 4:16-19) dan bukan naskah Tenakh (bandingkan dengan teks Yesaya 61:1-2 (LAI) yang diterjemahkan dari teks Ibrani Masoret). Dalam Perjanjian Baru tidak ada ayat yang menunjukkan bahwa Allah Bapa di sorga melarang penggunaan LXX, padahal Yesus dan para Rasulnya mengutip Septuaginta dan PB ditulis dalam bahasa Yunani. Roh Kudus menerjemahkan kotbah Petrus ke dalam bahasa-bahasa asing termasuk yang didengar orang Arab (Kisah 2:1-11).
Kita harus menyadari bahwa Yesus dan orang Israel dalam percakapan sehari-hari tidak menggunakan bahasa Ibrani melainkan bahasa Aram dan Yunani, dan Alkitab PB ditulis dalam bahasa Yunani koine (umum). Kalau Alkitab LAI menyebut ‘bahasa Ibrani’ (seperti di atas kayu salib), itu terjemahan kata Yunani
‘hebraisti’ (lidah Ibrani, Yohanes 5:2;19:20;20:16; Wahyu 9:11;16:16) atau
‘hebraidi dialektos’ (dialek Ibrani, Kisah 21:40 – 22:2; 26:14), yang maksudnya adalah bahasa Aram.
VII. NAMA ALLAH DALAM ALKITAB INDONESIASekarang, yang menjadi masalah, apakah terjemahan ‘YHVH/Adonai’ dan ‘El/Elohim/Eloah’ dalam Alkitab Indonesia dapat dibenarkan dan bagaimana terjemahan itu?
Kita sudah mengetahui bahwa agama Yahudi bersifat
sentripetal berpusat pada kota Yerusalem dan bangsa/bahasa Ibrani, namun agama Kristen bersifat
sentrifugal dari “Yerusalem, Samaria, sampai ke ujung Bumi” bahkan Roh Kudus sendiri ikut menyebarkan nama Tuhan dalam berbagai bahasa.
Penerjemahan nama ‘YHVH/Adonai’ menjadi TUHAN/Tuhan tidak salah selama ajarannya sesuai Alkitab, demikian juga penerjemahan ‘El/Elohim/Eloah’ menjadi ‘Ilah/Allah’ (dialek Arab) justru tepat, daripada diterjemahkan ‘theos’ atau lainnya, sebab ‘Allah’ adalah dialek Arab untuk ‘El/Elohim/Eloah’ dan paling dekat dengan dialek Ibrani dan Aram (‘Elah/Alaha’ dialek Aram-Siria).
Penggunaan nama ‘Allah’ di kalangan berbahasa Arab untuk menyebut ‘El’ sudah dilakukan sejak berkembang bahasa Arab keturunan Aram, Yoktan, dan selanjutnya keturunan Abraham melalui Hagar dan Keturah. Tidak dikenalnya nama Yahweh di kalangan Arab menunjukkan bahwa memang nama ‘Yahweh’ belum dikenal Abraham/Ibrahim dan Ismael yang menurunkan bangsa Arab. Pengaruh kuat bahasa Aram sejak zaman Ezra yang kemudian menurunkan bahasa Arab menunjukkan bahwa penggunaan nama ‘Alaha’ dan ‘Allah’ bukan barang baru di kalangan bangsa Arab yang beragama Yahudi maupun agama ‘Hanif’ (Yang mempercayai Allah Ibrahim) dan sudah terjadi sebelum ada agama Kristen, dan setelah ada agama Kristen nama itu tentu juga yang disebut oleh orang Arab yang hadir di hari Pentakosta (Kisah 2:11). Sumber Islam menyebutkan:
"Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa' (tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya ditujukan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail”.[5]
Di kalangan bangsa Arab yang beragama Kristen, penggunaan nama ‘Allah’ sudah terjadi sejak awal kekristenan jauh sebelum masa jahiliah Arab. Nama ‘Elah/Alaha’ sudah digunakan Alkitab ‘Peshitta’ Aram-Siria yang ditulis pada abad-2–3M. Pada Konsili Efesus (431) sudah ada uskup Arab Harits bernama
‘Abd Allah’. Di kalangan Kristen Arab, inskripsi Zabad (512) diawali
‘Bism al-Ilah’ (Dengan nama Allah) lengkap dengan tanda salib, demikian juga Inskripsi ‘Umm al-Jimmal’ (abad-6) menyebut
‘Allahu ghafran’ (Allah yang mengampuni). Inskripsi ‘Hurran al-Lajja’ (568) dan inskripsi-inskripsi lain pra’Islam’ dari lingkungan Kristen menggunakan nama Allah pula.
Dalam Al-Quran nama Allah disebut digunakan bersama baik oleh umat Islam maupun Nasrani seperti dalam kutipan berikut:
[6] "Kami telah beriman kepada Allah dan (Kitab) yang diturunkan kepada kami dan apa2 yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak2nya, (begitu juga kepada kitab) yang diturunkan kepada Musa dan 'Isa, dan apa-apa yang diturunkan kepada nabi2 dari Tuhan mereka, tiadalah kami perbedakan seorang juga diantara mereka itu dan kami patuh kepada Allah." (QS.2:136)
"(Yaitu) orang2 yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena mereka mengatakan: Tuhan kami Allah. Jikalau tiadalah pertahanan Allah terhadap manusia, sebagian mereka terhadap yang lain, niscaya robohlah gereja2 pendeta dan gereja2 Nasrani dan gereja2 Yahudi dan mesjid2, di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (QS.22:40)
Saat ini ada empat Alkitab bahasa Arab dan keempatnya menggunakan nama ‘Allah’, dan penggunaan ‘nama Allah’ bersama-sama oleh umat Islam dan Kristen di negara-negara berbahasa Arab tidak pernah menjadi masalah. Di Malaysia memang pernah ada negara bagian yang melarang penggunaan nama ‘Allah’ sehingga Alkitab bahasa Indonesia pernah dilarang masuk ke Malaysia, namun sekarang larangan itu sudah melunak, dan telah terbit Alkitab dalam Bahasa Melayu (BM) yang juga menggunakan nama Allah.
Nurcholish Majid, cendekiawan Muslim ketua universitas 'Paramadina,' mengenai banyaknya umat Islam Indonesia yang mengira bahwa istilah "Allah" itu khusus Islam, Cak Nur mengingatkan bahwa selain claim itu bertentangan dengan Qur'an sendiri (QS.12:106), juga bertentangan dengan kenyataan bahwa dari dahulu sampai sekarang, di kalangan bangsa Arab terdapat kelompok-kelompok non-Islam, yaitu Yahudi dan Kristen dan mereka juga menyebut Allah".
[7] Olaf Schumann, doktor teologi yang memperdalam Islamologi di Universitas Al-Ashar – Mesir selama tiga tahun, jadi tahu dengan benar situasi apa yang terjadi di negara Arab, mengungkapkan dengan jelas bahwa nabi Muhammad sendiri mengakui bahwa orang Kristen menggunakan nama yang sama unuk sesembahan mereka namun memang ada masalah di sini:
"Hal itu diakui pula dalam Al-Quran sendiri di mana nabi Muhammad dalam percakapan dengan orang Kristen dan Yahudi menggunakan pula kata Allah dan dengan sendirinya dicatatlah dalam buku suci umat Islam itu bahwa orang Yahudi dan Kristen menggunakan kata yang sama. Dalam tradisi Islam berbahasa Arab pun tidak pernah dipersoalkan bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen menggunakan istilah yang sama dengan orang Islam untuk menyatakan Dia yang menjadi tujuan ibadah dan amal mereka. ... Memang tidak dapat disangkal adanya suatu masalah. Namun yang menjadi masalah ialah soal dogmatika atau 'aqida,’ sebab tiga agama surgawi itu mempunyai faham dogmatis yang berbeda mengenai Allah yang sama, baik hakekatnya maupun pula mengenai cara pernyataannya dan tindakan-tindakannya".[8]
Ensyclopaedia Britannica menyebut bahwa nama ‘Allah’ digunakan orang Kristen dan Islam:
"Etymologically, the name Allah is probably a contraction of the Arabic al-Ilah, "the God." The name's origin can be traced back to the earliest Semitic writings in which the word for god was Il or El, the latter being an Old Testament synonim for Yahweh. Allah is the standard Arabic word for "God" and is used by Arab Christians as well as by Muslims." (dibawah kata ‘Allah’).
Dalam Ensiklopedia Islam disebut:
"Kata "Allah" merupakan sebuah nama yang hanya pantas dan tepat untuk Tuhan, yang melalui kata tersebut dapat memanggil-Nya secara langsung. Ia merupakan kata pembuka menuju Esensi (hakikat) ketuhanan, yang berada di balik kata tersebut bahkan yang tersembunyi di balik dunia ini. Nama "Allah" telah dikenal dan dipakai sebelum al-Qur'an diwahyukan; misalnya nama Abd al-Allah (hamba Allah), nama Ayah Nabi Muhammad. Kata ini tidak hanya khusus bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang, oleh ummat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja Timur, digunakan untuk memanggil Tuhan". [9]
-----------------------------------------------
Catatan :
[5] Glasse, h.50.
[6] Dikutip dari kitab Mahmud Yunus,
Tafsir Quran Karim.
[7] Islam, Doktrin dan Peradaban, h.xcv.
[8] Keluar Dari Benteng Pertahanan, h.175,177.
[9] Glasse, h.23.
VIII. SATU ALLAH TIGA AGAMAPerlu disadari, ketiga agama Semitik/Samawi menyembah El/Allah yang sama yang disembah Abraham/Ibrahim yang sama pula. Yang membedakan adalah pengajaran/aqidah mengenai Allah yang sama itu berbeda. Agama Yahudi mempercayai Allah Abraham yang memberikan perjanjian melalui Abraham, Ishak dan Yakub (sesuai Tenakh). Agama Kristen percaya juga dan penggenapannya dalam Yesus Kristus (sesuai PL & PB), ini diragukan keotentikannya oleh agama Yahudi. Agama Islam secara implisit beriman pada kitab-kitab Yahudi & Kristen (QS.2:136) namun secara eksplisit meragukan keotentikannya, dan beriman pada Allah Ibrahim namun juga wahyu yang dipercayai diterima oleh Muhammad. Wahyu ini diragukan keontentikannya oleh agama Yahudi maupun Kristen.
Nama ‘Allah’ pada masa jahiliah merosot ditujukan kepada dewa berhala kafir, namun Islam imengembalikan pengertian itu pada ‘Allah’ kaum Hanif yang menganut ajaran Ibrahim. Demikian juga dalam sejarah Israel, nama ‘Elohim’ dan ‘Yahweh’ juga pernah merosot ditujukan kepada berhala Anak Lembu (Keluaran 32:1-6 & 1Raja 12:28) namun Musa ingin mengembalikan pengertian itu kembali kepada ‘Yahweh, Elohim Israel.’ (Keluaran 32:26-27). Dalam inskripsi kuno di Kuntilet Ajrud (dekat Nablus) tertulis nama Yahweh dipuja bersama dewi kesuburan Asyera (bandingkan 2 Raja 17:16).
Di negara-negara berbahasa Arab selama 15 abad lebih penggunaan nama ‘Allah’ bersama oleh umat Kristen dan Islam tidak pernah menjadi masalah. Nama Allah dalam bahasa Arab sudah masuk menjadi kosakata bahasa Indonesia, dan Alkitab bahasa Indonesia sudah menggunakan nama itu selama 4 abad dan tidak ada masalah selama ini dan andaikan ada konflik antar agama isu nama Allah tidak pernah menjadi penyebab. Sekalipun berbeda dalam ajaran/aqidah, kesamaan Allah yang disembah ketiga agama semitik/samawi itu seharusnya bisa menjadi perekat kesatuan bangsa Indonesia yang selama ini berdampingan secara damai, dan sekaligus sebagai tempat berpijak yang sama untuk memulai dialog dan kesaksian Kristiani. Kiranya diskusi ini memperjelas kebenaran kata ‘Allah’ sebagai nama sesembahan semitik dalam dialek Arab yang sudah di Indonesiakan. Amin!
-----------------------------------------------
*) Makalah ini disampaikan dalam Seminar tentang
Penerjemahan Nama Allah yang diselenggarakan oleh
Lembaga Alkitab Indonesia dalam rangka HUT ke-51, bertempat di Auditorium Museum Nasional, Jakarta Pusat, pada tanggal 11 Februari 2005.
**) Penulis adalah seorang arsitek yang mendalami studi perkotaan, dan juga mempelajari teologi. Saat ini menjadikan pelayanan firman Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup dan menjadi ketua YABINA ministry (
http://www.yabina.org, dh. Yayasan Bina Awam), dan mengajar di STT-Bandung.