SarapanPagi Biblika

Studi Alkitab & Pustaloka Kristiani
It is currently Fri Jul 30, 2010 12:26 am

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 3 posts ] 
Author Message
 Post subject: SIAPAKAH YANG BERNAMA ALLAH ITU ?
PostPosted: Wed Jun 14, 2006 2:26 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6387
SIAPAKAH YANG BERNAMA ALLAH ITU ?


oleh: Herlianto, herlianto@yabina.org



I. PENDAHULUAN


Dalam dua dasawarsa terakhir ini ada gejala menarik di kalangan Kristen dimana banyak umat mengunjungi Israel untuk melihat situs-situs yang diceritakan dalam Alkitab. Diantara para peziarah itu ada yang kemudian terpengaruh adat-istiadat Yahudi kemudian mempraktekkannya di gereja mereka di Indonesia seperti perayaan Pondok Daun dan juga tari-tarian Yahudi. Namun, diantara mereka ada juga yang terpengaruh fanatisme Yahudi fundamentalis yang kemudian mengganti nama mereka dengan nama Ibrani, ada yang kemudian terpengaruh Yudaisme lalu kemudian menggugat ajaran Tritunggal, dan puncaknya ada yang memuja nama ‘Yahweh’ dalam bahasa asli Ibrani dan beranggapan nama itu tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa manapun, dan terutama menolak penggunaan nama ‘Allah’ dalam Alkitab Indonesia yang dianggap nama berhala Arab.



II. BANGSA & BAHASA IBRANI


Ada anggapan bahwa bangsa Ibrani adalah bangsa istimewa dengan bahasanya yang bersifat surgawi yang digunakan dari kekal sampai kekal oleh Tuhan dan umatnya, dari anggapan demikian dipercaya bahwa bahasa Ibrani harus dipegang teguh dan nama ‘Yahweh’ dalam bahasa Ibrani tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Benarkah demikian?

Bangsa Ibrani biasanya dikaitkan dengan ‘Eber’ yang adalah cucu Arphaksad, anak Sem, jadi tergolong rumpun Semitik (keturunan Sem, Kejadian 10:21-25). Eber beranak Peleg, dan Peleg beranak Yehu, dan Yehu beranak Serug. Serug kemudian beranak Nahor, dan Nahor beranak Terah yang adalah ayah Abram (Kejadian 11:10-26). Abram yang kemudian berganti nama menjadi Abraham disebut sebagai orang Ibrani (Kejadian 14:13).

Perlu disadari bahwa bahasa Ibrani bukanlah bahasa surgawi, malah dalam perkembangannya bahasa ini rentan terhadap pengaruh bahasa-bahasa lingkungan yang kemudian memberi nafas sinkretis ke dalamnya. Bahasa Ibrani Kuno mulai berkembang pada abad-11sM dan tumbuh dari percampuran bahasa Kanani dan Amorit dan menggunakan huruf Kanaan kuno yang terdiri dari 22 huruf. Sekalipun sempat digunakan sebagai bahasa percakapan di samping bahasa Aram pada pemerintahan Sanherib (700sM), pada abad-6sM, bahasa Ibrani yang terdiri dari konsonan itu menjadi bahasa mati (bukan bahasa percakapan) yang hanya digunakan sebagai Ibrani Kitab Suci. Lama kelamaan bahasa ini tidak dimengerti oleh orang banyak terutama sejak Pembuangan ke Babel, hingga harus diterjemahkan ke dalam bahasa Aram pada masa Ezra (Neh.8:2-9), bahkan sebagian kitab Ezra (4:8–6:18;7:12-26) , Yeremia (10:11) dan Daniel (2:4b–7:28), ditulis dalam bahasa Aram.

Setelah semua kitab Tenakh (PL) ditulis, pada abad-3 sM, berkembang bahasa tulis Ibrani Misnah yang berbeda dengan Ibrani Kitab Suci dan memasukkan kosakata bahasa Aram, Yunani dan Latin. Sejalan dengan penguasaan budaya helenis sekitar Laut Mati setelah expansi raja Alexander Agung, pada abad-3sM, Tenakh diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta, LXX). Ibrani Misnah hanya digunakan untuk salin-menyalin kitab suci sedangkan bahasa percakapan umum sehari-hari menggunakan bahasa Aram dan Yunani. Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani Koine.

Sejak abad-6M Ibrani Miznah disusul Ibrani Para Rabi, yang kemudian banyak dipengaruhi bahasa Arab (abad-7 dst) sejalan dengan pendudukan Yerusalem oleh orang Arab namun hanya digunakan sebagai bahasa tulisan. Bahasa Aram dan Arab menggantikan Yunani sebagai bahasa percakapan dan pada periode ini dibuat tanda baca dan vokal oleh keluarga Masoret (abad-6–9M).

Bahasa Ibrani baru mengalami kebangunan sebagai bahasa percakapan Ibrani Modern, sejalan dengan kebangkitan nasionalisme Yahudi pada abad-19 (Kongres Zionis Sedunia, 1879). Ibrani modern berbeda dengan Ibrani masa-masa sebelumnya karena sudah terlalu lama terpengaruh bahasa Aram, Yunani, Latin dan kemudian Arab. Baru pada tahun 1948 bahasa Ibrani Modern menjadi bahasa nasional sejak kemerdekaan Israel.



III. NAMA EL IBRANI & ALLAH ARAB


Tuhan El (dengan padanannya Elohim & Eloah), nama Tuhan yang pertama digunakan dalam Alkitab Kejadian, sebenarnya berasal dari sesembahan ‘il’ Semitik Mesopotamia yang kemudian berkembang dalam dialek-dialek suku-suku keturunan yang kemudian terpencar dari sumber itu. Kita perlu menyadari bahwa para leluhur yang diceritakan dalam kitab Kejadian sebelum migrasi Terah, tinggal di Mesopotamia sekitar sungai Efrat dan Tigris (Kejadian 10-12). Kemudian Terah dan keluarganya termasuk anaknya Abram meninggalkan Mesopotamia dan bermigrasi ke Kanaan (Kejadian 11:31).

Sebagai nama sesembahan, ‘il’ Semitik lebih banyak digunakan sebagai ‘sebutan/ panggilan/gelar’ pada awal bahasa Semitik. Kenyataan ini ditunjukkan dengan jelas di Semitik Timur, Akkadian Kuno (ilu) dan dialek di bawahnya sebelum masa Sargon (2360sM) dan berlanjut sampai masa Babilonia Akhir. Penggunaan sebagai sebutan dijumpai di Semitik Barat Laut, Amorit (ilu, ilum, ila), Ugarit, Ibrani (el), dan Funisia. Di Semitik Selatan ‘il’ dipakai dalam dialek-dialek Arab Selatan, tetapi di Arab Utara disebut ‘ilah.’

Ternyata di kalangan Semitik ‘ilu’ dan ‘el’ juga digunakan sebagai nama diri. Penemuan teks Ugarit pada tahun 1929, menunjukkan bahwa ternyata dalam pentheon Kanaan, ‘il’ adalah nama diri kepala pantheon dan penggunaan sebagai sebutan jarang digunakan. Di Semitik Timur juga dijumpai penggunaan ‘il’ sebagai nama diri sesembahan, juga di Akkadian Kuno. Nama diri ini juga disebut sebagai ‘ilu’ dan ‘ilum’. Seringnya penggunaan ‘il’ sebagai nama diri dalam tulisan ketuhanan di Akkadian menunjukkan bahwa sesembahan ‘il’ (kemudian ‘el’ semitik) adalah tuhan kepala di dunia Semitik Mesopotamia pada masa pra-Sargon.

Penemuan penggalian di Amorit menunjukkan bahwa pada abad-18sM, tuhan ‘il’ memiliki peran besar, dan acapkali dipanggil sebagai ‘ila’ atau ‘ilah.’ Di Arab Selatan, juga dijumpai ‘il’ sebagai nama diri. Dapat disimpulkan bahwa sejak masa awal bahasa-bahasa Semitik di Semitik Timur, Semitik Barat Laut, dan Semitik Selatan, ‘il/el’ sudah digunakan bersama baik sebagai sebutan maupun nama diri, dan sebagai Bapak dan Pencipta Langit dan Bumi.

Dari fakta di atas kita dapat mengetahui bahwa ‘il’ atau ‘el’ memang berasal dari sejarah Semitik Mesopotamia yang kemudian berkembang dalam berbagai dialek menjadi il, ilu, ilum, ila, ilah’, yang dalam dialek Ibrani menjadi ‘el’ yang adalah pencipta langit dan bumi dan yang memanggil Abraham. Kelihatannya untuk membedakan dengan nama sesembahan lain, ketika Musa bertanya dinyatakan nama kedua yaitu ‘Yahweh’ (Keluaran 6:1-2) sebagai Tuhannya khas orang Israel yang keluar dari Mesir, namun selanjutnya, nama diri ‘El’ juga masih digunakan sebagai sinonim Yahweh (bandingkan: ‘El Elohe Yisrael,’ Kej.33:20 dengan ‘Yahweh Elohe Yisrael,' Yosua 8:30)

Dalam dialek Semitik Arab, ‘il’ disebut ‘ila’ atau ‘ilah’ (Allah = al-ilah. Dalam dialek Aram Siria kata sandang diletakkan di belakang (alaha), dalam dialek Ibrani penggunakan kata sandang ‘ha’ di depan untuk ‘el’ tidak umum). Kita mengetahui bahwa dari sumber Islam maupun Kristen bangsa Arab adalah keturunan dari empat jalur Semitik, yaitu melalui keturunan Aram (anak Sem - Palestina Timur Laut), keturunan Yoktan (anak Eber - Arab Selatan), keturunan Ismail (anak Abraham – Arab Utara), dan juga melalui keturunan Ketura (selir Abraham). Dari sini kita dapat melihat bahwa bangsa Arab termasuk rumpun Semitik (keturunan Aram anak Sem), Ibranik (keturunan Quathan/Yoktan anak Eber), dan juga Abrahamik (keturunan Adnan, keturunan Ismail anak Ibrahim), jadi bersaudara dengan orang Israel yang juga termasuk rumpun Semitik (keturunan Arphaksad anak Sem), Ibranik (keturunan Pelek anak Eber), dan Abrahamik (keturunan Ishak anak Abraham).

Dari kitab suci Yahudi (Tenakh/Perjanjian Lama), Kristen (Perjanjian Lama & Baru), maupun Islam (Al-Quran), kita dapat melihat nama-nama yang menunjuk orang-orang yang sama sekalipun dengan dialek berbeda (Abraham/Ibrahim, Yesus/Isa) dan pengajaran/aqidah yang berbeda pula. Peringatan Idul-Adha menunjuk pada nama sesembahan yang sama yaitu ‘El’ Abraham (Ibrani) atau ‘Allah’ Ibrahim (Arab), namun berbeda dalam pengajaran/aqidahnya. Perjanjian Lama (Kejadian 22:1-2) maupun Perjanjian Baru (Ibrani 11:17-19) menyebut Ishak yang dikorbankan Abraham, Al-Quran (QS.37:99-113) tidak secara eksplisit menyebutkannya tetapi tradisi Arab menyebut nama Ismail sebagai yang dikorbankan Ibrahim.



IV. BANGSA & BAHASA ARAB


Persaudaraan Yahudi dan Arab tidak bisa disangkali dari fakta sejarahnya. Sumber Islam mengakui bahwa bangsa Arab adalah termasuk rumpun Semitik, jadi bersaudara dengan Yahudi:

    "Masyarakat Semit yang merupakan penduduk asli gurun pasir Arabia ... . Masyarakat yang berdarah Arab asli dan berbahasa Arab tersebar di sepanjang jazirah Arabia, terbentang dari Yaman dan pantai Afrika dekat Yaman sampai kepada gurun pasir Syria dan Irak Selatan ... . Tradisi Arabia Selatan yang diyakini bahwa mereka merupakan keturunan dari seorang nabi bernama Quahthan, yang di dalam Bibel disebut Joktan, dan Tradisi Arabia Utara yang diyakini sebagai keturunan nabi Adnan, dan darinya terbentuk keturunan Isma'il, putra Ibrahim ... . Istilah Arab berarti "Nomads". Bangsa Arab Utara dipandang sebagai Arab al-Musta'ribah (Arab yang di Arabkan), sementara bangsa Arab keturunan Quahthan yang tinggal di wilayah selatan menamakan dirinya sebagai Arab Muta'arribah, atau suku-suku hasil percampuran dengan Arab al-'Aribah (Arab Asli) ... . Kelompok Arab yang asli ini, yakni keturunan Aram putra Shem putra nabi Nuh".[1]

    "Adnan. Anak turunan Nabi Isma'il yang menjadi nenek moyang suku-suku Arabia Utara ... nenek moyang suku Arabia Selatan adalah Quahthan, yang dalam Bibel disebut Joktan".[2]


Sedangkan sumber Kristen pun juga mengakui bahwa sebenarnya bangsa Arab bersaudara dengan bangsa Yahudi:

    "Berita Alkitab yang pertama yang memberikan penjelasan mengenai penduduk Arabia adalah Daftar Bangsa-Bangsa dalam kitab Kejadian 10, yang mencantumkan sejumlah orang-orang Arab Selatan sebagai keturunan Yoktan dan Kusy. Kemudian hari sejumlah suku-suku dari Arab Utara disebut sebagai keturunan Abraham melalui Keturah dan Hagar (Kejadian 25). Lagi di antara keturunan Esau (Kejadian 36) sejumlah orang Arab disebut. Di masa Yakub, dua kelompok keturunan Abraham yaitu orang-orang Ismaili dan Medianit dijumpai sebagai pedagang-pedagang caravan (Kejadian 37:25-36)".[3]

    "orang Arab mencakup keturunan Aram (Kejadian10:22), Eber (Kejadian 10:24-29), Abraham dari Keturah (Kejadian 25:1-4) dan dari Hagar (Kejadian 25:13-16) ... Keturunan Joktan (anak Eber) mencakup beberapa suku Arab (Kejadian 10:26-29)".[color=red[4][/color]


Jadi, apakah diterima atau tidak, kenyataan sejarah menunjukkan bahwa bangsa Yahudi dan Arab adalah saudara sedarah dengan adanya nenek moyang yang sama, dan dengan demikian sesembahan nenek moyang mereka adalah sama dengan nama ‘Allah’ dalam dialek Arab, sekali pun ajaran/aqidah mengenai El/Allah yang sama itu berbeda karena perbedaan wahyu yang tercantum dalam kitab suci masing-masing yang dianggap sebagai benar dan berotoritas.


-----------------------------------------------
Catatan :

[1] Bangsa Arab, dalam Cyril Glasse, Ensiklopedia Islam, h.49-50.
[2] Adnan, dalam Glasse, h.12-13.
[3] Arabia, dalam The New Bible Dictionary, h.54.
[4] Arabians, dalam The Interpreter's Dictionary of the Bible, vol-1, h.182.



V. NAMA YHVH


Selain nama ‘El/Elohim/Eloah’, ternyata Tuhan memberikan nama kedua pada umat Israel melalui Musa (Keluaran 6:1-2), yaitu nama ‘Yahweh,’ sebab pada para leluhur baru dinyatakan nama ‘El’ (Shadday), tetapi bagaimana dengan kitab Kejadian, dimana para leluhur ditulis sudah mengenal nama YHVH (Dalam Alkitab LAI diterjemahkan TUHAN, atau LORD dalam bahasa Inggeris)?

Bila kita mempelajari sifat-sifat Tuhan ‘El’ dan ‘YHVH’, sekalipun keduanya memiliki teologi sama, dapat dilihat bahwa ada sifat baru yang ditunjukkan nama ‘Yahweh,’ yaitu sebagai Tuhan yang menyelamatkan/membebaskan Israel dari perbudakan di Mesir yang dikenal dimasa Keluaran, ini menunjukkan bahwa nama itu baru dikenal bangsa Israel melalui Musa. Tuhan ‘Yahweh’ adalah khas Israel, Tuhan yang dinamis, yang memberikan keteguhan iman bagi Israel dan yang menyatukan mereka menghadapi penindasan perbudakan di Mesir. Tuhan yang menyatakan diri dengan nama baru khas padang gurun ‘Sinai’ itu bisa kita lihat petunjuknya di banyak kitab lain dalam Alkitab Perjanjian Lama (Tenakh) yang tidak bergantung satu dengan lainnya (a.l. Hosea 2;13:4; Yesaya 43:3; Yeremia 2:1 dst; Yehezkiel 20; Amos 2:10 dst; 5:25; dan yang juga dinyatakan penyair kuno Israel yang menyanyikan nyanyian kemenangan seperti dalam nyanyian Debora dalam Hakim 5 dan Mazmur 68:8 dst.).

Kelihatannya dalam proses penulisan dan penyalinan ada usaha intervensi teologis kaum Yahwis untuk mengubah nama ‘El’ dalam kitab Kejadian dengan nama yang baru diperkenalkan itu, dimana kemudian nama ‘YHVH’ tidak sekedar disebut secara eksklusif sebagai ‘Tuhan Israel’ tetapi diperpanjang sampai ke ayat Kejadian dan disebut bahwa “Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN” (Kejadian 4:26. Enos artinya manusia) untuk menunjukkan bahwa Yahweh juga Tuhan umat manusia. Bahkan keberadaan nama ‘Yahweh’ itu kemudian dikaitkan dengan “Penciptaan langit dan bumi” (Kejadian 2:4-7), dan kemudian menghiasi banyak halaman kitab Kejadian (Kitab Pentateuch menurut tradisi ditulis oleh Musa yang sudah diperkenalkan dengan nama YHVH).

    “Yahwis mempunyai pandangan lain. Menurutnya, YHVH adalah Allah seluruh umat manusia sejak awal kejadian dunia, dan ‘ibadat kepada Yahweh’ didirikan oleh Enos, sebagai wakil umat manusia pada zaman awal sekali (Kejadian 4:26). Pandangan demikian tidak sesuai dengan kepercayaan bahwa Yahweh baru bertemu Israel di padang gurun. Tampaknya, pandangan Yahwis itu merupakan pandangan teologis dan bukan ingatan historis. Pandangan teologis ini sesuai dengan cara pemikirannya, yaitu bahwa penyataanYHVH bersifat universal dan berlaku untuk seluruh dunia” (Th.C.Vriezen, Agama Israel Kuno, h.125).


Petunjuk lain bahwa Tuhan dengan nama ‘YHVH’ belum dikenal di kitab Kejadian bisa dilihat dari fakta bahwa selama berada di Kanaan, para leluhur dengan Tuhan mereka yang bernama ‘El’ rukun-rukun saja berdampingan dengan orang Kanani yang menyembah Baal, padahal sesudah Keluaran Israel secara tegas dengan nama ‘YHVH’ membumi-hanguskan orang Kanani tanpa ampun. Bahwa Abraham juga belum mengenal nama ‘YHVH’ bisa dilihat dari fakta bahwa ia memberi nama anaknya ‘Ismael’ yang mengandung nama ‘El’ dan bukan nama ‘Yah’. Absennya nama yang mengandung nama ‘Yah’ dalam kitab Kejadian yang banyak hadir sejak kitab Keluaran seperti Abi’yah’, Eli’yah’, dan Yesa’yah’, tetapi hanya nama-nama yang mengandung nama ‘El’ seperti a.l. Bab ‘El’ (gerbang El), Mehuya’el’ & Metusa’el’ (Kejadian 4:18), Isra’el’ (El yang bergumul. Kejadian 32:28) dan Ismael (El telah melihat. Kejadian 16:11), menunjukkan bahwa di masa kitab Kejadian kenyataannya hanya dikenal ‘El elohe Yisrael’ (Kejadian 33:20) dan Ialah ‘El Beth ‘El’’ (Kejadian 35:7).

Ujian iman Abraham (yang dirayakan Islam sebagai ‘Idul Adha’) menunjukkan bahwa nama ‘YHVH’ tidak dikenal dalam jalur bangsa Arab keturunan ‘Ismael,’ bahkan Hagar menamai Tuhannya ‘El Roi’ (El yang melihat). Ini memperkuat bukti bahwa nama ‘YHVH’ belum dikenal pada saat Abraham dan baru sesudah Musa keturunan Ishak-Yakub-lah nama ‘YHVH’ dikenal dalam jalur bangsa Israel. Kenyataan ini menunjukkan indikasi bahwa nama Tuhan semula adalah ‘El’ dan baru dalam masa Keluaran dinyatakan nama kedua ‘YHVH,’ namun sekalipun demikian nama ‘El’ masih terus digunakan sebagai sinonim Yahweh sesudah Keluaran (Bilangan 23:4,8,19,22-23;Mazmur 85:8-9;Yesaya 42:5). Demi menguduskan nama Yahweh, Yahweh sering digantikan nama ‘Adonai’ yang bisa berarti ‘YHVH’, ‘Tuhan’ atau Tuan. Yesus diberi dua nama yang mengandung kedua nama itu, yaitu ‘Imanuel’ (El menyertai kita. Matius 1:23) dan ‘Yesus’ (Yahweh adalah keselamatan. Matius 1:21).



VI. PENERJEMAHAN NAMA TUHAN


Dalam Tenakh, nama Tuhan adalah ‘El/Elohim/Eloah’ dan ‘YHVH/Adonai,’ apakah nama ini boleh diterjemahkan? Ternyata data Alkitab memungkinkan hal itu, apalagi bila diingat bahwa bahasa Ibrani bukan bahasa surgawi yang kekal melainkan selalu dalam bahaya dipengaruhi bahasa-bahasa Aram, Yunani, Latin, dan Arab. Sebagian kitab Ezra, Yeremia dan Daniel menerjemahkan ‘El/Elohim/Eloah’ dengan ‘Elah/Alaha’ dalam bahasa Aram dan Yahweh/Adonai dengan ‘Rabb.’ Adanya fakta sudah tidak digunakannya bahasa Ibrani dalam percakapan umum, pada abad-3sM, atas permintaan Ptolomeus Philadelphus, Imam Besar ‘Eliezer’ di Yerusalem mengutus 72 tua-tua Israel ke Alexandria untuk menerjemahkan Tenakh ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta/LXX), dimana nama ‘Yahweh/Adonai’ diterjemahkan menjadi ‘Kurios’ dan ‘El/Elohim/Eloah’ menjadi ‘Theos.’

Selain Tenakh yang digunakan sebagai kitab suci di Bait Allah, LXX-lah yang digunakan umat Yahudi secara umum termasuk di sinagoge. Yesus membaca LXX ketika berkotbah di sinagoge di Nazaret (Lukas 4:16-19) dan bukan naskah Tenakh (bandingkan dengan teks Yesaya 61:1-2 (LAI) yang diterjemahkan dari teks Ibrani Masoret). Dalam Perjanjian Baru tidak ada ayat yang menunjukkan bahwa Allah Bapa di sorga melarang penggunaan LXX, padahal Yesus dan para Rasulnya mengutip Septuaginta dan PB ditulis dalam bahasa Yunani. Roh Kudus menerjemahkan kotbah Petrus ke dalam bahasa-bahasa asing termasuk yang didengar orang Arab (Kisah 2:1-11).

Kita harus menyadari bahwa Yesus dan orang Israel dalam percakapan sehari-hari tidak menggunakan bahasa Ibrani melainkan bahasa Aram dan Yunani, dan Alkitab PB ditulis dalam bahasa Yunani koine (umum). Kalau Alkitab LAI menyebut ‘bahasa Ibrani’ (seperti di atas kayu salib), itu terjemahan kata Yunani ‘hebraisti’ (lidah Ibrani, Yohanes 5:2;19:20;20:16; Wahyu 9:11;16:16) atau ‘hebraidi dialektos’ (dialek Ibrani, Kisah 21:40 – 22:2; 26:14), yang maksudnya adalah bahasa Aram.



VII. NAMA ALLAH DALAM ALKITAB INDONESIA


Sekarang, yang menjadi masalah, apakah terjemahan ‘YHVH/Adonai’ dan ‘El/Elohim/Eloah’ dalam Alkitab Indonesia dapat dibenarkan dan bagaimana terjemahan itu?

Kita sudah mengetahui bahwa agama Yahudi bersifat sentripetal berpusat pada kota Yerusalem dan bangsa/bahasa Ibrani, namun agama Kristen bersifat sentrifugal dari “Yerusalem, Samaria, sampai ke ujung Bumi” bahkan Roh Kudus sendiri ikut menyebarkan nama Tuhan dalam berbagai bahasa.

Penerjemahan nama ‘YHVH/Adonai’ menjadi TUHAN/Tuhan tidak salah selama ajarannya sesuai Alkitab, demikian juga penerjemahan ‘El/Elohim/Eloah’ menjadi ‘Ilah/Allah’ (dialek Arab) justru tepat, daripada diterjemahkan ‘theos’ atau lainnya, sebab ‘Allah’ adalah dialek Arab untuk ‘El/Elohim/Eloah’ dan paling dekat dengan dialek Ibrani dan Aram (‘Elah/Alaha’ dialek Aram-Siria).

Penggunaan nama ‘Allah’ di kalangan berbahasa Arab untuk menyebut ‘El’ sudah dilakukan sejak berkembang bahasa Arab keturunan Aram, Yoktan, dan selanjutnya keturunan Abraham melalui Hagar dan Keturah. Tidak dikenalnya nama Yahweh di kalangan Arab menunjukkan bahwa memang nama ‘Yahweh’ belum dikenal Abraham/Ibrahim dan Ismael yang menurunkan bangsa Arab. Pengaruh kuat bahasa Aram sejak zaman Ezra yang kemudian menurunkan bahasa Arab menunjukkan bahwa penggunaan nama ‘Alaha’ dan ‘Allah’ bukan barang baru di kalangan bangsa Arab yang beragama Yahudi maupun agama ‘Hanif’ (Yang mempercayai Allah Ibrahim) dan sudah terjadi sebelum ada agama Kristen, dan setelah ada agama Kristen nama itu tentu juga yang disebut oleh orang Arab yang hadir di hari Pentakosta (Kisah 2:11). Sumber Islam menyebutkan:

    "Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa' (tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya ditujukan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail”.[5]


Di kalangan bangsa Arab yang beragama Kristen, penggunaan nama ‘Allah’ sudah terjadi sejak awal kekristenan jauh sebelum masa jahiliah Arab. Nama ‘Elah/Alaha’ sudah digunakan Alkitab ‘Peshitta’ Aram-Siria yang ditulis pada abad-2–3M. Pada Konsili Efesus (431) sudah ada uskup Arab Harits bernama ‘Abd Allah’. Di kalangan Kristen Arab, inskripsi Zabad (512) diawali ‘Bism al-Ilah’ (Dengan nama Allah) lengkap dengan tanda salib, demikian juga Inskripsi ‘Umm al-Jimmal’ (abad-6) menyebut ‘Allahu ghafran’ (Allah yang mengampuni). Inskripsi ‘Hurran al-Lajja’ (568) dan inskripsi-inskripsi lain pra’Islam’ dari lingkungan Kristen menggunakan nama Allah pula.


Dalam Al-Quran nama Allah disebut digunakan bersama baik oleh umat Islam maupun Nasrani seperti dalam kutipan berikut:[6]

    "Kami telah beriman kepada Allah dan (Kitab) yang diturunkan kepada kami dan apa2 yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak2nya, (begitu juga kepada kitab) yang diturunkan kepada Musa dan 'Isa, dan apa-apa yang diturunkan kepada nabi2 dari Tuhan mereka, tiadalah kami perbedakan seorang juga diantara mereka itu dan kami patuh kepada Allah." (QS.2:136)

    "(Yaitu) orang2 yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena mereka mengatakan: Tuhan kami Allah. Jikalau tiadalah pertahanan Allah terhadap manusia, sebagian mereka terhadap yang lain, niscaya robohlah gereja2 pendeta dan gereja2 Nasrani dan gereja2 Yahudi dan mesjid2, di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (QS.22:40)


Saat ini ada empat Alkitab bahasa Arab dan keempatnya menggunakan nama ‘Allah’, dan penggunaan ‘nama Allah’ bersama-sama oleh umat Islam dan Kristen di negara-negara berbahasa Arab tidak pernah menjadi masalah. Di Malaysia memang pernah ada negara bagian yang melarang penggunaan nama ‘Allah’ sehingga Alkitab bahasa Indonesia pernah dilarang masuk ke Malaysia, namun sekarang larangan itu sudah melunak, dan telah terbit Alkitab dalam Bahasa Melayu (BM) yang juga menggunakan nama Allah.

Nurcholish Majid, cendekiawan Muslim ketua universitas 'Paramadina,' mengenai banyaknya umat Islam Indonesia yang mengira bahwa istilah "Allah" itu khusus Islam, Cak Nur mengingatkan bahwa selain claim itu bertentangan dengan Qur'an sendiri (QS.12:106), juga bertentangan dengan kenyataan bahwa dari dahulu sampai sekarang, di kalangan bangsa Arab terdapat kelompok-kelompok non-Islam, yaitu Yahudi dan Kristen dan mereka juga menyebut Allah".[7]

Olaf Schumann, doktor teologi yang memperdalam Islamologi di Universitas Al-Ashar – Mesir selama tiga tahun, jadi tahu dengan benar situasi apa yang terjadi di negara Arab, mengungkapkan dengan jelas bahwa nabi Muhammad sendiri mengakui bahwa orang Kristen menggunakan nama yang sama unuk sesembahan mereka namun memang ada masalah di sini:

    "Hal itu diakui pula dalam Al-Quran sendiri di mana nabi Muhammad dalam percakapan dengan orang Kristen dan Yahudi menggunakan pula kata Allah dan dengan sendirinya dicatatlah dalam buku suci umat Islam itu bahwa orang Yahudi dan Kristen menggunakan kata yang sama. Dalam tradisi Islam berbahasa Arab pun tidak pernah dipersoalkan bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen menggunakan istilah yang sama dengan orang Islam untuk menyatakan Dia yang menjadi tujuan ibadah dan amal mereka. ... Memang tidak dapat disangkal adanya suatu masalah. Namun yang menjadi masalah ialah soal dogmatika atau 'aqida,’ sebab tiga agama surgawi itu mempunyai faham dogmatis yang berbeda mengenai Allah yang sama, baik hakekatnya maupun pula mengenai cara pernyataannya dan tindakan-tindakannya".[8]



Ensyclopaedia Britannica menyebut bahwa nama ‘Allah’ digunakan orang Kristen dan Islam:

    "Etymologically, the name Allah is probably a contraction of the Arabic al-Ilah, "the God." The name's origin can be traced back to the earliest Semitic writings in which the word for god was Il or El, the latter being an Old Testament synonim for Yahweh. Allah is the standard Arabic word for "God" and is used by Arab Christians as well as by Muslims." (dibawah kata ‘Allah’).


Dalam Ensiklopedia Islam disebut:

    "Kata "Allah" merupakan sebuah nama yang hanya pantas dan tepat untuk Tuhan, yang melalui kata tersebut dapat memanggil-Nya secara langsung. Ia merupakan kata pembuka menuju Esensi (hakikat) ketuhanan, yang berada di balik kata tersebut bahkan yang tersembunyi di balik dunia ini. Nama "Allah" telah dikenal dan dipakai sebelum al-Qur'an diwahyukan; misalnya nama Abd al-Allah (hamba Allah), nama Ayah Nabi Muhammad. Kata ini tidak hanya khusus bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang, oleh ummat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja Timur, digunakan untuk memanggil Tuhan". [9]


-----------------------------------------------
Catatan :
[5] Glasse, h.50.
[6] Dikutip dari kitab Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim.
[7] Islam, Doktrin dan Peradaban, h.xcv.
[8] Keluar Dari Benteng Pertahanan, h.175,177.
[9] Glasse, h.23.



VIII. SATU ALLAH TIGA AGAMA


Perlu disadari, ketiga agama Semitik/Samawi menyembah El/Allah yang sama yang disembah Abraham/Ibrahim yang sama pula. Yang membedakan adalah pengajaran/aqidah mengenai Allah yang sama itu berbeda. Agama Yahudi mempercayai Allah Abraham yang memberikan perjanjian melalui Abraham, Ishak dan Yakub (sesuai Tenakh). Agama Kristen percaya juga dan penggenapannya dalam Yesus Kristus (sesuai PL & PB), ini diragukan keotentikannya oleh agama Yahudi. Agama Islam secara implisit beriman pada kitab-kitab Yahudi & Kristen (QS.2:136) namun secara eksplisit meragukan keotentikannya, dan beriman pada Allah Ibrahim namun juga wahyu yang dipercayai diterima oleh Muhammad. Wahyu ini diragukan keontentikannya oleh agama Yahudi maupun Kristen.

Nama ‘Allah’ pada masa jahiliah merosot ditujukan kepada dewa berhala kafir, namun Islam imengembalikan pengertian itu pada ‘Allah’ kaum Hanif yang menganut ajaran Ibrahim. Demikian juga dalam sejarah Israel, nama ‘Elohim’ dan ‘Yahweh’ juga pernah merosot ditujukan kepada berhala Anak Lembu (Keluaran 32:1-6 & 1Raja 12:28) namun Musa ingin mengembalikan pengertian itu kembali kepada ‘Yahweh, Elohim Israel.’ (Keluaran 32:26-27). Dalam inskripsi kuno di Kuntilet Ajrud (dekat Nablus) tertulis nama Yahweh dipuja bersama dewi kesuburan Asyera (bandingkan 2 Raja 17:16).

Di negara-negara berbahasa Arab selama 15 abad lebih penggunaan nama ‘Allah’ bersama oleh umat Kristen dan Islam tidak pernah menjadi masalah. Nama Allah dalam bahasa Arab sudah masuk menjadi kosakata bahasa Indonesia, dan Alkitab bahasa Indonesia sudah menggunakan nama itu selama 4 abad dan tidak ada masalah selama ini dan andaikan ada konflik antar agama isu nama Allah tidak pernah menjadi penyebab. Sekalipun berbeda dalam ajaran/aqidah, kesamaan Allah yang disembah ketiga agama semitik/samawi itu seharusnya bisa menjadi perekat kesatuan bangsa Indonesia yang selama ini berdampingan secara damai, dan sekaligus sebagai tempat berpijak yang sama untuk memulai dialog dan kesaksian Kristiani. Kiranya diskusi ini memperjelas kebenaran kata ‘Allah’ sebagai nama sesembahan semitik dalam dialek Arab yang sudah di Indonesiakan. Amin!



-----------------------------------------------

*) Makalah ini disampaikan dalam Seminar tentang Penerjemahan Nama Allah yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia dalam rangka HUT ke-51, bertempat di Auditorium Museum Nasional, Jakarta Pusat, pada tanggal 11 Februari 2005.

**) Penulis adalah seorang arsitek yang mendalami studi perkotaan, dan juga mempelajari teologi. Saat ini menjadikan pelayanan firman Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup dan menjadi ketua YABINA ministry (http://www.yabina.org, dh. Yayasan Bina Awam), dan mengajar di STT-Bandung.


Top
 Profile  
 
 Post subject: ‘ALLAH’ NAMA SIAPA?
PostPosted: Mon Jan 21, 2008 6:50 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6387
‘ALLAH’ NAMA SIAPA?



Image


Oleh : Herlianto


Bulan Desember 2007 dunia dikejutkan keputusan Pemerintah Malaysia yang tidak memperpanjang izin terbit ‘The Herald,’ berita mingguan gereja Katolik, alasannya ‘The Herald’ menggunakan nama ‘Allah’ untuk menyebut Tuhan dan nama itu dianggap nama tuhannya agama Islam. Pada akhir Desember izin itu kemudian diberikan, namun penggunaan nama Allah tetap dilarang. Fanatisme kepemilikan nama ‘Allah’ juga pernah dilontarkan sekelompok kecil masyarakat di Indonesia namun karena tokoh-tokoh muslim menyadari bahwa klaim itu tidak berdasar maka kemudian dilupakan.

Sungguh menarik untuk dicermati, karena akhir-akhir ini, lagu ‘Rasa Sayange, Angklung, bahkan Reog Ponorogo’ dianggap milik Malaysia, dan kini nama ‘Allah’ bahasa Arab di klaim pula sebagai milik orang Malaysia, padahal orang Arab sendiri yang memiliki bahasa itu tidak mempersoalkannya dan nama ‘Allah’ bersama digunakan baik oleh orang berbahasa Arab yang beragama Yahudi, Kristen, maupun Islam. Injil pertama dalam bahasa Melayu (Corneliz Ruyl, 1629) sudah menulis nama ‘Allah’ didalamnya empat abad yang lalu.

Nama ‘Allah’ adalah nama untuk menyebut Tuhan semitik dalam bahasa Arab, dan nama ini sudah disebut jauh sebelum agama Islam hadir di abad-VII, sedini kehadiran bahasa Arab. Agama Semitik (Yahudi, Kristen, Islam) berasal dari rumpun keturunan Sem. Arphaksad adalah putra Sem yang menurunkan bangsa Ibrani (dikaitkan nama Eber cucu Arphaksad), dan Aram putra Sem menurunkan bangsa Aram dan Arab. Dalam hal bahasa, Aram lebih dahulu mengembangkan bahasanya dan nenek moyang bangsa Ibrani mengembangkan bahasa Ibrani dengan berakulturisasi dengan bahasa Kanani dan Amorit dan menggunakan abjad Kanani kuno (Funisia) yang kemudian berkembang dalam bentuk bulat karena pengaruh bahasa Aram.

Abraham berasal dari Mesopotamia dan berbahasa Aram, setelah hijrah ke Palestina, Ishak anaknya mengawini iparnya Ribka, saudara Laban yang tinggal di Mesopotamia, Laban dicatat Alkitab sebagai orang Aram berbahasa Aram (Kejadian 31:20,47). Yakub, putra Ishak dan Ribka, mengawini Lea dan Rachel anak-anak Laban yang berbahasa Aram juga. Jadi orang Israel (keturunan Yakub) mengikuti bahasa Aram bahasa nenek dan ibu mereka. Alkitab menyebut orang Israel adalah keturunan Aram (Kejadian 25:5).

Ensiklopedia Islam (Cyrill Glasse, hlm.49-50) menyebut bangsa Arab adalah masyarakat Semit keturunan Quathan (Joktan, anak Eber) dan juga Adnan (hlm.12-13) yang menurunkan keturunan Ismael (putra Abraham), jadi bangsa Arab merupakan keturunan Semitik, Ibranik dan Abrahamik juga. Bahasa Arab berasal bahasa kuno Aram dan aksaranya merupakan perkembangan dari aksara Nabatea Aram.

Nama Tuhan ‘El’ (Il) sudah lama dikenal di Mesopotamia, dan dalam dialek Aram nama itu disebut ‘Elah/Elaha (atau Alah/Alaha),’ di Israel disebut ‘El/Elohim/Eloah,’ dan dalam bahasa Arab disebut ‘Ilah/Allah.’ Kata sandang difinitif dalam bahasa Aram adalah ‘Ha’ yang diletakkan di belakang kata, dalam bahasa Ibrani diletakkan di depan (Ha Elohim), sedangkan dalam bahasa Arab kata sandang ditulis ‘Al’ diletakkan di depan (Al-Ilah). Jadi baik El/Elohim/Eloah, Elah/Elaha, dan Ilah/Allah menunjuk kepada Tuhan Monotheisme Abraham yang sama, baik sebagai nama pribadi maupun sebutan untuk ketuhanan.

Di Israel, nama ‘El/Elohim’ adalah nama Tuhan sebelum nama ‘Yahweh’ diperkenalkan kepada Musa (Keluaran 6:1-2), itulah sebabnya sebelum Keluaran tidak ada nama orang yang diberi identitas nama ‘Yahweh’ (seperti Eli’yah’) tetapi nama ‘El’ (a.l. Metusael, Ismael, Israel), dan sekalipun nama Yahweh sudah diperkenalkan, nama El tetap digunakan sebagai nama diri Tuhan. ‘El, elohe Yisrael’ (Kejadian 33:20;46:3) disetarakan dengan ‘Yahweh, elohe Yisrael’ (Keluaran 32:27; Yoshua 8:30). Dalam Perjanjian Lama, nama Elah/Elaha sudah ada dan ditulis pada abad-VI sM dalam kitab Esra yang ditulis dalam bahasa Aram dengan aksara Ibrani ‘Elah Yisrael’ (Allah Israel, 5:1; 6:14). Dalam Alkitab Aram Siria (Peshita) digunakan nama Elah/Elaha juga.
Setelah berkembangnya bahasa Arab, nama itu menjadi Ilah/Allah, dan orang-orang Yahudi yang berbahasa Arab dan orang Arab yang mengikuti kepercayaan Yahudi juga menggunakan nama Allah itu. Pada jemaat Kristen pertama sudah ada orang Arab yang percaya dan menyebut nama Tuhan dalam bahasa mereka sendiri (Kisah 2:8-11, yang tentunya ‘Allah’), dan rasul Paulus menyebut “Hagar adalah gunung Sinai di tanah Arab’ yang melahirkan anak darah daging Abraham (Galatia 4:21-31).
Pada masa jahiliah pra-Islam, sebutan ‘Allah’ pernah merosot dan juga ditujukan kepada Dewa Bulan/Air (di kalangan Ibrani, nama ‘Yahweh’ dan ‘Elohim’ juga pernah merosot digunakan untuk menyebut berhala Anak Lembu Emas; Keluaran 32:1-5;1Raja 12:28), namun Arab Hanif termasuk suku Ibrahimiyah dan Ismaeliyah tetap mempertahankan nama Allah sebagai nama diri Tuhan Abraham. Bahkan sebelum kelahiran agama Islam, nama Allah digunakan dalam pengertian nama diri Tuhan. Ensiklopedia Islam menyebutkan:

    “Gagasan tentang Tuhan Yang Mahaesa yang disebut dengan nama Allah, sudah dikenal oleh bangsa Arab kuno, Ajaran Kristen dan Yudaisme dipraktekkan di seluruh jazirah.” (hlm.50).
    “Nama “Allah” telah dikenal dan dipakai sebelum Alquran diwahyukan; misalnya nama Abd. Al-Allah (hamba Allah), nama ayah Nabi Muhammad. Kata ini tidak hanya khusus bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang oleh umat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja Timur, digunakan untuk memanggil Tuhan.” (hlm.23)


Dalam Al-Quran beberapa kali disebutkan bahwa nama Allah digunakan bersama oleh Umat Yahudi, Kristen dan Islam. Nabi Muhammad mengakui pada masa hidupnya sudah ada orang Yahudi dan Kristen yang menggunakan nama Allah. Dalam Al-Quran tertulis:

    “(Yaitu) orang2 yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena mereka mengatakan: Tuhan kami Allah, Jikalau tiadalah pertahanan Allah terhadap manusia, sebagian mereka terhadap yang lain, niscaya robohlah gereja2 pendeta dan gereja2 Nasrani dan gereja2 Yahudi dan mesjid2, di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, QS.22:40).

Menarik untuk diketahui bahwa pada abad yang sama kelahiran agama Islam, terjemahan ‘Injil Muqqadas’ dalam bahasa Arab (643) sudah memuat nama ‘Allah.’ Pada abad sebelum Islam, inskripsi ‘Umm al-Jimmal’ menulis ‘Allahu Ghafran’ (Allah yang mengampuni) dan ‘Inskripsi Zabad’ (512) diawali ucapan ‘Bism al-ilah’ (Dengan Nama Allah, dalam kitab Esra 5:1 tertulis ‘Beshum Elah’ Yisrael). Satu abad sebelum ayah Nabi Muhammad lahir, dalam Konsili Efesus (431) hadir uskup Arab Haritz bernama ‘Abd Al-Allah.’

Dalam penemuan arkaeologis tua lebih dari satu milenium sebelum kelahiran Islam ternyata ‘nama Allah’ sudah disebutkan dalam beberapa inskripsi yang ditemukan sebagai nama diri. Artikel ‘Allah Before Islam’ dalam ‘The Muslim World’ (Vol.38, 1938, hlm. 239-248) mencatat bahwa suku-suku Arab kuno ‘Lihyan’ dan ‘Thamudic’ yang bermukim di Jazirah Arab bagian Utara, meninggalkan inskripsi bertuliskan banyak nama ‘Allah’ sebagai nama diri. Pendahulu suku ‘Lihyan’ adalah suku ‘Dedan’ yang dalam Alkitab disebutkan sebagai keturunan Ketura, isteri Abraham (Kejadian 25:1-3). Kita mengetahui bahwa bahasa Arab diturunkan dari bahasa Nabatea Aram dimana nama Tuhan disebut ‘Allaha.’ Maka konsekwensinya, nama ‘Allah’ tertuju pada ‘Allah’ Abraham yang cikal-bakalnya adalah EL (el – ela – elah) atau IL (il – ila – ilah) semitik.

Dapat dimengerti mengapa agama-agama semitik sebelum Islam di kalangan berbahasa Arab sudah lama menggunakan nama ‘Allah.’ Jadi, nama Allah bukan nama Islam tetapi nama Arab untuk menyebut Tuhan Abraham dan El/Il semitik. Kini di negara-negara Arab, baik orang Yahudi, Kristen maupun Islam yang berbahasa Arab, semuanya menggunakan nama Allah tanpa masalah. Bambang Noorsena yang fasih berbahasa Arab dan pernah belajar selama dua tahun di Kairo menyebutkan bahwa di Kairo kota lama, dipintu gereja Al Mu’alaqqah ditulis ‘Allah Mahabah’ (Allah itu kasih) dan di pintu lainnya ‘Ra’isu al-Hikmata Makhaafatu Ilah’ (Permulaan Hikmat adalah Takut kepada Allah). Sinagoga ‘Ben Ezra’ menyebut bahwa dahulu disitu Rabbi ‘Moshe ben Ma’imun’ menulis buku ‘Al Misnah’ dan ‘Dalilat el-Hairin’ dalam bahasa Ibrani dan Arab dimana ‘El/Elohim’ diterjemahkan ‘Allah.’

Kini ada 29 juta orang berbahasa Arab yang beragama Kristen dan semuanya menyebut nama ‘Allah,’ dan di kalangan ini beredar empat versi Alkitab berbahasa Arab yang menggunakan nama ‘Allah.’ Maka dari sini jelas bahwa bagi orang-orang Arab penganut Yahudi, Kristen, dan Islam, nama Allah digunakan bersama tanpa rasa curiga sebab mereka menyadari bahwa semua mempercayai Allah Abraham yang sama, sekalipun tidak disangkal adanya perbedaan aqidah yang dipercayai oleh masing-masing mengingat ketiganya memiliki kitab suci yang berbeda. Olaf Schuman teolog Kristen yang tiga tahun mengajar dan belajar di Universitas Al Ashar, Mesir, mengemukakan bahwa:

    “Memang tidak dapat disangkal adanya suatu masalah. Namun yang menjadi masalah ialah soal dogmatika atau ‘aqidah,’ sebab tiga agama surgawi itu mempunyai faham dogmatis yang berbeda mengenai Allah yang sama, baik hakekatnya maupun pula mengenai cara pernyataannya dan tindakan-tindakannya.” (Keluar Dari Benteng Pertahanan, hlm. 175).

Dalam terjemahan Alkitab ke bahasa Indonesia, sejak awal nama Allah sudah digunakan. Daud Susilo, konsultan United Bible Societes, menulis:

    “Dalam terjemahan bahasa Melayu dan Indonesia, kata ‘Allah’ sudah digunakan terus menerus sejak terbitan Injil Matius dalam bahasa Melayu yang pertama (terjemahan Albert Corneliz Ruyl, 1629). Begitu juga dalam terjemahan Alkitab Melayu yang pertama (terjemahan Melchior Leijdekker, 1733) dan Alkitab Melayu yang kedua (terjemahan Hillebrandus Corneliz Klinkert, 1879) sampai saat ini.” (Forum Biblika, LAI, No.8/1998, hlm. 102)

Alkitab berbahasa Melayu di Malaysia terbitan The Bible Society of Malaysia juga menggunakan nama ‘Allah.’ (Hal seperti itu dilakukan dalam penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Inggeris dimana nama Arab ‘Allah’ diterjemahkan ‘God’ dalam bahasa Inggeris).

Bila bangsa Arab pemilik bahasa Arab tidak mempermasalahkan penggunaan nama ‘Allah’ oleh agama-agama semitik, maka seyogyanya bangsa-bangsa non-Arab juga tidak mempermasalahkannya. Kesamaan nama ‘Allah’ yang disembah ketiga agama Semitik bisa menjadi perekat bahwa ketiganya sebenarnya bersaudara. Yang perlu disadari adalah bagaimana dalam keeksklusifan iman sesuai ajaran kitab suci masing-masing, agama bisa diamalkan dengan damai dan toleransi.


Disalin dari :
http://www.yabina.org


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: ‘ALLAH’ NAMA SIAPA?
PostPosted: Thu Feb 14, 2008 10:14 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6387
(Tanggapan–1)
Quote:
Sebutan bahwa Abraham semula berbahasa Aram itu salah, sebenarnya bahasa Ibrani itu sudah ada sebelum Abraham (ca 1800 sM) yaitu sejak Eber, karena ia sudah disebut sebagai orang Ibrani (Kej.14:13) demikian juga keturunanya (Kej.39:14,17;40:15;41:12). Baca saja Kej.31:47 dimana disebutkan bahwa Yakub sudah menyebut batu di Yegar-Sahaduta dengan ‘Galed’ dalam bahasa Ibrani.



(Jawab–1)


Memang pengagung nama Yahweh menganggap bahasa Ibrani ada dari kekal sampai kekal setidaknya sejak Eber, bahkan disebutkan bahwa: “Bahasa Ibrani adalah satu-satunya bahasa yang tertua” (Siapakah Yang Bernama Allah Itu, hlm.21), namun kita harus sadar bahwa sebutan ‘orang Ibrani’ tidak identik dengan ‘bahasa Ibrani’ karena sebagai bahasa ia berkembang lama sesudah nama Ibrani ada. Harus disadari bahwa Abraham berasal dari kawasan dan keluarga berbahasa Aram (Kejadian 24:4) seperti saudaranya Nahor, dan setelah berinteraksi dengan bangsa Kanaan maka bahasa Ibrani mulai tumbuh:

    “Bahasa Ibrani adalah cabang dari bahasa Kanaan dan Amorit, atau lebih tepat Kanaan dan Amorit adalah dialek-dialek nenek-moyang yang melalui pencampuran keduanya pertumbuhan bahasa Ibrani dapat dijelaskan.” (Interpreters’ Dictionary of the Bible, Vol.2, 553).


Jadi dari percampuran bahasa Ibu yang Aramik yang diikuti Abraham, dengan pengaruh Kanaan dan Amorit berangsur-angsur tumbuh bahasa Ibrani, namun lambat mengingat bahasa Ibrani terdiri dari konsonan yang sukar diucapkan (menjadi bahasa tulisan sekitar abad-X SM mengikuti aksara 22 huruf Kanani dan kemudian mengikuti bentuk bulat aksara Aram). Ishak mengawini Ribka saudara Laban, cucu Nahor yang berbahasa Aram (Kejadian 31:20,47), Yakub anak Ribka mengawini Lea dan Rachel anak Laban yang berbahasa Aram juga, sehingga tidak heran kalau bangsa Israel keturunan Yakub mengikuti bahasa nenek dan ibu mereka dan mengaku keturunan Aram (Kejadian 24-29; Ulangan 26:5). Galed (Kejadian 31:47) bukanlah asli kata Ibrani melainkan kata Aram yang menjadi cikal bakal kata Ibrani. Perlu diketahui bahwa Laban juga menyebut ‘Galed’ (Kejadian 31:48) yang tentu bahasanya sendiri, dan dalam tafsiran mengenai Galed disebutkan:

    “Nowhere else in the Jacob-Laban cycle of stories is there the slightest suggestion that the two spoke different languages.” (The Interpreters’ Bible, Vol.I, 716).


Lepas dari pengkultusan bangsa dan bahasa Ibrani, perlu disadari bahwa bahasa Ibrani itu tidak berasal dari kekal sampai kekal, tetapi ia berawal dari percampuran Aram-Kanani-Amorit dan pada masa Ibrani Kitab Suci (abad-XI – III SM) terus dipengaruhi bahasa Aram; pada masa Ibrani Miznah (abad-III SM – VII M) dipengaruhi bahasa Aram, Yunani dan Latin (Yesus berbicara bahasa Aram & Yunani, dan diatas salib ada tulisan dalam 3 bahasa itu); pada masa Ibrani Para Rabi (abad-VII – XIX M) dipengaruhi bahasa Arab; dan baru di abad-XIX menjadi bahasa Ibrani modern. Ingat, dalam Perjanjian Baru kalau disebut bahasa Ibrani (terjemahan hebraisti atau hebraik dialekto), yang dimaksudkan adalah bahasa Aram.



(Tanggapan–2)
Quote:
(T–2) Dalam bahasa Arab, Allah adalah nama diri, jadi bukan berasal dari ‘Al-Ilah.’ Jadi dalam Kis.2:7-11 tentu orang Yahudi menyebut nama dalam bahasa Ibrani, bahasa ibu mereka, dan orang Arab juga menggunakan bahasa itu atau ‘Al-Ilah.’ Bila kita membaca Arabbible tidak satu nama pun yang ditulis ‘Allah’ semua ditulis ‘Al Ilah,’ jadi tidak semua orang berbahasa Arab menggunakan nama ‘Allah’ sebab sekarang sudah banyak yang menggunakan nama ‘Al Ilah.’ Konsep ini juga disebutkan oleh seorang dosen program studi Islamologi yang bergelar S2 bahwa ‘Allah’ bukan berasal ‘Al Ilah.’ Bisakah ditunjukkan bahwa nama ‘Allah’ sudah digunakan sebelum Islam?



(Jawab–2)

Perlu disadari bahwa dalam Perjanjian Baru, bila ada terjemahan berbunyi ‘bahasa Ibrani’ itu adalah bahasa Aram (‘hebraisti’ = lidah orang Ibrani, dan ‘hebraik dialekto’ = dialek Ibrani). D.C. Mulder, pakar Perjanjian Lama, menyebutkan:

    “Di tanah Palestina sendiri bahasa Aramlah yang menjadi bahasa sehari-hari sejak abad IV/III sM.; bahasa Ibrani lama-kelamaan hanya dipakai sebagai bahasa suci dan bahasa agama.” (Pembimbing ke dalam Perjanjian Lama, hlm.214)


Sedangkan Bruce M. Metzger, pakar Alkitab dan bahasa-bahasanya, menyebutkan:

    ”Bahasa ibu orang Yahudi Palestina di waktu itu adalah Aram. Sekalipun para Rabi dan Ahli-Kitab masih menggunakan bahasa Ibrani klasik Perjanjian Lama, untuk mayoritas umat ini adalah bahasa mati. ... Barangkali karena rasa bangga yang salah, dan kemungkinan besar karena tidak dapat membedakan ketepatan ilmiah, bahasa Aram secara populer disebut sebagai bahasa ”Ibrani”. … Bahasa percakapan umum semitik orang Yahudi Palestina pada waktu Yesus adalah Aram.” (The Language of the New Testaments, The Interpreters’ Bible, Vol.7, hlm.43)


Soal ‘Allah’ itu ‘berasal ‘Al Ilah’ atau bukan, sekalipun ada dosen bergelar S2 menolaknya, umumnya umat Islam menyebut begitu. Baik Ensiklopedia Islam maupun Ensiklopedia Britannica menyebut ‘Allah’ sebagai kontraksi ‘Al Ilah.’ Apakah tepatnya ‘Allah’ = Al Ilah = Al Illah, atau Al Allah, tidaklah penting, sebab dalam bahasa lisan sebelum berkembang dalam bentuk tulisan, ucapannya sama. Menarik untuk diketahui bahwa dalam penemuan arkaeologis tua lebih dari satu milenium sebelum kelahiran Islam ternyata ‘nama Allah’ sudah disebutkan sebagai nama diri dalam beberapa inskripsi yang ditemukan. Artikel ‘Allah Before Islam’ dalam ‘The Muslim World’ (Vol.38, 1938, hlm. 239-248) mencatat bahwa suku-suku Arab kuno ‘Lihyan’ dan ‘Thamudic’ yang bermukim di Jazirah Arab bagian Utara, meninggalkan inskripsi bertuliskan banyak nama ‘Allah’ sebagai nama diri. Pendahulu suku ‘Lihyan’ adalah suku ‘Dedan’ yang dalam Alkitab disebutkan sebagai keturunan Ketura, isteri Abraham (Kej.25:1-3). Kita mengetahui bahwa bahasa Arab diturunkan dari bahasa Nabatea Aram dan semula ditulis dalam inskripsi yang menjadi kata benda bukan ‘ilah’ tetapi ‘allah!’

    “The Syrian, however, raised the common noun for “god”, allah, to the dignity of a proper name by affixing the determining element “a”: allaha=”the god”, then “God”. … When the Lihyanites took over the proper name, Allaha, they arabicized it by dropping the determining element “a”.” (The Muslim World, hlm.247).


Bagaimana dengan Arab-bible? Arab-bible (ini beda dengan Arabic-bible, terjemahan resmi Lembaga Alkitab Arab) menurut pengakuan situs mereka sendiri, mengunakan Arabic Bible yang dikeluarkan Bible Society dan hanya mengganti nama 'Allah' dengan tafsiran mereka sendiri yaitu ‘Al-Ilaah.’ Arabbible dihasilkan kelompok yang alergi terhadap Islam dan Arab dan menonjolkan Yudaisme dengan mengagungkan nama YHVH/ YHWH dan Elohim. Menggunakan Arabbible sebagai acuan untuk menyalahkan 'Arabic Bible' sama halnya dengan menyalahkan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dengan menggunakan 'Kitab Suci Torat dan Injil' atau 'Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan' yang diterbitkan kalangan Yahwist di Indonesia yang juga alergi terhadap Islam dan Arab, padahal keduanya menjiplak tanpa izin 99,99% terjemahan LAI kemudian mengganti semua nama TUHAN dengan Yahwe/Yahweh dan nama Allah dengan Eloim/Tuhan. Kalau kedua kelompok Yudaik Indonesia itu mengganti nama ‘Allah’ saja saling berbeda (Yahwe/Eloim vs Yahweh/Tuhan), bagaimana perbedaan keduanya kalau keduanya menerjemahkan seluruh Alkitab?



(Tanggapan–3)
Quote:
Nama YHVH telah ada sebelum Musa, dan memang Dia-lah sang Pencipta (Kej.2:4-5), dan tentu saja sebelum ada Israel. Orang sudah menyebut nama YHWH sebelum Enos (Kej.4:26), bahkan Hawa sudah menyebutkan nama YHVH (Kej.4:1), dan selanjutnya nama itu sudah banyak dicatat Alkitab sebelum Musa. Berbeda dengan terjemahan LAI “dengan nama-Ku TUHAN aku belum menyatakan diri,” KJV dan WEB menyebut dalam Gen.6:2 “but by my name JEHOVAH was I not known to them,” dan NIV “and by my name THE LORD did I not let myself be known to them?”



(Jawab–3)

Soal nama YHVH sebelum Musa, bagi pembaca awam tentu dengan mudah mencari ayat-ayat yang mengandung nama itu dalam kitab Kejadian, namun bagi pembaca yang mengerti, masalahnya tidak sesederhana itu. Kita harus menyadari bahwa dari masa terjadinya sampai masa ditulis sebagai kitab suci, ada selang sekitar satu milenium dimana sudah berkembang teologi. Ayat Keluaran 6:2 tepat seperti yang diterjemahkan oleh LAI (demikian juga terjemahan Lembaga-lembaga Alkitab Sedunia) termasuk terjemahan seperti KJV, WEB, dan NIV, namun dalam NIV tidak ada tanda tanya, demikian juga dalam naskah aslinya kalimat itu tidak bersifat tanya. Tanda tanya NIV dalam tanggapan adalah tambahan penanggap. Para pengangung JHWH memang menambahkan tanda tanya dengan maksud untuk mengubah arti ayat itu seakan-akan YHVH sudah memperkenalkan namanya sebelum Musa tetapi dilupakan sehingga ditanya kembali. Ada dua terjemahan pengagung nama Yahweh yang sering digunakan untuk mendukung pendapat mereka, dan keduanya diberi tanda-tanya! “was I not known to them?” (The Scriptures dan Hebraic Roots Version). Mungkinkah nama yang begitu dahsyat dan menumbuhkan fanatisme begitu saja dilupakan?


Ada beberapa petunjuk bahwa sebelum Musa memang YHVH hanya menyatakan dirinya dengan nama diri ‘El,’ yaitu:

(a) Mempelajari sifat ‘El’ dan ‘YHVH,’ ada sifat baru yang ditunjukkan nama ‘Yahweh,’ yaitu sebagai Tuhan yang membebaskan Israel dari perbudakan di Mesir. Tuhan ‘Yahweh’ adalah khas Israel, Tuhan yang dinamis, pemberi keteguhan iman bagi Israel dan yang menyatukan mereka menghadapi penindasan perbudakan Mesir. Tuhan yang menyatakan diri dengan nama baru khas padang gurun ‘Sinai’ itu bisa kita lihat di banyak kitab lain seperti Hosea 2;13:4; Yesaya 43:3; Yeremia 2:1 dst; Yehezkiel 20; Amos 2:10 dst; Amos 5:25; dan yang juga dinyanyikan penyair-penyair kuno Israel yang menyanyikan nyanyian kemenangan seperti dalam Hakim 5 dan Mazmur 68:8 dst.;

(b) Adanya nama YHWH dalam kitab Kejadian, adalah proses penyesuaian teologis Yahwist kepada nama yang baru dikenal karena nama El juga digunakan bangsa-bangsa lain untuk menyebut Tuhan Tertinggi. Agar nama ‘Yahweh’ tidak sekedar disebut eksklusif sebagai ‘Tuhan Israel’ maka diperpanjang sampai ke kitab Kejadian dimana disebut bahwa “Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN” (Kejadian 4:26. Enos artinya manusia) untuk menunjukkan bahwa Yahweh juga Tuhan umat manusia. Bahkan keberadaan nama ‘Yahweh’ itu kemudian dikaitkan dengan Penciptaan langit dan bumi (Kejadian 2:4-7), dan kemudian menghiasi banyak halaman kitab Kejadian;

    “Yahwis mempunyai pandangan lain. Menurutnya, Yahweh adalah Allah seluruh umat manusia sejak awal kejadian dunia, dan ‘ibadat kepada Yahweh’ didirikan oleh Enos, sebagai wakil umat manusia pada zaman awal sekali (Kej.4:26). Pandangan yang demikian tidak sesuai dengan kepercayaan bahwa Yahweh baru bertemu dengan Israel di padang gurun. Tampaknya, pandangan Yahwis itu merupakan pandangan teologis dan bukan ingatan historis. Pandangan teologis ini sesuai dengan cara pemikirannya, yaitu bahwa penyataan yahweh bersifat universal dan berlaku untuk seluruh dunia.” (Th. C. Vriezen, Agama Israel Kuno, hlm.125).

(c) Petunjuk lain bahwa Tuhan dengan nama YHVH belum dikenal di kitab Kejadian bisa dilihat dari fakta bahwa selama berada di Kanaan, para leluhur dengan Tuhan mereka ‘El’ rukun-rukun saja berdampingan dengan orang Kanani (yang menyembah Baal), padahal sesudah Keluaran generasi Israel secara tegas dengan pimpinan YHVH merasa perlu membasmi orang-orang Kanani;

(d) Abraham belum mengenal nama ‘YHVH karena itu ia memberi nama anaknya dengan label ‘El’ bukan ‘Yah’, yaitu Isma’el’ (Kejadian 16:11). EL Shadday memberi Yakub nama baru Isra’el’ (Kejadian 32:28; 35:9-12) mendorong Israel membuat mezbah untuk ‘El Elohe Yisraeel’ (Kejadian 33:20) dan mendirikan tugu dan menamai tempat itu ‘Bet’El’’ (Kejadian 35:15);

(e) Ujian iman Abraham (yang dirayakan Islam sebagai ‘Idul Adha’) menunjukkan nama ‘Yahweh’ tidak dikenal dalam jalur bangsa Arab keturunan ‘Ismael’ dan juga menunjukkan bahwa nama ‘Yahweh’ belum dikenal Abraham; dan (f) Absennya nama yang mengandung nama ‘Yah’ dalam kitab Kejadian (Abi’yah’, Eli’yah’), dan hanya nama-nama yang berlabel ‘El’ (Bab‘El’, Mehuya’el’, Metusa’el’ (Kejadian 4:18), dan Isra’el’ (Kejadian 32:28)), menunjukkan bahwa memang di masa kitab Kejadian baru nama ‘El’ yang dikenal. Kenyataan di atas menunjukkan bahwa nama Yahweh baru dikenal Israel pada masa Keluaran.



(Tanggapan–4)
Quote:
Artikel ‘Allah’ Nama Siapa memperjelas pengertian saya mengenai ‘nama Allah,’ namun saya berfikir siapakah mereka yang menjadi pengagung nama Yahweh yang begitu berapi-api menolak ‘nama Allah?’



(Jawab–4)

Kelompok yang mengagungkan nama YHWH/ YHVH dan sangat alergi terhadap nama ‘Allah’ adalah kelompok yang terpengaruh semangat Yudaisme dan melakukan ibadat yang berbau Yahudi/Ibrani. Mereka juga antipati terhadap LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) karena menggunakan ‘nama Allah,’ bahkan ada yang menyebut LAI sebagai Lembaga Alat Iblis. Mereka terdiri dari banyak kelompok yang saling berbeda, bahkan dalam salah satu literatur mereka ditulis:

    “Akhir-akhir ini rasa frustasi mengghinggapi komunitas Qahal Mesianik di Indonesia. Frustasi terhadap apa? Frustasi terhadap kondisi komunitas ini yang semakin tidak jelas arah dan tujuan pergerakannya. Beberapa orang mulai mengeluh mengenai perselisihan diantara pemimpin, beberapa orang lainnya mengeluh tidak siap melihat perubahan demi perubahan dan pembenahan demi pembenahan. Sebagian yang lain mulai tidak nyaman dengan berbagai pengajaran tentang “tefilah” [doa harian], “ibadah shabat”, “pembaruan tata ibadah”. Sementara yang lain hanya berpuas diri dengan penggunaan nama Yahweh namun pemahaman teologis maupun tata cara ibadah masih mencerminkan denominasi yang lama [pentakostal, kharismatik, protestan dll]” (Buletin Nafiri Yahshua Ministry, No.32, Februari 2007, hlm.4)


Yang jelas kelompok pengagung nama YHVH berbeda dengan kekristenan yang umum, karena mereka menganut Unitarian Sabelianisme simultan, yaitu pandangan ke’Tuhan’an yang berbeda dengan kaum Trinitarian. Mereka menganggap bahwa YHVH adalah Tuhan pencipta langit dan bumi; Nama YHVH = nama Elohim, Firman = Daya Cipta, Roh Kudus = Daya Hidup; dan Bapa, Anak, Roh Kudus = predikat YHVH. Dan, ketiganya satu pribadi dan realitas (Memashurkan Nama Elohim Yang Benar, Nafiri Yahsua Ministry, hlm.12-29)

Disalin dari http://www.yabina.org


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 3 posts ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
Powered by phpBB & phpBB SEO
Sarapan Pagi © 2006 by BP & Saxman