SarapanPagi Biblika

Bible Study / Christian Library
It is currently Thu Sep 09, 2010 5:38 pm

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 1 post ] 
Author Message
 Post subject: SEJARAH KRITIK SASTRA TERHADAP PENTATEUKH
PostPosted: Thu Jun 15, 2006 3:39 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
SEJARAH KRITIK SASTRA TERHADAP PENTATEUKH



Sejak permulaan abad-abad Kristen, kritik yang memusuhi Alkitab dan terutama Pentateukh telah ada. Tapi sejak Reformasi timbullah dengan sangat kuat kritik rasionalistis. Kritik ini sudah dapat dilihat misalnya dalam buku Masius (meninggal 1573), seorang pengacara Roma Katolika. Ia mengatakan bahwa Ezra mungkin telah menyisipkan tulisan-tulisannya sendiri dalam kitab-kitab Musa. Demikian juga seorang Yesuit dari Spanyol, Benedict Pereira (1535-1610) beranggapan, bahwa banyak bagian yang ditambahkan kemudian kepada Pentateukh.

Benedict Spinoza (1632-77) menyangkal bahwa Pentateukh ditulis oleh Musa dan mengatakan, bahwa mungkin Ezra yang menyusunnya, kemudian daripada Musa. Tetapi memang ada bagian-bagian yang ditulis oleh Musa menurut Spinoza. Mungkin sekali 'documentary hypothesis' (hipothesa berhubungan dengan naskah-naskah) mulai dengan pandangan Hans Witter (1711). Ia mengatakan, bahwa ada dua pemberitaan tentang penciptaan yang dapat dibedakan berdasarkan pemakaian nama Allah.

Tapi biasanya permulaan 'documentary hypothesis' itu dihubungkan dengan Jean Astruc (1753). Astruc mengatakan, bahwa Musa mempunyai naskah-naskah tertulis yang dipakai dalam menyusun Kejadian.
Naskah-naskah ini merupakan buku-buku peringatan kuno dan memuat sejarah dari nenek moyang Musa mulai penciptaan dunia. Musa membagi-bagi naskah-naskah ini menurut isinya dan dijadikan bagian-bagian kecil. Kemudian dikumpulkan yang cocok, sehingga terbentuk Kejadian. Harus diperhatikan, bahwa Astruc tidak menyangkal bahwa Musa penulisnya.

Astruc berbuat demikian karena ada cerita-cerita yang dikira rangkap tentang peristiwa-peristiwa yang sama; karena perbedaan dalam memakai nama Allah dan karena beberapa peristiwa tidak menurut urutan waktu terjadinya. Dalam daftar A, Astruc menempatkan bagian-bagian di mana nama Allah 'Elohim' (Perancis 'le Dieu') dipakai, dalam daftar B bagian-bagian dengan nama Jehovah, atau lebih tepat 'Yahweh' (l'Eternel). Astruc terpaksa mengandaikan ada bagian dari 12 naskah sebelum ia merasa cukup dan selesai.

Karya Astruc sendiri rupanya hanya sedikit pengaruhnya. Eichhorn mengatakan, bahwa ia tidak mengikuti Astruc tapi pada dasarnya pekerjaannya sama dengan pekerjaan Astruc. Hanya ia melaksanakannya lebih mendalam. Mungkin dialah yang pertama-tama memberikan tanda J dan E kepada kedua "sumber" itu. J artinya Jehovah (Yahweh) dan E Elohim (Yahweh adalah nama perjanjian dari Allah dan Elohim kata biasa dalam bahasa Ibrani buat Allah). Mula-mula Eichhorn menganggap bahwa Musa sendiri menghubung-hubungkan sumber-sumbernya. Tapi kemudian ia mempertahankan pandangan bahwa seorang yang tidak diketahui namanya telah mengerjakan itu.

Pada tahun 1798 Karl David Ilgen mengajukan gagasan, yang kemudian berpengaruh, bahwa ada dua Elohis dan satu Yahwis. Yang paling penting ialah, bahwa ia menggolongkan kepada Elohis yang kedua itu bagian-bagian dalam Kejadian 1-11 yang menurut Astruc termasuk dalam daftar Yahwis. Dengan kata lain: yang dulu dianggap termasuk di J sekarang dipandang lebih dekat dengan E. Dengan demikian menjadi terang bahwa nama-nama Allah sendiri bukan ukuran yang tuntas untuk membagi-bagi Kejadian menjadi berbeda-beda naskah. Buku Ilgen ini kemudian menjadi dasar bagi tulisan-tulisan Hupfeld.

Pandangan, bahwa Kejadian berdasarkan dua naskah biasanya disebut "teori dua dokumen". De Wette melanjutkan penelitian ini tapi dengan meneliti Ulangan juga. Pada tahun 1805 dalam disertasi doktoralnya De Wette menegaskan pandangannya, bahwa Ulangan ditulis pada waktu pemerintahan Yosia (622 sebelum Masehi); kalau Ulangan disinggung isinya dalam kitab-kitab Pentateukh lainnya, ini pasti pekerjaan kemudian. Jadi sebenarnya ada tiga dokumen, dengan sebutan, J, E, dan D (menurut Ilgen, E²).

Tidak semua ahli berpandangan demikian. Ada juga perubahan-perubahan padanya yang akan kita sebut dengan singkat. Beberapa orang membela apa yang disebut 'fragmentary hypothesis' (hipotesa adanya bagian-bagian fragmen), yang mengatakan, bahwa Pentateukh terdiri dari fragmen-fragmen yang banyak sekali, yang kemudian oleh seseorang dijadikan satu. Bertentangan dengan ini ada beberapa orang yang menegaskan, bahwa yang benar-benar ada hanyalah satu dokumen yang menjadi dasar, dan atas dasar dokumen ini ditulis dengan ada tambahan kutipan-kutipan dari dokumen lain. Dokumen dasar ini dipandang sebagai E dan tambahan-tambahan yang diberikan adalah J.
Tidak semua pembela pandangan ini setuju dalam hal terakhir itu. Pandangan ini tidak panjang umurnya. Telah ditunjukkan, bahwa bagian-bagian dari J yang dimasukkan ke dalam E dapat memuat kutipan-kutipan tentang bagian-bagian dari E. Tapi sebab apa bagian-bagian dari E yang dipandang sebagai dokumen dasar itu harus memuat pemikiran-pemikiran tentang bahan dari bagian-bagian J yang ditambahkan itu?


HIPOTESA DOKUMEN YANG TELAH DIUBAH

Tepat 100 tahun setelah Astruc mengeluarkan bukunya, hipotesa dokumen ini mengalami perubahan penting. Petunjuk-petunjuk kepada perubahan ini sebenarnya sudah terdapat dalam buku Ilgen. Tapi baru Hermann Hupfeldlah yang menjadikan perubahan ini kuat. Hupfeld menghidupkan lagi pandangan yang dulu dipegang oleh Ilgen, bahwa suatu naskah E tidak merupakan suatu kesatuan, tapi meliputi dua naskah, yang satu lebih dekat dengan J, daripada dengan sisa dari E.
Karena itu Hupfeld berpandangan, bahwa ada Elohis pertama dan Elohis kedua. Selanjutnya masih ada lagi Yahwis dan Ulangan. Urutan yang diikuti Hupfeld adalah E¹, E², J dan D (Deuteronomy, Ulangan).
Kemudian Elohis pertama menjadi terkenal sebagai "dokumen imam" karena sangat memperhatikan hal-hal imamat, hal-hal yang secara dugaan saja memuat silsilah-silsilah, perjalanan-perjalanan, bahkan juga Kejadian 1 yang tidak menampakkan sangkut-paut dengan imamat sama sekali. Dengan demikian keempat dokumen telah mempunyai urutannya, yaitu P, J, E, D. D dipandang sebagai yang terakhir.

Dalam pembagian ini ada kesukaran-kesukaran yang perlu diketahui. E² dari Hupfeld mulai dengan Kejadian 20, padahal E¹ berakhir di situ. Jadi kelihatannya satu naskah dipecah menjadi dua. Selanjutnya E² mengingatkan kepada adnya beberapa bagian dari E¹. Isi E¹ kebanyakan silsilah dan statistik, tapi bahan seperti itu jelas kepunyaan umum,
bukan kepunyaan satu penulis saja. Disebabkan kesukaran yang banyak dari hipotesa dokumen maka Hupfeld terpaksa menduga adanya seorang redaktur, yang rajin sekali.

Karya Hupfeld merupakan suatu langkah penting dalam sejarah kritik Perjanjian Lama yang negatif. Karena itu sebelum melanjutkan penelitian tentang kritik negatif ini, kita akan menunjukkan beberapa dari kseukaran yang ditimbulkan oleh hipotesa dokumen ini.
Dalam Alkitab ada tuntutan-tuntutan yang tegas yang menyatakan bahwa Taurat adalah dari Musa. Dalam Pentateukh sendiri ada ungkapan bahwa Musa benar-benar telah menulis yang diperintahkan Allah kepadanya, tapi lebih penting lagi, hampir segala hal dalam Keluaran sampai Ulangan dengan tegas atau dengan tidak langsung, mengatakan bahwa dari Musalah asalnya.

Tuntutan kepada Musa ini tdak dapat dibuang dari semuat kitab ini.
Selanjutnya Pentateukh merupakan kesatuan dan inilah yang tidak dapat diterangkan dengan memuaskan oleh hipotesa dokumen ini.
Seandainya kelima buku yang pertama dari Alkitab dikumpulkan menurut pandangan hipotesa ini, maka sukarlah, malahan tidak mungkinlah dimengerti, bahwa buah pekerjaan ini merupakan suatu kesatuan seperti dengan terang nyata dalam Pentateukh itu. Cara menempatkan buku seperti itu sungguh tidak wajar. Tidak ada satupun buah karya kesusastraan terjadi seperti yang dikatakan oleh hipotesa ini. Belum kita membicarakan pengilhaman Alkitab.

Nama-nama Allah terang tidak tepat dan tidak cukup dijadikan ukuran untuk membagi kitab-kitab Alkitab menjadi dokumen-dokumen dengan cara yang dipakai oleh hipotesa ini. Bahkan Astruc sendiri menjumpai kesukaran-kesukaran dalam cara ini. Paling sedikit dalam 5 pasal dalam Kejadian, nama Allah tidak disebut, meskipun demikian pasal-pasal ini dibagi dalam J, P (E¹) dan E². Terangkah bahwa ukuran-ukuran lain daripada nama-nama Allah juga dipakai. Dalam 17 pasal dari Kejadian dan d alam Keluaran 1 dan 2 tidak terdapat nama Yahweh, meskipun demikian dikatakan, bahwa dalam pasal-pasal ini terdapat bagian-bagian dari J. Demikian juga ada 15 pasal yang tidak memuat kata Elohim.

Jadi menjadi terang, bahwa nama-nama itu tidak cukup terdapat tersebar dalam Kejadian seluruhnya untuk dijadikan dasar pembagian-bagian atau pemecah-pecahan menjadi dokumen-dokumen.
Kejadian 1-3 merupakan tempat di mana banyak tersbar nama-nama itu.
Di sini 20 kali terdapat nama-nama itu dihubungkan menjadi Yahweh Elohim. Memang kadang-kadang mungkin menerangkan perbedaan-perbedaan ini secara teologis tapi tidak selamanya hal itu mungkin.

Satu contoh. Dalam Keluaran 3 kelihatannya ada dasar yang kuat untuk mengatakan, bahwa nama-nama itu dipakai menurut makna teologisnya.
Hal ini menjadi lebih terang kalau kita memikirkan maksud dari pasal ini, yaitu bahwa Elohim yang dikenal nenek moyang dulu mau mendirikan Perjanjian dengan umat-Nya. Karena itu, meskipun pasal ini mulai dengan nama Elohim, tapi segera memperkenalkan nama Yahweh. Dalam ayat 4, ayat yang merupakan batu sandungan bagi pengupasan yang kritis, kedua nama dipakai karena penggantian 'Elohim' dengan 'Yahweh' belum selesai.

Dalam ayat 6 Yahweh memperkenalkan Diri dan baru pada akhir bicara-Nya, yaitu ayat 10, kita menjumpai lagi nama Elohim. Musa berbicara dengan Elohim, tapi kalau Allah berbicara dengan Musa, Ia menyebut diri-Nya dengan Yahweh, sebab sebagai Allah Perjanjian penyelamatanlah Ia akan mengutus Musa untuk memimpin Israel keluar dari Mesir. Jadi alasan-alasan teologis sering menjadi sebab penggunaan suatu sebutan Allah.

Selanjutnya harus diingat juga, bahwa sebutan Yahweh terdapat dalam ayat-ayat yang dianggap dari P, dan Elohim dalam ayat-ayat yang dianggap dari J. Sering sekali harus diduga adanya seorang redaktur untuk menerangkan hal-hal yang bertentangan dengan analisa dari hipotesa ini. Keluaran 3:4 adalah contoh yang terang. Di sini kita membaca, "Ketika dilihat Yahweh (Tuhan), bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Elohim (Allah) dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya". Dengan menghubungkan menjadi satu dokumen yang berbeda-beda, si redaktur memisah-misahkan yang aslinya merupakan satu cerita.

Satu contoh, Kejadian 1 (dianggap dari P) mengatakan segala sesuatu adalah baik. Kejadian 5 (dianggap dari P) menekankan merajalelanya maut atas manusia, dengan hanya satu kekecualian: Henokh. Apakah yang menyebabkan perubahan dari "amat baik" menjadi "lalu ia mati" dalam pasal 5? Dalam apa yang disebut fragmen-fragmen P tidak diketemukan suatu keterangan. Keterangan ini terdapat dalam fragmen-fragmen yang oleh para pengkritik dikatakan dari JE, yaitu pasal 2 dan 3. Apakah P asli mempunyai keterangan tentang perubahan di atas, yaitu dengan cerita kejatuhan manusia? Seandainya mempunyai keterangan, kenapa redaktur atau penghimpun tidak mengatakannya?

Selanjutnya redaktur ini (atau redaktur-redaktur, atau sekolah-sekolah atau apapun namanya) sering lalai. Contoh terpenting adalah bahwa Kejadian 1 dan Kejadian 2 diberi tempat bersama-sama, padahal dikatakan, bahwa Kejadian 1 dan Kejadian 2 ini merupakan dua laporan yang berbeda tentang hal penciptaan, dan arahnya
masing-masing berbeda juga. Kalau memang demikian halnya, betul-betul mengherankan bahwa para redaktur membuat kesalahan yang demikian besarnya. Kenapa mereka memberi tempat yang berdekatan demikian kepada cerita-cerita yang saling bertentangan tentang penciptaan? Kalau para redaktur berbuat demikian maka mereka bukanlah orang-orang yang pandai. Mana mungkin orang-orang yang bodoh itu menyusun Pentateukh.

Tapi Pentateukh ada. Kesulitan psikologis ini belum diberi keterangan oleh para pembela hipotesa dokumen itu. Sebenarnya tidak ada dua laporan tentang penciptaan dalam Kejadian; pasal 1 adalah cerita tentang penciptaan, tapi pasal 1 menceritakan persiapan taman Eden bagi manusia.

Satu alasan lagi, yang dikatakan membela adanya banyak penulis Pentateukh ialah, seperti yang telah kita lihat, bahwa ada cerita yang lebih dari satu tentang peristiwa yang sama. Dikatakan, dan hal ini tentu benar, bahwa tidak mungkin ini diberikan oleh satu orang penulis. Dengan demikian dikatakan misalnya dalam Kejadian ada dua cerita tentang pengusiran Hagar; cerita yang pertama termuat dalam dokumen J, yang kedua dalam E; kedua cerita oleh si editor diselaraskan dengan diketemukannya malaikat yang menyusul Hagar kembali sesudah diusir kali yang pertama. Contoh lain: ada dua cerita tentang pemberian nama Bersyeba, dan tidak kurang dari tiga cerita tentang perbuatan dusta, yaitu mengatakan, bahwa isterinya adalah saudaranya.

Bagi pandangan teori dokumen persoalannya ialah, bahwa cerita-cerita yang dianggap sama "tidak selalu terdapat dalam dokumen-dokumen yang 'berlainan', padahal menurut teori ini seharusnya demikian – tapi amat sering terdapat dalam dokumen yang sama. E menceritakan kunjungan kedua ke Betel, demikian juga P; J menceritakan dua kali pengingkaran akan istri." Hal ini menimbulkan pikiran, bahwa juga kalau kemiripan peristiwa-peristiwa terang sekali seperti yang dikatakan, ini tidak usah menjadi bukti tentang adanya beberapa penulis (J. Orr, "The Problem of the Old Testament, 1908).

Soalnya memang hanya dapat dipecahkan dengan menyelidiki pasal-pasalnya dengan teliti. Sebagai contoh: peristiwa-peristiwa penyembunyian kedudukan isteri sebagai isteri. Terbuktilah, bahwa teori di atas tidak perlu. Pertama-tama perlu diperhatikan, bahwa Kejadian 20:13 menceritakan kebijaksanaan yang sering dilakukan.
Kalau kita ingat akan hal ini maka tidak ada yang mustahil dalam kemiripan cerita-ceritanya. Tetapi sesungguhnya kemiripannya tidak begitu besar. Misalnya Firaun bertindak sebagai raja agung yang berdaulat waktu ia mendesak Abraham untuk meninggalkan Mesir. Tapi Abimelekh hanyalah seorang kepala suku dan ia datang kepada Abraham sebagai orang yang sama derajatnya dan mempersilakan dia untuk menduduki tanah yang disenangi. Abraham pergi ke Gerar dalam pengembaraannya, Ishak pergi karena paceklik. Sara dibawa ke dalam rumah Abimelekh, tapi Ribka tidak. Abraham diminta untuk menetap, Ishak diminta untuk pergi, tapi bukan seperti Abram di Mesir, yaitu karena ia telah berbohong, melainkan karena "engkau telah menjadi
jauh lebih berkuasa daripada kami".

Dari segi lain juga nada dan warna tiap cerita dapat ditegaskan untuk menunjukkan, bahwa yang sama dalam cerita-cerita itu sebenarnya hanya mengenai satu hal, yaitu bahwa tiap cerita itu berpusat pada usaha untuk menyelamatkan iseterinya dengan mengatakan, bahwa ia adalah saudara. Dan ini suatu kebijaksanaan yang umum, seperti diceritakan dalam peristiwa dengan Abraham.

Tiap sangkaan adanya dua cerita tentang peristiwa yang sama harus diselidiki secara seperti di atas, kemudian pastilah dapat dikatakan, bahwa - seperti dalam contoh di atas - tidak ada sesuatu yang dapat menjadi dasar bagi anggapan tentang adanya banyak sumber
bagi Pentateukh.


HIPOTESA PERKEMBANGAN (DEVELOPMENT HYPOTHESIS)

Hipotesa dokumen dapat dikatakan bersifat kaleidoscopis (sering berubah). Sudah pada tahun 1834 dikatakan oleh Eduard Reuss, bahwa dokumen Elohis yang dianggap sebagai dasar (yaitu P) bukan yang paling tua melainkan sebenarnya yang paling muda. Tapi baru agak lama sebelum pandangan Reuss menjadi berpengaruh. Karl Heinrich Graf mempelajari perundang-undangan dalam Pentateukh dan dari penyelidikannya ini ia sampai kepada kesimpulan, bahwa dokumen imamatlah sebenarnya yang terakhir. Julius Wellhausen dalam bukunya "Die Komposition des Hexateuchs" (1876-77) menjadikan pandangan di atas yang menguasai pembicaraan. Gaya bahasanya terang dan meyakinkan. Dialah benar-benar orangnya yang melahirkan hipotesa perkembangan itu.

Hipotesa perkembangan dibangun atas hipotesa dokumen. Hipotesa perkembangan, seperti terang pada namanya, adalah hipotesa bahwa ada perkembangan dari lembaga-lembaga religius dari Israel, segera dari awalnya sampai dicapai bentuknya yang terakhir. Wellhausen mulai dengan bertanya, adakah hukum Taurat permulaan dari sejarah Israel kuno atau dari Yudaisme yang kemudian. Sejumlah kitab dari Perjanjian Lama benar-benar tertulis pada zaman pembuangan; mungkinkah hukum Tauratpun diberikan pada zaman ini? Wellhausen menceritakan, bahwa setelah ia membaca Perjanjian Lama ia sukar dapat percaya, bahwa hukum Taurat lebih tua dari zaman para nabi.

Mungkin kita paling mudah mengerti hipotesa perkembangan dari Wellhausen kalau kita memperhatikan satu segi yang penting dari hipotesa ini, yaitu soal tempat ibadah. Dalam Perjanjian Lama baik Yahudi maupun Samaria mengakui, bahwa seharusnya hanya ada satu pusat tempat ibadah, demikian kata Wellhausen. Mereka berbeda pandangan tentang di mana letaknya tempat ini tapi mereka setuju untuk mengakui, bahwa harus hanya ada satu pusat tempat ibadah.
Namun kepercayaan ini tidak selalu ada di Israel, tapi baru timbul melalui waktu perkembangan yang lama. Sebelum rumah Tuhan dibangun tidak ada petunjuk kepada adanya satu tempat suci yang mempunyai hak istimewa sebagai tempat ibadah satu-satunya. Sebaliknya ternyata ada banyak tempat suci. Hal ini mungkin warisan dari orang Kanaan.
Tatkala Israel memasuki Palestina, demikianlah kata Wellhausen, mereka mengambil alih tempat-tempat yang tinggi dan tempat-tempat suci banyak sekali.

Setelah pertempuran di Mikhmas Saul mendirikan suatu mezbah. Dari hal ini kita dapat mengetahui, bahwa mezbah dapat didirikan di tempat manapun juga. Karena Bait Tuhan yang dibangun oleh Salomo tambah berpengaruh dan pengorbanan-pengorbanan di rumah tangga berkurang, maka timbullah pemikiran tentang pemusatan ibadah.
Wellhausen mengatakan, "Sebenarnya kitab-kitab Raja-raja memberikan
gambaran yang salah tentang keadaan, sebab tanah dianggap sebagai milik Yahweh, dan karena itu tiap tempat boleh dijadikan tempat ibadah! Tapi dengan jatuhnya Samaria suatu perubahan mulai nampak.
Amos dan Hosea dulu menekankan, bahwa beberapa tempat suci merupakan kejijikan bagi Tuhan. Tapi kegiatan mereka bukan pertama-tama diarahkan terhadap tempat-tempat suci itu sendiri, melainkan terhadap perbuatan-perbuatan dalam ibadah yang terjadi di situ.
Setelah Samaria jatuh, tidak ada yang menyaingi Yehuda dan Negara Yerusalem diakui sebagai pusat ibadah yang resmi. Samaria telah jatuh tapi Sanherib tidak dapat mengalahkan Yerusalem, dan dengan demikian kota ini menjadi lebih terhormat dan lebih penting.

Wellhausen mengatakan, bahwa ada tiga taraf dalam hukum Taurat yang berjalan bersama-sama dengan sejarah seperti diutarakan di atas.
Dalam Keluaran 20:24-26 dianggap lumrah bahwa ada banyak mezbah. Di manapun juga orang dapat beribadah. Bapa leluhur Israel (meskipun Wellhausen tidak mengakui bahwa mereka benar-benar telah hidup) beribadah tidak pada satu mezbah sebagai pusat, tapi di mana saja mereka menghendakinya. Pada zaman ini yang penting adalah teofani (penglihatan tentang Allah) semata-mata; teofani dapat terjadi di tempat manapun.

Kitab Perjanjian dan dokumen yang disebut J menggambarkan taraf pertama dalam sejarah Israel, dan Ulangan taraf kedua. Hanya dalam Ulangan kita membaca, bahwa ibadah harus dibatasi pada tempat yang telah dipilih. Hanya dalam kitab ini perintah itu dirasakan kuat dan baru dan perintah itu dengan tegas menerangkan kehendak orang yang memberikan hukum Taurat. Ulangan mempergunakan bahan yang sudah ada tapi diberi bentuk baru hingga sesuai dengan maksud yang dasariah itu. Penulis memperbolehkan yang sebelumnya dilarang dan melarang apa yang sebelumnya boleh. Jadi Ulangan tumbuh dari keadaan waktu dan karena itu harus ditempatkan pada zaman Yosia. Kitab ini, atau mungkin hanya sebagian darinya, telah ditulis pada zaman Yosia ini dengan tujuan untuk memusatkan ibadah. Jadi Ulangan bukan hasil karya Musa, tapi benar-benar suatu pemalsuan, sebab mengaku sebagai memuat kata-kata yang difirmankan Allah kepada Musa, dan seluruh kitab ini menimbulkan kesan seakan-akan ditujukan kepada mereka yang belum masuk ke Tanah Perjanjian.

Tentang undang-undang Wellhausen menegaskan, bahwa sama seperti Ulangan, juga undang-undang ini mengatakan tentang korban yang pada tempat yang sentral. Tapi dalam Ulangan kesatuan dalam peribadahan ini diperintahkan, padahal dalam "undang-undang imamat" kesatuan tadi dianggap sudah ada dan sebagai sesuatu yang biasa. Jadi ada perlawanan antara Ulangan dan "undang-undang imamat". Ulangan adalah medan gerak dan bentrokan; "undang-undang imamat" berjalan seakan-akan segala sesuatu sudah terselesaikan sejak lama. Ulangan memberikan pengertiannya; "undang-undang imamat" memberikan pengertian itu sebagai sejarah. "Undang-undang imamat" tidak berpikir bahwa ada agama tanpa tempat suci, tidak dapat berpikir
tentang Israel tanpa tempat suci dan dalam hal ini menuliskan kembali sejarah Israel yang telah lampau. Jadi Kemah Suci misalnya mencontoh Rumah Tuhan dan bukan sebaliknya. Dengan pandangan tentang perkembangan tempat ibadah ini, dihubungkan perkembangan sifat korban, pesta-pesta suci, imam-imam dan orang-orang Lewi, gagasan tentang Allah, dan sebagainya. Yang mendasari seluruh pandangan ini adalah teori evolusi yang diajarkan oleh Darwin.


JAWABAN KEPADA WELLHAUSEN

Tidak bisa diingkari bahwa Wellhausen cukup lama sangat berpengaruh dalam bidang ini. Tapi hipotesa perkembangan yang diajarkan Wellhausen pada akhirnya lenyap juga, tapi yang tidak lenyap adalah hipotesa tentang dokumen-dokumen yang dipakai oleh Wellhausen. Dan hipotesa ini dalam berbagai-bagai bentuk pada zaman sekarang masih
diakui oleh banyak orang seperti dulu. Dua hal yang mendatangkan kejatuhan hipotesa perkembangan Wellhausen. Pertama, kelemahan-kelemahannya segera terbuka; kedua penemuan-penemuan arkeologi menunjukkan bahwa tidak mungkin Wellhausen benar. Memang masih ada hal-hal lain, tapi dua hal di ataslah yang teristimewa mendatangkan kematian hipotesa Wellhausen itu.

Hampir dengan langsung ada ahli-ahli yang menunjukkan kekeliruan-kekeliruan 'logical' (jalan pemikiran) yang telah dibuat oleh orang Jerman yang terkenal itu. Satu contoh, kalau orang-orang tidak menaati suatu hukum tidak bisa ditarik kesimpulan, bahwa hukum itu sendiri tidak ada. Orang-orang seperti W.L. Baxter, William Henry Green, Geerhardus Vos, Wilhelm Möller, kemudian juga Oswald T. Allis, telah dengan mendalam menganalisa hipotesa perkembangan itu dan dengan kuat menelanjangi kelemahan-kelemahannya. Teristimewa hipotesa ini sedemikian bertentangan dengan Alkitab hingga tidak dapat diterima oleh siapapun yang menghormati apa yang diajarkan oleh Alkitab tentang waktu dan penulis dari naskah-naskah Alkitab sendiri.

Bahkan waktu Wellhausen masih hidup, arkeologi sudah mulai berbicara dengan terang. Pada akhirnya, dengan penemuan batu-batu dengan tulisan di Nuzi (1925) menjadi terang, bahwa latar belakang cerita-cerita bapa-bapa leluhur Israel dalam Kejadian sama sekali bukan tidak dapat dipercaya, melainkan malahan sangat teliti. Makin banyaklah terang yang diberikan arkeologi atas persoalan ini. Karena itu juga makin tidak mungkinlah bagi seorang ahli untuk setuju dengan anggapan Wellhausen tentang nilai Kejadian bagi sejarah. Dan juga telah menjadi terang-benderang, bahwa banyak bahan yang diketemukan dalam apa yang disebut "undang-undang imamat" adalah tua sekali. Masih ada segi-segi lain yang dengan meyakinkan dikatakan oleh arkeologi. Kini buku Wellhausen hanya merupakan barang kuno saja. Memang hal ini mengherankan kalau diingat betapa dengan kepastian Wellhausen mengajarkan teorinya itu.


ALIRAN FORM-CRITICISM (KRITIK BERDASARKAN BENTUK)

Penyelidikan arkeologi memberikan keterangan baru tentang kebudayaan-kebudayaan dunia purba. Agama-agama purba dipelajari dan dibandingkan dengan Alkitab. Hermann Gunkel menulis sebuah buku yang pada segi-segi tertentu sudah memuat benih-benih yang akan menggulingkan hipotesa perkembangan. Maksud Gunkel adalah untuk memperlihatkan dengan cara bagaimana bahan dari Kejadian diambil dari kebudayaan-kebudayaan lain dan disesuaikan dengan keperluan Israel; dan Gunkel juga bermaksud untuk menunjukkan nilai yang diberikan pada akhirnya dalam Israel. Perkembangan transformasi (perubahan). 'Umbildung' inilah sifat khusus agama Israel, demikian
menurut Gunkel. Hal istimewa dalam agama Israel adalah kepercayaan, bahwa Allah telah menyatakan Diri dalam sejarah Israel.

Jadi Kejadian 1 bukannya karangan bebas, tapi cerita-cerita purba ada di belakang tulisan imamat ini. Cerita-cerita atau hikayat-hikayat dari Kejadian adalah cerita-cerita yang diberikan oleh orang-orang Israel zaman purba, yang dilanjutkan dari keturunan demi keturunan sampai mencapai bentuk yang tetap. Pada mulanya hikayat-hikayat ini tidak mempunyai hubungan yang khusus tapi lama-kelamaan hikayat-hikayat itu dihubungkan dengan tokoh-tokoh terkenal seperti Abraham. Baru kemudian hikayat-hikayat itu dikumpulkan menjadi himpunan-himpunan yang lebih besar, yaitu dokumen-dokumen yang dikenal sebagai J.E. dan sebagainya, dan ini semua pada akhirnya dijadikan satu. Himpunan yang sebenarnya yang harus diselidiki adalah hikayat-hikayat itu sendiri, dan tugas dari si penyelidik ialah menentukan bentuknya yang asli dan sejauh mungkin keadaan zaman yang melahirkan himpunan itu demikian menurut Gunkel. Memang cara penyelidikan demikian akan merusak kesatuan dari dokumen-dokumen yang dianggap ada dan seperti yang diketemukan sekarang.

Sejarah kesusasteraan Israel, menurut Gunkel, sebenarnya adalah sejarah corak. Tiap corak kesusasteraan purba sebenarnya ditimbulkan oleh keadaan sekitarnya di suatu tempat. Untuk menentukan corak-corak ini perlulah mengajukan pertanyaan-pertanyaan, seperti siapakah yang bicara? Siapakah yang mendengarkan? Suara yang bagaimana merupakan ciri keadaan? Tindakan apakah yang dimaksudkan? Kita juga harus mempelajari sejarah pengumpulan tiap himpunan.

Karya Gunkel diteruskan oleh orang-orang lain, antara lain yang terkenal adalah Hugo Gressmann, yang menerapkan cara kerja tersebut pada Keluaran. Memang pada akhirnya segenap Perjanjian Lama diperlakukan seperti di atas dalam suatu seri dari empat jilid, yang terkenal sebagai "The Writings of the Old Testament (Die Schriften des Alten Testaments, 1911)". Cara pendekatan Perjanjian Lama ini menjadi sangat berpengaruh dan mendasari hampir semua penyelidikan "kritis" zaman sekarang.

Dalam cara pendekatan kritik bentuk (form-criticism) ada alasan-alasan yang harus diperhatikan. Memang tidak usah ada keberatan terhadap usaha untuk menentukan bentuk Alkitab yang sebenarnya. Untuk mengambil contoh yang umum: kita harus membedakan antara prosa dan puisi. Mungkin juga ada corak-corak kesusastraan tertentu yang dipakai para penulis Alkitab. Tapi metode ini biasanya diikuti dengan cara yang sangat subyektif. Metode ini mencari himpunan yang asli dan di dalam mencari ini tidak berkeberatan untuk membuang segala sesuatu yang dianggapnya sebagai tidak begitu
penting atau sebagai tambahan.

Di sinilah maksud unsur subyektifisme. Siapa yang harus mengatakan apa yang asli dan apa yang ditambahkan kemudian? Bahwa cara metode ini subyektif nyata juga kalau kita melihat betapa berbeda hasil penyelidikan yang dijalankan oleh beberapa penganut kritik bentuk ini. Teristimewa halnya dengan penyelidikan tentang kitab-kitab nabi-nabi. Mereka tidak setuju yang satu dengan yang lain, dan ketidaksetujuan ini mengenai hal-hal yang benar-benar penting.
Selanjutnya kalau himpunan yang dianggap asli sudah didapatkan, timbullah pertanyaan-pertanyaan tertentu yang benar-benar tidak dapat dijawab. Bagaimana keadaan hidup yang melahirkan himpunan tadi? Biasanya hal ini tidak kita ketahui, karena himpunan itu sendiri seringkali tidak mengatakan apa-apa, atau mungkin sedikit sekali, tentang soal tadi. Dengan tidak sadar para pengkritik dipengaruhi oleh bagian Alkitab yang telah mereka buang dalam penyelidikan mereka. Seringkali juga tidak mungkin untuk menentukan siapa yang berbicara. Karena itu dapat dimengerti, bahwa Ivan Engnell almarhum menekankan, bahwa tidak ada kemungkinan untuk mengetahui kata-kata yang benar-benar ('ipsissima verba') yang digunakan oleh para nabi. Kritik bentuk mengakibatkan skeptisisme, demikian seringkali terjadi.


BEBERAPA PERKEMBANGAN TERAKHIR

Tidak semua ahli mengikuti Wellhausen dan Gunkel. Ada yang mencari jalan mereka sendiri. Pada tahun 1908 B.D. Eerdmans mendekati persoalan tentang Pentateukh dengan cara yang sangat berlainan dari cara yang dianut oleh kebanyakan ahli: Ia mendapatkan empat taraf yang berbeda-beda dalam perkembangan; mulai dari tariff politeisme sampai taraf monoteisme. Penemuan Ulangan menyebabkan bahan yang ada sebelumnya harus ditulis kembali secara monoteistis.
Perluasan-perluasan datang sesudah zaman pembuangan. Pada tahun 1912 Rudolf Smend menekankan adanya dua Yahwis yang berdampingan.
Selanjutnya ia mempertahankan kesatuan dari dokumen E, tapi ia menganggap bahwa D dan P adalah hasil tambahan-tambahan. Pada tahun 1922 Otto Eissfeldt membela teori ini dan menyebut J¹ dari Smend L (artinya 'lay source', sumber dari awam). Eissfeldt mengatakan hal itu pertama-tama berdasarkan adanya cerita-cerita yang dianggapnya
duplikat (salinan).

Ulangan menjadi bahan banyak penyelidikan. Ada yang menyangka, bahwa Ulangan datang dari negeri Israel bagian Utara. Ada yang mengatakan bahwa waktu penulisannya adalah zaman sesudah pembuangan atau sedikit-sedikitnya pada zaman pembuangan sendiri. Pada tahun 1925 Möhler menulis pembelaan, bahwa Musalah penulis Ulangan. Ia menunjukkan, bahwa kitab ini sering mirip dengan empat kitab yang pertama tentang hukum Taurat. Tada tahun 1963 Meredith G. Kline berusaha untuk menunjukkan, bahwa kitab ini tersusun menurut cara yang biasa dari risalah-risalah kerajaan Het. Adapun pendahuluan tentang sejarah dari buku ini yang menunjukkan ciri-ciri risalah lebih purba, itu memang pasti purba, kata Koine, tepat dengan zaman Musa sebagai penulis.

Lambat laun datanglah waktu perpecahan. Karena penemuan-penemuan arkeologi banyak anggapan yang diakui harus ditinggalkan dan banyak orang menulis tentang soal-soal yang khusus.

Tokoh terkemuka dalam aliran yang disebut 'Leipzig School' (yaitu aliran penyelidikan Perjanjian Lama yang dasarnya diletakkan oleh Albrecht Alt almarhum) adalah Martin Noth. Noth mengajarkan suatu bentuk istimewa dari hipotesa dokumen, tapi dari ajarannya mungkin yang terpenting ialah pandangannya tentang sejarah Israel abad-abad
dahulu.

Noth berpandangan, bahwa Pentateukh adalah buah jalan perkembangan yang lama, yang dipengaruhi oleh beraneka warna paham dan arah pemikiran. Tradisi, mula-mula lisan, telah ditulis dan baru kemudian dihimpun menjadi karya sastera yang besar. Yang disebut J dan E mempunyai dasar satu, demikian menurut Noth. Noth membedakan Tetrateukh (ke-4 kitab dari Pentateukh) dari karya Deuteronomis yang dasarnya adalah Ulangan (Deuteronomy). Kitab-kitab lainnya dalam karya Deuteronomis ini ialah Yosua, Hakim-hakim, 1 dan 2 Samuel, 1 dan 2 Raja-raja. Jadi sebenarnya ada dua kumpulan tradisi yang
nampak dalam Pentateukh dan dalam buku-buku yang bersifat sejarah ("Nabi-nabi pertama") dalam Perjanjian Lama. Uraian Noth sangat terperinci dan ia membicarakan sejarah dari beraneka ragam pokok yang terdapat dalam dokumen-dokumen secara amat mendalam.

Banyak alasan yang dapat diajukan untuk menentang cara analisa berdasarkan dokumen secara umum ini. Masih ada alasan lagi, yaitu bahwa Ulangan mencerminkan kitab-kitab Pentateukh sebelumnya, teristimewa Keluaran itu. Lagi pula Ulangan kelihatannya juga
berdasarkan kitab-kitab sebelumnya. Peristiwa Keluaran itulah yang mendasari sejarah selanjutnya. Sebab apa peristiwa ini diuraikan sebagai dasar dalam Keluaran dan diceritakan, seolah-olah yang menulis adalah dari zaman itu juga, padahal dalam Ulangan dan dalam kitab-kitab sesudahnya peristiwa ini diceritakan sebagai telah terjadi pada waktu yang lampau?

Mungkin Noth terkenal teristimewa karena pembicaraannya tentang sejarah purba dari bangsa Israel. Heinrich Ewald (meninggal 1875) mempertahankan, bahwa jumlah 12 merupakan unsure dasar dalam uraian dan penghitungan suku-suku Israel. Noth menekankan, bahwa pada zaman purba dari bangsa Israel telah diadakan Perjanjian atau persekutuan antara ke-12 suku menurut pola ampiktioni (persekutuan antara Negara-negara bertetangga guna merundingkan kepentingan bersama).
Pusat persekutuan ini, yang dianggap timbul pada zaman para Hakim itu adalah ibadah yang dilaksanakan, di suatu tempat suci pusat.
Hukum-hukumnya adalah peraturan-peraturan dari peribadahan itu.

Tapi ada beberapa pertimbangan yang menimbulkan tanda-tanya, apakah tafsir Noth tentang sejarah purba Israel itu benar? Pertama, keadaan di negeri Yunani dan Italia pada waktu itu sangat berbeda dari keadaan negeri Israel. Di Yunani ampiktioni diadakan untuk melindungi dan menyatukan negara-negara kecil yang sudah ada.
Persekutuan dari bangsa Filistin lebih mirip dengan apiktioni itu. Tapi orang Israel masuk ke Palestina dari gurun sebagai suku-suku jadi tidak sebagai negara-negara.

Yosua 24, yang dianggap cerita tentang timbulnya kesatuan suku-suku itu, sebenarnya menceritakan, bahwa kesatuan itu sudah ada sejak lama. Lagi pula, meskipun Perjanjian Lama mempunyai banyak kata bagi ibadah agama sampai hal yang jelimet, tapi tidak terdapat di situ suatu kata bagi ampiktioni. Perjanjian Lama juga tidak pernah menceritakan suatu pengaturan yang dapat dianggap sebagai ampiktioni. Teori Noth mengatakan, bahwa pada zaman para hakim suku-suku Israel bersatu, tapi sebenarnya terbagi-bagi. Waktu bangsa Israel meminta seorang raja pada zaman Samuel, hal yang mereka minta bersifat politis dan bukan religius. Karena itu tidak ada bukti yang
menyokong pendapat Noth di atas.


PENYELIDIKAN TENTANG TRADISI-TRADISI

Pekerjaan yang sangat penting adalah pekerjaan Gerhard von Rad, yang bertolak dari Ulangan 26:5b-11. Bagian ini dianggap sebagai pengakuan ('credo') dalam kebaktian. Di sini tidak disebut-sebut peristiwa-peristiwa Sinai. Ini menurut von Rad penting sekali.
Berdasarkan hal ini, dan hal yang sama dalam bagian-bagian lain, ia berkesimpulan bahwa tradisi-tradisi Sinai mulai-mula terpisah dari tradisi-tradisi tentang keluaran dan kemenangan Israel. Von Rad tidak menyangkal bahwa bapa-bapa leluhur Israel benar-benar dulu ada, tapi ia mengatakan, bahwa mereka mengikuti cara ibadah yang disebut "Allah dari nenek moyang" dan bahwa masing-masing mereka mempunyai allahnya sendiri. Tidak semua suku ada di Mesir tapi hanyalah suku-suku dari anak-anak yang dilahirkan oleh Rahel.

Suku-suku yang dilahirkan oleh Rahel ini memasuki Tanah Perjanjian dan di situ terbentuklah suatu persekutuan (ampiktoni) yang longgar dengan suku-suku Lea, yang sudah ada di tanah itu. Hal yang menyatukan mereka adalah kepercayaan mereka yang sama kepada Yahweh.
Pada tahun-tahun kemudian imam-imam dari jemaat-jemaat Yahweh mengajar bangsa. Penyusun tradisi Yahwis menyatukan tradisi-tradisi Sinai dengan tradisi-tradisi Keluaran dan Kemenangan Israel. Dengan demikian Israel menerima banyak pemikiran agamawi melalui orang-orang Kanaan, meskipun mungkin aslinya antara orang Babilonia. Teori von Rad inilah yang radikal. Perlulah ditunjukkan, bahwa dalam dokumen-dokumen Perjanjian sering tidak disebut tempat peresmiannya.
Karena itu dalam Ulangan tidak usahlah nama Sinai disebut.
Selanjutnya: pandangan von Rad terlalu ekstrim. Ulangan 26:5b-11 tidak memuat satu halpun di antara Keluaran dan masuknya Israel ke Palestina. Karena itu kalau tradisi-tradisi Sinai bukan bagian dari aslinya, banyak lain-lainnya juga bukan bagiannya.


KESIMPULAN

Menyelidiki perkembangan dari pandangan yang berbeda-beda tentang Pentateukh, sungguh penarik dan memberi banyak pelajaran. Tapi kalau penyelidik bertolak dari tuntutan-tuntutan langsung dari Alkitab sendiri, maka ia akan terlibat dalam kesukaran yang sungguh mendalam.

Dari teori-teori yang telah disebutkan tidak ada yang cukup memberikan tempat yang wajar kepada peristiwa-peristiwa dalam Alkitab. Hanya kalau orang tanpa syarat menerima tuntutan-tuntutan Alkitab (juga tuntutan, bahwa dalam arti yang mutlak dan benar Allahlah Penulisnya), ia akan dapat memberikan tempat kepada Alkitab dengan sewajarnya. Apakah yang akan datang kelak, dalam bidang ini, kita tidak dapat mengatakan. Tapi firman Allah akan selalu tetap. Teori-teori datang dan lenyap tapi Alkitab akan selalu mendatangkan berkat bagi manusia. Sebab Alkitab adalah firman dari Allah yang kekal. [ðððð]


----------------------------------------------------------------------
Sumber:
Tafsiran Alkitab Masa Kini, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Cetakan ke-5, Jakarta: November 1992.


Artikel terkait :
Pengantar Hipotesis Dokumen
http://www.sarapanpagi.org/yedp-teori-vt709.html#p4150

YEDP TEORI
http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=1638#1638


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 1 post ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
Powered by phpBB & phpBB SEO
Sarapan Pagi © 2006 by BP & Saxman