Quote:
Injil Lukas pun tak luput dari penambahan-penambahan ayat, misalnya pasal 23:17. Lembaga Biblika Indonesia menyatakan, “Kebanyakan naskah tidak memuat ayat ini; kiranya tidak asli” (Kitab Suci Perjanjian Baru, 1978/1979, hlm. 194).
Tanggapan:* Lukas 23:17 LAI Terjemahan Baru (TB),
[Sebab ia wajib melepaskan seorang bagi mereka pada hari raya itu.] LUKAS 23:17 Indonesian - Terjemahan Lama (TL) ,
Karena pada hari raya itu wajiblah Pilatus melepaskan seorang terpenjara bagi mereka itu. Klinkert 1870,
(Karena tadapat tidak pada hari-raja itoelah Pilatoes melepaskan sa’orang kapada mareka-itoe).Lydekker,
Maka wadjiblah ‘ija pada masa raja ‘itu berij sa‘awrang lepas bagi marika ‘itu.King James Version (KJV) ,
(For of necessity he must release one unto them at the feast.) Byzantine/Majority Text (2000),
αναγκην δε ειχεν απολυειν αυτοις κατα εορτην εναTextus Receptus (1550) ,
αναγκην δε ειχεν απολυειν αυτοις κατα εορτην εναTextus Receptus (1894) ,
αναγκην δε ειχεν απολυειν αυτοις κατα εορτην εναTranslit,
anagkên de eikhen apoluein autois kata heortên henaTerjemahan LAI TB Secara khusus memberikan tanda kurung […] sebagai tanda bahwa ayat ini ada dalam beberapa salinan naskah bahasa asli Yunani, namun juga tidak ada dalam beberapa salinan naskah Yunani.
Kami mengakui bahwa ada perbedaan-perbedaan ditemukan dalam naskah-naskah salinan bahasa Asli Yunani. Namun ayat 17 dalam Lukas pasal 23 ini bukan berarti mutlak sebagai "penambahan" seperti yang dituduhkan. Kita lihat sajian terjemahan yang didasarkan dari naskah UBS (United Bible Society) yang berbasis pada naskah Wescott & Hort.
Perhatikan : Terjemahan New International Version (NIV) memberikan catatan kaki setelah ayat 16 sbb :
* Luke 23:16 (New International Version)
Therefore, I will punish him and then release him."[a]
Footnotes:
[a] Luke 23:16 Some manuscripts him." 17 Now he was obliged to release one man to them at the Feast.
Sumber :
http://www.biblegateway.com/passage/?se ... ersion=31;Meskipun NIV tidak memuat ayat 17 dikarenakan naskah yang dijadikan dasar terjemahannya yaitu Wescott & Hort tidak memuatnya, namun team penterjemah NIV memberikan catatan bahwa pada naskah-naskah lain terdapat ayat 17. Hal ini menandakan kejujuran dari team Penterjemah Alkitab NIV yang dengan tulus mengungkapkan suatu kenyataan bahwa meski ayat 17 tidak ada dalam terjemahan Alkitab yang ditampilkannya, mereka menunjukkan bahwa ada naskah-naskah lain yang memuat ayat 17. Yang menandakan bahwa apa yang ditampilkan mereka dalam sajian NIV bukan suatu kemutlakan.
Terhadap masalah ini, kami menjelaskannya sbb :Kebanyakan tuduhan "penambahan dan pengurangan ayat" yang dipermasalahkan sebenarnya bukanlah penambahan dan pengurangan sama sekali, melainkan hanya kesalahan daripada
kesalahan pembuat salinan ulang. Seperti yang kita ketahui, Perjanjian Lama (PL) ditulis pada abag ke 17 s/d 5 sebelum Masehi diatas kulit-kulit dan Papyrus yang mudah rusak, sehingga perlu terus menerus disalin ulang selama lebih dari 3,000 tahun, dan Perjanjian Baru disalin ulang selama 1,400 tahun, oleh masyarakat yang terserak ke pelbagai komunitas di tempat-tempat dan benua yang berbeda-beda, tetapi isinya tidak mengalami perubahan mendasar.
Dewasa ini, banyak catatan-catatan yang usianya tua ditemukan sehingga dapat mendukung pembuktian tulisan kitab-kitab yang telah ada. Kitab Perjanjian Baru (PB) sendiri memiliki 5,300 naskah dan fragmen (bagian-bagian naskah) dalam bahasa Yunani, 10,000 naskah latin Vulgate dan 9,300 naskah tua dalam terjemahan bahasa lainnya.
Dengan kata lain, PB memiliki lebih dari 24,000 salinan naskah untuk digunakan!. Jelas bahwa luasnya per-naskah-an ini memungkinkan kita membuat gambaran terhadap setiap ayat variant (tidak baku) yang selalu akan ada. Dimana muncul variant tertentu, maka teks tersebut kemudian diidentifikasi dan disisihkan untuk dijadikan catatan kaki pada ayat yang bersangkutan. Tetapi hal tersebut tidak membuat Alkitab menjadi cacat (ketika kita membandingkannya dengan tulisan aslinya).
Orang Kisten dengan senang hati mengakui, bahwa ada "ketidak sempurnaan" dalam penyalinan ulang terhadap PL dan PB. Tetapi hal seperti itu memang diluar kemampuan manusia manapun untuk dihindari, karena menyalin ulang halaman demi halaman dengan tangan secara manual akan menghasilkan kesalahan manusiawi, baik untuk buku suci maupun sekuler. Apalagi kalau naskahnya yang akan dialin itu sudah buram ditelah usia dan cara penyimpanan yang tidak bisa sempurna. Namun, kita tahu bahwa
naskah aslinya (yang disebut autograph, yaitu yang diinspirasikan langsung oleh Tuhan kepada penulis Alkitab) tidak akan memiliki kesalahan sedikitpun juga. Tetapi berhubung dokumen-dokumen yang asli telah ditulis pada masa yang amat lampau, maka dokumen tersebut tidak dapat lagi ditampilkan, karena factor umur dan kerusakan media naskah-naskah tsb.
Kesalahan-kesalahan dalam penyalinan naskah asli ini terjadi karena faktor manusiawi, mengingat zaman dahulu setiap naskah ditulis tangan secara manual. Pada zaman dahulu, kita tahu belum ada mesin foto copy yang dapat menyalin secara persis huruf-per-huruf tanpa ada kekurangan.
Para analis naskah kuno mencatat bahwa setiap orang yang menulis ulang (juru-tulis atau penyalin ulang) cenderung membuat 2 jenis kesalahan dalam penulisan salinan kitab :
Yang pertama berhubungan dengan ejaan nama-nama (apalagi nama-nama aneh dan asing). Dan
yang kedua berkenaan denga bilangan-bilangan. Kenyataan bahwa kedua jenis "kesalahan" ini saja yang utamanya mulcul dalam salinan Alkitab
semakin membuktikan bahwa kesalahan-kesalahan dalam naskah Alkitab hanya dilakukan oleh para penyalin ulang belaka. Jika memang benar bahwa pesan-pesan Alkitab asli-lah yang bertentangan, maka tentulah buktinya dapat ditemukan dalam isi Alkitab itu sendiri. (Gleason L Archer, ensiclopedia of Bible Difficulties, 1982, p. 221-222).
Yang perlu disadari oleh kita semua adalah bahwa tidak ada satupun perbedaan dalam serentetan salinan ulang Alkitab yang sampai ke tangan kita itu, menggeser atau mengubah doktrin Alkitab itu sendiri. Justru Roh Kudus telah melakukan "campur tangan" dan menjaga agar penyalinan ulang teks Alkitab jangan sampai menggeser ajaran-ajaran doktrinal itu sendiri.
(Catatan :
Bila ada yang menjahili Alkitab agar ajarannya terselewengkan, maka tentulah sasaran penjahilnya bukan pada tetek-bengek angka dan huruf yang sama-sekali tidak ada bobot signifikansinya terhadap ajaran doktrinal itu sendiri!)
Allah menjadikan kebenaran FirmanNya lewat pewahyuan/pengilhaman. Namun Tuhan tidak pernah berjanji tidak ada keteledoran dalam penulisan ulang Alkitab. Maka dapat dipastikan bahwa naskah asli Alkitab (autograph) merupakan ilham dari Tuhan sendiri yang tidak ada cacatnya. Karena itu kita perlu menjadikan kritik-kritik yang ada sebagai alat untuk menemukan keteledoran yang mungkin saja terdapat dalam salinan ulang Alkitab.
Secara keilmuan, teks Alkitab dalam bahasa Ibrani dan Yunani terbukti amat terpelihara dalam Alkitab, sehingga bersama Westminter Confession, kami mampu menegaskan bahwa dibawah penjagaan Tuhan, maka keabsahan dan otoritas Kitab Sudi tidak sedikitpun dirusakkan oleh adanya salinan ulang yang "kurang sempurna" dalam bentuknya, bukan dalam isi dan pesan-pesan doktrinalnya.
Bukahkah di era sahabat Muhammad pun terdapat aneka ragam manuskrip Al~Qur'an yang berbeda? Langkah yang diambil
panitia penyusunan Al~Qur'an saat itu cukup lumayan, menyeragamkan manuskrip yang ada, yang berbeda dibakar. Hal demikian
tidak dapat dilakukan pada manuskrip Alkitab karena tersebar di ratusan bahkan ribuan tempat. Perbedaannya disini justru kita menemukan bahwa Kekristenan menyediakan
paling transparan sumbernya, pengumpulannya dan aspek historisnya dan penggunaannya, dan semua orang dapat membacanya.
Sad to say, 'kitab-kitab iman yang lain' tidak se-transparan Alkitab dalam aspek-aspek diatas sehingga jadi sulit diteliti secara rasional.
Karena transparannya Alkitab, catatan kaki pun masuk ke pertimbangan LAI dan di hampir setiap terjemahan. Kalau tidak dimasukkan justru nanti dapat dibilang membohongi rakyat. (perhatikan Terjemahan NIV yang banyak memberikan catatan kaki untuk teks WH). Dengan demikian, Terjemahan NIV yang berdasar WH itu membuka dan membiarkan pembaca untuk mengkritisi text tersebut secara terbuka dan memutuskan sendiri.