SarapanPagi Biblika

Studi Alkitab & Pustaloka Kristiani
It is currently Thu Jan 08, 2009 6:49 pm

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 8 posts ] 
Author Message
 Post subject: Tanggapan : Gereja Mempromosikan Penipuan
PostPosted: Tue Dec 11, 2007 7:18 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 4834
Tuduhan :

Quote:
http://datakristen.blogspot.com/2007/11 ... ipuan.html

Gereja Mempromosikan Penipuan
Kamis, November 01, 2007



Mengapa mayoritas pendeta-pendeta Kristen dan misionaris-misionaris Kristen sering menipu, gemar berbohong, suka mengedit Alkitab, dan memiliki watak sebagai pemalsu? Orang Kristen menipu karena mereka percaya, mereka iman, bahwa menipu adalah halal demi tegaknya agama Kristus di muka bumi. Jika Anda tidak percaya, simaklah dibawah ini.


Paulus berkata :

"Sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita." (Filipi 1:18 TB)

"Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?" (Roma 3:7 TB)


Tahukah Anda?

Lagi-lagi Pendeta-pendeta Kristen Pagan Trinitarian mengedit Alkitab. Mereka telah merevisi kebobrokan Roma 3:7 dalam Alkitab update-an terbaru yang diberi nama Contemporary English Version (CEV).

Pendeta Pagan Trinitarian telah merevisi "aku" (yaitu Paulus) menjadi "kamu" (yaitu orang lain). Perhatikan hasil revisi Roma 3:7 dibawah ini

"Since your lies bring great honor to God by showing how truthful he is, you may ask why God still says you are a sinner. " (Rome 3:7 CEV Bible)


Kepada jemaat kota Korintian Yunani, Paulus berkata:

"But be it so, I did not burden you: nevertheless, being crafty, I caught you with guile." (2 Korintus 12:16 KJV)

"Saya tidak membebanimu: tetapi, dalam kelicikan, saya jerat kamu dengan tipu daya." (2 Korintus 12:16 Terjemahan KJV)


Tahukah Anda?


Gereja telah mengedit 2 Korintus 12:16 dalam berbagai edisi Alkitab terbaru. Bible edisi CEV, BIS, dan ESV sudah merevisi ayat ini.

(ESV) But granting that I myself did not burden you, I was crafty, you say, and got the better of you by deceit.

(BIS) Nah, kalian setuju bahwa saya tidak pernah menyusahkan kalian. Namun ada yang berkata bahwa saya ini licik; bahwa saya mendapat keuntungan dari kalian karena tipu daya saya.

(CEV) You agree that I wasn't a burden to you. Maybe that's because I was trying to catch you off guard and trick you.


Paulus adalah orang merasa dirinya bebas, berdasarkan pernyataannya sendiri!

1 Korintus 9:19-21 KJV
19 For though I be free from all men, yet have I made myself servant unto all, that I might gain the more.
20 And unto the Jews I became as a Jew, that I might gain the Jews; to them that are under the law, as under the law, that I might gain them that are under the law;
21 To them that are without law, as without law, (being not without law to God, but under the law to Christ,) that I might gain them that are without law.

Terjemahan 1 Korintus 9:19-21 (Note: Saya melepaskan kalimat sisipan yang ditandai tanda kurung yang dilakukan oleh pendeta Kristen)
19 Karena Aku menjadi bebas dari semua orang, namun aku membuat diriku sendiri melayani semua, sehingga memungkinkan saya untuk mendapatkan lebih banyak lagi.
20. Dan kepada orang-orang Yahudi Aku menjadi seperti orang Yahudi, sehingga Aku memenangkan orang-orang Yahudi; kepada mereka yang mengikuti hukum, seperti yang mengikuti hukum, sehingga saya memenangkan mereka yang adalah mengikuti hukum;
21. Kepada mereka yang tanpa hukum, seperti tanpa hukum, sehingga saya memenangkan mereka yang tanpa hokum.



Tahukah Anda?


Perhatikan bahwa pendeta Kristen dalam KJV 1 Korintus 9:19-21 merasa perlu untuk memberi kalimat "being not without law to God, but under the law to Christ" dengan tanda kurung.

Dalam Bible revisi terbaru bahkan kalimat tsb dilepaskan tanda kurungnya!

(CEV) And when I am with people who are not ruled by the Law, I forget about the Law to win them. Of course, I never really forget about the law of God. In fact, I am ruled by the law of Christ.

(BIS) Terhadap orang bukan Yahudi, saya berlaku seperti seorang bukan Yahudi, yang hidup di luar hukum Musa. Saya lakukan itu supaya saya bisa menarik mereka menjadi pengikut Kristus. Tetapi itu tidak berarti bahwa saya tidak taat kepada perintah-perintah Allah; saya justru dikuasai oleh perintah-perintah Kristus.



Paulus mengakui diri sebagai orang bodoh dan ajaran-ajarannya merupakan ajaran bodoh!

"Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah." (2 Korintus 11:17 TB)

Berdasarkan pengakuannya sendiri, Paulus adalah seorang Farisi. Ia dilaporkan pernah berkata: "Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi." (Kisah Para Rasul 23:6 TB)

Yesus mengecam kaum Farisi: "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik..." (Matius 23:13 TB)

Yohanes pun mengecam kaum Farisi : "...Hai kamu keturunan ular beludak..." (Matius 3:7 TB)

Jadi kesimpulannya adalah karena Paulus adalah orang Farisi, maka ia termasuk golongan hipokrit (munafik) dan ular beludak!

Bapak Gereja bernama Eusebius dari Caesarea dilaporkan pernah berkata:

"It is an act of virtue to deceive and lie, when by such means the interests of the church might be promoted" (source)

(Adalah satu perbuatan baik untuk berbohong dan berdusta, dengan begitu kepentingan-kepentingan gereja dipromosikan.)

Bapak Gereja bernama Jerome berkata:

“Great is the force of deceit! provided it is not excited by a treacherous intention” (source)

(Kebesaran adalah kekuatan penipuan! asal tidak ditimbulkan oleh satu maksud cedera).

Lloyd Graham mengatakan pandangannya mengenai bapak-bapak gereja :

"Adalah umum diketahui bahwasanya bapak-bapak gereja adalah penipu; Katholik mengakui hal itu. Berdasarkan Catholic Encyclopedia, "Pada semua bagian-bagian penipuan dan interpolasi ini sebagaimana kebodohan telah dibuat pada sebuah skala besar." (Lloyd Graham, Deceptions and Myths of the Bible, hal.455--source)


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Dec 11, 2007 7:23 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 4834
Jawab :


Seperti biasa, penuduh dari kalangan Muslim ini mengabaikan konteks dari suatu teks ayat Alkitab. Penuduh mencari-cari kata-kata "negative" untuk menjadikannya sebagai tuduhan, terutama pada tulisan-tulisan Paulus.


- A Text Without Context is a Pretext to a Proof Text –


Penuduh dari kalangan muslim ini suka mengkritisi isi text Alkitab kita secara pretext saja, bukan konteks. Padahal dalam memahami ayat-ayat Alkitab, bukan hanya beberapa ayat saja yang dilihat, tetapi seluruh perikop sebagai kesatuan, maka yang mereka lakukan namanya pretext, bukan konteks.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Tue Dec 11, 2007 7:36 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 4834
Kita bahas satu-persatu tuduhan-tuduhan tsb :


Tuduhan :
Quote:
Tahukah Anda?

Lagi-lagi Pendeta-pendeta Kristen Pagan Trinitarian mengedit Alkitab. Mereka telah merevisi kebobrokan Roma 3:7 dalam Alkitab update-an terbaru yang diberi nama Contemporary English Version (CEV).

Pendeta Pagan Trinitarian telah merevisi "aku" (yaitu Paulus) menjadi "kamu" (yaitu orang lain). Perhatikan hasil revisi Roma 3:7 dibawah ini

"Since your lies bring great honor to God by showing how truthful he is, you may ask why God still says you are a sinner. " (Rome 3:7 CEV Bible)



Jawab :


* Roma 3:7
LAI TB, Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?
King James Version, For if the truth of God hath more abounded through my lie unto his glory; why yet am I also judged as a sinner?
New American Standard Bible (©1995) , But if through my lie the truth of God abounded to His glory, why am I also still being judged as a sinner?
New international Version, Someone might argue, "If my falsehood enhances God's truthfulness and so increases his glory, why am I still condemned as a sinner?"
Contemporary English Version (CEV) Copyright © 1995, Since your lies bring great honor to God by showing how truthful he is, you may ask why God still says you are a sinner.


Terjemahan CEV memang "tidak sesuai" (secara harfiah) dengan naskah asli Bahasa Yunani. Jikalau suatu terjemahan dianggap bermasalah, baiklah kita kembali kepada naskah Bahasa Asli Yunani, dengan terjemahannya secara kata-per-kata (interlinear) :


Textus Receptus (TR), ει γαρ η αληθεια του θεου εν τω εμω ψευσματι επερισσευσεν εις την δοξαν αυτου τι ετι καγω ως αμαρτωλος κρινομαι
Translit interlinear, ei gar {jika} hê alêtheia {karena kebenaran} tou theou {Allah} en {di dalam} tô emô {-ku} pseusmati {dusta} eperisseusen {ia berlimpah} eis {ke dalam} tên doxan {kemuliaan} autou {-Nya} ti {apakah} eti {masih} kagô {aku juga} hôs {seperti} hamartôlos {orang yang berdosa} krinomai {aku dihakimi}


Namun kalau dikaji secara kontekstual, kata ganti "-ku" (dustaku) pada ayat ini, sebenarnya tidak merujuk kepada pribadi Rasul Paulus. Bandingkan dengan terjemahan NIV yang menterjemahkannya secara kontekstual, sbb :

"Someone might argue, "If my falsehood enhances God's truthfulness and so increases his glory, why am I still condemned as a sinner?"

NIV, meski tidak menterjemahkan naskah Yunani secara static/ literal sebagaimana terjemahan KJV, namun terjemahan ini-pun tak dapat dipersalahkan, karena NIV menyajikan "terjemahan" yang lebih mudah dipahami oleh pembaca. Dibawan nanti akan disajikan penejelasannya , bahwa kata "dusta-ku" tidak merujuk kepada pribadi rasul Paulus.



Tuduhan :
Quote:
Mengapa mayoritas pendeta-pendeta Kristen dan misionaris-misionaris Kristen sering menipu, gemar berbohong, suka mengedit Alkitab, dan memiliki watak sebagai pemalsu? Orang Kristen menipu karena mereka percaya, mereka iman, bahwa menipu adalah halal demi tegaknya agama Kristus di muka bumi. Jika Anda tidak percaya, simaklah dibawah ini.

Paulus berkata :

"Sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita." (Filipi 1:18 TB)

"Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?" (Roma 3:7 TB)



Jawab :


Roma pasal 3:7. Kita harus memahani daya penulisan rasul Paulus yang mengikuti kebiasaan abad pertama yang disebut DIATRIBE. Coraknya adalah rasul Paulus seakan-akan beredebat dengan orang lain. Jadi dengan kata lain tulisan tersebut seolah disajikan dalam bentuk tanya jawab.


Kita lihat selengkapnya, supaya kita mengerti konteksnya :


* Roma 3 : 1–8
3:1 Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat?
3:2 Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah.
3:3 Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah?
3:4 Sekali-kali tidak! Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: "Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi."
3:5 Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakan? Tidak adilkah Allah -- aku berkata sebagai manusia -- jika Ia menampakkan murka-Nya?
3:6 Sekali-kali tidak! Andaikata demikian, bagaimanakah Allah dapat menghakimi dunia?
3:7 Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?
3:8 Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: "Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya." Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.



Dalam perikop ini ada "4 pertanyaan yang diajukan" dan "ada 4 jawaban yang diberikan oleh rasul Paulus".


Pertanyaan pertama :
Ayat 1 : Jika demikian apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat?
Ayat 2 : berisi jawaban atas pertanyaan ayat 1.

Pertanyaan kedua :
Ayat 3 : Jadi bagaimana, jika diantara mereka ada yang tidak setia………?
Ayat 4 berisi berisi jawaban atas pertanyaan ayat 3

Petanyaan ketiga :
Ayat 5 : Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakan ? ……
Ayat 6 berisi jawaban atas pertanyaan ayat 5

Pertanyaan keempat :
Ayat 7 : TETAPI JIKA KEBENARAN ALLAH OLEH DUSTAKU SEMAKIN MELIMPAH BAGI KEMULIAANNYA, MENGAPA AKU MASIH DIHAKIMI LAGI SEBAGAI ORANG BERDOSA?
Ayat 8 adalah jawaban atas pertanyaan ayat 7 diatas, yaitu :
Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan bahwa kita berkata, “Marilah kita berbuat jahat supaya yang baik timbul daripadanya.” ORANG SEMACAM ITU SUDAH SELAYAKNYA MENDAPAT HUKUMAN.


Posisi rasul Paulus jelas, DOSA (termasuk dusta) TIDAK DAPAT MENIMBULKAN KEBAIKAN, DAN ORANG YANG BERDOSA (TERMASUK DUSTA) AKAN MENDAPAT HUKUMAN.


Sekarang, kita bahas ayatnya, sbb :



Ayat 1 & 2,
Paulus menjelaskan dimana manfaat sunat dipertanyakan. Paulus berkata bahwa hukum Taurat dan sunat hanya berguna bai orang yang mentaati Taurat. Sunat itu mempunyai dua unsur. Unsur yang pertama adalah ketaatan, dan unsur yang kedua adalah janji Allah yang diberikan kepada Abraham tanpa syarat. Sunat memang menandai bahwa mereka adalah umat pilihan Allah. Kejadian pasal 17, di mana Allah menetapkan sunat sebagai tanda perjanjian Allah dengan Abraham dan keturunannya, sangat berguna untuk mengerti sikap Paulus terhadap sunat, ketaatan, dan kesetiaan Tuhan Allah. Dalam Kejadian 17:9 Allah berkata, "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku .... " Itulah yang harus ditekankan dari segi ketaatan bangsa Israel. Justru itulah yang sudah ditangani oleh Rasul Paulus dalam Roma 2:25-29. Tetapi Kejadian 17:4 harus dibaca juga. Di situ Tuhan berkata, "Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dcngan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa." Dalam Roma 3:1-4 Paulus menekankan hal ini: janji Allah bagi Israel, umat pilihan-Nya. Bagi Paulus, setiap kelebihan yang dimiliki umat Israel, antara lain dalam bidang moral, kesenian, sains, dan sastra, didasari pada firman Tuhan yang dikaruniakan kepada mereka. Dan firman itu mengandung suatu janji yang tidak dapat dihapus: Allah telah mengadakan perjanjian dengan Abraham serta keturunannya turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Allah menjadi Allahnya dan Allah keturunannya (Kejadian 17:7).


Ayat 3 & 4
Salah satu akibat dari ketidaksetiaan mereka yang sudah diuraikan di atas adalah bahwa tidak ada keringanan dari Tuhan dalam penghakiman atas mereka. Tetapi, apakah ketidaksetiaan itu meniadakan janji Allah? "Paulus di sini menyentuh suatu hal yang akan ditangani secara lengkap dalam pasal Roma 9-11 .... Ia menegaskan bahwa ketidaksetiaan manusia membuat kesetiaan dan kebenaran Allah semakin nyata." Dengan kata lain, walaupun umat Israel berdosa dan mengingkari janji mereka untuk tetap setia kepada Allah, justru ketidaksetiaan mereka akan membuat kesetiaan Tuhan semakin penuh dengan pengampunan yang mulia.
Ayat 4 yang menulis 3:4 [color]"Sekali-kali tidak! Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: "Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi."[/color], ini merujuk pada Mazmur 116:11 juga berkata, "Semua manusia pembohong," tetapi gagasan itu lebih dikembangkan di sini daripada dalam kitab Mazmur. Paulus menegaskan bahwa tidak mungkin Allah menjadi tidak benar. Manusialah yang tidak benar, semua manusia pembohong, tetapi Allah tetap benar. Juga dalam Mazmur 51:6, Daud berkata, "Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukumanmu." Daud dibiarkan untuk berdosa, supaya kemuliaan kebenaran Allah dinyatakan. Jadi, walaupun dosa manusia melawan kehendak Allah, dosa juga mempermuliakan Allah, sama seperti sesuatu yang putih lebih kelihatan pada latar belakang yang hitam.


Ayat 5 & 6
Kepandaian manusia kelihatan dalam pertanyaan dalam ayat 5 ini. Mungkinkah kata, aku berkata sebagai manusia berarti bahwa Paulus pernah mendengar dalih seperti ini? Manusia yang suka berdosa suka membenarkan dirinya, dan di sini kita dapat membaca suatu usaha manusia untuk membebaskan dirinya dari hukuman Allah. Manusia pandai menggunakan "logika", tetapi kelak logika ini tidak akan diterima di hadapan takhta Allah. Ayat 6 Paulus menyatakan penolakan yang jelas. Bahwa hak Allah untuk menghakimi dunia tidak diragukan dalam konteks ini; jadi dalih manusia dalam pasal 3:5 dinyatakan sebagai dalih saja.

Ayat 7 & 8 yang dipermasalahkan oleh penuduh :
Keberatan yang pertama dikemukakan lagi dalam Roma 3:7, di mana "si anu" berdalih lagi, dengan berkata .... "Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?". Pikiran si anu sudah lebih maju daripada apa yang dikatakannya dalam Roma 3:5. Dalam Roma 3:5 ia berkata bahwa dosa tidak dapat dihakimi dengan adil, tetapi dalam Roma 3:7 ia hampir berkata bahwa orang berdosa tidak usah disebut orang berdosa. Menurut si anu, mungkin mereka lebih baik dianggap sebagai penolong Allah, karena dosa mereka mempermuliakan Allah! Kepandaian manusia berusaha lagi untuk meniadakan rasa bersalah mereka terhadap Allah. Suara hati orang berkata bahwa mereka salah, tetapi manusia berusaha untuk menutup suara hati itu dcngan segala macam "logika" dan dalih. Sebenarnya usaha mereka itu sia-sia.

Mengenai pertanyaan dalam Roma 3:7 ini, Paulus memberikan jawabannya pada Roma 3:8 " Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: "Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya." Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.". Ini adalah 2 argumentasi yang salah yang diungkap oleh Rasul Paulus untuk menerangkan pertanyaan pada Roma 3:7, bahwa pengertian bahwa Allah membutuhkan dosa untuk membuktikan bahwa Dia adalah Allah adalah suatu pengertian yang salah. Karena Allah sama sekali tidak membutuhkan hal semacam itu. Karena Dia adalah Allah, ketika ada dosa Dia akan menunjukkan siapa diriNya. Manusia yang jahat mendengarkan kebenaran hanya untuk menyelewengkannya. Dan rupanya Injil yang diberitakan Paulus sudah diselewengkan orang sampai mereka tidak dapat lagi membedakan yang baik dari yang jahat. Penyelewengan "si anu" begitu nyata sehingga Paulus dapat menanggapi mereka dengan kata yang cukup keras: "Mereka selayaknya mendapat hukuman". Segala usaha yang dapat diusahakan oleh manusia untuk membebaskan diri mereka dari rasa bersalah ataupun dari hukuman Allah, adalah sia-sia. Tetapi betapa lebih mulianya untuk melihatnya bagaimana dan siapa Allah didalam suasana persekutuan abadi dengan Dia daripada melihat bagaimana dan siapa Dia didalam suasana dibuang dari hadiratNya dengan segala akibatnya yaitu hukuman Allah yang sungguh mengerikan itu.

Dengan demikian kita tahu Roma 3:7 yang tidak dapat dicomot sendirian, karena pengertiannya erat dengan ayat berikutnya, yaitu penolakan akan dusta.


Posisi rasul Paulus yang menolak dusta diperkuat lagi di :


* Efesus 4:25
“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain …”

* Kolose 3:9
“ Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah meninggalkan manusia lama dan kelakuannya”



Sikap rasul Paulus yang sungguh menolak dusta, dan sekali lagi saya tekankan bahwa Roma 3:7 tidak dapat dicomot tanpa melihat konteks untuk membenarkan suatu tuduhan.


- A Text Without Context is a Pretext to a Proof Text –



Kita lanjut pada ayat lainnya yang dipersoalkan oleh penuduh :


* Filipi 1:18
LAI TB, Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,
KJV, What then? notwithstanding, every way, whether in pretence, or in truth, Christ is preached; and I therein do rejoice, yea, and will rejoice.
TR, τι γαρ πλην παντι τροπω ειτε προφασει ειτε αληθεια χριστος καταγγελλεται και εν τουτω χαιρω αλλα και χαρησομαι
Translit interlinear, , ti gar {lalu apa} plên {meskipun begitu} panti {dengan setiap} tropô {cara} eite {baik} prophasei {dengan maksud palsu} eite {maupun} alêtheia {kebenaran} khristos {Kristus} kataggelletai {diberitakan} kai {dan} en {karena} toutô {hal ini} khairô {aku bersuka cita} alla {(bukan saja ini) tetapi} kai {juga} kharêsomai {aku akan bersuka cita}


Penuduh mempersoalkan Filipi 1:18 terhadap kata negatif "dengan maksud palsu" tanpa melihat konteks. Maka perlu sekali mengerti konteks-nya, mari kita baca lebih lengkap, sbb :


* Filipi 1:15-18
1:15 Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.
1:16 Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil,
1:17 tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.
1:18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,



Tema Filipi 1:15-18:
Pemberitaan Injil Walaupun Dengan Berbagai Maksud



Soal yang penting yang kita hendak tentukan dalam Filipi 1:15-18, ialah :

- Siapakah golongan di dalam jemaat yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan.
- Siapakah orang-orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan (ayat 15)
- Siapakah orang-orang yang memberitakan Kristus karena kepentingan sendiri dan dengan yang tidak ikhlas (ayat 17),
- Siapakah orang-orang yang memberitakan Kristus dengan maksud palsu (ayat 18 )?


Dalam permasalahan ini, ada orang-orang yang melawan Rasul Paulus bukanlah orang kafir yang menghujat nama Kristus. Bukan pula orang bidat yang menyebarkan ajaran yang sesat. Rupanya mereka itu adalah orang-orang Kristen yang tidak mengasihi Rasul Paulus. Mereka senang kalau ia tetap dipenjarakan. Lebih jauh lagi, mereka suka kalau pemenjaraannya menjadi lebih payah. Mereka bersukacita kalau mereka dapat menambah penderitaan Rasul Paulus. Mereka memberitakan Injil atas dasar dengki dan perselisihan. Mereka ingin memajukan golongannya dan kepentingan sendiri, dengan tujuan untuk menambah-nambah penderitaan Rasul Paulus.

Perkataan "memperberat bebanku" dalam bahasa asli memuat suatu kiasan, yaitu rantai besi yang menggosok tangan kaki Paulus seperti dengan kertas pasir dan melukai tangan kakinya, padahal ia terbelenggu dalam penjara dan tidak dapat membela diri. Pekabaran Injil dengan maksud begitu kosong adanya, dan tidak dengan sungguh-sungguh. Siapakah golongan itu?

Ada dua tafsiran yang masing-masing diterima oleh kebanyakan penafsir.


Pertama :

Profesor Joseph Barber Lightfoot dalam bukunya yang berjudul "Saint Paul's Epistle to the Philippians" (1913), berkata bahwa mereka itu ialah orang-orang Kristen Yahudi yang menurut Taurat. Paulus mengecam mereka dalam pasal tiga ayat dua. Menurut Lightfoot, mereka mengabarkan Injil bukan dengan maksud untuk mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan, melainkan untuk menambah jumlah pengikut golongan mereka. Maksud mereka yang terutama ialah melawan Rasul Paulus karena mereka cemburu atas pengaruh Paulus. Hasil baik bagi mereka itu bukanlah kemajuan Injil di hadapan orang kafir, melainkan kemenangan atas Rasul Paulus. Mereka senang sekali memikirkan bahwa penderitaan Paulus bertambah. Karena itu, mereka sangat giat dalam pekerjaan mereka.

Selanjutnya, Lightfoot berkata dan bersoal demikian:
Bagaimanakah Rasul Paulus dapat bersyukur sebab mereka mengabarkan Injil dengan cara demikian? Bukankah kesenangan itu bertentangan dengan prinsip-prinsip Rasul Paulus? Bukankah Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia mengecam dan menentang asas pengajaran yang dicampur Taurat dengan berkata bahwa orang yang berpegang kepada pengajaran itu mengaku bahwa Kristus telah mati dengan sia-sia? Rupanya kelakuan Paulus dalam dua hal itu bertentangan. Tetapi kedua peristiwa itu berlainan sifatnya. Orang-orang Kristen di Galatia harus memilih antara kebebasan Injil dan belenggu Taurat.

Di Filipi Paulus dihadapkan kepada dua pilihan: kekristenan yang tidak sempurna, yang banyak kekurangannya, atau keadaan orang yang sama sekali masih kafir. Kekristenan itu tidak lengkap dan tidak memadai, tetapi Rasul Paulus menganggapnya suatu keuntungan atau kemajuan karena lebih baik daripada kekafiran. Paulus bersukacita karena Kristus diberitakan, biarpun dengan maksud dan tujuan yang tidak patut. Demikianlah tafsiran Lightfoot.


Kedua :

Tafsiran yang lain seperti berikut; orang-orang dalam golongan itu ialah orang-orang Kristen yang berpegang pada Injil yang diberitakan oleh Paulus, tetapi mereka cemburu terhadap Paulus. Mereka tidak suka melihat Paulus maju sebab mereka sendiri ingin menjadi yang terutama. Mereka menarik keuntungan dari penderitaan Rasul Paulus di penjara dan mempergunakannya sebagai kesempatan untuk meninggikan diri sendiri ~ suatu sikap yang sangat rendah. Kita tidak dapat menentukan apakah mereka itu orang Kristen Yahudi yang menurut Taurat atau apakah mereka itu orang Kristen yang melawan Paulus karena dengki. Satu hal yang nyata ialah bahwa pekabaran Injil mereka didasarkan atas sifat yang sangat rendah. Kedengkian sudah ada sejak dahulu kala, demikian pula perselisihan. Apakah mereka orang Yahudi atau orang Kristen, yang pasti ialah bahwa mereka cemburu terhadap Rasul Paulus, cemburu atas kuasa dan pengaruhnya. Kecemburuan sering terdapat di antara orang yang sama pekerjaannya, misalnya di antara para pengabar Injil dan di antara para dokter.

Dosa mereka ialah mereka tidak mempunyai maksud yang suci. Maksud mereka bercampur dengan maksud yang tidak patut. Nyatalah bahwa penyerahan mereka kepada Kristus tidak seperti Paulus. Sering kali orang-orang yang mempunyai maksud yang tidak suci dapat memasuki juga pekerjaan Tuhan bersama-sama dengan orang yang mempunyai maksud yang mulia, yaitu mempermuliakan Kristus. Walaupun maksud-maksud mereka cemar, Paulus tidak dikalahkan dan tidak putus asa. Roh Paulus masih menang. Ia tetap berharap dan bersandar kepada Allah dengan tetap teguh.

Bagaimana sikap Paulus terhadap mereka itu? Biar bagaimanapun, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur, Kristus tetap diberitakan. Maka, "Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita." Tentu Paulus berharap supaya nanti mereka akan mengenal Kristus dengan sebenar-benarnya. Walaupun mereka menyusahkan Paulus, Paulus telah menang dan Injil dimajukan.


Ada beberapa nasihat yang dapat kita ambil dari apa yang dihadapi dan sikap dari rasul Paulus ini:

1. Biarlah Kristus diberitakan, kita menjadi milik Kristus dan bukan milik aliran-aliran dalam jemaat Kristus. Lagipula, Tuhan Allah tidak mengambil keputusan bahwa ia tidak akan memberkati atau memajukan pekerjaan orang yang bekerja dengan maksud yang salah.

2. Tuhan Allah dapat memberi berkat kepada jiwa orang walaupun Ia memberi apa-apa atau menahani/ menghalangi apa-apa dari pekerja-pekerja yang tidak layak. Tentu pelayanan kepada Kristus yang menurut prinsip-prinsip Iblis tidak dapat membangun suatu jemaat yang teguh.

Paulus menuai suatu berkat meskipun mereka melawan dia. Kemajuan Injil sejak waktu Paulus sampai zaman sekarang telah tercapai karena jiwa-jiwa bernyala-nyala dengan kasih kepada Allah di dalam Kristus, dan dipenuhi dengan Roh Kudus.

Sejarah Gereja tidak lain daripada riwayat hidup orang-orang saleh. Dan tiap-tiap kebangunan rohani terjadi sebab satu orang bernyala-nyala hatinya dengan kasih kepada Kristus. Janganlah kita menjadi orang yang hanya menerima dari Kristus, melainkan menjadi orang yang berpengaruh guna Kristus. Yohanes Pembaptis berkata mengenai hal Yesus Kristus bahwa "Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api" (Matius 3: 11). Perjanjian itu berlaku pada hari ini juga. Walaupun demikian, kalau kita memandang umat Kristen umumnya, hampir-hampir kita tidak percaya karena rupanya banyak orang Kristen telah dicelupkan ke dalam air yang dingin, bukan di dalam api Roh Kudus. Yang lebih meng-herankan ialah bahwa kedinginan menjalar sama seperti kegiatan Paulus menjalar. Saudara-Saudara, sudahkah kita memperoleh pelajaran ini dari Rasul Paulus, yaitu selalu bersikap sabar terhadap orang-orang yang menganiayanya?


Inilah makna dari Filipi 1:18, yang sebetulnya sama sekali tidak bermakna negatif jika kita mengerti dengan benar maksud/ konteksnya.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Dec 12, 2007 4:31 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 4834
Tuduhan :
Quote:
Kepada jemaat kota Korintian Yunani, Paulus berkata:

"But be it so, I did not burden you: nevertheless, being crafty, I caught you with guile." (2 Korintus 12:16 KJV)

"Saya tidak membebanimu: tetapi, dalam kelicikan, saya jerat kamu dengan tipu daya." (2 Korintus 12:16 Terjemahan KJV)


Tahukah Anda?


Gereja telah mengedit 2 Korintus 12:16 dalam berbagai edisi Alkitab terbaru. Bible edisi CEV, BIS, dan ESV sudah merevisi ayat ini.

(ESV) But granting that I myself did not burden you, I was crafty, you say, and got the better of you by deceit.

(BIS) Nah, kalian setuju bahwa saya tidak pernah menyusahkan kalian. Namun ada yang berkata bahwa saya ini licik; bahwa saya mendapat keuntungan dari kalian karena tipu daya saya.

(CEV) You agree that I wasn't a burden to you. Maybe that's because I was trying to catch you off guard and trick you.



Jawab :


* 2 Korintus 12:16
LAI TB, Baiklah, aku sendiri tidak merupakan suatu beban bagi kamu, tetapi -- kamu katakan -- dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya.
King James Bible, But be it so, I did not burden you: nevertheless, being crafty, I caught you with guile.
New American Standard Bible (©1995), But be that as it may, I did not burden you myself; nevertheless, crafty fellow that I am, I took you in by deceit.
New International Version (NIV), Be that as it may, I have not been a burden to you. Yet, crafty fellow that I am, I caught you by trickery!
Contemporary English Version (CEV) Copyright © 1995 , You agree that I wasn't a burden to you. Maybe that's because I was trying to catch you off guard and trick you.


Terjemahan CEV dianggap "tidak sesuai" (secara harfiah) dengan naskah asli Bahasa Yunani. Jikalau suatu terjemahan dianggap bermasalah, baiklah kita kembali kepada naskah Bahasa Asli Yunani, dengan terjemahannya secara kata-per-kata (interlinear) :


Textus Receptus, εστω δε εγω ου κατεβαρησα υμας αλλ υπαρχων πανουργος δολω υμας ελαβον
Translit interlinear, estô {biarkanlah} de {tetapi} egô {aku} ou {tidak} katebarêsa {menjadi beban bagi} humas {kamu} all {tetapi} huparkhôn {karena adalah} panourgos {licik} dolô {dengan tipu daya} humas {kamu} elabon {aku telah menjerat/ mengambil keuntungan (dari)}



- A Text Without Context is a Pretext to a Proof Text –


Untuk mengerti makna ayat diatas kit abaca lebih lengkap :


* 2 Korintus 12:14-18
12:14 Sesungguhnya sekarang sudah untuk ketiga kalinya aku siap untuk mengunjungi kamu, dan aku tidak akan merupakan suatu beban bagi kamu. Sebab bukan hartamu yang kucari, melainkan kamu sendiri. Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya.
12:15 Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi?
12:16 Baiklah, aku sendiri tidak merupakan suatu beban bagi kamu, tetapi -- kamu katakan -- dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya.
12:17 Jadi pernahkah aku mengambil untung dari pada kamu oleh seorang dari antara mereka, yang kuutus kepada kamu?
12:18 Memang aku telah meminta Titus untuk pergi dan bersama-sama dengan dia aku mengutus saudara yang lain itu. Adakah Titus mengambil untung dari pada kamu? Tidakkah kami berdua hidup menurut roh yang sama dan tidakkah kami berlaku menurut cara yang sama?



Sama dengan tuduhan terhadap Roma 3:7, penuduh menggunakan metode yang sama yaitu comot satu ayat, dan menggunakan "kata negatif" untuk memperkuat tuduhannya dengan tanpa melihat konteks. Padahal untuk mengerti apa yang dimaksud dalam 2 Korintus 12:16, kita harus membaca ayat-ayat lainnya untuk mengerti konteks-nya, maka setidaknya harus mulai ayat ke 14 sampai 18 supaya tidak terjadi salah paham.


Garis besar 2 Korintus 12:14-18, sbb :

Beberapa orang Korintus salah menanggapi bahwa kunjungan rasul Paulus adalah demi uang.

ayat 14 : .... sebab bukan hartamu yang aku cari ....

Rasul Paulus menuliskan tuduhan orang Korintus tersebut :
ayat 16 : ..... dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya.

ayat 17 dan 18 adalah jawaban langsung dari rasul Paulus terhadap tuduhan diatas, yaitu : "Jadi pernahkan aku mengambil untung dari pada kamu oleh seorang dari antara mereka yang kuutus kepada kamu?


Sekarang kita kaji ayat-per-ayatnya sbb :


Ayat 14,
Dalam ayat ini dan 2 Korintus 12:1-2 dinyatakan bahwa Paulus sudah dua kali mengunjungi Kota Korintus pada waktu la menulis surat ini. Paulus tidak hanya bersedia di dalam pikirannya datang kepada mereka, tetapi ia juga bersedia datang kepada mereka segera untuk ketiga kalinya. Ini berarti bahwa ia sudah dua kali mengunjungi mereka dan sekarang ia bersedia datang untuk ketiga kalinya. Mungkin kunjungan yang kedua ini dilakukannya pada waktu ia tinggal tiga tahun lamanya di Efesus. Dan kunjungan itu mungkin telah mendatangkan sukacita kepadanya sehingga sesudah kunjungan itu ia mengirim surat kepada jemaat di Korintus.

Paulus berbicara kepada mereka dengan penuh kasih seperti seorang bapa rohani (gembala). Dalam kunjungannya yang ketiga itu, ia tidak akan menerima bantuan dari mereka. Ia tidak bermaksud mencari harta mereka, melainkan hati mereka. Dalam hal ini Paulus hendak menggunakan hak seorang bapa. Karena kasihnya kepada mereka ia akan memberikan harta dan dirinya kepada mereka tanpa meminta imbalan apa pun, kecuali kasih mereka kepadanya.


Ayat 15,
Seperti seorang tentara yang senantiasa setia dan bersedia berkorban dan dikorbankan (mati) karena tanah airnya, demikian pula Paulus bersedia berkorban (mati kalau perlu) karena Kerajaan Allah dan karena jiwa manusia-manusia yang harus diselamatkan oleh pemberitaan Injil. Kasih itulah yang telah dicurahkan Allah ke dalam hati Paulus oleh Roh Kudus (lihat Roma 5:5), sehingga kasih Kristus yang menguasai hatinya (2 Korintus 5:14). Kasih itu pulalah yang ingin dicurahkan Allah ke dalam hati setiap gembala sidang dan pemberita Injil. Kasih semacam itu tidak menuntut imbalan apa-apa.


Ayat 16 yang dipermasalahkan oleh penuduh,
Ayat16 ini secara khusus ditulis untuk para rasul palsu. Mereka berkata bahwa Paulus telah berdusta dengan mengatakan tidak menerima bantuan dari siapa pun, tetapi ternyata ia menerima bantuan untuk orang-orang miskin di Yerusalem, dan bahkan sebagian diambilnya untuk dirinya sendiri. Jelas perkataan mereka itu tidak benar, tetapi Paulus cerdik; ia tahu bahwa hal itu hanya tipu muslihat mereka. Iblis selalu menggunakan tipu muslihat untuk menyesatkan manusia. Rasul palsu pun ingin menyesatkan orang-orang kudus dalam jemaat di Korintus dengan tipu muslihat.


Ayat 17-18,
Terhadap tuduhan diatas, Paulus meminta orang-orang di Korintus menyaksikan hal-hal yang benar mengenai uang yang dikumpulkan bagi orang-orang miskin di Yerusalem. Menurut Paulus, mereka harus mengakui bahwa Titus dan saudara-saudara yang lain tidak mengambil uang itu untuk diri mereka sendiri. Titus dan saudara-saudara itu juga dipimpin oleh Roh yang sama seperti Paulus. Roh Kudus yang telah memimpin Paulus juga telah memimpin mereka.

Paulus tahu muslihat Iblis dan karena itu ia menyuruh saudara yang lain mengikut Titus agar ada dua saksi mengenai uang itu. Mereka yang tinggal di Korintus tahu bahwa Titus dan saudara itu tidak bersalah mengenai uang itu, demikian juga Paulus. Sama seperti dulu, sekarang pun Iblis tidak kurang cerdiknya. Di dalam jemaat Tuhan ia selalu menyerang orang-orang yang memegang uang jemaat. Iblis berusaha supaya mereka menggunakan uang itu untuk diri mereka sendiri dan menimbulkan perselisihan di dalam jemaat sehingga kemajuan jemaat menjadi terhalang. Oleh karena itu, orang yang memegang uang jemaat harus selalu didoakan oleh segenap jemaat supaya ia terlepas dari muslihat Iblis itu.


Dengan demikian kita tahu dengan jelas bahwa 2 Korintus 12:16 tidak dapat dicomot tanpa menyertakan ayat 17 dan 18.

Rasul Paulus, adalah seorang rasul "amateur" (tidak menggantungkan nafkahnya dari pelayanan pengabaran Injil), jelas sekali pernyataannya dalam 1 Korintus 9:18 : "Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil"

Ia mengambil sikap tegas dalam urusan finansial ini dengan melepaskan hak-haknya untuk mendapat upah dari pekerjaannya sebagai pengabaran Injil. Dan untuk menyokong kehidupannya ia tetap berprofesi sebagai pembuat kemah (Kisah 18:3), supaya ia jangan menjadi rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus (1 Korintus 4:11-13, Kisah 20:34-35). Dan dengan demikian, orang tidak ada yang dapat menuduhnya mencari keuntungan nafkah dari aktivitasnya mengabarkan Injil. Dan tentu saja dalam suratnya kepada Jemaat Korintus ya ke-2 ini, rasul Paulus kembali menekankan ketegasannya bahwa keinginannya hanyalah mengabarkan Injil, agar jiwa-jiwa manusia diselamatkan dengan pemberitaan Injil, bukan atas alasan finansial, sebab dengan profesinya sebagai pembuat kemah, ia sudah cukup untuk menghidupi dirinya sendiri.


Artikel terkait :
Kesalehan Professional dan Kesalehan "Amateur", di http://portal.sarapanpagi.org/renungan/ ... ateur.html


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Dec 12, 2007 7:54 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 4834
Tuduhan :
Quote:
Paulus adalah orang merasa dirinya bebas, berdasarkan pernyataannya sendiri!

1 Korintus 9:19-21 KJV
19 For though I be free from all men, yet have I made myself servant unto all, that I might gain the more.
20 And unto the Jews I became as a Jew, that I might gain the Jews; to them that are under the law, as under the law, that I might gain them that are under the law;
21 To them that are without law, as without law, (being not without law to God, but under the law to Christ,) that I might gain them that are without law.

Terjemahan 1 Korintus 9:19-21 (Note: Saya melepaskan kalimat sisipan yang ditandai tanda kurung yang dilakukan oleh pendeta Kristen)
19 Karena Aku menjadi bebas dari semua orang, namun aku membuat diriku sendiri melayani semua, sehingga memungkinkan saya untuk mendapatkan lebih banyak lagi.
20. Dan kepada orang-orang Yahudi Aku menjadi seperti orang Yahudi, sehingga Aku memenangkan orang-orang Yahudi; kepada mereka yang mengikuti hukum, seperti yang mengikuti hukum, sehingga saya memenangkan mereka yang adalah mengikuti hukum;
21. Kepada mereka yang tanpa hukum, seperti tanpa hukum, sehingga saya memenangkan mereka yang tanpa hukum.

Tahukah Anda?


Perhatikan bahwa pendeta Kristen dalam KJV 1 Korintus 9:19-21 merasa perlu untuk memberi kalimat "being not without law to God, but under the law to Christ" dengan tanda kurung.

Dalam Bible revisi terbaru bahkan kalimat tsb dilepaskan tanda kurungnya!

(CEV) And when I am with people who are not ruled by the Law, I forget about the Law to win them. Of course, I never really forget about the law of God. In fact, I am ruled by the law of Christ.

(BIS) Terhadap orang bukan Yahudi, saya berlaku seperti seorang bukan Yahudi, yang hidup di luar hukum Musa. Saya lakukan itu supaya saya bisa menarik mereka menjadi pengikut Kristus. Tetapi itu tidak berarti bahwa saya tidak taat kepada perintah-perintah Allah; saya justru dikuasai oleh perintah-perintah Kristus.



Jawab :


Penuduh mempermasalahkan kata dalam kurung dalam terjemahan KJV, baiklah kita kaji naskah bahasa asli, dan perbandingan terjemahan lain sbb :


1 Korintus 9:19-21
9:19 LAI TB, Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
KJV, For though I be free from all men, yet have I made myself servant unto all, that I might gain the more.
NIV, Though I am free and belong to no man, I make myself a slave to everyone, to win as many as possible.
NASB , For though I am free from all men, I have made myself a slave to all, so that I may win more.
TR, ελευθερος γαρ ων εκ παντων πασιν εμαυτον εδουλωσα ινα τους πλειονας κερδησω
Translit interlinear, eleutheros {bebas} gar {sebab} ôn {aku} ek {dari} pantôn {semua (orang)} pasin {kepada semua (orang)} emauton {diriku sendiri} edoulôsa {aku telah menghambakan} hina {supaya} tous pleionas {sebanyak mungkin (orang)} kerdêsô {aku boleh memperoleh}

9:20 LAI TB, Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
KJV, And unto the Jews I became as a Jew, that I might gain the Jews; to them that are under the law, as under the law, that I might gain them that are under the law;
NIV, To the Jews I became like a Jew, to win the Jews. To those under the law I became like one under the law (though I myself am not under the law), so as to win those under the law.
NASB , To the Jews I became as a Jew, so that I might win Jews; to those who are under the Law, as under the Law though not being myself under the Law, so that I might win those who are under the Law;
TR, και εγενομην τοις ιουδαιοις ως ιουδαιος ινα ιουδαιους κερδησω τοις υπο νομον ως υπο νομον ινα τους υπο νομον κερδησω
Translit interlinear, kai {yaitu} egenomên {aku menjadi} tois ioudaiois {bagi orang-orang yahudi} hôs {seperti} ioudaios {orang yahudi} hina {supaya} ioudaious {orang-orang yahudi} kerdêsô {aku boleh memperoleh} tois {bagi orang-orang yang} hupo {dibawah} nomon {hukum (Taurat)} hôs {seperti} hupo {dibawah} nomon {hukum (Taurat)} hina {supaya} tous {orang-orang yang} hupo {dibawah} nomon {hukum (Taurat)} kerdêsô {aku boleh memperoleh}

9:21 LAI TB, Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
KJV, To them that are without law, as without law, (being not without law to God, but under the law to Christ,) that I might gain them that are without law.
NIV, To those not having the law I became like one not having the law (though I am not free from God's law but am under Christ's law), so as to win those not having the law.
NASB , to those who are without law, as without law, though not being without the law of God but under the law of Christ, so that I might win those who are without law.
TR, τοις ανομοις ως ανομος μη ων ανομος θεω αλλ εννομος χριστω ινα κερδησω ανομους
Translit interlinear, tois {bagi orang-orang} anomois {yang tanpa hukum (Taurat)} hôs {seperti} anomos {yang tanpa hukum (Taurat)} mê {tidak} ôn {aku hidup} anomos {yang tanpa hukum (Taurat)} theô {Allah} all {tetapi} ennomos {dibawah hukum} khristô {Kristus} hina {supaya} kerdêsô {aku boleh memperoleh} anomous {yang tanpa hukum (Taurat)}


Penterjemah tidak bermaksud menambah-nambah suatu ayat, tetapi memberikan sajian terjemahan yang sesuai dengan pemahaman bahasa/ pemahaman para pembacanya pada masanya. Dan kalau kita kaji, apa yang didalam tanda kurung tidak keluar dari konteks ayat yang dimaksud. Anda bisa mengkajinya dengan menelaah sajian terjemahan literal interlinear diatas, dari bahasa asli Yunani.


Seperti kebiasaannya, para penuduh hanya melihat kata-kata negatif yang sekiranya dapat digunakan untuk menyerang, dengan tanpa melihat konteks dan makna dari sebuah pengajaran, terutama pada pengajaran-pengajaran Rasul Paulus dalam Alkitab Perjanjian Baru.

Mengenai 1 Korintus 9:19-21 yang dipermasalahkan, sebaiknya kita baca lebih lengkap sampai ayat 27, sbb :


* 1 Korintus 9:19-27
9:19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
9:20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
9:21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
9:22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
9:23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.
9:24 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!
9:25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.
9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.
9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.



Dalam pembahasan ini, rasul Paulus mengungkapkan kegirangannya, dimana ia adalah seorang Farisi yang telah sekian lama hidup dibawah peraturan/hukum-hukum Taurat, dengan karya Kristus, ia dimerdekakan.

Hukum Taurat adalah hukum yang berat membebani manusia, para rabi Yahudi memerincinya danjumlahnya 613 peraturan!. Dan sesuai dengan nubuat yang tertulis pada Daniel pasal 9 :24-27 yang menyatakan Sang Mesias akan menggenapi Taurat dengan darahNya sendiri, sehingga kematian kurban dari Tuhan Yesus Kristus di kayu salib menghentikan segala kurban darah yang sekian lama dilaksanakan orang Israel pada Perjanjian Lama. Oleh karya Kristus, kita masuk dalam Perjanjian yang Baru, kita menjadi orang orang-orang yang sudah ditebus :


* Matius 26:28
LAI TB, Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.
KJV, For this is my blood of the new testament, which is shed for many for the remission of sins.
TR, τουτο γαρ εστιν το αιμα μου το της καινης διαθηκης το περι πολλων εκχυνομενον εις αφεσιν αμαρτιων
Translit, touto {inilah} gar {sebab} estin {adalah} to haima {darah} mou {-Ku} to tês kainês {yang baru} diathêkês {perjanjian} to {yang} peri {bagi} pollôn {banyak orang} ekkhunomenon {ditumpahkan} eis {untuk} aphesin {pengampunan} hamartiôn {dosa-dosa}


Pelayanan Yesus Kristus di dunia ini sudah menggenapi Hukum Taurat dan kematianNya di kayu salib membatalkan Taurat. Oleh karenanya Paulus yang dulu hidup dibawah hukum Taurat, kini terbebas dari Taurat. Sehingga ia dapat mengabarkan Kabar Baik (Injil) kepada semua orang baik orang Yahudi (yang hidup dibawah Taurat), dan non-Yahudi (yang tidak hidup dibawah Taurat). Karena Yesus itu universal, untuk semua bangsa.



Mari kita bahas 1 Korintus 9:19-27, ayat per ayat sbb :


Bebas dari semua - hamba dari semua


Paulus menekankan suatu pengajaran yang positif, bahwa Injil untuk semua orang baik Yahudi maupun non-Yahudi. Namun , harap jangan salah paham tentang "kebebasan" ini, yang sama sekali tidak bermakna Antinomianisme (anti peraturan/ anti hukum). Kebebasan yang dimaksud dalam 1 Korintus 9:19-27 sama sekali bukan pengajaran Antinomianisme, yang mengajarkan bahwa kelakuan kita tidak penting dan tidak menjadi soal sebab pikiran dan hati kita sudah dijadikan terang dan juga sudah ditebus oleh kasih karunia Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak perlu membuang dosa dan kejahatan sebab dosa itu tidak dapat menajiskan atau mencemarkan jiwa yang sudah ditebus[i]. Dari pengajaran-pengajaran yang ditulis oleh rasul Paulus dalam kitab-kitabnya, nyata bahwa Paulus sangat menentang pengajaran sesat yang berkata, [i]"Baiklah kita berdosa supaya kasih karunia semakin bertambah." (lihat penjabaran Roma 3 : 1–8 diatas sebagai salah satu contohnya).



Ayat 19,

Dalam ayat ini, sekali lagi Paulus menekankan kemerdekaannya (bandingkan 1 Korintus 9:1): Ia bebas terhadap semua orang (teks Yunaninya dapat pula diterjemahkan "bebas dari segala sesuatu"). Karena bebas di dalam Kristus, la dibebaskan pula dari pandangan-pandangan, halangan-halangan, dan kendala-kendala manusia (1 Korintus 7:23); tak seorang pun dapat mengikat hati nuraninya atau menetapkan hukum tentang bagaimana ia harus bertindak. Namun ia secara sukarela telah menjadikan dirinya hamba dari semua orang yang melayani pekerjaan Kristus di dunia karena ia adalah hamba Kristus (Iihat 1 Korintus 7:22, 23; 2 Korintus 4:5). Ia telah dibebaskan untuk melayani. Kebesaran diri satu-satunya harus ditemukan di dalam pelayanannya yang penuh kerendahan hati (Iihat Matius 20:26, 27). Maksudnya di dalam segala hal ini ialah agar ia boleh memenangkan sebanyak mungkin orang, artinya, sebanyak mungkin orang yang kepadanya la telah memberitakan. Memenangkan orang lain (lihat ayat 22 dan 7:16) berarti keselamatannya, dan itu selalu lebih penting daripada kemerdekaan pribadi (Iihat pula Matius 18:15 dan 1 Petrus 3:1). Tanpa mengkompromikan kebenaran beritanya, Paulus telah selalu siap untuk menyesuaikan dirinya dengansituasi para pendengarnya; ia memberikan tiga contoh untuk menunjukkan maksudnya.


Ayat 20,
Pertama : Bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi.


Misi khusus Paulus kepada orang-orang non-Yahudi telah diakui oleh para rasul lainnya (Kisah 9:15; Galatia 2:9). Namun demikian, Kisah dan surat-surat Paulus sendiri menunjukkan bahwa" ia seringkali terlebih dulu membuat hubungan dengan sinagoge Yahudi di kota-kota Yunani yang dikunjunginya. Orang-orang Yahudi adalah salah satu mualafnya yang pertama, juga di Korintus (Kisah 18:8 ). Meskipun ia dilahirkan sebagai seorang, Yahudi, Paulus yang Kristen telah melakukan pemutusan total dengan Yudaisme dan Taurat sebagai dasarnya.

Di dalam Kristus, seseorang bukan lagi Yahudi atau Yunani (Galatia 3:28; Roma 10:12; Kolose 3:11). Seperti semua orang Kristen, Paulus tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat, karena ketaatan pada Taurat tidak dapat dijadikan dasar bagi suatu hubungan yang benar dengan Kristus. Ia tidak berada di bawah Taurat melainkan di bawah kasih karunia, karena "Kristus adalah kegenapan hukum Taurat" (Roma 6:14, 15; 10:4).

Namun demikian, meskipun ia menyangkal bahwa Taurat mempunyai kuasa untuk menyelamatkan, Paulus masih dapat memperlihatkan kemerdekaannya dengan hidup sesuai dengan aturan-aturannya agar ia dapat memenangkan orang-orang Yahudi. Dalam situasi-situasi tertentu, pelanggaran Taurat yang sengaja atau provokatif hanya akan menimbulkan perlawanan getir terhadap pesannya mengenai Injil. Misalnya, ia menyuruh agar Timotius muda disunat, agar tidak menimbulkan kemarahan di antara orang-orang Yahudi (Kisah 16:3). Di pihak lain, dalam situasi yang lain, Paulus menegaskan kemerdekaannya dengan tidak menyuruh Titus disunat (Galatia 2:3). Kisah 21:20-60 juga memperlihatkan betapa Paulus masih dapat menaati kebiasaan-kebiasaan Yahudi dan menyuruh orang-orang Yahudi tetap mempertahankan Taurat, kendati pun ia menyangkal kekuatannya untuk menyelamatkan. Paulus siap untuk bertindak sebagai orang Yahudi untuk memenangkan mereka yang masih berada di bawah Taurat sejauh Injil kemerdekaan Kristus tidak disangkal. Ia menjadi seperti. orang yang hidup di bawah hukum Taurat bukan untuk mengungkapkan solidaritas budaya dengan sesamanya bangsa Yahudi, dan jelas bukan untuk mempromosikan Taurat sebagai dasar kebenaran dengan Allah, melainkan hanya sebagai ungkapan kemerdekaannya untuk menjadi seorang hamba di bawah Kristus.


Ayat 21,
Kedua : Meskipun ia tidak dilahirkan sebagai seorang non-Yahudi, ia menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat untuk memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.


Dalam pengertian tertentu, hal ini mudah bagi Paulus. Sebagai seseorang yang dilahirkan di dunia berbahasa Yunani, dan yang hidup dan bekerja di dalamnya selama bertahun-tahun bahkan setelah pertobatannya (Kisah 9:30; 11:25; 22:3; Galatia 1:21), ia dapat bergerak dengan bebas di dunia nan-Yahudi. Karena ia bebas dari hukum Musa, pakaian dan ma¬kanan Paulus tidak membuatnya berbeda dengan orang-orang lain. Kadang-kadang ia dapat berdebat seperti para filsuf di zamannya, dengan menggunakan bahasa dan gambaran mereka (lihat ayat 24-27). Namun demikian, sementara ia menekankan kemerdekaannya dari Taurat di hadapan orang-orang Yahudi dan Yudais dari Injil, Paulus harus menanamkan kesan kepada orang-orang non-Yahudi bahwa kemerdekaan di dalam Kristus tidak ada hubungannya dengan perilaku tanpa hukum. Jadi, di sini ia menyatakan bahwa ia tidak hidup di luar hukum Allah; ia tidak bebas dari segala kewajiban untuk menaati kehendak Allah. Kehendak itu kini telah dinyatakan di dalam Kristus, dan ketaatan baru dimulai dengan iman kepada-Nya (Roma 1 :5). Hidup di bawah hukum Kristus bukan berarti hidup menurut serangkaian hukum dan peraturan yang baru, melainkan menjalani karunia kehidupan baru yang diarahkan oleh Roh Kudus. Dalam Roma 8:2 kita menemukan kontras antara "Roh yang memberi hidup ... dalam Kristus" dan "hukum dosa dan hukum maut"; yang pertama membebaskan kita dari perhambaan yang lainnya. Di tempat-tempat lain Paulus berbicara tentang hukum kasih (Galatia 6:2; lihat Roma 13:8 dan Yohanes 13:34). Meskipun tidak tenkat kepada Kristus dengan hukum apa pun, kecuali Roh dan iman yang dikerjakan oleh Roh tersebut, Paulus yang selama ini menolak legalisme, juga menolak perilaku semaunya, tanpa hukum. Namun demikian, maksud yang ingin dikemukakannya ialah bahwa kemerdekaannya dari Taurat dapat dipergunakan untuk hal yang bermanfaat dalam memenangkan mereka yang tidak pernah hidup di dalamnya.


Ayat 22,
Ketiga : Akhirnya, bagi orang-orang yang lemah Paulus menjadi seperti orang yang lemah agar ia dapat menyelamatkan mereka yang lemah (2 Korintus 11 :29).


Tidak sulit menjelaskan mengapa mereka yang kuat tidak disebutkan. Paulus masih membayangkan di dalam benaknya percakapannya tentang mereka yang mempunyai hati nurani yang lemah dalam 1 Korintus 8:7-13 (lihat pula Roma 14:1 - 15:3). Bagi mereka yang belum sepenuhnya bebas dari legalisme Yahudi atau masa lalu mereka yang kafir, Paulus (meskipun kuat, Roma 15:1) dapat dengan segera dan tanpa pengorbanan besar membatasi penggunaan kemerdekaannya sendiri agar tidak menimbulkan rasa tersinggung. Ia menolak untuk membiarkan hati nuraninya yang kuat menyakini siapapun yang lemah. Bila dipahami dalam cara ini, contoh yang ketiga ini sesungguhnya adalah kesimpulan dari dua contoh sebelumnya.

Yang terlebih penting daripada rincian apa pun adalah prinsip yang umum. Sambil memainkan slogan semua, yang digunakan dua kali dalam ayat 16, Paulus menyatakan secara ringkas: "Aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka". Pada akhir percakapan tentang makanan yang dipersembahkan kepada berhala-berhala, Paulus mengajukan pemikiran yang serupa: "Aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka. beroleh selamat" (1 Korintus 10:33). Ia bahkan secara sengaja menyoroti misinya pada dunia kafir untuk membuat orang-orang Yahudi cemburu, "dan dapat menyelamatkan beberapa orang dari mereka" (Roma 11:13, 14)! Dalam nas-nas ini, ia berbicara tentang perilakunya yang spesifik untuk memenangkan kelompok-kelompok tertentu, bukan suatu strategi standar yang mengacu kepada orang-orang Yahudi dan non-Yahudi.


Ayat 23,
Paulus. telah selalu bertindak dengan cara ini karena Injil, sehingga Injil itu dapat secara efektif menjangkau orang banyak dan menghasilkan iman. Tetapi ia tidak pernah dapat berpikir tentang pelayanannya tanpa pada saat yang sama juga berpikir mengenai kesejahteraan rohaninya sendiri (lihat ayat 16, 17). Penyangkalan kemerdekaan pribadinya untuk melayani orang lain banyak sekali berkaitan dengan pengharapannya sendiri untuk mendapat bagian dalarn berkat Injil. Bila ia gagal melayani dengan setia - khususnya, bila ia menghalangi jalannya Injil dengan bebas dengan "mengenakan biaya" untuknya - ia sendiri mungkin akan ditolak oleh Hakim surgawi (lihat ayat 27). Dalam ayat ini, Paulus tidak menyangkal doktrin pembenaran oleh iman yang telah dia terima dan beritakan dengan sangat baik. Ia tahu bahwa ia tidak akan diselamatkan oleh pekerjaannya sebagai seorang rasul. Di pihak lain, ia tentu akan menyangkal keselamatan bila ia menyangkal Injil kasih karunia oleh perilakunya sendiri. Kata-kata ini sekali lagi mencerminkan makna hidup di bawah "keharusan" ilahi (ayat 16).


Ayat 24-27,

Untuk menggambarkan penyangkalan dirinya demi Injil, Paulus menunjuk kepada atlet dan latihannya. Bahkan penggunaan gambaran ini oleh Paulus melukiskan apa yang baru saja ia katakan. Meskipun ia dilahirkan dan dibesarkan sebagai seorang Yahudi, ia menggunakan gambaran yang dikenal akrab oleh mereka yang hidup di dunia berbahasa Yunani. Bagi orang Yahudi, olahraga atletik itu sulit diterima karena para atletnya harus bertelanjang dan ikut serta dalam penyembahan berhala (Olimpiade dan pertandingan-pertandingan lainnya melibatkan ciri-ciri keagamaan). Gambaran dan bahasa atletik itu umum di Perjanjian Baru, khususnya dalam surat-surat Paulus (lihat khususnya Galatia 2:2; 5:7; Roma 9:16; Filipi 2:16; 3:12-14; 1 Timotius 4:7-10; 6:11-12; 2 Timotius 2:5; 4:7, 8; Ibrani 12:1). Dalam teks-teks lainnya, istilah-istilah atletik juga digunakan, tetapi tidak begitu jelas tercermin dalam terjemahannya (Iihat Roma 15:30; Filipi 1:27¬30; 4:1-3; Kolose 1:29 - 2:1; 4:12,13; 1 Tesalonika 2:2, 19; 1 Petrus 5:4; Yakobus 1:12; Wahyu2:10).

Kita tidak perlu menyimpulkan bahwa Paulus dari pengalaman-nya secara langsung mengenal banyak tentang lari, tinju, gulat, dan cabang-cabang olahraga lainnya; ia semata-mata menggunakan gambaran yang dipopulerkan oleh para filsuf Sinik dan Stoa. Mereka mengejek para atlet yang berkeringat dan bekerja keras untuk mendapatkan karangan bunga kemenangan yang akan memudar; para atlet sejati, kata mereka, adalah orang-orang yang bergumul (berperang) melawan nafsunya untuk mencapai kebajikan, yang mempraktikkan pengendalian diri guna memperoleh penguasaan atas hidup. Paulus mengadaptasi gambaran semacam itu untuk dipakainya sendiri. Ia tidak lagi menggambarkan kehidupan sebagai sebuah perjuangan moral, sebagai pertandingan untuk keberhasilan etis dan pengendalian kehidupan seseorang saja, Dalam pengertian umum, ia menggambarkan perjuangan untuk memenangkan hadiah dari panggilan surgawi Allah (Filipi 3:12-14). Terutama sekali, Paulus menggambarkan seluruh pelayanannya sebagai suatu perjuangan demi kemenangan Injil. Itu pula yang menjadi masalahnya di sini, bukan gambaran umum tentang kehidupan sebagai suatu pertandingan atletik.


Ayat 24,

Dengan menggunakan gaya argumentasi para filsuf, Paulus membuka dengan pertanyaan yang sudah dikenal Tidak tahukah kamu? Setiap pembaca dapat diharapkan untuk memahami apa yang dikatakannya berikutnya. Dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah. Bertanding tidak dengan sendirinya berarti menang. Jadi, pelajarannya: Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya. Karena dua alasan yang jelas, metafora ini tidak boleh didorong lebih jauh. Orang Kristen berlari di dalam sebuah pertandingan di mana semua dapat memenangkan hadiahnya (lihat Galatia 5:7; Filipi 3:12-15; Wahyu 2:10). Kembali, ayat 24 bukanlah pokok utama Paulus; ayat itu mempersiapkan jalan untuk ayat 25. Semua usaha dari seorang atlet akan sia-sia bila ia mengabaikan latihannya, dan tidak menghindarkan diri dari segala sesuatu yang mungkin menggagalkannya untuk mencapai kemenangan. Disiplin pribadi yang keras itu perlu; itu adalah bagian dari aturan-aturan pertandingan (lihat 2 Timotius 2:5). Itulah yang harus diterima oleh semua orang Kristen, dengan meniru sikap dan perilaku Paulus (1 Korintus 11:1).


Ayat 25,

Pelajaran utamanya dinyatakan di sini: Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Ia harus berlatih dengan tekun, bahkan kalaupun hal itu berarti ketidaknyamanan dan rasa sakit; ia harus meninggalkan segala makanan kesukaannya yang merusakkan kondisi fisiknya. Dalam bahasa ilustrasi, hal ini melukiskan apa yang telah Paulus katakana tentang penyerahan kemerdekaannya demi kemenangan Injil (1 Korintus 9:12, 19, 22, 23). Mereka yang ikut serta dalam pertandingan berbuat demikian untuk memeproleh suatu mahkota yang fana. Maka, betapa lebih berat lagi disiplin yang dituntut bila hadiahnya adalah suatu mahkota yang abadi, yang tidak akan layu – yaitu mahkota kebenaran, mahkota kehidupan itu sendiri (lihat 2 Timotius 4:8, 1 Petrus 5:4, Yakobus 1:12; Wahyu 2:10).


Ayat 26,

Dua pertandingan atletik yang spesifik ini membuat maksud Paulus cukup jelas. Seorang pelari terus mengarahkan matanya ke garis akhir tanpa berbelok jalurnya. Jadi, paulus tidak berlari tanpa tujuan, dan tidak menggunakan kebebasan sebebas-bebasnya. Namun ia disiplin, dan tak ada suatupun boleh dibiarkan mengalihkan perhatiannya, dan semua usahanya untuk tujuan pelayanan yang harus dicapainya. Demikian pula, ia menggambarkan bahwa seorang petinju tidak dapat memenangkan pertandingannya dengan sembarangan memukul atau dengan mengayun-ayunkan tinjunya di udara, atau seperti seorang petinju bayangan yang berpura-pura memukul lawannya, atau petinju yang memukul dengan tidak tepat. Jadi, dengan ilustrasi ini, Paulus "bukan petinju yang sembarangan saja memukul"; ia selalu memukul sasarannya. Perjuangan paulus demi Injil pun tidak akan efektif bila ia gagal untuk mempraktekkan pengendalian diri dalam segala sesuatu. Jadi meski ada kemerdekaan, pengendalian diri adalah suatu factor yang amat penting.


Ayat 27,

Paulus melihat bahwa, tubuh Paulus sendiri adalah musuh yang harus tetap dikuasai. Sementara dalam atletik, tubuh fisiklah yang harus dikuasai dengan ketat, namun disini Paulus tidak hanya memaksudkan tubuh jasmaninya saja, melainkan seluruh keberadaannya (jasmani & rohani). Tubuh sendiri tidaklah berdosa – ia adalah ciptaan Allah yang baik dan ajaib, tetapi tubuh dapat menjadi alat dosa dan bukan alat kebenaran (lihat Roma 6:13,19). Dengan menggunakan istilah yang beragam ini, Paulus berbicara tentang perlunya melatih tubuhnya. Dan ia harus menguasai nafsu-nafsu egoisnya, ambisi-ambisi pribadinya, menjadikan dirinya sepenuhnya sebagai hamba Allah dan dengan demikian menjadi "hamba dari semua orang" (ayat 19). Bahasa yang dramatik seperti itu tidaklah berlebih-lebihan bila kita mengingat daftar penderitaan Paulus (2 Korintus 4:8, 9; 11:23-28; lihat pula 1 Korintus 4:11).

Dalam ayat ini, kita dapat mengerti mengapa Paulus menolak keuntungan financial/ gaji/ upah darimemebritakan Injil, meski sebagai seorang Rasul ia berhak menerima upah dari pekerjaannya sebagai gembala dan pemberita Injil. Pemberita Injil berhak mendapatkan uang dari jerih payahnya, namun Paulus melihat bahwa uang dapat mengecoh manusia untuk menyimpang dari tujuan mulia mengabarkan Injil. Sebagai seorang penginjil yang "Amateur" bukan professional (menerima upah). Dengan cara ini, ia juga melatih emosi, keinginan yang berkaitan dengan masalah uang, dan ia memilih menghidupi dirinya sendiri dari pekerjaan membuat kemah, dan menolak nafkah yang dihasilkan dari pemberitaan Injil, supaya jangan sampai ketamakan akan uang akan menjadikan ia sendiri ditolak.

Pengendalian diri bukanlah tujuan akhirnya; hal itu pun dibutuhkan bukan hanya sekadar untuk membuat pelayanannya efektif bagi orang lain. Kekuatiran Paulus ialah bahwa sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, ia akan ditolak untuk menerima hadiah yang diberitakannya kepada orang lain (kata kerja "memberitakan" dapat juga berarti "bertindak sebagai pendahulu atau pembawa berita" pada pertandingan-pertandingan atletik, tetapi kaitannya di sini tampaknya tidak demikian). Ia semata-mata mengatakan bahwa sungguh tragis apabila, setelah pertama-tama disetujui sebagai seorang rasul (1 Tesalonika 2:4), akhirnya ia ditolak oleh Hakim surgawi. Penekanannya pada kemerdekaan dapat mengakibatkan dia sendiri kehilangan berkat-berkat tersebut yang diceritakannya kepada orang lain (ayat 23). Namun demikian, sementara ia menyerahkan keputusan terakhirnya kepada Tuhan, Paulus merasa yakin bahwa ia telah selamanya bertindak dengan setia. Sebagai atlet Kristus yang berdisiplin dan yang sedang menghadapi akhir hayatnya, ia dapat membuat pengakuan yang penuh dengan keyakinan: "Aku telah mengakhiri pertandingan (secara harfiah, pergumulan/peperangan) yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran" (2 Timotius 4:7, 8). "Hamba-hamba Kristus"lah yang akan menerima kemerdekaan yang sempurna dari kehidupan yang kekal.


Amin.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Dec 12, 2007 12:21 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 4834
Tuduhan :
Quote:
Paulus mengakui diri sebagai orang bodoh dan ajaran-ajarannya merupakan ajaran bodoh!

"Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah." (2 Korintus 11:17 TB)




Jawab :


* 2 Korintus 11:17
LAI TB, Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah.
KJV, That which I speak, I speak it not after the Lord, but as it were foolishly, in this confidence of boasting.
TR, ο λαλω ου λαλω κατα κυριον αλλ ως εν αφροσυνη εν ταυτη τη υποστασει της καυχησεως
Translit interlinear, ho {apa yang} lalô {aku mengatakan} ou {bukan} lalô {aku mengatakan} kata {menurut (kehendak)} kurion {Tuhan} all {tetapi} hôs {sebagai} en {dalam} aphrosunê {kebodohan} en {dalam} tautê {ini} tê hupostasei {keyakinan} tês kaukhêseôs {kebanggaan}


- A Text Without Context is a Pretext to a Proof Text –


Seperti biasa, penuduh menggunakan kata negatif "kebodohan" dan mengklaim pengajaran dari Rasul Paulus adalah kebodohan tanpa memperhatikan konteksnya.

Maka sebaiknya kita baca selengkapnya satu perikop untuk mengerti maksudnya :


* 2 Korintus 11:7-23
11:7 Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma?
11:8 Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu!
11:9 Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorang pun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap berbuat demikian.
11:10 Demi kebenaran Kristus di dalam diriku, aku tegaskan, bahwa kemegahanku itu tidak akan dirintangi oleh siapa pun di daerah-daerah Akhaya.
11:11 Mengapa tidak? Apakah karena aku tidak mengasihi kamu? Allah mengetahuinya.
11:12 Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kami dalam hal yang dapat dimegahkan.
11:13 Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus.
11:14 Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang.
11:15 Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.
11:16 Kuulangi lagi: jangan hendaknya ada orang yang menganggap aku bodoh. Dan jika kamu juga menganggap demikian, terimalah aku sebagai orang bodoh supaya aku pun boleh bermegah sedikit.
11:17 Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah.
11:18 Karena banyak orang yang bermegah secara duniawi, aku mau bermegah juga.
11:19 Sebab kamu suka sabar terhadap orang bodoh, karena kamu begitu bijaksana:
11:20 karena kamu sabar, jika orang memperhambakan kamu, jika orang menghisap kamu, jika orang menguasai kamu, jika orang berlaku angkuh terhadap kamu, jika orang menampar kamu.
11:21 Dengan sangat malu aku harus mengakui, bahwa dalam hal semacam itu kami terlalu lemah. Tetapi jika orang-orang lain berani membanggakan sesuatu, maka aku pun -- aku berkata dalam kebodohan -- berani juga! 11:22 Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel. Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham!
11:23 Apakah mereka pelayan Kristus? -- aku berkata seperti orang gila -- aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.



Kita bahas ayat-per-ayat-nya, supaya kita mengetahui apakah "kebodohan" dalam ayat 17 itu apakah seperti yang penuduh maksudkan?.


Ayat 7-8,
Dalam pembahasan diatas, telah kita pahami bahwa Rasul Paulus adalah seorang Rasul yang "Amateur" bukan professional (menerima upah). Dan oleh karena itu ia dengan sangat merdeka mengkritik rasul-rasul yang Palsu, yang melayani pekerjaan Tuhan/ menginjil dengan maksud "mencari uang" (menimbun kekayaan untuk dirinya sendiri), lihat bahasan di Artikel MENJAJAKAN FIRMAN ALLAH yang diambil dari 2 Koritus 2:17, dimana Paulus dengan begikut keras menegor para penginjil yang mengambil keuntungan finansial yaitu "memeprdagangkan" Firman Allah. Atas sikap Paulus yang keras ini, Paulus mendapat perlawanan dari para rasul yang palsu itu dan berbalik menuduh Paulus adalah Rasul Palsu, karena ia melakukan sesuatu yang tidak lazim sebagai rasul yaitu menolak "upah", dan pada ayat 18 mereka juga menuduh bahwa Paulus sebenarnya merampok jemaat-jemaat di tempat lain, tetapi kemudian berpura-pura sebagai "orang suci" di Korintus dengan menolak "upah" (memberitakan Injil dengan cuma-cuma).

Pada masa itu (seperti juga sekarang) sudah lazim apabila guru-guru yang mengajarkan suatu ilmu atau filsafat atau pengajar dalam suatu keagamaan meminta sumbangan dari orang-orang yang diajarnya. Lalu dari situ terjadi suatu pola pikir : Jika seseorang tidak meminta sumbangan atas apa yang diajarnya, orang-orang yang diajarnya itu menganggap orang itu bukan guru yang sah dan ajarannya tidak herharga. Musuh Paulus, yaitu rasul-rasul palsu itu menggunakan isyu ini untuk memfitnah Paulus.

Paulus, dengan sindirannya yang halus bertanya kepada mereka, "Apakah aku berdosa sebab tidak menerima sumbangan dari kamu?" Paulus telah mengajarkan kepada mereka di dalam suratnya yang pertama bahwa orang yang memberitakan Injil, berhak hidup dari sumbangan mereka yang mendengarkan lnjil itu (1 Korintus 9:3-18). Namun, Paulus, atas pilihannya sendiri memilih untuk tidak menerima upah, 1 Korintus 9:18 : "Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil" . Paulus berbuat demikian supaya tidak ada seorangpun dapat berkata bahwa ia menginjil untuk uang. Maka ia mempertahankan pekerjaannya sebagai pembuat kemah untuk menopang kehidupannya.

Namun, musuh-musuh Paulus menemukan cara lain untuk "mengecam" Paulus dengan mengatakan bahwa dia-lah rasul palsu, karena ia tidak menerima upah sebagaimana lazimnya seorang pengajar, dan terlebih lagi mereka menuduh bahwa Paulus "merampok" jemaat di tempat lain, dan berbuat seolah-olah tidak doyan uang dihadapan jemaat di Korintus.


Ayat 9,
Dalam ayat ini menyatakan bahwa ketika iadalam keadaan kesusahan-pun, ia tidak mau menyusahkan orang dan tidak menerima bantuan dari jemaat Korintus. Dan ia berceritera bahwa ketika ia dalam kekurangan, kebutuhannya dicukupkan oleh jemaat Filipi :


* Filipi 4:15-18
4:15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaat pun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu.
4:16 Karena di Tesalonika pun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.
4:17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu.
4:18 Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.



Surat Filipi adalah surat yang ditulis oleh Paulus di dalam penjara, ayat 18 diatas menulis bahwa ketika Paulus dipenjara, kebutuhannya dipenuhi oleh Epafroditus, sehingga ia tetap dapat menulis surat penggembalaan kepada jemaat-jemaat yang digembalakannya.


Ayat 10-11,
Paulus memiliki kebenaran Kristus pada waktu ia berkata bahwa kemegahan itu tidak dapat ditahan daripadanya oleh siapa pun di daerah-daerah Akhaya, Paulus tidak mau menerima upah dari jerih-payahnya memberitakan Kristus, karena ia bermegah dan semua itu ia lakukan karena ia telah menerima lnjil Kristus dengan cuma-cuma, dan ia merasa berhutang, itulah sebabnya ia memberitakan Injil dengan tidak menerima bayaran apa-apa. Karena ia tidak mau menerima upah dari orang-orang di Korintus, maka musuh-musuhnva berkata, "la tidak mengasihi mereka." Lalu Paulus bertanya, "Apakah karena aku tidak mengasihi kamu?" Selanjutnya ia menjawab, "Allah mengetahuinya." Itulah pernyataan yang keluar dari hati nurani yang tulus.


Ayat 12,
Musuh Paulus di Korintus berusaha mencari kesempatan supaya Paulus menerima upah sehingga ia menjadi "sama" dengan mereka. Dengan demikian perbuatan mereka lebih mudah dimaafkan. Paulus tidak dapat ditipu oleh muslihat mereka, sebab itu ia berusaha supaya perbuatannya tidak sama dengan perbuatan mereka. lni berarti bahwa jika mereka hendak memegahkan diri, mereka harus sama dengan Paulus, dan bukan Paulus yang harus sama dengan mereka. Tidaklah mengherankan kalau mereka menuntut upah/sumbangan dan kemegahan yang tidak pernah dituntut oleh Paulus.


Ayat 13,
Sudah waktunya bagi Paulus untuk berkata secara terus terang bahwa mereka adalah para rasul palsu. Mereka menyamar sebagai rasul-rasul Kristus, padahal maksud mereka bukanlah untuk memajukan Kerajaan Kristus, melainkan untuk menipu anggota-anggota jemaat dan mencari keuntungan bagi diri rnereka sendiri dengan "menjajakan Firman Tuhan". Mereka mengaku bahwa mereka lebih dekat kepada Kristus daripada kepada Rasul Paulus. Sebenarnya pengakuan itu hanya kedok saja.


Ayat 14-15,
Oleh karena Iblis menyamar dan menyamakan dirinya sebagai malaikat terang, kita tidak perlu heran jika para pengikutnya juga menyamar dan menyamakan diri mereka sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Iblis adalah pendusta dan hapa segala dusta (Yohanes 8:44). Kerajaan Iblis adalah kerajaan kegelapan (Efesus 6:12), dan jika ia hendak menyamakan dirinya sebagai malaikat terang, maka ia harus berbohong. dan harus menyamar. lblis tidak pernah datang kepada kita dalam keadaannya yang sesungguhnya. Ia selalu berusaha menghadapkan dosa kepada kita seperti hal yang baik, misalnya berupa ajaran yang tampaknya baik. Itulah yang telah dilakukan oleh Iblis kepada Hawa di Taman Eden, dan ia tetap berbuat demikian sampai sekarang.

Para rasul palsu menyamakan diri mereka sebagai pelayan-pelayan kebenaran, padahal mereka hendak menyesatkan jemaat di Korintus. Mereka adalah "seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan" (Filipi 3: 18-19, lihat bahasannya dalam Artikel : KEBENARAN SEJATI, Filipi 3:1-21 ).
Ingatlah baik-baik, Tuhan tidak menghuhum alat menyamar itu, melainkan Ia menghuhum orang yang menggunakan alat menyamar itu. Tuhan menghukum kita bukan berdasarkan pengakuan kita, melainkan berdasarkan perbuatan kita. Dan Ia juga akan berbuat demikian terhadap semua guru palsu.


Ayat 16,
Anggota jemaat di Korintus telah membiarkan rasul palsu itu memegahkan diri. Paulus juga rnerninta agar ia dibiarkan bermegah sedikit. Paulus mengaku bahwa hal memegahkan diri adalah bodoh, tetapi ia harus berbuat demikian supaya lnjil Kristus tetap terpelihara dalam jemaat di Korintus, dan supaya mereka menolak ajaran rasul palsu itu. Jemaat itu telah mendengar perkataan Rasul Paulus, sebab itu ia meminta izin kepada jemaat untuk menyatakan tentang penderitaannya karena Krist.us.


Ayat 17-18, yang dipermasalahkan penuduh,

Bandingkan dengan :


* 2 Korintus 10:17-18
10:17 "Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."
10:18 Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.



Paulus mengaku bahwa memegahkan diri sendiri adalah kebodohan, dan dalam perikop ini ia meminta agar para pembaca bersabar kepadanya apabila ia agak memegahkan dirinya. Para rasul palsu telah membaggakan dirinya sendiri dan menyatakan hal yang meninggikan diri mereka sendiri (sombong). Sifat memegahkan diri bukanlah berasal dari Kristus. karena hal itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan Sifat itu berasal dari kehendak duniawi dan kehendak daging, Sifat memegahkan diri tidak sesuai dengan teladan Kristus yang telah merendah kan diri-Nya (Filipi 2:5-8 ). Dan bagi Paulus hal itu juga tidaklah biasa karena ia telah disalibkan bagi dunia (Galatia 6: 14). Tuhan Yesus tidaj memegahkan diri-Nya, dan Roh-Nya pun tidak pernah memimpin orang-orang untuk memegahkan kan diri sendiri. Oleh karena keadaan jemaat di Korintus dan para rasul palsu di dalam jemaat itu, Paulus "terpaksa" memegahkan din untuk membela kebenaran. Inilah yang dimaksud "bodoh" dalam ayat 17.

Paulus menulis demikian bukan berarti tulisannya tidak diilhamkan Tuhan. Hanya perkataan itu tidak berhubungan dengan ilham dari Tuhan. Memegahkan diri sendiri sebenarnva bukanlah suatu hal yang menyenangkan bagi Paulus yang tidak suka mencari pujian dari manusia, karena itu adalah "kebodohan". Namun, dalam keadaan demikian ia terpaksa memegahkan diri sendiri untuk membela kebenaran dan menutup mulut para rasul palsu itu. Maksud Paulus dalam hal ini berbeda dengan maksud para rasul palsu itu.


Ayat 19-20,
Anggota jemaat di Korintus telah membiarkan para rasul palsu itu mernpermalukan mereka. Dan para rasul palsu ini bersikap semena-mena. Dan rupanya mereka bersikap sangat keras terhadap para anggota jemaat sampai mereka berani menampar muka para anggota jemaat. Para anggotajemaat bertahan dalam lima hal yang mornpermalukan itu. Mereka membiarkan diri mereka diperhambakan oleh hukum Taurat dan "dihisap" oleh para rasul palsu yang menuntut agar mereka dipelihara dan disokong oleh jemaat. Mereka membiarkan para rasul palsu memegahkan diri seakan-akan mereka mau memerintah atas kawanan domba Allah (1 Petrus 5:3). Mereka juga membiarkan rasul-rasul palsu menampar muka mereka. Anggota jernaat di Korintus telah menerima semua itu seakan-akan ajaran itu dari rasul yang sah. Perbuatan mereka itu tidak sesuai dengan kehendak Kristus atau dengan ajaran rasul Kristus yang sah.


Ayat 21,
Lawannya menganggap Paulus seorang yang lemah, dan dengan itu mereka hendak membela diri bahwa mereka hersikap keras terhadap anggota jemaat.

"Tetapi" waktunya sudah tiba bagi Paulus untuk membela dirinya dan berkata dengan tegas bahwa ia seorang rasul Kristus yang sah. Ia harus membela dirinya karena berita-berita bohong tentang dia yang disiarkan oleh para rasul palsu. Paulus menetapkan bahwa kita kelak dibenarkan di hadapan Kristus dan bukan di hadapan manusia.

Rasul-rasul palsu itu berani sekali memegahkan diri mereka. Oleh karena itu, Paulus juga berani memegahkan dirinya supaya anggota jemaat dapat membandingkan kedua oelah pihak dan kemudian mengetahui bahwa sesungguhnya Pauluslah yang benar. Semua itu dilakukannva unt.uk menetapkan pengajaran yang benar di dalarn jemaat Tuhan.


Ayat 22,
Dari ayat ini, kita mengetahui bahwa rupanya para rasul palsu itu adalah orang Ibrani yang bangga akan kebangsaannya. Paulus mengaku bahwa ia juga orang Ibrani sama seperti mereka, dan bahkan Paulus dididik di Yerusalem oleh Gamaliel, seorang ahli Taurat yang sangat dihormatl di antara bangsa Israel dan ia juga seorang Farisi. Keterangan lebih lanjut mengenai hal ini terdapat dalam Filipi 3:5-6 dan Kisah Para Rasul 22:3; 26:5. Tentu Paulus dapat bermegah lebih daripada para rasul palsu itu, kalau ia mau.


Ayat 23,
Dengan membandingkan pekerjaan para rasul palsu itu dengan pekerjaan Paulus, dapat dinyatakan bahwa mereka bukanlah rasul Kristus yang sah, melainkan rasul Iblis. Mereka tidak mengetahui apa-apa tentang persekutuan dalam penderitaan Kristus (Filipi 3:10). Mereka tidak menderita apa-apa bagi Kristus.

Penderitaan Paulus ditulis dari ayat 23 hingga ayat 33, dan banyak pengalaman Paulus itu tidak ditulis dalam Kisah Para Rasul. Dalam Kisah Para Rasul kita dapat mernbaca bagaimana Allah melalui Roh Kudus membangunkan jemaat Kristus. Maksud kitab itu hukanlah untuk memberikan riwayat hidup para rasul. Tetapi memang ada pengalaman-pengalaman di dalam Kisah Para Rasul yang tidak disebut di dalam pasal ini. Penderitaan Paulus karena Kristus menetapkannya sebagai seorang rasul yang sah (Kisah 9:16; 1 Korintus 4:7-12 dan 6:4-10).

Dalam Kisah Para Rasul ditulis bahwa Paulus lima kali dipenjarakan, dan dari kelima kali itu, baru satu kali dialaminya pada waktu surat ini ditulis. Clement dari Roma telah mencatat bahwa Paulus tujuh kali dipenjarakan. Sering ia diancam bahaya maut, bukan hanya di Kota Listra, tetapi juga di tempat-tempat lain dan keadaan itu mungkin saja mendatangkan kematian baginya.


Semoga dengan penjelasan ini, para pembaca dapat mengerti apa konteks "kebodohan" dalam ayat 17, yang terpaksa dilakukan Paulus dalam menghadapi rasul-rasul Palsu yang sudah sedemikian merongrong jemaat di Korintus.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Dec 12, 2007 1:36 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 4834
Tuduhan :
Quote:
Berdasarkan pengakuannya sendiri, Paulus adalah seorang Farisi. Ia dilaporkan pernah berkata: "Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi." (Kisah Para Rasul 23:6 TB)

Yesus mengecam kaum Farisi: "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik..." (Matius 23:13 TB)

Yohanes pun mengecam kaum Farisi : "...Hai kamu keturunan ular beludak..." (Matius 3:7 TB)

Jadi kesimpulannya adalah karena Paulus adalah orang Farisi, maka ia termasuk golongan hipokrit (munafik) dan ular beludak!



Jawab :


Orang Farisi memang banyak disorot dalam Alkitab karena keangkuhan dan kemunafikan mereka. Namun ini bukan berarti bahwa semua Farisi itu jelek. Alkitab mencatat ada beberapa orang Farisi yang baik, diantaranya adalah Nikodemus. Yusuf Arimatea dan Simeon yang menimang bayi Yesus di Bait Allah juga diperkirakan golongan orang Farisi.

Paulus, adalah seorang Rasul yang mempunyai latar belakang Farisi (Kisah Para Rasul 22:3; Galatia 1:14, Filipi 3 :5-6). Dan ketika ia sebagai Farisi ia pernah menganiaya para pengikut Kristus, dan berperan besar pada kematian Stefanus (Kisah Para Rasul 7:58 ; 8:1a, 3; 9:1). Namun Saulus (nama Paulus sebelum bertobat) mendapat panggilan khusus dari Tuhan Yesus Kristus, dan kemudian ia bertobat dan menjadi pengikut Kristus yang setia sampai mati.

Manusia bisa saja pernah melakukan kejahatan, tetapi ketika ia bertobat dosanya diampuni Tuhan. Ketika si petobat itu dalam kehidupannya senantiasa hidup benar sesuai ajaran Allah, maka ia selamanya akan benar di mata Allah. Mantan penjahat tidak lagi dianggap penjahat, tetapi ia menjadi orang benar dihadapan Allah. Saya yakin pertobatan semacam ini juga dikenal dalam ajaran Islam. Bahwa mantan penjahat pun diberi kesempatan untuk bertobat. Nah, Rasul Paulus memang mantan penjahat, dan dalam pertobatannya ia membuktikan kesetiaannya kepada Tuhan.

Selengkapnya, baca di artikel KEHIDUPAN RASUL PAULUS, di http://www.sarapanpagi.org/kehidupan-ra ... .html#p6606


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Wed Dec 12, 2007 1:50 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 4834
Tuduhan :
Quote:
Bapak Gereja bernama Eusebius dari Caesarea dilaporkan pernah berkata:

"It is an act of virtue to deceive and lie, when by such means the interests of the church might be promoted" (source)

(Adalah satu perbuatan baik untuk berbohong dan berdusta, dengan begitu kepentingan-kepentingan gereja dipromosikan.)
<