Tuduhan :
Quote:
Paulus adalah orang merasa dirinya bebas, berdasarkan pernyataannya sendiri!
1 Korintus 9:19-21 KJV
19 For though I be free from all men, yet have I made myself servant unto all, that I might gain the more.
20 And unto the Jews I became as a Jew, that I might gain the Jews; to them that are under the law, as under the law, that I might gain them that are under the law;
21 To them that are without law, as without law, (being not without law to God, but under the law to Christ,) that I might gain them that are without law.
Terjemahan 1 Korintus 9:19-21 (Note: Saya melepaskan kalimat sisipan yang ditandai tanda kurung yang dilakukan oleh pendeta Kristen)
19 Karena Aku menjadi bebas dari semua orang, namun aku membuat diriku sendiri melayani semua, sehingga memungkinkan saya untuk mendapatkan lebih banyak lagi.
20. Dan kepada orang-orang Yahudi Aku menjadi seperti orang Yahudi, sehingga Aku memenangkan orang-orang Yahudi; kepada mereka yang mengikuti hukum, seperti yang mengikuti hukum, sehingga saya memenangkan mereka yang adalah mengikuti hukum;
21. Kepada mereka yang tanpa hukum, seperti tanpa hukum, sehingga saya memenangkan mereka yang tanpa hukum.
Tahukah Anda?
Perhatikan bahwa pendeta Kristen dalam KJV 1 Korintus 9:19-21 merasa perlu untuk memberi kalimat "being not without law to God, but under the law to Christ" dengan tanda kurung.
Dalam Bible revisi terbaru bahkan kalimat tsb dilepaskan tanda kurungnya!
(CEV) And when I am with people who are not ruled by the Law, I forget about the Law to win them. Of course, I never really forget about the law of God. In fact, I am ruled by the law of Christ.
(BIS) Terhadap orang bukan Yahudi, saya berlaku seperti seorang bukan Yahudi, yang hidup di luar hukum Musa. Saya lakukan itu supaya saya bisa menarik mereka menjadi pengikut Kristus. Tetapi itu tidak berarti bahwa saya tidak taat kepada perintah-perintah Allah; saya justru dikuasai oleh perintah-perintah Kristus.
Jawab :
Penuduh mempermasalahkan kata dalam kurung dalam terjemahan KJV, baiklah kita kaji naskah bahasa asli, dan perbandingan terjemahan lain sbb :
1 Korintus 9:19-21
9:19 LAI TB,
Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
KJV,
For though I be free from all men, yet have I made myself servant unto all, that I might gain the more.
NIV,
Though I am free and belong to no man, I make myself a slave to everyone, to win as many as possible.
NASB ,
For though I am free from all men, I have made myself a slave to all, so that I may win more.
TR,
ελευθερος γαρ ων εκ παντων πασιν εμαυτον εδουλωσα ινα τους πλειονας κερδησω
Translit interlinear,
eleutheros {bebas} gar {sebab} ôn {aku} ek {dari} pantôn {semua (orang)} pasin {kepada semua (orang)} emauton {diriku sendiri} edoulôsa {aku telah menghambakan} hina {supaya} tous pleionas {sebanyak mungkin (orang)} kerdêsô {aku boleh memperoleh}
9:20 LAI TB,
Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
KJV,
And unto the Jews I became as a Jew, that I might gain the Jews; to them that are under the law, as under the law, that I might gain them that are under the law;
NIV,
To the Jews I became like a Jew, to win the Jews. To those under the law I became like one under the law (though I myself am not under the law), so as to win those under the law.
NASB ,
To the Jews I became as a Jew, so that I might win Jews; to those who are under the Law, as under the Law though not being myself under the Law, so that I might win those who are under the Law;
TR,
και εγενομην τοις ιουδαιοις ως ιουδαιος ινα ιουδαιους κερδησω τοις υπο νομον ως υπο νομον ινα τους υπο νομον κερδησω
Translit interlinear,
kai {yaitu} egenomên {aku menjadi} tois ioudaiois {bagi orang-orang yahudi} hôs {seperti} ioudaios {orang yahudi} hina {supaya} ioudaious {orang-orang yahudi} kerdêsô {aku boleh memperoleh} tois {bagi orang-orang yang} hupo {dibawah} nomon {hukum (Taurat)} hôs {seperti} hupo {dibawah} nomon {hukum (Taurat)} hina {supaya} tous {orang-orang yang} hupo {dibawah} nomon {hukum (Taurat)} kerdêsô {aku boleh memperoleh}
9:21 LAI TB,
Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
KJV,
To them that are without law, as without law, (being not without law to God, but under the law to Christ,) that I might gain them that are without law.
NIV,
To those not having the law I became like one not having the law (though I am not free from God's law but am under Christ's law), so as to win those not having the law.
NASB ,
to those who are without law, as without law, though not being without the law of God but under the law of Christ, so that I might win those who are without law.
TR,
τοις ανομοις ως ανομος μη ων ανομος θεω αλλ εννομος χριστω ινα κερδησω ανομους
Translit interlinear,
tois {bagi orang-orang} anomois {yang tanpa hukum (Taurat)} hôs {seperti} anomos {yang tanpa hukum (Taurat)} mê {tidak} ôn {aku hidup} anomos {yang tanpa hukum (Taurat)} theô {Allah} all {tetapi} ennomos {dibawah hukum} khristô {Kristus} hina {supaya} kerdêsô {aku boleh memperoleh} anomous {yang tanpa hukum (Taurat)}
Penterjemah tidak bermaksud menambah-nambah suatu ayat, tetapi memberikan sajian terjemahan yang sesuai dengan pemahaman bahasa/ pemahaman para pembacanya pada masanya. Dan kalau kita kaji, apa yang didalam tanda kurung tidak keluar dari konteks ayat yang dimaksud. Anda bisa mengkajinya dengan menelaah sajian terjemahan literal interlinear diatas, dari bahasa asli Yunani.
Seperti kebiasaannya, para penuduh hanya melihat kata-kata negatif yang sekiranya dapat digunakan untuk menyerang, dengan tanpa melihat konteks dan makna dari sebuah pengajaran, terutama pada pengajaran-pengajaran Rasul Paulus dalam Alkitab Perjanjian Baru.
Mengenai 1 Korintus 9:19-21 yang dipermasalahkan, sebaiknya kita baca lebih lengkap sampai ayat 27, sbb :
* 1 Korintus 9:19-27
9:19 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
9:20 Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
9:21 Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
9:22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
9:23 Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.
9:24 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!
9:25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.
9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.
9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.
Dalam pembahasan ini, rasul Paulus mengungkapkan kegirangannya, dimana ia adalah seorang Farisi yang telah sekian lama hidup dibawah peraturan/hukum-hukum Taurat, dengan karya Kristus, ia dimerdekakan.
Hukum Taurat adalah hukum yang berat membebani manusia, para rabi Yahudi memerincinya dan
jumlahnya 613 peraturan!. Dan sesuai dengan nubuat yang tertulis pada
Daniel pasal 9 :24-27 yang menyatakan Sang Mesias akan menggenapi Taurat dengan darahNya sendiri, sehingga
kematian kurban dari Tuhan Yesus Kristus di kayu salib menghentikan segala
kurban darah yang sekian lama dilaksanakan orang Israel pada Perjanjian Lama. Oleh karya Kristus, kita masuk dalam Perjanjian yang Baru, kita menjadi orang orang-orang yang sudah ditebus :
* Matius 26:28
LAI TB,
Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.
KJV,
For this is my blood of the new testament, which is shed for many for the remission of sins.
TR,
τουτο γαρ εστιν το αιμα μου το της καινης διαθηκης το περι πολλων εκχυνομενον εις αφεσιν αμαρτιων
Translit,
touto {inilah} gar {sebab} estin {adalah} to haima {darah} mou {-Ku} to tês kainês {yang baru} diathêkês {perjanjian} to {yang} peri {bagi} pollôn {banyak orang} ekkhunomenon {ditumpahkan} eis {untuk} aphesin {pengampunan} hamartiôn {dosa-dosa}
Pelayanan Yesus Kristus di dunia ini sudah
menggenapi Hukum Taurat dan kematianNya di kayu salib membatalkan Taurat. Oleh karenanya Paulus yang dulu hidup dibawah hukum Taurat, kini terbebas dari Taurat. Sehingga ia dapat mengabarkan Kabar Baik (Injil) kepada semua orang baik orang Yahudi (yang hidup dibawah Taurat), dan non-Yahudi (yang tidak hidup dibawah Taurat). Karena
Yesus itu universal, untuk semua bangsa.
Mari kita bahas 1 Korintus 9:19-27, ayat per ayat sbb :
Bebas dari semua - hamba dari semua
Paulus menekankan suatu pengajaran yang positif, bahwa Injil untuk semua orang baik Yahudi maupun non-Yahudi. Namun , harap jangan salah paham tentang "kebebasan" ini, yang sama sekali tidak bermakna
Antinomianisme (anti peraturan/ anti hukum). Kebebasan yang dimaksud dalam 1 Korintus 9:19-27 sama sekali bukan pengajaran
Antinomianisme, yang mengajarkan bahwa
kelakuan kita tidak penting dan tidak menjadi soal sebab pikiran dan hati kita sudah dijadikan terang dan juga sudah ditebus oleh kasih karunia Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak perlu membuang dosa dan kejahatan sebab dosa itu tidak dapat menajiskan atau mencemarkan jiwa yang sudah ditebus[i]. Dari pengajaran-pengajaran yang ditulis oleh rasul Paulus dalam kitab-kitabnya, nyata bahwa Paulus sangat menentang pengajaran sesat yang berkata, [i]"Baiklah kita berdosa supaya kasih karunia semakin bertambah." (lihat penjabaran Roma 3 : 1–8 diatas sebagai salah satu contohnya).
Ayat 19,
Dalam ayat ini, sekali lagi Paulus menekankan kemerdekaannya (bandingkan 1 Korintus 9:1): Ia bebas terhadap semua orang (teks Yunaninya dapat pula diterjemahkan
"bebas dari segala sesuatu"). Karena bebas di dalam Kristus, la dibebaskan pula dari pandangan-pandangan, halangan-halangan, dan kendala-kendala manusia (1 Korintus 7:23); tak seorang pun dapat mengikat hati nuraninya atau menetapkan hukum tentang bagaimana ia harus bertindak. Namun ia secara sukarela telah menjadikan dirinya hamba dari semua orang yang melayani pekerjaan Kristus di dunia karena ia adalah hamba Kristus (Iihat 1 Korintus 7:22, 23; 2 Korintus 4:5). Ia telah dibebaskan untuk melayani. Kebesaran diri satu-satunya harus ditemukan di dalam pelayanannya yang penuh kerendahan hati (Iihat Matius 20:26, 27). Maksudnya di dalam segala hal ini ialah agar ia boleh memenangkan sebanyak mungkin orang, artinya, sebanyak mungkin orang yang kepadanya la telah memberitakan. Memenangkan orang lain (lihat ayat 22 dan 7:16) berarti keselamatannya, dan itu selalu lebih penting daripada kemerdekaan pribadi (Iihat pula Matius 18:15 dan 1 Petrus 3:1). Tanpa mengkompromikan kebenaran beritanya, Paulus telah selalu siap untuk menyesuaikan dirinya dengansituasi para pendengarnya; ia memberikan tiga contoh untuk menunjukkan maksudnya.
Ayat 20,
Pertama : Bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi.
Misi khusus Paulus kepada orang-orang non-Yahudi telah diakui oleh para rasul lainnya (Kisah 9:15; Galatia 2:9). Namun demikian, Kisah dan surat-surat Paulus sendiri menunjukkan bahwa" ia seringkali terlebih dulu membuat hubungan dengan sinagoge Yahudi di kota-kota Yunani yang dikunjunginya. Orang-orang Yahudi adalah salah satu mualafnya yang pertama, juga di Korintus (Kisah 18:8 ). Meskipun ia dilahirkan sebagai seorang, Yahudi, Paulus yang Kristen telah melakukan pemutusan total dengan Yudaisme dan Taurat sebagai dasarnya.
Di dalam Kristus, seseorang bukan lagi Yahudi atau Yunani (Galatia 3:28; Roma 10:12; Kolose 3:11). Seperti semua orang Kristen, Paulus tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat, karena ketaatan pada Taurat tidak dapat dijadikan dasar bagi suatu hubungan yang benar dengan Kristus. Ia tidak berada di bawah Taurat melainkan di bawah kasih karunia, karena
"Kristus adalah kegenapan hukum Taurat" (Roma 6:14, 15; 10:4).
Namun demikian, meskipun ia menyangkal bahwa Taurat mempunyai kuasa untuk menyelamatkan, Paulus masih dapat memperlihatkan kemerdekaannya dengan hidup sesuai dengan aturan-aturannya agar ia dapat memenangkan orang-orang Yahudi. Dalam situasi-situasi tertentu, pelanggaran Taurat yang sengaja atau provokatif hanya akan menimbulkan perlawanan getir terhadap pesannya mengenai Injil. Misalnya, ia menyuruh agar Timotius muda disunat, agar tidak menimbulkan kemarahan di antara orang-orang Yahudi (Kisah 16:3). Di pihak lain, dalam situasi yang lain, Paulus menegaskan kemerdekaannya dengan tidak menyuruh Titus disunat (Galatia 2:3). Kisah 21:20-60 juga memperlihatkan betapa Paulus masih dapat menaati kebiasaan-kebiasaan Yahudi dan menyuruh orang-orang Yahudi tetap mempertahankan Taurat, kendati pun ia menyangkal kekuatannya untuk menyelamatkan. Paulus siap untuk bertindak sebagai orang Yahudi untuk memenangkan mereka yang masih berada di bawah Taurat sejauh Injil kemerdekaan Kristus tidak disangkal. Ia menjadi seperti. orang yang hidup di bawah hukum Taurat bukan untuk mengungkapkan solidaritas budaya dengan sesamanya bangsa Yahudi, dan jelas bukan untuk mempromosikan Taurat sebagai dasar kebenaran dengan Allah, melainkan hanya sebagai ungkapan kemerdekaannya untuk menjadi seorang hamba di bawah Kristus.
Ayat 21,
Kedua : Meskipun ia tidak dilahirkan sebagai seorang non-Yahudi, ia menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat untuk memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
Dalam pengertian tertentu, hal ini mudah bagi Paulus. Sebagai seseorang yang dilahirkan di dunia berbahasa Yunani, dan yang hidup dan bekerja di dalamnya selama bertahun-tahun bahkan setelah pertobatannya (Kisah 9:30; 11:25; 22:3; Galatia 1:21), ia dapat bergerak dengan bebas di dunia nan-Yahudi. Karena ia bebas dari hukum Musa, pakaian dan ma¬kanan Paulus tidak membuatnya berbeda dengan orang-orang lain. Kadang-kadang ia dapat berdebat seperti para filsuf di zamannya, dengan menggunakan bahasa dan gambaran mereka (lihat ayat 24-27). Namun demikian, sementara ia menekankan kemerdekaannya dari Taurat di hadapan orang-orang Yahudi dan Yudais dari Injil, Paulus harus menanamkan kesan kepada orang-orang non-Yahudi bahwa kemerdekaan di dalam Kristus tidak ada hubungannya dengan perilaku tanpa hukum. Jadi, di sini ia menyatakan bahwa ia tidak hidup di luar hukum Allah; ia tidak bebas dari segala kewajiban untuk menaati kehendak Allah. Kehendak itu kini telah dinyatakan di dalam Kristus, dan ketaatan baru dimulai dengan iman kepada-Nya (Roma 1 :5). Hidup di bawah hukum Kristus bukan berarti hidup menurut serangkaian hukum dan peraturan yang baru, melainkan menjalani karunia kehidupan baru yang diarahkan oleh Roh Kudus. Dalam Roma 8:2 kita menemukan kontras antara "Roh yang memberi hidup ... dalam Kristus" dan "hukum dosa dan hukum maut"; yang pertama membebaskan kita dari perhambaan yang lainnya. Di tempat-tempat lain Paulus berbicara tentang
hukum kasih (Galatia 6:2; lihat Roma 13:8 dan Yohanes 13:34). Meskipun tidak tenkat kepada Kristus dengan hukum apa pun, kecuali Roh dan iman yang dikerjakan oleh Roh tersebut, Paulus yang selama ini menolak legalisme, juga menolak perilaku semaunya, tanpa hukum. Namun demikian, maksud yang ingin dikemukakannya ialah bahwa kemerdekaannya dari Taurat dapat dipergunakan untuk hal yang bermanfaat dalam memenangkan mereka yang tidak pernah hidup di dalamnya.
Ayat 22,
Ketiga : Akhirnya, bagi orang-orang yang lemah Paulus menjadi seperti orang yang lemah agar ia dapat menyelamatkan mereka yang lemah (2 Korintus 11 :29).
Tidak sulit menjelaskan mengapa mereka yang kuat tidak disebutkan. Paulus masih membayangkan di dalam benaknya percakapannya tentang mereka yang mempunyai hati nurani yang lemah dalam 1 Korintus 8:7-13 (lihat pula Roma 14:1 - 15:3). Bagi mereka yang belum sepenuhnya bebas dari legalisme Yahudi atau masa lalu mereka yang kafir, Paulus (meskipun kuat, Roma 15:1) dapat dengan segera dan tanpa pengorbanan besar membatasi penggunaan kemerdekaannya sendiri agar tidak menimbulkan rasa tersinggung. Ia menolak untuk membiarkan hati nuraninya yang kuat menyakini siapapun yang lemah. Bila dipahami dalam cara ini, contoh yang ketiga ini sesungguhnya adalah kesimpulan dari dua contoh sebelumnya.
Yang terlebih penting daripada rincian apa pun adalah prinsip yang umum. Sambil memainkan slogan semua, yang digunakan dua kali dalam ayat 16, Paulus menyatakan secara ringkas:
"Aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka". Pada akhir percakapan tentang makanan yang dipersembahkan kepada berhala-berhala, Paulus mengajukan pemikiran yang serupa: "Aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka. beroleh selamat" (1 Korintus 10:33). Ia bahkan secara sengaja menyoroti misinya pada dunia kafir untuk membuat orang-orang Yahudi cemburu,
"dan dapat menyelamatkan beberapa orang dari mereka" (Roma 11:13, 14)! Dalam nas-nas ini, ia berbicara tentang perilakunya yang spesifik untuk memenangkan kelompok-kelompok tertentu, bukan suatu strategi standar yang mengacu kepada orang-orang Yahudi dan non-Yahudi.
Ayat 23,
Paulus. telah selalu bertindak dengan cara ini karena Injil, sehingga Injil itu dapat secara efektif menjangkau orang banyak dan menghasilkan iman. Tetapi ia tidak pernah dapat berpikir tentang pelayanannya tanpa pada saat yang sama juga berpikir mengenai kesejahteraan rohaninya sendiri (lihat ayat 16, 17). Penyangkalan kemerdekaan pribadinya untuk melayani orang lain banyak sekali berkaitan dengan pengharapannya sendiri untuk mendapat bagian dalarn berkat Injil. Bila ia gagal melayani dengan setia - khususnya, bila ia menghalangi jalannya Injil dengan bebas dengan "mengenakan biaya" untuknya - ia sendiri mungkin akan ditolak oleh Hakim surgawi (lihat ayat 27). Dalam ayat ini, Paulus tidak menyangkal
doktrin pembenaran oleh iman yang telah dia terima dan beritakan dengan sangat baik. Ia tahu bahwa ia tidak akan diselamatkan oleh pekerjaannya sebagai seorang rasul. Di pihak lain, ia tentu akan menyangkal keselamatan bila ia menyangkal Injil kasih karunia oleh perilakunya sendiri. Kata-kata ini sekali lagi mencerminkan makna hidup di bawah "keharusan" ilahi (ayat 16).
Ayat 24-27,
Untuk menggambarkan penyangkalan dirinya demi Injil, Paulus menunjuk kepada atlet dan latihannya. Bahkan penggunaan gambaran ini oleh Paulus melukiskan apa yang baru saja ia katakan. Meskipun ia dilahirkan dan dibesarkan sebagai seorang Yahudi, ia menggunakan gambaran yang dikenal akrab oleh mereka yang hidup di dunia berbahasa Yunani. Bagi orang Yahudi, olahraga atletik itu sulit diterima karena para atletnya harus bertelanjang dan ikut serta dalam penyembahan berhala (Olimpiade dan pertandingan-pertandingan lainnya melibatkan ciri-ciri keagamaan). Gambaran dan bahasa atletik itu umum di Perjanjian Baru, khususnya dalam surat-surat Paulus (lihat khususnya Galatia 2:2; 5:7; Roma 9:16; Filipi 2:16; 3:12-14; 1 Timotius 4:7-10; 6:11-12; 2 Timotius 2:5; 4:7, 8; Ibrani 12:1). Dalam teks-teks lainnya, istilah-istilah atletik juga digunakan, tetapi tidak begitu jelas tercermin dalam terjemahannya (Iihat Roma 15:30; Filipi 1:27¬30; 4:1-3; Kolose 1:29 - 2:1; 4:12,13; 1 Tesalonika 2:2, 19; 1 Petrus 5:4; Yakobus 1:12; Wahyu2:10).
Kita tidak perlu menyimpulkan bahwa Paulus dari pengalaman-nya secara langsung mengenal banyak tentang lari, tinju, gulat, dan cabang-cabang olahraga lainnya; ia semata-mata menggunakan gambaran yang dipopulerkan oleh para filsuf Sinik dan Stoa. Mereka mengejek para atlet yang berkeringat dan bekerja keras untuk mendapatkan karangan bunga kemenangan yang akan memudar; para atlet sejati, kata mereka, adalah orang-orang yang bergumul (berperang) melawan nafsunya untuk mencapai kebajikan, yang mempraktikkan pengendalian diri guna memperoleh penguasaan atas hidup. Paulus mengadaptasi gambaran semacam itu untuk dipakainya sendiri. Ia tidak lagi menggambarkan kehidupan sebagai sebuah perjuangan moral, sebagai pertandingan untuk keberhasilan etis dan pengendalian kehidupan seseorang saja, Dalam pengertian umum, ia menggambarkan perjuangan untuk memenangkan hadiah dari panggilan surgawi Allah (Filipi 3:12-14). Terutama sekali, Paulus menggambarkan seluruh pelayanannya sebagai suatu perjuangan demi kemenangan Injil. Itu pula yang menjadi masalahnya di sini, bukan gambaran umum tentang kehidupan sebagai suatu pertandingan atletik.
Ayat 24,
Dengan menggunakan gaya argumentasi para filsuf, Paulus membuka dengan pertanyaan yang sudah dikenal Tidak tahukah kamu? Setiap pembaca dapat diharapkan untuk memahami apa yang dikatakannya berikutnya. Dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah. Bertanding tidak dengan sendirinya berarti menang. Jadi, pelajarannya: Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya. Karena dua alasan yang jelas, metafora ini tidak boleh didorong lebih jauh. Orang Kristen berlari di dalam sebuah pertandingan di mana semua dapat memenangkan hadiahnya (lihat Galatia 5:7; Filipi 3:12-15; Wahyu 2:10). Kembali, ayat 24 bukanlah pokok utama Paulus; ayat itu mempersiapkan jalan untuk ayat 25. Semua usaha dari seorang atlet akan sia-sia bila ia mengabaikan latihannya, dan tidak menghindarkan diri dari segala sesuatu yang mungkin menggagalkannya untuk mencapai kemenangan. Disiplin pribadi yang keras itu perlu; itu adalah bagian dari aturan-aturan pertandingan (lihat 2 Timotius 2:5). Itulah yang harus diterima oleh semua orang Kristen, dengan meniru sikap dan perilaku Paulus (1 Korintus 11:1).
Ayat 25,
Pelajaran utamanya dinyatakan di sini: Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Ia harus berlatih dengan tekun, bahkan kalaupun hal itu berarti ketidaknyamanan dan rasa sakit; ia harus meninggalkan segala makanan kesukaannya yang merusakkan kondisi fisiknya. Dalam bahasa ilustrasi, hal ini melukiskan apa yang telah Paulus katakana tentang penyerahan kemerdekaannya demi kemenangan Injil (1 Korintus 9:12, 19, 22, 23). Mereka yang ikut serta dalam pertandingan berbuat demikian untuk memeproleh suatu mahkota yang fana. Maka, betapa lebih berat lagi disiplin yang dituntut bila hadiahnya adalah
suatu mahkota yang abadi, yang tidak akan layu – yaitu mahkota kebenaran, mahkota kehidupan itu sendiri (lihat 2 Timotius 4:8, 1 Petrus 5:4, Yakobus 1:12; Wahyu 2:10).
Ayat 26,
Dua pertandingan atletik yang spesifik ini membuat maksud Paulus cukup jelas. Seorang pelari terus mengarahkan matanya ke garis akhir tanpa berbelok jalurnya. Jadi, paulus
tidak berlari tanpa tujuan, dan tidak menggunakan kebebasan sebebas-bebasnya. Namun ia disiplin, dan tak ada suatupun boleh dibiarkan mengalihkan perhatiannya, dan semua usahanya untuk tujuan pelayanan yang harus dicapainya. Demikian pula, ia menggambarkan bahwa seorang petinju tidak dapat memenangkan pertandingannya dengan sembarangan memukul atau dengan mengayun-ayunkan tinjunya di udara, atau seperti seorang petinju bayangan yang berpura-pura memukul lawannya, atau petinju yang memukul dengan tidak tepat. Jadi, dengan ilustrasi ini, Paulus "bukan petinju yang sembarangan saja memukul"; ia selalu memukul sasarannya. Perjuangan paulus demi Injil pun tidak akan efektif bila ia gagal untuk mempraktekkan pengendalian diri dalam segala sesuatu. Jadi meski ada kemerdekaan, pengendalian diri adalah suatu factor yang amat penting.
Ayat 27,
Paulus melihat bahwa, tubuh Paulus sendiri adalah musuh yang harus tetap dikuasai. Sementara dalam atletik, tubuh fisiklah yang harus dikuasai dengan ketat, namun disini Paulus tidak hanya memaksudkan tubuh jasmaninya saja, melainkan seluruh keberadaannya (jasmani & rohani). Tubuh sendiri tidaklah berdosa – ia adalah ciptaan Allah yang baik dan ajaib, tetapi tubuh dapat menjadi alat dosa dan bukan alat kebenaran (lihat Roma 6:13,19). Dengan menggunakan istilah yang beragam ini, Paulus berbicara tentang perlunya melatih tubuhnya. Dan ia harus menguasai nafsu-nafsu egoisnya, ambisi-ambisi pribadinya, menjadikan dirinya sepenuhnya sebagai hamba Allah dan dengan demikian menjadi "hamba dari semua orang" (ayat 19). Bahasa yang dramatik seperti itu tidaklah berlebih-lebihan bila kita mengingat daftar penderitaan Paulus (2 Korintus 4:8, 9; 11:23-28; lihat pula 1 Korintus 4:11).
Dalam ayat ini, kita dapat mengerti mengapa Paulus menolak keuntungan financial/ gaji/ upah darimemebritakan Injil, meski sebagai seorang Rasul ia berhak menerima upah dari pekerjaannya sebagai gembala dan pemberita Injil. Pemberita Injil berhak mendapatkan uang dari jerih payahnya, namun Paulus melihat bahwa uang dapat mengecoh manusia untuk menyimpang dari tujuan mulia mengabarkan Injil. Sebagai
seorang penginjil yang "Amateur" bukan professional (menerima upah). Dengan cara ini, ia juga melatih emosi, keinginan yang berkaitan dengan masalah uang, dan ia memilih menghidupi dirinya sendiri dari pekerjaan membuat kemah, dan menolak nafkah yang dihasilkan dari pemberitaan Injil, supaya jangan sampai ketamakan akan uang akan menjadikan ia sendiri ditolak.
Pengendalian diri bukanlah tujuan akhirnya; hal itu pun dibutuhkan bukan hanya sekadar untuk membuat pelayanannya efektif bagi orang lain. Kekuatiran Paulus ialah bahwa sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, ia akan ditolak untuk menerima hadiah yang diberitakannya kepada orang lain (kata kerja "memberitakan" dapat juga berarti "bertindak sebagai pendahulu atau pembawa berita" pada pertandingan-pertandingan atletik, tetapi kaitannya di sini tampaknya tidak demikian). Ia semata-mata mengatakan bahwa sungguh tragis apabila, setelah pertama-tama disetujui sebagai seorang rasul (1 Tesalonika 2:4), akhirnya ia ditolak oleh Hakim surgawi. Penekanannya pada kemerdekaan dapat mengakibatkan dia sendiri kehilangan berkat-berkat tersebut yang diceritakannya kepada orang lain (ayat 23). Namun demikian, sementara ia menyerahkan keputusan terakhirnya kepada Tuhan, Paulus merasa yakin bahwa ia telah selamanya bertindak dengan setia. Sebagai atlet Kristus yang berdisiplin dan yang sedang menghadapi akhir hayatnya, ia dapat membuat pengakuan yang penuh dengan keyakinan:
"Aku telah mengakhiri pertandingan (secara harfiah, pergumulan/peperangan) yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran" (2 Timotius 4:7, 8). "Hamba-hamba Kristus"lah yang akan menerima kemerdekaan yang sempurna dari kehidupan yang kekal.
Amin.