It is currently Fri Apr 29, 2016 2:46 am

SarapanPagi Biblika

Bible Study / Christian Library

PERUMPAMAAN : BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR

User avatar
 
Posts: 12090
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

PERUMPAMAAN : BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR

Post by BP » Mon Jul 03, 2006 7:22 pm

PERUMPAMAAN : BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR



    * Lukas 16:1-9 PERUMPAMAAN TENTANG BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR
    16:1 Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya.
    16:2 Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara.
    16:3 Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.
    16:4 Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.
    16:5 Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku?
    16:6 Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan.
    16:7 Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul.
    16:8 Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.
    16:9 Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi."

    Image


Terutama pada ayat 9, perumpamaan ini merupakan jenis perumpamaan yang sulit dimengerti.

"Mamon yang tidak jujur", 'tou mamôna tês adikias' harfiah mamon yang berasal/bersumber dari kejahatan.

    * Lukas 16:9
    Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi."

    KJV, And I say unto you, Make to yourselves friends of the mammon of unrighteousness; that, when ye fail, they may receive you into everlasting habitations.
    TR : καγω υμιν λεγω ποιησατε εαυτοις φιλους εκ του μαμωνα της αδικιας ινα οταν εκλιπητε δεξωνται υμας εις τας αιωνιους σκηνας
    Interlinear : kagô {dan Aku} humin {kepada kalian} legô {Aku berkata} poiêsate {buatlah kalian} eautois {diri mereka sendiri} philous {para sahabat} ek {dari} tou mamôna {mamon} tês adikias {kejahatan} ina {supaya} hotan {ketika} eklipête {kalian gagal} dexôntai {mereka menerima} umas {kalian} eis {ke dalam} tas {yang} aiônious {kekal} skênas {kemah-kemah}

Bandingkan dengan :

    * Matius 6:24
    Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

    KJV, No man can serve two masters: for either he will hate the one, and love the other; or else he will hold to the one, and despise the other. Ye cannot serve God and mammon.
    TR, ουδεις δυναται δυσι κυριοις δουλευειν η γαρ τον ενα μισησει και τον ετερον αγαπησει η ενος ανθεξεται και του ετερου καταφρονησει ου δυνασθε θεω δουλευειν και μαμμωνα
    Translit, oudeis dunatai dusi kuriois douleuein ê gar ton hena misêsei kai ton heteron agapêsei ê henos anthexetai kai tou heterou kataphronêsei ou dunasthe theô douleuein kai mammôna

Dalam Matius 6:24, mamon merupakan lawan dari Allah (demikian pula dalam Lukas 16:13). Membandingkan Lukas 16:9 dengan Matius 6:24 ( dan Lukas 16:13); agaknya sulit dimengerti; Namun Yesus dalam Lukas pasal 16 ini memberikan pengajaran yang Indah sekali, meskipun mungkin 'sulit' dimengerti.

Yesus Kristus mengetahui kuasa kejahatan yang ada di dalam mamon (uang) tetapi para pelayan Tuhan dapat memanfaatkannya untuk pekerjaan Tuhan.


PENJELASANNYA Sebagai Berikut :

    Dari semua perumpamaan yang diajarkan Yesus, "Perumpamaan tentang Bendahara yang tidak jujur" adalah yang paling banyak menimbulkan teka-teki.
    Yesus menyampaikan suatu cerita, yang benar-benar dapat terjadi. Lazim seorang kaya mempunyai seorang bendahara untuk mengurus keuangan perusahaannya.

    Suatu ketika orang-kaya itu melihat (curiga) bahwa bendahara itu menghambur-hamburkan miliknya, orang kaya itu memanggil bendahara itu untuk meng-audit pembukuan-pembukuannya.

    Bendahara itu tahu, bahwa tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya adalah benar, bahwa ia telah korupsi dan sekarang ia kebingungan tidak bisa mempertanggung-jawabkan uang yang sudah ia korup dan mengembalikan kepada tuannya.
    Maka untuk menyelamatkan diri, dia membuat suatu siasat. Yaitu dengan membuat para debitur yang berhutang kepada tuannya itu menjadi berhutang kepada bendahara itu.

    Bendahara itu memanggil para debitur yang berhutang kepada tuannya (ada 2 contoh yang diberikan) :

      Pertama, Kepada seorang debitur yang berhutang 100 tempayan minyak, hutangnya didiscount 50%!. Dengan syarat debitur itu membuat surat hutang yang lain yang jumlahnya menjadi 50tempayan minyak saja. Nah disatu pihak tuannya dirugikan (tetapi dia tidak tahu), di lain pihak debitur tentu dengan senang hati membuat surat hutang baru, karena dengan demikian dia diuntungkan karena hutangnya di-discount 50%.

      Ukuran tempayan, measures KJV, atau bath dalam terjemahan lain, batos, Yunani.
      1 tempayan kira-kira equal dengan 8.68galon
      Maka, jumlah 100 tempayan minyak itu merupakan jumlah yang sangat besar, yang kira-kira berjumlah 868galon atau equal dengan 3,946liter!. 1 pohon Zaitun menghasilkan 120kilogram buah yang bisa dijadikan 25liter minyak zaitun. Bisa dibayangkan bahwa debitur itu berhutang hasil dari pohon zaitun yang kira2 berjumlah 150 lebih.
      (Sumber : Dalman, Arbeit und Sitte, IV: 192)

      Atas 'kemurahan hati' bendahara ini, debitur itu tentu saja berhutang budi kepadanya. Namun hal ini sama sekali tidak merugikan sang-bendahara, sebab yang dia perlukan adalah surat bukti hutangnya, yang nantinya akan dilaporkan kepada tuannya.


      Kedua, Kepada seorang debitur yang berhutang 100 pikul gandum.
      hutangnya didiscount 20%!. Dengan syarat debitur itu membuat surat hutang yang lain yang jumlahnya menjadi 80 pikul saja. Nah disatu pihak tuannya dirugikan (tetapi dia tidak tahu), di lain pihak debitur ini diuntungkan karena hutangnya di-discount 20%.

      Ukuran pikul, bushels, NIV, koros, Yunani.
      Jumlah 100 pikul gandum equal dengan 35ton gandum yang sama dengan hasil tanah seluas 100hektar tanah pada waktu itu.
      (Sumber : Dalman, Arbeit und Sitte, IV: 155,159 & Jeremias, Parables, 181.)

      Sama dengan contoh pertama, si-bendahara ini hanya memerlukan 'bukti surat hutang' saja, sementara di pihak debitur, akan dengan senang hati membuat surat hutang baru yang sudah dikurangi/didiscount atas 'kemurahan' bendahara ini.


-----

Kedua contoh diatas adalah memperlihatkan uang dalam jumlah yang besar. Bendahara itu memerlukan 'exhibit' untuk mendukung catatan keuangan yang harus ia berikan kepada Tuannya (yang notabene pembukuannya sudah dirubah/ sudah direkayasa).

Benar, bendahara itu memerlukan pembuatan 'bukti' secara kertas kalau uang yang diduga diselewengkan itu, diberikan kepada debitur-debitur sebagai hutang (dimana bukti surat hutangnya sudah ditangannya), hal ini perlu sekali jika nanti tuan itu mempertanyakan kemana larinya uangnya itu.



Pelajaran yang dapat diambil dari perumpamaan itu :


    Harta yang dibebaskan kepada para debitur oleh si-bendahara itu bukanlah miliknya, tetapi milik tuannya.
    Maka bendahara itu 'tidak merasa rugi' atau 'dirugikan' apabila ia memberikan kemurahan kepada para debitur, wong itu bukan uangnya kok.
    Sebaliknya, bendahara itu merasa aman dengan caranya memberikan hair-cut (discount) kepada para debitur.
    Ini penting bagi kedudukannya di masa depan, sehingga dia tidak dipecat atau malah dipermasalahkan di pengadilan.

    Dengan menggunakan perumpamaan "bendahara yang tidak jujur", Yesus menasehati murid-muridNya, untuk memberikan uang/harta kepada mereka yang membutuhkan sebanyak-banyaknya, sehingga mereka akan mendapatkan penghargaan Allah dan disambut untuk hidup didalam rumahNya selalu (ayat 9).

    Karena itu, anak-anak Terang (umat Tuhan) seharusnya tidak mengikatkan hatinya pada harta duniawi, umat Tuhan seharusnya dapat memberi dengan murah-hati terhadap sesuatu yang bukan miliknya, tetapi milik Allah.


    Secara tidak langsung Yesus berkata :
      Bendahara yang tidak jujur itu mengurangi jumlah hutang debitur tuannya, dalam rangka penyelamatan diri di masa depannya;
      Betapa lebihnya umat Allah seharusnya membagikan harta yang dia kuasai yang merupakan milik Allah seharusnya dibagikan.
      Umat Allah harus menggunakan milik duniawi mereka sebagai investasi rohani, sama seperti orang-orang duniawi menggunakan uang mereka untuk mendapatkan keuntungan material. Waktunya akan tiba di mana uang menjadi sesuatu yang sudah berlalu. Ketika kematian tiba, roh manusia kembali kepada Allah dan yang memberinya (Pengkotbah 12:7). Allah menyambut semua umatNya yang tidak mengikat hatinya kepada kekayaan duniwi tetapi mengumpulkan harta di Sorga
      .


    Ketika kita menyumbangkan uang kepada orang miskin, kita sedang mendistribusikan kekayaan Allah yang dipercayakan Allah kepada kita.
    Dalam hal ini, Yesus meletakkan kebenaran yang sama dengan perkataan ini "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi;..... Tetapi kumpulkanlah harta di Sorga" (Matius 6:19,20). Dan apa yang diajarkan Yesus ini selaras pula dengan Perjanjian Lama, yaitu doa Daud dihadapan umat Allah :

      * 1 Tawarikh 29:14
      Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.


Amin.



Blessings in Christ,
Bagus Pramono
November 29, 2005



Artikel terkait :
Perumpamaan-perumpamaan: 35. Bendahara yang Tidak Jujur, di 35-bendahara-yang-tidak-jujur-vt2144.html

User avatar
 
Posts: 12090
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

Post by BP » Mon Sep 04, 2006 10:32 am

TANYA :

----- Original Message -----
From: "Grace Rasmidewi Kurniawan"


Gimana dengan para koruptor? Banyak para koruptor lalu membagikan atau mendonasikan uangnya kepada orang yang membutuhkan or panti-panti asuhan, panti jompo, or dana-dana sosial spt Tsunami, dll...

Di satu sisi, mereka memperoleh uang dengan cara tidak layak, di sisi lain dia berderma kepada orang lain.

Apakah para koruptor itu dibenarkan oleh Tuhan?

Best regards,
Grace



JAWAB :


Mohon jangan disalah artikan, Tuhan Yesus hanya menggunakan perumpamaan mengenai kebiasaan orang-orang dunia, dan sama sekali bukan menghalalkan/permissive terhadap KORUPSI.
Seperti halnya pengajaran dari kisah Perempuan yang berbuat zinah yang tidak dihukum rajam oleh Yesus, bukan berarti Yesus permissive terhadap perzinahan.

Tuhan Yesus menyampaikan suatu paradoks : kalau orang dunia saja tahu bagaimana cara menghindari bahaya penghukuman, sehingga Bendahara itu mengubah jumlah piutang perusahaan milik tuannya. Dan itu merupakan suatu 'kemurahan' bagi para debitur.
Untuk memperoleh aman, orang dunia saja tahu bagaimana harus berbuat, dengan 'kecerdikannya' bendahara itu melepaskan dirinya dari ancaman pemecatan, atau lebih jauh lagi dipermasalahkan sampai ke pengadilan.
Bendahara itu mengubah piutang perusahaan karena merasa dia tidak dirugikan, wong itu bukan miliknya

Mengapa anak-anak Allah tidak bisa bersikap seperti Bendahara itu?
Mengapa anak-anak Tuhan 'pelit', menggandoli/mendekap mammon itu dalam genggamannya, dan tidak mau membagikan bagi orang yang membutuhkannya (untuk perbuatan sosial)?
Seharusnya kita juga bisa menaruh sikap yang sama, untuk memberoleh harta di Sorga, seharusnya kita tidak pernah merasa rugi ketika kita mendistribusikan berkat Allah yang dipercayakan kepada kita :

    * Mazmur 41:2
    Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka.


Maka pengertiannya sbb :

    Pertama, perumpamaan itu hanya mendorong orang untuk bersiap-siap buat krisis yang ditimbulkan oleh palayanan Yesus Kristus dengan semangat yang sama seperti yang dipunyai oleh bendahara itu di waktu menghadapi suatu masa depan yang tidak tentu.

    Kedua, Yesus Kristus berkata bahwa kecerdikan diperlihatkan jauh lebih banyak oleh orang-orang duniawi daripada orang-orang Kristen.
    Orang haruslah belajar dari bendahara dalam perumpamaan itu dan haruslah mempergunakan kekayaan mereka untuk membuat Allah menjadi sahabat mereka, sehingga, apabila uang tidak ada gunanya lagi bagi mereka, maka Allah akan menerima mereka ke dalam hadirat-Nya.

Dengan cara demikian maka perumpamaan itu mungkin memberikan nasehat kepada murid-murid atau kepada orang Farisi bahwa ketamakan mereka, akan mengucilkan mereka dari persahabatan dengan Allah.

-----

Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Kekayaan adalah dari Allah, orang diluar Kristen-pun tahu bahwa harta itu hanya titipan Tuhan. Mengapa kita pelit??
Harta yang kita punya, bukan milik kita, tetapi milik Allah, maka selayaknya berkat itu juga dibagikan untuk saudara2 yang membutuhkan, maka kita akan diterimaNya dengan Kasih di RumahNya yang kekal.

    * Filipi. 4:19
    Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

    * Amsal 11:24
    Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.

    *Amsal 10:22
    Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.

    * Ulangan 8:17
    Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.


Sebagai orang percaya sering tak cukup berfokus ke urusan Sorga/ hal-hal rohaniah saja, tetapi penting pula untuk menggunakan harta-dunia kita demi meningkatkan kepentingan rohani dan surgawi.


-----

Mengenai KORUPSI, bagaimanapun hal tersebut tidak dibenarkan oleh Firman.

"Jangan mencuri" (Keluaran 20:15), Firman yang sangat singkat ini cukup menjelaskan bahwa Korupsi itu juga termasuk mencuri.

Orang dunia pun juga gemar berderma, mereka rajin membayar zakat, George Soros, salah satu tokoh yang diduga/diyakini sebagai penyebab krisis moneter di Asia tahun 1997-1998 (termasuk Indonesia dibuat susah). Namun dilain-pihak dia juga terkenal sebagai pribadi yang murah-hatinya, menyumbang banyak uang ke yayasan-yayasan sosial di berbagai negara dunia ke-3.
Namun 'derma cara dunia' tidak memperhatikan 'kesuciannya'.

    * Mazmur 97:10,
    "Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan! Dia, yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik."

Maka, kita umat Tuhan yang telah disucikan oleh darah Kristus, kita memiliki 'benih ilahi' yang menjadikan perbuatan baik kita semata-mata karena warisan nature Allah yang Baik dan Kasih (1 Yohanes 3:9).


Amin.



Blessings in Christ,
BP
December 1, 2005

User avatar
 
Posts: 12090
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

Post by BP » Thu Oct 04, 2007 8:18 am

Kita lanjut ke ayat berikutnya :



NASEHAT TENTANG HARTA


    * Lukas 16:10-13 Nasehat Setia dalam perkara kecil
    LAI TB, 16:10 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
    KJV, He that is faithful in that which is least is faithful also in much: and he that is unjust in the least is unjust also in much.
    TR, ο πιστος εν ελαχιστω και εν πολλω πιστος εστιν και ο εν ελαχιστω αδικος και εν πολλω αδικος εστιν
    Translit, ho {orang yang} pistos {setia} en {dalam} elakhistô {(hal) yang paling kecil} kai {juga} en {dalam} pollô {(hal) yang besar} pistos {setia (yang dapat dipercayai)} estin {adalah} kai {dan} ho {orang yang} en {dalam} elakhistô {(hal) yang paling kecil} adikos {tidak benar} kai {juga} en {dalam} pollô {(hal) yang besar} adikos {tidak ebnar} estin {adalah}.

    LAI TB,16:11 Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?
    KJV, If therefore ye have not been faithful in the unrighteous mammon, who will commit to your trust the true riches?
    TR, ει ουν εν τω αδικω μαμωνα πιστοι ουκ εγενεσθε το αληθινον τις υμιν πιστευσει
    Translit, ei {jika} oun {karena itu} en {di dalam} tô adikô {yang tidak benar} mamôna {harta/ mamon} pistoi {setia (yang dapat dipercayai)} ouk {tidak} egenesthe {kamu adalah} to {(kekayaan yang)} alêthinon {yang ebnar} tis {siapakah} humin {kepadamu} pisteusei {akan mempercayakan}

    LAI TB,16:12 Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?
    KJV, And if ye have not been faithful in that which is another man's, who shall give you that which is your own?
    TR, και ει εν τω αλλοτριω πιστοι ουκ εγενεσθε το υμετερον τις υμιν δωσει
    Translit, kai {dan} ei {jika} en {dalam} tô {(barang)} allotriô {yang dimiliki orang lain} pistoi {setia / yang dapat dipercayai} ouk {tidak} egenesthe {kamu adalah} to {(barang)} humeteron {barang yang dimiliki olehmu} tis {siapakah} humin {kepadamu} dôsei {akan memberi}

    LAI TB,16:13 Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."
    KJV, No servant can serve two masters: for either he will hate the one, and love the other; or else he will hold to the one, and despise the other. Ye cannot serve God and mammon.
    TR, ουδεις οικετης δυναται δυσι κυριοις δουλευειν η γαρ τον ενα μισησει και τον ετερον αγαπησει η ενος ανθεξεται και του ετερου καταφρονησει ου δυνασθε θεω δουλευειν και μαμωνα
    Translit, oudeis {tidak satupun} oiketês {hamba keluarga} dunatai {bisa} dusi {kepada dua} kuriois {tuan-tuan} douleuein {mengabdi} ê {atau} gar {memang} ton {yang} hena {satu} misêsei {ia akan membenci} kai {tetapi} ton {yang} heteron {lain} agapêsei {ia akan mengasihi} ê {atau} henos {(kepada yang) satu} anthexetai {ia akan setia} kai {tetapi} tou {yang} heterou {lain} kataphronêsei {ia akan memandang rendah} ou {tidak} dunasthe {kamu bisa} theô {kepada Allah} douleuein {mengabdi} kai {juga} mamôna {kepada mamon/ harta/ kekayaan}


Ayat 10-12. Barangkali perkataan Yesus ini ditempatkan di sini karena di sini pun dibicarakan tentang "Mamon yang tidak baik" (LAI TB: "jujur"). Lagipula sekarang dapat menjadi lebih jelas lagi bahwa tentulah tidak dipuji penata-usaha dari ayat 1-8 itu. Sebab justru di sini ditegaskan bahwa dalam soal harta milik duniawi pun kita harus berlaku setia, sehingga dalam hal itu kita dapat dipercayai.
Barangkali dalam ayat-ayat ini pada mulanya terdapat suatu permainan kata, sebab kata mamon mungkin berhubungan dengan "sesuatu yang kepadanya dapat kita percaya" dan demikianlah juga arti kata Yunani yang diterjemahkan di sini dengan "setia" (Yunani, "πιστος - pistos". Jadi (ayat 11): kalau kamu tidak dapat dipercayai dalam hal mamon (=harta milik duniawi yang kepadanya biasanya orang menaruh kepercayaan), mungkinkah harta yang sejati (yang sesungguhnya) dapat dipercayakan kepadamu?!

Dalam ayat 10 dipertentangkan "sedikit" dengan "banyak": siapa yang dapat dipereayai dalam hal-hal yang kecil, ia dapat dipercayai juga dalam hal-hal yang besar; tetapi siapa yang tidak benar dalam hal-hal yang kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal yang besar (bandingkan Lukas 19: 17). Dari ayat 11 ternyata bahwa yang dimaksudkan dengan "hal-hal yang kecil" itu ialah harta milik duniawi (= "Mamon yang tidak baik"), sedangkan "hal-hal yang besar" itu disebutkan "harta yang sesungguhnya", yaitu keselamatan (perhatikan kata "Jadi" pada permulaan ayat 11).

Ayat 12a dapat diartikan sebagai berikut: "jika kamu tidak dapat dipercayai dalam hal harta milik orang lain sekalipun ... " (ingat kepada bendahara dari ayat 1 itu). Tetapi sekaligus ungkapan itu barangkah mempunyai maksud yang lebih dalam: dengan harta milik yang "asing" itu yang dimaksudkan barangkali ialah harta milik duniawi pada umumnya! Sebab menurut anggapan Alkitab, harta milik duniawi itu hanya "dipinjamkan" kepada manusia, yakni oleh Allah, dan hanya untuk sementara! Kitapun sering mendengar pepatah yang mengatakan bahwa "harta hanyalah titipan Allah".

Sebagai lawannya ialah harta milik yang sesungguhnya, yakni keselamatan yang telah disediakan oleh Allah bagi manusia sebagai harta milik untuk selama-lamanya. Kata "siapakah" dalam ayat 12b boleh jadi mau mengingatkan kita kepada Allah.

Jadi maksud ayat 12 dapat diterangkan kira-kira sebagai berikut: jika kepadamu tidak dapat dipercayakan harta milik yang "asing" sekalipun (yaitu "hal-hal yang kecil" dari ayat 10, dan "mamon" dari ayat 11), masakan Allah akan mempereayakan kepadamu apa yang disediakan-Nya bagimu sebagai harta milikmu yang sejati (yakni keselamatan yang telah disediakan Allah
bagi kita).

Dengan perkataan lain: juga ayat-ayat ini dimaksudkan sebagai ajakan. Yaitu sebagai berikut: kalau dalam mengurus hal-hal yang kecil sekalipun di dunia, Allah menuntut supaya kita bersikap setia, terlebih lagi dituntut daripada kita supaya dengan setia berusaha mencapai keselamatan yang sejati sebagai warga Kerajaan Allah!

Ayat 13. Juga perkataan Yesus ini adalah mengenai sikap kita terhadap "Mamon" atau harta milik duniawi. Nasihat ayat ini berbeda dari ayat yang mendahuluinya. Dalam ayat 9 kita diajak supaya mempergunakan dengan baik harta milik duniawi itu, yakni untuk memberi sedekah. Dalam ayat 10-12 dituntut supaya dalam hal harta milik duniawi itu kita tunjukkan juga bahwa kita dapat dipercayai. Tetapi sekarang kita diperingatkan supaya hidup kita jangan dikuasai oleh Mamon itu.

Seorang budak/hamba dalam zaman dahulukala tidak mempunyai tugas "part time" (= setengah waktunya); ia tidak mempunyai "waktu terluang" dan tidak mungkin merangkap beberapa pekerjaan; ia harus siap-sedia sepanjang hari untuk melayani tuannya yang satu itu saja. Demikian mustahilnya mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon secara serentak.

Tentulah kita boleh dan harus menunjukkan perhatian kita kepada urusan-urusan duniawi. Ibadah dan iman kita bukan hanya ditujukan kepada yang diatas, tetapi juga nyata dari kita memandang sekeliling kita, perbuatan kita terhadap sesama, bagaimana cara kita mengurus soal-soal uang dan harta milik, kita sebagai pihak yang "dititipi harta oleh Allah" pun harus dapat dipercayai. Dan kita bukan budak dari harta itu (mamon itu) tetapi kita hanya mengabdi kepada Allah, dan oleh sikap ini kita dibebaskan dari penyembahan terhadap mamon itu.

Apabila kita menjadi pengelola yang baik terhadap "harta duniawi" itu, maka kita akan dipercayai mengelola harta yang sesungguhnya, yaitu keselamatan dari Allah. Harta duniawi hanyalah perkara kecil, dan perkara besar kita adalah hal-hal Kerajaan Surga.



Amin.


Blessings in Christ,
BP
October 4, 2007



Sumber :
BJ Boland, Injil Lukas, BPK, 1969, p 390-392.


Return to Ajaran

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests