|
PERJANJIAN BARU DAN KESEJARAHAN: Yesus, Injil dan Sejarah
PENDAHULUAN: Perjanjian Baru dan Kekristenan telah mendapat serangan yang beruntun yang mempertanyakan serta meragukan keabsahan data historis yang tercatat didalamnya. Sejak 1980 sampai 1992 setidaknya terdapat 260 buku, artikel dan ulasan yang diterbitkan yang membahas mengenai kehidupan Yesus Kristus. Sebagian besar mengisahkan Yesus yang asing bagi kekristenan. Suatu contoh adalah The Jesus Seminar yang mengklaim bahwa hanya 18% ucapan Yesus Kristus yang benar-benar diucapkan oleh-Nya. Bahkan Albert Schweitzer dalam The Quest of Historical Jesus menggambarkan Yesus Kristus sebagai seorang tokoh pembaharu radikal yang mempercayai bahwa kedatangan Kerajaan Surga hanya akan dinyatakan melalui kematian-Nya. Ironisnya kerajaan surga tidak juga kunjung datang.
Serangan yang beruntun tersebut juga dirasakan oleh kita di Indonesia yang bermula dengan diterbitkannya sebuah novel The DaVinci Code oleh Dan Brown sampai Misquoting Jesus oleh seorang teolog liberal bernama Bart Ehrmans. Serangan tersebut tidak berhenti disana, The Jesus Dynasty oleh James D.Tabor semakin mempertajam serangan terhadap kesejarahan Perjanjian Baru.
TIGA FAKTOR DASAR: Apabila dicermati lebih jauh, serangan terhadap kekristenan sebenarnya bukan hanya datang dari luar lingkungan kekristenan saja. Memang ada sejumlah serangan yang berasal dari luar seperti serangan pandangan skeptisisme David Hume. Ataupun serangan dari agama-agama yang lain seperti isu kontradiksi Alkitab yang dilontarkan Shabbir Ally. Tetapi justru “serangan” dari dalam yang memiliki potensi lebih besar untuk dipercayai oleh jemaat awam. Apakah yang mendasari para teolog Kristen tersebut sehingga mereka mengorbankan keabsahan sejarah Perjanjian Baru tersebut?
Pertama, adalah upaya untuk mempertahankan relevansi injil diatas segalanya. Rudolf Bultmann melakukannya dengan Demitologisasi dan Kerygma. Yaitu membuang segala mitos yang dikandung oleh sebuah kisah kemudian menangkap inti cerita/pesan dasar yang hendak disampaikan oleh penulis Alkitab. Kisah Yesus memberi makan 5000 orang dalam Mat 14:13-21 (Mrk 6:30-44; Luk 9:10-17; Yoh 6:1-13) dianggap sebagai mitos apabila dihubungkan dengan muzijat pelipatgandaan yang terjadi. Akan tetapi kisah tersebut memiliki pesan dasar yang jelas, semangat untuk berbagi kepada sesama.
Kedua, adalah anggapan bahwa Alkitab hanyalah kitab rohani saja yang tidak berhubungan dengan sejarah. Masih oleh Bultmann dalam form criticism yang kemudian dikembangkan dalam redaction criticism. Dianggap bahwa para penulis Alkitab bertindak sebagai teolog yang menyusun materi berdasarkan doktrin yang hendak disampaikan dengan mengorbankan atau tidak mementingkan faktor kesejarahan.
Ketiga, adalah upaya membandingkan Alkitab dengan sumber-sumber yang lain seperti literatur gnostik. Ke-4 Injil dalam kanon Perjanjian Baru dianggap tidak mewakili keseluruhan kisah hidup Yesus sehingga dibutuhkan perbandingan dengan literatur yang lain. N.T.Wright pun menulis sebuah buku The Lost Gospel of Judas yang berdasarkan literatur gnostik abad permulaan. Sebagaimana kita ketahui bahwa kitab-kitab Perjanjian Baru memiliki nilai yang lebih berbobot dibandingkan dengan literatur gnostik. Tidaklah mengherankan apabila terdapat ketidaksesuaian diantara keduanya.
PERJANJIAN BARU DAN KESEJARAHAN: Berikut kita akan melihat beberapa faktor dari masa penulisan Perjanjian Baru yang meneguhkan keabsahan sejarah Perjanjian Baru tersebut:
1. Faktor Gereja Mula-Mula: Masa penulisan perjanjian baru diawali oleh surat Paulus kepada jemaat di Galatia yang ditulis sekitar tahun 48-49M [1] yaitu sekitar 16 tahun setelah peristiwa kebangkitan Kristus. Dalam I Korintus 15:16 kita dapat melihat bahwa terdapat lebih dari 500 orang saksi mata yang masih hidup pada saat surat tersebut dituliskan yaitu sekitar tahun 55M [2]. Selain itu kita juga dapat melihat dalam Kisah Para Rasul bahwa penyebaran Injil begitu meluas ditengah ancaman penganiayaan serta pengucilan. Bahkan masih begitu banyak orang yang percaya dan menginginkan orang lain juga percaya pada berita Inji. Mereka rela mati bagi iman yang dipercayainya tersebut.
2. Faktor Budaya: Tidak sangkal bahwa cara belajar masyarakat pada abad pertama adalah dengan menghafal. Akan tetapi justru dari budaya tersebut, ingatan orang pada masa tersebut sangatlah baik. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rabbi Eliezer Ben Hyrcanus:
“Saya tidak pernah mengatakan dalam hidup saya, satu hal pun yang tidak saya dengarkan dari guru-guru saya”
Budaya menghafal bukanlah satu-satunya cara untuk mengingat ajaran, karena pada masa tersebut juga sudah dikenal penulisan-penulisan naskah. Setidaknya seluruh penulis naskah perjanjian baru adalah orang-orang yang memiliki kemampuan baca-tulis. Periode lisan dan tulisan adalah periode yang saling bertumpang-tindih. Bukan periode yang berdiri sendiri-sendiri.
Selain itu, mereka yang meragukan keabsahan sejarah perjanjian baru harus mengingat bahwa terdapat berbagai macam variasi terjemahan. Penggunaan bahasa Aram didalam percakapan sehari-hari yang kemudian dituliskan kedalam bahasa Yunani pasti akan menyebabkan variasi penulisan antar para penulis. Penekanan masing-masing penulis juga akan menyebabkan adanya variabilitas didalam penulisan. Kita juga dapat melihat bahwa Yesus Kristus sendiripun menggunakan beragam versi pengajaran-Nya didalam berbagai kesempatan [3].
3. Faktor Jemaat: Kenneth Bailey meneliti bahwa penyebaran informasi dilakukan dengan 3 cara: • Informal Uncontrolled • Informal Controlled • Formal Controlled Penyebaran informasi mengenai kehidupan Yesus Kristus dan pengajaran-Nya tidaklah beredar dengan sepenuhnya bebas. Terdapat jemaat yang berfungsi sebagai filter terhadap penyebaran informasi (jemaat berfungsi sebagai kontrol informal tanpa adanya suatu lembaga resmi). Dalam Kisah Para Rasul 17:10-15, kita dapat melihat bahwa jemaat Berea melakukan fungsi kontrol tersebut. Selain itu, penulisan surat-surat Paulus juga ditujukan bagi seluruh jemaat, bukan hanya para pemimpin jemaat. Sehingga jemaat pun diperlengkapi dengan bekal pengajaran Paulus tersebut.
4. Faktor Pengajar: Dalam hal ini, kita dapat melihat pentingnya peranan gereja Yerusalem sebagai fungsi kontrol yang bersifat formal. Kisah Para Rasul mencatat pertanggungjawaban Petrus terhadap baptisan Kornelius (11:1-18). Kita juga dapat melihat peranan gereja Yerusalem didalam pengutusan Barnabas ke Anthiokia (11:19-22). Ataupun sidang yang dilakukan untuk membahas mengenai masalah sunat (15:1-21). Hal diatas tidak terlepas dari peranan ke-12 Rasul. Dimana kualifikasi rasul hanya diberikan kepada mereka yang merupakan saksi mata terhadap pelayanan Yesus dari awal hingga akhir. Sekali lagi Kisah Para Rasul mencatat pentingnya peran para rasul tersebut (1:21-22; 10:36-42). Dan injil Yohanes meneguhkannya (Yoh 15:26-27).
5. Faktor Injil: • Injil sebagai suatu biografi & pengajaran Yesus Kristus dengan penekanan tertentu • Injil sebagai catatan saksi mata [4]. • Kesaksian tidak seharusnya dianggap sah hanya apabila bisa dibuktikan (Kesaksian tetaplah dianggap benar sampai terbukti salah).
PENUTUP: Dengan melihat bukti-bukti dari faktor-faktor, seharusnya kita tidak lagi meragukan lagi data historis yang dicatat dalam Perjanjian Baru. Semua sejarah dan pengetahuan serta pengajaran yang disampaikan didasarkan kepada suatu bentuk kesaksian. Dan injil memahami kesaksian tersebut sebagai sarana yang tepat untuk melihat realita sejarah Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita.
SOLI DEO GLORIA
Sumber: Seminar The Historical Challenge for New Testament Validity yang diselenggarakan oleh Penerbit Momentum tanggal 8 Desember 2008 dengan pembicara Ev.Hendry Ongkowodjojo, M.Div, M.Th (Cand.)
[1] Stott, John., Incomparable Christ, terjemahan Ina Elia, Momentum 2007, hal 36 [2] Tenney, Merrill C., New Testament Survey, terjemahan Gandum Mas 2006, hal. 367 [3] Sutanto, Hasan.,HERMENEUTIK:Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab, SAAT 2007, hal. 120-122 [4] Injil menggunakan suatu metode penulisan yang jarang dikenali oleh para penafsir modern untuk menunjukkan kualifikasi para saksi. Petrus menjadi saksi mata dari 3 injil. Suatu inclusio dibentuk oleh Markus (1:16 & 16:17) dan oleh Lukas (4:38 & 24:34). Sedangkan Matius menekankan pentingnya peranan Petrus (Mat 16:18) yang tidak dicatat oleh penulis injil yang lain. Yohanes menggunakan metode yang sama dengan kualifikasi dirinya sendiri sebagai rasul. Dia adalah murid yang pertama kali disebut (Yoh 1:35) dan juga yang terakhir disebut (Yoh 21:24).
|