Untuk memahami mengenai hati nurani, saya anjurkan anda membaca buku yang saya referensikan di artikel yg saya buat tsb.
Terus terang di dalam artikel yg saya buat tersebut sangatlah ringkas sekali di dalam pembahasan mengenai hati nurani, karena keterbatasan saya dalam menulis, waktu, dll. Dan tidak mungkin bagi saya untuk menjelaskan semua yang ada di dalam buku tsb. Dan di dalam buku tersebut juga ada Tanya jawab mengenai hal tersebut. Buku tersebut anda bisa dapatkan dari penerbit momentum atau di toko buku kidung agung.(mungkin toko buku Kristen lainnya juga ada, tp saya tidak bisa pastikan ).
Namun saya ingin menjelaskan sedikit mengenai artikel yang saya buat, supaya anda tidak salah paham dengan apa yang saya tulis di artikel tersebut.
Di dalam artikel tersebut Saya tidak mengatakan bahwa hati nurani tidak berfungsi sama sekali, namun fungsi hati nurani sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya sejak kejatuhan manusia di dalam dosa., dan hal tersebut hanya bisa dimurnikan oleh Allah TriTunggal.
Artinya hati nurani bukanlah kebenaran yang mutlak, karena Kebenaran yang mutlak hanyalah Allah sendiri. Itu sebabnya Yesus mengatakan bahwa "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Yesus adalah Allah, dan Ia adalah Kebenaran itu sendiri. Dan dari kalimat selanjutnya kita mengetahui bahwa tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kebenaran yang lainnya, hanya Dia sendiri.
Dengan demikian maka kita tidak boleh menggantikan kebenaran yang mutlak dengan yang tidak mutlak, karena jika tidak maka tanpa anda sadari anda telah menggeser posisi Allah dengan hati nurani anda(dan menurut saya ini bisa berbahaya, apalagi jika hati nurani kita telah terpolusi seperti yang saya sudah jelaskan di dalam artikel tsb.).
Namun anda jangan salah paham dengan apa yang saya jelaskan diatas, saya bukan ingin meniadakan hati nurani, karena saya juga mempercayai bahwa Allah juga memberikan suaranya melalui hati nurani. Namun yang ingin saya tekankan disini adalah bahwa hati nuranipun dipengaruhi oleh hal2 lain termasuk suara setan. Jadi kita harus bisa membedakan antara suara Roh Kudus, hati nurani dan suara setan.
Quote:
Akhirnya kita sama-sama percaya,hati kita sendiri akan memberitahu akan ini…kerna hati kita tidak akan pernah berdusta…kalau saat ini hati kita masih merasakan kita memiliki dosa…maka kita tetap memiliki dosa…tapi kalau hati kita berkata bahwa kita tidak lagi memiliki dosa …maka kita telah benar-benar bebas dari dosa…kerana semuannya diberi Cuma-Cuma dari Allah kepada sesiapa yang percaya…bagaimana pendapat saudara….
Dari pernyataan anda diatas, anda sepenuhnya berserah kepada hati nurani anda. Menurut saya kurang tepat pernyataan anda diatas, walaupun saya tidak menyangkali bahwa Allah dapat menggunakan hati nurani kita untuk menegor dosa2 kita. Namun setanpun bisa mempengaruhi kita, demikian juga factor lainnya.
Saya ingin memberikan contoh kepada anda, silakan anda renungkan contoh tersebut.
Contoh:
Seseorang yang non-Kristiani, maka pikiran dan hati nuraninya mengatakan bahwa Yesus bukanlah Allah, karena jika hati nuraninya mengatakan bahwa Yesus adalah Allah kemungkinan besar ia akan menjadi Kristiani. Atau seseorang yang mengimani ajaran bidat seperti Saksi Yehova, dimana pikiran dan hati nurani mereka mengatakan bahwa Yesus adalah Allah yang lebih rendah derajatnya, dsbnya.
Menurut anda apakah pikiran dan hati nurani mereka benar?? Jika pikiran dan hati nurani mereka mengatakan demikian , apakah berarti Yesus menjadi bukan Allah??
Jawabannya tentu Yesus tetap Allah walaupun pikiran dan hati nurani mereka mengatakan bahwa Yesus bukanlah Allah.
Jika demikian, pikiran dan hati nurani mereka mengatakan bahwa Yesus bukanlah Allah. Lalu kenapa hati nurani mereka tidak menegor mereka?? Bukankah mereka telah menyangkali Allah yang sejati?? Jika seseorang telah menyangkali Allah yang sejati bukankah hal tersebut berdosa??
Dari contoh ini saya ingin membuktikan bahwa hati nurani sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya semenjak kejatuhan manusia ke dalam dosa alias sudah tercemar. Dengan demikian maka kita tidak bisa bersandar kepada hati nurani secara mutlak, saya tekankan sekali lagi tidak secara mutlak.
Namun sebaliknya kita harus berserah sepenuhnya kepada Allah TriTunggal, karena hanya Allah TriTunggal yang dapat memurnikan hati nurani kita. Maka hendaknya kita memohon kepada Allah Roh Kudus agar membuka hati dan pikiran kita dan memurnikannya.
Dan satu hal lagi yang perlu kita ingat, segala sesuatunya adalah berdasarkan kehendakNya dan bukan kehendak kita.
Dan hal ini dapat kita lihat dari teladan yang Yesus berikan waktu Yesus berdoa di taman Getsemani, dimana Ia berdoa bahwa KehendakMu yang jadi.
Artinya kita harus mengakui kedaulatan Allah dan tidak memaksakan kehendak kita. Atau dengan kata lain jika Allah menghendaki untuk memurnikan hati dan pikiran kita maka permohonan kita dijawabNya. Sebenarnya hal ini ada hubungannya dengan Doktrin orang2 pilihan (TULIP) namun saya tidak akan membahas hal tsb, karena terlalu kompleks jadinya dan jadi melebar.
Jadi kesimpulan saya adalah kita tetap harus bersandar sepenuhnya kepada Allah bukan kepada Hati nurani, karena hati nurani hanyalah sebuah media yang digunakan Allah untuk menyatakan suaraNya dan bukanlah kebenaran itu sendiri. Karena jika kita bersandar sepenuhnya kepada hati nurani maka ada kemungkinan itu adalah suara Allah namun bisa juga bukan.
Jadi kita hanya bisa berharap Anugerah dari Allah untuk memurnikan hati nurani kita. Sehingga kita bisa membedakan mana ajaran yang benar dan yang palsu.
Quote:
Tuhan telah menaruhkan Hukum Taurat Nya serta dosa-dosa kita juga tertulis dengan pena besi yang matanya dari intan didalam loh hati setiap manusia…ini bermakna tiada siapa yang bisa menghapuskan Hukum Taurat dan dosa-dosa kita yang tercatat di dalam hati setiap manusia…selagi kita tidak percaya akan kebenaran Allah yakni kasih karunia keselamatanNya maka kita masih tetap dibawah/dikuasai oleh Hukum taurat…kerna itu hati kita masih merasakan kita masih memiliki dosa… Tetapi sewaktu kita percaya akan kebenaran Allah maka hati kita akan dikuasai oleh kasih karunia Allah yang memampuhkan Hukum taurat dan dosa-dosa kita yang tertulis dengan pena besi bisa dihapuskan kerna Allah sendiri yang akan mengampuni segala pelanggaran/Dosa-dosa kita…maka kita tidak lagi dibawah hukum taurat tetapi dibawah kasih karunia Allah…
Saya rasa ada yang kurang tepat di dalam pernyataan anda diatas. Memang kita tidak lagi dibawah hukum taurat melainkan dibawah kasih karunia. Dan memang kita tidak boleh berlarut-larut seperti orang yang tertuduh sebagai pendosa (karena hal ini yang diinginkan oleh Iblis). Namun bukan berarti kita juga boleh seenaknya dan tidak peka lagi terhadap tegoran2 dari hati nurani kita, justru sebaliknya setelah kita berada di dalam kasih karunia maka kita harus lebih peka terhadap dosa.
Artinya walaupun kita telah berada didalam kasih karunia namun Allah tetap menggunakan berbagai cara agar kita peka terhadap dosa ,salah satunya melalui tegoran dari hati nurani. Sehingga kita harus lebih peka terhadap dosa dan secepatnya mohon ampun dan berkomitmen utk tidak mengulangi dosa tsb.
Jadi kesimpulannya adalah kita tidak boleh berlarut2 seperti seorang tertuduh karena tegoran dari hati nurani kita (yang kemungkinan karena hati nurani kita telah dipengaruhi oleh suara setan sehingga kita seperti seorang tertuduh yang sebenarnya dosa kita telah diampuni oleh Allah). Namun sebaliknya juga kita tidak boleh mengabaikan tegoran hati nurani kita yang merupakan tegoran dari Allah agar kita lebih peka terhadap dosa.
Jadi yang harus kita lakukan adalah kita harus peka terhadap dosa dan segera menyelesaikannya dengan Tuhan, sehingga kita tidak berlarut2 sebagai seorang tertuduh karena ini yang diinginkan oleh iblis sebagai penuduh.
MEN_SUPERNOVA