SarapanPagi Biblika

Studi Alkitab & Pustaloka Kristiani
It is currently Thu Mar 18, 2010 2:02 am

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 31 posts ]  Go to page 1, 2  Next
Author Message
 Post subject: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Sat May 09, 2009 3:22 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Mon Oct 08, 2007 9:00 am
Posts: 645
pertanyaan

Dalam iman Katolik, seringkali berdoa kepada Para Kudus yang telah meninggal, apa dasar Alkitabnya?

Jawab:

Untuk menjawab pertanyaan ini, baiklah kita pahami beberapa hal secara berurutan:

1. Pengertian "doa" terhadap para Kudus

arti kata "doa" yang digunakan dalam iman Katolik untuk berkontak dengan para Kudus adalah "komunikasi" sama seperti komunikasi kepada Ayah dan Ibu, teman2, Romo/ pendeta, dsb.

jadi "doa" bukanlah dalam bentuk "penyembahan" yang hanya ditujukan kepada Allah (bdk Mat 4:10, Why 22:8-9, Kis 14:10-18).

Patut dicatat bahwa dalam Katolik ada tiga istilah yang dibedakan dengan tegas:

1. LATRIA : Penyembahan hanya kepada Allah
2. HYPERDULLIA : Penghormatan amat istimewa hanya kepada Maria
3. DULLIA : Penghormatan kepada Para kudus

Jadi jelas ada perbedaan antara "menyembah" dengan "menghormati." Doa dalam konteks komunikasi dengan para Kudus hanyalah doa dalam bentuk penghormatan (Hyperdullia ataupun Dullia).

2. Gereja yang hakikatnya merupakan satu Tubuh

Gereja adalah Satu Tubuh dan tidak terpisahkan. Yang satu tidak boleh berkata tidak membutuhkan yang lain dan begitu juga sebaliknya. Yang satu dapat membantu yang lain dan begitu juga sebaliknya

1Kor 12:12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.
1Kor 12:13 Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.
1Kor 12:14 Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.
1Kor 12:15 Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?
1Kor 12:16 Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?
1Kor 12:17 Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman?
1Kor 12:18 Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.
1Kor 12:19 Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh?
1Kor 12:20 Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh.
1Kor 12:21 Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau."
1Kor 12:22 Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.
1Kor 12:23 Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.

1Kor 12:24 Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus,
1Kor 12:25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.
1Kor 12:26 Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.
1Kor 12:27 Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.


Perkataan Paulus di atas sudah sangat jelas bahwa antara satu anggota tubuh dan yang lainnya saling membutuhkan dan saling memberi perhatian. Umat Katolik percaya bahwa orang2 Kudus adalah anggota Gereja yang merupakan bagian dari Tubuh Kristus, demikian pula manusia di dunia yang juga menjadi anggota Gereja. Maka anggota2 Tubuh dapat saling memberikan perhatian, baik antara yang sudah Kudus di surga maupun yang ada di Bumi dan di Api Penyucian.

Jika ada yang mengatakan bahwa orang2 Kudus sudah keluar dari Gereja, itu berarti orang2 Kudus itu sudah keluar dari Tubuh kristus dan paham ini otomatis amat berbahaya karena berarti menolak kesatuan Para kudus dengan Yesus.


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Sat May 09, 2009 3:58 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Mon Oct 08, 2007 9:00 am
Posts: 645
3. Doa orang yang benar, Kuat Kuasanya

Orang2 Kudus merupakan orang2 yang telah dibenarkan oleh Allah, maka doa dari mereka amatlah kuat Kuasanya (bdk. Yak 4:16).

4. Para Kudus betul2 mengelilingi jemaat di bumi

Ibr 12:1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Ibr 12 bermula dari kisah orang2 Kudus Perjanjian lama yang lama meninggal(bdk Ibr 11), dimana para kudus ini menjadi saksi bagi jemaat Perjanjian baru dan juga mengelilingi jemaat perjanjian baru (disekitar jemaat perjanjian baru, tidak begitu jauh). Kalau orang2 kudus perjanjian lama dapat berbuat demikian, betapa orang2 kudus perjanjian barupun juga sepantasnya berbuat hal serupa.

Kata "awan" yang digunakan oleh Paulus bagi pembaca Ibrani sarat dengan makna "Kemuliaan Allah" ini dikarenakan pada Perjanjian Alam, Allah menyertai Israel berjalan di Padang Gurun dalam Tiang awan (bdk. kel 13:21). Maka orang2 Kudus di sini telah turut ambil bagian dalam awan.


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Sat May 09, 2009 4:09 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Mon Oct 08, 2007 9:00 am
Posts: 645
4. Kuasa Doa Para Kudus berdampak ke Bumi

Yohannes Pelihat memasuki "Awan Kemuliaan" itu dengan "dikuasai oleh Roh" (bdk Why 7-10). Di tengah2 penghuni surga, dia melihat orang2 Kudus yang dibedakan menjadi tiga golongan: Para Martir, orang2 perawan, dan orang2 bertobat.

Lalu Para Martir berdoa bagi bumi:

Why 6:9 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.
Why 6:10 Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?"
Why 6:11 Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.


Kitab Wahyu di atas menunjukkan doa dari para Martir (orang yang telah meninggal), mereka berdoa kepada Allah untuk melakukan sesuatu kepada orang2 di Bumi. Itu menunjukkan bahwa ternyata mereka dapat mendoakan kepada Allah agar di bumi terjadi sesuatu.

Lalu pada Why 7, datanglah orang2 Kudus dari golongan yang bertobat (Why 7:14), mereka siang malam melayani (Why 7:15) dan pelayanan mereka adalah doa (Why 8:3-4). Ternyata doa mereka berdampak ke Bumi (Why 8:5)

maka bisa kita lihat kalau doa mereka berdampak ke Bumi.


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Sat May 09, 2009 4:51 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Mon Oct 08, 2007 9:00 am
Posts: 645
5. Kuasa pengantaraan Kristus yang Esa melalui Para kudus

1Tim 2:1 Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang,
1Tim 2:2 untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.

1Tim 2:3 Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita,
1Tim 2:4 yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.
1Tim 2:5 Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,


Paulus menasihatkan Timotius menaikkan permohonan. syafaat, dan syukur untuk semua orang. Ini artinya Timotius (yang mewakili jemaat di dunia) boleh mendoakan orang2 lain. Dan perbuatan itu adalah turut mengambil bagian dalam kepengantaraan Kristus yang Esa.

Jika jemaat di dunia boleh turut dalam pengantaraan itu, terlebih lagi jemaat di surga.


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Sat May 09, 2009 4:59 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Mon Oct 08, 2007 9:00 am
Posts: 645
6. Berdoa kepada para kudus yang hidup, tidak mati

Alkitab melarang necromacy atau berdoa kepada orang2 mati (bdk. Im 20:27, Ul 18:11). Syukur kepada Allah, Para Kudus adalah orang2 yang hidup (Why 11:4-12; Luk 20:37-40, ), maka berkomunikasi kepada mereka bukanlah bentuk necromancy.

Salam Kasih


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Sat May 09, 2009 5:11 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Mon Oct 08, 2007 9:00 am
Posts: 645
7.Komunikasi dengan orang Kudus yang meninggal di Alkitab

1. Saul berbicara dengan Samuel (bdk. 1Samuel 15:24-26), di mana Alkitab menegaskan bahwa yang berbicara adalah "Samuel" bukan "Roh yang menyerupai samuel"
2. Elia dan Musa menampakkan diri terhadap Yesus dan para Murid (bdk. Mar 9:4)
3. Orang2 Kudus menampakkan diri dihadapan banyak orang (bdk. Matius 27:52-53)


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Sat May 09, 2009 5:20 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Mon Oct 08, 2007 9:00 am
Posts: 645
8. Pemahaman akan Si Kaya dan Lazarus yang miskin

24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. 25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. 26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. 27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, 28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. 29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. 30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. 31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." (Luk 16:24-30)

ayat ini tidak bisa dijadikan larangan untuk berkontak dengan para Kudus karena:

1. Tidak ada sama sekali kata "tidak diijinkan."

2.Tampak bahwa maksud perkataan Abraham adalah begini:
kalaupun lazarus yang sudah mati ini datang kepada mereka, apakah mereka akan percaya pada dia? Sedangkan perkataan nabi saja mereka tidak ada percaya?

Jadi kontak tersebut tidak akan berguna bagi orang yang tidak mempercayai Kesaksian Musa dan Kitab Para nabi, karena mereka juga otomatis tidak mempercayai para Kudus yang berkontak dengan mereka. Tetapi bagi yang mempercayainya tentu berguna dan karenanya bisa2 saja berkontak dengan mereka.

Boleh dibilang syarat untuk bisa berkontak dengan Para kudus adalah percaya dulu kesaksian Musa dan Para Nabi.

Salam kasih


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Mon May 11, 2009 6:03 am 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Sun May 25, 2008 7:32 pm
Posts: 144
Sdr Valkyrie, ayat2 alkitabnya di cek lagi, sekilas ak lihat ad sdikit yg keliru..
Poin 3, Yakobus 4:16 mungkin maksudnya Yakobus 5:16
Poin 7, 1Samuel 15:24-26 koreksi 1 Samuel 28:7-25
tnx


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Mon May 11, 2009 11:29 am 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Mon Oct 08, 2007 9:00 am
Posts: 645
oh ya benar, terima kasih atas koreksinya

Salam Kasih


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Fri Jul 03, 2009 12:11 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Mon Oct 08, 2007 9:00 am
Posts: 645
Tanggapan diambil dari tulisan Mensupernova:
keselamatan-karena-iman-dan-perbuatan-vt2825-40.html#p16526

Kutipan:
MEN_SUPERNOVA wrote:
Valkyrie wrote:
@ Kevinarlen

Tambahan:
Bunda Maria bukanlah yang mengabulkan doa2 manusia, melainkan manusia meminta Bunda Maria untuk mendoakan manusia itu kepada Allah. Kalau doa kepada Maria mudah terkabul, itu dikarenakan doa Maria kepada Yesus itu lebih Mudah Yesus Kabulkan. Jadi bukan Maria yang mengabulkan doa, tetapi Yesus.

Meminta orang2 Kudus mendoakan manusia di bumi mempunyai dasar Alkitab, silahkan baca:
orang-orang-kudus-yang-telah-meninggal-vt2828.html

salam Kasih.


1 Tim 2:5
Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,


Ibrani 7:25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.


Dari ayat2 diatas, dengan jelas dikatakan bahwa tujuan Yesus datang ke dunia adalah menjadi Pengantara antara Allah dan manusia, dan Yesus telah melakukan hal tersebut dengan sempurna. Dan hanya Yesus satu2nya yang dapat menjadi Pengantara antara Allah dan manusia.


Apa yg dilakukan oleh umat Khatolik dengan berdoa kepada bunda Maria atau orang2 Kudus agar doanya lebih mudah terkabul justru bertentangan dengan Alkitab.
Karena Yesus adalah satu-satunya pengatara antara Allah dan manusia, namun jika anda berdoa kepada bunda Maria atau orang2 Kudus(sebagai pengantara) agar doa anda diterima oleh Yesus (Pengantara antara Allah dan manusia) dan pada akhirnya diterima oleh Allah Bapa. Maka disitu anda sudah menyangkal bahwa Yesus adalah satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia.(1 Tim 2:5) .
Dan dengan demikian anda juga sudah menyangkal bahwa Yesus sudah melakukan dengan sempurna dan sanggup sebagai satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia.( Ibrani 7:25 ). Atau dengan kata lain anda telah menyangkal Karya Yesus yang telah genap dengan sempurna.


GBU
MEN_SUPERNOVA



Jawab:

Logika anda (Mensupernova) adalah begini:

Umat Katolik menyangkal 1 Tim 2:5 karena meminta Bunda Maria atau orang2 Kudus lainnya mendoakan kita. Dengan demikian, dalam pandangan anda orang2 Kudus tidak boleh diminta mendoakan, sebab berarti si peminta menyangkal ke-Esa-an Perantara, yaitu Yesus. Itu artinya orang2 Kudus praktis tidak boleh mendoakan sebab berarti orang2 Kuduspun menyangkal Keesaan perantara.

Argumentasi ini timbul karena tidak mengenal konsep kesatuan orang2 Kudus dengan Yesus, silahkan baca point ke dua di halaman satu treads ini (Tentang Gereja yang hakikatnya merupakan satu Tubuh Kristus) bahwa para Kudus yang mendoakan adalah Para Kudus yang hidup didalam Yesus yang Esa itu sehingga meminta para Kudus berarti mengakui KeEsaan kepengantaraan Yesus. Praktek Katolik menjadi bermasalah hanya apabila umat Katolik meminta orang2 yang tidak hidup di dalam Yesus untuk mendoakan kepada Allah, hal yang justru tidak dilakukan Gereja Katolik.

Bukan hanya itu, penafsiran anda malah mementahkan ayat sebelumnya, yaitu 1 Tim 2:1-2 di mana Paulus malah meminta orang2 Kristiani untuk mendoakan orang lain karena itulah yang berkenan di hadapan Allah dan dengan demikian turut ambil bagian dalam kepengenataraan Kristus yang Esa.

1Tim 2:1 Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang,
1Tim 2:2 untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.
1Tim 2:3 Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita,

1Tim 2:4 yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.
1Tim 2:5 Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,


Hal seperti 1 Tim 2:1-2 itulah yang diminta umat Katolik kepada Bunda Maria dan Para Kudus, supaya mereka mendoakan kita yang masih di dunia. Umat Katolik percaya bahwa Para Kudus hidup di dalam Allah, dan karenanya mereka tentu senantiasa mendoakan semua orang termasuk kita (seperti pada 1 Tim 2:1-2)

Dengan demikian penafsiran anda atas 1 Tim 2:5 adalah suatu penafsiran yang keluar dari konteks yang jika kita lihat konteksnya malah sebenarnya menggugurkan keberatan anda (anda bisa membaca postingan saya di halaman satu treads ini point ke lima: Kuasa pengantaraan Kristus yang Esa melalui Para kudus).

Praktek Gereja Reformasi:
Kenyataannya, Gereja Reformasi yang mainstream tidak keberatan apabila ada umat yang meminta orang2 tertentu (seperti Pendeta, pendoa syafaat, atau pelayan Tuhan lainnya) untuk mendoakan. Jadi jika praktek meminta Para Kudus mendoakan bertentangan dengan 1 Tim 2:5, maka praktek Gereja reformasipun juga sudah pasti bertentangan dengan 1 Tim 2:5.

Satu2nya pecahan Gereja Reformasi yang kutahu yang konsisten dengan model penafsiran anda atas 1 Tim 2:5 adalah Saksi Yehova yang melarang mendoakan orang lain.

Salam Kasih


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Fri Jul 03, 2009 4:03 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP
User avatar

Joined: Fri Mar 28, 2008 12:53 pm
Posts: 368
Dear Valkyrie

Quote:
Praktek Gereja Reformasi:
Kenyataannya, Gereja Reformasi yang mainstream tidak keberatan apabila ada umat yang meminta orang2 tertentu (seperti Pendeta, pendoa syafaat, atau pelayan Tuhan lainnya) untuk mendoakan. Jadi jika praktek meminta Para Kudus mendoakan bertentangan dengan 1 Tim 2:5, maka praktek Gereja reformasipun juga sudah pasti bertentangan dengan 1 Tim 2:5.


menurut saya ada perbedaan dalam hal ini. perbedaannya dalam "doa" kepada siapa??
1. Gereja Reformasi tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berdoa kepada (Pendeta, pendoa syafaat, atau pelayan Tuhan lainnya) dimana isi doanya agar permohonan mereka dikabulkan melalui (Pendeta, pendoa syafaat, atau pelayan Tuhan lainnya) .

2. dalam hal ini bukan berarti kita tidak boleh saling mendoakan, namun jika seseorang minta di doakan oleh (Pendeta, pendoa syafaat, atau pelayan Tuhan lainnya), janganlah dalam pengertian bahwa jika di doakan oleh (Pendeta, pendoa syafaat, atau pelayan Tuhan lainnya) maka doanya akan lebih mantap (dapat dikabulkan), karena pengertian seperti ini salah.
namun jika ada umat yg kurang mengerti dan melakukan hal ini, hal ini biasanya disebabkan krn orang tsb merasa jika berdoa sendiri (kurang mantap) namun jika didoakan oleh (Pendeta tertentu, pendoa syafaat, atau pelayan Tuhan lainnya,dll) terasa lebih mantap, namun hal ini salah. karena setiap orang yang sudah di dalam Kristus, sama statusnya. artinya orang tsb dapat berdoa sendiri kepada Allah tanpa harus merasa spt itu. karena Yesus telah melakukan karyanya dengan sempurna dan telah menjadi Pengantara satu-satunya.
jadi bukan tidak boleh saling mendoakan ,namun pada saat berdoa, harus berdoa kepada Allah bukan yang lain termasuk orang2 kudus yang sudah meninggal, dan kita berdoa kepada Yesus sebagai Pengantara satu2nya dan bukan yg lain.

jadi perbedaannya adalah didalam pengertian "doa" kepada siapa??

Gereja Reformasi hanya mengajarkan berdoa kepada Allah saja bukan yg lain termasuk orang2 Kudus yg sudah meninggal.
sebaliknya Gereja Khatolik mengajarkan pengertian "doa" yg berbeda spt yg anda jelaskan di postingan awal.

pertanyaan saya kepada anda ,adalah:
1. apakah dasar Alkitabiah dari pengertian "doa" spt yg anda katakan di awal positngan anda?(ayat2nya?)
2. berikan satu contoh kasus di Alklitab yg mengajarkan bahwa orang yg hidup berdoa kepada orang yg sudah meninggal agar doanya dpt dikabulkan spt yg dilakukan oleh umat Khatolik.
karena ayat2 yg anda berikan tidak mendukung ajaran seperti yg dipraktek oleh Gereja Khatolik, namun ayat2 tsb lebih kepada saling mendoakan antar umat, bukan berdoa kepada org yg sudah meninggal dengan maksud spt yg diajarkan oleh Gereja Khatolik.



GBU
MEN_SUPERNOVA


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Thu Jul 09, 2009 1:24 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Mon Oct 08, 2007 9:00 am
Posts: 645
Mensupernova wrote:
menurut saya ada perbedaan dalam hal ini. perbedaannya dalam "doa" kepada siapa??
1. Gereja Reformasi tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berdoa kepada (Pendeta, pendoa syafaat, atau pelayan Tuhan lainnya) dimana isi doanya agar permohonan mereka dikabulkan melalui (Pendeta, pendoa syafaat, atau pelayan Tuhan lainnya) .


Perhatikan dulu bahwa "berdoa" di sini dalam pengertian berkomunikasi biasa, bukan dalam pengertian menyembah (baca point pertama).

Sejauh umat Gereja Reformasi meminta (berkomunikasi) kepada pendeta atau pendoa syafaat supaya mendoakan si umat, maka sejauh iotu si umat "berdoa" kepada si pendeta atau pendoa. Dan memang seringkali umat Reformasi meminta orang2 tertentu untuk mendoakan. Ini juga yang dilakukan Gereja Katolik terhadap orang2 Kudus.

Sudah tentu umat Reformasi seringkali meminta orang2 tertentu mendoakan memang supaya doanya dikabulkan sebab kalau tidak lalu untuk apa meminta di doakan? jadinya permintaan itu tidak ada maknanya sama sekali, maka praktek reformasi ini malah menjadi praktek yang kosong.

Quote:
2. dalam hal ini bukan berarti kita tidak boleh saling mendoakan, namun jika seseorang minta di doakan oleh (Pendeta, pendoa syafaat, atau pelayan Tuhan lainnya), janganlah dalam pengertian bahwa jika di doakan oleh (Pendeta, pendoa syafaat, atau pelayan Tuhan lainnya) maka doanya akan lebih mantap (dapat dikabulkan), karena pengertian seperti ini salah.
namun jika ada umat yg kurang mengerti dan melakukan hal ini, hal ini biasanya disebabkan krn orang tsb merasa jika berdoa sendiri (kurang mantap) namun jika didoakan oleh (Pendeta tertentu, pendoa syafaat, atau pelayan Tuhan lainnya,dll) terasa lebih mantap, namun hal ini salah. karena setiap orang yang sudah di dalam Kristus, sama statusnya. artinya orang tsb dapat berdoa sendiri kepada Allah tanpa harus merasa spt itu. karena Yesus telah melakukan karyanya dengan sempurna dan telah menjadi Pengantara satu-satunya.
jadi bukan tidak boleh saling mendoakan ,namun pada saat berdoa, harus berdoa kepada Allah bukan yang lain termasuk orang2 kudus yang sudah meninggal, dan kita berdoa kepada Yesus sebagai Pengantara satu2nya dan bukan yg lain.


Kalau begitu maka Praktek meminta orang lain mendoakan adalah praktek yang tidak berfaedah di kalangan Reformasi, sebab hakikatnya setiap orang bisa meminta sendiri. Lalu untuk apa Praktek mendoakan atau bahkan meminta didoakan itu ada di Kalangan Reformasi? Dengan demikian anda mementahkan 1 Tim 2:1-2 di mana Paulus justru mengajarkan kalau doa dari si pendoa dapat memberikan ketentraman.

Baca lagi 1 Tim 2:1-5 kalau meminta orang2 lain mendoakan adalah justru bukti pengakuan KeEsaan Yesus bukan menafikkannya, harap membaca 1 Tim 2:5 sesuai konteksnya (1 Tim 1-4).

Quote:
jadi perbedaannya adalah didalam pengertian "doa" kepada siapa??

Gereja Reformasi hanya mengajarkan berdoa kepada Allah saja bukan yg lain termasuk orang2 Kudus yg sudah meninggal.
sebaliknya Gereja Khatolik mengajarkan pengertian "doa" yg berbeda spt yg anda jelaskan di postingan awal.


Sebenarnya anda hanya menolak istilah "berdoa" boleh digunakan dalam pengertian yang luas (komunikasi dengan sesuatu yang immaterial, bukan hanya Allah). Maka sebenarnya penolakan anda bukan lagi pada boleh tidaknya meminta pihak lain mendoakan melainkan boleh tidaknya penggunaan istilah "doa."

Jika mengarah ke sini, maka diskusi tidak lagi bersifat Alkitabiah tetapi lebih bersifat epistimology.
Dan karenanya, sangat bergantung bukan pada kewenangan Alkitab melainkan kewenangan pemilih penggunaan bahasa. Definisi suatu kata dalam suatu bahasa dalam sejarahnya amat bisa mengalami perubahan, diantaranya Generalisasi (perluasan makna) dan Spesialisasi (penyempitan makna).

Quote:
pertanyaan saya kepada anda ,adalah:
1. apakah dasar Alkitabiah dari pengertian "doa" spt yg anda katakan di awal positngan anda?(ayat2nya?)
2. berikan satu contoh kasus di Alklitab yg mengajarkan bahwa orang yg hidup berdoa kepada orang yg sudah meninggal agar doanya dpt dikabulkan spt yg dilakukan oleh umat Khatolik.
karena ayat2 yg anda berikan tidak mendukung ajaran seperti yg dipraktek oleh Gereja Khatolik,


1. "Doa" hanyalah istilah untuk menggambarkan komunikasi dengan sesuatu yang Immaterial, seperti halnya "Tritunggal" adalah istilah yang tidak dipakai dalam ALlkitab. Tetapi komunikasi dengan orang yang sudah meninggal kenyataannya adalah Praktek yang Alkitabiah. Silahkan baca postingan saya di treads ini halaman satu tertanggal Sat May 09, 2009 5:11 pm (point ke tujuh, ada koreksi 1Samuel 15:24-26 terhadap 1 Samuel 28:7-25). Dan lagi, kalaupun istilah "Doa" di Alkitab selalu dipakai untuk komunikasi dengan Allah saja (pengertian sempit), namun keberatan anda hanya menjadi valid kalau anda sendiri bisa membuktikan secara Alkitabiah kalau istilah "berdoa" hanya boleh dalam pengertian sempit saja (penyembahan).

Artinya harus ada ayat yang terang2an menentang penggunaan istilah "doa" dalam pengertian luas, Silahkan anda buktikan keberadaan ayat semacam ini untuk mendukung sanggahan anda

Dan tidak kalah pentingnya, sumber iman Katolik bukan cuma Alkitab melainkan juga Tradisi (dimana sebagian menjadi bagian dari ALlkitab) dan Magisterium (yang menulis, membentuk, dan mengkanon Alkitab).

2. argumentum ex silentio (Argument dari kediaman), merupakan Fallacy logika yang mau mengatakan kalau sesuatu itu tidak tertulis maka sesuatu itu salah. jawaban saya adalah demikian: contoh kasus di mana orang meminta orang lain untuk mendoakan memang tidak ada di Alkitab, tetapi tidak berarti praktek ini salah terlebih apabila ternyata praktek Katolik ini meskipun tidak ada contoh kasusnya di Alkitab tetapi ada ajarannya (baca point2 di awal treads). Analogynya adalah contoh Kasus di mana istilah "Tritunggal" di gunakan tidak ada di ALkitab, tetapi toh iman ini tetap benar dan bahkan Alkitabiah jika kita melihat bahwa substansi ajaran ini memang ada di Alkitab (meski istilahnya tidak ada).

Quote:
namun ayat2 tsb lebih kepada saling mendoakan antar umat, bukan berdoa kepada org yg sudah meninggal dengan maksud spt yg diajarkan oleh Gereja Khatolik.


Kategori sanggahan yang timbul karena tidak membaca secara lengkap point2 yang saya berikan. Anda perlu membaca point2 Alkitabiah dari atas secara menyeluruh baru anda akan tahu bahwa meminta orang2 Kudus mendoakan umat adalah tidak bercanggahan dengan Alkitab. Terutama silahkan baca kalau orang2 Kudus yang sudah meninggal adalah orang yang di dalam Allah dan karenanya satu tubuh dengan Gereja di Dunia, juga silahkan baca point 4b. Baca semua ayat secara menyeluruh agar tidak menyangka saya hanya memberikan ayat2 saling mendoakan semata (padahal kalau di baca secara lengkap, ayat2 saling mendoakan sebenarnya hanya ada di point ke 5).

Sekarang pertanyaan untuk anda:

1. Tunjukkan di Alkitab kalau ada ayat yang menyatakan bahwa Para Kudus tidak bisa berkomunikasi dengan orang2 di dunia demikian juga sebaliknya.
2. Tunjukkan kalau ayat2 di mana jemaat bisa saling mendoakan itu hanya bisa berlaku untuk jemaat di dunia sementara jemaat di Surga tidak bisa melakukannya.

ps: Saya memberikan pertanyaan itu karena pemahaman Point pertama sampai yang terakhir yang saya ajukan di halaman pertama justru menolak keberatan anda


Salam Kasih


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Fri Jul 10, 2009 3:57 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP
User avatar

Joined: Fri Mar 28, 2008 12:53 pm
Posts: 368
Quote:
Perhatikan dulu bahwa "berdoa" di sini dalam pengertian berkomunikasi biasa, bukan dalam pengertian menyembah (baca point pertama).


Quote:
Sebenarnya anda hanya menolak istilah "berdoa" boleh digunakan dalam pengertian yang luas (komunikasi dengan sesuatu yang immaterial, bukan hanya Allah). Maka sebenarnya penolakan anda bukan lagi pada boleh tidaknya meminta pihak lain mendoakan melainkan boleh tidaknya penggunaan istilah "doa."

Jika mengarah ke sini, maka diskusi tidak lagi bersifat Alkitabiah tetapi lebih bersifat epistimology.
Dan karenanya, sangat bergantung bukan pada kewenangan Alkitab melainkan kewenangan pemilih penggunaan bahasa. Definisi suatu kata dalam suatu bahasa dalam sejarahnya amat bisa mengalami perubahan, diantaranya Generalisasi (perluasan makna) dan Spesialisasi (penyempitan makna).


Quote:
1. "Doa" hanyalah istilah untuk menggambarkan komunikasi dengan sesuatu yang Immaterial, seperti halnya "Tritunggal" adalah istilah yang tidak dipakai dalam ALlkitab. Tetapi komunikasi dengan orang yang sudah meninggal kenyataannya adalah Praktek yang Alkitabiah. Silahkan baca postingan saya di treads ini halaman satu tertanggal Sat May 09, 2009 5:11 pm (point ke tujuh, ada koreksi 1Samuel 15:24-26 terhadap 1 Samuel 28:7-25). Dan lagi, kalaupun istilah "Doa" di Alkitab selalu dipakai untuk komunikasi dengan Allah saja (pengertian sempit), namun keberatan anda hanya menjadi valid kalau anda sendiri bisa membuktikan secara Alkitabiah kalau istilah "berdoa" hanya boleh dalam pengertian sempit saja (penyembahan).

Artinya harus ada ayat yang terang2an menentang penggunaan istilah "doa" dalam pengertian luas, Silahkan anda buktikan keberadaan ayat semacam ini untuk mendukung sanggahan anda

Dan tidak kalah pentingnya, sumber iman Katolik bukan cuma Alkitab melainkan juga Tradisi (dimana sebagian menjadi bagian dari ALlkitab) dan Magisterium (yang menulis, membentuk, dan mengkanon Alkitab).

2. argumentum ex silentio (Argument dari kediaman), merupakan Fallacy logika yang mau mengatakan kalau sesuatu itu tidak tertulis maka sesuatu itu salah. jawaban saya adalah demikian: contoh kasus di mana orang meminta orang lain untuk mendoakan memang tidak ada di Alkitab, tetapi tidak berarti praktek ini salah terlebih apabila ternyata praktek Katolik ini meskipun tidak ada contoh kasusnya di Alkitab tetapi ada ajarannya (baca point2 di awal treads). Analogynya adalah contoh Kasus di mana istilah "Tritunggal" di gunakan tidak ada di ALkitab, tetapi toh iman ini tetap benar dan bahkan Alkitabiah jika kita melihat bahwa substansi ajaran ini memang ada di Alkitab (meski istilahnya tidak ada).
Quote:
namun ayat2 tsb lebih kepada saling mendoakan antar umat, bukan berdoa kepada org yg sudah meninggal dengan maksud spt yg diajarkan oleh Gereja Khatolik.


Kategori sanggahan yang timbul karena tidak membaca secara lengkap point2 yang saya berikan. Anda perlu membaca point2 Alkitabiah dari atas secara menyeluruh baru anda akan tahu bahwa meminta orang2 Kudus mendoakan umat adalah tidak bercanggahan dengan Alkitab. Terutama silahkan baca kalau orang2 Kudus yang sudah meninggal adalah orang yang di dalam Allah dan karenanya satu tubuh dengan Gereja di Dunia, juga silahkan baca point 4b. Baca semua ayat secara menyeluruh agar tidak menyangka saya hanya memberikan ayat2 saling mendoakan semata (padahal kalau di baca secara lengkap, ayat2 saling mendoakan sebenarnya hanya ada di point ke 5).

Sekarang pertanyaan untuk anda:

1. Tunjukkan di Alkitab kalau ada ayat yang menyatakan bahwa Para Kudus tidak bisa berkomunikasi dengan orang2 di dunia demikian juga sebaliknya.
2. Tunjukkan kalau ayat2 di mana jemaat bisa saling mendoakan itu hanya bisa berlaku untuk jemaat di dunia sementara jemaat di Surga tidak bisa melakukannya.

ps: Saya memberikan pertanyaan itu karena pemahaman Point pertama sampai yang terakhir yang saya ajukan di halaman pertama justru menolak keberatan anda



Iya ,saya tahu maksud anda, justru itu masalahnya, di dalam Alkitab tidak ada satu kasuspun yang mendukung hal tsb, dan anda sendiri sudah menjawab memang tidak ada kasus di dalam Alkitab spt yg dilakukan oleh ajaran Khatolik ini.
Artinya pengertian ini tidak Alkitabiah dan hanya merupakan tafsiran / ajaran dari khatolik saja tanpa di dukung dari Alkitab.
Saya rasa masalah ini tidak hanya masalah pengertian kata “Doa” (yg telah diperluas oleh ajaran khatolik) tapi lebih dari itu, karena praktek yg dilakukan oleh ajaran khatolik ini memang tidak ada di dalam Alkitab, jadi pengertian kata “doa” sendiri telah di biaskan dengan sesuatu yg tidak pernah dilakukan di dalam Alkitab(jadi ada 2 hal, kata “doa” itu sendiri telah di biaskan, kemudian praktek yg dilakukan pun tidak ada di dalam Alkitab), sehingga hal tsb dapat saya katakan tidak Alkitabiah.

Anda meng-analogy-kan hal ini dengan kata “TriTunggal”, jelas ini adalah 2 hal yg berbeda. Kata “TriTunggal” memang tidak ada di dalam Alkitab, namun pengertian dari Tritunggal tersebut ada di dalam Alkitab. Sehingga untuk mempermudah pengertian tsb maka digunakanlah kata “TriTunggal”. Jadi kata “TriTunggal ” ini hanya digunakan untuk memahami pengertian akan Allah Yang Esa (3 pribadi).
Beda halnya dengan kata “Doa”, kata doa itu sendiri jelas ada di dalam Alkitab, dan di dalam Alkitab tidak ada pengertian “doa” seperti yg diajarkan oleh ajaran khatolik.
Bahkan Yesus sendiri mengajarkan mengenai hal doa ini:

Lukas 11:1 Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya."
Lukas 11:2 Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.


Yesus mengajarkan berdoa kepada Bapa (Allah), dan tidak pernah mengajarkan di luar itu.

Note: Yesus tidak pernah mengajarkan berdoalah kepada nabi2, dll.

Jadi jika Yesus sendiri tidak mengajarkan pengertian doa seperti yg dilakukan oleh ajaran khatolik, maka ajaran tsb patut dipertanyakan??

Dan kalo boleh saya tahu, sejak kapan pengertian “doa” menjadi seperti yg diajarkan oleh khatolik, apakah sebelumnya ada pengertian demikian??

Anda juga mengatakan bahwa iman khatolik tidak hanya bersandar pada Alkitab saja, melainkan ada tradisi dan Magisterium. Justru bagi saya hal ini hanya membuktikan bahwa tradisi dan Magisterium bisa salah dan bukan Kebenaran yang Mutlak, karena Kebenaran yang Mutlak hanya Firman Allah yaitu Alkitab(SolaScriptura). Dan jika tidak sesuai dengan ajaran Alkitab maka hal tersebut jelas salah / menyimpang.

Kemudian anda juga memakai kasus Samuel di 1 Samuel 28:7-25 untuk mendukung praktek ajaran khatolik ini. Justru kasus di 1 Samuel 28:7-25 bukanlah sesuatu hal yg diperintahkan oleh Allah justru sebaliknya hal tersebut adalah sesuatu yg tidak berkenan di mata Allah.(baca ayat2 dibawah ini ).

Imamat 19:31 Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu.

Imamat 20:6 Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya

Imamat 20:27 Apabila seorang laki-laki atau perempuan dirasuk arwah atau roh peramal, pastilah mereka dihukum mati, yakni mereka harus dilontari dengan batu dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri."

Ulangan 18:11 seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.


Note: satu hal lagi ,kasus Samuel diatas sebenarnya masih controversial, apakah benar Roh Samuel atau bukan? Namun saya tidak akan membahas hal ini.


Kemudian mengenai argumentum ex silentio, saya tidak mengatakan bahwa yg tidak tertulis pasti salah. Namun karena kita mengimani bahwa Alkitab adalah Kebenaran yg mutlak maka sesuatu yang di luar Alkitab patut dipertanyakan kebenarannya. Apalagi kata “doa” sendiri sudah jelas di dalam Alkitab dipakai hubungannya dengan Allah bukan yg lain. Sehingga jika ada ajaran di luar Alkitab yg memiliki pengertian yg berbeda maka dapat kita katakan hal tersebut tidak Alkitabiah. Beda halnya dengan kata “TriTunggal” yang memang tidak ada istilah tsb di dalam Alkitab namun kata tersebut digunakan hanya untuk memahami Allah yang di imani umat Kristiani yang pengertiannya ada di dalam Alkitab.

Sebagai contoh kasus:
Di dalam Alkitab tidak ada secara eksplisit mengenai larangan Polygami, namun Alkitab menekankan pada pernikahan monogamy. Lalu , Apakah menurut anda Polygami adalah kebenaran karena tidak ada larangan secara eksplisit??

Dari kasus di atas maka saya tidak harus membuktikan dengan ayat mengenai larangan berdoa terhadap orang yg meninggal. Walaupun sebenarnya saya sudah memberikan ayat2 mengenai larangan berhubungan dengan arwah. (ayat2 diatas).
Namun sebaliknya mengenai doa, Alkitab dengan jelas memberikan pengertian mengenai kata ini yaitu berhubungan dengan Allah. Jadi jika ada ajaran yg memberikan pengertian yg berbeda dari pengertian yg diajarkan oleh Alkitab maka paling tidak ada kasus yg sama spt yg di ajarkan oleh ajaran khatolik


Quote:
Sejauh umat Gereja Reformasi meminta (berkomunikasi) kepada pendeta atau pendoa syafaat supaya mendoakan si umat, maka sejauh iotu si umat "berdoa" kepada si pendeta atau pendoa. Dan memang seringkali umat Reformasi meminta orang2 tertentu untuk mendoakan. Ini juga yang dilakukan Gereja Katolik terhadap orang2 Kudus.

Sudah tentu umat Reformasi seringkali meminta orang2 tertentu mendoakan memang supaya doanya dikabulkan sebab kalau tidak lalu untuk apa meminta di doakan? jadinya permintaan itu tidak ada maknanya sama sekali, maka praktek reformasi ini malah menjadi praktek yang kosong.



Quote:
Kalau begitu maka Praktek meminta orang lain mendoakan adalah praktek yang tidak berfaedah di kalangan Reformasi, sebab hakikatnya setiap orang bisa meminta sendiri. Lalu untuk apa Praktek mendoakan atau bahkan meminta didoakan itu ada di Kalangan Reformasi? Dengan demikian anda mementahkan 1 Tim 2:1-2 di mana Paulus justru mengajarkan kalau doa dari si pendoa dapat memberikan ketentraman.

Baca lagi 1 Tim 2:1-5 kalau meminta orang2 lain mendoakan adalah justru bukti pengakuan KeEsaan Yesus bukan menafikkannya, harap membaca 1 Tim 2:5 sesuai konteksnya (1 Tim 1-4).


Saya rasa ada perbedaan pengertian mengenai hal ini, seperti pada postingan sebelumnya, pengertian saling mendoakan disini adalah bukan berarti si Pendoa statusnya lebih mantap(lebih mudah dikabulkan doanya,dsbnya), karena di dalam Tuhan semuanya statusnya sama.
Misalkan saja ada seorang umat yg sakit kemudian minta di doakan oleh salah seorang Pendeta, maka pengertian minta di doakan disini bukan dalam pengertian bahwa status si pendoa lebih tinggi dan lebih mudah dikabulkan doanya, jika demikian maka akan terjadi seseorang akan minta di doakan oleh si Pendeta A dan tidak mau di doakan oleh si Pendeta B karena doa si pendeta A lebih manjur daripada si B, dsbnya. Jika demikian maka Pendeta udah seperti dukun saja.
Namun pengertian saling mendoakan disini lebih kepada saling support (saling dukung di dalam doa) namun status mereka tetap sama dihadapan Allah, dan bukan berarti si A lebih tinggi dari si B ,dll. Atau dengan kata lain bukan hanya umat yg di doakan oleh Pendeta, Pendoa syafaat,dsbnya.. namun pendeta pun di doakan oleh umat.

Dan seperti pada postingan sebelumnya, gereja Reformasi tidak pernah mengajarkan bahwa jika seseorang di doakan oleh orang tertentu maka doanya akan dikabulkan, tetapi Gereja Reformasi mengajarkan bahwa doa seseorang dikabulkan berdasarkan kehendak Allah dan bukan karena orang tertentu yg mendoakannya. Artinya jika seseorang minta didoakan oleh seorang Pendeta , mungkin tidak doanya tidak dikabulkan?? Jawabnya mungkin saja ,jika Doa tsb tidak sesuai dengan kehendak Allah.
Dan jika umat sudah memiliki pengertian seperti ini, maka pada saat umat minta didoakan, maka pengertiannya bukan kepada berharap doanya dikabulkan karena orang tertentu yg mendoakannya, tetapi lebih kepada saling mendukung di dalam doa, namun masalah dikabulkan atau tidaknya tetap tergantung kepada kehendak Allah.


GBU
MEN_SUPERNOVA


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Fri Jul 10, 2009 5:54 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Mon Oct 08, 2007 9:00 am
Posts: 645
Mensupernova wrote:
Iya ,saya tahu maksud anda, justru itu masalahnya, di dalam Alkitab tidak ada satu kasuspun yang mendukung hal tsb, dan anda sendiri sudah menjawab memang tidak ada kasus di dalam Alkitab spt yg dilakukan oleh ajaran Khatolik ini.
Artinya pengertian ini tidak Alkitabiah dan hanya merupakan tafsiran / ajaran dari khatolik saja tanpa di dukung dari Alkitab.
Saya rasa masalah ini tidak hanya masalah pengertian kata “Doa” (yg telah diperluas oleh ajaran khatolik) tapi lebih dari itu, karena praktek yg dilakukan oleh ajaran khatolik ini memang tidak ada di dalam Alkitab, jadi pengertian kata “doa” sendiri telah di biaskan dengan sesuatu yg tidak pernah dilakukan di dalam Alkitab(jadi ada 2 hal, kata “doa” itu sendiri telah di biaskan, kemudian praktek yg dilakukan pun tidak ada di dalam Alkitab), sehingga hal tsb dapat saya katakan tidak Alkitabiah.


Pertama-tama, pengertian doa tidak dibiaskan, tetapi rupanya memang pengertian doa lebih luas daripada penyembahan kepada Allah saja. Untuk memahami ini, baiklah dipahami dulu bahwa istilah "berdoa" dalam pengertian Katolik di Indonesia tidak begitu berbeda dengan istilah "Pray" yang digunakan orang2 berbahasa Inggris. Maka menggunakan kamus online berbahasa Inggris akan membantu menjelaskan (Kamus definisi Online bahasa Indonesia tidak saya temukan). Berikut definisi "Pray"

http://www.thefreedictionary.com/pray


v.tr.
1. To utter or say a prayer or prayers to; address by prayer.
2. To ask (someone) imploringly; beseech. Now often used elliptically for I pray you to introduce a request or entreaty: Pray be careful.
3. To make a devout or earnest request for: I pray your permission to speak.
4. To move or bring by prayer or entreaty.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Verb 1. pray - address a deity, a prophet, a saint or an object of worship; say a prayer; "pray to the Lord"
commune - communicate intimately with; be in a state of heightened, intimate receptivity; "He seemed to commune with nature"
2. pray - call upon in supplication; entreat; "I beg you to stop!"
beg, implore
crave - plead or ask for earnestly
supplicate - ask humbly (for something); "He supplicated the King for clemency"
plead - appeal or request earnestly; "I pleaded with him to stop"
importune, insist - beg persistently and urgently; "I importune you to help them"

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dari pengertian di atas, tampak bahwa ternyata kata "Pray" (berdoa) dapat ditujukan kepada pihak selain Allah, dimana pengertiannya justru berbeda dengan sekedar penyembahan melainkan hanya komunikasi biasa. maka dari itu keberatan sementara Reformasi sebenarnya hanya dikarenakan masih menyangka istilah "doa" hanya boleh ditujukan kepada Allah saja padahal ternyata sebenarnya tidak. Keberatan Reformasi ini tidak timbul karena sikap anti Katolik, melainkan karena sikap kehati2an.

Kedua, mengukuti definisi di atas, bahwa ternyata "berdoa" juga boleh berarti berkomunikasi (dengan selain Allah), maka Ayat2 Alkitab yang mendukung praktek berkomunikasi kepada para Kudus itu sebenarnya ada:
1. Saul berbicara dengan Samuel (bdk. 1Samuel 1 Samuel 28:7-25), di mana Alkitab menegaskan bahwa yang berbicara adalah "Samuel" bukan "Roh yang menyerupai samuel"
2. Elia dan Musa menampakkan diri (kegiatan Aktif-> bentuk komunikasi sederhana) terhadap Yesus dan para Murid (bdk. Mar 9:4)
3. Orang2 Kudus menampakkan diri (Kegiatan AKtif -> bentuk komunikasi sederhana) dihadapan banyak orang (bdk. Matius 27:52-53).
4. Elia yang sudah meninggal dapat berkontak dengan Yehoram Raja Yehuda melalui surat teguran (bdk.2 Taw 21:12-15 )
5. Yohannes Pelihat berkomunikasi dengan Makhluk Kudus di Surga (bdk Kitab Wahyu)
6. Maria dan Zakharia Berkomunikasi dengan Gabriel (Luk 1:11-38)

JAdi sebenarnya praktek berdoa kepada makhluk selain Allah itu ada, tetapi penggunaan istilah "doa" itu yang memang tidak digunakan di ALkitab untuk selain Allah, namun sejauh ini tidak anda sangkal bahwa tidak ada ayat ALkitab yang mengatakan kalau istilah "doa" hanya boleh untuk Allah saja saja.

Quote:
Anda meng-analogy-kan hal ini dengan kata “TriTunggal”, jelas ini adalah 2 hal yg berbeda. Kata “TriTunggal” memang tidak ada di dalam Alkitab, namun pengertian dari Tritunggal tersebut ada di dalam Alkitab. Sehingga untuk mempermudah pengertian tsb maka digunakanlah kata “TriTunggal”. Jadi kata “TriTunggal ” ini hanya digunakan untuk memahami pengertian akan Allah Yang Esa (3 pribadi).
Beda halnya dengan kata “Doa”, kata doa itu sendiri jelas ada di dalam Alkitab, dan di dalam Alkitab tidak ada pengertian “doa” seperti yg diajarkan oleh ajaran khatolik.


Anda akui bahwa istilah "Tritunggal" memang TIDAK ADA DI ALKITAB, tetapi anda akui bahwa sekalipun istilah itu tidak dipakai, tetapi penggunaan istilah itu boleh untuk menjelaskan suatu gagasan di Alkitab. Maka jika anda konsisten, seharusnya andapun tidak keberatan apabila istilah "doa" digunakan untuk menjelaskan suatu gagasan yang Alkitabiah seperti yang saya tunjukkan di atas.

Jadi begini:
1. Istilah "Tritunggal" yang tidak ada di Alkitab boleh digunakan untuk menjelaskan suatu gagasan alkitabiah
2. Apalagi istilah "doa" yang ada di Alkitab, sudah tentu boleh2 saja digunakan untuk menjelaskan suatu gagasan alkitabiah, apalagi apabila tidak ada yang alkitab yang melarang penggunaan istilah itu untuk gagasan selain Menyembah Allah.

Quote:
Bahkan Yesus sendiri mengajarkan mengenai hal doa ini:

Lukas 11:1 Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya."
Lukas 11:2 Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.

Yesus mengajarkan berdoa kepada Bapa (Allah), dan tidak pernah mengajarkan di luar itu.

Note: Yesus tidak pernah mengajarkan berdoalah kepada nabi2, dll.


Seperti yang telah saya uraikan sebelumnya, "doa" bisa punya pengertian sempit yaitu berdoa kepada Allah saja. Dalam Lukas 11:2, Yesus menggunakan istilah itu untuk "doa" yang memang ditujukan kepada Bapa, tapi ayat itu lagi2 tidak menunjukkan kalau Yesus melarang penggunaan istilah "Doa" untuk menggambarkan komunikasi kepada makhluk2 selain Allah (Yesus tdiak menolak adanya pengertian "doa" dalam arti luas).

Bukan hanya itu, Yesus di luk 11:2 tidak mengajarkan untuk berdoa kepada Diri-Nya sendiri, apakah lantas berdasarkan Luk 11:2 kita boleh berkata bahwa berdoa kepada Yesus itu tidak mengikuti kehendak Yesus? sekalipun Yesus adalah Allah, tetapi Luk 11:2 Yesus mengajarkan doa yang hanya untuk Pribadi Pertama Trinitas, yaitu Bapa, Jadi argumentasi anda akan menimbulkan masalah demikian: Yesus memang Allah, tetapi kita hanya boleh berdoa kepada Bapa saja.

Quote:
Jadi jika Yesus sendiri tidak mengajarkan pengertian doa seperti yg dilakukan oleh ajaran khatolik, maka ajaran tsb patut dipertanyakan??


Memang Yesus tidak mengajarkan "doa" dalam pengertian luas, namun Yesus sendiri tidak pernah melarang penggunaan "doa" untuk pengertian luas tersebut. Maka dari itu larangan sementara orang2 reformasi yang TIDAK ALKITABIAH lah yang sesungguhnya patut dipertanyakan.

Konsisten dengan logika anda ini, penggunaan "Tritunggal" yang tidak ada di Alkitabpun patut dipertanyakan. Sebab Yesus tidak pernah mengajarkan penggunaan istilah "Tritunggal" untuk menjelaskan Allah.

Quote:
Dan kalo boleh saya tahu, sejak kapan pengertian “doa” menjadi seperti yg diajarkan oleh khatolik, apakah sebelumnya ada pengertian demikian??


Sayatidak begitu paham sejarah penggunaankata "pray" atau "doa", tetapi dari Kamus yang saya rujuk menunjukkan adanya penggunaan istilah itu untuk sesuatu selain Allah, Kamus itu memberikan pengertian yang lebih luas dari sekedar "penyembahan kepada Allah." Kamus itu bukanlah Kamus yang inklusif milik Gereja Katolik.

Quote:
Anda juga mengatakan bahwa iman khatolik tidak hanya bersandar pada Alkitab saja, melainkan ada tradisi dan Magisterium. Justru bagi saya hal ini hanya membuktikan bahwa tradisi dan Magisterium bisa salah dan bukan Kebenaran yang Mutlak, karena Kebenaran yang Mutlak hanya Firman Allah yaitu Alkitab(SolaScriptura). Dan jika tidak sesuai dengan ajaran Alkitab maka hal tersebut jelas salah / menyimpang.


Masalah Tradisi dan Magisterium akan saya buatkan treads tersendiri sebagai jawaban atas Sola Scriptura, tetapi satu hal yang pasti: Alkitab ditulis dan dikanon oleh Magisterium, jika tidak percaya penulis dan pengkanonnya, maka untuk apa percaya Alkitab?

Quote:
Kemudian anda juga memakai kasus Samuel di 1 Samuel 28:7-25 untuk mendukung praktek ajaran khatolik ini. Justru kasus di 1 Samuel 28:7-25 bukanlah sesuatu hal yg diperintahkan oleh Allah justru sebaliknya hal tersebut adalah sesuatu yg tidak berkenan di mata Allah.(baca ayat2 dibawah ini ).

Imamat 19:31 Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu.

Imamat 20:6 Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya

Imamat 20:27 Apabila seorang laki-laki atau perempuan dirasuk arwah atau roh peramal, pastilah mereka dihukum mati, yakni mereka harus dilontari dengan batu dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri."

Ulangan 18:11 seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.


pertama2, Samuel tidak diyakini Katolik sebagai orang2 mati, dia termasuk orang2 yang hidup (Baca penjelasan saya dihalaman satu point 6). Jika Samuel sungguh2 menampakkan diri (dan penampakan itu tentu atas perkenanan Tuhan), maka perbuatan Samuel itu diyakini Gereja katolik bukanlah bentuk penolakan terhadap kitab Imamat dan Ulangan.

Kedua, Imamat dan Ulangan adalah larangan terhadap praktek yang tidak dilakukan di dalam Tuhan (kunci: kata2 "berpaling dari Tuhan"), Samuel, seperti yang saya katakan sebelumnya, diyakini Gereja Katolik sebagai orang yang keniscayaannya adalah di dalam Tuhan. Sebab jika Samuel menampakkan diri Tidak di dalam Tuhan, berarti Samuel telah murtad kepada Tuhan dan mendukung "perzinahan" (bdk. Im 20:6).

Quote:
Note: satu hal lagi ,kasus Samuel diatas sebenarnya masih controversial, apakah benar Roh Samuel atau bukan? Namun saya tidak akan membahas hal ini.


Tidak ada ayat Alkitab yang menyatakan bahwa Roh itu bukan Samuel, Alkitab jelas2 menyatakan dia adalah Samuel. Jika ada Sola Scripturist menyatakan dia bukan Samuel, berarti Sola Scripturist ini telah menyangkal Alkitab yang diyakininya sebagai satu2nya kebenaran Mutlak.

Kontroversial timbul karena ada kelompok Sola Scripturist yang menetang kewibawaan Alkitab yang jelas2 menyatakan dia adalah "Samuel," suatu tindakan yang keniscayaannya adalah menghancurkan validitas keimanannya sendiri.


Quote:
Kemudian mengenai argumentum ex silentio, saya tidak mengatakan bahwa yg tidak tertulis pasti salah. Namun karena kita mengimani bahwa Alkitab adalah Kebenaran yg mutlak maka sesuatu yang di luar Alkitab patut dipertanyakan kebenarannya. Apalagi kata “doa” sendiri sudah jelas di dalam Alkitab dipakai hubungannya dengan Allah bukan yg lain. Sehingga jika ada ajaran di luar Alkitab yg memiliki pengertian yg berbeda maka dapat kita katakan hal tersebut tidak Alkitabiah. Beda halnya dengan kata “TriTunggal” yang memang tidak ada istilah tsb di dalam Alkitab namun kata tersebut digunakan hanya untuk memahami Allah yang di imani umat Kristiani yang pengertiannya ada di dalam Alkitab.


Ini sudah saya jawab di atas.

Quote:
Sebagai contoh kasus:
Di dalam Alkitab tidak ada secara eksplisit mengenai larangan Polygami, namun Alkitab menekankan pada pernikahan monogamy. Lalu , Apakah menurut anda Polygami adalah kebenaran karena tidak ada larangan secara eksplisit??


Larangan Polygami dalam iman Katolik lebih banyak berdasarkan ajaran Magisterium yang seberwibawa Alkitab, jadi Katolik tidak masalah melarang Polygami. Tetapi Reformasi mungkin akan kesulitan karena memang agaknya Alkitab tidak secara eksplisit melarang Polygami. Jadi Argumentasi anda ini lagi2 tidak bisa dipakai untuk membenarkan larangan dari anda, kecuali larangan anda seberwibawa Alkitab.

Jadi anda tetap saja masih melakukan Argumenum ex silentio, lebih parah lagi larangan anda yang "berdasarkan Alkitab" rupa2nya malah sendirinya tidak alkitabiah.


Quote:
Dari kasus di atas maka saya tidak harus membuktikan dengan ayat mengenai larangan berdoa terhadap orang yg meninggal. Walaupun sebenarnya saya sudah memberikan ayat2 mengenai larangan berhubungan dengan arwah. (ayat2 diatas).
Namun sebaliknya mengenai doa, Alkitab dengan jelas memberikan pengertian mengenai kata ini yaitu berhubungan dengan Allah. Jadi jika ada ajaran yg memberikan pengertian yg berbeda dari pengertian yg diajarkan oleh Alkitab maka paling tidak ada kasus yg sama spt yg di ajarkan oleh ajaran khatolik


Sudah dijawab di atas.


Quote:
Saya rasa ada perbedaan pengertian mengenai hal ini, seperti pada postingan sebelumnya, pengertian saling mendoakan disini adalah bukan berarti si Pendoa statusnya lebih mantap(lebih mudah dikabulkan doanya,dsbnya), karena di dalam Tuhan semuanya statusnya sama.
Misalkan saja ada seorang umat yg sakit kemudian minta di doakan oleh salah seorang Pendeta, maka pengertian minta di doakan disini bukan dalam pengertian bahwa status si pendoa lebih tinggi dan lebih mudah dikabulkan doanya, jika demikian maka akan terjadi seseorang akan minta di doakan oleh si Pendeta A dan tidak mau di doakan oleh si Pendeta B karena doa si pendeta A lebih manjur daripada si B, dsbnya. Jika demikian maka Pendeta udah seperti dukun saja.
Namun pengertian saling mendoakan disini lebih kepada saling support (saling dukung di dalam doa) namun status mereka tetap sama dihadapan Allah, dan bukan berarti si A lebih tinggi dari si B ,dll. Atau dengan kata lain bukan hanya umat yg di doakan oleh Pendeta, Pendoa syafaat,dsbnya.. namun pendeta pun di doakan oleh umat.

Dan seperti pada postingan sebelumnya, gereja Reformasi tidak pernah mengajarkan bahwa jika seseorang di doakan oleh orang tertentu maka doanya akan dikabulkan, tetapi Gereja Reformasi mengajarkan bahwa doa seseorang dikabulkan berdasarkan kehendak Allah dan bukan karena orang tertentu yg mendoakannya. Artinya jika seseorang minta didoakan oleh seorang Pendeta , mungkin tidak doanya tidak dikabulkan?? Jawabnya mungkin saja ,jika Doa tsb tidak sesuai dengan kehendak Allah.
Dan jika umat sudah memiliki pengertian seperti ini, maka pada saat umat minta didoakan, maka pengertiannya bukan kepada berharap doanya dikabulkan karena orang tertentu yg mendoakannya, tetapi lebih kepada saling mendukung di dalam doa, namun masalah dikabulkan atau tidaknya tetap tergantung kepada kehendak Allah.


Pertama2, Dikabulkan atau tidak memang bergantung pada kehendak Allah sendiri, dan GerejaKatolikpun juga menganggap bahwa permintaan doa dan saling mendoakan bisa dilakukan dalam konteks saling support. Namun permasalahan kuasa doa setiap orang memang berbeda2, setidaknya ada dikalangan sebagian (tidak semua) Gereja Reformasi. Misalnya di Gereja Reformasi tertentu ada orang tertentu yang bisa mendoakan kesembuhan, yang anehnya jika dimintakan ke pendeta lain yang tidak punya kuasa doa semacam itu juga tidak akan sembuh. Umumnya Gereja Reformasi yang mengajarkan demikian termasuk dalam kelompok Kharismatik yang mengakui adanya 9 Karunia Roh yang diberikan berbeda2 kepada orang yang berbeda. Maka ada orang yang berkuasa mendoakan kesembuhan sementara yang lainnya tidak punya. Gereja Katolik, meskipun berdasarkan penafsiran dan sumber ayat yang berbeda, juga meyakini bahwa ada orang2 yang diberi karunia tertentu sehingga doanya yang berkaitan dengan karunia itu lebih berkuasa daripada orang2 lain. Tetapi mungkin anda tidak termasuk golongan Gereja Kharismatik dan sudah pasti bukan Katolik, maka ini bisa membantu anda menjelaskan pemahaman Katolik:

1. Yesus mengajarkan bahwa iman sebesar biji sesawi dapat menggeser gunung (Mat 17:20), maka diandaikan bahwa iman yang lebih kecil dari itu tidak bisa. Perhatikan bahwa besarnya iman (bukan ketiadaan iman) menentukan besarnya kuasa doa.

2. Yakobus mengajarkan bahwa doa orang benar Kuat kuasanya (Yak 4:16), maka diandaikan bahwa doa orang tidak benar tidak kuat kuasanya. Pembenaran, dalam iman Katolik bukanlah disposisi dari keadaan berdosa ke keadaan diselamatkan seperti yang diyakini Gereja2 Reformasi melainkan pengangkatan status dari Anak2 Adam ke Anak2 Allah. Artinya seorang yang diselamatkan belum tentu sudah dibenarkan. Orang yang sudah pasti dibenarkan adalah orang2 Kudus di surga, sementara orang2 di Bumi belum tentu sudah dibenarkan, maka doa2 orang2 Kudus lebih berkuasa daripada orang2 yang belum tentu sudah dibenarkan di Bumi. Butuh pembahasan teologis yang panjang (namun Alkitabiah) untuk menjelaskan ini dan bukan maksud saya menjelasakannya sekarang, tetapi setidaknya dari sudut pandang teology ini, maka adanya orang yang lebih berkuasa doanya tidaklah bertentangan dengan Alkitab.

Mungkin anda bertanya2, lantas mengapa di treads keselamatan-karena-iman-dan-perbuatan-vt2825.html saya menggunakan surat Yakobus untuk menolak paham keselamatan karena iman saja padahal Teology katolik membedakan "penyelamatan" dnegan "pembenaran"?

Jawabannya adalah, karena treads tersebut khusus saya gunakan untuk menjawab paham Sola Fide Klasik sebenarnya menyamakan pembenaran dnegan penyelamatan (Luther mendasarkan paham Sola Fide pada Rm 3:28 yang menggunakan kata "pembenaran", dalam hal ini dalam pandangan Luther, Pembenaran = penyelamatan). Disini saya tunjukkan apabila berangkat dnegan paradigma seperti itu, maka paham Sola Fide justru ditentang Alkitab. Namun diskusi atas hal ini kita lakukan di treads tersebut saja supaya alur diskusi terarah.

Salam Kasih


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Sat Jul 11, 2009 12:20 am 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Mon Oct 08, 2007 9:00 am
Posts: 645
Lebih lanjut, saya akan memberikan tambahan atas jawaban saya kepada anda (Mensupernova):

Valkyrie wrote:
Mensupernova wrote:
Imamat 19:31 Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu.

Imamat 20:6 Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya

Imamat 20:27 Apabila seorang laki-laki atau perempuan dirasuk arwah atau roh peramal, pastilah mereka dihukum mati, yakni mereka harus dilontari dengan batu dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri."

Ulangan 18:11 seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.



pertama2, Samuel tidak diyakini Katolik sebagai orang2 mati, dia termasuk orang2 yang hidup (Baca penjelasan saya dihalaman satu point 6). Jika Samuel sungguh2 menampakkan diri (dan penampakan itu tentu atas perkenanan Tuhan), maka perbuatan Samuel itu diyakini Gereja katolik bukanlah bentuk penolakan terhadap kitab Imamat dan Ulangan.

Kedua, Imamat dan Ulangan adalah larangan terhadap praktek yang tidak dilakukan di dalam Tuhan (kunci: kata2 "berpaling dari Tuhan"), Samuel, seperti yang saya katakan sebelumnya, diyakini Gereja Katolik sebagai orang yang keniscayaannya adalah di dalam Tuhan. Sebab jika Samuel menampakkan diri Tidak di dalam Tuhan, berarti Samuel telah murtad kepada Tuhan dan mendukung "perzinahan" (bdk. Im 20:6).


Imamat 19:31 Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu.

Imamat 20:6 Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya


Kedua ayat ini harus baca secara lengkap, pada ayat tersebut dinyatakan bahwa kita tidak boleh mencari mereka dalam konteks berpaling dari Allah (berpaling kepada arwah) dan dengan demikian Menjadi najis dengan mereka. Artinya ayat ini menyatakan bahwa seseorang tidak boleh menemui mereka dalam keadaan meninggalkan Allah sehingga mereka menjadi najis karena menjadikan arwah2 itu berhala mereka. Maka sejauh seseorang menemui roh tetapi dilakukan di dalam Allah, maka sejauh itu orang tersebut tidak melanggar Im 19:31 maupun Im 20:6. Apalagi seperti yang saya jelaskan di halaman satu point 2 dan 6, orang2 Kudus yang berkontak dengan umat katolik adalah orang2 yang hidup dan dalam keadaan satu Tubuh dengan umat Katolik.

Imamat 20:27 Apabila seorang laki-laki atau perempuan dirasuk arwah atau roh peramal, pastilah mereka dihukum mati, yakni mereka harus dilontari dengan batu dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri."

Imamat 20:27 adalah untuk orang2 yang kerasukan. Umat Katolik tidak berkomunikasi dengan para Kudus dalam konteks kerasukan.

Ul 18:11 seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.

Bahasa Indonesia menggunakan kata "Arwah," kita perlu tahu maksud Arwah di sini apa. Untuk bisa memahaminya, baiklah kita gunakan Alkitab berbahasa Inggris dgn berbagai Variasi:

RWV 18:11 Or a charmer, or a consulter with mediums, or a wizard, or one who calls up the dead.

NKJV 18:11 "or one who conjures spells, or a medium, or a spiritist, or one who calls up the dead.

DR 18:11 Nor charmer, nor any one that consulteth pythonic spirits, or fortune tellers, or that seeketh the truth from the dead.


"Arwah" di sini dapat dimaksudkan tiga:
1. Medium
2. Spiritist
3. Pythonic spirits

mari kita lihat pengertian pertama (medium):
http://www.thefreedictionary.com/medium

Noun
pl -dia or -diums
1. a middle state, degree, or condition: the happy medium
2. a substance which has a particular effect or can be used for a particular purpose: linseed oil is used as a thinning medium for oil paint
3. a means for communicating information or news to the public
4. a person who can supposedly communicate with the dead


Rupanya "medium" dalam konteks ulangan adalah orang yang bisa berbicara dengan orang mati.

sekarang kita lihat pengertian kedua (Spiritist):
http://www.thefreedictionary.com/spiritist

1. The belief that the dead communicate with the living; spiritualism.
2. The practices or doctrines of those holding such a belief.



Rupanya "spiritist" dalam konteks ulangan adalah orang yang bisa berbicara dengan orang mati.

Lalu kita lihat pengertian ketiga (Pythonic spirits)

py·thon·ic (p-thnk)
adj.
1. Of, relating to, or resembling a python.
2. Of or resembling an oracle; prophetic.
3. Of extraordinary size and power.


Rupanya "phytronic spirits" dalam konteks ulangan adalah orang yang bisa berbicara dengan Iblis (Iblis dalam Kitab Kejadian digambarkan sebagai Ular yang membawa kematian bagi Adam dan Hawa).

Berdasarkan pemahaman istilah "Arwah" yang dalam konteks medium, Spiritist, atau Phytonic spirits, maka yang dimaksud "arwah" adalah orang2 mati atau Iblis. Namun Iman Katolik mengimani Bahwa Para Kudus adalah orang2 yang Hidup, bukan orang2 Mati (bdk.Why 11:4-12; Luk 20:37-40) Maka Praktek Katolik tidak bertentangan dengan Kitab Ulangan 18:11.

Salam Kasih


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Sat Jul 11, 2009 5:15 am 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Mon Oct 08, 2007 9:00 am
Posts: 645
Tambahan jawaban:

Valkyrie wrote:
1. Yesus mengajarkan bahwa iman sebesar biji sesawi dapat menggeser gunung (Mat 17:20), maka diandaikan bahwa iman yang lebih kecil dari itu tidak bisa. Perhatikan bahwa besarnya iman (bukan ketiadaan iman) menentukan besarnya kuasa doa.

2. Yakobus mengajarkan bahwa doa orang benar Kuat kuasanya (Yak 4:16), maka diandaikan bahwa doa orang tidak benar tidak kuat kuasanya. Pembenaran, dalam iman Katolik bukanlah disposisi dari keadaan berdosa ke keadaan diselamatkan seperti yang diyakini Gereja2 Reformasi melainkan pengangkatan status dari Anak2 Adam ke Anak2 Allah. Artinya seorang yang diselamatkan belum tentu sudah dibenarkan. Orang yang sudah pasti dibenarkan adalah orang2 Kudus di surga, sementara orang2 di Bumi belum tentu sudah dibenarkan, maka doa2 orang2 Kudus lebih berkuasa daripada orang2 yang belum tentu sudah dibenarkan di Bumi. Butuh pembahasan teologis yang panjang (namun Alkitabiah) untuk menjelaskan ini dan bukan maksud saya menjelasakannya sekarang, tetapi setidaknya dari sudut pandang teology ini, maka adanya orang yang lebih berkuasa doanya tidaklah bertentangan dengan Alkitab.


3. Yakobus juga menganjurkan, apabila ada orang yang sakit orang itu perlu memanggil penatua supaya mereka mendoakan ka rena penatua2 itu adalah orang benar yang doanya berkuasa untuk menyembuhkan dan mengampuni dosa (bdk. Yak 5:14-15). Perhatikan bahwa Yakobus menyatakan agar orang itu meminta orang lain mendoakan dan bukannya memerintahkan supaya dia berdoa sendiri ataupun meminta agar orang itu menambah imannya (karena menurut anda setiap orang beriman sama2 punya kuasa doa yang bobotnya sama). Ini artinya ada orang2 tertentu yang memang lebih punya kuasa dalam mendoakan hal2 tertentu, dalam hal ini mendoakan rupanya tidak bisa dimengerti hanya sekedar saling support aja tetapi memang ada orang2 tertentu yang lebih berkuasa dalam doa2 tertentu.

Salam Kasih


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Mon Jul 13, 2009 3:05 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP
User avatar

Joined: Fri Mar 28, 2008 12:53 pm
Posts: 368
Quote:
Pertama-tama, pengertian doa tidak dibiaskan, tetapi rupanya memang pengertian doa lebih luas daripada penyembahan kepada Allah saja. Untuk memahami ini, baiklah dipahami dulu bahwa istilah "berdoa" dalam pengertian Katolik di Indonesia tidak begitu berbeda dengan istilah "Pray" yang digunakan orang2 berbahasa Inggris. Maka menggunakan kamus online berbahasa Inggris akan membantu menjelaskan (Kamus definisi Online bahasa Indonesia tidak saya temukan). Berikut definisi "Pray"

http://www.thefreedictionary.com/pray


v.tr.
1. To utter or say a prayer or prayers to; address by prayer.
2. To ask (someone) imploringly; beseech. Now often used elliptically for I pray you to introduce a request or entreaty: Pray be careful.
3. To make a devout or earnest request for: I pray your permission to speak.
4. To move or bring by prayer or entreaty.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Verb 1. pray - address a deity, a prophet, a saint or an object of worship; say a prayer; "pray to the Lord"
commune - communicate intimately with; be in a state of heightened, intimate receptivity; "He seemed to commune with nature"
2. pray - call upon in supplication; entreat; "I beg you to stop!"
beg, implore
crave - plead or ask for earnestly
supplicate - ask humbly (for something); "He supplicated the King for clemency"
plead - appeal or request earnestly; "I pleaded with him to stop"
importune, insist - beg persistently and urgently; "I importune you to help them"
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dari pengertian di atas, tampak bahwa ternyata kata "Pray" (berdoa) dapat ditujukan kepada pihak selain Allah, dimana pengertiannya justru berbeda dengan sekedar penyembahan melainkan hanya komunikasi biasa. maka dari itu keberatan sementara Reformasi sebenarnya hanya dikarenakan masih menyangka istilah "doa" hanya boleh ditujukan kepada Allah saja padahal ternyata sebenarnya tidak. Keberatan Reformasi ini tidak timbul karena sikap anti Katolik, melainkan karena sikap kehati2an.

Kedua, mengukuti definisi di atas, bahwa ternyata "berdoa" juga boleh berarti berkomunikasi (dengan selain Allah), maka Ayat2 Alkitab yang mendukung praktek berkomunikasi kepada para Kudus itu sebenarnya ada:
1. Saul berbicara dengan Samuel (bdk. 1Samuel 1 Samuel 28:7-25), di mana Alkitab menegaskan bahwa yang berbicara adalah "Samuel" bukan "Roh yang menyerupai samuel"
2. Elia dan Musa menampakkan diri (kegiatan Aktif-> bentuk komunikasi sederhana) terhadap Yesus dan para Murid (bdk. Mar 9:4)
3. Orang2 Kudus menampakkan diri (Kegiatan AKtif -> bentuk komunikasi sederhana) dihadapan banyak orang (bdk. Matius 27:52-53).
4. Elia yang sudah meninggal dapat berkontak dengan Yehoram Raja Yehuda melalui surat teguran (bdk.2 Taw 21:12-15 )
5. Yohannes Pelihat berkomunikasi dengan Makhluk Kudus di Surga (bdk Kitab Wahyu)
6. Maria dan Zakharia Berkomunikasi dengan Gabriel (Luk 1:11-38)

JAdi sebenarnya praktek berdoa kepada makhluk selain Allah itu ada, tetapi penggunaan istilah "doa" itu yang memang tidak digunakan di ALkitab untuk selain Allah, namun sejauh ini tidak anda sangkal bahwa tidak ada ayat ALkitab yang mengatakan kalau istilah "doa" hanya boleh untuk Allah saja saja.


Anda berusaha menggunakan kamus saat ini untuk mendukung definisikan kata “doa” sesuai dengan ajaran anda, jelas hal ini tidak benar. Kata2 pada Kamus saat ini, jelas ditulis oleh penulisnya untuk menjelaskan kata tersebut sesuai dengan definisi2 yang ada /dipakai saat ini termasuk yg digunakan oleh ajaran khatolik. Jadi jika saat ini kata”doa” digunakan oleh ajaran khatolik dengan pengertian “komunikasi ” ,maka penulis kamuspun akan memasukkan definisi dari ajaran khatolik di dalam kamusnya.

Maka dalam hal ini kita harus "back to BIBLE", apa yang didefinisikan oleh Alkitab, maka pengertian dari kata itu sendiri yg harus kita gunakan untuk menafsirkan Ayat2 yg ada di Alkitab.
Jadi jika kata ”doa” di dalam Alkitab hanya dalam pengertian penyembahan kepada Allah, maka kata tsb memang harus di mengerti demikian. Dan jika kita dengan sengaja memperluas kata tersebut maka dapat dikatakan perluasan kata tersebut tidak Alkitabiah karena memang tidak ada pengertian yg demikian di dalam Alkitab. Apalagi memaksakan perluasan arti kata tsb untuk menafsirkan ayat2 Alkitab, jelas hal ini tidak benar, karena pengertian kata “Doa” itu sendiri sudah jelas di dalam Alkitab.

Contoh sederhana saja:
Jika anda membuat suatu buku, di dalam buku anda tersebut ada satu kata yg sudah anda definisikan untuk mengerti kalimat2 yg ada di dalam buku anda. Sehingga orang yg membaca buku anda sudah jelas maksud dari kata tersebut pada saat membaca buku anda.

Kemudian tiba2 saya perluas definisi kata anda, kemudian saya paksakan definisi saya ini untuk mengerti kalimat2 yg ada di dalam buku anda( padahal definisi /pengertian yg saya buat tidak pernah ada di dalam buku anda)
Maka apa yg saya lakukan jelas tidak benar, karena sudah tidak sesuai lagi dengan maksud dari si penulis, dan justru saya akan menyimpangkan pengertian2 yg ada di dalam buku anda.



Quote:
Anda akui bahwa istilah "Tritunggal" memang TIDAK ADA DI ALKITAB, tetapi anda akui bahwa sekalipun istilah itu tidak dipakai, tetapi penggunaan istilah itu boleh untuk menjelaskan suatu gagasan di Alkitab. Maka jika anda konsisten, seharusnya andapun tidak keberatan apabila istilah "doa" digunakan untuk menjelaskan suatu gagasan yang Alkitabiah seperti yang saya tunjukkan di atas.

Jadi begini:
1. Istilah "Tritunggal" yang tidak ada di Alkitab boleh digunakan untuk menjelaskan suatu gagasan alkitabiah
2. Apalagi istilah "doa" yang ada di Alkitab, sudah tentu boleh2 saja digunakan untuk menjelaskan suatu gagasan alkitabiah, apalagi apabila tidak ada yang alkitab yang melarang penggunaan istilah itu untuk gagasan selain Menyembah Allah.


Sekali lagi , ini 2 hal yg berbeda, istilah kata TriTunggal tidak ada di dalam Alkitab ,namun kata tersebut untuk menjelaskan pengertian yg ada di dalam Alkitab.
Beda dengan kata “doa”, kata “doa” sudah digunakan di dalam Alkitab dan pengertiannya sudah jelas di dalam Alkitab yaitu berhubungan dengan Allah. Jadi jika kata doa sudah digunakan di dalam Alkitab dan sudah jelas pengertiannya tsb maka tidak boleh didefinisikan lagi dengan hal lain yg berbeda artinya dan dengan maksud utk menafsir Alkitab.
Jadi bedanya dengan kata “TriTunggal”, kata TriTunggal tidak pernah dipakai di dalam Alkitab sehingga kata tsb dapat di definisikan utk suatu paham tertentu, kecuali kata Tritunggal memang sudah digunakan di dalam Alkitab dan mempunyai pengertian yg berbeda dengan pemahaman Trinitas, maka kita tidak boleh menggunakan kata “Tritunggal” utk menjelaskan Allah yang Esa (3 pribadi). Karena akan mengacaukan arti dari kata tsb.


Quote:
Seperti yang telah saya uraikan sebelumnya, "doa" bisa punya pengertian sempit yaitu berdoa kepada Allah saja. Dalam Lukas 11:2, Yesus menggunakan istilah itu untuk "doa" yang memang ditujukan kepada Bapa, tapi ayat itu lagi2 tidak menunjukkan kalau Yesus melarang penggunaan istilah "Doa" untuk menggambarkan komunikasi kepada makhluk2 selain Allah (Yesus tdiak menolak adanya pengertian "doa" dalam arti luas).

Bukan hanya itu, Yesus di luk 11:2 tidak mengajarkan untuk berdoa kepada Diri-Nya sendiri, apakah lantas berdasarkan Luk 11:2 kita boleh berkata bahwa berdoa kepada Yesus itu tidak mengikuti kehendak Yesus? sekalipun Yesus adalah Allah, tetapi Luk 11:2 Yesus mengajarkan doa yang hanya untuk Pribadi Pertama Trinitas, yaitu Bapa, Jadi argumentasi anda akan menimbulkan masalah demikian: Yesus memang Allah, tetapi kita hanya boleh berdoa kepada Bapa saja.


Darimana anda tahu Yesus tidak menolak kata “doa” dalam arti luas?? Anda sudah membuat suatu asumsi yg tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Alkitab sudah dengan jelas mendefiniskan pengertian dari kata “doa” demikian juga dengan ajaran2 Yesus, justru jika anda mendefinisikan diluar apa yg sudah didefinisikan oleh Alkitab, disitu anda sudah menyimpang dari Alkitab.
Jika anda berasumsi bahwa jika tidak ada ayat yg menyatakan jesus tidak melarang kata”doa” diperluas berarti Yesus setuju kata tsb diperluas, maka hal ini tidak benar. Karena jika memang Yesus setuju kata tsb diperluas maka Yesus akan mengajarkan hal tsb namun kenyataannya tidak. Dan Alkitab bukan sebuah kitab dimana untuk menjelaskan sebuah definisi kata, dimana jika suatu kata di definisikan A , maka harus ada ayat yg menjelaskan larangan yg bukan A, karena Alkitab bukan sebuah kamus, buku tatabahasa, dll.

Anda katakan Yesus tidak pernah mengajarkan berdoa kepada DiriNya?? coba anda baca ayat2 dibawah ini khususnya ayat Yohanes 16:26 ?

Matius 18:20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

Yohanes 14:13 dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.

Yohanes 14:14 Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."

Yohanes 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

Yohanes 16:23 Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.

Yohanes 16:26 Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa,



Quote:
Memang Yesus tidak mengajarkan "doa" dalam pengertian luas, namun Yesus sendiri tidak pernah melarang penggunaan "doa" untuk pengertian luas tersebut. Maka dari itu larangan sementara orang2 reformasi yang TIDAK ALKITABIAH lah yang sesungguhnya patut dipertanyakan.

Konsisten dengan logika anda ini, penggunaan "Tritunggal" yang tidak ada di Alkitabpun patut dipertanyakan. Sebab Yesus tidak pernah mengajarkan penggunaan istilah "Tritunggal" untuk menjelaskan Allah.


Sudah dijawab diatas

Quote:
Sayatidak begitu paham sejarah penggunaankata "pray" atau "doa", tetapi dari Kamus yang saya rujuk menunjukkan adanya penggunaan istilah itu untuk sesuatu selain Allah, Kamus itu memberikan pengertian yang lebih luas dari sekedar "penyembahan kepada Allah." Kamus itu bukanlah Kamus yang inklusif milik Gereja Katolik.


Walaupun kamus tsb bukan inklusif milik Gereja Katolik, namun penulis2 saat ini tentu mengetahui definisi “doa” dari ajaran Khatolik sehingga mereka pun memasukkan definisi tsb ke dalam kosa kata kamus mereka. Namun definisi ini jelas bukan apa yg dimaksud di dalam Alkitab.


Quote:
Masalah Tradisi dan Magisterium akan saya buatkan treads tersendiri sebagai jawaban atas Sola Scriptura, tetapi satu hal yang pasti: Alkitab ditulis dan dikanon oleh Magisterium, jika tidak percaya penulis dan pengkanonnya, maka untuk apa percaya Alkitab?


Saya mengatakan bahwa tradisi dan Magisterium bisa salah dan bukan Kebenaran yang Mutlak, hal ini bukan berarti semuanya yg berhubungan dengan hal itu salah. Dan yang di kritik oleh Gereje Reformasi adalah hal2 yg salah, sedangkan yg benar diterima. Dan sebagai referensinya adalah Alkitab itu sendiri, sesuatu yg tidak sesuai dengan Alkitab, maka hal itulah yg dikritik.


Quote:
Larangan Polygami dalam iman Katolik lebih banyak berdasarkan ajaran Magisterium yang seberwibawa Alkitab, jadi Katolik tidak masalah melarang Polygami. Tetapi Reformasi mungkin akan kesulitan karena memang agaknya Alkitab tidak secara eksplisit melarang Polygami. Jadi Argumentasi anda ini lagi2 tidak bisa dipakai untuk membenarkan larangan dari anda, kecuali larangan anda seberwibawa Alkitab.

Jadi anda tetap saja masih melakukan Argumenum ex silentio, lebih parah lagi larangan anda yang "berdasarkan Alkitab" rupa2nya malah sendirinya tidak alkitabiah.


Sama sekali tidak, apa yang ditekankan/dinyatakan oleh prinsip2 Alkitab jelas, dan itu adalah kehendak Allah, maka diluar itu berarti harus dipertanyakan kebenarannya.

Saya ambil contoh:
Misalkan di dalam Alkitab diajarkan bahwa kita berdoa kepada Allah. Kemudian tidak ada ayat yg menyatakan / larangan tidak boleh berdoa kepada yang lain(kwan kong, kwan im,dll), lalu hal tsb menjadi kebenaran?
Atau contoh lainnya lagi, tidak ada larangan merokok, narkoba, jadi pengedar narkoba, dll.
Lalu anda anggap bahwa hal itu menjadi kebenaran?? Jika demikian bukankah itu anda menolak prinsip2 yg ada di dalam Alkitab.
Jika anda mengatakan bahwa di dalam Alkitab tidak mengajarkan hal tsb namun anda berpegang atas ajaran Magisterium yg anda anggap seberwibawa Alkitab. Justru bagi saya anda sudah melecehkan Alkitab karena tanpa anda sadari anda sudah menyatakan bahwa Alkitab tidak sempurna dan perlu ajaran dari Magisterium untuk menyempurnakan hal tsb.
dan tanpa anda sadari pun ,anda sudah menentang ayat berikut ini.

2 Timotius 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.


Bagi saya pribadi, Alkitab sudah sempurna, tidak perlu ditambah atau dikurangi.(SolaScriptura)




GBU
MEN_SUPERNOVA


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Fri Jul 17, 2009 12:29 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Mon Oct 08, 2007 9:00 am
Posts: 645
Mensupernova wrote:
Anda berusaha menggunakan kamus saat ini untuk mendukung definisikan kata “doa” sesuai dengan ajaran anda, jelas hal ini tidak benar. Kata2 pada Kamus saat ini, jelas ditulis oleh penulisnya untuk menjelaskan kata tersebut sesuai dengan definisi2 yang ada /dipakai saat ini termasuk yg digunakan oleh ajaran khatolik. Jadi jika saat ini kata”doa” digunakan oleh ajaran khatolik dengan pengertian “komunikasi ” ,maka penulis kamuspun akan memasukkan definisi dari ajaran khatolik di dalam kamusnya.


Logika anda terbalik, Penulis Kamus itu menjelaskan bagaimana kata doa BOLEH DIGUNAKAN, maka sejauh suatu pengertian dapat dipakai maka sejauh itu tidak ada masalah penggunaann kata tersebut. Sebagai contoh, bisa saja ada yang menggunakan kata "Doa" untuk pengertian "makan," tetapi adakah pengertian itu dimasukkan di kamus? Tidak bukan? meskipun pengertian "doa=makan" kenyataannya tidak bisa dipersalahkan, tetapi bermasalah karena tidak ada definisi yang mendukungnya. Tetapi dalam pengertian "doa=komunikasi" rupanya ada definisi pendukungnya, maka penggunaan itu tidak bermasalah seperti yang anda nyatakan.

Maka keberatan anda tidak tepat karena anda berusaha menolak penggunaan istilah atas definisi yang justru diperbolehkan. Dengan kata lain, dari segi definisi, keberatan anda tidak punya bobot.


Quote:
Maka dalam hal ini kita harus "back to BIBLE", apa yang didefinisikan oleh Alkitab, maka pengertian dari kata itu sendiri yg harus kita gunakan untuk menafsirkan Ayat2 yg ada di Alkitab.
Jadi jika kata ”doa” di dalam Alkitab hanya dalam pengertian penyembahan kepada Allah, maka kata tsb memang harus di mengerti demikian. Dan jika kita dengan sengaja memperluas kata tersebut maka dapat dikatakan perluasan kata tersebut tidak Alkitabiah karena memang tidak ada pengertian yg demikian di dalam Alkitab. Apalagi memaksakan perluasan arti kata tsb untuk menafsirkan ayat2 Alkitab, jelas hal ini tidak benar, karena pengertian kata “Doa” itu sendiri sudah jelas di dalam Alkitab.


1. Larangan anda secara susbtansi sendiri TIDAKLAH ALKITABIAH. Anda masih terus berusaha memaksakan fallacy logika Argumetum ex silentio anda dengan menyatakan: Tidak tertulis di alkitab berarti salah. Justru dengan begitu kita boleh semakin yakin bahwa penolakan penggunaan kata "Doa" untuk orang2 selain Allah tidak ada dasarnya sama sekali.

2. Ini lebih dibuktikan dengan fakta bahwa Yesus sendiri tidak mengatakan bahwa istilah "berdoa" hanya kepada Allah saja. Yesus memang mengajarkan istilah "berdoa" yang ditujukan kepada Allah, namun tidak sekalipun Yesus menolak/ melarang penggunaan istilah itu untuk kepentingan lain.

3. Larangan perluasan makna yang anda ajukan dalam kenyataannya juga melanggar prinsip akademis, sebab secara akademis rupanya istilah "doa" memang boleh dimengerti dalam arti komunikasi seperti tertulis di kamus. Sebelumnya anda membuat argumentasi bahwa penggunaan Kamus itulah yang tidak tepat, maka dengan demikian anda sudah menunjukkan bahwa anda merasa lebih benar daripada ahli bahasa.


Quote:
sederhana saja:
Jika anda membuat suatu buku, di dalam buku anda tersebut ada satu kata yg sudah anda definisikan untuk mengerti kalimat2 yg ada di dalam buku anda. Sehingga orang yg membaca buku anda sudah jelas maksud dari kata tersebut pada saat membaca buku anda.

Kemudian tiba2 saya perluas definisi kata anda, kemudian saya paksakan definisi saya ini untuk mengerti kalimat2 yg ada di dalam buku anda( padahal definisi /pengertian yg saya buat tidak pernah ada di dalam buku anda)
Maka apa yg saya lakukan jelas tidak benar, karena sudah tidak sesuai lagi dengan maksud dari si penulis, dan justru saya akan menyimpangkan pengertian2 yg ada di dalam buku anda.


Analogy tidak mengena. penggunaan suatu istilah perlu melihat konteksnya. Misalnya anda membuat sebuah buku dan menyatakan "Allah mencintai kita," Maka kata "mencintai" di sana hanya boleh dimengerti dalam pengertian "Agape." Namun misalnya menulis "Romeo mencintai Juliet," maka kata "mencintai" di sana dalam pengertian "Phillia" atau juga "Eros" namun tidak bisa dalam pengertian "Agape"

Perhatikan bahwa yang digunakan adalah sama2 kata "mencintai" tetapi maknanya sememangnya berbeda-beda (dalam bahas Yunani, pembedaan makna dapat dibedakan dengan pembedaan kata, tetapi kurang dalam bahasa Indonesia maupun Inggris).

Kita tidak bisa berkata pengertian kedua dan ketiga itu salah hanya karena buku pertama memberikan pengertian satu, demikian juga tidak bisa berkata pengertian kesatu salah hanya karena buku kedua memberikan pengertian dua atau tiga.

Harus dilihat dulu konteksnya kapan kata2 itu digunakan, dalam konteks Allah-Manusia, kata "Cinta" dimengerti "Agape," namun dalam konteks manusia-manusia, kata cinta dimengerti "Eros" atau "Phillia."

NAH DEMIKIAN PULA "DOA"

Ketika Yesus mengajarkan doa kepada Allah, maka konteks "Doa" dalam ajaran Yesus adalah dalam pengertian "menyembah." Namun ketika Gereja Katolik mengajarkan doa kepada orang2 Kudus, maka konteks "doa" adalah komunikasi biasa.

Quote:
Sekali lagi , ini 2 hal yg berbeda, istilah kata TriTunggal tidak ada di dalam Alkitab ,namun kata tersebut untuk menjelaskan pengertian yg ada di dalam Alkitab.
Beda dengan kata “doa”, kata “doa” sudah digunakan di dalam Alkitab dan pengertiannya sudah jelas di dalam Alkitab yaitu berhubungan dengan Allah. Jadi jika kata doa sudah digunakan di dalam Alkitab dan sudah jelas pengertiannya tsb maka tidak boleh didefinisikan lagi dengan hal lain yg berbeda artinya dan dengan maksud utk menafsir Alkitab.
Jadi bedanya dengan kata “TriTunggal”, kata TriTunggal tidak pernah dipakai di dalam Alkitab sehingga kata tsb dapat di definisikan utk suatu paham tertentu, kecuali kata Tritunggal memang sudah digunakan di dalam Alkitab dan mempunyai pengertian yg berbeda dengan pemahaman Trinitas, maka kita tidak boleh menggunakan kata “Tritunggal” utk menjelaskan Allah yang Esa (3 pribadi). Karena akan mengacaukan arti dari kata tsb.


Percuma anda berargumentasi demikian karena anda hanya menunjukkan inkonsistensi. Belum termasuk kesalahan memahami tata bahasa (kamus definisi) dan larangan anda yang tidak alkitabiah yang telah saya tunjukkan di atas.

Inkonsistensinya di sini:
1. Istilah Tritunggal memang tidak ada di Alkitab, namun pada masa yang sama anda membenarkan penggunaan istilah tidak Alkitabiah ini.
2. Sebaliknya, pengertian kedua dari "doa" tidak ada di Alkitab, namun pada masa yang sama anda menyalahkan pengertian kedua yang tidak ada di Alkitab ini.

Percuma anda menekankan perbedaan antara yang satunya adalah istilah sementara yang satunya pengertian, padahal masalahnya adalah dakwaan anda yang berdasarkan argumentum ex silentio (tidak tertulis di Alkitab= salah/ bermasalah). Argumentasi anda tidak relevan.

Memangnya apa dasar Alkitabnya kalau ada-tidaknya suatu istilah boleh tidak Alkitabiah sementara keberadaan definisi atas istilah itu haruslah Alkitabiah.

Quote:
Darimana anda tahu Yesus tidak menolak kata “doa” dalam arti luas?? Anda sudah membuat suatu asumsi yg tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Alkitab sudah dengan jelas mendefiniskan pengertian dari kata “doa” demikian juga dengan ajaran2 Yesus, justru jika anda mendefinisikan diluar apa yg sudah didefinisikan oleh Alkitab, disitu anda sudah menyimpang dari Alkitab.
Jika anda berasumsi bahwa jika tidak ada ayat yg menyatakan jesus tidak melarang kata”doa” diperluas berarti Yesus setuju kata tsb diperluas, maka hal ini tidak benar. Karena jika memang Yesus setuju kata tsb diperluas maka Yesus akan mengajarkan hal tsb namun kenyataannya tidak. Dan Alkitab bukan sebuah kitab dimana untuk menjelaskan sebuah definisi kata, dimana jika suatu kata di definisikan A , maka harus ada ayat yg menjelaskan larangan yg bukan A, karena Alkitab bukan sebuah kamus, buku tatabahasa, dll.


Darimana saya tahu Yesus tidak melarang pengunaan "doa" untuk pengertian lain?

Jawabannya sederhana dan Alkitabiah:
Tidak ada satupun larangan Yesus dalam penggunaan "doa" untuk pengertian lain.

Alkitab memberikan satu definisi "berdoa" tetapi tidak boleh dimengerti bahwa Alkitab secara otomatis menolak adanya definisi lain. Argumentasi anda inilah yang dinamakan Argumentum ex silentio.

Maka justru apabila anda, seorang Sola scripurist, melarang penggunaan definisi itu untuk pengertian lain, padahal Alkitab tidak melarangnya. Berarti anda sudah mendahului ajaran Alkitab bukan? Dengan demikian anda sudah menghancurkan validitas keimanan anda sendiri (Sola scriptura).

Dan justru pula karena seperti kata nada, "Alkitab bukanlah buku kamus," maka kitapun tidak boleh memperlakukan ALkitab sebagai buku kamus:
1. Menganggap bahwa jika Alkitab berkata ada "doa" dalam pengertian kepada Allah maka pengertian di luar itu salah.
2. Menganggap bahwa jika di Alkitab tidak ada kata "Trinitas" maka adanya istilah Trinitas dan berarti juga semua kemungkinan definisinya adalah salah.

Analogynya adalah Yesus tidak pernah menggunakan kata "Trinitas" apakah lantas kita boleh berasumsi penggunaan istilah "Trinitas" dilarang Yesus?

Maka sebenarnya dua fallacy logika yang anda lakukan:
1. Argumentum ex silentio
2. Non sequotor (berkesimpulan terlalu jauh dari semestinya).

Quote:
Anda katakan Yesus tidak pernah mengajarkan berdoa kepada DiriNya?? coba anda baca ayat2 dibawah ini khususnya ayat Yohanes 16:26 ?

Matius 18:20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

Yohanes 14:13 dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.

Yohanes 14:14 Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."

Yohanes 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

Yohanes 16:23 Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.

Yohanes 16:26 Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa,


Baca baik2 ayat tersebut:

1. Kata2 "Berdoa" sebatas ayat itu hanya dipakai dalam pengertian Berdoa di dalam Yesus Kepada Bapa (Di dalam =/= kepada).

2. Sementara "meminta" (bukan "bedoa") kepada Yesus bolehkah dimengerti "berdoa" kepada Yesus? Jika boleh, maka "meminta" kepada orang tua juga adalah bentuk "berdoa" kepada orang tua bukan?

Semenjak Yesus tidak terbukti mengajarkan untuk berdoa kepada Yesus, adakah lalu praktek Gereja Reformasi untuk bedoa kepada Yesus itu salah?


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Fri Jul 17, 2009 1:16 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP

Joined: Mon Oct 08, 2007 9:00 am
Posts: 645
Quote:
Walaupun kamus tsb bukan inklusif milik Gereja Katolik, namun penulis2 saat ini tentu mengetahui definisi “doa” dari ajaran Khatolik sehingga mereka pun memasukkan definisi tsb ke dalam kosa kata kamus mereka. Namun definisi ini jelas bukan apa yg dimaksud di dalam Alkitab.


Penulis bukan hanya tahu tetapi juga membenarkan kebolehan penggunaannya, itulah sebabnya mereka memasukkannya ke dala kamus. Kalau tidak dimasukkan ke dalam kamuspun juga belum tentu salah, namun masih diragukan kebolehannya.

Definisi yang diberikan adalam Alkitab terikat Konteksnya yang memang untuk Allah Bapa saja, maka sebatas pada ajaran Yesus tentang doa Bapa Kami saja, maka doa itu memang hanya untuk Bapa (Bahkan tidak Yesus dan tidak pula Roh Kudus). Tetapi jika istilah itu digunakan dalam konteks lain, maka definisi itu boleh dalam pengertian lain pula dan Alkitab tidak melarang penggunaan istilah itu. Toh Kita juga tetap berdoa kepada Yesus dan Roh Kudus (melepaskan konteks Doa Bapa Kami).

Quote:
Saya mengatakan bahwa tradisi dan Magisterium bisa salah dan bukan Kebenaran yang Mutlak, hal ini bukan berarti semuanya yg berhubungan dengan hal itu salah. Dan yang di kritik oleh Gereje Reformasi adalah hal2 yg salah, sedangkan yg benar diterima. Dan sebagai referensinya adalah Alkitab itu sendiri, sesuatu yg tidak sesuai dengan Alkitab, maka hal itulah yg dikritik.


1. Dalam Iman Katolik, Allah bersabda melalui Tradisi. Alkitab merupakan bentuk Tradisi yang tertulis, jika Tradisi bisa salah maka Alkitabpun bisa salah.
2. Alkitab itu ditulis dan dikanon oleh Gereja yang Mengajar (Magisterium), Jika Magisterium bisa salah, maka Alkitabpun jadinya bisa salah.
3. Ajaran Reformasi bahwa Alkitab tidak bisa salah sementara Tradisi dan Magisterium bisa salah sama sekali tidak dapat dipertanggungjawaban sebab yang menyusun Alkitab dan memeliharanya adalah manusia2 yang ditunjuk oleh Allah (Magisterium). Jika Magisterium bisa salah, maka susunan Alkitabpun bisa salah, maka kemungkinan Kitab Taurat, Para Nabi, Injil2 atau juga surat2 Para Rasul ada yang seharusnya tidak masuk Alkitab atau yang seharusnya masuk Alkitab malah tidak masuk Alkitab.

Namun yang terutama untuk memahami perbedaan Katolik dengan Reformasi:

Pertentangan antara Katolik dengan Reformasi sebenarnya bukanlah pada yang mengikuti mana Sabda Allah dan yang mana bukan, melainkan tafsiran yang mana yang diikuti, apakah tafsiran para Bapa Gereja Awal (diwarisi Gereja Katolik) dan diteguhkan melalui konsili2, ataukah tafsiran para reformator (yang baru ada abad 16) yang tidak pernah bisa diteguhan mengingat hasil Sinode/ Konsili dalam Reformasi tidak bisa otoratif (bisa salah juga bisa berubah).

Namun hubungan antara Magisterium, Tradisi, dan Alkitab (dimana menurut Gereja Katolik ketiganya setara) akan di bahas di treads khusus, setelah topik2 kita yang cukup banyak ini selesai (meskipun jika waktuku cukup, aku mungkin akan membuka topik tersebut terlebih dahulu).

Kalau anda lihat, argumentasi2 antara anda dengan saya adalah bentuk perlawanan penafsiran, bukan bentuk perlawanan Alkitab vs contra-alkitab.

Quote:
Sama sekali tidak, apa yang ditekankan/dinyatakan oleh prinsip2 Alkitab jelas, dan itu adalah kehendak Allah, maka diluar itu berarti harus dipertanyakan kebenarannya.


Kalau begitu, apakah anda mau bilang bahwa larangan Polygami jadi boleh dipertanyakan kebenarannya mengingat anda sendiri berkata bahwa larangan itu tidak ada di Alkitab?

Masalahnya argumentasi anda timbul karena starting point anda sebagai orang Reformasi adalah Sola Scriptura sehingga patokan anda hanyalah Alkitab. Berbeda dengan Katolik dan Ortodoks yang starting pointnya adalah Alkitab, Tradisi, dan Magisterium (Apalagi mengingat Alkitab justru merupakan bentuk Tradisi Tertulis yang disusun dan isinya dijaga oleh Magisterium), maka starting pointnya tidak boleh hanya Alkitab.

Namun jika kita sama2 keluar dari starting point kita itu, maka mempertanyakan kebenaran (=/= menyalahkan atau menganggap salah) jangan hanya dengan luar Alkitab, pertanyakanlah semua kebenaran, termasuk kebenaran Alkitab sendiri:

1. Benarkah Alkitab itu Sabda Allah?
2. Benarkah Alkitab itu dijaga Allah?
3. Benarkah hasil Kanonisasi Alkitab pada Confessio Westminster (Gereja Reformasi) dibimbing Allah?
4. Benarkah cara menguji kebenaran Alkitab itu, seperti tidak terkontradiksi, penggenapoan nubuatan, besarnya pengaruh, etc. dapat dipakai untuk menguji kebenaran Alkitab?
5. etc. (daftar bisa diperpanjang).

Cara ini lebih "netral", meskipun efek fidusiernya tetap tidak bisa dihindari, namun dengan cara ini jawaban atas kebenaran lebih mudah dilihat, hal2 yang salahpun juga jadi lebih mudah dilihat ketika kita sudah menemukan kebenaran itu. Dengan begitu kita juga terhindar dari kesalahan menganggap lawan bicara kita punya starting point yang sama. Percuma anda bilang Alkitab itu hebat degan pembuktian2 apabila orang yang anda ajak bicara tidak punya starting point orang yang percaya Alkitab maupun percaya pada metode2 yang anda gunakan dalam pembuktian. Hanya memberi kesan anda memaksakan sarting point saja.

Quote:
Saya ambil contoh:
Misalkan di dalam Alkitab diajarkan bahwa kita berdoa kepada Allah. Kemudian tidak ada ayat yg menyatakan / larangan tidak boleh berdoa kepada yang lain(kwan kong, kwan im,dll), lalu hal tsb menjadi kebenaran?


Yang jelas secara Alkitab:
1. Larangan tersebut memang tidak ada, maka larangan ini tidak secara alkitabiah bisa dianggap kebenaran.
2. Komunikasi dengan para Kudus rupanya ada di Alkitab seperti yang sudah saya uraikan di psotingan saya di treads ini halaman 1 tertanggal Fri Jul 10, 2009 5:54 pm, Sat Jul 11, 2009 12:20 am dan Sat Jul 11, 2009 5:15 am, maka larangan anda tidak bisa menjadi kebenaran.

Quote:
Atau contoh lainnya lagi, tidak ada larangan merokok, narkoba, jadi pengedar narkoba, dll. Lalu anda anggap bahwa hal itu menjadi kebenaran?? Jika demikian bukankah itu anda menolak prinsip2 yg ada di dalam Alkitab.


Saya terima prinsip2 Alkitab tetapi belum tentu menerima cara anda menafsirkan prinsip2 Alkitab itu. Larangan merokok, narkoba, dsb memang tidak ada di Alkitab, tetapi ingat larangan penggunaan istilah "Trinitas" juga tidak ada di Alkitab. Maka apakah sesuatu itu dilarang atau tidak menjadi tidak bisa dilakukan hanya jika kita mengandalkan keberadaan istilah ataupun definisi atas istilah itu harus di Alkitab saja.

Quote:
Jika anda mengatakan bahwa di dalam Alkitab tidak mengajarkan hal tsb namun anda berpegang atas ajaran Magisterium yg anda anggap seberwibawa Alkitab. Justru bagi saya anda sudah melecehkan Alkitab karena tanpa anda sadari anda sudah menyatakan bahwa Alkitab tidak sempurna dan perlu ajaran dari Magisterium untuk menyempurnakan hal tsb.
dan tanpa anda sadari pun ,anda sudah menentang ayat berikut ini.

2 Timotius 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Bagi saya pribadi, Alkitab sudah sempurna, tidak perlu ditambah atau dikurangi.(SolaScriptura)


1. Pada 2 Tim 3:16 "Segala Tulisan diilhamkan Allah" belum bisa dimengerti hanya Alkitab saja, sebab bisa saja Allah mengilhamkan tulisan2 di luar Alkitab.
2. Ayat ini juga tidak mengatakan bahwa "segala tulisan" itu sudah amat2 cukup sehingga tidak perlu sesuatu yang tidak tertulis atau tulisan lain diluar tulisan diilhamkan itu.
3. Bagi anda pribadi, Alkitab memang sudah sempurna, tetapi apakah bagi Alkitab sendiri dia sudah menyatakan diriNya sudah sempurna?
4. Alkitab memang tidak perlu ditambahi atau dikurangi, tetapi cara Allah mengajar tidak bisa dibatasi hanya pada Alkitab saja.

Dan semenjak larangan definisi kedua dari istilah "doa" itu tidak ada sementara, anda memaksakan adanya larangan, maka sebenarnya anda seharusnya juga menuduh diri anda melakukan hal yang sama seperti yang anda tuduhkan kepada saya:

melecehkan Alkitab karena tanpa anda sadari anda sudah menyatakan perlu ajaran dari anda sendiri untuk menyempurnakan pengertian Alkitab.

Salam KAsih


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Orang-orang Kudus yang telah meninggal
PostPosted: Fri Jul 17, 2009 4:58 pm 
Offline
Sahabat SP
Sahabat SP
User avatar

Joined: Fri Mar 28, 2008 12:53 pm
Posts: 368
Quote:
Logika anda terbalik, Penulis Kamus itu menjelaskan bagaimana kata doa BOLEH DIGUNAKAN, maka sejauh suatu pengertian dapat dipakai maka sejauh itu tidak ada masalah penggunaann kata tersebut. Sebagai contoh, bisa saja ada yang menggunakan kata "Doa" untuk pengertian "makan," tetapi adakah pengertian itu dimasukkan di kamus? Tidak bukan? meskipun pengertian "doa=makan" kenyataannya tidak bisa dipersalahkan, tetapi bermasalah karena tidak ada definisi yang mendukungnya. Tetapi dalam pengertian "doa=komunikasi" rupanya ada definisi pendukungnya, maka penggunaan itu tidak bermasalah seperti yang anda nyatakan.

Maka keberatan anda tidak tepat karena anda berusaha menolak penggunaan istilah atas definisi yang justru diperbolehkan. Dengan kata lain, dari segi definisi, keberatan anda tidak punya bobot.


Mengenai kosakata di dalam kamus, baik kata maupun definisi / pengertiannya berkembang mengikuti jaman. Artinya mungkin di jaman ini kata A memiliki definisi x namun mungkin 1 abad kemudian ada tambahan definisi mengerti arti kata tsb, sehingga pada saat itu maka definisi tsb ditambahkan di dalam kamus.
Dan mengenai definisi dan pengertian baru dari suatu kata bisa saja timbul karena pemakaian kata tsb oleh suatu masyarakat atau golongan tertentu yang sudah menjadi biasa pemakaian definisi tsb sehingga definisi tsb menjadi universal / umum. Dan karena sudah dipakai secara umum maka definisi tsb dapat dimasukkan ke dalam kamus, kecuali definisi tsb hanya digunakan oleh 1 atau 2 orang, tentu definisi tsb tidak akan dimasukkan ke dalam kamus.
Namun jika definisi tsb digunakan oleh ribuan bahkan jutaan orang, tentu penulis kamus akan memasukkan definisi tsb ke dalam kamusnya.

Sebagai contoh:
Misalnya saat ini kata TriTunggal dipakai mayoritas oleh umat Kristiani utk memahami Allah Yang Esa (3 pribadi). Dan istilah serta definisinya sudah biasa digunakan oleh umat Kristiani (suatu golongan / kelompok) dan sudah menjadi umum. Kemudian jika 1 abad kemudian ada kelompok tertentu yg juga menggunakan istilah TriTunggal dengan pengertian yang berbeda dan sudah menjadi umum (krn jutaan org yg memakai definisi tsb), maka tentu kamus pada saat itu akan memasukkan definisi tsb selain pengertian yg sudah ada dari istilah Tritunggal.


Quote:
1. Larangan anda secara susbtansi sendiri TIDAKLAH ALKITABIAH. Anda masih terus berusaha memaksakan fallacy logika Argumetum ex silentio anda dengan menyatakan: Tidak tertulis di alkitab berarti salah. Justru dengan begitu kita boleh semakin yakin bahwa penolakan penggunaan kata "Doa" untuk orang2 selain Allah tidak ada dasarnya sama sekali.

2. Ini lebih dibuktikan dengan fakta bahwa Yesus sendiri tidak mengatakan bahwa istilah "berdoa" hanya kepada Allah saja. Yesus memang mengajarkan istilah "berdoa" yang ditujukan kepada Allah, namun tidak sekalipun Yesus menolak/ melarang penggunaan istilah itu untuk kepentingan lain.

3. Larangan perluasan makna yang anda ajukan dalam kenyataannya juga melanggar prinsip akademis, sebab secara akademis rupanya istilah "doa" memang boleh dimengerti dalam arti komunikasi seperti tertulis di kamus. Sebelumnya anda membuat argumentasi bahwa penggunaan Kamus itulah yang tidak tepat, maka dengan demikian anda sudah menunjukkan bahwa anda merasa lebih benar daripada ahli bahasa.


Pertama-tama saya tidak mengatakan bahwa di luar yg tertulis di dalam Alkitab pasti salah, namun perlu dipertanyakan kebenaran dari pengertian tsb. Dan jika ada pengertian diluar pengertian yg tertulis di dlm Alkitab maka dapat dikatakan pengertian tsb tidak Alkitabiah.

Sebagai contoh saja:
Misalkan saja(ini hanya sebuah permisalan saja), kata Allah di dalam Alkitab mempunyai pengertian Sang Pencipta Alam Semesta bla..bla…bla…. kemudian di luar Alkitab kata Allah mempunyai pengertian yg berbeda dengan yg ada di dalam Alkitab, misalkan saja kata Allah dapat dimengerti sebagai malaikat, dewa, dewi, pelayan,dll. Maka pengertian di luar Alkitab tsb dapat kita katakan tidak Alkitabiah, karena pengertian tsb tidak ada di dalam Alkitab. Dan karena kata tsb ada di dalam Alkitab namun pengertiannya berbeda, maka pengertian yg Alkitabiah tentu saja pengertian yg ada di dalam Alkitab itu sendiri dan bukan yg di luar Alkitab. Dan kita tidak boleh menafsirkan ayat2 yg ada di dalam Alkitab dengan pengertian yg di luar Alkitab karena jelas akan terjadi penyimpangan, kecuali Alkitab tidak pernah menggunakan kata tsb, sehingga tidak ada suatu pengertian di dalam Alkitab yg menggunakan kata tsb, maka anda dapat menggunakan kata tsb utk menjelaskan suatu pengertian / pemahaman yg ada di dalam Alkitab, semisalnya kata Tritunggal. Karena kata tsb tidak pernah digunakan di dalam Alkitab maka kita dapat menggunakan istilah tsb utk mengerti / memahami suatu pengertian tertentu yg terdapat di dalam Alkitab.

Kemudian yang kedua, anda mengatakan bahwa saya menggunakan fallacy logika Argumetum ex silentio, yaitu dengan mengatakan Tidak tertulis di alkitab berarti salah (sekali lagi saya tidak mengatakan bahwa yg tidak tertulis di Alkitab berarti salah, tetapi saya mengatakan bahwa yg tidak tertulis di dalam Alkitab berarti tidak Alkitabiah dan belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya).
Dan jika larangan untuk menggunakan pengertian yg berbeda dengan yg sudah di dalam Alkitab anda anggap sebagai fallacy logika Argumetum ex silentio di karenakan tidak ada larangan tsb yg tertulis di dalam Alkitab.
Maka dengan logika yg anda gunakan, saya akan mempertanyakan hal yang sama kepada anda, karena di dalam Alkitab juga tidak ada persetujuan untuk menggunakan pengertian yang berbeda daripada pengertian yg sudah ada di dalam Alkitab, maka bukan berarti Alkitab setuju untuk menggunakan pengertian yang berbeda untuk menafsirkan ayat2 yg ada di dalam Alkitab selain pengertian yg sudah ada di dalam Alkitab.

Atau dengan kata lain:
- jika karena “tidak ada larangan secara tertulis di dalam Alkitab” maka berarti “tidak dilarang.”
- Oleh karena itu jika “tidak ada persetujuan / diperbolehkan di dalam Alkitab secara tertulis di dalam Alkitab” maka bukan berarti disetujui / diperbolehkan.

Maka, saya dapat mengatakan bahwa anda pun menggunakan fallacy logika Argumetum ex silentio. Dan anda pun masih terus berusaha memaksakan / mempertahankan fallacy logika Argumetum ex silentio dengan penerimaan kata ”doa” utk orang2 selain Allah. Apalagi dengan tidak di dukung sama sekali dengan pengertian “doa” seperti itu di dalam Alkitab dan tidak ada satu kasuspun yg seperti diajarkan oleh ajaran khatolik. Maka pengertian “doa” demikian tidak ada dasarnya sama sekali dan tidak Alkitabiah.

Kemudian yang ketiga, saya tidak merasa lebih benar daripada ahli bahasa, namun bukan berarti semua definisi yang dibuat oleh ahli bahasa bisa digunakan utk menafsirkan ayat2 yg ada di dalam Alkitab apalagi yang tidak sesuai dengan definisi yg sudah ada di dalam Alkitab itu sendiri. Jadi dalam hal ini saya tidak mengatakan bahwa definisi yg dibuat si penulis kamus salah, namun definisi tsb belum tentu bisa diterapkan di dalam Alkitab jika definisi / pengertiannya tidak sesuai dengan yg ada di dalam Alkitab. Karena seperti yg saya jelaskan diatas, kosakata dan definisinya berkembang mengikuti jaman, dan definisi tsb tidak hanya di ambil dari pengertian yg ada di dalam Alkitab saja tapi juga pengertian2 yg ada di luar Alkitab.
Dan yg ingin saya katakan adalah gunakanlah definisi yg ada di dalam Alkitab(itulah yg Alkitabiah) untuk menafsirkan ayat2 yg ada di Alkitab bukan definisi yg diluar Alkitab. Namun jika anda ingin menafsirkan sesuatu di luar Alkitab dengan definisi tsb, maka silakan saja.


Quote:
Analogy tidak mengena. penggunaan suatu istilah perlu melihat konteksnya. Misalnya anda membuat sebuah buku dan menyatakan "Allah mencintai kita," Maka kata "mencintai" di sana hanya boleh dimengerti dalam pengertian "Agape." Namun misalnya menulis "Romeo mencintai Juliet," maka kata "mencintai" di sana dalam pengertian "Phillia" atau juga "Eros" namun tidak bisa dalam pengertian "Agape"

Perhatikan bahwa yang digunakan adalah sama2 kata "mencintai" tetapi maknanya sememangnya berbeda-beda (dalam bahas Yunani, pembedaan makna dapat dibedakan dengan pembedaan kata, tetapi kurang dalam bahasa Indonesia maupun Inggris).

Kita tidak bisa berkata pengertian kedua dan ketiga itu salah hanya karena buku pertama memberikan pengertian satu, demikian juga tidak bisa berkata pengertian kesatu salah hanya karena buku kedua memberikan pengertian dua atau tiga.

Harus dilihat dulu konteksnya kapan kata2 itu digunakan, dalam konteks Allah-Manusia, kata "Cinta" dimengerti "Agape," namun dalam konteks manusia-manusia, kata cinta dimengerti "Eros" atau "Phillia."

NAH DEMIKIAN PULA "DOA"

Ketika Yesus mengajarkan doa kepada Allah, maka konteks "Doa" dalam ajaran Yesus adalah dalam pengertian "menyembah." Namun ketika Gereja Katolik mengajarkan doa kepada orang2 Kudus, maka konteks "doa" adalah komunikasi biasa.


Benar sekali kata anda, Harus dilihat dulu konteksnya kapan kata2 itu digunakan. Saya bukan menolak definisi2 yg ada dari suatu kata / istilah ,selama definisi2 itu memang ada di dalam satu buku tsb, dan di dalam buku tsb dijelaskan perbedaan maknanya. Artinya memang buku tsb menggunakan kata / istilah yg sama namun mempunyai makna dan arti yg berbeda, dan tentunya buku tsb akan memperlihatkan perbedaan penggunaan makna tsb sesuai dengan konteksnya. Namun jika satu buku mendefinisikan satu makna, kemudian buku yg lain mendefinisikan kata yg sama dengan arti yg berbeda. Maka definisi dari buku yg kedua tidak boleh digunakan untuk menafsirkan buku yg pertama,karena jelas tidak sesuai dengan konteks.
Seperti contoh yg anda berikan, misalkan buku yg sedang menjelaskan cinta “Agape” (Allah - manusia) anda tafsirkan dengan definisi kata cinta dari buku yg kedua yaitu cinta "Eros" atau "Phillia."(manusia-manusia), maka jelas definisi yg anda gunakan tidak sesuai dengan konteks.
Dan bukan berarti definisi tsb salah, tetapi salah diterapkan. Karena jika anda lakukan hal tsb maka anda sudah membiaskan definisi kata dari buku yg pertama dengan definisi dari buku yg kedua.

Demikian juga dengan kata “doa” yg ada di dalam Alkitab, Alkitab hanya mengajarkan pengertian doa (hubungan dengan Allah) dan tidak pernah mengajarkan hubungan antar manusia. Maka jika anda menggunakan definisi2 yg ada di luar Alkitab untuk menafsirkan ayat2 yg ada di dalam Alkitab ,maka akan terjadi penyimpangan2 yg mungkin terjadi.

Misalkan saja:
Buku pertama menjelaskan mengenai arti kata”penyembahan” sebagai penyembahan kepada Allah saja. Dan buku ini dari awal sampai akhir hanya mendefiniskan kata “penyembahan” hanya penyembahan kepada Allah saja karena memang inti dari buku ini untuk menjelaskan bahwa kita harus menyembah kepada Allah saja dan tidak kepada yg lain.

Kemudian buku yg kedua menjelaskan kata yg sama dengan arti yg berbeda bahwa penyembahan boleh diartikan sebagai penyembahan antara manusia dengan manusia.

Maka jika anda menggunakan defines dari buku kedua utk menafsirkan buku pertama maka jelas akan terjadi penyimpangan2, walaupun mungkin secara paksa ada kalimat2 dari buku yg pertama yg dapat diartikan seperti definisi kedua. Namun penggunaan definisi kedua itu justru akan mengacaukan pengertian yg ingin dijelaskan oleh buku pertama yaitu bahwa penyembahan itu hanya kepada Allah saja.

Demikian juga dengan kata “doa” di dalam Alkitab. Apalagi Alkitab tidak pernah mempunyai pengertian spt itu dan tidak ada satu kasuspun yg menyatakan “doa” mempunyai pengertian spt itu.

Quote:
Percuma anda berargumentasi demikian karena anda hanya menunjukkan inkonsistensi. Belum termasuk kesalahan memahami tata bahasa (kamus definisi) dan larangan anda yang tidak alkitabiah yang telah saya tunjukkan di atas.

Inkonsistensinya di sini:
1. Istilah Tritunggal memang tidak ada di Alkitab, namun pada masa yang sama anda membenarkan penggunaan istilah tidak Alkitabiah ini.
2. Sebaliknya, pengertian kedua dari "doa" tidak ada di Alkitab, namun pada masa yang sama anda menyalahkan pengertian kedua yang tidak ada di Alkitab ini.

Percuma anda menekankan perbedaan antara yang satunya adalah istilah sementara yang satunya pengertian, padahal masalahnya adalah dakwaan anda yang berdasarkan argumentum ex silentio (tidak tertulis di Alkitab= salah/ bermasalah). Argumentasi anda tidak relevan.

Memangnya apa dasar Alkitabnya kalau ada-tidaknya suatu istilah boleh tidak Alkitabiah sementara keberadaan definisi atas istilah itu haruslah Alkitabiah.


Sudah saya jelaskan diatas, yg pertama-tama adalah pengertian tsb harus ada terlebih dahulu di dalam Alkitab, jika tidak ada maka jelas tidak Alkitabiah. Yg kedua apakah istilah tsb memang bermakna ganda di dalam Alkitab? Jika tidak, maka anda tidak bisa menggunakan makna lain selain yg ada di dalam Alkitab untuk menafsirkan ayat2 yg ada di dalam Alkitab.
Di dalam Alkitab jelas ada pengertian mengenai Allah yang Esa(3 pribadi) , maka utk memahami ini digunakanlah istilah Tritunggal, jadi di sini pengertiannya memang sudah ada di dalam Alkitab, dan utk memahami hal ini digunakan istilah TriTunggal yg memang tidak ada di Alkitab.
Namun tidak ada kasus pengertian doa spt yg diajarkan oleh khatolik(anda sudah menjawab tidak ada satu kasuspun spt yg diajarkan oleh ajaran khatolik), namun menggunakan istilah yg ada di dalam Alkitab yg pengertiannya pun berbeda dgn Alkitab.
Apakah anda tidak melihat perbedaannya??


Quote:
Darimana saya tahu Yesus tidak melarang pengunaan "doa" untuk pengertian lain?

Jawabannya sederhana dan Alkitabiah:
Tidak ada satupun larangan Yesus dalam penggunaan "doa" untuk pengertian lain.

Alkitab memberikan satu definisi "berdoa" tetapi tidak boleh dimengerti bahwa Alkitab secara otomatis menolak adanya definisi lain. Argumentasi anda inilah yang dinamakan Argumentum ex silentio.

Maka justru apabila anda, seorang Sola scripurist, melarang penggunaan definisi itu untuk pengertian lain, padahal Alkitab tidak melarangnya. Berarti anda sudah mendahului ajaran Alkitab bukan? Dengan demikian anda sudah menghancurkan validitas keimanan anda sendiri (Sola scriptura).

Dan justru pula karena seperti kata nada, "Alkitab bukanlah buku kamus," maka kitapun tidak boleh memperlakukan ALkitab sebagai buku kamus:
1. Menganggap bahwa jika Alkitab berkata ada "doa" dalam pengertian kepada Allah maka pengertian di luar itu salah.
2. Menganggap bahwa jika di Alkitab tidak ada kata "Trinitas" maka adanya istilah Trinitas dan berarti juga semua kemungkinan definisinya adalah salah.

Analogynya adalah Yesus tidak pernah menggunakan kata "Trinitas" apakah lantas kita boleh berasumsi penggunaan istilah "Trinitas" dilarang Yesus?

Maka sebenarnya dua fallacy logika yang anda lakukan:
1. Argumentum ex silentio
2. Non sequotor (berkesimpulan terlalu jauh dari semestinya).


Sudah saya jawab diatas, pengertian Alkitabiah berarti sesuatu yg tidak ada di dalam Alkitab berarti tidak Alkitabiah. Maka kata “doa” spt yg diajarkan oleh ajaran khatolik tidak Alkitabiah krn memang tidak ada di Alkitab dan tidak ada satu kasus pun yg mendukung pengertian tsb.
Jadi logika anda sudah terbalik, masalah Alkitabiah atau tidak mengenai hal ini bukan karena tidak ada larangan tertulis maka larangan tsb menjadi tidak Alkitabiah dan pengertian “doa ” tsb menjadi Alkitabiah, namun sebaliknya, karena pengertian “doa” spt itu tidak ada di dalam Alkitab maka pengertian tsb tidak Alkitabiah, dan karena pengertian tsb tidak Alkitabiah maka pengertian tsb dilarang utk menafsirkan ayat2 yg ada di dalam Alkitab.

Quote:
Baca baik2 ayat tersebut:

1. Kata2 "Berdoa" sebatas ayat itu hanya dipakai dalam pengertian Berdoa di dalam Yesus Kepada Bapa (Di dalam =/= kepada).

2. Sementara "meminta" (bukan "bedoa") kepada Yesus bolehkah dimengerti "berdoa" kepada Yesus? Jika boleh, maka "meminta" kepada orang tua juga adalah bentuk "berdoa" kepada orang tua bukan?

Semenjak Yesus tidak terbukti mengajarkan untuk berdoa kepada Yesus, adakah lalu praktek Gereja Reformasi untuk bedoa kepada Yesus itu salah?


Yohanes 16:26 Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa

Dari ayat diatas Yesus mengetahui bahwa Ia akan menjadi pengatara, dan jelas ayat diatas menyatakan demikian sehingga anda tidak dapat lagi memisahkan spt yg anda nyatakan, karena pada hari itu orang akan berdoa kepada Yesus (di dalam Yesus).
Jika anda memisahkan hal itu maka pertanyaan saya adalah, apakah pada saat anda berdoa kepada Bapa dan anda berdoa di dalam Yesus berarti anda tidak berdoa kepada Yesus??


GBU
MEN_SUPERNOVA


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 31 posts ]  Go to page 1, 2  Next

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
Powered by phpBB & phpBB SEO
Sarapan Pagi © 2006 by BP & Saxman