Mensupernova wrote:
Iya ,saya tahu maksud anda, justru itu masalahnya, di dalam Alkitab tidak ada satu kasuspun yang mendukung hal tsb, dan anda sendiri sudah menjawab memang tidak ada kasus di dalam Alkitab spt yg dilakukan oleh ajaran Khatolik ini.
Artinya pengertian ini tidak Alkitabiah dan hanya merupakan tafsiran / ajaran dari khatolik saja tanpa di dukung dari Alkitab.
Saya rasa masalah ini tidak hanya masalah pengertian kata “Doa” (yg telah diperluas oleh ajaran khatolik) tapi lebih dari itu, karena praktek yg dilakukan oleh ajaran khatolik ini memang tidak ada di dalam Alkitab, jadi pengertian kata “doa” sendiri telah di biaskan dengan sesuatu yg tidak pernah dilakukan di dalam Alkitab(jadi ada 2 hal, kata “doa” itu sendiri telah di biaskan, kemudian praktek yg dilakukan pun tidak ada di dalam Alkitab), sehingga hal tsb dapat saya katakan tidak Alkitabiah.
Pertama-tama, pengertian doa tidak dibiaskan, tetapi rupanya memang pengertian doa lebih luas daripada penyembahan kepada Allah saja. Untuk memahami ini, baiklah dipahami dulu bahwa istilah "berdoa" dalam pengertian Katolik di Indonesia tidak begitu berbeda dengan istilah "Pray" yang digunakan orang2 berbahasa Inggris. Maka menggunakan kamus online berbahasa Inggris akan membantu menjelaskan (Kamus definisi Online bahasa Indonesia tidak saya temukan). Berikut definisi "Pray"
http://www.thefreedictionary.com/prayv.tr.
1. To utter or say a prayer or prayers to; address by prayer.
2. To ask (someone) imploringly; beseech. Now often used elliptically for I pray you to introduce a request or entreaty: Pray be careful.
3. To make a devout or earnest request for: I pray your permission to speak.
4. To move or bring by prayer or entreaty.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Verb 1. pray - address a deity, a prophet, a saint or an object of worship; say a prayer; "pray to the Lord"
commune - communicate intimately with; be in a state of heightened, intimate receptivity; "He seemed to commune with nature"
2. pray - call upon in supplication; entreat; "I beg you to stop!"
beg, implore
crave - plead or ask for earnestly
supplicate - ask humbly (for something); "He supplicated the King for clemency"
plead - appeal or request earnestly; "I pleaded with him to stop"
importune, insist - beg persistently and urgently; "I importune you to help them"------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dari pengertian di atas, tampak bahwa ternyata kata "Pray" (berdoa) dapat ditujukan kepada pihak selain Allah, dimana pengertiannya justru berbeda dengan sekedar penyembahan melainkan hanya komunikasi biasa. maka dari itu keberatan sementara Reformasi sebenarnya hanya dikarenakan masih menyangka istilah "doa" hanya boleh ditujukan kepada Allah saja padahal ternyata sebenarnya tidak. Keberatan Reformasi ini tidak timbul karena sikap anti Katolik, melainkan karena sikap kehati2an.
Kedua, mengukuti definisi di atas, bahwa ternyata "berdoa" juga boleh berarti berkomunikasi (dengan selain Allah), maka Ayat2 Alkitab yang mendukung praktek berkomunikasi kepada para Kudus itu sebenarnya ada:
1. Saul berbicara dengan Samuel (bdk. 1Samuel 1 Samuel 28:7-25), di mana Alkitab menegaskan bahwa yang berbicara adalah "Samuel" bukan "Roh yang menyerupai samuel"
2. Elia dan Musa menampakkan diri (kegiatan Aktif-> bentuk komunikasi sederhana) terhadap Yesus dan para Murid (bdk. Mar 9:4)
3. Orang2 Kudus menampakkan diri (Kegiatan AKtif -> bentuk komunikasi sederhana) dihadapan banyak orang (bdk. Matius 27:52-53).
4. Elia yang sudah meninggal dapat berkontak dengan Yehoram Raja Yehuda melalui surat teguran (bdk.2 Taw 21:12-15 )
5. Yohannes Pelihat berkomunikasi dengan Makhluk Kudus di Surga (bdk Kitab Wahyu)
6. Maria dan Zakharia Berkomunikasi dengan Gabriel (Luk 1:11-38)
JAdi sebenarnya praktek berdoa kepada makhluk selain Allah itu ada, tetapi penggunaan istilah "doa" itu yang memang tidak digunakan di ALkitab untuk selain Allah, namun sejauh ini tidak anda sangkal bahwa tidak ada ayat ALkitab yang mengatakan kalau istilah "doa" hanya boleh untuk Allah saja saja.
Quote:
Anda meng-analogy-kan hal ini dengan kata “TriTunggal”, jelas ini adalah 2 hal yg berbeda. Kata “TriTunggal” memang tidak ada di dalam Alkitab, namun pengertian dari Tritunggal tersebut ada di dalam Alkitab. Sehingga untuk mempermudah pengertian tsb maka digunakanlah kata “TriTunggal”. Jadi kata “TriTunggal ” ini hanya digunakan untuk memahami pengertian akan Allah Yang Esa (3 pribadi).
Beda halnya dengan kata “Doa”, kata doa itu sendiri jelas ada di dalam Alkitab, dan di dalam Alkitab tidak ada pengertian “doa” seperti yg diajarkan oleh ajaran khatolik.
Anda akui bahwa istilah "Tritunggal" memang TIDAK ADA DI ALKITAB, tetapi anda akui bahwa sekalipun istilah itu tidak dipakai, tetapi penggunaan istilah itu boleh untuk menjelaskan suatu gagasan di Alkitab. Maka jika anda konsisten, seharusnya andapun tidak keberatan apabila istilah "doa" digunakan untuk menjelaskan suatu gagasan yang Alkitabiah seperti yang saya tunjukkan di atas.
Jadi begini:
1. Istilah "Tritunggal" yang tidak ada di Alkitab boleh digunakan untuk menjelaskan suatu gagasan alkitabiah
2. Apalagi istilah "doa" yang ada di Alkitab, sudah tentu boleh2 saja digunakan untuk menjelaskan suatu gagasan alkitabiah, apalagi apabila tidak ada yang alkitab yang melarang penggunaan istilah itu untuk gagasan selain Menyembah Allah.
Quote:
Bahkan Yesus sendiri mengajarkan mengenai hal doa ini:
Lukas 11:1 Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya."
Lukas 11:2 Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.
Yesus mengajarkan berdoa kepada Bapa (Allah), dan tidak pernah mengajarkan di luar itu.
Note: Yesus tidak pernah mengajarkan berdoalah kepada nabi2, dll.
Seperti yang telah saya uraikan sebelumnya, "doa" bisa punya pengertian sempit yaitu berdoa kepada Allah saja. Dalam Lukas 11:2, Yesus menggunakan istilah itu untuk "doa" yang memang ditujukan kepada Bapa, tapi ayat itu lagi2 tidak menunjukkan kalau Yesus melarang penggunaan istilah "Doa" untuk menggambarkan komunikasi kepada makhluk2 selain Allah (Yesus tdiak menolak adanya pengertian "doa" dalam arti luas).
Bukan hanya itu, Yesus di luk 11:2 tidak mengajarkan untuk berdoa kepada Diri-Nya sendiri, apakah lantas berdasarkan Luk 11:2 kita boleh berkata bahwa berdoa kepada Yesus itu tidak mengikuti kehendak Yesus? sekalipun Yesus adalah Allah, tetapi Luk 11:2 Yesus mengajarkan doa yang hanya untuk Pribadi Pertama Trinitas, yaitu Bapa, Jadi argumentasi anda akan menimbulkan masalah demikian: Yesus memang Allah, tetapi kita hanya boleh berdoa kepada Bapa saja.
Quote:
Jadi jika Yesus sendiri tidak mengajarkan pengertian doa seperti yg dilakukan oleh ajaran khatolik, maka ajaran tsb patut dipertanyakan??
Memang Yesus tidak mengajarkan "doa" dalam pengertian luas, namun Yesus sendiri tidak pernah melarang penggunaan "doa" untuk pengertian luas tersebut. Maka dari itu larangan sementara orang2 reformasi yang TIDAK ALKITABIAH lah yang sesungguhnya patut dipertanyakan.
Konsisten dengan logika anda ini, penggunaan "Tritunggal" yang tidak ada di Alkitabpun patut dipertanyakan. Sebab Yesus tidak pernah mengajarkan penggunaan istilah "Tritunggal" untuk menjelaskan Allah.
Quote:
Dan kalo boleh saya tahu, sejak kapan pengertian “doa” menjadi seperti yg diajarkan oleh khatolik, apakah sebelumnya ada pengertian demikian??
Sayatidak begitu paham sejarah penggunaankata "pray" atau "doa", tetapi dari Kamus yang saya rujuk menunjukkan adanya penggunaan istilah itu untuk sesuatu selain Allah, Kamus itu memberikan pengertian yang lebih luas dari sekedar "penyembahan kepada Allah." Kamus itu bukanlah Kamus yang inklusif milik Gereja Katolik.
Quote:
Anda juga mengatakan bahwa iman khatolik tidak hanya bersandar pada Alkitab saja, melainkan ada tradisi dan Magisterium. Justru bagi saya hal ini hanya membuktikan bahwa tradisi dan Magisterium bisa salah dan bukan Kebenaran yang Mutlak, karena Kebenaran yang Mutlak hanya Firman Allah yaitu Alkitab(SolaScriptura). Dan jika tidak sesuai dengan ajaran Alkitab maka hal tersebut jelas salah / menyimpang.
Masalah Tradisi dan Magisterium akan saya buatkan treads tersendiri sebagai jawaban atas Sola Scriptura, tetapi satu hal yang pasti: Alkitab ditulis dan dikanon oleh Magisterium, jika tidak percaya penulis dan pengkanonnya, maka untuk apa percaya Alkitab?
Quote:
Kemudian anda juga memakai kasus Samuel di 1 Samuel 28:7-25 untuk mendukung praktek ajaran khatolik ini. Justru kasus di 1 Samuel 28:7-25 bukanlah sesuatu hal yg diperintahkan oleh Allah justru sebaliknya hal tersebut adalah sesuatu yg tidak berkenan di mata Allah.(baca ayat2 dibawah ini ).
Imamat 19:31 Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu.
Imamat 20:6 Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya
Imamat 20:27 Apabila seorang laki-laki atau perempuan dirasuk arwah atau roh peramal, pastilah mereka dihukum mati, yakni mereka harus dilontari dengan batu dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri."
Ulangan 18:11 seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.
pertama2, Samuel tidak diyakini Katolik sebagai orang2 mati, dia termasuk orang2 yang hidup (Baca penjelasan saya dihalaman satu point 6). Jika Samuel sungguh2 menampakkan diri (dan penampakan itu tentu atas perkenanan Tuhan), maka perbuatan Samuel itu diyakini Gereja katolik bukanlah bentuk penolakan terhadap kitab Imamat dan Ulangan.
Kedua, Imamat dan Ulangan adalah larangan terhadap praktek yang tidak dilakukan di dalam Tuhan (kunci: kata2 "berpaling dari Tuhan"), Samuel, seperti yang saya katakan sebelumnya, diyakini Gereja Katolik sebagai orang yang keniscayaannya adalah di dalam Tuhan. Sebab jika Samuel menampakkan diri Tidak di dalam Tuhan, berarti Samuel telah murtad kepada Tuhan dan mendukung "perzinahan" (bdk. Im 20:6).
Quote:
Note: satu hal lagi ,kasus Samuel diatas sebenarnya masih controversial, apakah benar Roh Samuel atau bukan? Namun saya tidak akan membahas hal ini.
Tidak ada ayat Alkitab yang menyatakan bahwa Roh itu bukan Samuel, Alkitab jelas2 menyatakan dia adalah Samuel. Jika ada Sola Scripturist menyatakan dia bukan Samuel, berarti Sola Scripturist ini telah menyangkal Alkitab yang diyakininya sebagai satu2nya kebenaran Mutlak.
Kontroversial timbul karena ada kelompok Sola Scripturist yang menetang kewibawaan Alkitab yang jelas2 menyatakan dia adalah "Samuel," suatu tindakan yang keniscayaannya adalah menghancurkan validitas keimanannya sendiri.
Quote:
Kemudian mengenai argumentum ex silentio, saya tidak mengatakan bahwa yg tidak tertulis pasti salah. Namun karena kita mengimani bahwa Alkitab adalah Kebenaran yg mutlak maka sesuatu yang di luar Alkitab patut dipertanyakan kebenarannya. Apalagi kata “doa” sendiri sudah jelas di dalam Alkitab dipakai hubungannya dengan Allah bukan yg lain. Sehingga jika ada ajaran di luar Alkitab yg memiliki pengertian yg berbeda maka dapat kita katakan hal tersebut tidak Alkitabiah. Beda halnya dengan kata “TriTunggal” yang memang tidak ada istilah tsb di dalam Alkitab namun kata tersebut digunakan hanya untuk memahami Allah yang di imani umat Kristiani yang pengertiannya ada di dalam Alkitab.
Ini sudah saya jawab di atas.
Quote:
Sebagai contoh kasus:
Di dalam Alkitab tidak ada secara eksplisit mengenai larangan Polygami, namun Alkitab menekankan pada pernikahan monogamy. Lalu , Apakah menurut anda Polygami adalah kebenaran karena tidak ada larangan secara eksplisit??
Larangan Polygami dalam iman Katolik lebih banyak berdasarkan ajaran Magisterium yang seberwibawa Alkitab, jadi Katolik tidak masalah melarang Polygami. Tetapi Reformasi mungkin akan kesulitan karena memang agaknya Alkitab tidak secara eksplisit melarang Polygami. Jadi Argumentasi anda ini lagi2 tidak bisa dipakai untuk membenarkan larangan dari anda, kecuali larangan anda seberwibawa Alkitab.
Jadi anda tetap saja masih melakukan Argumenum ex silentio, lebih parah lagi larangan anda yang "berdasarkan Alkitab" rupa2nya malah sendirinya tidak alkitabiah.
Quote:
Dari kasus di atas maka saya tidak harus membuktikan dengan ayat mengenai larangan berdoa terhadap orang yg meninggal. Walaupun sebenarnya saya sudah memberikan ayat2 mengenai larangan berhubungan dengan arwah. (ayat2 diatas).
Namun sebaliknya mengenai doa, Alkitab dengan jelas memberikan pengertian mengenai kata ini yaitu berhubungan dengan Allah. Jadi jika ada ajaran yg memberikan pengertian yg berbeda dari pengertian yg diajarkan oleh Alkitab maka paling tidak ada kasus yg sama spt yg di ajarkan oleh ajaran khatolik
Sudah dijawab di atas.
Quote:
Saya rasa ada perbedaan pengertian mengenai hal ini, seperti pada postingan sebelumnya, pengertian saling mendoakan disini adalah bukan berarti si Pendoa statusnya lebih mantap(lebih mudah dikabulkan doanya,dsbnya), karena di dalam Tuhan semuanya statusnya sama.
Misalkan saja ada seorang umat yg sakit kemudian minta di doakan oleh salah seorang Pendeta, maka pengertian minta di doakan disini bukan dalam pengertian bahwa status si pendoa lebih tinggi dan lebih mudah dikabulkan doanya, jika demikian maka akan terjadi seseorang akan minta di doakan oleh si Pendeta A dan tidak mau di doakan oleh si Pendeta B karena doa si pendeta A lebih manjur daripada si B, dsbnya. Jika demikian maka Pendeta udah seperti dukun saja.
Namun pengertian saling mendoakan disini lebih kepada saling support (saling dukung di dalam doa) namun status mereka tetap sama dihadapan Allah, dan bukan berarti si A lebih tinggi dari si B ,dll. Atau dengan kata lain bukan hanya umat yg di doakan oleh Pendeta, Pendoa syafaat,dsbnya.. namun pendeta pun di doakan oleh umat.
Dan seperti pada postingan sebelumnya, gereja Reformasi tidak pernah mengajarkan bahwa jika seseorang di doakan oleh orang tertentu maka doanya akan dikabulkan, tetapi Gereja Reformasi mengajarkan bahwa doa seseorang dikabulkan berdasarkan kehendak Allah dan bukan karena orang tertentu yg mendoakannya. Artinya jika seseorang minta didoakan oleh seorang Pendeta , mungkin tidak doanya tidak dikabulkan?? Jawabnya mungkin saja ,jika Doa tsb tidak sesuai dengan kehendak Allah.
Dan jika umat sudah memiliki pengertian seperti ini, maka pada saat umat minta didoakan, maka pengertiannya bukan kepada berharap doanya dikabulkan karena orang tertentu yg mendoakannya, tetapi lebih kepada saling mendukung di dalam doa, namun masalah dikabulkan atau tidaknya tetap tergantung kepada kehendak Allah.
Pertama2, Dikabulkan atau tidak memang bergantung pada kehendak Allah sendiri, dan GerejaKatolikpun juga menganggap bahwa permintaan doa dan saling mendoakan bisa dilakukan dalam konteks saling support. Namun permasalahan kuasa doa setiap orang memang berbeda2, setidaknya ada dikalangan sebagian (tidak semua) Gereja Reformasi. Misalnya di Gereja Reformasi tertentu ada orang tertentu yang bisa mendoakan kesembuhan, yang anehnya jika dimintakan ke pendeta lain yang tidak punya kuasa doa semacam itu juga tidak akan sembuh. Umumnya Gereja Reformasi yang mengajarkan demikian termasuk dalam kelompok Kharismatik yang mengakui adanya 9 Karunia Roh yang diberikan berbeda2 kepada orang yang berbeda. Maka ada orang yang berkuasa mendoakan kesembuhan sementara yang lainnya tidak punya. Gereja Katolik, meskipun berdasarkan penafsiran dan sumber ayat yang berbeda, juga meyakini bahwa ada orang2 yang diberi karunia tertentu sehingga doanya yang berkaitan dengan karunia itu lebih berkuasa daripada orang2 lain. Tetapi mungkin anda tidak termasuk golongan Gereja Kharismatik dan sudah pasti bukan Katolik, maka ini bisa membantu anda menjelaskan pemahaman Katolik:
1. Yesus mengajarkan bahwa iman sebesar biji sesawi dapat menggeser gunung (Mat 17:20), maka diandaikan bahwa iman yang lebih kecil dari itu tidak bisa. Perhatikan bahwa besarnya iman (bukan ketiadaan iman) menentukan besarnya kuasa doa.
2. Yakobus mengajarkan bahwa doa orang benar Kuat kuasanya (Yak 4:16), maka diandaikan bahwa doa orang tidak benar tidak kuat kuasanya. Pembenaran, dalam iman Katolik bukanlah disposisi dari keadaan berdosa ke keadaan diselamatkan seperti yang diyakini Gereja2 Reformasi melainkan pengangkatan status dari Anak2 Adam ke Anak2 Allah. Artinya seorang yang diselamatkan belum tentu sudah dibenarkan. Orang yang sudah pasti dibenarkan adalah orang2 Kudus di surga, sementara orang2 di Bumi
belum tentu sudah dibenarkan, maka doa2 orang2 Kudus lebih berkuasa daripada orang2 yang belum tentu sudah dibenarkan di Bumi. Butuh pembahasan teologis yang panjang (namun Alkitabiah) untuk menjelaskan ini dan bukan maksud saya menjelasakannya sekarang, tetapi setidaknya dari sudut pandang teology ini, maka adanya orang yang lebih berkuasa doanya tidaklah bertentangan dengan Alkitab.
Mungkin anda bertanya2, lantas mengapa di treads
keselamatan-karena-iman-dan-perbuatan-vt2825.html saya menggunakan surat Yakobus untuk menolak paham keselamatan karena iman saja padahal Teology katolik membedakan "penyelamatan" dnegan "pembenaran"?
Jawabannya adalah, karena treads tersebut khusus saya gunakan untuk menjawab paham Sola Fide Klasik sebenarnya menyamakan pembenaran dnegan penyelamatan (Luther mendasarkan paham Sola Fide pada Rm 3:28 yang menggunakan kata "pembenaran", dalam hal ini dalam pandangan Luther, Pembenaran = penyelamatan). Disini saya tunjukkan apabila berangkat dnegan paradigma seperti itu, maka paham Sola Fide justru ditentang Alkitab. Namun diskusi atas hal ini kita lakukan di treads tersebut saja supaya alur diskusi terarah.
Salam Kasih