Movie Review : Slumdog Millionaire
Menuju Takdir Sebuah Kota
CELADOR FILMS / Kompas Images
Perjumpaan Jamal Malik (Dev Patel) dan Latika (Freida Pinto) dalam Slumdog Millionaire.Minggu, 1 Februari 2009 | 01:36 WIB
Oleh : DAHONO FITRIANTO
Mumbai adalah Jakarta-nya India. Bukan dalam arti sebagai sesama kota besar negara berkembang, tetapi sebagai sesama kawasan urban yang menuju ke arah kota gagal.
Itu yang tergambar dalam film Slumdog Millionaire karya sutradara Inggris, Danny Boyle. Film ini telah meraih empat Golden Globe Award dan dinominasikan di 10 kategori Oscar tahun ini, termasuk film terbaik dan sutradara terbaik.
Alur cerita utama film ini adalah kisah romantis antara Jamal Malik (Dev Patel) dan Latika (Freida Pinto), sepasang muda-mudi yang berasal dari kawasan kumuh (slum) kota Mumbai. Namun, dari cara Boyle menggambarkan film ini dari awal, sesungguhnya dia hendak berbicara tentang masalah yang dihadapi hampir semua kota besar di dunia.
JawabanSaat kekasihnya itu pergi tanpa harapan akan bertemu kembali, Jamal mencoba cara terakhir dengan mengikuti kuis televisi Who Wants To Be A Millionaire, salah satu acara favorit Latika. Jamal berharap, di suatu tempat Latika akan melihatnya dan kembali kepadanya.
Di luar dugaan semua orang, Jamal, office boy di sebuah kantor, ternyata bisa menjawab satu demi satu pertanyaan kuis itu hingga pada suatu tahap tinggal selangkah lagi menuju hadiah utama 20 juta rupee (sekitar Rp 4,6 miliar).
Bagi Jamal sendiri, semua terasa seperti takdir karena hampir semua pertanyaan yang dilemparkan membawanya ke masa lalu. Pada setiap titik-titik penting hidupnya, ia mendapat pengetahuan baru yang merupakan jawaban dari setiap pertanyaan kuis.
Dari sini, film pun meloncat ke masa lalu, saat Jamal kecil (Ayush Mahesh Khedekar) bermain bersama kakaknya, Salim (Azharuddin Mohammed Ismail), dan teman-teman sekampungnya di sebuah landasan pacu lapangan terbang. Tak ada tempat lain untuk bermain karena lorong-lorong di lingkungan rumah mereka terlalu sempit untuk sekadar bermain gundu.
LariTak ada taman bermain, tak ada cukup bangku di sekolah, bahkan tak ada WC yang layak, dan mandi serta mencuci pun mereka lakukan di kolam umum.
Suatu hari saat mereka berdua mandi di kolam itu bersama ibu mereka, sekelompok orang dari kalangan mayoritas Hindu menyerang lingkungan Jamal yang beragama Islam. Sabetan pentungan menghantam wajah sang ibu, membuatnya terpelanting masuk kolam dan tewas di situ.
Tinggal Jamal dan Salim, yang kini yatim piatu, lari tunggang langgang mencari selamat di tengah amuk massa. Dalam pelarian itu, Jamal berjumpa Latika untuk pertama kali. Mereka lontang-lantung bertahan hidup bersama di sebuah tempat pembuangan akhir sampah, yang mirip-mirip pemandangan di Bantar Gebang.
NyataSuatu hari, seseorang yang mengaku dari rumah panti asuhan menjemput mereka untuk ditampung, diberi tempat tinggal dan makanan. Orang yang bertindak bagai pahlawan itu ternyata hanya ingin mengeksploitasi mereka jadi anak jalanan, memberi mereka target setoran dari hasil mengemis dan mengamen.
Boyle menampilkan semua itu dengan sangat nyata. Kepadatan permukiman kumuh, penumpang kereta api yang berjubel di atap, WC umum berdinding kayu, dan kesenjangan sosial yang terjadi di Mumbai, kota tempat 70 persen perputaran modal di India terjadi. ”Desa-desa di dalam kota,” tulis Suketu Mehta tentang kawasan slum itu dalam bukunya, Maximum City: Bombay Lost and Found.
Sedemikian gamblangnya gambar-gambar itu sehingga Slumdog Millionaire menuai protes dari warga Mumbai sendiri. Ada yang bilang film ini terlalu menjual kemiskinan. Ada juga yang keberatan dengan istilah ”slumdog” sebagai judul, seolah-olah semua penghuni kawasan kumuh di Mumbai sekelas dengan anjing.
MalapetakaMeski demikian, Boyle menampilkan apa yang oleh Mehta disebut sebagai sebuah ”katastrofi urban” dari Mumbai, megapolitan berpenduduk 19 juta jiwa dengan kepadatan penduduk mencapai 17.550 orang per mil persegi, yang makin kehilangan daya dukung terhadap warganya.
Jika kita, yang tinggal di kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta dan sekitarnya, merasa akrab dengan berbagai gambaran sosial yang tampil dalam film ini, bukan tidak mungkin kita sebenarnya juga sedang beranjak masuk ke sebuah kota malapetaka.
Sumber :
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/0 ... ebuah.kota