* Roma 3:25
LAI TB,
Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.
KJV,
Whom God hath set forth to be a propitiation through faith in his blood, to declare his righteousness for the remission of sins that are past, through the forbearance of God;
TR,
ον προεθετο ο θεος ιλαστηριον δια της πιστεως εν τω αυτου αιματι εις ενδειξιν της δικαιοσυνης αυτου δια την παρεσιν των προγεγονοτων αμαρτηματων
Translit. interlinear,
hon {(Dia) yang} proetheto {menunjukkan di depan umum/mengurbankan} ho theos {Allah} hilastêrion {pendamaian (sebagai kurban untuk pengampunan)} dia {melalui} tês pisteôs {iman} en {kepada} tô autou {-Nya} haimati {darah} eis {sebagai} endeixin {bukti} tês dikaiosunês {keadilan/ kebenaran} autou {-Nya} dia {karena} tên paresin {sikap membiarkan dg tidak menghukum} tôn {yang} progegonotôn {dahulu terjadi} hamartêmatôn {terhadap dosa-dosa}
(Ayat 25a) Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadijalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.
Catatan :
Dalam naskah Yunani ayat 25-26 merupakan satu anak kalimat yang menyambung 'Kristus Yesus' dalam 24b melalui kata ganti penghubung "ον - hon" ('yang') . Dalam LAI kata ganti penghubung itu dihilangkan dan diganti 'Kristus Yesus', tentu untuk mencegah kalimat menjadi terlalu panjang (dalam naskah Yunani, 22a-26, atau bahkan 21-26, merupakan satu kalimat). Bagaimanapun, apa saja yang dikatakan dalam kedua ayat ini berkaitan dengan tokoh Kristus Yesus dan karya-Nya, atau lebih tepat: dengan karya Allah di dalam tokoh Kristus Yesus. Mengenai 'karena', lihat catatan pada ayat 22a.
Dalarn ayat 25 dan 26 (yang dalam naskah Yunani merupakan satu kalimat saja), kita dapat menunjukkan satu kalimat pokok: Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalarn darahnya. Kalimat pokok itu disusul tiga anak kalimat yang ketiganya menunjukkan tujuan perbuatan Tuhan itu:
untuk menunjukkan (ayat 25b),
untuk menunjukkan ... (ayat 26a),
supaya nyata ... (ayat 26b). Pembagian kedua ini lebih banyak membantu kita dalam memahami arti kedua ayat yang sulit ini.
Dalam ayat 25 dikatakan tentang Kristus Yesus bahwa Ia telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian (
Propisiasi). Untuk mernahami artinya, perlu kita dalami lebih dulu istilah Yunaninya dan latar belakangnya dalam PL.
Catatan :
"ιλαστηριον - hilasterion" ('jalan pendamaian') serumpun dengan kata kerja "ιλασκεσθαι - hilaskesthai", 'membuat bersikap rahmani', 'mendamaikan'. Tetapi kata benda "ιλαστηριον - hilasterion" tidak terdapat dalam sastra Yunani umum; kita hanya menemukarmya dalam LXX dan dalam Perjanjian Baru. Dalam LXX "ιλαστηριον - hilasterion" dipakai 27 kali; di antaranya 21 kali yang dimaksud ialah apa yang dalam LAI disebut 'tutup-pendamaian', dan yang dalam bahasa Ibrani bernama KIPORET, dari kata kerja KIPPER, 'mendamaikan'. Maka kalau kita ingin menjelaskan arti "ιλαστηριον - hilasterion", kita perlu mendalami istilah-istilah Ibrani tersebut.
KIPPER (bentuk pi'el) harfiah 'mengoleskan' , 'melumurkan' , juga 'menghapuskan' , 'menutup'. Kata kerja itu menjadi istilah khas pendamalan yang diselenggarakan di Bait Allah melalui persembahan korban-korban. Dalam Imamat 16: 18 kita baca bahwa darah dilumurkan (LAI: dibubuh) pada tanduk mezbah. Sebelumnya, darah itu telah dipercikkan ke atas dan ke depan tutup pendamaian (Imamat 16:15). Melalui perbuatan itu Imam Agung mengadakan pendamaian karena segala kenajisan dan pelanggaran bangsa Israel (Imamat 16:16, 20). Dalam pada itu, bukan darah itu sendiri yang mendamaikan. Darah itu hanyalah sarana pendamaian karena Tuhan telah memberikannya untuk rnengadakan pendarnaian (Imamat 17:11). Dengan melumurkan darah pada tempat yang kudus, dosa (kenajisan dan pelanggaran) umat telah dihapuskan. Maka KIPPER berarti juga 'menghapus' atau 'menutup' (banndingkan Yesaya 6:7; Daniel 9:24), bahkan 'mendamaikan' (Keluaran 29:36: bandingkan juga Amsal 16: 14).
Sebagaimana dikatakan tadi, kata benda "ιλαστηριον - hilasterion" biasanya dipakai dengan arti 'tutup-pendamaian'. Para penafsir tidak sependapat mengenai persoalan, apakah di sini Paulus memang memakainya dengan arti itu. Ada yang berkata bahwa tidak adanya kata sandang mengacu pada arti yang lebih umum: tempat pendamaian, sarana pendamaian, sebab dalam LXX kata "ιλαστηριον - hilasterion" dalam arti khusus itu selalu memakai kata sandang Mereka mengajukan pula bahwa pengartian "ιλαστηριον - hilasterion" sebagai 'tutup pendamaian' di sini menghasilkan kiasan yang tak karuan, sebab dengan demikian Kristus digambarkan sebagai tutup pendamaian sekaligus sebagai darah yang dipercikkan ke atasnya. Yang pasti, pada zaman Paulus setiap pembaca ayat ini yang akrab dengan PL, apakah ia seorang Yahudi atau seorang non-Yahudi yang hidup dalam lingkungan sinagoge, akan teringat pada Imamat l6. Sebab bagi mereka pun Imamat 16 merupakan salah satu bagian kunci dalarn PL.
Bandingkan dengan artikel :
Propisiasi – Penebusan, di
http://www.sarapanpagi.org/propisiasi-p ... .html#p5231
-----
Kini kita dapat memahami apa maksud Paulus bila memakai kata 'jalan pendamaian' (
"ιλαστηριον - hilasterion") itu. Diingatkannya pembacanya pada upacara pendamaian yang telah berlangsung pada masa Perjanjian Lama. Pada masa itu, melalui upacara penyembahan Kurban di Bait Allah, khususnya melalui upacara pada hari raya Pendamaian, dosa umat Israel dihapuskan dan Tuhan didamaikan. Demikianjuga halnya peristiwa kernatian Kristus Yesus: di dalamnya bahkan dosa seluruh umat manusia (ayat 24) didamaikan. Kematian-Nya merupakan 'tempat pendamaian", 'sarana pendamaian', LAl 'jalan pendamaian'.
Maksud istilah 'jalan pendamaian' itu dijelaskan lagi oleh tambahan
dalam darah-Nya. Dalam PL darah dianggap sebagai ternpat kediaman jiwa, nyawa seseorang. 'Darah ialah nyawa' (Ulangan 12:23). Karena itu, darah yang dicurahkan adalah hilangnya nyawa. 'Darah' dapat berarti 'kematian (yang tak wajar)': Ulangan 17:8 (naskah Ibrani); 19: 13; 21:9 dll, 'Dalarn' merupakan terjemahan kata depan Yunani "
εν – en", yang di sini berarti
'melalui', 'o1eh', 'dalam'. Maka yang dimaksud di sini adalah oleh kematian-Nya di kayu salib. Dalam PL kematian hewan korban sembelihan, yang sendiri tak bersalah, mendamaikan dosa umat Israel. Hewan tak bersalah itu rnenggantikan tempat manusia yang bersalah. Begitu juga halnya kematian Kristus Yesus. Dia yang tak bersalah rnenanggung dosa dunia dan menerima kematian dengan mencurahkan darah-Nya, dan dengan demikian menjadi pendamaian bagi dosa dunia itu pada Allah. Begitu tuntutan kebenaran (LAI keadilan) Allah dipenuhi, seperti dijelaskan di depan. Pemakaian ' darah' sebagai kata ganti kematian Kristus sering kita temukan dalam surat-surat Paulus: bandingkan Roma 5:9; 1 Korintus 10-11; Efesus 1:7 dan 2:13; Kolose 1:20. Di luar surat-surat Paulus kita menemukannya dalam Ibrani, 1 Petrus, 1 Yohanes, dan Wahyu.
Catatan :
Lihat Artikel :
PENGAMPUNAN DENGAN DARAH, di
http://www.sarapanpagi.org/pengampunan- ... vt215.html
Agama-agama suku mengenal sejumlah besar upacara 'pendamaian' . Upacara-upacara itu ditetapkan oleh nenek-moyang untuk mendamaikan nelanazaran terhadan adat. Dalam Imamat 17: 11 dikatakan, ' Aku telah memberikan darah itu kepadamu untuk mengadakan pendamaian'. Begitu pula dalam Roma. 3:25 ini Paulus berkata, 'Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian'.
Catatan :
Kata-kata 'yang telah ditentukan Allah' dalam bahasa Yunani berbunyi: "ον προεθετο - hon proetheto". Tentang pengartian kata ini pun para penafsir berbeda pendapat. Ada yang meletakkan tekanan pada προ- ; pro- "sebelumnya', sehingga mereka menerjemahkan: 'yang (dari kekal) telah ditentukan'. Arti ini kita temukan juga dalam Efesus 1: 19, bandingkan juga Roma 1: 13. Ada pula yang di sini mengutamakan arti lain: mengumumkan, mempertontonkan di depan umum. Arti itu kita temukan dalam Galatia 3: l.
Bagaimanapun juga, kata-kata 'yang telah ditentukan Allah' itu ikut menjelaskan arti 'jalan pendamaian': Olehnya dinyatakan bahwa bukan manusia , melainkan Allah sendirilah yang menyediakan jalan pendamaian. Dengan demikian artinya di sini lain dari dalam Kitab 4 Makabe (4 Makabe 17: 21 dyb.). Di sana kematian para martir menjadi imbalan bagi dosa umat. Berkat pendamaian yang dihasilkan oleh kematian itu, Tuhan dapat menyelamatkan bangsa Israel. Lain halnya dalam Roma 3:25 ini. Pelanggaran umat manusia begitu berat (Roma 3:19, 23), sehingga tidak mungkin dari kalangan umat itu sendiri muncul tokoh, biar seorang martir atau Santo sekalipun, yang dapat mendamaikan Allah atau dapat menjadi perantara bagi kita di hadapan Allah.
Selanjutnya, kata-kata tersebut menghilangkan pula setiap unsur magis yang mungkin kita duga ada dalam pendamaian itu. Pendamaian itu sedikit pun tidak berbau magi, berlangsung otomatis. Sebab Allah yang menentukan
cara dan
pelaku pendamaian itu, dan pendamaian itu hanya berlaku karena perkenan Allah. Hal yang sama dinyatakan pula oleh prefiks
προ- ; pro- (kalau kita memilih arti ' di depan umum'). Praktik -praktik magi biasanya dilangsungkan dalam gelap, dalam suasana serba rahasia, dalam lingkungan terbatas murid-murid seorang guru. Sebaliknya, kematian Yesus Kristus berlangsung di depan umum, bahkan "direkayasa" oleh dua badan umum utama, yaitu 'mahkamah agama' (dalam bentuk Sanhedrin) dan 'mahkamah negara' (yaitu wakil kaisar Roma di Yudea yang dipimpin Pilatus). Lagi pula, kematian itu dan akibat-akibatnya diumumkan di seluruh dunia; dalam Injil tidak ada unsur rahasia sedikit pun.
Tinggal kata-kata
karena iman, Kata depan Yunani
dia di sini berarti 'melalui', 'karena'. Melalui perkataan tambahan ini pun ditegaskan bahwa Allah tidak bekerja dengan cara serba otomatis, lepas dari sikap manusia, seperti halnya para pelaksana upacara magis. Pendamaian itu tidak membiarkan manusia tetap dingin, apalagi bermusuhan dengan Allah. Tetapi berita pendamaian itu tidakjuga mendorong manusia untuk berdaya upaya supaya dapat memenuhi tuntutan-tuntutan Allah. Olehnya dibangkitkan
iman, sikap penuh percaya, yang menerima kabar tentang Allah yang mendamaikan manusia dengan diri-Nya dan dengan demikian menyelamatkan dia dari dosa dan maut. Iman dalam arti itulah yang menjadi jalan dan cara manusia memperoleh anugerah Allah yang begitu besar itu.
(Ayat 25b) Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.
Catatan :
Kalimat ini yang pertama di antara tiga anak kalimat yang menjelaskan lebih lanjut arti kata-kata 'ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian'.
Untuk menunjukkan berarti: untuk membuktikan tidak hanya dengan perkataan, tetapi juga dengan perbuatan, yaitu dengan menentukan Kristus Yesus menjadi jalan pendamaian. Melalui perbuatan itu Allah menunjukkan
kebenaran-Nya. LAI menerjemahkan:
keadilannya, meskipun istilah Yunani sama saja dengan 1:17; 3:21,22, yaitu
"δικαιοσυνη - dikaiosunê". Agaknya dengan demikian LAI ingin mengungkapkan perbedaan antara
'kebenaran' dalam arti
'kebenaran manusia di hadapan Allah' dan
'keadilan' sebagai sifat Allah (bandingkan Roma 1: 17).
Pada hemat kami terjemahan
'keadilan' ini tidak tepat, sebab dengannya kita memisahkan dua hal yang sesungguhnya berpadu. Hal yang satu ialah kebaikan Allah terhadap kita, yang membenarkan kita dengan tidak mempermasalahkan dosa kita. Hal yang lain ialah keadilanNya, yang menghukum dosa, dan yang menurut bunyi ayat ini tidak bisa tidak menempatkan Kristus sebagai ganti orang berdosa, meskipun dosa ditanggung-Nya sebagai ganti kita. Tetapi dalam
'kebenaran' Allah kedua hal itu bersatu. Allah bukan 'adil' menurut pengertian kita tentang seorang hakim yang ingin agar orang jahat dihukum dan orang baik dibebaskan, di'benar'kan. (lihat artikel
KEBENARAN) Memang, Allah membenci dosa dan tidak bisa tidak menghukumnya. Tetapi Allah ingin supaya orang (umat) berdosa berpaling dari jalannya dan hidup. Bahkan lebih jauh lagi: Ia tetap setia terhadap orang (umat) berdosa itu.
Maka perbuatan Allah terhadap Kristus Yesus, yang 'telah ditentukan-Nya menjadijalan pendamaian' (ayat 25) tidak dapat dipisahkan, bahkan tidak dapat dibedakan dari 'kasih karunia-Nya yang membenarkan kita' . Kematian Kristus bukanlah sesuatu yang kemudian memungkinkan Allah berubah sikap dan berbaikan kepada kita. Keduanya satu perbuatan yang sarna saja. Kristus ditentukan Allah sendiri supaya Ia kena murka Allah dan dengan demikian kita luput. Di dalam kematian-Nya sekaligus nyatalah kebencian Allah terhadap dosa dan kasih-Nya kepada orang berdosa. Dua-duanya adalah 'kebenaran-Nya' (bandingkan ayat 17).
Bagian terakhir nas ini menimbulkan kesulitan. Apa makna kata-kata
karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu? Lagi pula, naskah Yunani dapat diartikan dengan dua cara.
Catatan :
'Karena Ia telah membiarkan' merupakan terjemahan "δια την παρεσιν - dia tên paresin". Kata Yunani "δια – dia" disusul perkataan berbentuk akusatif menunjukkan alasan atau sebab. "παρεσις – paresis" serumpun dengan kata kerja "παριεναι – parhienai", 'membiarkan', kadang-kadang juga 'menghapuskan hukuman'. Maka "παρεσις – paresis" dapat berarti: 'tindakan membiarkan', dan juga (di bidang hukum) 'penghapusan hukuman, 'pengampunan'. Kedua arti tersebut disandang pula oleh kata kerja "αφιημι - aphiêmi" dengan kata benda "αφεσις - aphesis"; namun di sini arti 'pengampunan' lebih menonjol. Dalam PB 'pengampunan dosa' lazimnya berbunyi: "αφεσις αμαρτιων - aphesis hamartiôn". Kata "παρεσις – paresis" hanya terdapat di sini.
Maka kita menghadapi dua kemungkinan. Kata-kata tersebut berarti :
(a) disebabkan Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu; atau
(b) karena (demi) pengarnpunan dosa yang telah terjadi dahulu.
Berbeda dengan terjemahan Indonesia, kami cenderung memilih terjemahan (b). Tafsiran di depan berdasarkan terjemahan (b) itu.
Pengampunan itu berlaku terhadap dosa-dosa yang telan terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Dosa-dosa itu adalah dosa seluruh umat rnanusia, bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa penyembah berhala, pacta 'zaman kebodohan' (Kisah 17:30). Dosa itu bertumpuk selama berabad-abad menjadi massa yang menjijikkan. Kebenaran (lihat Roma 1: 17) menjadi hilang karenanya, seperti yang dikeluhkan orang-orang benar, misalnya dalam Mazmur73. Allah 'membiarkan' dosa itu. Maksudnya bukan seakan-akan Allah mengambil sikap pasif, seakan-akan Ia tidak sanggup mengambil sikap tegas atau tak berdaya terhadapnya. Sebaliknya, 'kesabaran' Allah (kata 'masa' dalam naskah Yunani tidak ada) adalah kasih setia-Nya atas manusia ciptaan-Nya, yang membuat Dia menahan diri (bandingkan Yesaya 42:14). Sebab Allah tidak merasa jijik terhadap kita sebagai ciptaan-Nya, tetapi Ia merasa jijik terhadap kenajisan kita akibat dosa, yang telah menghilangkan kemuliaan kita sebagai makhluk ciptaan Allah. Bila pembasuhan dalam darah Kristus telah menyucikan kita, kita dikasihi-Nya dan dipeluk-Nya kembali sebagai karya-Nya sendiri yang murni (John Calvin). Sikap itu sering tampak dalam Perjanjian Lama, dalam Kejadian 9:11 dyb.; Keluaran 32:30-34:10; Hakim-hakim 2: 18b, dan sepanjang Kitab-kitab para Nabi. Kendati demikian, Allah tidak bisa tidak bertindak membereskan keadaan, memulihkan kebenaran, yang adalah kebenaran-Nya sendiri. Dan akhirnya Ia bertindak ... tetapi tindakan itu mengenai Anak-Nya sendiri, dan hukuman atas dosa-dosa zaman dulu itu dihapuskan. Sebab di luar Kristus tidak ada sarana yang dapat menghapuskan kesalahan kita, perbuatan amal ibadah yang bersifat agamawi, tidak dan korban-korban persembahan pun tidak!.