A. DUA METODE KRITIK ALKITAB
Ada dua metode kritik Alkitab yang sudah dikembangkan dan bahkan pada zaman modern ini sudah ditetapkan sebagai cabang ilmu dalam ilmu teologi, yaitu
Higher Criticism dan
Lower Criticism. Dua cabang ilmu teologi ini kini telah menjadi suatu bidang mata kuliah kusus pada kurikulum pendi-dikan tinggi teologi di sekolah-sekolah teologi seluruh dunia. Di kalangan sekolah teologi Injili Konservatif menjadikan dua cabang ilmu teologi biblika ini sebagai metode terbaik untuk menemu-kan ‘kebenaran’ atau ‘keorisinilan’ berita Alkitab, namun di kalangan sekolah teologi Liberal, dua cabang ilmu teologi ini dipelajari untuk dikritik, atau dijadikan dasar untuk menyerang Alkitab.
1. HIGHER CRITICISM :
Higher Criticism atau kritik tinggi Alkitab adalah terminologi akademis, yang digunakan sebagai istilah teknis teologi. Istilah ini tidak menun-jukkan bahwa kritik tinggi berarti superioritas, namun istilah yang dipakai sebagai kontras dari frase
“Lower Criticism’. Di kalangan sarjana teologi
Higher Criticism dikenal juga sebagai kritikisme sejarah (
historical/ tradition criticism) dan kritikisme sastra (
literary criticism), yaitu suatu cabang teologi yang berusaha menyelediki asal-usul Alkitab, siapakah penulis Alkitab (misalnya: benar-kah Musa penulis Kitab Pentetaukh dsb.), dan bagaimana sejarah perkembangan keagamaan P.L. dan P.B.
Para sarjana teologi liberal menyangkal bahwa 5 (lima) Kitab Musa ditulis oleh Musa. Dengan menerapkan teori
Higher Criticism yang dikenal dengan istilah
Documentary Hypothesis mereka menjelaskan bahwa Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan bukanlah tulisan musa, namu merupakan kumpulan sastra atau dongeng dan mitos yang kemudian disusun menjadi kelima Kitab Musa di atas. Mengenai penulis aslinya mereka berpendapat ‘anonim’.
[iii] Begitu juga penulis Kitab Yesaya pasal 40-66, juga tidak ditulis oleh Yesaya, tetapi ditulis oleh penulis ‘anonim’ yang diperkirakan seorang nabi sebesar Yesaya. Apa yang menyebabkan pemikiran demikian? Karena mereka tidak percaya tentang mukjizat dan nubuatan. Mereka heran bagaimana mungkin Yesaya 45 dapat berbicara tentang Korezy pada saat ayah Korezy saja mungkin belum lahir.
Kritik mereka terhadap Kitab Perjanjian Baru dengan gencar ditujukan terhadap Injil Synop-tik (Matius, Markus, Lukas). Dengan menempatkan Injil Markus sebagai Injil pertama, mereka membuat suatu hipotesis (
oral tradition transmission, teori dua dokumen, dan teori empat dokumen) bahwa Markus mengembangkan Injilnya dari cerita-cerita rakyat dan dokumen ‘Q’ yang akhirnya dikembangkan lagi oleh Markus dan Lukas. Dalam pengembangan tulisan ini ketiga penulis Injil menambahi dengan imajinasi mereka sendiri tentang pekerjaan besar yang dilakukan Yesus, yang sebenarnya tidak pernah terjadi dalam sejarah aslinya.
Pembahasan lebih dalam tentang
Higher Criticism akan dibahas pada bagian berikutnya, yaitu pokok bahasan
“Kritik Tinggi Terhadap Alkitab”. Namun sebelumnya baiklah kita membuat hipotesis tentang kritik para sarjana modernis di atas. Jika benar bahwa Musa bukan penulis Kitab Pentateuch seperti hipotesa mereka di atas, bagaimana dengan pernyataan Yesus bahwa Musa lah penulis Kitab Pentateuch (lih. Mark. 7:10; 10:3-5; 12:26; Luk. 5:14; 16:29-31; 24:27, 44; Yoh. 5:45-47; 7:19, 23), dan juga para rasul (Yoh. 1:17; Rom. 10:5; Kis. 3:22; 6:14; 1 Kor. 9:9; 2 Kor. 3:15; Ibr. 9:19; Wah. 15:3)? Jika para sarjana modernis yang benar, maka Yesuslah yang salah. Namun Yesus berkata “Akulah… kebenaran” (Yoh. 6:14) dan iman Kristen konservatif percaya bahwa Dia adalah Tuhan, Juruselamat Manusia, jadi kebenaran hanya ada di dalam Dia, dan di dalam Dia tidak ada dusta. Kalau demikian siapa si pendusta itu? Mereka yang mengambil oposisi melawan Kristus.
Begitu juga, jika Injil Synoptik hanya meru-pakan pengembangan karya sastra dari dongeng-dongeng rakyat yang dibumbui imajinasi penulis Injil dengan berbagai peristiwa spektakuler, maka Injil Matius, Markus dan Lukas hanya sekedar cerita dongeng dan mitos dari pribadi Yesus, manusia biasa yang pernah hidup layaknya kebanyakan manusia lain – tanpa mukjizat, tanpa peristiwa kebangkitan dsb. – dan sia-sialah kepercayaan kita dan pengorbanan para martir.
2. LOWER CRISTICISM
Lower Criticism yang disebut juga sebagai
Textual Criticism adalah “studi teks Alkitab, yaitu termasuk di dalamnya pemeriksaan keaslian manuskrip atau salinan-salinan Alkitab dan versi salinan-salinan, codex-codex dan terjemahan-terjemahan yang bervariasi atau berbeda dan studi ini merupakan suatu usaha mencari yang asli atau yang sama dengan teks aslinya, yaitu teks Apographa yang diinspirasikankan langsung oleh Tuhan.”
[iv] Adapun para ahli yang menggeluti bidang ini antara lain Beza, Erasmus, Bengel, Griesbach, Lachmann, Tregelles, Thischendorff, Scrivener, Westott, dan Hort.