KITAB SUCI BAHASA HEBREW, ARAM DAN YUNANI
Tanya :
Quote:
Kenyataan 1:
Kitab-kitab Perjanjian Lama pada awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani (Hebrew) bagi Israel, umat pilihan Allah. Tetapi setelah orang-orang Yahudi terusir dari tanah Palestina dan akhirnya menetap di berbagai tempat, mereka kehilangan bahasa aslinya dan mulai berbicara dalam bahasa Yunani (Greek) yang pada waktu itu merupakan bahasa antarabangsa. Oleh karena itu menjadi penting kiranya untuk menyediakan bagi mereka, terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani.
Soalan 1:
Ada sesiapa yang pegang kitab perjanjian lama sewaktu itu? Kalau ada siapakah mereka? Selama mana mereka terusir hingga menyebabkan mereka hilang identiti bahasa mereka?
JAWAB :Anda bisa membaca dulu sejarah bangsa Israel di
http://www.sarapanpagi.org/israel-vt134.html#p271Meski Bahasa Ibrani pada suatu waktu tidak digunakan sebagai bahasa sehari-hari, bukan berarti bahasa Ibrani itu punah. Bahasa Ibrani tetap menjadi bahasa liturgis yang digunakan di sinagoga (rumah ibadah) dan juga di Bait Allah.
Bahasa yang digunakan dalam Alkitab, ada tiga bahasa asli : yakni bahasa Ibrani, bahasa Aram, dan bahasa Yunani.
Alkitab ditulis dalam ketiga bahasa tersebut, dan tergantung dari waktu bagian tertentu ditulis dlm bahasa apa. Bagian-bagian yang paling kuno dari Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, yang merupakan bahasa sehari-hari dari bangsa Israel pada zaman itu.
Lalu, berabad-abad kemudian, dipakai bahasa Aram. Perbedaan antara bahasa Ibrani dan bahasa Aram dapat digambarkan sebagai perbedaan antara bahasa Melayu Kuno dan Indonesia sekarang.
Selama pembuangan ke Babel hingga kembali ke Israel ± tahun 538 sebelum Masehi di bawah pimpinan Ezra-Nehemia, bahasa yang digunakan oleh orang Yahudi sudah bercampur dengan bahasa Aram, disebut sebagai bahasa Aram Klasik, dan akhirnya mereka benar-benar berbahasa Aram hingga di era Yesus Kristus. Sebagian kitab Perjanjian Lama yang ditulis di era pembuangan ini, ditulis dalam bahasa Aram, seperti sebagian kitab Daniel, Ezra, dan Nehemia.
Penggalian inskripsi-inskripsi di daerah Israel bertarikh 300 sebelum Masehi hingga 500 Masehi menunjukkan bahwa 70% ditulis dalam bahasa Yunani, 12% dalam bahasa Latin, dan hanya 18% ditulis dalam bahasa Aram. Tidak suatu pun yang ditulis dalam bahasa Ibrani.
Jadi sama-sama bahasa orang Israel, namun yang satu dari zaman dahulu (kuno) yang lain dari zaman kemudian (modern), khususnya zaman Yesus dan para Rasul. Jadi secara sederhana dapat dikatakan bahwa bahasa Ibrani adalah "Aram kuno," dan bahasa Aram adalah "Ibrani modern." Tetapi dalam periode yang lebih kemudian lagi, sudah menjelang zaman Yesus, orang menulis tidak hanya dalam bahasa Aram tetapi juga dalam bahasa Yunani. Maka dalam PL bagian terbesar ditulis dalam bahasa Ibrani, sedangkan sebagian kecil dalam bahasa Aram dan juga bahasa Yunani.
Di Yerusalem sendiri, 40% dari inskripsi Yahudi sebelum tahun 70 Masehi (keruntuhan Yerusalem) ditulis dalam bahasa Yunani, sisanya ditulis dalam bahasa Aram (bukan Ibrani).
Perjanjian Baru (PB) seluruhnya ditulis dalam bahasa Yunani, walaupun pada jaman PB didominasi oleh bahasa Ibrani Aramaik, saya ingin memberikan gambaran singkat mengenai kedudukan ketiga bahasa itu pada zaman Yesus, seperti kita sering berbahasa daerah (betawi, sunda atau jawa) tetapi dalam penulisan tetap dengan bahasa Indonesia.
Bahwa inskripsi berbahasa Yunani pun ditemukan di daerah Iraq; Hal itu tidak mengherankan karena Aleksander Agung (336 - 323 sebelum Masehi) pernah menaklukkan kerajaan Persia, oleh karena itu banyak sekali kebudayaan terutama filsafat Yunani merasuk ke dalam peradaban Timur.
Adanya perluasan jajahan dan pengembangan kebudayaan yang dilakukan oleh Aleksander Agung, bahasa Yunani berakar kuat di daerah Timur Dekat dan wilayah Laut Tengah yaitu mulai abad ke-4 sebelum Masehi.
Pelayanan Yesus ditengah multi kultural dan bahasa :Salah satu keunikan Injil adalah pewartaan Yesus mula-mula di tengah dunia yang multi etnik dan multilingual di Galilea pada abad pertama Masehi. Dalam Yesaya 8:22 dinubuatkan daerah pelayanan Sang Mesiah:
"DEREKH HAYAM EVER HAYARDEN GELIL HAGOYIM" (jalan ke laut, daerah seberang Yordan, Galilea wilayah bangsa-bangsa). Latarbelakang ini sangat mempengaruhi corak keagamaan Kristiani sejak semula. Beberapa ahli menyimpulkan, bahwa Yesus dan penduduk Galilea khususnya dan Israel pada umumnya berbicara dalam bahasa Ibrani, Aram dan sedikit Yunani.
Pertama, mengenai bahasa Ibrani dan Aram sebagai dua bahasa serumpun. Kedua bahasa ini erat bertalian, banyak kata dalam kedua bahasa ini sama. Tata bahasa dan sintaksisnya juga sama. Pada zaman Abraham (kira-kira 1900 SM) kedua bahasa itu dapat dikatakan identik, artinya belum terpecah satu sama lain. Dalam sebuah liturgi Yahudi kuno, disebutkan:
"ARAMI OVED AVI VAYERED",
'Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara' (Ulangan 26:5). Ini merujuk kepada Yakub, nenek moyang bangsa Israel, bahwa ia disebut orang Aram sebab disitulah letak geografis tempat tinggalnya, meskipun ia bukan dari suku itu. Dan juga karena Yakub pernah tinggal di Aram-naharaim dan anak-anaknya yang kemudian menjadi bangsa Israel.
Berabad-abad kemudian (kira-kira 1,100 - 722 sM) dari bahasa yang satu itu melahirkan dua cabang bahasa:
Ibrani di kalangan orang Yahudi di Palestina dan bahasa
Aram di kerajaan-kerajaan Aram di Mesopotamia: Damaskus, Zobah dan Hamat.
Bahasa Ibrani dipakai oleh Saul, Daud, Salomo dan nabi-nabi lainnya, sehingga Perjanjian Lama untuk sebagian besar ditulis dalam bahasa ini. Bahasa Ibrani (atau dikenal sebagai bahasa Ibrani klasik) bertahan sebagai bahasa resmi kerajaan Israel sampai jatuhnya Yerusalem tahun 587 sM.
Sementara itu, bahasa Aram berkembang pesat ketika orang-orang Asyiria menguasai kembali Mesopotamia (883-606 sM) dan akhirnya bahasa Aram menjadi bahasa resmi kerajaan. Keadaan ini semakin kuat di kalangan orang-orang Babel (606-539 SM) dan kelak di kalangan Persia (539-333 SM). Pada zaman ini bahasa Aram terus mendesak bahasa Ibrani sampai zaman Yesus, khususnya di wilayah Galilea, Samaria dan daerah-daerah sekitarnya. Pada zaman itu bahasa Aram tersebar luas sebagai
'lingua franca' di wilayah Timur, sedangkan bahasa Yunani dipakai sebagai
'lingua franca' di wilayah Barat. Sementara itu bahasa Ibrani membeku sebagai "bahasa suci (bahasa liturgis)" di Bait Allah dan sinagoge-sinagoge Yahudi.
Kendati secara praktis bahasa Aram berbeda dengan bahasa Ibrani klasik, namun kedua bahasa ini adalah satu rumpun dan pada zaman Yesus bahasa Aram disebut juga sebagai bahasa Ibrani. Hal ini tampak pada catatan-catatan Perjanjian Baru, yang menyebut kata-kata Aram seperti:
Gabbatha (Yohanes 19:13) sebagai bahasa Ibrani juga. Begitu pula, sejarahwan Yahudi Flavius Yosephus memberitahukan kepada kita bahwa ia menulis bukunya
The Jewish War ditulis dalam 'bahasa Ibrani', meskipun kenyataannya ia menulis "dalam dialek Ibrani", yaitu
bahasa Aram. Karena pada zaman itu bahasa Aram, kendatipun dibedakan dari bahasa Ibrani sebagai "bahasa kekusasteraan rabbinis" (yang biasa disebut juga bahasa Ibrani Mishnah), tetapi bahasa Aram hanya dianggap sebagai dialek bahasa Ibrani tutur Galilea. Karena itu,
Petrus dikenali karena dialek bahasanya (Matius 26:73).
Bahasa Ibrani, Aram maupun Yunani dijumpai bersama-sama di wilayah Israel pada abad pertama Masehi. Penemuan inskripsi-inskripsi kuno (graffiti, monogram dan simbol) di bekas sinagoge Kapernaum yang ditulis dalam bahasa Ibrani Aram, Paleo-estrangelo Syriac, Yunani, bahkan Latin membuktikan dunia multi-etnik dan multi-lingual Yesus Kristus. Lebih-lebih lagi, jelas sekali dalam Injil Yohanes 19:19 dicatat bahwa inksripsi di atas kayu salib Yesus dicatat dalam bahasa Ibrani, Yunani dan Latin. Untuk pembaca bisa membayangkan, selain teks asli Yunani, di bawah ini dapat kita ikuti rekonstruksi bunyi inskripsi itu dalam Ibrani (baik Ibrani Mishnah maupun Ibrani tutur) dan juga dalam bahasa Latin:
*
iesous ho nasoraios ho basileos ton ioudaion (bahasa Yunani).
*
Yeshua ha natseri melak ha-yehudim (bahasa Ibrani Mishnah).
*
yeshua natsraya malka da yhudeim (bahasa Aram/Syriac).
*
iesus nazarenus rex yudaerum (bahasa Latin).
Kalau begitu, bagaimana mengucapkan nama Sang Juru Selamat yang sah? Yeshua, Iesous atau Iesus/Yesus? Jawabnya, semua sah-sah saja, karena semua bahasa itu hidup pada zaman-Nya. Jadi, dalam bahasa Aram inilah Yesus berbicara sehari-hari dan mengajar murid-muridnya, begitu juga ketika dikatakan bahwa Yesus bebicara dengan Paulus dalam bahasa Ibrani (Kisah 26:14), kemungkinan besar dalam bahasa Ibrani tutur Galilea atau Aram. Tetapi ketika membaca Taurat dan Kitab Nabi-nabi di sinagoge, pasti Yesus mendaraskannya dalam bahasa Ibrani (Lukas 4:18-20). Tetapi Yesus juga berbicara dalam bahasa Yunani, misalnya dalam percakapannya dengan seorang perwira di Kapernaum (Lukas 7:1-10).
Tidak hanya ke-3 bahasa itu saja yang berkembang pada masa pelayanan Yesus. Adanya penjajahan Romawi pula mengakibatkan adanya empat bahasa di era Yesus Kristus:
[1] bahasa Ibrani merupakan bahasa liturgis, digunakan untuk membaca Torah, dan sebagainya, tidak digunakan sebagai bahasa sehari-hari, dikenal sebagai bahasa Ibrani Misyna karena adanya campur tangan para ahli Taurat menyusun Talmud;
[2] bahasa Aram, digunakan oleh orang Yahudi lokal sebagai bahasa sehari-hari;
[3] bahasa Yunani, digunakan oleh orang Yahudi pendatang sebagai bahasa pergaulan di Timur Dekat; pada umumnya Yahudi pendatang berbahasa Yunani ini mengunjungi Yerusalem dalam rangka transaksi bisnis dan ziarah ke Bait Allah; dan
[4] bahasa Latin, bahasa kaum penjajah yang digunakan oleh orang-orang Romawi yang menjajah Israel sejak tahun 63 sebelum Masehi.
Sesudah keruntuhan Yerusalem tahun 70 Masehi, bahasa Aram yang mereka gunakan pun berangsur-angsur punah, bercampur dengan bahasa Jerman, Polandia, dan Rusia sehingga timbul dialek-dialek Yahudi yang baru seperti Yidisy, Ladino, dan sebagainya.
Sekitar awal 1800-an kalangan Yahudi yang dipelopori oleh seorang rabi mulai mengusahakan agar bahasa Ibrani kuno yang ditulis di dalam Tanakh (Taurat, Zabur, dan lain-lain) digunakan sebagai bahasa percakapan. Dan mulai saat itulah bahasa Ibrani baru digunakan kembali oleh orang Israel setelah tidak digunakan lebih dari 1000 tahun.
Artikel Terkait :
PERJANJIAN BARU, BAHASA, di
http://www.sarapanpagi.org/perjanjian-b ... 5.html#p325Tanya :Quote:
Kenyataan 2:
Pada waktu itu di Alexandria berdiam sejumlah besar orang Yahudi yang berbahasa Yunani. Selama pemerintahan Ptolemius II Philadelphus (285 - 246 SM) projek penterjemahan dari seluruh Kitab Suci orang Yahudi ke dalam bahasa Yunani dimulai oleh 72 ahli-kitab Yahudi - menurut tradisi - 6 orang dipilih mewakili setiap dari 12 suku bangsa Israel. Terjemahan ini diselesaikan sekitar tahun 250 - 125 SM dan disebut Septuagint,
Kitab ini sangat popular dan diakui sebagai Kitab Suci rasmi (kanon Alexandria) kaum Yahudi, yang tinggal di wilayah Asia Kecil dan Mesir. Pada waktu itu Ibrani adalah bahasa yang nyaris mati dan orang-orang Yahudi di Palestina umumnya berbicara dalam bahasa Aram. Jadi tidak mengherankan kalau Septuagint adalah terjemahan yang digunakan oleh Yesus, para Rasul dan para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru. Bahkan, 300 kutipan dari Kitab Perjanjian Lama yang ditemukan dalam Kitab Perjanjian Baru adalah berasal dari Septuagint. Harap diingat juga bahwa seluruh Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.
Soalan 2:
3. Apakah kriteria atau kehebatan 6 orang yang dipilih itu? Dan siapa mereka?
JAWAB :Tidak ada rujukan nama-nama dari para penterjemah Septuaginta (LXX, L=50, X=10, X=10) .
Infomasi mengenai terjemahan Septuaginta, Anda bisa membaca di artikel yang berjudul SEPTUAGINTA,
http://www.sarapanpagi.org/septuaginta-vt116.htmlTanya :Quote:
Kenyataan 3:
Setelah Yesus disalibkan dan wafat, para pengikut-Nya tidak menjadi punah tetapi malahan menjadi semakin kuat. Pada sekitar tahun 100 Masehi, para rabbi (imam Yahudi) berkumpul di Jamnia, Palestina, mungkin sebagai reaksi terhadap umat Kristen. Dalam konsili Jamnia ini mereka menetapkan empat kriteria untuk menentukan kanon (=standard) Kitab Suci mereka:
[1] Ditulis dalam bahasa Ibrani;
[2] Sesuai dengan Kitab Taurat;
[3] lebih tua dari jaman Ezra (sekitar 400 SM);
[4] dan ditulis di Palestina.
Atas kriteria-kriteria diatas mereka mengeluarkan kanon baru untuk menolak tujuh buku dari kanon Alexandria, yaitu seperti yang tercantum dalam Septuagint, yaitu: Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, 1 Makabe, 2 Makabe, berikut tambahan-tambahan dari kitab Ester dan Daniel. (Catatan: Surat Nabi Yeremia dianggap sebagai pasal 6 dari kitab Barukh). Hal ini dilakukan atas alasan bahwa mereka tidak dapat menemukan versi Ibrani dari kitab-kitab yang ditolak diatas.
JAWAB :Dalam penelitian para ahli kitab Yahudi ada beberapa kitab-kitab dalam terjemahan Septuaginta yang tidak lulus kanon. Untuk itu kitab tersebut tidak masuk dalam Kanon Yahudi (dalam Kitab TANAKH Ibrani)
Kanon Yahudi Perjanjian Lama diikuti oleh golongan Kristen non Katolik.
Mengenai Kitab Tanakh bisa dibaca di
http://www.sarapanpagi.org/kitab-tanakh-vt115.html#p242Tanya :Quote:
Soalan 4&5:
4. Bilakah tarikh sebenar Jesus disalib dan wafat?
JAWAB :Ada perkiraan bahwa Yesus lahir pada tahun 4 sM, berpijak pada perkiraan ini, karena Yesus disalib pada usia 33, maka tahunnya adalah 29 Masehi.
Artikel terkait :
TANGGAL BERAPA YESUS LAHIR ?, di
http://www.sarapanpagi.org/tanggal-bera ... vt250.htmlTanya :Quote:
5. Apakah kerana tidak diketemui dalam versi Ibrani terus ditolak?
JAWAB :Pengukuran bukan dari tidak ditemukannya naskah bahasa Ibrani saja, tetapi ada ayat-ayat dalam kitab Deuterokanonika & Apokrip yang "tidak kanon" (tidak sesuai/ tidak ada rujukan/ tidak ada dasar) dengan kitab-kitab lain yang diakui Yahudi dalam Tanakh mereka.
Tanya :Quote:
Soalan 6:
Apa pandangan sdr dan rerakan kristian yang lain, jika saya katakan bahawa orang Islam sekarang adalah sebenarnya pewaris Puak Hawariyyun, pengikut Nabi Isa yang taat dan yang benar?
JAWAB :
Saya Sebagai seorang Kristiani tidak keberatan jika Anda mengatakan begitu. Saya melihat sebagian dan banyak orang Muslim yang baik. Bagaimanapun Kitab Suci Al~Qur'an adalah kitab yang menghormati Yesus Kristus (Isa Al-Masih) sebagai nabi yang mulia.
Blessings,
BP