IV. Perlombaan Kristen - berlangsungnya (Filipi 3:10-19)
a. Mengenal Kristus secara pengalaman (Filipi 3:10)
* Filipi 3:10
LAI TB,
Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
KJV,
That I may know him, and the power of his resurrection, and the fellowship of his sufferings, being made conformable unto his death;
TR,
του γνωναι αυτον και την δυναμιν της αναστασεως αυτου και την κοινωνιαν των παθηματων αυτου συμμορφουμενος τω θανατω αυτου
Translit. interlinear,
tou gnônai {untuk mengenal/ mengetahui} auton {Dia} kai {dan} tên dunamin {kuasa} tês anastaseôs {kebangkitan} autou {-Nya} kai {dan} tên koinônian {persekutuan} tôn pathêmatôn {dalam penderitaan-penderitaan} autou {-Nya} summorphoumenos {menjadi serupa} tô thanatô {dalam kematian} autou {-Nya}
Catatan :
Ungkapan penuh perasaan tentang kerinduan terdalam Paulus. Untuk mengenal Dia berarti mengalami kuasa yang mengalir dari kesatuan dengan Kristus yang sudah bangkit dan memasuki persekutuan dalam penderitaan-Nya (semua kesulitan yang harus diderita demi Kristus; bandingkan Kisah 9:16). Bahwa semua ini merupakan dua aspek dari pengalaman yang sama tampak dari artikel tunggal di dalam bahasa Yunaninya. Menjadi serupa "συμμορφουμενος – summorphoumenos" (dalam bentuk present participle) dalam kematian-Nya mendefinisikan lebih jauh pengalaman tersebut sebagai pengalaman mati terhadap diri sendiri.
Rasul Paulus tidak pemah puas dengan pengenalannya akan Kristus. Ia senantiasa merindukan persekutuan yang lebih erat dengan Kristus. Paulus senantiasa berhasrat untuk mengenal Kristus dengan lebih dalam, yaitu melalui pengalaman. Jikalau kita puas dengan pengalaman Kristus dalam waktu yang sudah-sudah, kita tentu banyak berkekurangan dan bersalah. Kita tidak dapat mengukur Kristus dan tidak dapat menghabiskan kuasa Kristus. Setiap hari kita wajib berjumpa dengan kuasa dan sukacita yang baru di dalam Kristus.
Kelengkapan kita ada di dalam Kristus dan kita lengkap di dalam Dia. Pengenalan akan Kristus memuat juga kuasa kebangkitan-Nya. Kebangkitan Kristus menyatakan kuasa Tuhan Yesus secara pribadi dan secara pekerjaan-Nya. Kebangkitan Kristus membuktikan kepada dunia ini bahwa Ia adalah Anak Allah dan membuktikan bahwa Allah mengiakan dan berkenan atas pekerjaan-Nya dan pekerjaan itu diterima baik oleh Bapa-Nya. Maka pekerjaan Kristus tidak sempurna kecuali kalau kita yang percaya kepada-Nya, baik tubuh, jiwa, dan roh dibangkitkan dan menjadi serupa dengan Kristus. Pengenalan akan Kristus ini ialah pengenalan yang hidup, maju, dan tidak terbatas. Pengenalan itu membuktikan bahwa Kristus mengerjakan di dalam kita segala sesuatu sesuai dengan janji-Nya. Kuasa kebangkitan Kristus melepaskan kita daripada dosa dan kematian, bahkan memberi kemenangan atas dosa dan kematian itu, membangkitkan kita daripada kematian dosa dan memindahkan kita ke dalam hidup yang baru di dalam Kristus. (Lihat Roma 6:4 dan selanjutnya, Efesus 1:19 dan selanjutnya, Efesus 2:5.)
Persekutuan dalam penderitaan Kristus menyatakan bahwa ada hubungan antara penderitaan Kristus (baik di taman Getsemani maupun di atas kayu salib) dengan rasul-Nya, yaitu Paulus, yang dalam kehidupannya menderita karena Kristus sehingga dianggap bahwa penderitaan Paulus menjadi lanjutan penderitaan Kristus itu (2 Korintus 4; 10). Tiap-tiap orang yang sungguh-sungguh mengikut Kristus dan mengenal kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, pasti mengalami penderitaan Kristus biarpun sedikit atau banyak. Kebangkitan Kristus tidak dapat diceraikan dari penderitaan Kristus. Demikian pula kita yang mengenal kebangkitan-Nya harus juga mengenal penderitaan-Nya. Bersukacitalah kita apabila kita menderita karena Kristus sebab hal menderita karena Kristus itu membawa kepada kita persekutuan dengan Kristus yang tidak dapat diperoleh dengan cara yang lain. Penderitaan yang membawa kita lebih rapat kepada Tuhan Yesus adalah penderitaan yang amat indah. Taufan yang membawa kita rapat kepada Tuhan Yesus menjadi berkat bagi kita. Janganlah kita lupa bahwa jikalau kita menderita karena Dia, pasti juga penderitaan kita menjadi penderitaan Dia juga.
Menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya berhubungan dengan pengajaran yang terdapat dalam Roma pasal 6, yaitu bahwa kematian dan kebangkitan Kristus menjadi pekerjaan yang harus dialami oleh semua pengikut Kristus. Kematian Kristus karena dosa dan kematian-Nya kepada dosa membawa kepada kita suatu tuntutan bahwa kita pun harus mati kepada diri yang lama dan kehidupan yang lama di dalam dosa dan dibangkitkan ke dalam hidup yang baru di dalam Kristus. Ketika Kristus mati di atas kayu salib, kematian kita kepada dosa berhubungan erat dengannya, dan kepenuhan kuasa dan berkat kematian itu akan kita alami juga kalau kita menurut pesan yang diberikan Paulus kepada kita dalam Roma 6: 11. Kematian bagi dosa merupakan pintu kepada hidup yang baru. Paulus mati kepada diri sendiri supaya ia dapat hidup bagi Allah (Galatia 2 :20). Kehidupan Paulus yang lama sebagai seorang Farisi disalibkan supaya Kristus dapat dinobatkan sebagai Tuhan dalam kehidupan Paulus (Galatia 5 :24; 6:14). Sehari-harian kita wajib mati kepada diri sendiri dan kepada dosa dan kehidupan yang lama, dan sehari-harian dibangkitkan beserta dengan Kristus di dalam hidup yang baru.
b. Tujuan kita - kebangkitan dari an tara qrang mati (Filipi 3: 11)
* Filipi 3:11
LAI TB,
supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
KJV,
If by any means I might attain unto the resurrection of the dead.
TR,
ει πως καταντησω εις την εξαναστασιν των νεκρων
Translit. interlinear,
ei pôs {jika mungkin} katantêsô {aku beroleh} eis tên exanastasin {kebangkitan} tôn nekrôn {dari orang-orang mati}
Catatan :
"Supaya aku" ungkapan kerendahan hati, bukan ketidakpastian. Kebangkitan dari antara orang mati adalah kebangkitan orang percaya, bukan kebangkitan umum
Kata
"kebangkitan" dalam ayat 11 berbeda dari kata yang biasa dipakai untuk kebangkitan. Kata yang dipakai dalam ayat ini ialah
"εξαναστασιν - exanastasin" yang tepatnya berarti "kebangkitan ke luar dari antara orang-orang mati". Di sini Paulus memikirkan dan membicarakan hanyalah kebangkitan orang-orang saleh keluar dari antara orang-orang yang mati. Kata itu hanya dipakai dalam ayat ini, dan tidak dijumpai lagi dalam Perjanjian Baru. Oleh karena itu, kita harus menyelidiki betul-betul yang dimaksudkan Rasul Paulus dengan kata itu. Untuk menerangkannya, baiklah kita bersoal dahulu. Adakah suatu kebangkitan yang umum, yaitu suatu kebangkitan untuk semua orang pada satu waktu seperti yang umum dibicarakan pada hari kiamat? Kami harus jawab, TIDAK ADA. Tidak ada suatu kebangkitan umum. Kami tidak berkata bahwa tidak ada kebangkitan, melainkan tidak ada suatu kebangkitan yang umum untuk semua orang pada satu waktu. Baiklah kita selidiki beberapa ayat tentang kebangkitan. Tuhan Yesus telah berkata dalam Yohanes 5 :29 demikian:
"Dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum." Dalam ayat itu kita mendapati dua kebangkitan, kebangkitan untuk hidup dan kebangkitan untuk dihukum.
Tuhan Yesus berkata lagi dalam Lukas 14:14:
"Dan engkau akan berbahagia karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar." Di situ kita berjumpa dengan perkataan "hari kebangkitan orang-orang benar".
Dalam Wahyu 20:5,6 Rasul Yohanes berkata,
"Tetapi orang-orang mati yang lain tidak bangkit sebelum berakhir masa yang seribu tahun itu. Inilah kebangkitan yang pertama. Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya."
Lagi kita baca dalam I Tesalonika 4: 16:
"Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada hari penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit."
Paulus berkata lagi mengenai kebangkitan dalam I Korintus 15 :20 dan 23,
"Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatanganNya." Dan dalam ayat 52 Paulus berkata,
"Dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah." Ingatlah juga dalam ayat 51 Rasul Paulus membicarakan kita, yaitu kita yang percaya kepada Tuhan Yesus, dan juga kitalah yang dikatakan dalam ayat 52.
Bagaimanakah kita dapat mengatur ayat-ayat ini agar menerangkan "kebangkitan keluar dari antara orang-orang mati"? Tuhan Yesus berbicara mengenai dua kebangkitan. Yohanes juga membicarakan dua kebangkitan: yang satu dinamai "kebangkitan pertama" dan yang kedua tidak diberi nama. Rasul Paulus menerangkan kepada kita apa yang akan terjadi dalam kebangkitan yang pertama dalam ayat yang disebut di atas. Ia menerangkan hal itu lebih jauh dalam Filipi 3 :20-21. Rasul Paulus menerangkan dalam Surat I Tesalonika bahwa kebangkitan ini akan terjadi pada waktu Tuhan Yesus kembali untuk mengambil jemaat-Nya, yaitu orang-orang saleh-Nya, dan membawa mereka ke sorga, atau dengan kata lain pelantikan jemaat Kristus. Dalam
perumpamaan sepuluh gadis, Tuhan Yesus memberi pelajaran kepada kita bahwa lima anak gadis itu bodoh dan tidak bersedia pada waktu Tuhan datang. Ada yang bersedia dan masuk ke dalam perjamuan kawin dan ada yang tidak bersedia dan tidak dapat masuk. Ada yang kecewa. Pelajaran perumpamaan itu ialah: hendaklah kita hidup bersiap sedia dan lengkap untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus supaya kita tidak kecewa pada waktu Ia datang. Dalam Filipi 3: 11 Rasul Paulus berkata,
"Supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati." Dengan demikian kita melihat bahwa Paulus rindu hidup dengan cara yang berkenan kepada Kristus supaya ia dapat termasuk ke dalam golongan yang dibangkitkan keluar dari antara orang mati. Kita juga harus mempunyai keinginan untuk hidup dalam kesucian, berkenan kepada Tuhan, dipenuhi dengan Roh Kudus, dan bersiap sedia menantikan kedatangan Tuhan Yesus supaya kita tidak kecewa dan supaya kita termasuk golongan yang dibangkitkan keluar dari antara orang mati.
Ingatlah beberapa orang akan ketinggalan, baik dari antara orang mati yang masih tinggal tetap dalam kuburnya (jangan lupa apa yang dikatakan dalam Wahyu 20:6) dan demikian pun, pada waktu Tuhan Yesus datang ada yang akan dinaikkan, dan ada yang akan kecewa dan tidak dapat dinaikkan pada waktu itu. Betapa ini patut mendorong kita kepada hidup kesempurnaan di dalam Kristus. Rasul Paulus menghubungkan ayat 11 ini dengan pelajaran tentang hidup kesucian, hidup kesempurnaan, kesempurnaan kekristenan yang dituntut dan dikejar. Nanti kit a akan menyelidiki hal mengejar hidup kesempurnaan kekristenan, yaitu suatu hal yang senantiasa di hadapan kit a sebagai suatu sasaran yang senantiasa kita tuju. Soal yang penting bagi kita ialah: adakah Saudara dan saya bersiap sedia untuk kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali? Adakah kita bersiap sedia untuk kebangkitan kehidupan, kebangkitan yang pertama pada waktu jemaat dilantik kelak? Hadiah yang dikatakan dalam ayat 14 ialah kebangkitan keluar dari antara orang mati. Dan tujuan tidak lain daripada Kristus sendiri, yaitu pada waktu Ia datang. Dalam ayat 20-21 dikatakan bahwa apabila Tuhan Yesus datang, Ia akan mengubah tubuh kita yang hina ini sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia. Ada hubungan antara ayat 21, ayat 14, dan ayat 11 ini. Tujuan yang dikatakan dalam ayat 14 ialah Kristus pada waktu Ia datang yang kedua kalinya.
Rasul Paulus telah melihat Kristus dalam kemuliaan dan kemuliaan itu telah menghilangkan segala cahaya yang datang daripada dunia ini. Oleh kemuliaan itu diri sendiri dan kebenaran diri sendiri dijatuhkan dari takhta kehidupan Paulus, bahkan kemuliaan itu mendatangkan suatu perubahan besar dalam kehidupannya. Yang menjadi pusat kehidupannya bukan lagi dirinya sendiri, melainkan suatu pribadi yang lain, yaitu Pribadi Ilahi, Kristus dalam kemuliaan.
c. Mengarahkan diri untuk memperoleh hadiah (Filipi 3: 12-14)
* Filipi 3: 12-14
3:12 LAI TB,
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.
KJV,
Not as though I had already attained, either were already perfect: but I follow after, if that I may apprehend that for which also I am apprehended of Christ Jesus.
TR,
ουχ οτι ηδη ελαβον η ηδη τετελειωμαι διωκω δε ει και καταλαβω εφ ω και κατεληφθην υπο του χριστου ιησου
Translit. interlinear,
oukh {bukan} hoti {bahwa} êdê {sekarang} elabon {telah menerima} ê {atau} êdê {sekarang} teteleiômai {telah disempurnakan} diôkô {aku mengejar} de {tetapi} ei {jika} kai {memang} katalabô {aku dapat menangkap} eph hô {karena} kai {juga} katelêphthên {aku telah ditangkap} upo {oleh}tou christou {Kristus} iêsou {Yesus}
3:13 LAI TB,
Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
KJV,
Brethren, I count not myself to have apprehended: but this one thing I do, forgetting those things which are behind, and reaching forth unto those things which are before,
TR,
αδελφοι εγω εμαυτον ου λογιζομαι κατειληφεναι εν δε τα μεν οπισω επιλανθανομενος τοις δε εμπροσθεν επεκτεινομενος
Translit. interlinear,
adelphoi {ha saudara-saudara} egô {aku} emauton {diriku} ou {tidak} logizomai {menganggap/ memperhitungkan} kateilêphenai {telah menangkap} hen de {hanya satu hall} ta {hal-hal} men {di satu pihak} opisô {di belakang} epilanthanomenos {melupakan} tois {hal-hak} de {di lain pihak} emprosthen {di hadapan} epekteinomenos {merentangkan diri kepada}
3:14 LAI TB,
dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
KJV,
I press toward the mark for the prize of the high calling of God in Christ Jesus.
TR,
κατα σκοπον διωκω επι το βραβειον της ανω κλησεως του θεου εν χριστω ιησου
Translit. interlinear,
kata {menuju} skopon {tujuan} diôkô {aku mengejar} epi {kepada} to brabeion {hadiah} tês anô {dari atas} klêseôs {yaitu panggilan } tou theou {dari Allah} en {dalam} christô {Kristus} iêsou {Yesus}
Catatan :
Agar jemaat di Filipi jangan memperoleh kesan bahwa dirinya sudah mencapai tujuan itu, Paulus dengan hati-hati menunjukkan bahwa dirinya masih sangat terlibat di dalam pertandingan hidup. Peringatan terhadap salah tafsir ini dikemukakan karena pengaruh golongan perfeksionis yang berpuas diri sedang menyebar di kalangan jemaat pada umumnya.
Ayat 12, Paulus belum memperoleh pengalaman pengenalan yang sempurna dan final tentang Tuhannya (ayat 8-11). Telah sempurna menegaskan lebih lanjut sasaran hidupnya. Sempurna di sini tentu berarti pengenalan penuh dan keserupaan sempurna. Ayat 12b dapat diparafrase menjadi "tetapi aku terus maju dengan bersusah payah kalau-kalau "aku dapat juga menangkapnya", Yunani, " καταλαβω - katalabô" verb - second aorist active subjunctive - first person singular, dari kata "καταλαμβανω – katalambanô" , leksikon Yunani : to take eagerly, i.e. seize, possess, etc. -- apprehend, attain, come upon, comprehend, find, obtain, perceive, (over-)take. (katalambaniJ di dalam papirus dipakai untuk tanah yang diambil oleh ara penjajah) untuk mana akupun telah "ditangkap oleh Kristus" di jalan menuju ke Damsyik." Allah mempunyai rencana dengan pertobatan Paulus, dan Paulus sangat mendambakan agar maksud tersebut dapat direalisasikan sepenuhnya di dalam hidupnya. Banyak penafsir menganggap kata "εφ ω - eph hô" berarti "karena" yang dengan demikian akan menekankan alasan (bukan sasaran) dari jerih payah Paulus
Ayat 13. Ayat 13, 14 memperluas pokok pikiran dari ayat 12. Keadaan belum sempurna orang Kristen menghancurkan sikap berpuas diri dan menuntut upaya yang bersungguh-sungguh. "Aku sendiri" dapat menyiratkan suatu kontras dengan tindakan memuji diri dari orang lain. Kiasan yang dipakai dalah suatu pertandingan lari. Kata-kata "tetapi ini" mengungkapkan "satu maksud tunggal dan pemusatan semua tenaga untuk memenuhinya". "Melupakan apa yang telah di belakangku". Keberhasilan-keberhasilan yang lalu dalam kehidupannya sebagai orang Kristen yang dapat menyebabkan rasa puas diri serta berkurangnya semangat. "Mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku" secara jelas melukiskan seorang pelari yang menggerakkan seluruh sisa tenaganya dan berpacu ke arah garis akhir.
Ayat 14. Tujuan (Kata "σκοπον – skopon" dari kata "σκοπεω – skopeô ", "memandang kepada"). Yang menjadi sasaran perhatian penuh. Pengalihan pandangan akan berakibat fatal. Ada orang yang beranggapan bahwa kiasan yang dipakai adalah perlombaan kereta kuda). Jika kesempurnaan tertinggi merupakan tujuan si pelari (yang mencegahnya dari menyimpang arah), maka hal itu juga merupakan hadiah baginya. Hadiah adalah milik orang-orang yang dengan segenap hati menjawab panggilan surgawi Allah (menjauhi diri sendiri dan menuju ketinggian-ketinggian baru dari pencapaian rohani) dalam Kristus Yesus.
Kata yang terpenting dalam ayat 12 ialah "ditangkap" (Yunani, "
κατεληφθην - katelêphthên") dan "menangkap" (Yunani, "
καταλαβω - katalabô). Dalam ayat itu terlihat kerinduan Paulus yang tinggi dan mulia itu. Pada waktu Rasul Paulus berjalan ke Damsyik, ia ditangkap oleh Kristus, artinya sarna seperti orang ditangkap oleh polisi. Ia ditangkap oleh Kristus sebab Kristus mempunyai suatu maksud dan tujuan bagi hidup Rasul Paulus. Kemudian dari itu hanya ada satu kerinduan dalam hati Rasul Paulus, yaitu supaya ia menangkap tujuan dan maksud Kristus di dalam dia. Paulus senantiasa melihat kehidupan di hadapannya yang lebih mulia, lebih tinggi, lebih sempurna, dan itulah yang ingin dicapainya. Tidak seorang pun menjadi orang Kristen hanya supaya ia sendiri diselamatkan, melainkan ia harus memikirkan orang-orang lain yang harus diselamatkan. Demikian juga tidak seorang pun menjadi orang Kristen hanya supaya ia menjadi utusan Kristus untuk membawa Firman-Nya kepada orang-orang lain, melainkan ia harus memikirkan diri sendiri. Itulah yang dipikirkan Paulus di sini. Dalam Kisah para Rasul ia membicarakan dirinya ditangkap oleh Kristus untuk membawa nama-Nya kepada bangsa asing, tetapi di sini Rasul Paulus membicarakan dirinya sendiri dan ini sesuai dengan perkataan Rasul Paulus dalam ayat lain, yaitu dalam Efesus 4:12-13:
"Untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kit a semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus." Kolose 1 :28 berbunyi:
"Dialah yang kami beritakan apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus."
Dari ayat-ayat ini terlihat suatu kesempurnaan yang wajib menjadi tujuan tiap-tiap orang Kristen. Kita harus memiliki kerinduan yang sama seperti kerinduan Rasul Paulus untuk berusaha menangkap kesempurnaan itu, sebagaimana kita masing-masing sudah ditangkap oleh Kristus, yaitu supaya kit a menjadi sempurna dan serupa dengan Kristus Yesus. Kita tahu bahwa ini bukan kesempumaan yang mutlak sehingga orang dapat berkata, "Saya tidak lagi berbuat dosa; sama sekali tidak lagi ada dosa di dalam saya." Kesempumaan yang mutlak hanya dapat kita capai pada waktu kita sampai di sorga. Di sana kita bebas dari pencobaan dan dosa. Kesempurnaan yang dikatakan di sini bersifat relatif, suatu kesempumaan yang tidak pemah sempurna, tidak pemah dicapai secara keseluruhan tetapi senantiasa menjadi tujuan, dan senantiasa maju dalam kesempurnaan itu, senantiasa maju dan bertambah-tambah menjadi serupa dengan Kristus, itulah yang dibicarakan oleh Rasul Paulus. Itulah yang dikejar oleh Rasul Paulus seperti seorang yang berlari dalam perlombaan menuju kepada tujuan. Paulus senantiasa berlari dalam perlombaan itu untuk menangkap maksud Tuhan pada waktu Tuhan telah menangkap dia. Rasul Paulus tidak pernah puas dengan kerohaniannya. Ia tidak pernah berpikir bahwa kerohaniannya tidak dapat bertambah-tambah lagi, melainkan ia selalu merindukan suatu kerohanian yang lebih mulia dan lebih tinggi.
Dengan sekuat tenaganya dan dengan segala kuasanya ia mengarahkan dirinya kepada tujuan dan kesempurnaan itu. Rasul Paulus sudah banyak bertambah-tambah dalam hal menjadi serupa dengan Kristus, tetapi tujuan itu masih di hadapannya dan bukan di belakangnya. Walaupun begitu, ia tidak putus asa, melainkan ia tetap berlari-lari kepada tujuan. Ia belum sampai kepada akhir perlombaan itu, tetapi ia berlari-Iari dengan sekuat-kuatnya. Kenyataan bahwa saya ditangkap oleh Kristus, walaupun hal itu membahagiakan dan sangat berkuasa, tidak menentukan bahwa saya akan menangkap tujuan yang ada pada Kristus pada waktu Ia menangkap saya. Apa lagi yang perlu kita lakukan untuk mencapainya? Tidak lain daripada berusaha. Paulus berkata, "melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus." Saya memerlukan iman, tetapi iman itu harus ditambah dengan usaha. Kalau saya ingin memiliki sesuatu, saya harus mengambil dan memegang benda itu dengan tangan saya. Tetapi berusaha mencapai sesuatu dengan kuasa diri sendiri berlainan dengan berusaha untuk mencapai sesuatu yang kita ketahui adalah kehendak Kristus untuk kita dan Ia juga memberi kuasa kepada kita untuk berusaha.
Kristus menghendaki kita menjadi serupa dengan Dia. Apabila kita ingin mengerjakan sawah, tentu kita mengairi sawah itu dan membajaknya serta mengerjakannya, lalu menanaminya dengan padi yang kemudian hari kita tuai. Demikian juga kalau kita ingin menjadi serupa dengan Kristus, kita harus membanjiri hidup kita dengan Kristus dan kita tentu akan berbuah seperti Kristus. Dari ayat-ayat ini nyata bahwa Paulus sangat menentang pengajaran sesat yang berkata, "Baiklah kita berdosa supaya kasih karunia semakin bertambah." Pengajaran itu disebut
Antinomianisme, yang mengajarkan bahwa kelakuan kita tidak penting dan tidak menjadi soal sebab pikiran dan hati kita sudah dijadikan terang dan juga sudah ditebus oleh kasih karunia Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak perlu membuang dosa dan kejahatan sebab dosa itu tidak dapat menajiskan atau mencemarkan jiwa yang sudah ditebus.
Pengajaran itu kedapatan pada dewasa ini di antara orang-orang yang berkata,
"Sekali dalam kasih karunia, tetap dalam kasih karunia." Mereka tidak memperhatikan kelakuan atau menyesuaikan kelakuan mereka dengan Firman Tuhan.
Ada yang berpendapat bahwa dalam jemaat di Filipi terdapat orang-orang
antinomian. Janganlah kita lekas mengambil keputusan sebelum kita melihat bukti, dan jangan kita berpikir bahwa ada orang yang sedemikian di dalam jemaat di Filipi. Di kota Roma dan Korintus memang ada orang yang berpegang pada pengajaran itu, tetapi di sini boleh jadi Paulus hanya memberitahukan kebenaran Injil dan menjadi suatu peringatan kepada orang-orang di Filipi. Oleh karena itu, Paulus dalam ayat 18 menghardik orang-orang yang mengaku dirinya pengikut Kristus, yang telah mencampuradukkan pengajaran bidat dengan pengajaran Injil yang diberikan Paulus kepada mereka.
Dalam ayat 13 dan 14 Rasul Paulus memberitahu kita bagaimana kita harus berlari dalam perlombaan Kristen. Ia menasihati kita agar bersikap tidak peduli terhadap apa-apa di kanan kiri atau di belakang kita. Dengan penuh pengharapan, dengan berusaha sungguh-sungguh, kita arahkan pandangan kita kepada satu tujuan dan satu maksud saja. Paulus memperhatikan dan mengarahkan diri kepada tujuan yang tidak lain daripada maksud Tuhan pada waktu Paulus ditangkap oleh Kristus Yesus. Maksud Tuhan Allah dalam hal la memanggil Paulus dan maksud Kristus dalam hal la menebus Paulus menjadi tujuan segenap hidup Rasul Paulus, dan tujuan Tuhan menjadi tujuan Paulus. Apakah yang dikejar Paulus supaya ia dapat menangkapnya? Tidak lain daripada Kristus Yesus, yang menjadi tujuan kita dalam perlombaan ini. Kristus senantiasa ada di hadapan kita di dalam perlombaan ini. Kristus senantiasa ada di hadapan kita di dalam perlombaan ini, dan sementara kita berlari dalam perlombaan ini dan berusaha dengan sekuat-kuatnya, kita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Karena itu, boleh kita katakan bahwa tujuan kita bukan Kristus saja, melainkan supaya kita menjadi serupa dengan Kristus. Itulah maksud Tuhan terhadap masing-masing supaya kehidupan kita sesuai dengan kehidupan Kristus, dan kita menjadi serupa dengan Dia.
Rasul Paulus berkata, "Ini yang kulakukan." Hanya satu tujuannya, yaitu supaya ia menjadi serupa dengan Kristus. Daud berkata,
"Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku" (Mazmur 27:4). Demikian juga Rasul Paulus rindu dan mempunyai satu tujuan saja, yaitu supaya ia diam beserta dengan Kristus dan menjadi serupa dengan Kristus. Pekerjaan Roh Kudus di dalam kita ialah supaya la menjadikan kita serupa dengan Kristus, menjadikan kita sama dengan Kristus. Tetapi kita harus mempunyai satu tujuan, satu sasaran, satu maksud, yaitu menjadi serupa dengan Kristus. Supaya pasti sampai kepada tujuan itu, Rasul Paulus melupakan apa yang telah di belakangnya dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya. Paulus melupakan kehidupannya yang lalu, kehidupannya dalam agama Yahusi, dan segala kebenaran diri sendiri. Tetapi lebih daripada itu, ia melupakan segala pengalamannya dalam agama Kristen. Segala kesukaran, segala penderitaan, segala kemajuannya, dan segala berkat pun dilupakannya, asal ia maju menuju tujuan yang senantiasa ada di hadapannya. Paulus menasihati kita agar melupakan kekurangan kita, kesalahan kita, dosa-dosa yang sudah mengalahkan kita. Tetapi ia ingin agar kita ingat akan pelajaran yang kita peroleh dari dosa dan kesalahan itu. Paulus menghendaki kita melupakan segala itu supaya kita jangan putus asa. Tetapi kita harus melupakan kemajuan kita dan jasa-jasa kita supaya kita jangan menjadi sombong dan menyangka bahwa kit a sudah sampai kepada kesempurnaan dan tidak ada lagi apa-apa yang dapat kita capai dalam Tuhan. Segala yang telah dicapai Paulus adalah seolah-olah nol sebab ia masih melihat Kristus di hadapannya. Lebih baik berusaha daripada duduk dan menyangka diri sudah mencapai kesempurnaan.
Paulus mendapat dorongan sebab melihat Kristus sebagai tujuannya dan hadiah yang akan diberikan Kristus kepadanya. la berlari dengan tidak melihat ke kanan, ke kiri, atau ke belakang. Ia menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan dan berjumpa dengan Kristus sendiri. Bilamanakah kita akan sampai kepada tujuan dan mendapat hadiah itu? Pada waktu Tuhan Yesus kembah, sebagaimana dikatakan dalam I Tesalonika 4: 16. Paulus berkata dalam ayat 14 ini,
"Dan berlari-Iari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah." Apakah hadiah itu? Panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Di sini Paulus rupanya memikirkan kedatangan Tuhan Yesus pada waktu Ia akan melantik jemaat-Nya dan mengambil orang-orang saleh kepada diri-Nya sendiri. Inilah yang selalu menjadi tujuan Rasul Paulus. Kerinduannya yang tinggi ialah menyiapkan diri untuk hari itu supaya pada hari tersebut ia didapati di dalam Kristus Yesus supaya ia didapati serupa dengan Kristus Yesus.
d. Turutlah pikiran itu Filipi 3: 15
* Filipi 3: 15
LAI TB,
Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.
KJV,
Let us therefore, as many as be perfect, be thus minded: and if in any thing ye be otherwise minded, God shall reveal even this unto you.
TR,
οσοι ουν τελειοι τουτο φρονωμεν και ει τι ετερως φρονειτε και τουτο ο θεος υμιν αποκαλυψει
Translit. interlinear,
hosoi {kita semua yang} oun {karena itu} teleioi {sempurna} touto {ini} phronômen {harus berpendapat} kai {dan} ei {jika} ti {(tantang) sesuatu} heterôs {secara lain} phroneite {kamu berpendapat} kai {dan} touto {ini} ho theos {Allah} humin {kepadamu} apokalupsei {akan menyatakan}
Catatan :
Kata Yunani "τελειοι – teleioi". adjective - nominative plural masculine, dari kata "τελειος – teleios", leksikon Yunani : complete (in various applications of labor, growth, mental and moral character, etc.); neuter completeness -- of full age, man, perfect, Menjadi sempurna, menjadi dewasa. Di dalam agama-agama mistik istilah ini menunjuk kepada orang-orang yang sudah terlatih sempurna, yang berbeda dengan orang-orang yang masih baru. Tidak ada petunjuk mengenai adanya "ironi yang penuh celaan" di sini. Berpikir demikian. Milikilah sikap dasar ini, yaitu, bahwa keberhasilan yang lalu jangan meniadakan perlunya usaha keras untuk masa depan. Jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, kata Paulus menambahkan untuk memberi semangat, "Jika kamu belum yakin bahwa hal ini harus diterapkan di dalam setiap bidang kehidupan, maka hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu."
Dalam ayat 12 Rasul Paulus berkata,
"Bukan seolah-olah aku telah sempurna," dan dalam ayat 15 ia berkata,
"yang sempurna." Adakah dua perkataan itu bertentangan satu dengan yang lain? Sekali-kali tidak.
Kesempurnaan yang dikatakan dalam ayat 12 adalah kesempurnaan yang mutlak, yang hanya akan dicapai pada waktu segala Tujuan Tuhan dalam Rasul Paulus sudah selesai dan segala dicapai olehnya secara perangai. Semua itu tidak akan dicapai sampai pada waktu Tuhan datang, atau pada akhir hidup ini. Tetapi pada pihak lain, ada suatu kesempurnaan yang kedapatan dalam Kristus dan yang juga dituntut dari tiap-tiap orang Kristen. Paulus berkata. "Ini yang kulakukan", yaitu ia mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya, yaitu kesempurnaan yang dapat dicapai di dalam Kristus. Ada kebenaran yang dibilangkan kepada kita orang Kristen, ada juga kebenaran yang DIBERIKAN dengan sesungguh-sungguhnya. Kalau tidak demikian, tentu itu tidak jadi kebenaran. Demikian juga ada kesempurnaan yang dibilangkan kepada kita orang Kristen, yaitu kita sempurna di dalam Kristus, tetapi ada juga kesempurnaan yang DIBERIKAN kepada kita, yang menjadikan kita serupa dengan Kristus; dan hal menjadi serupa dengan Kristus adalah suatu hal yang bertambah-tambah, yang maju.
Walaupun Rasul Paulus telah berjalan dengan Kristus lebih dari tiga puluh tahun, namun masih ada kesempatan untuk maju dalam Kristus dan maju dalam kesempurnaan itu. Demikian juga dengan kita , ada suatu kekudusan di dalam Kristus, di dalam Dia adalah suatu kesempurnaan, dan ada juga Roh Kudus yang Mahakuasa yang mengerjakan kesempurnaan itu di dalam kita, asal kita menyerahkah diri seluruhnya kepada-Nya. Banyak ayat dalam Alkitab membicarakan kesempurnaan itu, misalnya Efesus 4:12, Kolose 1 :28; I Korintus 14:20, II Timotius 3: 17, dan I Tesalonika 5 :23-24. Ada banyak kesaksian pengkhotbah-pengkhotbah besar dalam jemaat Tuhan yang dapat dikatakan untuk menunjukkan bahwa ada waktu dalam mana terang ini sudah bersinar di dalam jiwa mereka dan mereka insaf bahwa di dalam Kristus ada suatu kesempurnaan walaupun mereka sudah lama mengabarkan Injil. Kebenaran itu nyata , yaitu bahwa pada kita ada suatu kehidupan yang penuh dengan kemenangan atas dosa , atas dunia, at au Iblis, dan atas diri sendiri; suatu kemenangan yang sempurna, suatu sukacita dan suatu kepuasan hati yang cukup bagi tiap-tiap orang di dalam Kristus Yesus. Semua itu tersedia bagi Saudara dan bagi saya. Paulus berkata,
"Ini yang kulakukan", yaitu mencapai kesempurnaan itu dan menjadi serupa dengan Kristus.
Kesucian hati terdapat dalam niat yang demikian ini, niat yang tunggal, yaitu tidak mendua hati, melainkan mempunyai satu tujuan, yaitu menghendaki kesempurnaan. Orang yang mendua hati, yang separuh menurut dunia ini dan separuh menurut Kristus, tidak akan tenang hidupnya (Yakobus 1 :8 ). Penulis Surat Ibrani berkata,
"Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran ten tang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh" (Ibrani 6: 1).
Dalam kepenuhan Roh Kudus ada suatu kelengkapan untuk kita masing-rnasing supaya kita menjadi orang yang sempurna dan berkenan kepada Kristus Tuhan kita. Ada cerita tentang seorang pengabar Injil dalam Gereja Inggris bernama
Webb-Peploe yang beberapa tahun lamanya menggerakkan hati banyak orang dengan tafsirannya atas Alkitab. Pendeta itu berkata,
"Bertahun-tahun saya menjadi pengabar Injil dan mengabarkan pengajaran hal dibenarkan. Tetapi tidak ada sukacita dalam hati saya, tidak ada keteduhan dalam kesulitan , tidak ada ketenangan dalam beban-beban kehidupan ini sehingga saya merasa akan menjadi sakit jiwa." Tetapi datang terang kepadanya ketika ia berkunjung ke rumah sahabatnya dan melihat satu kutipan ayat Alkitab yang berbunyi demikian:
"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu." Dalam hati pendeta itu berkata,
"Sebenarnya kasih karunia Tuhan tidak cukup bagiku." Tetapi pada saat itu ia ditempelak oleh Tuhan , lalu ia berseru kepada Tuhan ,
"Ya Tuhan, jadikanlah kiranya kasih karuniaMu cukup bagiku." Lalu ia ditegur lagi oleh Tuhan, seolah-olah Tuhan berkata,
"Hai bodoh, mengapa kamu meminta supaya dijadikan sesuatu yang memang sudah dijadikan? Memang kasih karunia-Ku cukup bagimu." Lalu ia berdoa lagi kepada Tuhan.
"Apa yang Tuhan katakan, hamba percaya. Kasih karunia-Mu memang cukup bagiku." Ketika itu juga dinyatakan kepadanya kebenaran yang terdapat dalam Galatia 2: 20.
"Bukan lagi aku sendiri yang hidup , melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." Pada saat itu datanglah keinsafan kepada pendeta itu bahwa Kristus hidup di dalamnya dan ia memperoleh keteduhan iman yang tidak pernah dialaminya pada waktu yang dahulu. Pada waktu itu ia menemukan kesempurnaan yang ada dalam Kristus, kesempurnaan yang dapat dikerjakan oleh Kristus di dalam hatinya.
Kesempumaan yang dikatakan oleh Paulus di sini bukan kesempurnaan yang mutlak, tetapi kesempumaan itu mutlak dalam hal kita rindu sangat menjadi serupa dengan Kristus. Oleh karena itu, Paulus berkata dalam ayat 15,
"Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu." Kita harus maju kepada kesempurnaan dan mengarahkan diri kita kepada kesempurnaan. Hendaknya kita menjadi dewasa di dalam Kristus. Janganlah kita menjadi orang Kristen yang tidak pernah memperhatikan perkataan yang terdapat dalam Ibrani 5: 12.
"Sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras." Janganlah kita tetap menjadi orang yang harus diajari ABC, yaitu seperti bayi dalam Tuhan, pada waktu sebenamya kita harus menjadi guru dan maju kepada kesempurnaan, pada waktu kita seharusnya sudah beralih dari susu kepada makanan keras, menjadi dewasa dalam Tuhan. Itulah panggilan kepada kesempurnaan yang sudah dilengkapkan Tuhan Yesus sendiri untuk kita masing-masing , dan Ia ingin mengerjakannya di dalam kita.