SarapanPagi Biblika

Studi Alkitab & Pustaloka Kristiani
It is currently Tue Jan 06, 2009 12:00 pm

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 7 posts ] 
Author Message
 Post subject: KEBENARAN SEJATI, Filipi 3:1-21
PostPosted: Sat Oct 13, 2007 5:09 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 4833
KEBENARAN SEJATI, Filipi 3:1-21



* Filipi 3:1-21
3:1a Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan.
3:1b Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu.
3:2 Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,
3:3 karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.
3:4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:
3:5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,
3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.
3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
3:9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.
3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
3:11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.
3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
3:15 Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.
3:16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.
3:17 Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.
3:18 Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.
3:19 Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.
3:20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat,
3:21 yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.




Catatan :

Ketika Paulus akan mengakhiri suratnya, ada semacam gangguan yang menghentikan alur berpikirnya. Ketika dia kembali mendiktekan surat ini, dia beralih untuk memperingatkan jemaat Filipi akan bahaya dari Yudaisme dan antinomisme yang bersifat puas diri. Ketika sampai di Filipi 4:4 (atau 4:8 ) Paulus sudah berhasil kembali kepada tema utamanya.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Sat Oct 13, 2007 5:19 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 4833
I. Waspada terhadap guru-guru sesat (Filipi 3: 1-3)



* Filipi 3:1-3
3:1 LAI TB, Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu.
KJV, Finally, my brethren, rejoice in the Lord. To write the same things to you, to me indeed is not grievous, but for you it is safe.
TR, το λοιπον αδελφοι μου χαιρετε εν κυριω τα αυτα γραφειν υμιν εμοι μεν ουκ οκνηρον υμιν δε ασφαλες
Translit. interlinear, to loipon {akhirnya/ selanjutnya} adelphoi {hai saudara-saudara} mou {-ku} khairete {bersukacitalah} en {di dalam} kuriô {Tuhan} ta {hal-hal} auta {yang sama} graphein {menuliskan} kumin {kemadamu} emoi {bagiku} men ouk {bukan} oknêron {yang memberatkan} humin {bagimu} de {tetapi} asphales {aman/ pasti}

3:2 LAI TB, Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,
KJV, Beware of dogs, beware of evil workers, beware of the concision.
TR, βλεπετε τους κυνας βλεπετε τους κακους εργατας βλεπετε την κατατομην
Translit. interlinear, blepete {berhati-hatilah} tous kunas {terhadap anjing-anjing} blepete {berhati-hatilah} tous kakous {jahat} ergatas {(terhadap) pekerja-pekerja} blepete {berhati-hatilah} tên katatomên {(terhadap) golongan pemotong-pemotong}

3:3 LAI TB, karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.
KJV, For we are the circumcision, which worship God in the spirit, and rejoice in Christ Jesus, and have no confidence in the flesh.
TR, ημεις γαρ εσμεν η περιτομη οι πνευματι θεω λατρευοντες και καυχωμενοι εν χριστω ιησου και ουκ εν σαρκι πεποιθοτες
Translit. interlinear, hêmeis {kita} gar {sebab} esmen {adalah} hê peritomê {orang bersunat} hoi {orang-orang yang} pneumati {dalam Roh} theô {Allah} latreuontes {menyembah} kai {dan} kaukhômenoi {merasa bangga} en {dalam} khristô {Kristus} iêsou {Yesus} kai {dan} ouk {tidak} en {dalam} sarki {hal daging (lahiriah)} pepoithotes {mengandalkan}


Catatan :

Ayat 1. Kata "λοιπον - loipon", akhirnya/ selanjutnya, W. S. Tindal pernah dikutip sebagai mengemukakan bahwa Paulus adalah "bapa dari semua pemberita Injil yang memakai istilah 'akhirnya, saudara-saudaraku' sebagai petunjuk bahwa mereka sudah mendapat pemulihan kekuatan" (Herklotz, p. 16). Menuliskan hal ini lagi. Kebenaran-kebenaran utama dari kehidupan dan ajaran kristiani yang berkali-kali dirujuk oleh Paulus. Di dalam konteks ini yang dimaksudkan dapat berupa pelayanannya mengajar, ketika berada bersama dengan mereka atau mungkin berupa surat sebelumnya yang tidak kita ketahui keberadaannya.

Ayat 2. Peringatan ini bukan terhadap tiga golongan orang (misalnya, orang kafir, guru Kristen yang mementingkan diri, dan orang-orang Yahudi), tetapi terhadap satu kelompok yang ditinjau dari tiga sisi: watak mereka (anjing-anjing), perilaku mereka (pekerja-pekerja yang jahat) dan pengakuan iman mereka (penyunat-penyunat yang palsu. Bdg. Robertson dalam Abingdon Bible Commentary, p. 1246). Menurut Taurat Musa, anjing adalah seekor hewan yang najis (Ulangan 23: 18). Di kota-kota di Asia anjing itu merupakan hewan pemakan bangkai dan pada umumnya berpenyakit "Makhluk yang dibenci, menjijikkan dan buruk". Paulus membalik istilah penghinaan yang sejak lama dipergunakan untuk menyebut orang-orang bukan Yahudi oleh orang Yahudi (bandingkan Matius 15:27) ini dan mengatakan bahwa justru orang Kristenlah yang makan di meja perjamuan, sedangkan orang-orang Yahudi adalah mereka yang memakan "sampah peraturan-peraturan duniawi" (Lightfoot). Anjing-anjing di sini adalah golongan Yudaisme ekstrem atau orang-orang Yahudi yang menentang kekristenan (jumlah mereka menjadi makin kecil). Dengan permainan kata-kata yang tidak enak Paulus menyebut mereka pemotong-pemotong ("κατατομην – katatomê") dan bukan penyunat-penyunat ("περιτομη – peritomê"). Mereka inilah yang "merusak daging". Kata kerja ini di dalam LXX dipakai untuk tindakan memotong yang diharamkan oleh Taurat Musa.

Ayat 3. Bukan mereka, tetapi kitalah orang-orang bersunat. Israel baru terdiri atas, pertama, orang-orang yang beribadah oleh Roh Allah. Bahwa gereja mula-mula membuat pernyataan ini ditunjukkan dengan sangat pasti di dalam ayat ini. Juga Israel yang sejati terdiri atas orang-orang yang bermegah dalam Kristus Yesus. Bermegah merupakan ungkapan kesenangan Paulus. Dia memakainya sebanyak tiga puluh kali di dalam surat-suratnya, sekalipun hanya dipakai dua kali di bagian lainnya dalam Perjanjian Baru. Di sini artinya adalah "bangga" atau "bersukaria." Ketiga, Israel baru terdiri atas orang-orang yang tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.



Dalam pasal ini terdapat ajakan agar bersukacita dan waspada terhadap orang Yahudi Kristen yang masih menurut Taurat. Sebenarnya Paulus boleh lebih bangga daripada mereka dalam hal menaruh percaya pad a kebenaran diri sendiri, tetapi Paulus telah membuang semua itu supaya ia mencapai kebenaran Kristus, dan kemudian ia maju kepada kesempurnaan kekristenan. Terdapat juga peringatan terhadap orang yang menurut hawa nafsu, dan juga perbedaan antara kehidupan dan pengharapan orang-orang yang percaya dengan keadaan orang-orang yang menurut hawa nafsu itu.

Dalam ayat pertama Rasul Paulus menyuruh orang-orang Filipi supaya bersukacita dalam Tuhan. Lalu dalam ayat dua bagaikan halilintar. Paulus memperingatkan mereka agar waspada terhadap orang Yahudi Kristen yang suka menurut Taurat dan ingin mewajibkan Taurat kepada orang-orang Kristen di Filipi. Dalam ayat satu kita dapati dua kata Yunani yang perlu diterangkan agar kita dapat betul-betul mengerti maksud Rasul Paulus dan menghindarkan salah pengertian atas pasal ini.

Kata Yunani "λοιπον - loipon", dalam Alkitab terjemahan lama diterjemahkan dengan perkataan "lain daripada itu." Terjemahan itu tepat dan patut. Akan tetapi dalam terjemahan baru, dan juga dalam beberapa bahasa lain, perkataan itu diterjemahkan "akhirnya", Orang yang menterjemahkan kata itu dengan "akhirnya" menyangka bahwa Rasul Paulus bermaksud menutup surat ini, tetapi tiba-tiba datang suatu pikiran yang baru. Atau ia telah mendapat suatu kabar yang baru yang mengubah keputusannya sehingga ia mulai membicarakan sesuatu yang tidak dimaksudkan lebih dahulu. Kami tidak setuju dengan pendapat itu sebab kata "λοιπον - loipon" diterjemahkan lebih banyak kali dalam hubungannya dengan kata-kata yang berikut dalam ayat dua, yaitu perkataan "lain daripada itu" (atau selanjutnya) daripada diterjemahkan dengan perkataan "akhirnya". Kata "λοιπον - loipon" juga terdapat dalam II Tesalonika 3: 1 dan dalam II Korintus 13: 11. Dalam kedua tempat itu Paulus memakai perkataan itu untuk memulai suatu pokok pembicaraan yang baru. Di sini pun Paulus hanya memulai suatu pokok pembicaraan yang baru dan bukannya ia mendapat satu kabar baru yang mengubah maksudnya yang mula-mula itu. Roh Kudus yang mengilhamkan surat iru telah mengingatkan Rasul Paulus ten tang orang-orang Yahudi Kristen yang suka menurut Taurat, lalu Paulus memberi peringatan dan pengajaran yang benar mengenai hal itu.

Perkataan lain yang patut diperhatikan ialah perkataan Yunani "χαιρετε - khairete" yang diterjemahkan "bersukacita".

Tentang perkataan "bersukacitalah dalam Tuhan" ada penafsir yang menyangka Paulus bermaksud memakai perkataan ini sebagai salam akhir seperti "selamat tinggal", dengan maksud menutup surat ini. Tetapi cara kata itu dipakai dalam Alkitab bertentangan dengan sangkaan itu sebab perkataan "χαιρετε - khairete" dalam Alkitab bahasa Inggris 14 kali diterjemahkan "bersukacitalah", 42 kali diterjemahkan "bersukaria", dan hanya sekali saja kata itu diterjemahkan sebagai salam akhir. Dengan demikian, kata ini (apalagi apabila disertai dengan perkataan "dalam Tuhan") harus diterjemahkan "bersukacitalah" seperti yang kita jumpai dalam Alkitab kita. Dari keterangan ini nyata bahwa bukannya Paulus bermaksud menutup surat ini, melainkan ia hanya memulai pokok pembicaraan yang baru.

Apakah artinya perkataan "hal ini" yang sering diulang oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada orang-orang Filipi? Adakah perkataan itu berhubungan dengan pesan "bersukacitalah" atau adakah perkataan itu merupakan peringatan terhadap orang-orang Yahudi Kristen yang suka menurut Taurat? Dalam surat ini Rasul Paulus sering berkata dan menyuruh kita bersukacita. Perkataan "hal ini" mungkin berhubungan dengan pesan "bersukacitalah". Ataupun perkataan itu mungkin berhubungan dengan peringatan yang terdapat dalam ayat dua. Bagaimanapun kita menentukannya, keduanya menjadi selamat bagi orang-orang Kristen di Filipi, atau dengan kata lain berfaedah bagi mereka. Lain daripada itu, mungkin juga perkataan "hal ini" berhubungan dengan pesan Paulus yang sering kita jumpai juga dalam surat ini, yaitu hendaklah mereka sehati sepikir. Bagaimanapun, kita tidak usah berkata dengan pasti dan tentu, melainkan menguraikannya sebagaimana Roh Kudus telah mengilhamkannya kepada Rasul Paulus.

Bersukacita dalam Tuhan adalah baik dan bermanfaat bagi kita, dan Rasul Paulus tidak segan mengulang hal itu ataupun hal kit a sehati sepikir dalam Tuhan. Juga Rasul Paulus tidak segan-segan mengulangi peringatan terhadap orang-orang Yahudi Kristen yang suka menurut Taurat, dan mewajibkan orang-orang lain supaya menurut Taurat. Dalam ayat dua Rasul Paulus tiga kali menggunakan kata "hati-hatilah". Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, terhadap pekerja-pekerja yang jahat, terhadap penyunat-penyunat yang palsu. Dengan ketiga perkataan itu dimaksudkan orang-orang Yahudi Kristen yang suka menurut Taurat. Tanggung jawab Rasul Paulus sebagai seorang gembala sidang nyata di smi, Paulus meminta orang-orang di Filipi supaya berhati-hati terhadap orang-orang Yahudi Kristen yang suka menurut Taurat.

Mereka ingin supaya semua orang Kristen disunat. Mereka ingin menambahkan apa-apa kepada pekerjaan Kristus. Dalam hal itu, mereka meniadakan pekerjaan Kristus di atas kayu salib; seolah-olah pekerjaan Kristus tidak sempurna dan harus ditambahi dengan perbuatan kita untuk mendapat keselamatan. Hal itu adalah "kebencian" kepada Rasul Paulus sebab ia mengetahui pekerjaan Kristus di atas kayu salib itu sempurna dan cukup bagi keselamatan kita yang percaya kepada Dia. Orang tidak usah disunat dan menjadi orang yang menurut Taurat sebelum ia menjadi orang Kristen yang menurut Injil. Ajaran mereka menyeleweng dari Injil dan merupakan suatu racun yang mau dicampurkan dengan kebenaran Injil. Dalam uraian yang lain Rasul Paulus juga menjelaskan bahwa Abraham bapak leluruh orang Yahudi dibenarkan karena iman sebelum ia disunat, lihat di Artikel : Manusia Dibenarkan Hanya oleh Iman .

Kita wajib bersukacita dalam Tuhan, dalam anugerah Tuhan yang berdasarkan iman kepada Tuhan Yesus, dan bukan dalam hal sunat, hal menurut Taurat, atau perbuatan diri sendiri. Orang-orang Yahudi Kristen yang menurut Taurat itu diterangkan dengan tiga perkataan:

Pertama, mereka disebut anjing, sebab anjing mengibaratkan segala yang najis dan cemar. (Bandingkan dengan II Petrus 2:22, Wahyu 22: 15, dan Matius 15:26.)

Kedua, mereka disebut pekerja-pekerja yang berbuat jahat dan dalam II Korintus 11: 13 mereka disebut pekerja-pekerja curang. Ketiga, mereka disebut penyunat-penyunat yang palsu untuk membedakan mereka dari penyunat-penyunat yang benar, yaitu Israel yang rohani, kita yang percaya kepada Tuhan Yesus. Dalam Matius 15 Tahun Yesus memakai perkataan anjing itu dalam arti yang umum kepada orang-orang Yahudi pada waktu itu, untuk menguji iman perempuan Kanaan itu.

Namun dalam perikop ini, Paulus membalikkan istilah tsb, yaitu sebagai suatu perkataan yang menghinakan, kata itu berarti najis dan cemar. Paulus mengatakan itu seolah-olah ia berkata bahwa kita adalah anak-anak yang telah duduk pada perjamuan rohani yang sudah disediakan Tuhan Allah bagi kita, sedangkan orang-orang Yahudi adalah anjing-anjing yang mau makan remah-remah, yaitu pekerjaan diri sendiri sebagai sunat dan syarat-syarat yang telah jatuh dari meja Tuhan. Mereka yang menuntut hal sunat untuk mendapat keselamatan adalah bagaikan orang kafir yang biasa menyiksa tubuhnya pada waktu menyembah berhala dan dewa-dewa. Dalam Galatia 5:12 Rasul Paulus berkata mengenai mereka yang jahat: "Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya." Kita yang percaya kepada Kristus adalah anak-anak Abraham oleh iman tidak menjadi soal apakah kit a orang Yahudi atau orang asing. Kita adalah sunat yang rohani dan bukan sunat yang jasmani. Kitalah sunat yang benar yang sudah membuang segala kenajisan hati dan kita telah menaruh kebenaran Kristus, Kita menyembah Tuhan dengan penyembahan yang benar dan rohani, yaitu dari batin dan bukan secara syarat-syarat yang kelihatan. Penyembahan dari batin yang rohani selalu bertentangan dengan penyembahan yang menurut syarat-syarat saja. Manusia suka berharap kepada hal melakukan syarat-syarat saja, tetapi Tuhan memandang hati kita dan Tuhan ingin supaya kita menyembah Dia secara rohani. Jikalau kita menyembah Allah secara rohani dengan perantaraan Roh Allah, mengapakah perlu lagi syarat-syarat yang kelihatan? Semua syarat itu hanya tambahan yang tidak berfaedah.

Orang yang menyembah Tuhan harus menyembah Dia dengan roh dan kebenaran, dan dengan hati yang patah dan remuk, seperti dikatakan dalam Mazmur 51: 19. Hanyalah dengan pertolongan Roh Kudus kita dapat menyembah Tuhan secara itu. Setiap kali kita berkumpul dalam rumah Allah untuk menyembah Dia, hendaknya kita ingat akan hal ini dan berdoa supaya Roh Kudus menolong kita menyembah Tuhan dengan benar. Kita yang menyembah Tuhan dengan cara itu, bersukacita dalam Kristus Yesus. Sukacita kita berdasarkan pekerjaan Kristus yang telah genap dan sempurna di atas kayu salib. Kita bangga bukan atas pekerjaan diri kita sendiri sebab itu adalah dasar dosa, melainkan kita bangga oleh sebab tangan Yang Mahakuasa telah membawa keselamatan kepada kita dan kita semata-mata bersandar kepada-Nya. Sikap yang demikian menghilangkan kesombongan atas perbuatan diri sendiri dan kesombongan sebab melakukan syarat-syarat saja. Sebaliknya, kita memuji syukur atas anugerah Tuhan dan karunia-Nya yang diberikan kepada kita tanpa pembayaran dengan amal perbuatan sendiri. Kalau pengharapan kita akan keselamatan berdasarkan sesuatu di luar Kristus, maka hal itu membahayakan Injil dan membahayakan jiwa kita sendiri.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Sat Oct 13, 2007 6:37 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 4833
II. Jangan percaya akan kebenaran diri sendiri (Filipi 3:4-6)



* Filipi 3:4-6
3:4 LAI TB, Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:
KJV, Though I might also have confidence in the flesh. If any other man thinketh that he hath whereof he might trust in the flesh, I more:
TR, καιπερ εγω εχων πεποιθησιν και εν σαρκι ει τις δοκει αλλος πεποιθεναι εν σαρκι εγω μαλλον
Translit. interlinear, kaiper {sekalipun} egô {aku} ekhôn {mempunyai} pepoithêsin {kepercayan} kai {juga} en {dalam} sarki {hal lahiriah (daging)} ei {jika} tis {ada orang} dokei {menyangka} allos {lain} pepoithenai {(bahwa ia) mengandalkan} en {pada/ dalam} sarki {hal lahiriah (daging)} egô {aku} mallon {lebih}

3:5 LAI TB, disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,
KJV, Circumcised the eighth day, of the stock of Israel, of the tribe of Benjamin, an Hebrew of the Hebrews; as touching the law, a Pharisee;
TR, περιτομη οκταημερος εκ γενους ισραηλ φυλης βενιαμιν εβραιος εξ εβραιων κατα νομον φαρισαιος
KJV, peritomê {(menerima) upacara sunat} oktaêmeros {pada hari ke delapan} ek {dari} genous {bangsa} israêl {israel} phulês {dari suku} beniamin {benyamin} hebraios {orang Ibrani} ex {dari } hebraiôn {orang-orang Ibrani} kata {tentang} nomon {hukum taurat} pharisaios {seorang farisi}

3:6 LAI TB, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.
KJV, Concerning zeal, persecuting the church; touching the righteousness which is in the law, blameless.
TR, κατα ζηλον διωκων την εκκλησιαν κατα δικαιοσυνην την εν νομω γενομενος αμεμπτος
Translit. interlinear, kata {tentang} zêlon {semangat/ dedikasi} diôkôn {menganiaya} tên ekklêsian {jemaat} kata {tentang/ dengan} dikaiosunên {kesalehan} tên en {di dalam} nomô {hukum taurat} genomenos {adalah} amemptos {tidak bercela}


Catatan :

Ayat 4. Paulus, untuk sesaat, menempatkan dirinya bersama dengan para lawannya untuk menunjukkan bahwa menurut patokan mereka sekalipun, dia memiliki alasan untuk menaruh pereaya pada hal-hal lahiriah (menafsirkan pepoithesis secara obyektif).

Ayat 5. Paulus mengemukakan bukti-bukti kebenarannya, Disunat pada hari kedelapan. Dia adalah seorang Ibrani tulen sejak lahir. Dia bukan seorang bukan Yahudi yang kemudian menjadi penganut agama itu, tetapi murni dari bangsa Israel. Sesungguhnya, dia merupakan anggota suku Benyamin yang dihormati sebab memberikan kepada Israel raja mereka yang pertama (Saul). Berbeda dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani (golongan Helenis), dia berasal dari keluarga Ibrani asli, yaitu keluarga yang tetap memelihara adat dan bahasa Ibrani (atau Aram). Sebagai tambahan terhadap kelebihan-kelebihan yang diperoleh sejak lahir ini, terdapat kelebihan-kelebihan yang berkenaan dengan pilihannya sendiri. Di dalam hubungannya dengan hukum Taurat dia adalah orang Farisi - "penganut yang penuh semangat dari tradisi Yahudi yang paling ketat".

Ayat 6. Kebenaran dalam menaati hukum Taurat. "Kebenaran" yang dicapai karena ketaatan kepada perintah-perintah yang bersifat lahiriah. Tidak bercacat. Sebuah pengakuan yang menakjubkan manakala diingat betapa rumitnya peraturan golongan Farisi ini dan juga pelaksanaan perintah-perintah Taurat (Mitsvot).



Dalam ayat empat Paulus menyamakan dirinya dengan orang-orang Yahudi Kristen yang suka menurut Taurat, dan memakai bahasa mereka.

Sebenarnya Rasul Paulus mempunyai dengan kelimpahan, dan lebih banyak daripada mereka, segala apa yang sedang mereka turut, yaitu syarat-syarat di luar saja. Di sini Rasul Paulus mulai memberitahukan apa yang dapat dibanggakannya kalau ia mau, yaitu kalau ia mau membanggakan perbuatannya di dalam tubuh. Tetapi dapat kita baca nanti bahwa semua itu dibuang oleh Rasul Paulus.

Paulus hanya mau bermegah dalam Kristus. Ia mau bersukacita dalam Kristus dan ini menjadi suatu tujuan tunggal bagi Paulus. Tujuan tunggal itu menghilangkan segala hal sayang diri sendiri dan bangga akan diri sendiri dan perbuatan amal-ibadah diri sendiri. Oleh karena Paulus telah membuang segala kebanggaan akan amal dan perbuatan diri sendiri, maka dengan itu ia meniadakan segala pengajaran orang-orang sesat yang ingin menambah-nambahkan syariat Taurat kepada pekerjaan Kristus.

Paulus mempunyai dua perkara, yaitu segala hal yang dituntut oleh orang Yahudi Kristen itu dan juga mempunyai segala sesuatu yang ada pada pihak orang yang percaya dan berdasarkan iman saja. Satu pihak dibuang sama sekali oleh Paulus dan yang lain dipegang teguh. Oleh karena itu, ia berhak memberitahukan dengan resmi kepada orang Filipi apa yang wajib mereka pegang dan apa yang wajib mereka buang.

Dalam Filipi pasal dua bisa kita ketahui bahwa ada tujuh perkara yang ditinggalkan Tuhan Yesus pada waktu Ia merendahkan diri-Nya, dan kemudian kedapatan tujuh perkara yang lebih indah dan lebih mulia. Pada Paulus juga ada tujuh perkara yang disebutnya kerugian. Orang Yahudi Kristen menyebut semua itu keuntungan baginya. Ketujuh kerugian yang dibuang oleh Rasul Paulus dibagi dalam dua bagian.


Dalam ayat lima kita dapati empat perkara yang diwarisi Paulus di luar kehendaknya sendiri. Empat perkara itu adalah :

1. Paulus disunat pada hari kedelapan yang menyatakan bahwa ibu bapanya bukan orang kafir dan juga bukan anak-anak Ismael.

2. Ibu bapa Paulus bukan orang yang memeluk agama Israel, tetapi mereka berasal dari bangsa Israel.

3. Nenek moyang Paulus keturunan bangsa Israel, dari suku Benyamin. Raja pertama Israel, Saul, adalah dari Suku Benyamin.

4. Maka ada juga orang Yahudi yang sudah mempusakai iman akan Taurat itu, tetapi kemudian mereka undur daripadanya dan menurut agama orang-orang kafir yang mengelilingi mereka itu. Nenek moyang Paulus tidak demikian karena mereka adalah orang Ibrani asli, yang berarti bahwa semua nenek moyang Paulus tidak tercampur dengan bangsa asing, dan mereka menganut agama Israel dengan teliti. Paulus dididik dalam bahasa Ibrani dan mengetahui bahasa itu. Juga Paulus tahu bahasa Yunani dan bahasa Aram (bahasa yang dipakai di Palestina pada waktu Tuhan Yesus hidup).


Sesudah Rasul Paulus mendaftarkan perkara-perkara yang telah dipusakainya dari nenek moyangnya, barulah ia menyebutkan tiga perkara yang berdasarkan perbuatan dan kegiatan diri sendiri :

5. Rasul Paulus boleh bangga oleh kare a Taurat dan sebab dahulu ia hidup sebagai seorang Farisi menurut mazhab yang paling keras dalam agama Yahudi.

6. Tentang kegiatan ia adalah penganiaya jemaat yang paling giat. Pada waktu itu orang-orang Farisi membenci orang-orang Kristen dan selalu berusaha menganiaya mereka. Karena itulah Paulus pergi ke Damsyik untuk menganiaya orang-orang Kristen di sana. Segala perbuatan itu masih mengganggu ingatan Rasul Paulus sampai pada waktu ia sedang menulis surat kepada jemaat di Filipi. Walaupun demikian, Tuhan Allah telah menyatakan rahmat-Nya dan mengampuni Paulus dan mengubah dia dari penganiaya jemaat yang paling kejam menjadi pengabar Injil yang paling berani.

7. Tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat Rasul Paulus tidak bercacat. Kita harus ingat bahwa Rasul Paulus tidak bercacat menurut ukuran kebenaran Taurat, dan bukan menurut ukuran kebenaran Kristus. Tidak ada tuntutan Taurat yang tidak digenapi oleh Paulus. Tambahan pula, dengan giat ia telah menganiaya orang-orang Kristen.

Dalam penjelasannya itu, seolah-olah Paulus berkata bahwa jikalau orang-orang lain bangga atas perbuatan Taurat, ia terlebih lagi. Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan baginya, sekarang dianggapnya rugi karena Kristus. Memang ia perlu menyangkal semua itu, sebelum ia dapat mencapai kebenaran yang datang dari Kristus Yesus. Paulus mendapati bahwa semua yang dahulu merupakan keuntungan baginya sama sekali tidak berharga kalau dibandingkan dengan Kristus Yesus dan kebenaran-Nya. Karena nilai Kristus jauh lebih besar bagi Paulus, maka ia membuang semua yang lain itu. Semua itu terjadi pada waktu Rasul Paulus diselamatkan, yaitu pada waktu ia berjumpa dengan Tuhan Yesus dalam perjalanan ke Damsyik. Paulus dahulu bangga atas ketujuh perkara yang sekarang sudah ditolaknya supaya ia mendapat tujuh perkara yang lebih indah lagi, yaitu:

1. Mendapat Kristus.
2. Kedapatan di dalam Kristus.
3. Mendapat kebenaran yang sungguh.
4. Mengenal Kristus dengan sungguh.
5. Mendapat kuasa kebangkitan Kristus.
6. Merasakan persekutuan dalam penderitaan Kristus.
7. Sampai kepada kebangkitan dari antara orang mati.



Tinjauan


Seandainya Rasul Paulus telah mengumpulkan segenap kebenaran Allah yang diilhamkan kepadanya dan mengemukakannya dalam suatu karangan Asas Pengajaran Kristen, maka di dalamnya kita tentu menjumpai pikiran orang yang mengasihi kebenaran dan menjumpai suatu pikiran yang tajam sekali. Akan tetapi dalam surat-surat Paulus terlihatlah seorang manusia yang seluruhnya dimiliki Kristus dan terlihat juga seorang pemimpin yang luar biasa. Teristimewa dalam Surat Filipi ini terdapat gambaran (potret) Rasul Paulus. Paulus memberikan kepada kita suatu gambaran dirinya sendiri, suatu tulisan tentang kehidupannya sendiri, atau dengan kata lain, suatu autobiografi seorang hamba Allah yang beralih kepada perkembangannya yang penuh (Ibrani 6: 1).

Dalam surat ini terlihat kehidupan Rasul Paulus yang dipersatukan dengan kehidupan seorang yang lain, yaitu Kristus yang lengkap itu. Kelihatan dalam surat ini kerinduan Rasul Paulus yang sangat dalam, yaitu kerinduan akan kesempurnaan Kristen. Rasul Paulus terlihat sebagai seorang yang tenang, tetapi masih mengusahakan diri. Ia terlihat sebagai seorang yang 'sempurna', tetapi menuju kepada kesempurnaan. Ia terlihat sebagai orang yang dipegang, tetapi ia masih mengusahakan diri untuk memegang. Menurut Injil yang diberitakan oleh Rasul Paulus orang wajib bersandar hanyalah dan semata-mata kepada iman akan Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan. Apabila orang bersandar kepada suatu perbuatan amal-ibadah dirinya sendiri supaya ia diterima baik oleh Tuhan, maka hal itu tidak lain daripada suatu pekerjaan yang menghinakan Kristus.

Dewasa ini, adakah orang yang berharap kepada pekerjaan lain daripada pekerjaan Kristus? Ya, memang ada. Pekerjaan diri sendiri, amal perbuatan sendiri, dan kesombongan yang menyertainya sukar sekali dihilangkan atau dibinasakan. Sebab manusia suka merasa diri selamat dalam pekerjaannya sendiri dan itu mendatangkan suatu perasaan yang meninggikan diri di atas orang-orang lain. Seandainya keselamatan kita dapat direncanakan dengan mengerjakan ini dan tidak mengerjakan itu, maka manusia dapat sombong dan membesarkan diri sendiri sebab melakukannya. Tetapi Tuhan menuntut lebih daripada itu dari kita sekalian, hal yang sama juga diangkat Paulus dalam Kitab Roma, lihat Artikel MANUSIA DIBENARKAN HANYA OLEH IMAN (Roma 3:21-4:25)

Ada seorang profesor yang pernah berkata begini, "Dahulu saya juga banyak berpikir-pikir mengenai agama karena agama adalah suatu perkara yang besar lagi penting. Tetapi saya sibuk sekali dan tidak ada waktu untuk menyelidiki agama. Karena itu, saya menjadi seorang penganut Roma Katolik supaya tidak perlu lagi mengusahakan diri dalam perkara agama. Saya menyerahkan persoalan itu kepada Gereja Roma dan sekali setahun saya masuk dan menghadiri misa. Gereja mengerjakan semua untuk saya dan saya tidak usah lagi pusing kepala atau sibuk dalam perkara agama." Ya, dewasa ini banyak orang yang berpikiran demikian, tetapi Tuhan menuntut lebih daripada itu dari kita masing-masing. Perbuatan diri sendiri, bahkan perbuatan suatu gereja bagi kita, tidak membawa kita rapat kepada Tuhan, dan tidak membawa keselamatan kepada kita. "Barang siapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan" (I Korintus 1:31). Keselamatan kita adalah semata-mata karunia dari Tuhan.


Ada tiga sifat orang Kristen yang sungguh-sungguh :

1. Ia beribadah oleh Roh Allah, yaitu oleh Roh Kudus. Ibadah orang Kristen tidak berdasarkan syarat-syarat, melainkan berdasarkan pekerjaan dan dorongan Roh Kudus di dalam hati orang yang percaya. Rasul Paulus telah berkata, "Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan" (2 Korintus 3: 17). Orang-orang yang mengajarkan kepada kita supaya berharap dan mendasarkan ibadah kita atas syarat-syarat saja, yaitu peraturan-peraturan yang luar saja, maka mereka itu hanyalah pekerja sesat yang menipu kita, tidak lain dari anjing-anjing seperti disebutkan Paulus. Karena itu, hendaklah kita waspada dalam hal menurut syarat-syarat saja. Kita menyembah Tuhan dengan Roh dan kebenaran, bukan dengan syarat-syarat yang kelihatan saja.

2. Kita bersukacita dalam Kristus Yesus. Artinya, kita tidak bersukacita atas amal-ibadah atau perbuatan diri sendiri untuk mendapat keselamatan melainkan bersukacita di dalam Kristus atas segala pekerjaan-Nya yang mendatangkan keselamatan kepada kita.

3. Kita tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, tidak menaruh percaya pada perbuatan tubuh. Tubuh atau diri yang lama harus disalibkan. Perbuatan tubuh tidak lain daripada menaruh percaya pada diri sendiri dan perbuatan diri sendiri. Hal itu harus disalibkan kalau kita ingin mendapat kebenaran Kristus.


Perbuatan diri sendiri berdasarkan kesombongan, dan juga mendatangkan kesombongan dalam hati manusia. Sebelum Paulus menjadi orang Kristen, dalam hidupnya terlihat empat macam kesombongan :

1. Kesombongan karena keturunannya: "Orang Ibrani asli, disunat pada hari kedelapan" dll.

2. Kesombongan karena ia mentaati hukum Taurat dengan teliti, atau dengan kata lain, seorang yang "ortodoks", yang betul-betul taat kepada agama.

3. Kesombongan karena ia seorang yang giat dan berjerih-payah dalam menjalankan agamanya walaupun ia buta kepada hal ia menganiayakan orang Kristen dan merusakkan jemaat Tuhan.

4. Kesombongan karena kebenaran diri sendiri, Tetapi kebenaran itu berdasarkan Taurat saja, bukan kebenaran yang berkenan kepada Tuhan atau yang sampai kepada kebenaran Kristus. Kebenaran Paulus dahulu itu tidak menunjukkan kepadanya banyak kesalahan yang ada di dalam hatinya, misalnya kesalahan mengiakan hal Stefanus dibunuh karena agama. Rasul Paulus dahulu bermegah atas semua itu, tetapi semua itu tidak dibenarkan di hadapan Allah. Yang berkenan kepada-Nya hanyalah iman kepada Kristus dan kepada anugerah-Nya.

Kalau Kristus dinobatkan di dalam kita, maka barulah kehidupan kita berkenan kepada Tuhan. Banyak orang di dalam dunia ini yang tulus hatinya, tetapi tidak berbuat menurut kebenaran Allah. Dahulu dengan tulus hati Paulus menyangka bahwa ia berbuat menurut kebenaran walaupun ia menyetujui dan mengambil bagian da1am pembunuhan Stefanus. Ketulusan hati Paulus didasarkan atas kepercayaan yang salah, yang sangat disesalinya kemudian hari (lihat 1 Korintus 19:9; Galatia 13; 1 Timotius 1: 13). Menganut suatu kepercayaan atau suatu agama itu tidak benar. Kita harus mengasihi Tuhan kita Yesus Knstus dengan tulus ikhlas. Itulah kehidupan yang Tuhan ingin dapati di dalam kita. Kristus saja yang menyelamatkan kita dan Kristus saja yang memuas: kan hati kita. Kristus menjadi segala di dalam segala, memenuhi hati kita dengan segala sukacita, yang tidak dipahami dan tidak didapati oleh orang-orang lain. Kehidupan itu menjauhkan kita dari segala keduniawian dan perbuatan menaruh percaya pada pekerjaan jasmani saja. "Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya" (Roma 13:14).


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Sat Oct 13, 2007 7:14 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 4833
III. Perlombaan Kristen - permulaannya (Filipi 3:7-9)



Kehidupan Kristen adalah bagaikan suatu perlombaan. Kristus menjadi permulaannya, tujuannya, dan Pemberi pahala kepada orang yang menang. Pada permulaannya kita berjumpa dengan Kristus di kaki salib-Nya dan di situ kita harus menyangkal segala kebenaran diri sendiri kalau kita ingin ikut serta dalam perlombaan. Perlombaan itu kita mulai dan kita akhiri dengan Kristus.


a. Menyangkal kebenaran diri sendiri, yaitu kerugian (Filipi 3: 7-8 )


* Filipi 3:7-8
3:7 LAI TB, Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
KJV, But what things were gain to me, those I counted loss for Christ.
TR, αλλ ατινα ην μοι κερδη ταυτα ηγημαι δια τον χριστον ζημιαν
Translit. interlinear, all {tetapi} atina {apa yang} ên {dahulu adalah} moi {bagiku} kerdê {keuntungan2} tauta {(hal-hal) ini} hêgêmai {aku telah menganggap} dia {karena} ton christon {kristus} zêmian {kerugian}

3:8 LAI TB, Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
KJV, Yea doubtless, and I count all things but loss for the excellency of the knowledge of Christ Jesus my Lord: for whom I have suffered the loss of all things, and do count them but dung, that I may win Christ,
TR, αλλα μενουνγε και ηγουμαι παντα ζημιαν ειναι δια το υπερεχον της γνωσεως χριστου ιησου του κυριου μου δι ον τα παντα εζημιωθην και ηγουμαι σκυβαλα ειναι ινα χριστον κερδησω
Translit. interlinear, alla {bahkan} menounge kai {juga} hêgoumai {aku menganggap} panta {segala (sesuatu)} zêmian {kerugian} einai {adalah} dia {karena} to {yang} huperechon {melebihi (segala)} tês gnôseôs {pengenalan/ pengetahuan} christou {akan Kristus} iêsou {Yesus} tou kuriou {Tuhan} mou {-ku} di {karena} hon {Dia} ta panta {segala sesuatu} ezêmiôthên {aku kehilangan} kai {dan} hêgoumai {menganggap (semuanya)} skubala {sampah-sampah/ kotoran-kotoran/ sesuatu yang dilemparkan kepada anjing} einai {adalah} hina {supaya} christon {Kristus} kerdêsô {aku memperoleh}


Catatan :

Ayat 7. Apa pun keuntungan-keuntungan (Yunani, "κερδη – kerdê", jamak) yang mungkin sudah diperoleh Paulus (sebagaimana dicantumkan dalam ayat 5-6), semua dianggapnya rugi (Yunani, "ζημιαν – zêmian", tunggal). Semua hal itu bahkan lebih buruk daripada merugikan sesungguhnya malah merupakan penghalang - sebab ia harus belajar untuk meninggalkan hal-hal itu.

Ayat 8. Di sini Paulus memperluas pokok pikiran sebelumnya dan melindunginya dari kemungkinan salah tafsir. Paulus mengatakan bahwa ia anggap (bentuk waktu sekarang menunjukkan bahwa ayat 7 bukan merupakan tindakan yang terpisah dan gegabah pada masa lalu) segala sesuatu (bukan hanya dasar keyakinannya sebelum ini) rugi dibandingkan dengan nilai tak terhingga dari "pengenalan akan Kristus melalui pengalaman" (pikiran) pokok dari ayat 8-11). Dia bukan hanya menganggap semua itu sebagai kerugian, melainkan sebetulnya semua itu bersifat merampas.

Kata Yunani "σκυβαλα - skubala" noun - accusative plural neuter, dari kata "σκυβαλον – skubalon", leksikon Yunani, what is thrown to the dogs, i.e. refuse (ordure) -- dung. Kata "σκυβαλον – skubalon" ini diterjemahkan sebagai "sampah", sesuai dengan uraian leksikon, menurut JB Lightfoot kata "σκυβαλον – skubalon" berasal dari kata Yunani "ες κυνας - es kunas" , "yang dilemparkan kepada anjing". Alasan dari tindakannya ini ialah untuk memperoleh Kristus.



Segala sesuatu yang dahulu merupakan keuntungan bagi Paulus, yaitu segala kebenaran diri sendiri, telah dianggapnya rugi karena Kristus. Semua itu tidak dapat dibandingkan dengan Kristus dan kebenaran Kristus. Rasul Paulus tidak mau bersandar pada apa pun, kecuali pada Kristus. Paulus telah menyangkal kebenaran diri sendiri, yang dianggapnya satu kerugian, sebagai satu hal yang telah menipu dia, tetapi Kristus tidak demikian. Bukan hanya kebenaran dirinya sendiri saja yang dianggap oleh Paulus sebagai kerugian karen a Kristus. Ia berkata, "Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku." Maka persekutuan erat dan indah dengan Kristus sangat bernilai kepada Rasul Paulus. Ia telah menyerahkan segala sesuatu karena Kristus dan meletakkan semua itu di atas mezbah Tuhan sebagai satu persembahan yang hidup yang hanya bagi Kristus saja. Seluruh kehidupan Paulus yang lama dan segala kebenarannya yang dahulu, tidak dapat dibandingkan dengan Kristus , tidak dapat dibandingkan dengan sukacita yang ada di dalam Kristus, sukacita sebab Rasul Paulus mengerti bahwa Tuhan Yesus menjadi Tuhannya, sehingga ia berkata, "pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku."

Pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhannya, jauh melebihi segala kebenaran yang dahulu. Karena itu, apa yang dahulu merupakan keuntungan bagi Paulus, sekarang dianggapnya rugi dan tidak dapat dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus. Segala kebenaran yang tidak didasarkan pada Kristus adalah sampah belaka. Paulus melepaskan semuanya itu supaya ia memperoleh Kristus. Yang dikehendaki Paulus ialah mengenal Kristus sebagai Juruselamat yang lengkap dan sempurna supaya pada waktu ia berdiri di hadapan Kristus nanti, ia didapati mempunyai dan memiliki kebenaran Kristus, dan bukan kebenaran diri sendiri. Rasul Paulus ingin didapati di dalam Kristus supaya ia menjadi suatu anggota di dalam Tubuh Kristus, yaitu Mempelai Perempuan Kristus.



b. Menyambut kebenaran Kristus, yaitu keuntungan (Filipi 3:8-9)


* Filipi 3:8-9
3:8 LAI TB, Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
KJV, Yea doubtless, and I count all things but loss for the excellency of the knowledge of Christ Jesus my Lord: for whom I have suffered the loss of all things, and do count them but dung, that I may win Christ,
TR, αλλα μενουνγε και ηγουμαι παντα ζημιαν ειναι δια το υπερεχον της γνωσεως χριστου ιησου του κυριου μου δι ον τα παντα εζημιωθην και ηγουμαι σκυβαλα ειναι ινα χριστον κερδησω
Translit. interlinear, alla {bahkan} menounge kai {juga} hêgoumai {aku menganggap} panta {segala (sesuatu)} zêmian {kerugian} einai {adalah} dia {karena} to {yang} huperechon {melebihi (segala)} tês gnôseôs {pengenalan/ pengetahuan} christou {akan Kristus} iêsou {Yesus} tou kuriou {Tuhan} mou {-ku} di {karena} hon {Dia} ta panta {segala sesuatu} ezêmiôthên {aku kehilangan} kai {dan} hêgoumai {menganggap (semuanya)} skubala {sampah-sampah/ kotoran-kotoran/ sesuatu yang dilemparkan kepada anjing} einai {adalah} hina {supaya} christon {Kristus} kerdêsô {aku memperoleh}

3:9 LAI TB, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.
KJV, And be found in him, not having mine own righteousness, which is of the law, but that which is through the faith of Christ, the righteousness which is of God by faith:
TR, και ευρεθω εν αυτω μη εχων εμην δικαιοσυνην την εκ νομου αλλα την δια πιστεως χριστου την εκ θεου δικαιοσυνην επι τη πιστει
Translit. interlinear, kai {dan} heurethô {ditemui} en {dalam} autô {Dia} mê {tidak} ekhôn {mempunyai} hemên {ku} dikaiosunên {pembenaran} tên {yang} ek {dari} nomou {hukum taurat} alla {tetapi} tên dia {yang melalui} pisteôs {kepercayaan/ iman} christou {kepada kristus} tên {yang} ek {dari} theou {Allah} dikaiosunên {pembenaran} epi {berdasarkan } tê pistei {kepercayaan/iman}


Catatan :

Ayat 9. Paulus mengabaikan segala pencapaian pribadi supaya ia bisa berada dalam Kristus. Anak kalimat paralelnya membedakan kebenaran karena perbuatan baik, yang berlandaskan pada hukum Taurat, dengan kebenaran melalui iman, yang merupakan anugerah Allah. Di sini terdapat pernyataan Paulus yang paling singkat tentang pembenaran oleh iman.



Hanyalah kalau orang dipersatukan dengan Kristus, maka barulah ia dapat menerima kebenaran Kristus. Hanyalah kalau kita mempunyai kebenaran Kristus, maka kita dapat dibenarkan di hadapan kursi pengadilan Allah. Rasul Paulus menerangkan bahwa kebenaran Kristus bertentangan dengan kebenaran diri sendiri dan tidak berdasarkan melakukan Taurat. Paulus menerangkan bahwa kebenaran Kristus adalah karunia Allah yang diberikan di dalam Kristus. Dan lagi kebenaran itu berasal dari Allah, berdasarkan iman kepada Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Allah lebih dahulu menyediakan kebenaran yang menyelamatkan orang dan kebenaran itu ada di dalam Kristus. Kebenaran itu berlaku bagi tiap-tiap orang yang beriman dan percaya kepada Tuhan Yesus dan lnjil. Kita selamat di dalam Dia sarna seperti pembunuh selamat kalau ia telah didapati dalam kota perlindungan dan penuntut darah tidak diberi izin untuk menuntut bela atas dia (lihat Bilangan 35 :25). Ketika Rasul Paulus berjumpa dengan Kristus, ia dengan rela hati menyangkal kebenaran diri sendiri dan menyambut Kristus dan kebenaran-Nya, yaitu keuntungan Rasul Paulus. Yang diserahkan oleh Rasul Paulus kepada Kristus bukan hanya dosa-dosanya saja, tetapi juga kebenaran-kebenarannya. Tuhan Yesus telah mati untuk menghapuskan dosa-dosa Rasul Paulus dan juga untuk menghapuskan kebenaran-kebenarannya dahulu yang dasarkan dengan mentaati syariat-syariat Taurat yang ia banggakan kini ia anggap sebagai "sampah/ kotoran" (sesuatu yang dilemparkan kepada anjing).

Semboyan hidup Rasul Paulus ialah: bukan menaruh kebenaran sendiri dengan mentaati Taurat, dan juga bukan mencari untung bagi diri sendiri (lihat 1 Korintus 10:33).


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Sat Oct 13, 2007 10:03 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 4833
IV. Perlombaan Kristen - berlangsungnya (Filipi 3:10-19)



a. Mengenal Kristus secara pengalaman (Filipi 3:10)


* Filipi 3:10
LAI TB, Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
KJV, That I may know him, and the power of his resurrection, and the fellowship of his sufferings, being made conformable unto his death;
TR, του γνωναι αυτον και την δυναμιν της αναστασεως αυτου και την κοινωνιαν των παθηματων αυτου συμμορφουμενος τω θανατω αυτου
Translit. interlinear, tou gnônai {untuk mengenal/ mengetahui} auton {Dia} kai {dan} tên dunamin {kuasa} tês anastaseôs {kebangkitan} autou {-Nya} kai {dan} tên koinônian {persekutuan} tôn pathêmatôn {dalam penderitaan-penderitaan} autou {-Nya} summorphoumenos {menjadi serupa} tô thanatô {dalam kematian} autou {-Nya}


Catatan :

Ungkapan penuh perasaan tentang kerinduan terdalam Paulus. Untuk mengenal Dia berarti mengalami kuasa yang mengalir dari kesatuan dengan Kristus yang sudah bangkit dan memasuki persekutuan dalam penderitaan-Nya (semua kesulitan yang harus diderita demi Kristus; bandingkan Kisah 9:16). Bahwa semua ini merupakan dua aspek dari pengalaman yang sama tampak dari artikel tunggal di dalam bahasa Yunaninya. Menjadi serupa "συμμορφουμενος – summorphoumenos" (dalam bentuk present participle) dalam kematian-Nya mendefinisikan lebih jauh pengalaman tersebut sebagai pengalaman mati terhadap diri sendiri.



Rasul Paulus tidak pemah puas dengan pengenalannya akan Kristus. Ia senantiasa merindukan persekutuan yang lebih erat dengan Kristus. Paulus senantiasa berhasrat untuk mengenal Kristus dengan lebih dalam, yaitu melalui pengalaman. Jikalau kita puas dengan pengalaman Kristus dalam waktu yang sudah-sudah, kita tentu banyak berkekurangan dan bersalah. Kita tidak dapat mengukur Kristus dan tidak dapat menghabiskan kuasa Kristus. Setiap hari kita wajib berjumpa dengan kuasa dan sukacita yang baru di dalam Kristus.

Kelengkapan kita ada di dalam Kristus dan kita lengkap di dalam Dia. Pengenalan akan Kristus memuat juga kuasa kebangkitan-Nya. Kebangkitan Kristus menyatakan kuasa Tuhan Yesus secara pribadi dan secara pekerjaan-Nya. Kebangkitan Kristus membuktikan kepada dunia ini bahwa Ia adalah Anak Allah dan membuktikan bahwa Allah mengiakan dan berkenan atas pekerjaan-Nya dan pekerjaan itu diterima baik oleh Bapa-Nya. Maka pekerjaan Kristus tidak sempurna kecuali kalau kita yang percaya kepada-Nya, baik tubuh, jiwa, dan roh dibangkitkan dan menjadi serupa dengan Kristus. Pengenalan akan Kristus ini ialah pengenalan yang hidup, maju, dan tidak terbatas. Pengenalan itu membuktikan bahwa Kristus mengerjakan di dalam kita segala sesuatu sesuai dengan janji-Nya. Kuasa kebangkitan Kristus melepaskan kita daripada dosa dan kematian, bahkan memberi kemenangan atas dosa dan kematian itu, membangkitkan kita daripada kematian dosa dan memindahkan kita ke dalam hidup yang baru di dalam Kristus. (Lihat Roma 6:4 dan selanjutnya, Efesus 1:19 dan selanjutnya, Efesus 2:5.)
Persekutuan dalam penderitaan Kristus menyatakan bahwa ada hubungan antara penderitaan Kristus (baik di taman Getsemani maupun di atas kayu salib) dengan rasul-Nya, yaitu Paulus, yang dalam kehidupannya menderita karena Kristus sehingga dianggap bahwa penderitaan Paulus menjadi lanjutan penderitaan Kristus itu (2 Korintus 4; 10). Tiap-tiap orang yang sungguh-sungguh mengikut Kristus dan mengenal kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, pasti mengalami penderitaan Kristus biarpun sedikit atau banyak. Kebangkitan Kristus tidak dapat diceraikan dari penderitaan Kristus. Demikian pula kita yang mengenal kebangkitan-Nya harus juga mengenal penderitaan-Nya. Bersukacitalah kita apabila kita menderita karena Kristus sebab hal menderita karena Kristus itu membawa kepada kita persekutuan dengan Kristus yang tidak dapat diperoleh dengan cara yang lain. Penderitaan yang membawa kita lebih rapat kepada Tuhan Yesus adalah penderitaan yang amat indah. Taufan yang membawa kita rapat kepada Tuhan Yesus menjadi berkat bagi kita. Janganlah kita lupa bahwa jikalau kita menderita karena Dia, pasti juga penderitaan kita menjadi penderitaan Dia juga.

Menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya berhubungan dengan pengajaran yang terdapat dalam Roma pasal 6, yaitu bahwa kematian dan kebangkitan Kristus menjadi pekerjaan yang harus dialami oleh semua pengikut Kristus. Kematian Kristus karena dosa dan kematian-Nya kepada dosa membawa kepada kita suatu tuntutan bahwa kita pun harus mati kepada diri yang lama dan kehidupan yang lama di dalam dosa dan dibangkitkan ke dalam hidup yang baru di dalam Kristus. Ketika Kristus mati di atas kayu salib, kematian kita kepada dosa berhubungan erat dengannya, dan kepenuhan kuasa dan berkat kematian itu akan kita alami juga kalau kita menurut pesan yang diberikan Paulus kepada kita dalam Roma 6: 11. Kematian bagi dosa merupakan pintu kepada hidup yang baru. Paulus mati kepada diri sendiri supaya ia dapat hidup bagi Allah (Galatia 2 :20). Kehidupan Paulus yang lama sebagai seorang Farisi disalibkan supaya Kristus dapat dinobatkan sebagai Tuhan dalam kehidupan Paulus (Galatia 5 :24; 6:14). Sehari-harian kita wajib mati kepada diri sendiri dan kepada dosa dan kehidupan yang lama, dan sehari-harian dibangkitkan beserta dengan Kristus di dalam hidup yang baru.



b. Tujuan kita - kebangkitan dari an tara qrang mati (Filipi 3: 11)


* Filipi 3:11
LAI TB, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
KJV, If by any means I might attain unto the resurrection of the dead.
TR, ει πως καταντησω εις την εξαναστασιν των νεκρων
Translit. interlinear, ei pôs {jika mungkin} katantêsô {aku beroleh} eis tên exanastasin {kebangkitan} tôn nekrôn {dari orang-orang mati}


Catatan :

"Supaya aku" ungkapan kerendahan hati, bukan ketidakpastian. Kebangkitan dari antara orang mati adalah kebangkitan orang percaya, bukan kebangkitan umum



Kata "kebangkitan" dalam ayat 11 berbeda dari kata yang biasa dipakai untuk kebangkitan. Kata yang dipakai dalam ayat ini ialah "εξαναστασιν - exanastasin" yang tepatnya berarti "kebangkitan ke luar dari antara orang-orang mati". Di sini Paulus memikirkan dan membicarakan hanyalah kebangkitan orang-orang saleh keluar dari antara orang-orang yang mati. Kata itu hanya dipakai dalam ayat ini, dan tidak dijumpai lagi dalam Perjanjian Baru. Oleh karena itu, kita harus menyelidiki betul-betul yang dimaksudkan Rasul Paulus dengan kata itu. Untuk menerangkannya, baiklah kita bersoal dahulu. Adakah suatu kebangkitan yang umum, yaitu suatu kebangkitan untuk semua orang pada satu waktu seperti yang umum dibicarakan pada hari kiamat? Kami harus jawab, TIDAK ADA. Tidak ada suatu kebangkitan umum. Kami tidak berkata bahwa tidak ada kebangkitan, melainkan tidak ada suatu kebangkitan yang umum untuk semua orang pada satu waktu. Baiklah kita selidiki beberapa ayat tentang kebangkitan. Tuhan Yesus telah berkata dalam Yohanes 5 :29 demikian: "Dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum." Dalam ayat itu kita mendapati dua kebangkitan, kebangkitan untuk hidup dan kebangkitan untuk dihukum.

Tuhan Yesus berkata lagi dalam Lukas 14:14: "Dan engkau akan berbahagia karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar." Di situ kita berjumpa dengan perkataan "hari kebangkitan orang-orang benar".

Dalam Wahyu 20:5,6 Rasul Yohanes berkata, "Tetapi orang-orang mati yang lain tidak bangkit sebelum berakhir masa yang seribu tahun itu. Inilah kebangkitan yang pertama. Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya."

Lagi kita baca dalam I Tesalonika 4: 16: "Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada hari penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit."

Paulus berkata lagi mengenai kebangkitan dalam I Korintus 15 :20 dan 23, "Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatanganNya." Dan dalam ayat 52 Paulus berkata, "Dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah." Ingatlah juga dalam ayat 51 Rasul Paulus membicarakan kita, yaitu kita yang percaya kepada Tuhan Yesus, dan juga kitalah yang dikatakan dalam ayat 52.

Bagaimanakah kita dapat mengatur ayat-ayat ini agar menerangkan "kebangkitan keluar dari antara orang-orang mati"? Tuhan Yesus berbicara mengenai dua kebangkitan. Yohanes juga membicarakan dua kebangkitan: yang satu dinamai "kebangkitan pertama" dan yang kedua tidak diberi nama. Rasul Paulus menerangkan kepada kita apa yang akan terjadi dalam kebangkitan yang pertama dalam ayat yang disebut di atas. Ia menerangkan hal itu lebih jauh dalam Filipi 3 :20-21. Rasul Paulus menerangkan dalam Surat I Tesalonika bahwa kebangkitan ini akan terjadi pada waktu Tuhan Yesus kembali untuk mengambil jemaat-Nya, yaitu orang-orang saleh-Nya, dan membawa mereka ke sorga, atau dengan kata lain pelantikan jemaat Kristus. Dalam perumpamaan sepuluh gadis, Tuhan Yesus memberi pelajaran kepada kita bahwa lima anak gadis itu bodoh dan tidak bersedia pada waktu Tuhan datang. Ada yang bersedia dan masuk ke dalam perjamuan kawin dan ada yang tidak bersedia dan tidak dapat masuk. Ada yang kecewa. Pelajaran perumpamaan itu ialah: hendaklah kita hidup bersiap sedia dan lengkap untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus supaya kita tidak kecewa pada waktu Ia datang. Dalam Filipi 3: 11 Rasul Paulus berkata, "Supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati." Dengan demikian kita melihat bahwa Paulus rindu hidup dengan cara yang berkenan kepada Kristus supaya ia dapat termasuk ke dalam golongan yang dibangkitkan keluar dari antara orang mati. Kita juga harus mempunyai keinginan untuk hidup dalam kesucian, berkenan kepada Tuhan, dipenuhi dengan Roh Kudus, dan bersiap sedia menantikan kedatangan Tuhan Yesus supaya kita tidak kecewa dan supaya kita termasuk golongan yang dibangkitkan keluar dari antara orang mati.

Ingatlah beberapa orang akan ketinggalan, baik dari antara orang mati yang masih tinggal tetap dalam kuburnya (jangan lupa apa yang dikatakan dalam Wahyu 20:6) dan demikian pun, pada waktu Tuhan Yesus datang ada yang akan dinaikkan, dan ada yang akan kecewa dan tidak dapat dinaikkan pada waktu itu. Betapa ini patut mendorong kita kepada hidup kesempurnaan di dalam Kristus. Rasul Paulus menghubungkan ayat 11 ini dengan pelajaran tentang hidup kesucian, hidup kesempurnaan, kesempurnaan kekristenan yang dituntut dan dikejar. Nanti kit a akan menyelidiki hal mengejar hidup kesempurnaan kekristenan, yaitu suatu hal yang senantiasa di hadapan kit a sebagai suatu sasaran yang senantiasa kita tuju. Soal yang penting bagi kita ialah: adakah Saudara dan saya bersiap sedia untuk kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali? Adakah kita bersiap sedia untuk kebangkitan kehidupan, kebangkitan yang pertama pada waktu jemaat dilantik kelak? Hadiah yang dikatakan dalam ayat 14 ialah kebangkitan keluar dari antara orang mati. Dan tujuan tidak lain daripada Kristus sendiri, yaitu pada waktu Ia datang. Dalam ayat 20-21 dikatakan bahwa apabila Tuhan Yesus datang, Ia akan mengubah tubuh kita yang hina ini sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia. Ada hubungan antara ayat 21, ayat 14, dan ayat 11 ini. Tujuan yang dikatakan dalam ayat 14 ialah Kristus pada waktu Ia datang yang kedua kalinya.

Rasul Paulus telah melihat Kristus dalam kemuliaan dan kemuliaan itu telah menghilangkan segala cahaya yang datang daripada dunia ini. Oleh kemuliaan itu diri sendiri dan kebenaran diri sendiri dijatuhkan dari takhta kehidupan Paulus, bahkan kemuliaan itu mendatangkan suatu perubahan besar dalam kehidupannya. Yang menjadi pusat kehidupannya bukan lagi dirinya sendiri, melainkan suatu pribadi yang lain, yaitu Pribadi Ilahi, Kristus dalam kemuliaan.



c. Mengarahkan diri untuk memperoleh hadiah (Filipi 3: 12-14)


* Filipi 3: 12-14
3:12 LAI TB, Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.
KJV, Not as though I had already attained, either were already perfect: but I follow after, if that I may apprehend that for which also I am apprehended of Christ Jesus.
TR, ουχ οτι ηδη ελαβον η ηδη τετελειωμαι διωκω δε ει και καταλαβω εφ ω και κατεληφθην υπο του χριστου ιησου
Translit. interlinear, oukh {bukan} hoti {bahwa} êdê {sekarang} elabon {telah menerima} ê {atau} êdê {sekarang} teteleiômai {telah disempurnakan} diôkô {aku mengejar} de {tetapi} ei {jika} kai {memang} katalabô {aku dapat menangkap} eph hô {karena} kai {juga} katelêphthên {aku telah ditangkap} upo {oleh}tou christou {Kristus} iêsou {Yesus}

3:13 LAI TB, Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
KJV, Brethren, I count not myself to have apprehended: but this one thing I do, forgetting those things which are behind, and reaching forth unto those things which are before,
TR, αδελφοι εγω εμαυτον ου λογιζομαι κατειληφεναι εν δε τα μεν οπισω επιλανθανομενος τοις δε εμπροσθεν επεκτεινομενος
Translit. interlinear, adelphoi {ha saudara-saudara} egô {aku} emauton {diriku} ou {tidak} logizomai {menganggap/ memperhitungkan} kateilêphenai {telah menangkap} hen de {hanya satu hall} ta {hal-hal} men {di satu pihak} opisô {di belakang} epilanthanomenos {melupakan} tois {hal-hak} de {di lain pihak} emprosthen {di hadapan} epekteinomenos {merentangkan diri kepada}

3:14 LAI TB, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
KJV, I press toward the mark for the prize of the high calling of God in Christ Jesus.
TR, κατα σκοπον διωκω επι το βραβειον της ανω κλησεως του θεου εν χριστω ιησου
Translit. interlinear, kata {menuju} skopon {tujuan} diôkô {aku mengejar} epi {kepada} to brabeion {hadiah} tês anô {dari atas} klêseôs {yaitu panggilan } tou theou {dari Allah} en {dalam} christô {Kristus} iêsou {Yesus}


Catatan :

Agar jemaat di Filipi jangan memperoleh kesan bahwa dirinya sudah mencapai tujuan itu, Paulus dengan hati-hati menunjukkan bahwa dirinya masih sangat terlibat di dalam pertandingan hidup. Peringatan terhadap salah tafsir ini dikemukakan karena pengaruh golongan perfeksionis yang berpuas diri sedang menyebar di kalangan jemaat pada umumnya.

Ayat 12, Paulus belum memperoleh pengalaman pengenalan yang sempurna dan final tentang Tuhannya (ayat 8-11). Telah sempurna menegaskan lebih lanjut sasaran hidupnya. Sempurna di sini tentu berarti pengenalan penuh dan keserupaan sempurna. Ayat 12b dapat diparafrase menjadi "tetapi aku terus maju dengan bersusah payah kalau-kalau "aku dapat juga menangkapnya", Yunani, " καταλαβω - katalabô" verb - second aorist active subjunctive - first person singular, dari kata "καταλαμβανω – katalambanô" , leksikon Yunani : to take eagerly, i.e. seize, possess, etc. -- apprehend, attain, come upon, comprehend, find, obtain, perceive, (over-)take. (katalambaniJ di dalam papirus dipakai untuk tanah yang diambil oleh ara penjajah) untuk mana akupun telah "ditangkap oleh Kristus" di jalan menuju ke Damsyik." Allah mempunyai rencana dengan pertobatan Paulus, dan Paulus sangat mendambakan agar maksud tersebut dapat direalisasikan sepenuhnya di dalam hidupnya. Banyak penafsir menganggap kata "εφ ω - eph hô" berarti "karena" yang dengan demikian akan menekankan alasan (bukan sasaran) dari jerih payah Paulus

Ayat 13. Ayat 13, 14 memperluas pokok pikiran dari ayat 12. Keadaan belum sempurna orang Kristen menghancurkan sikap berpuas diri dan menuntut upaya yang bersungguh-sungguh. "Aku sendiri" dapat menyiratkan suatu kontras dengan tindakan memuji diri dari orang lain. Kiasan yang dipakai dalah suatu pertandingan lari. Kata-kata "tetapi ini" mengungkapkan "satu maksud tunggal dan pemusatan semua tenaga untuk memenuhinya". "Melupakan apa yang telah di belakangku". Keberhasilan-keberhasilan yang lalu dalam kehidupannya sebagai orang Kristen yang dapat menyebabkan rasa puas diri serta berkurangnya semangat. "Mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku" secara jelas melukiskan seorang pelari yang menggerakkan seluruh sisa tenaganya dan berpacu ke arah garis akhir.
Ayat 14. Tujuan (Kata "σκοπον – skopon" dari kata "σκοπεω – skopeô ", "memandang kepada"). Yang menjadi sasaran perhatian penuh. Pengalihan pandangan akan berakibat fatal. Ada orang yang beranggapan bahwa kiasan yang dipakai adalah perlombaan kereta kuda). Jika kesempurnaan tertinggi merupakan tujuan si pelari (yang mencegahnya dari menyimpang arah), maka hal itu juga merupakan hadiah baginya. Hadiah adalah milik orang-orang yang dengan segenap hati menjawab panggilan surgawi Allah (menjauhi diri sendiri dan menuju ketinggian-ketinggian baru dari pencapaian rohani) dalam Kristus Yesus.



Kata yang terpenting dalam ayat 12 ialah "ditangkap" (Yunani, "κατεληφθην - katelêphthên") dan "menangkap" (Yunani, " καταλαβω - katalabô). Dalam ayat itu terlihat kerinduan Paulus yang tinggi dan mulia itu. Pada waktu Rasul Paulus berjalan ke Damsyik, ia ditangkap oleh Kristus, artinya sarna seperti orang ditangkap oleh polisi. Ia ditangkap oleh Kristus sebab Kristus mempunyai suatu maksud dan tujuan bagi hidup Rasul Paulus. Kemudian dari itu hanya ada satu kerinduan dalam hati Rasul Paulus, yaitu supaya ia menangkap tujuan dan maksud Kristus di dalam dia. Paulus senantiasa melihat kehidupan di hadapannya yang lebih mulia, lebih tinggi, lebih sempurna, dan itulah yang ingin dicapainya. Tidak seorang pun menjadi orang Kristen hanya supaya ia sendiri diselamatkan, melainkan ia harus memikirkan orang-orang lain yang harus diselamatkan. Demikian juga tidak seorang pun menjadi orang Kristen hanya supaya ia menjadi utusan Kristus untuk membawa Firman-Nya kepada orang-orang lain, melainkan ia harus memikirkan diri sendiri. Itulah yang dipikirkan Paulus di sini. Dalam Kisah para Rasul ia membicarakan dirinya ditangkap oleh Kristus untuk membawa nama-Nya kepada bangsa asing, tetapi di sini Rasul Paulus membicarakan dirinya sendiri dan ini sesuai dengan perkataan Rasul Paulus dalam ayat lain, yaitu dalam Efesus 4:12-13: "Untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kit a semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus." Kolose 1 :28 berbunyi: "Dialah yang kami beritakan apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus."

Dari ayat-ayat ini terlihat suatu kesempurnaan yang wajib menjadi tujuan tiap-tiap orang Kristen. Kita harus memiliki kerinduan yang sama seperti kerinduan Rasul Paulus untuk berusaha menangkap kesempurnaan itu, sebagaimana kita masing-masing sudah ditangkap oleh Kristus, yaitu supaya kit a menjadi sempurna dan serupa dengan Kristus Yesus. Kita tahu bahwa ini bukan kesempumaan yang mutlak sehingga orang dapat berkata, "Saya tidak lagi berbuat dosa; sama sekali tidak lagi ada dosa di dalam saya." Kesempumaan yang mutlak hanya dapat kita capai pada waktu kita sampai di sorga. Di sana kita bebas dari pencobaan dan dosa. Kesempurnaan yang dikatakan di sini bersifat relatif, suatu kesempumaan yang tidak pemah sempurna, tidak pemah dicapai secara keseluruhan tetapi senantiasa menjadi tujuan, dan senantiasa maju dalam kesempurnaan itu, senantiasa maju dan bertambah-tambah menjadi serupa dengan Kristus, itulah yang dibicarakan oleh Rasul Paulus. Itulah yang dikejar oleh Rasul Paulus seperti seorang yang berlari dalam perlombaan menuju kepada tujuan. Paulus senantiasa berlari dalam perlombaan itu untuk menangkap maksud Tuhan pada waktu Tuhan telah menangkap dia. Rasul Paulus tidak pernah puas dengan kerohaniannya. Ia tidak pernah berpikir bahwa kerohaniannya tidak dapat bertambah-tambah lagi, melainkan ia selalu merindukan suatu kerohanian yang lebih mulia dan lebih tinggi.

Dengan sekuat tenaganya dan dengan segala kuasanya ia mengarahkan dirinya kepada tujuan dan kesempurnaan itu. Rasul Paulus sudah banyak bertambah-tambah dalam hal menjadi serupa dengan Kristus, tetapi tujuan itu masih di hadapannya dan bukan di belakangnya. Walaupun begitu, ia tidak putus asa, melainkan ia tetap berlari-lari kepada tujuan. Ia belum sampai kepada akhir perlombaan itu, tetapi ia berlari-Iari dengan sekuat-kuatnya. Kenyataan bahwa saya ditangkap oleh Kristus, walaupun hal itu membahagiakan dan sangat berkuasa, tidak menentukan bahwa saya akan menangkap tujuan yang ada pada Kristus pada waktu Ia menangkap saya. Apa lagi yang perlu kita lakukan untuk mencapainya? Tidak lain daripada berusaha. Paulus berkata, "melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus." Saya memerlukan iman, tetapi iman itu harus ditambah dengan usaha. Kalau saya ingin memiliki sesuatu, saya harus mengambil dan memegang benda itu dengan tangan saya. Tetapi berusaha mencapai sesuatu dengan kuasa diri sendiri berlainan dengan berusaha untuk mencapai sesuatu yang kita ketahui adalah kehendak Kristus untuk kita dan Ia juga memberi kuasa kepada kita untuk berusaha.

Kristus menghendaki kita menjadi serupa dengan Dia. Apabila kita ingin mengerjakan sawah, tentu kita mengairi sawah itu dan membajaknya serta mengerjakannya, lalu menanaminya dengan padi yang kemudian hari kita tuai. Demikian juga kalau kita ingin menjadi serupa dengan Kristus, kita harus membanjiri hidup kita dengan Kristus dan kita tentu akan berbuah seperti Kristus. Dari ayat-ayat ini nyata bahwa Paulus sangat menentang pengajaran sesat yang berkata, "Baiklah kita berdosa supaya kasih karunia semakin bertambah." Pengajaran itu disebut Antinomianisme, yang mengajarkan bahwa kelakuan kita tidak penting dan tidak menjadi soal sebab pikiran dan hati kita sudah dijadikan terang dan juga sudah ditebus oleh kasih karunia Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak perlu membuang dosa dan kejahatan sebab dosa itu tidak dapat menajiskan atau mencemarkan jiwa yang sudah ditebus.

Pengajaran itu kedapatan pada dewasa ini di antara orang-orang yang berkata, "Sekali dalam kasih karunia, tetap dalam kasih karunia." Mereka tidak memperhatikan kelakuan atau menyesuaikan kelakuan mereka dengan Firman Tuhan.

Ada yang berpendapat bahwa dalam jemaat di Filipi terdapat orang-orang antinomian. Janganlah kita lekas mengambil keputusan sebelum kita melihat bukti, dan jangan kita berpikir bahwa ada orang yang sedemikian di dalam jemaat di Filipi. Di kota Roma dan Korintus memang ada orang yang berpegang pada pengajaran itu, tetapi di sini boleh jadi Paulus hanya memberitahukan kebenaran Injil dan menjadi suatu peringatan kepada orang-orang di Filipi. Oleh karena itu, Paulus dalam ayat 18 menghardik orang-orang yang mengaku dirinya pengikut Kristus, yang telah mencampuradukkan pengajaran bidat dengan pengajaran Injil yang diberikan Paulus kepada mereka.

Dalam ayat 13 dan 14 Rasul Paulus memberitahu kita bagaimana kita harus berlari dalam perlombaan Kristen. Ia menasihati kita agar bersikap tidak peduli terhadap apa-apa di kanan kiri atau di belakang kita. Dengan penuh pengharapan, dengan berusaha sungguh-sungguh, kita arahkan pandangan kita kepada satu tujuan dan satu maksud saja. Paulus memperhatikan dan mengarahkan diri kepada tujuan yang tidak lain daripada maksud Tuhan pada waktu Paulus ditangkap oleh Kristus Yesus. Maksud Tuhan Allah dalam hal la memanggil Paulus dan maksud Kristus dalam hal la menebus Paulus menjadi tujuan segenap hidup Rasul Paulus, dan tujuan Tuhan menjadi tujuan Paulus. Apakah yang dikejar Paulus supaya ia dapat menangkapnya? Tidak lain daripada Kristus Yesus, yang menjadi tujuan kita dalam perlombaan ini. Kristus senantiasa ada di hadapan kita di dalam perlombaan ini. Kristus senantiasa ada di hadapan kita di dalam perlombaan ini, dan sementara kita berlari dalam perlombaan ini dan berusaha dengan sekuat-kuatnya, kita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Karena itu, boleh kita katakan bahwa tujuan kita bukan Kristus saja, melainkan supaya kita menjadi serupa dengan Kristus. Itulah maksud Tuhan terhadap masing-masing supaya kehidupan kita sesuai dengan kehidupan Kristus, dan kita menjadi serupa dengan Dia.

Rasul Paulus berkata, "Ini yang kulakukan." Hanya satu tujuannya, yaitu supaya ia menjadi serupa dengan Kristus. Daud berkata, "Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku" (Mazmur 27:4). Demikian juga Rasul Paulus rindu dan mempunyai satu tujuan saja, yaitu supaya ia diam beserta dengan Kristus dan menjadi serupa dengan Kristus. Pekerjaan Roh Kudus di dalam kita ialah supaya la menjadikan kita serupa dengan Kristus, menjadikan kita sama dengan Kristus. Tetapi kita harus mempunyai satu tujuan, satu sasaran, satu maksud, yaitu menjadi serupa dengan Kristus. Supaya pasti sampai kepada tujuan itu, Rasul Paulus melupakan apa yang telah di belakangnya dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya. Paulus melupakan kehidupannya yang lalu, kehidupannya dalam agama Yahusi, dan segala kebenaran diri sendiri. Tetapi lebih daripada itu, ia melupakan segala pengalamannya dalam agama Kristen. Segala kesukaran, segala penderitaan, segala kemajuannya, dan segala berkat pun dilupakannya, asal ia maju menuju tujuan yang senantiasa ada di hadapannya. Paulus menasihati kita agar melupakan kekurangan kita, kesalahan kita, dosa-dosa yang sudah mengalahkan kita. Tetapi ia ingin agar kita ingat akan pelajaran yang kita peroleh dari dosa dan kesalahan itu. Paulus menghendaki kita melupakan segala itu supaya kita jangan putus asa. Tetapi kita harus melupakan kemajuan kita dan jasa-jasa kita supaya kita jangan menjadi sombong dan menyangka bahwa kit a sudah sampai kepada kesempurnaan dan tidak ada lagi apa-apa yang dapat kita capai dalam Tuhan. Segala yang telah dicapai Paulus adalah seolah-olah nol sebab ia masih melihat Kristus di hadapannya. Lebih baik berusaha daripada duduk dan menyangka diri sudah mencapai kesempurnaan.

Paulus mendapat dorongan sebab melihat Kristus sebagai tujuannya dan hadiah yang akan diberikan Kristus kepadanya. la berlari dengan tidak melihat ke kanan, ke kiri, atau ke belakang. Ia menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan dan berjumpa dengan Kristus sendiri. Bilamanakah kita akan sampai kepada tujuan dan mendapat hadiah itu? Pada waktu Tuhan Yesus kembah, sebagaimana dikatakan dalam I Tesalonika 4: 16. Paulus berkata dalam ayat 14 ini, "Dan berlari-Iari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah." Apakah hadiah itu? Panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Di sini Paulus rupanya memikirkan kedatangan Tuhan Yesus pada waktu Ia akan melantik jemaat-Nya dan mengambil orang-orang saleh kepada diri-Nya sendiri. Inilah yang selalu menjadi tujuan Rasul Paulus. Kerinduannya yang tinggi ialah menyiapkan diri untuk hari itu supaya pada hari tersebut ia didapati di dalam Kristus Yesus supaya ia didapati serupa dengan Kristus Yesus.



d. Turutlah pikiran itu Filipi 3: 15


* Filipi 3: 15
LAI TB, Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.
KJV, Let us therefore, as many as be perfect, be thus minded: and if in any thing ye be otherwise minded, God shall reveal even this unto you.
TR, οσοι ουν τελειοι τουτο φρονωμεν και ει τι ετερως φρονειτε και τουτο ο θεος υμιν αποκαλυψει
Translit. interlinear, hosoi {kita semua yang} oun {karena itu} teleioi {sempurna} touto {ini} phronômen {harus berpendapat} kai {dan} ei {jika} ti {(tantang) sesuatu} heterôs {secara lain} phroneite {kamu berpendapat} kai {dan} touto {ini} ho theos {Allah} humin {kepadamu} apokalupsei {akan menyatakan}


Catatan :

Kata Yunani "τελειοι – teleioi". adjective - nominative plural masculine, dari kata "τελειος – teleios", leksikon Yunani : complete (in various applications of labor, growth, mental and moral character, etc.); neuter completeness -- of full age, man, perfect, Menjadi sempurna, menjadi dewasa. Di dalam agama-agama mistik istilah ini menunjuk kepada orang-orang yang sudah terlatih sempurna, yang berbeda dengan orang-orang yang masih baru. Tidak ada petunjuk mengenai adanya "ironi yang penuh celaan" di sini. Berpikir demikian. Milikilah sikap dasar ini, yaitu, bahwa keberhasilan yang lalu jangan meniadakan perlunya usaha keras untuk masa depan. Jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, kata Paulus menambahkan untuk memberi semangat, "Jika kamu belum yakin bahwa hal ini harus diterapkan di dalam setiap bidang kehidupan, maka hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu."



Dalam ayat 12 Rasul Paulus berkata, "Bukan seolah-olah aku telah sempurna," dan dalam ayat 15 ia berkata, "yang sempurna." Adakah dua perkataan itu bertentangan satu dengan yang lain? Sekali-kali tidak.

Kesempurnaan yang dikatakan dalam ayat 12 adalah kesempurnaan yang mutlak, yang hanya akan dicapai pada waktu segala Tujuan Tuhan dalam Rasul Paulus sudah selesai dan segala dicapai olehnya secara perangai. Semua itu tidak akan dicapai sampai pada waktu Tuhan datang, atau pada akhir hidup ini. Tetapi pada pihak lain, ada suatu kesempurnaan yang kedapatan dalam Kristus dan yang juga dituntut dari tiap-tiap orang Kristen. Paulus berkata. "Ini yang kulakukan", yaitu ia mengarahkan diri kepada apa yang di hadapannya, yaitu kesempurnaan yang dapat dicapai di dalam Kristus. Ada kebenaran yang dibilangkan kepada kita orang Kristen, ada juga kebenaran yang DIBERIKAN dengan sesungguh-sungguhnya. Kalau tidak demikian, tentu itu tidak jadi kebenaran. Demikian juga ada kesempurnaan yang dibilangkan kepada kita orang Kristen, yaitu kita sempurna di dalam Kristus, tetapi ada juga kesempurnaan yang DIBERIKAN kepada kita, yang menjadikan kita serupa dengan Kristus; dan hal menjadi serupa dengan Kristus adalah suatu hal yang bertambah-tambah, yang maju.

Walaupun Rasul Paulus telah berjalan dengan Kristus lebih dari tiga puluh tahun, namun masih ada kesempatan untuk maju dalam Kristus dan maju dalam kesempurnaan itu. Demikian juga dengan kita , ada suatu kekudusan di dalam Kristus, di dalam Dia adalah suatu kesempurnaan, dan ada juga Roh Kudus yang Mahakuasa yang mengerjakan kesempurnaan itu di dalam kita, asal kita menyerahkah diri seluruhnya kepada-Nya. Banyak ayat dalam Alkitab membicarakan kesempurnaan itu, misalnya Efesus 4:12, Kolose 1 :28; I Korintus 14:20, II Timotius 3: 17, dan I Tesalonika 5 :23-24. Ada banyak kesaksian pengkhotbah-pengkhotbah besar dalam jemaat Tuhan yang dapat dikatakan untuk menunjukkan bahwa ada waktu dalam mana terang ini sudah bersinar di dalam jiwa mereka dan mereka insaf bahwa di dalam Kristus ada suatu kesempurnaan walaupun mereka sudah lama mengabarkan Injil. Kebenaran itu nyata , yaitu bahwa pada kita ada suatu kehidupan yang penuh dengan kemenangan atas dosa , atas dunia, at au Iblis, dan atas diri sendiri; suatu kemenangan yang sempurna, suatu sukacita dan suatu kepuasan hati yang cukup bagi tiap-tiap orang di dalam Kristus Yesus. Semua itu tersedia bagi Saudara dan bagi saya. Paulus berkata, "Ini yang kulakukan", yaitu mencapai kesempurnaan itu dan menjadi serupa dengan Kristus.

Kesucian hati terdapat dalam niat yang demikian ini, niat yang tunggal, yaitu tidak mendua hati, melainkan mempunyai satu tujuan, yaitu menghendaki kesempurnaan. Orang yang mendua hati, yang separuh menurut dunia ini dan separuh menurut Kristus, tidak akan tenang hidupnya (Yakobus 1 :8 ). Penulis Surat Ibrani berkata, "Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran ten tang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh" (Ibrani 6: 1).

Dalam kepenuhan Roh Kudus ada suatu kelengkapan untuk kita masing-rnasing supaya kita menjadi orang yang sempurna dan berkenan kepada Kristus Tuhan kita. Ada cerita tentang seorang pengabar Injil dalam Gereja Inggris bernama Webb-Peploe yang beberapa tahun lamanya menggerakkan hati banyak orang dengan tafsirannya atas Alkitab. Pendeta itu berkata, "Bertahun-tahun saya menjadi pengabar Injil dan mengabarkan pengajaran hal dibenarkan. Tetapi tidak ada sukacita dalam hati saya, tidak ada keteduhan dalam kesulitan , tidak ada ketenangan dalam beban-beban kehidupan ini sehingga saya merasa akan menjadi sakit jiwa." Tetapi datang terang kepadanya ketika ia berkunjung ke rumah sahabatnya dan melihat satu kutipan ayat Alkitab yang berbunyi demikian: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu." Dalam hati pendeta itu berkata, "Sebenarnya kasih karunia Tuhan tidak cukup bagiku." Tetapi pada saat itu ia ditempelak oleh Tuhan , lalu ia berseru kepada Tuhan , "Ya Tuhan, jadikanlah kiranya kasih karuniaMu cukup bagiku." Lalu ia ditegur lagi oleh Tuhan, seolah-olah Tuhan berkata, "Hai bodoh, mengapa kamu meminta supaya dijadikan sesuatu yang memang sudah dijadikan? Memang kasih karunia-Ku cukup bagimu." Lalu ia berdoa lagi kepada Tuhan. "Apa yang Tuhan katakan, hamba percaya. Kasih karunia-Mu memang cukup bagiku." Ketika itu juga dinyatakan kepadanya kebenaran yang terdapat dalam Galatia 2: 20. "Bukan lagi aku sendiri yang hidup , melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." Pada saat itu datanglah keinsafan kepada pendeta itu bahwa Kristus hidup di dalamnya dan ia memperoleh keteduhan iman yang tidak pernah dialaminya pada waktu yang dahulu. Pada waktu itu ia menemukan kesempurnaan yang ada dalam Kristus, kesempurnaan yang dapat dikerjakan oleh Kristus di dalam hatinya.

Kesempumaan yang dikatakan oleh Paulus di sini bukan kesempurnaan yang mutlak, tetapi kesempumaan itu mutlak dalam hal kita rindu sangat menjadi serupa dengan Kristus. Oleh karena itu, Paulus berkata dalam ayat 15, "Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu." Kita harus maju kepada kesempurnaan dan mengarahkan diri kita kepada kesempurnaan. Hendaknya kita menjadi dewasa di dalam Kristus. Janganlah kita menjadi orang Kristen yang tidak pernah memperhatikan perkataan yang terdapat dalam Ibrani 5: 12. "Sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras." Janganlah kita tetap menjadi orang yang harus diajari ABC, yaitu seperti bayi dalam Tuhan, pada waktu sebenamya kita harus menjadi guru dan maju kepada kesempurnaan, pada waktu kita seharusnya sudah beralih dari susu kepada makanan keras, menjadi dewasa dalam Tuhan. Itulah panggilan kepada kesempurnaan yang sudah dilengkapkan Tuhan Yesus sendiri untuk kita masing-masing , dan Ia ingin mengerjakannya di dalam kita.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Sat Oct 13, 2007 10:08 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 4833
e. Melanjutkan tingkat pengertian menurut jalan yang telah kita tempuh (Filipi 3:16)


* Filipi 3: 16
LAI TB, Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.
KJV, Nevertheless, whereto we have already attained, let us walk by the same rule, let us mind the same thing.
TR, πλην εις ο εφθασαμεν τω αυτω στοιχειν κανονι το αυτο φρονειν
Translit. interlinear, plên {namun} eis {dalam} ho {(apa) yang} ephthasamen {kita telah mencapai} tô {itu} autô {menurut yg sama} stoikhein {ikutilah terus} kanoni {jalan/ cara} to auto phronein {pemikiran yang sama}


Catatan :

Sekalipun arti yang tepat dari ayat yang padat ini sulit ditentukan, maksud umumnya jelas, "Janganlah kita menyimpang dari prinsip-prinsip yang telah mengantarkan kita dengan selamat ke taraf kedewasaan kristen kita ymlg sekarang." Syarat untuk memperoleh bimbingan bagi masa depan ialah hidup menurut terang yang sudah ada kini.



Dalam ayat 16 Paulus memanggil kita untuk melanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh, yaitu menuju kepada kesempurnaan. Hendaklah kita menurut jalan Paulus yang dikatakan dalam ayat 12 supaya ia dapat juga menangkap segala maksud Kristus pada waktu Kristus telah menangkap dia. Dalam ayat 17 Paulus meminta kita supaya mengikuti teladannya. Jadi perkataan "lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh" berarti jalan Paulus yang disebut dalam perkataannya "ini yang kulakukan," yaitu menjadi seorang yang mempunyai satu tujuan saja , menjadi sempurna, yaitu menjadi serupa dengan Kristus.

Ada dua hal yang perlu kita yakini:

(1) bahwa kita tidak sempurna;
(2) bahwa kita akan mencapai kesempurnaan itu.

Jika orang mengaku dirinya sudah sampai kepada kesempurnaan, maka tidak ada kemajuan lagi kepadanya. Akan tetapi jika ia insaf bahwa dirinya tidak sempurna, maka kesempatan untuk mencapai kesempurnaan itu menjadi suatu dorongan kepadanya, yaitu jikalau disertai dengan keyakinan bahwa ia akan mencapai kesempurnaan itu. Hendaklah kita didorong oleh perkataan ini: "Kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya" (I Yohanes 3 :2). Kita memandang kepada tujuan itu dan kaki kita diringankan menurut jalan itu, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah , yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Kemajuan Kristen dan kesempurnaan Kristen datang dari dua keyakinan itu. Jika kita menurut jalan seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat 16, nanti pada suatu waktu kita akan mendengar Tuhan Yesus berkata, "Mereka akan berjalan dengan aku dalam pakaian putih , karena rnereka adalah layak untuk itu" (Wahyu 3 :4).



f. Ikutilah teladan rasul-rasul Filipi 3: 17


* Filipi 3: 17
3:17 LAI TB, Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.
KJV, Brethren, be followers together of me, and mark them which walk so as ye have us for an ensample.
TR, συμμιμηται μου γινεσθε αδελφοι και σκοπειτε τους ουτως περιπατουντας καθως εχετε τυπον ημας
Translit. interlinear, summimêtai {peniru-peniru (bersama yang lain)} mou {(akan teladan) ku} ginesthe {jadilah} adelphoi {hai saudara-saudara} kai {dan} skopeite {perhatikanlah} tous {orang-orang yang} houtôs {demikian} peripatountas { berjalan/ cara hidup} kathôs {sama seperti} ekhete {kamu mempunyai} tupon {(sebagai) teladan} hêmas {kami}


Catatan :

Adanya orang-orang dengan eara hidup mereka yang mengikuti hawa nafsu merusak efektifitas Injil menyebabkan Paulus menasihati jemaat di Filipi untuk mengikuti teladannya serta teladan orang-orang lain yang hidup sebagai warga negara kerajaan surga.
Mereka harus bersama-sama mengikuti teladan Paulus dan beberapa orang lain yang sesudah diteliti dengan seksama. Kata Yunani "σκοπειτε – skopeite" dari kata "σκοπεω – skopeô ", "memandang kepada", (lihat ayat 14), terbukti hidup pada tingkatan yang sama tingginya. "τυπος – tupos" (type/ teladan) pada mulanya kata "τυπος – tupos" ini berarti tanda bekas pukulan, kemudian berarti "pola" atau "cetakan."



Seandainya ada orang-orang yang menyangka pengajaran Paulus dan derajat kelakuannya tidak terang, maka Paulus menjawab mercka dengan ayat ini. Ia memberi kepada mereka suatu teladan yang hidup , suatu gambaran kelakuan yang Paulus rindu mcreka tiru. Teladan kelakuan kita orang Kristen tidak kedapatan dalam hukum, melainkan khususnya dalam suatu kehidupan, yaitu kehidupan Tuhan Yesus, dan juga dalam kehidupan pengikut-pengikut-Nya sebagaimana dapat kita baca dalam Perjanjian Baru. Bagi kita dewasa ini ada teladan yang terdapat dalam Alkitab, yang terbuka dan yang dapat kita baca , yang mernberi penerangan kepada tiap-tiap orang yang suka membacanya. Lagipula, Roh Kudus diberikan untuk menerangkan Firman itu kepada kita dan mengenakan pengajaran Injil kepada tiap-tiap suasana yang timbul dalam kehidupan kita. Paulus berkata kepada orang-orang Filipi: "Ikutilah teladanku." Dan dalam I Korintus 11:1 ia berkata "Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus." Rasul Paulus meminta kita meniru dia dan mengikuti teladannya hanya sejauh dan sebagaimana ia mengikuti teladan Kristus. Paulus, Timotius, dan Epafroditus menjadi teladan bagi orang-orang Filipi dan bagi kita Juga. Mereka adalah teladan bagaimana menjadi suatu gambaran Kristus yang kelihatan. Kiranya kita meniru mereka dan menjadi gambaran Knstus kepada semua orang yang melihat kehidupan kita.


Tinjauan

Dalam pasal ini terlihat Rasul Paulus sebagai orang yang merindu Tinggi. Dalam ayat 8 ia telah berkata bahwa ia rindu supaya Kristus menjadi keuntungannya. Dalam ayat 10 ia rindu supaya dapat mengenal Kristus, dan dalam ayat 11 ia rindu supaya sampai kepada kebangkitan dan antara orang mati. Tiga kerinduan ini senantiasa ada dalam hidup Rasul Paulus. Dalam semua itu kelihatan suatu keinsafan atau pengertian yang baru. Paulus mengerti mana yang sungguh-sungguh merupakan kerugian dan mana yang sungguh-sungguh merupakan keuntungan baginya. Paulus insaf bahwa ia tidak dapat bekerja untuk keselamatannya karena segala yang perlu sudah dikerjakan oleh Kristus. Dikatakan oleh John Ruskin: "Saya yakin bahwa dasar tiap-tiap bidat dan salah pengajaran di dalam jemaat Kristus berdasarkan sangkaan bahwa orang dapat mengerjakan atau memperoleh keselamatan diri sendiri oleh kelakuan dirinya sendiri, dan satu sebab mengapa khotbah sering tidak berhasil sebagaimana diharapkan ialah karena pengkhotbah-pengkhotbah memanggil orang untuk bekerja bagi Tuhan, tetapi tidak menyatakan kepadanya bagaimana Allah telah bekerja guna mereka."

Paulus juga mendapat suatu pendirian yang baru dalam Kristus seperti yang dikatakannya "berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus." Rasul Paulus rindu supaya ia didapati dalam Kristus. Paulus memakai perkataan, "dalam Kristus" atau "dalam Tuhan" atau "dalam Dia" sebanyak 116 kali dalam surat-suratnya. Yang dituntut oleh Paulus bagi tiap-tiap orang Kristen ialah suatu hubungan yang erat lagi tetap dengan Kristus. la rindu supaya ia senantiasa kedapatan dalam Kristus, pada saat apa pun, pada waktu hidup atau mati atau waktu di hadapan kursi pengadilan Kristus. Walaupun Paulus mendapat pendirian yang baru dalam Kristus, Paulus tidak setuju dengan pengajaran yang mcngiakan dan mengizinkan suatu lembah yang besar di antara pendirian kita dalam Kristus dan pengalaman kita dengan Kristus. Paulus tidak mengizinkan adanya suatu lembah di antara dua h