KEBANGKITAN, 1 Korintus 15Kitab 1 Korintus mengajarkan sebuah teologi salib yang sangat dalam mencapai puncaknya pacia pengakuan yang indah tentang kebangkitan Kristus dan pengharapan kebangkitan semua orang percaya. Berada "di dalam Dia" tidak hanya menentukan keadaan orang Kristen, tetapi juga masa depannya. Bersama dengan Roma 8, pasal ini memberikan uraian yang paling indah tentang pengharapan Kristen yang dapat ditemukan di dalam Perjanjian Baru.
Tidak ada petunjuk bahwa Paulus di sini menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Korintus, seperti yang terjadi di tempat-tempat lain dalam surat ini (1 Korintus 7:1; 8:1; 12:1). Bersama-sama dengan masalah-masalah lain (lihat 1 Korintus 5:1; 11:8), ia jelas telah mendengar bahwa kebangkitan orang mati di masa depan ditolak oleh sebagian orang (ayat 12) - tetapi bukan kebangkitan Kristus, titik tolak untuk argumennya. Barangkali ia menerima laporan tentang hal ini dari "orang-orang Kloe" (1 Korintus 1:11), atau dari sesama teman mereka yang disebutkan dalam 1 Korintus 16:17. Ada sejumlah pertanyaan yang jelas atau tersirat (misalnya dalam ayalnya 12); semua ini memperlihatkan bahwa Paulus mengantisipasi keberatan-keberatan dari mereka yang menolak pengharapan kebangkitan.
I. Kesaksian Paulus tentang Tuhan yang Bangkit* 1 Korintus 15 :1-11
15:1 Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri.
15:2 Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu -- kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.
15:3 Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
15:4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
15:5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.
15:6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
15:7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.
15:8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.
15:9 Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.
15:10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.
15:11 Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.Seperti halnya iman dan kasih, pengharapan Kristen bertitik tolak pada Kristus; Paulus tidak memperdebatkan masalah kebangkitan dengan dasar yang lain. Para pembacanya sudah mengenal fakta-fakta mendasar yang diakui oleh iman, tetapi mereka belum mengambil kesimpulan-kesimpulan yang lengkap dan perlu dari fakta-fakta ini. Seperti dalam 1Korintus 11:23-25, di sini Paulus menggunakan tradisi yang tetap dan sudah dikenal sebagai titik berangkat atau dasar bagi argumen berikutnya. Pengakuan iman yang dikutip nya tidak terbuka untuk didiskusikan; apa yang harus ia lakukan adalah menunjuk pada peranannya sebagai seorang saksi terhadap kebenaran yang diakui itu (ayat 8-11).
Ayat 1 LAI TB,
Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri.
KJV,
Moreover, brethren, I declare unto you the gospel which I preached unto you, which also ye have received, and wherein ye stand;
TR,
γνωριζω δε υμιν αδελφοι το ευαγγελιον ο ευηγγελισαμην υμιν ο και παρελαβετε εν ω και εστηκατε
Translit interlinear,
gnôrizô {aku memberitahukan} de {adapun} humin {kepadamu} adelphoi {hai saudara2} to euaggelion {kabar baik} ho {yang} euêggelisamên {telah kuberitakan} humin {kepadamu} ho {yang} kai {juga} parelabete {kamu telah menerima} en hô {didalamnya} kai {juga} estêkate {kamu telah berdiri teguh} Aku mau mengingatkan kamu, lebih merupakan tafsiran daripada terjemahan. Di sini Paulus menggunakan frasa yang sama seperti dalam 1 Korintus 12:3 (juga 2 Korintus 8:1; Galatia 1:1), yang secara harfiah berarti, "
Aku menyatakan kepada kamu". Karena ia tidak mengatakan sesuatu apa pun yang baru kepada para pembacanya dalam ayat-ayat benkutnya, melainkan apa yang pernah mereka terima dari padanya dan para misionaris lainnya (lihat ayat 11), sesungguhnya ia mengatkan, [
Saya ingin kalian yakin benar akan sesuatu", yakni
kepada Injil yang aku beritakan kepadamu. Istilah-istilah ini dikandung dalam tradisi resmi yang akan dikutipnya. Dengan membaca surat ini orang akan tergoda untuk mempertanyakan apakah orang-orang Korintus benar-benar
teguh berdiri di dalam Injil. Namun demikian, Paulus masih menulis kepada orang-orang yang merepotkan ini sebagai
saudara-saudara, umat Allah yang dikuduskan, orang-orang kudus-Nya (1 Korintus 1:2; 6:11).
Berdiri teguh di dalam iman adalah karunia dan tugas (1 Korintus 16:13; 2 Korintus 1:24; Roma 11:20; Efesus 6:13, 14; Filipi 1:27). Ada kemungkinan pula seseorang gugur dari kasih karunia (1 Korintus 10:12); bila orang-orang percaya tidak berpegang teguh kepada Injil mereka tidak akan mampu berdiri teguh sekarang, maupun pada akhirnya di hadirat Hakim yang kudus.
Ayat 2 Namun demikian, Injil yang
oleh-nya orang-orang percaya
diselamatkan adalah pesan tentang kuasa dan kekuatan ilahi; ia mengandung janji bahwa mereka yang memandang kepada Kristus di dalam iman kini "sedang diselamatkan" (1 Korintus 1:18, 21; Roma 1:16), dan "akhirnya akan diselamatkan pada Hari Terakhir (Roma 5:9, 10; 13:11; 1 Tesalonika 1:10). Bila orang-orang percaya
teguh berpegang pada janji ini, iman tidak akan pernah sia-sia. Karena iman adalah percaya yang teguh kepada Allah yang Firman-Nya sepenuhnya dapat diandalkan (Roma 3:3, 4), satu-satunya cara bagi orang-orang Korintus untuk sia-sia saja menjadi percaya ialah apabila mereka menolak apa yang telah mereka terima di masa lampau. Paulus tidak mempertanyakan kebenaran Injil itu sendiri, meskipun memang benar bahwa tanpa kebangkitan Kristus seluruh iman Kristen akan sia-sia (ayat 14, 17).
Ayat 3aKarena di dalam Kristus orang mati dibangkitkan (ay. 22), Paulus mulai dengan mengutarakan apa yang diketahui dan diakui oleh iman tentang Dia. Di antara tradisi-tradisi yang pernah ia sampaikan kepada orang-orang Korintus (1 Korintus 11:2) adalah sebuah pengakuan iman yang juga telah ia
terima sendiri. Di sini ia menggunakan istilah-istilah yang sama untuk mengantarkan sebuah tradisi seperti yang dilakukannya dalam 1 Korintus 11:23, kecuali bahwa ia menghilangkan kata-kata "dari Tuhan". Tempatnya sendiri di dalam peristiwa-peristiwa yang akan disebutkannya itu muncul belakangan (ayat 8-10). Ia telah meneruskan pengakuan iman ini sebagai sesuatu
yang sangat penting; pesannya sungguh merupakan dasar bagi seluruh iman Kristen. Namun demikian, frasa ini dapat pula berarti bahwa inilah yang pernah ia sampaikan "pertama-tama", pada awal mula pelayanannya di Korintus. Sungguh menarik bila kita mencatat bahwa Paulus bekerja dengan cara yang sama dengan orang-orang Tesalonika dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kebangkitan - pengakuan imanlah yang pertama muncul (1 Tesalonika 4:13-18).
Ayat 3b-5Sulit kita mengatakan di manakah pernyataan pengakuan iman ini berakhir. Bila kita. menganggapnya berakhir pada ayat 5, kita mempunyai empat peristiwa yang dicatat, dua dari padanya merupakan inti Injil. Pemberitaan Kristen yang mula-mula jelas mencakup narasa tentang kehidupan awal dan pengajaran Yesus tetapi yang menjadi inti Injil bukanlah apa yang Yesus katakan, melainkan apa yang Allah lakukan di dalam dan melalui Dia di dalam kematian dan kebangkitan-Nya (Kisah 2:22-24; 10:38-40). Inilah kedua titik pusatnya, yang diungkapkan dalam pernyataan berganda:
Ia mati - Ia telah dikuburkan
Ia telah dibangkitkan - Ia telah menampakkan diri Jelas, peristiwa yang pertama dalam masing-masing pasangan tersebut adalah peristiwa yang menentukan; klausa kedua dalam masing-masing kasusnya menetapkan kebenaran dari yang pertama. Hanya dengan acuan kepada kematian Kristus dan kebangkitan-Nyalah, maka imbauan ini dibuat kepada Kitab Suci.
Kristus telah mati karena dosa-dosa kita adalah inti berita Injil
Ayat 3bKristus telah mati karena dosa-dosa kita adalah inti berita Injil (Roma 5.6, 2 Korintus 5:14; Galatia 1:4). Kematian-Nya bukanlah nasib yang tragis, sebuah kegagalan yang malang dalam mewujudkan keadilan; bukan pula akhir yang menyedihkan dari sebuah pelayananan seharusnya berhasil. Tidak,
Ia "telah diserahkan karena pelanggaran kita" (Roma 2:25), Ia
"telah diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya" (Kisah 2:23); pengurbanan-Nya adalah sempurna untuk menebus dosa-dosa seluruh umat manusia. Bagaimanakah para murid yang pertama itu tiba pada keyakinan ini? Dalam berbicara tentang "keharusan" dari penderitaan-Nya (Matius 16:21; Markus 8:31), Yesus sendiri telah menunjukkan bahwa kematian-Nya harus menjadi penggenpan dari sebuah rencana ilahi. Setelah kebangkitan dan Pentakosta, para murid menemukan pengukuhan tentang kenyataan ini di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Mereka melihat peranan dari Hamba yang Menderita dalam Yesaya 53 secara sempurna digenapi Kristus di dalam kematian-Nya (1 Petrus 2:21-25); nas-nas lainnya (seperti Mazmur 118:22; Ulangan 21:23) dibaca dalam sebuah terang yang baru. Apakah memang teks-teks ini atau lainnya yang diacu dalam frasa
sesuai dengan Kitab Suci tidak begitu penting, karena Kristus tidak menggenapi segelintir ayat-ayat bukti. Seluruh Perjanjian Lama menunjuk ke arah Dia sebagai tujuan dari rencana penyelamatan Allah. Jadi, khotbah Petrus tentang Kristus di dalam Kisah Para Rasul 10:36-43 ditutup dengan:
"Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya." Ayat 4LAI TB,
bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
KJV,
And that he was buried, and that he rose again the third day according to the scriptures:
TR,
και οτι εταφη και οτι εγηγερται τη τριτη ημερα κατα τας γραφας
Translit interlinear,
kai {lalu} hoti {bahwa} etaphê {Ia telah dikuburkan, verb - second aorist passive indicative - third person singular} kai {dan} hoti {bahwa} egêgertai {Ia telah dibangkitkan, verb - perfect passive indicative - third person singular} tê tritê {ketiga} hêmera {(pada) hari} kata {sesuai dengan} tas graphas {kitab suci} Penguburan Tuhan itu sendiri tidak mempunyai makna penyelamatan; bahwa
Ia telah dikuburkan mengukuhkan kenyataan tentang kematian-Nya (Ia tidak berbohong - sama halnya dengan penguburan Daud membuktikan bahwa ia benar-benar telah mati, Kisah 2:29). Akibatnya, kebangkitan Kristus sungguh-sungguh berarti bahwa Ia kembali hidup, bukan sekadar seseorang yang terbangun dari koma; bahwa
Ia dibangkitkan, pada hari yang ketiga adalah kesaksian dari keempat laporan Injil. Sebuah peristiwa unik telah terjadi di masa lalu; tetapi bentuk waktu kata kerja yang digunakannya (keterangan waktu yang masih berlangsung) menunjukkan bahwa ini adalah suatu peristiwa yang mempunyai signifikansi berlanjut sampai masa kini dan masa depan: Kristus telah mati, tetapi. kini Ia adalah Tuhan yang hidup. Penekanan ini terdapat di balik keenam acuan dalam ayat 12-20 terhadap kenyataan bahwa Kristus
telah dibangkitkan. Lebih jauh, bentuk pasif (yang diambil dari Yudaisme) menggambarkan suatu cara berbicara berputar mengenai Allah tanpa benar-benar menyebutkan nama-Nya yang kudus (seperti dalam Roma 4:24; 6:4; 2 Timotius 2:8); ayat 15 menguraikan makna selengkapnya:
Allah membangkitkan Yesus (lihat pula 1 Korintus 6:14; Roma 4:24; 8:11; 10:9; 2 Korintus 4:14; Galatia 1:1; Efesus 1:20; Kolose 2:12). Pokok ini sungguh amat bermakna. Dalam Perjanjian Lama, pengakuan-pengakuan iman yang besar selalu mengakui apa yang Allah telah lakukan untuk umatNya di dalam sejarah (Ulangan 6:20-25; 26:5-11; Yosua 24:2-13). Penekanan yang sama itu pula ditemukan di sini; pengakuan tentang Kristus selalu merupakan pengakuan tentang
"perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah" (Kisah 2:11, 22-24).
Jadi, kebangkitan juga terjadi
sesuai dengan Kitab Suci. Yesus telah meramalkan bukan hanya kematian-Nya, tetapi juga kebangkitan-Nya
pada hari yang ketiga (Matius 16:21; Markus 8:31 menyebutkan "pada hari ketiga"). Ia juga mengingatkan pembacanya tentang
pembebasan Yunus dari ikan besar setelah tiga hari dan tiga malam (Yunus 1:17-2:1) dalam membicarakan pembebasan-Nya setelah kematian (Matius 12:40). Hosea 6:1,2 juga berkaitan dengan panggilannya kepada Israel: "Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. Ia akan menghidupkan kita, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita. Ada kemungkinan bahwa nas ini, meskipun berbicara tentang Israel dan bukan tentang Mesias, dipandang oleh jemaat mula-mula menunjuk pada pola tindakan-tindakan Allah di dalam Yesus Kristus: Allah mendatangkan kematian guna memberikan kehidupan. Dapat pula dicatat bahwa Mazmur 16:8-11 (khususnya ayat 10:
"sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan") menjadi sebuah nubuat tentang kebangkitan yang penting bagi jemaat mula-mula (Kisah 2:25-31; 13:35-37) - meskipun di sini tidak disebutkan tentang hari yang ketiga itu.
Sehubungan dengan kematian Yesus, Kitab Suci tidak disebutkan untuk mengingatkan para pembaca pada beberapa nas bukti, melainkan mengingatkan orang percaya bahwa kebangkitan Kristus Juga termasuk dalam rencana dan pertimbangan Aliah. Tindakannya yang kreatiflah, yang mengikuti pola perbuatan-perbuatan dan janji-janji-Nya di masa lampau: Dari kematian Ia menciptakan kehidupan (lihat pula Yehezkiel 37). Acuan kepada
hari yang ketiga ini adalah penting; seperti penyebutan Pontius Pilatus dalam pengakuan-pengakuan Iman gereja yang belakangan, hal ini mengingatkan kita bahwa kebangkitan itu terjadi pada suatu titik dalam perjalanan waktu sejarah manusia, meskipun hal itu mempunyai signifikansi yang kekal dalam masa kini dan masa depan.
Bahwa Tuhan yang bangkit itu menampakkan diri kepada Kefas, diacu dalam Lukas 24:34. Selain dari Galatia 2:7,8, dalam surat-surat Paulus, Petrus selalu disebut Kefas. Statusnya yang khusus dalam jemaat mula-mula barangkali berasal dari penampakan yang khusus ini, maupun pada kedudukannya yang istimewa di dalam lingkungan para murid semasa pelayanan Yesus. Barangkali juga di sini Paulus dengan sengaja mengikutsertakan bagian dari tradisi yang dikutipnya ini, karena Petrus sangat dikenal di Korintus, dan pernah mempunyai pendukungnya yang khusus pula (1 Korintus 1:12; 3:22; 9:5). Inilah satu-satunya tempat di mana Paulus menyebutkan
kedua belas murid-Nya. Sejak Yudas Iskariot meninggal, mungkin hanya 11 orang yang disebutkan dalam Matius 28:16,17 dan Lukas 24:33 (meskipun mungkin lebih banyak lagi yang sungguh-sungguh hadir menurut nas yang kedua); namun keseluruhan dari kedua belas murid yang hadir pada penampakan dicatat dalam Yohanes 20:19-29 dan 21:2-14. Bahwa jumlah dua belas itu sudah baku di dalam tradisi menunjukkan pada kedudukannya yang penting bagi gereja yang belakangan. Di mana penampakan-penampakan diri kepada Kefas, dan kemudian yang kedua belas, terjadi, tidaklah disebutkan, meskipun barangkali peristiwa itu terjadi di Yerusalem (penampakan-penampakan di Galilea juga dicatat).
Seperti frasa "Ia dibangkitkan" (ayat 4), Ia
menampakkan diri dalam bahasa Yunani menggunakan sebuah kata kerja pasif dengan makna tersirat yang aktif; secara harfiah kata ini berarti "Ia dilihat", tetapi implikasinya ialah: Allah memperlihatkan-Nya. Bentuk kata kerja yang sama digunakan dalam ayat 68 dan acuan-acuan lainnya pada penampakan-penampakan Tuhan pada peristiwa Paskah (Lukas 24:34; Kisah 13:31; 1 Timotius 3:16). Konsekuensinya, bahkan penampakan-penampakan kebangkitan itu diakui sebagai bagian dari karya Allah yang besar. Ini bukanlah pengharapan dan mimpi subjektif dari sekelompok kecil pengikut yang "menghasilkan" iman Paskah; Allah menampakkan Anak-Nya kepada para murid, dan dengan demikian membuktikan bahwa sengat maut telah dicabut (ayat 55).
Ayat 6LAI TB,
Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
KJV,
After that, he was seen of above five hundred brethren at once; of whom the greater part remain unto this present, but some are fallen asleep.
TR,
επειτα ωφθη επανω πεντακοσιοις αδελφοις εφαπαξ εξ ων οι πλειους μενουσιν εως αρτι τινες δε και εκοιμηθησαν
Translit interlinear,
epeita {sesudah itu} ôphthê {Ia menampakkan Diri} epanô {lebih} pentakosiois {lima ratus} adelphois {saudara2} ephapax {pernah/ sekaligus} ex {dari} hôn {mereka} hoi pleious {yang kebanyakan} menousin {masih hidup} heôs {hingga} arti {sekarang} tines {beberapa} de {tetapi} kai {juga} ekoimêthêsan {telah tidur (meninggal)}Meskipun tradisi atau pengakuan iman yang dikutip oleh Paulus barangkali berakhir pada bagian ini, ia melanjutkan untuk mencatat kesaksian-kesaksian lain. Tidak pernah ada laporan bahwa
Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus. Ini tak dapat disebut sebagai acuan pada pertemuan besar para murid dan mualaf pada hari Pentakosta (Kisah 1:15; 2:41), seperti yang diusulkan oleh sebagian orang. Tetapi ini bukanlah sesuatu yang mungkin telah diciptakan Paulus. Sementara ia menulis kata-kata ini, kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal (Yunani:
"telah tidur" sebuah istilah umum untuk kematian, seperti dalam 1 Korintus 7:39; 11:30; 15:18, 20, 51; 1 Tesalonika 4:13-15); bila ada di antara orang-orang Korintus yang ingin membuktikannya, mereka dapat memeriksa fakta-faktanya dari para saksi-saksi pertama ini!
Ayat 7Bahwa Tuhan menampakkan diri kepada
Yakobus juga tidak dicatat di tempat-tempat lain. Peranannya yang khusus sebagai pemimpin jemaat di Yerusalem (Kisah 12:17; 15:13-21; Galatia 1:9) barangkali dapat ditelusuri kembali pada peristiwa ini, maupun pada kenyataan bahwa ia adalah saudara Tuhan. Akhirnya, Kristus menampakkan diri
kepada semua rasul, kepada semua saksi Yerusalem yang mula-mula, yang sejauh ini belum disebutkan. Jelaslah bahwa jumlah rasul dan saksi yang melihat Tuhan yang bangkit itu jauh lebih besar daripada kedua belas murid yang pertama.
Ayat 8LAI TB,
Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.
KJV,
And last of all he was seen of me also, as of one born out of due time.
TR,
εσχατον δε παντων ωσπερει τω εκτρωματι ωφθη καμοι
Translit interlinear,
eskhaton {terakhir} de {lalu} pantôn {dari semua} hôsperei {sama seperti bayi} tô ektrômati {kelahiran sebelum waktunya} ôphthê {Ia menampakkan diri} kamoi {kepadaku juga}Kini Paulus tiba pada tempatnya sendiri dalam daftar para saksi Paskah. Ia muncul yang
paling akhir dari semuanya. Ini bukanlah suatu tanda kerendahan hati yang palsu, melainkan suatu pengakuan akan kebenaran yang mungkin diangkat oleh sebagian dari para pengecamnya di Korintus untuk melawan dia (meskipun perpecahan besar antara Paulus dan para pembacanya, yang tercermin dalam surat yang kedua, belum terjadi). Namun demikian kita merasakan suatu nada apologetik dalam beberapa baris ini. Meskipun ia muncul belakangan di panggung, demikian ia menekankan, pada kenyataannya: "Kristus
menampakkan diri juga kepadaku, sehingga aku berhak untuk disebut sebagai rasul" (1 Korintus 1:1; 9:1). Ia menggunakan kata kerja yang sama untuk penampakan ini di jalan menuju Damsyik, seperti yang dipergunakannya untuk penampakan-penampakan Paskah lainnya (lihat pula Kisah 9:17; 26:16). Kedudukannya sebagai rasul sama sekali tidaklah lebih rendah daripada kedudukan yang lainnya, bahkan kalaupun Tuhan menampakkan diri-Nya belakangan kepadanya dan dengan cara yang khusus:
sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Pernah ada tafsiran yang mengatakan bahwa Paulus di sini mengangkat sebuah istilah penghinaan yang dilontarkan padanya oleh lawan-lawannya di Korintus. Kata Yunani yang diterjemahkan dengan
sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya berarti janin yang keguguran; belakangan, kata ini pun digunakan untuk menggambarkan monster yang buruk rupa atau mengerikan. Nah, nama Yunani
παυλος - "paulos" memang berarti "orang pendek/ kecil", dan orang-orang Korintus belakangan. membuat komentar-komentar yang menghina mengenai penampilan fisiknya (2 Korintus 10:10), kendati demikian Paulus menyebut dirinya sendiri seorang "aneh", bukan karena julukan dari para pembacanya. Sesungguhnya, anak yang lahir sebelum waktunya datang lebih awal, bukan
yang paling akhir. Apa yang dimaksudkan Paulus ialah bahwa kelahirannya sebagai seorang rasul terjadi "secara tidak alamiah": seolah-olah hal itu membutuhkan operasi caesar di pihak Tuhan untuk menghasilkan pelayanannya.
Ayat 9-11Beberapa orang di Korintus belakangan mengatakan secara tid.ak langsung bahwa ia adalah
yang paling hina dari semua rasul (lihat. bawah); di sini Paulus mengatakannya sendiri. Ia layak mendapatkan tempat yang paling bawah, bukan karena ia tidak dipanggil dan diutus dengan benar oleh Tuhan, bukan pula karena catatannya sebagai seorang rasul ternyata cacat; ia adalah
yang paling hina karena ia
telah menganiaya Jemaat Allah (Kisah 8:3; 9:1; 22:4; 26:9-11). Namun demikian, Tuhan menangkap penganiaya besar ini dan mengubahnya menjadi seorang misionaris yang besar (Galatia 1:13-16). Hal itu, kata Paulus, hanya membuktikan satu hal:
karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang. Di tempat lain ia menulis:
"Kepadaku, yang paling hina .di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karurua ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu" (Efesus 3:8); meskipun dahulu ia adalah
"orang berdosa yang paling celaka", Allah menjadikan dia contoh hidup yang sempurna tentang bagaimana kasih karunia itu bekerja (1 Timotius 1:15, 16).
Kasih karunia tidak pernah cuma sekadar gagasan atau konsep teologis yang bagus bagi Paulus; ia telah mengalami kuasanya di dalam perubahan hidupnya sendiri. Jadi, ia bahkan dapat menyebut jabatannya sebagai rasul sebagai sebuah anugerah kasih karunia (Roma 1:5; lihat pula 1 Korintus 3:10).
Karena kasih karunia menciptakan pelayanannya, ia tidak pernah bisa menyombongkannya; ia tidak dapat mengklaim jasa khusus sebagai seseorang yang telah menyerahkan diri dengan sukarela untuk pelayanan (1 Korintus 9:16, 17). Ketika orang-orang Korintus belakangan menantang dia untuk memperlihatkan bukti-bukti kerasulannya, ia menolak untuk mengajukan apa pun selain daftar penderitaannya; ia menolak untuk menyombongkan apa pun kecuali kelemahannya sendiri dan kekuatan Kristus yang bekerja di dalam dirinya (2 Korintus 4:7-10; 10:8-12:10). Namun ia dapat mengatakan, sekali lagi tanpa kerendahan hati yang palsu, bahwa
kasih karunia Allah kepadanya
tidak sia-sia; ia sama sekali tidak lebih rendah daripada para "rasul yang luar biasa" yang mengangkat dirinya sendiri dan suka menonjolkan diri di Korintus yang menyombongkan kekuatan-kekuatan rohani mereka (2 Korintus 11:5, 23; 12:11). Sekarang ia bahkan dapat menunjuk pada catatannya yang tidak tertandingi sampai sekarang:
aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua. Kita tidak tahu banyak tentang karya misi para murid yang lainnya. Petrus juga banyak melakukan perjalanan; dan menurut tradisi beberapa rasul mencapai negeri-negeri yang jauh sambil menyebarkan Injil. Paulus dapat mengklaim sebuah prestasi yang tidak tertandingi, khususnya di dalam penderitaan (2 Korintus 11:23-27); setelah lebih dari sepuluh tahun bekerja di bagian timur kekaisaran Romawi, ia kini siap untuk mendirikan sebuah jemaat baru di Barat (Roma 15:17-29)! Terutama sekali, ia dapat selalu mengklaim bahwa ia telah membuka daerah baru ke manapun ia pergi, sambil menolak untuk menghubungkannya dengan pekerjaan para rasul lainnya yang telah mengunjungi sebuah tempat sebelum dia (2 Korintus 10:13-16; Roma 15:20).
Meskipun demikian, Paulus tidak membanggakan usaha-usaha atau prestasi-prestasinya: "
tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku yang menghasilkan setiap keberhasilan," ia menekankan. Menjelang akhir pelayanannya ia menulis: "dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah. Sebab aku akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku" (Roma 15:17,18).
Dalam analisis terakhirnya, tidak terlalu menjadi masalah siapa yang memberitakan Injil, apakah Paulus atau para rasul dan misionaris lainnya (baik aku, maupun mereka); masing-masing orang hanyalah seorang hamba, yang dengan setia menunaikan tugas yang telah ditetapkan kepadanya (1 Korintus 3:5-10). Yang terutama ialah bahwa semua kesaksian paskah itu mengajar tentang kebenaran yang sama seperti yang diuraikan di dalam pengakuan iman yang telah disebutkan dalam ayat 3-5; artinya apa yang orang-orang Korintus juga percaya. Karena orang masih mengakui satu iman paskah yang sama, mereka pun harus dipersatukan dengan berpegang pada pengharapan akan kebangkitan mereka sendiri dari kematian. Ia, Paulus, tidak menerima kasih karunia Allah. dengan sia-sia, mereka pun tidak boleh menerimanya dengan sia-sia (2 Korintus 6:1).