SarapanPagi Biblika

Bible Study / Christian Library
It is currently Thu Sep 09, 2010 5:43 pm

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 6 posts ] 
Author Message
 Post subject: KEBANGKITAN, 1 Korintus 15
PostPosted: Tue Apr 14, 2009 1:56 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
KEBANGKITAN, 1 Korintus 15



Kitab 1 Korintus mengajarkan sebuah teologi salib yang sangat dalam mencapai puncaknya pacia pengakuan yang indah tentang kebangkitan Kristus dan pengharapan kebangkitan semua orang percaya. Berada "di dalam Dia" tidak hanya menentukan keadaan orang Kristen, tetapi juga masa depannya. Bersama dengan Roma 8, pasal ini memberikan uraian yang paling indah tentang pengharapan Kristen yang dapat ditemukan di dalam Perjanjian Baru.


Tidak ada petunjuk bahwa Paulus di sini menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Korintus, seperti yang terjadi di tempat-tempat lain dalam surat ini (1 Korintus 7:1; 8:1; 12:1). Bersama-sama dengan masalah-masalah lain (lihat 1 Korintus 5:1; 11:8), ia jelas telah mendengar bahwa kebangkitan orang mati di masa depan ditolak oleh sebagian orang (ayat 12) - tetapi bukan kebangkitan Kristus, titik tolak untuk argumennya. Barangkali ia menerima laporan tentang hal ini dari "orang-orang Kloe" (1 Korintus 1:11), atau dari sesama teman mereka yang disebutkan dalam 1 Korintus 16:17. Ada sejumlah pertanyaan yang jelas atau tersirat (misalnya dalam ayalnya 12); semua ini memperlihatkan bahwa Paulus mengantisipasi keberatan-keberatan dari mereka yang menolak pengharapan kebangkitan.


Image


I. Kesaksian Paulus tentang Tuhan yang Bangkit


* 1 Korintus 15 :1-11
15:1 Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri.
15:2 Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu -- kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.
15:3 Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
15:4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
15:5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.
15:6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
15:7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.
15:8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.
15:9 Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.
15:10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.
15:11 Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.



Seperti halnya iman dan kasih, pengharapan Kristen bertitik tolak pada Kristus; Paulus tidak memperdebatkan masalah kebangkitan dengan dasar yang lain. Para pembacanya sudah mengenal fakta-fakta mendasar yang diakui oleh iman, tetapi mereka belum mengambil kesimpulan-kesimpulan yang lengkap dan perlu dari fakta-fakta ini. Seperti dalam 1Korintus 11:23-25, di sini Paulus menggunakan tradisi yang tetap dan sudah dikenal sebagai titik berangkat atau dasar bagi argumen berikutnya. Pengakuan iman yang dikutip nya tidak terbuka untuk didiskusikan; apa yang harus ia lakukan adalah menunjuk pada peranannya sebagai seorang saksi terhadap kebenaran yang diakui itu (ayat 8-11).


Ayat 1

LAI TB, Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri.
KJV, Moreover, brethren, I declare unto you the gospel which I preached unto you, which also ye have received, and wherein ye stand;
TR, γνωριζω δε υμιν αδελφοι το ευαγγελιον ο ευηγγελισαμην υμιν ο και παρελαβετε εν ω και εστηκατε
Translit interlinear, gnôrizô {aku memberitahukan} de {adapun} humin {kepadamu} adelphoi {hai saudara2} to euaggelion {kabar baik} ho {yang} euêggelisamên {telah kuberitakan} humin {kepadamu} ho {yang} kai {juga} parelabete {kamu telah menerima} en hô {didalamnya} kai {juga} estêkate {kamu telah berdiri teguh}


Aku mau mengingatkan kamu, lebih merupakan tafsiran daripada terjemahan. Di sini Paulus menggunakan frasa yang sama seperti dalam 1 Korintus 12:3 (juga 2 Korintus 8:1; Galatia 1:1), yang secara harfiah berarti, "Aku menyatakan kepada kamu". Karena ia tidak mengatakan sesuatu apa pun yang baru kepada para pembacanya dalam ayat-ayat benkutnya, melainkan apa yang pernah mereka terima dari padanya dan para misionaris lainnya (lihat ayat 11), sesungguhnya ia mengatkan, [Saya ingin kalian yakin benar akan sesuatu", yakni kepada Injil yang aku beritakan kepadamu. Istilah-istilah ini dikandung dalam tradisi resmi yang akan dikutipnya. Dengan membaca surat ini orang akan tergoda untuk mempertanyakan apakah orang-orang Korintus benar-benar teguh berdiri di dalam Injil. Namun demikian, Paulus masih menulis kepada orang-orang yang merepotkan ini sebagai saudara-saudara, umat Allah yang dikuduskan, orang-orang kudus-Nya (1 Korintus 1:2; 6:11). Berdiri teguh di dalam iman adalah karunia dan tugas (1 Korintus 16:13; 2 Korintus 1:24; Roma 11:20; Efesus 6:13, 14; Filipi 1:27). Ada kemungkinan pula seseorang gugur dari kasih karunia (1 Korintus 10:12); bila orang-orang percaya tidak berpegang teguh kepada Injil mereka tidak akan mampu berdiri teguh sekarang, maupun pada akhirnya di hadirat Hakim yang kudus.


Ayat 2

Namun demikian, Injil yang oleh-nya orang-orang percaya diselamatkan adalah pesan tentang kuasa dan kekuatan ilahi; ia mengandung janji bahwa mereka yang memandang kepada Kristus di dalam iman kini "sedang diselamatkan" (1 Korintus 1:18, 21; Roma 1:16), dan "akhirnya akan diselamatkan pada Hari Terakhir (Roma 5:9, 10; 13:11; 1 Tesalonika 1:10). Bila orang-orang percaya teguh berpegang pada janji ini, iman tidak akan pernah sia-sia. Karena iman adalah percaya yang teguh kepada Allah yang Firman-Nya sepenuhnya dapat diandalkan (Roma 3:3, 4), satu-satunya cara bagi orang-orang Korintus untuk sia-sia saja menjadi percaya ialah apabila mereka menolak apa yang telah mereka terima di masa lampau. Paulus tidak mempertanyakan kebenaran Injil itu sendiri, meskipun memang benar bahwa tanpa kebangkitan Kristus seluruh iman Kristen akan sia-sia (ayat 14, 17).


Ayat 3a

Karena di dalam Kristus orang mati dibangkitkan (ay. 22), Paulus mulai dengan mengutarakan apa yang diketahui dan diakui oleh iman tentang Dia. Di antara tradisi-tradisi yang pernah ia sampaikan kepada orang-orang Korintus (1 Korintus 11:2) adalah sebuah pengakuan iman yang juga telah ia terima sendiri. Di sini ia menggunakan istilah-istilah yang sama untuk mengantarkan sebuah tradisi seperti yang dilakukannya dalam 1 Korintus 11:23, kecuali bahwa ia menghilangkan kata-kata "dari Tuhan". Tempatnya sendiri di dalam peristiwa-peristiwa yang akan disebutkannya itu muncul belakangan (ayat 8-10). Ia telah meneruskan pengakuan iman ini sebagai sesuatu yang sangat penting; pesannya sungguh merupakan dasar bagi seluruh iman Kristen. Namun demikian, frasa ini dapat pula berarti bahwa inilah yang pernah ia sampaikan "pertama-tama", pada awal mula pelayanannya di Korintus. Sungguh menarik bila kita mencatat bahwa Paulus bekerja dengan cara yang sama dengan orang-orang Tesalonika dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kebangkitan - pengakuan imanlah yang pertama muncul (1 Tesalonika 4:13-18).


Ayat 3b-5

Sulit kita mengatakan di manakah pernyataan pengakuan iman ini berakhir. Bila kita. menganggapnya berakhir pada ayat 5, kita mempunyai empat peristiwa yang dicatat, dua dari padanya merupakan inti Injil. Pemberitaan Kristen yang mula-mula jelas mencakup narasa tentang kehidupan awal dan pengajaran Yesus tetapi yang menjadi inti Injil bukanlah apa yang Yesus katakan, melainkan apa yang Allah lakukan di dalam dan melalui Dia di dalam kematian dan kebangkitan-Nya (Kisah 2:22-24; 10:38-40). Inilah kedua titik pusatnya, yang diungkapkan dalam pernyataan berganda:

Ia mati - Ia telah dikuburkan
Ia telah dibangkitkan - Ia telah menampakkan diri


Jelas, peristiwa yang pertama dalam masing-masing pasangan tersebut adalah peristiwa yang menentukan; klausa kedua dalam masing-masing kasusnya menetapkan kebenaran dari yang pertama. Hanya dengan acuan kepada kematian Kristus dan kebangkitan-Nyalah, maka imbauan ini dibuat kepada Kitab Suci.
Kristus telah mati karena dosa-dosa kita adalah inti berita Injil


Ayat 3b

Kristus telah mati karena dosa-dosa kita adalah inti berita Injil (Roma 5.6, 2 Korintus 5:14; Galatia 1:4). Kematian-Nya bukanlah nasib yang tragis, sebuah kegagalan yang malang dalam mewujudkan keadilan; bukan pula akhir yang menyedihkan dari sebuah pelayananan seharusnya berhasil. Tidak, Ia "telah diserahkan karena pelanggaran kita" (Roma 2:25), Ia "telah diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya" (Kisah 2:23); pengurbanan-Nya adalah sempurna untuk menebus dosa-dosa seluruh umat manusia. Bagaimanakah para murid yang pertama itu tiba pada keyakinan ini? Dalam berbicara tentang "keharusan" dari penderitaan-Nya (Matius 16:21; Markus 8:31), Yesus sendiri telah menunjukkan bahwa kematian-Nya harus menjadi penggenpan dari sebuah rencana ilahi. Setelah kebangkitan dan Pentakosta, para murid menemukan pengukuhan tentang kenyataan ini di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Mereka melihat peranan dari Hamba yang Menderita dalam Yesaya 53 secara sempurna digenapi Kristus di dalam kematian-Nya (1 Petrus 2:21-25); nas-nas lainnya (seperti Mazmur 118:22; Ulangan 21:23) dibaca dalam sebuah terang yang baru. Apakah memang teks-teks ini atau lainnya yang diacu dalam frasa sesuai dengan Kitab Suci tidak begitu penting, karena Kristus tidak menggenapi segelintir ayat-ayat bukti. Seluruh Perjanjian Lama menunjuk ke arah Dia sebagai tujuan dari rencana penyelamatan Allah. Jadi, khotbah Petrus tentang Kristus di dalam Kisah Para Rasul 10:36-43 ditutup dengan: "Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya."


Ayat 4

LAI TB, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
KJV, And that he was buried, and that he rose again the third day according to the scriptures:
TR, και οτι εταφη και οτι εγηγερται τη τριτη ημερα κατα τας γραφας
Translit interlinear, kai {lalu} hoti {bahwa} etaphê {Ia telah dikuburkan, verb - second aorist passive indicative - third person singular} kai {dan} hoti {bahwa} egêgertai {Ia telah dibangkitkan, verb - perfect passive indicative - third person singular} tê tritê {ketiga} hêmera {(pada) hari} kata {sesuai dengan} tas graphas {kitab suci}


Penguburan Tuhan itu sendiri tidak mempunyai makna penyelamatan; bahwa Ia telah dikuburkan mengukuhkan kenyataan tentang kematian-Nya (Ia tidak berbohong - sama halnya dengan penguburan Daud membuktikan bahwa ia benar-benar telah mati, Kisah 2:29). Akibatnya, kebangkitan Kristus sungguh-sungguh berarti bahwa Ia kembali hidup, bukan sekadar seseorang yang terbangun dari koma; bahwa Ia dibangkitkan, pada hari yang ketiga adalah kesaksian dari keempat laporan Injil. Sebuah peristiwa unik telah terjadi di masa lalu; tetapi bentuk waktu kata kerja yang digunakannya (keterangan waktu yang masih berlangsung) menunjukkan bahwa ini adalah suatu peristiwa yang mempunyai signifikansi berlanjut sampai masa kini dan masa depan: Kristus telah mati, tetapi. kini Ia adalah Tuhan yang hidup. Penekanan ini terdapat di balik keenam acuan dalam ayat 12-20 terhadap kenyataan bahwa Kristus telah dibangkitkan. Lebih jauh, bentuk pasif (yang diambil dari Yudaisme) menggambarkan suatu cara berbicara berputar mengenai Allah tanpa benar-benar menyebutkan nama-Nya yang kudus (seperti dalam Roma 4:24; 6:4; 2 Timotius 2:8); ayat 15 menguraikan makna selengkapnya: Allah membangkitkan Yesus (lihat pula 1 Korintus 6:14; Roma 4:24; 8:11; 10:9; 2 Korintus 4:14; Galatia 1:1; Efesus 1:20; Kolose 2:12). Pokok ini sungguh amat bermakna. Dalam Perjanjian Lama, pengakuan-pengakuan iman yang besar selalu mengakui apa yang Allah telah lakukan untuk umatNya di dalam sejarah (Ulangan 6:20-25; 26:5-11; Yosua 24:2-13). Penekanan yang sama itu pula ditemukan di sini; pengakuan tentang Kristus selalu merupakan pengakuan tentang "perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah" (Kisah 2:11, 22-24).

Jadi, kebangkitan juga terjadi sesuai dengan Kitab Suci. Yesus telah meramalkan bukan hanya kematian-Nya, tetapi juga kebangkitan-Nya pada hari yang ketiga (Matius 16:21; Markus 8:31 menyebutkan "pada hari ketiga"). Ia juga mengingatkan pembacanya tentang pembebasan Yunus dari ikan besar setelah tiga hari dan tiga malam (Yunus 1:17-2:1) dalam membicarakan pembebasan-Nya setelah kematian (Matius 12:40). Hosea 6:1,2 juga berkaitan dengan panggilannya kepada Israel: "Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. Ia akan menghidupkan kita, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita. Ada kemungkinan bahwa nas ini, meskipun berbicara tentang Israel dan bukan tentang Mesias, dipandang oleh jemaat mula-mula menunjuk pada pola tindakan-tindakan Allah di dalam Yesus Kristus: Allah mendatangkan kematian guna memberikan kehidupan. Dapat pula dicatat bahwa Mazmur 16:8-11 (khususnya ayat 10: "sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan") menjadi sebuah nubuat tentang kebangkitan yang penting bagi jemaat mula-mula (Kisah 2:25-31; 13:35-37) - meskipun di sini tidak disebutkan tentang hari yang ketiga itu.

Sehubungan dengan kematian Yesus, Kitab Suci tidak disebutkan untuk mengingatkan para pembaca pada beberapa nas bukti, melainkan mengingatkan orang percaya bahwa kebangkitan Kristus Juga termasuk dalam rencana dan pertimbangan Aliah. Tindakannya yang kreatiflah, yang mengikuti pola perbuatan-perbuatan dan janji-janji-Nya di masa lampau: Dari kematian Ia menciptakan kehidupan (lihat pula Yehezkiel 37). Acuan kepada hari yang ketiga ini adalah penting; seperti penyebutan Pontius Pilatus dalam pengakuan-pengakuan Iman gereja yang belakangan, hal ini mengingatkan kita bahwa kebangkitan itu terjadi pada suatu titik dalam perjalanan waktu sejarah manusia, meskipun hal itu mempunyai signifikansi yang kekal dalam masa kini dan masa depan.

Bahwa Tuhan yang bangkit itu menampakkan diri kepada Kefas, diacu dalam Lukas 24:34. Selain dari Galatia 2:7,8, dalam surat-surat Paulus, Petrus selalu disebut Kefas. Statusnya yang khusus dalam jemaat mula-mula barangkali berasal dari penampakan yang khusus ini, maupun pada kedudukannya yang istimewa di dalam lingkungan para murid semasa pelayanan Yesus. Barangkali juga di sini Paulus dengan sengaja mengikutsertakan bagian dari tradisi yang dikutipnya ini, karena Petrus sangat dikenal di Korintus, dan pernah mempunyai pendukungnya yang khusus pula (1 Korintus 1:12; 3:22; 9:5). Inilah satu-satunya tempat di mana Paulus menyebutkan kedua belas murid-Nya. Sejak Yudas Iskariot meninggal, mungkin hanya 11 orang yang disebutkan dalam Matius 28:16,17 dan Lukas 24:33 (meskipun mungkin lebih banyak lagi yang sungguh-sungguh hadir menurut nas yang kedua); namun keseluruhan dari kedua belas murid yang hadir pada penampakan dicatat dalam Yohanes 20:19-29 dan 21:2-14. Bahwa jumlah dua belas itu sudah baku di dalam tradisi menunjukkan pada kedudukannya yang penting bagi gereja yang belakangan. Di mana penampakan-penampakan diri kepada Kefas, dan kemudian yang kedua belas, terjadi, tidaklah disebutkan, meskipun barangkali peristiwa itu terjadi di Yerusalem (penampakan-penampakan di Galilea juga dicatat).

Seperti frasa "Ia dibangkitkan" (ayat 4), Ia menampakkan diri dalam bahasa Yunani menggunakan sebuah kata kerja pasif dengan makna tersirat yang aktif; secara harfiah kata ini berarti "Ia dilihat", tetapi implikasinya ialah: Allah memperlihatkan-Nya. Bentuk kata kerja yang sama digunakan dalam ayat 68 dan acuan-acuan lainnya pada penampakan-penampakan Tuhan pada peristiwa Paskah (Lukas 24:34; Kisah 13:31; 1 Timotius 3:16). Konsekuensinya, bahkan penampakan-penampakan kebangkitan itu diakui sebagai bagian dari karya Allah yang besar. Ini bukanlah pengharapan dan mimpi subjektif dari sekelompok kecil pengikut yang "menghasilkan" iman Paskah; Allah menampakkan Anak-Nya kepada para murid, dan dengan demikian membuktikan bahwa sengat maut telah dicabut (ayat 55).


Ayat 6

LAI TB, Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
KJV, After that, he was seen of above five hundred brethren at once; of whom the greater part remain unto this present, but some are fallen asleep.
TR, επειτα ωφθη επανω πεντακοσιοις αδελφοις εφαπαξ εξ ων οι πλειους μενουσιν εως αρτι τινες δε και εκοιμηθησαν
Translit interlinear, epeita {sesudah itu} ôphthê {Ia menampakkan Diri} epanô {lebih} pentakosiois {lima ratus} adelphois {saudara2} ephapax {pernah/ sekaligus} ex {dari} hôn {mereka} hoi pleious {yang kebanyakan} menousin {masih hidup} heôs {hingga} arti {sekarang} tines {beberapa} de {tetapi} kai {juga} ekoimêthêsan {telah tidur (meninggal)}


Meskipun tradisi atau pengakuan iman yang dikutip oleh Paulus barangkali berakhir pada bagian ini, ia melanjutkan untuk mencatat kesaksian-kesaksian lain. Tidak pernah ada laporan bahwa Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus. Ini tak dapat disebut sebagai acuan pada pertemuan besar para murid dan mualaf pada hari Pentakosta (Kisah 1:15; 2:41), seperti yang diusulkan oleh sebagian orang. Tetapi ini bukanlah sesuatu yang mungkin telah diciptakan Paulus. Sementara ia menulis kata-kata ini, kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal (Yunani: "telah tidur" sebuah istilah umum untuk kematian, seperti dalam 1 Korintus 7:39; 11:30; 15:18, 20, 51; 1 Tesalonika 4:13-15); bila ada di antara orang-orang Korintus yang ingin membuktikannya, mereka dapat memeriksa fakta-faktanya dari para saksi-saksi pertama ini!


Ayat 7

Bahwa Tuhan menampakkan diri kepada Yakobus juga tidak dicatat di tempat-tempat lain. Peranannya yang khusus sebagai pemimpin jemaat di Yerusalem (Kisah 12:17; 15:13-21; Galatia 1:9) barangkali dapat ditelusuri kembali pada peristiwa ini, maupun pada kenyataan bahwa ia adalah saudara Tuhan. Akhirnya, Kristus menampakkan diri kepada semua rasul, kepada semua saksi Yerusalem yang mula-mula, yang sejauh ini belum disebutkan. Jelaslah bahwa jumlah rasul dan saksi yang melihat Tuhan yang bangkit itu jauh lebih besar daripada kedua belas murid yang pertama.


Ayat 8

LAI TB, Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.
KJV, And last of all he was seen of me also, as of one born out of due time.
TR, εσχατον δε παντων ωσπερει τω εκτρωματι ωφθη καμοι
Translit interlinear, eskhaton {terakhir} de {lalu} pantôn {dari semua} hôsperei {sama seperti bayi} tô ektrômati {kelahiran sebelum waktunya} ôphthê {Ia menampakkan diri} kamoi {kepadaku juga}


Kini Paulus tiba pada tempatnya sendiri dalam daftar para saksi Paskah. Ia muncul yang paling akhir dari semuanya. Ini bukanlah suatu tanda kerendahan hati yang palsu, melainkan suatu pengakuan akan kebenaran yang mungkin diangkat oleh sebagian dari para pengecamnya di Korintus untuk melawan dia (meskipun perpecahan besar antara Paulus dan para pembacanya, yang tercermin dalam surat yang kedua, belum terjadi). Namun demikian kita merasakan suatu nada apologetik dalam beberapa baris ini. Meskipun ia muncul belakangan di panggung, demikian ia menekankan, pada kenyataannya: "Kristus menampakkan diri juga kepadaku, sehingga aku berhak untuk disebut sebagai rasul" (1 Korintus 1:1; 9:1). Ia menggunakan kata kerja yang sama untuk penampakan ini di jalan menuju Damsyik, seperti yang dipergunakannya untuk penampakan-penampakan Paskah lainnya (lihat pula Kisah 9:17; 26:16). Kedudukannya sebagai rasul sama sekali tidaklah lebih rendah daripada kedudukan yang lainnya, bahkan kalaupun Tuhan menampakkan diri-Nya belakangan kepadanya dan dengan cara yang khusus: sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Pernah ada tafsiran yang mengatakan bahwa Paulus di sini mengangkat sebuah istilah penghinaan yang dilontarkan padanya oleh lawan-lawannya di Korintus. Kata Yunani yang diterjemahkan dengan sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya berarti janin yang keguguran; belakangan, kata ini pun digunakan untuk menggambarkan monster yang buruk rupa atau mengerikan. Nah, nama Yunani παυλος - "paulos" memang berarti "orang pendek/ kecil", dan orang-orang Korintus belakangan. membuat komentar-komentar yang menghina mengenai penampilan fisiknya (2 Korintus 10:10), kendati demikian Paulus menyebut dirinya sendiri seorang "aneh", bukan karena julukan dari para pembacanya. Sesungguhnya, anak yang lahir sebelum waktunya datang lebih awal, bukan yang paling akhir. Apa yang dimaksudkan Paulus ialah bahwa kelahirannya sebagai seorang rasul terjadi "secara tidak alamiah": seolah-olah hal itu membutuhkan operasi caesar di pihak Tuhan untuk menghasilkan pelayanannya.


Ayat 9-11

Beberapa orang di Korintus belakangan mengatakan secara tid.ak langsung bahwa ia adalah yang paling hina dari semua rasul (lihat. bawah); di sini Paulus mengatakannya sendiri. Ia layak mendapatkan tempat yang paling bawah, bukan karena ia tidak dipanggil dan diutus dengan benar oleh Tuhan, bukan pula karena catatannya sebagai seorang rasul ternyata cacat; ia adalah yang paling hina karena ia telah menganiaya Jemaat Allah (Kisah 8:3; 9:1; 22:4; 26:9-11). Namun demikian, Tuhan menangkap penganiaya besar ini dan mengubahnya menjadi seorang misionaris yang besar (Galatia 1:13-16). Hal itu, kata Paulus, hanya membuktikan satu hal: karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang. Di tempat lain ia menulis: "Kepadaku, yang paling hina .di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karurua ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu" (Efesus 3:8); meskipun dahulu ia adalah "orang berdosa yang paling celaka", Allah menjadikan dia contoh hidup yang sempurna tentang bagaimana kasih karunia itu bekerja (1 Timotius 1:15, 16). Kasih karunia tidak pernah cuma sekadar gagasan atau konsep teologis yang bagus bagi Paulus; ia telah mengalami kuasanya di dalam perubahan hidupnya sendiri. Jadi, ia bahkan dapat menyebut jabatannya sebagai rasul sebagai sebuah anugerah kasih karunia (Roma 1:5; lihat pula 1 Korintus 3:10).

Karena kasih karunia menciptakan pelayanannya, ia tidak pernah bisa menyombongkannya; ia tidak dapat mengklaim jasa khusus sebagai seseorang yang telah menyerahkan diri dengan sukarela untuk pelayanan (1 Korintus 9:16, 17). Ketika orang-orang Korintus belakangan menantang dia untuk memperlihatkan bukti-bukti kerasulannya, ia menolak untuk mengajukan apa pun selain daftar penderitaannya; ia menolak untuk menyombongkan apa pun kecuali kelemahannya sendiri dan kekuatan Kristus yang bekerja di dalam dirinya (2 Korintus 4:7-10; 10:8-12:10). Namun ia dapat mengatakan, sekali lagi tanpa kerendahan hati yang palsu, bahwa kasih karunia Allah kepadanya tidak sia-sia; ia sama sekali tidak lebih rendah daripada para "rasul yang luar biasa" yang mengangkat dirinya sendiri dan suka menonjolkan diri di Korintus yang menyombongkan kekuatan-kekuatan rohani mereka (2 Korintus 11:5, 23; 12:11). Sekarang ia bahkan dapat menunjuk pada catatannya yang tidak tertandingi sampai sekarang: aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua. Kita tidak tahu banyak tentang karya misi para murid yang lainnya. Petrus juga banyak melakukan perjalanan; dan menurut tradisi beberapa rasul mencapai negeri-negeri yang jauh sambil menyebarkan Injil. Paulus dapat mengklaim sebuah prestasi yang tidak tertandingi, khususnya di dalam penderitaan (2 Korintus 11:23-27); setelah lebih dari sepuluh tahun bekerja di bagian timur kekaisaran Romawi, ia kini siap untuk mendirikan sebuah jemaat baru di Barat (Roma 15:17-29)! Terutama sekali, ia dapat selalu mengklaim bahwa ia telah membuka daerah baru ke manapun ia pergi, sambil menolak untuk menghubungkannya dengan pekerjaan para rasul lainnya yang telah mengunjungi sebuah tempat sebelum dia (2 Korintus 10:13-16; Roma 15:20).

Meskipun demikian, Paulus tidak membanggakan usaha-usaha atau prestasi-prestasinya: "tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku yang menghasilkan setiap keberhasilan," ia menekankan. Menjelang akhir pelayanannya ia menulis: "dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah. Sebab aku akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku" (Roma 15:17,18).

Dalam analisis terakhirnya, tidak terlalu menjadi masalah siapa yang memberitakan Injil, apakah Paulus atau para rasul dan misionaris lainnya (baik aku, maupun mereka); masing-masing orang hanyalah seorang hamba, yang dengan setia menunaikan tugas yang telah ditetapkan kepadanya (1 Korintus 3:5-10). Yang terutama ialah bahwa semua kesaksian paskah itu mengajar tentang kebenaran yang sama seperti yang diuraikan di dalam pengakuan iman yang telah disebutkan dalam ayat 3-5; artinya apa yang orang-orang Korintus juga percaya. Karena orang masih mengakui satu iman paskah yang sama, mereka pun harus dipersatukan dengan berpegang pada pengharapan akan kebangkitan mereka sendiri dari kematian. Ia, Paulus, tidak menerima kasih karunia Allah. dengan sia-sia, mereka pun tidak boleh menerimanya dengan sia-sia (2 Korintus 6:1).


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: KEBANGKITAN, 1 Korintus 15
PostPosted: Wed Apr 15, 2009 9:28 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
II. Kristus dan Pengharapan Kebangkitan



* 1 Korintus 15 :12-19
15:12 Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?
15:13 Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.
15:14 Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.
15:15 Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus -- padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan.
15:16 Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.
15:17 Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.
15:18 Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.
15:19 Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.



Paulus baru saja memperlihatkan bahwa kebangkitan Kristus adalah sebuah bagian yang tidak terpisahkan dari Injil yang telah diterima oleh orang-orang Korintus; kini ia memperlihatkan bagaimana iman Paskah itu merupakan dasar bagi pengharapan Kristen.

Logika dari bagian ini harus diperhatikan dengan cermat. Pernyataan-pernyataan bersyarat yang berulang-ulang, yang didahului dengan Jika, menunjuk pada kaitan yang tidak terpisahkan antara kebangkitan Kristus dan kebangkitan orang-orang percaya di masa depan. Dalam beberapa ayat ia beralih dari peristiwa yang pertama ke peristiwa yang kedua (ayat 12,14,17); dalam ayat lainnya (ayat 13, 15, 16) gerakannya dibalik. Kita tidak dapat mengatakan, seperti yang telah dikatakan sebagian orang, bahwa Paulus mendeduksikan kebangkitan Kristus dari proposisi yang telah diterima bahwa suatu hari kelak semua orang akan bangkit dan kuburnya. Apa yang dapat dipradugakan Paulus hanyalah penerimaan terhadap kebangkitan Kristus seperti yang tercantum di dalam pengakuan Iman yang baru saja dikutip (ayat 3-5); masalah di Korintus adalah penolakan terhadap kebangkitan umum.


Ayat 12

Kita hanya dapat menerka mengapa sebagian orang di Korintus dapat mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati. Apakah mereka menerima bahwa Kristus dapat diberitakan telah dibangkitkan (oleh Allah, lih. catatan tentang kata kerja ini dalam ayat 4) dan antara orang mati, tetapi hanya dalam pengertian rohani (artinya, tubuh-Nya tetap berada di dalam kubur, dan hanya roh-Nya yang bangkit)? Paulus tidak menyebutkan tentang kubur yang kosong, tetapi tidak ada kesimpulan apa pun yang dapat ditarik dari dihilangkannya kata itu. Dalam surat ini tidak ada petunjuk bahwa orang-orang Korintus berpegang pada apa yang belakangan menjadi sebuah ajaran sesat yang besar: bahwa Yesus hanya kelihatannya memiliki tubuh manusia (lihat 1 Yohanes 4:2). Apakah, mungkin, unsur-unsur Yahudi di Korintus tidak mengalami kesulitan untuk menerima kebangkitan tubuh, sementara unsur-unsur Yunani tetap berpegang pada pemahaman populer tentang keabadian jiwa? Seperti orang-orang Atena yang tertawa ketika Paulus pertama kali menyebut tentang kebangkitan (Kisah 17:31, 32), apakah mereka merasa sulit mempercayai bahwa "kantung tulang" yang tua ini dapat menjadi bagian dari kekekalan? Jelas, sebagian orang di Korintus masih berpegang pada pembagian yang tajam tentang manusia ke dalam tubuh dan jiwa, daging dan roh; mereka mengalamr kesulitan untuk melihat bagaimana kehidupan di dalam Roh juga mencakup keberadaan materi dan fisik seseorang (1 Korintus 6:13-20). Jadi ada kemungkinan bahwa sebagian orang hanya menolak konsep kebangkitan tubuh yang mati, bukan kebangkitan rohani. Komentar Paulus yang diperluas tentang hakikat tubuh yang bangkit (ayat 35-50) mendukung pandangan ini. Akibatnya, lalu kita menemukan sebuah versi yang lebih awal tentang pandangan yang ditemukan kemudian dalam 2 Timotius 2:18: Kebangkitan sudah terjadi! Penafsiran ini memperoleh dukungan dalam 1 Korintus 4:8, yang menunjukkan bahwa orang-orang Korintus percaya bahwa, sebagai anggota dari zaman keselamatan yang baru, mereka "telah memiliki segala-galanya": Sebagian bahkan mungkin telah mengutip ajaran Paulus sendiri bahwa baptisan berarti bangkit ke dalam kehidupan baru sekarang juga (Roma 6 :4-11; 2 Korintus 5:15; Galatia 2:20; Kolose 3:1).

Apa pun juga inti masalah yang sebenarnya, Paulus menekankan dua hal:

a) hubungan yang tidak terpisahkan antara paskah di masa lalu dan kebangkitan kita di masa depan, dan

b) kebangkitan tubuh. Tubuh yang telah diciptakan oleh Allah, dikuduskan oleh Kristus (1 Korintus 6:11), dan dijadikan bait Roh Kudus (1 Korintus 6:19), juga telah ditentukan untuk kekekalan.


Ayat 13

LAI TB, Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.
KJV, But if there be no resurrection of the dead, then is Christ not risen:
TR, ει δε αναστασις νεκρων ουκ εστιν ουδε χριστος εγηγερται
Translit interlinear, ei {jika} de {lalu} anastasis {kebangkitan} nekrôn {orang-orang mati} ouk {tidak} estin {ada} oude {juga tidak/ tidak ada juga} khristos {Kristus} egêgertai {telah dibangkitkan}


Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka logikanya adalah Kristus juga tidak dibangkitkan; menolak yang satu berarti menolak yang lainnya. Mempertanyakan kuasa Sang Pencipta yang memberikan kehidupan di masa mendatang berarti mempertanyakan mujizat Paskah di masa lampau (lihat 1 Korintus 6:14). Dan bukan hanya itu: Paskah itu jauh dari sekadar sebuah peristiwa unik di masa lampau' ini adalah suatu tindakan menyelamatkan yang menentukan kehidupan semua orang percaya. Tanpa kebangkitan Kristus, tidak ada ciptaan yang baru (2 Korintus 5:17; Galatia 6:15).


Ayat 14

LAI TB, Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.
KJV, And if Christ be not risen, then is our preaching vain, and your faith is also vain.
TR, ει δε χριστος ουκ εγηγερται κενον αρα το κηρυγμα ημων κενη δε και η πιστις υμων
Translit interlinear, ei {jika} de {lalu} khristos {Kristus} ouk {tidak} egêgertai {telah dibangkitkan} kenon {hampa/ sia-sia} ara {maka} to kêrugma {penyampaian khotbah} hêmôn {kjami} kenê {tidak benar/ sia-sia} de kai {juga} hê pistis {keimanan} humôn {kami}


Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah (secara harfiah, hampalah) pemberitaan Kristen. Paulus mengajarkan bahwa orang-orang percaya di dalam Kristus tidak hanya "dikuburkan bersama-sama Dia oleh baptisan dalam kematian", tetapi juga dibangkitkan bersama-Nya ke dalam kehidupan yang baru, kehidupan baru yang akan disempurnakan di masa mendatang (Roma 6:4; 7:4), ketika musuh terakhir (ayat 26) dihancurkan. Iman mengakui bahwa Kristus "telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita" (Roma 4:25). Apabila Paskah itu tidak lebih daripada sekadar hiasan yang indah (tetapi tidak harus ada) dari kue Injil maka sia-sialah juga kepercayaan kita. Paskah tidak lebih daripada sekadar sebuah akhir yang menyenangkan dari suatu kisah yang seharusnya menyedihkan. Tidak ada pengharapan di dalam Juruselamat yang mati. Namun sebaliknya, iman tahu bahwa Paskah berarti perayaan kehidupan yang terus-menerus dalam menghadapi maut, janji tentang suatu kemenangan akhir (ayat 54, 55).


Ayat 15

Mengajarkan sesuatu yang lain daripada ini berarti bersalah melakukan hujat. Bila Paulus dan rekan-rekan misionarisnya telah memberitakan suatu dusta, mereka harus dinyatakan bersalah karena berdusta terhadap Allah, menjadi saksi-saksi palsu, seperti yang sesungguhnya dikatakan oleh orang-orang Yunani. Mereka telah mengatakan bahwa Ia telah membangkitkan Kristus (ayat 4 untuk komentar tentang rumusan ini); kalau andaikata benar, seperti yang mungkin dikatakan oleh sebagian orang, bahwa orang mati tidak dibangkitkan, maka Allah tidak membangkitkan Kristus. Struktur kalimat yang agak rumit ini memperlihatkan bahwa Paulus mengalami kesulitan di dalam mengungkapkan sesuatu yang tidak mungkin. Allah tidak berdusta (Roma 3:4); demikian pula dengan hamba-hamba-Nya yang dipanggil untuk menjadi saksi-saksi atas kebangkitan Tuhan (Kisah 1:22). Ketiadaan iman kepada Allah yang telah membangkitkan Kristus berarti bahwa Allah sendiri dijadikan pendusta (lihat 1 Yohanes 5:10).


Ayat 16, 17


15:16 LAI TB, Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.
KJV, For if the dead rise not, then is not Christ raised:
TR, ει γαρ νεκροι ουκ εγειρονται ουδε χριστος εγηγερται
Translit interlinear, ei {jika} gar {sebab} nekroi {orang2 mati} ouk {tidak} egeirontai {dibangkitkan} oude {juga tidak} khristos {Kristus} egêgertai {telah dibangkitkan}

15:17 LAI TB, Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.
KJV, And if Christ be not raised, your faith is vain; ye are yet in your sins.
TR, ει δε χριστος ουκ εγηγερται ματαια η πιστις υμων ετι εστε εν ταις αμαρτιαις υμων
Translit interlinear, ei {jika} de {sebab} khristos {Kristus} ouk {tidak} egêgertai {telah dibangkitkan} mataia {kosong} hê pistis {iman} humôn {-mu} eti {masih} este {kamu berada} en {di dalam} tais hamartiais {dosa-dosa} humôn {-mu}


Paulus kini menyimpulkan dengan mengulangi pemikiran dari ayat 13. Jika Kristus tidak dibangkitkan, seseorang dapat saja menolak Injil. Sia-sialah kepercayaan (ayat 14) bila ia tidak mencakup dimensi pengharapan setelah kematian; ia tidak memperoleh apa-apa untuk kekekalan. Dan dengan acuan pada masa kini, itu berarti bahwa orang Kristen masih hidup di dalam dosa mereka. Tanpa Tuhan yang bangkit untuk menjamin keabsahannya, janji pengampunan itu adalah bagaikan sebuah cek kosong yang tidak dapat diuangkan; tanpa Paskah, tidak ada pembenaran (Roma 4:25).


Ayat 18

LAI TB, Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus
KJV, Then they also which are fallen asleep in Christ are perished.
TR, αρα και οι κοιμηθεντες εν χριστω απωλοντο
Translit interlinear, ara {maka} kai {juga} hoi koimêthentes {orang2 yang mati (harfiah, tidur)} en {di dalam} khristô {Kristus} apôlonto {telah binasa}


Tanpa Kristus yang bangkit, masa depan juga tentunya tidak berpengharapan; orang-orang yang mati (Yunani: sudah tidur) sebagai orang-orang percaya dalam Kristus telah binasa selama-lamanya. Dosa dan kematian adalah kekuatan yang saling terkait, tirani yang selalu bergandengan tangan. "Upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah adalah hidup kekal di dalam Kristus Yesus Tuhan kita" (Roma 6:23). Berbicara tentang kemerdekaan dari dosa sekarang tanpa kemerdekaan di masa depan dari kubur berarti menawarkan separuh Injil, yang ternyata sama sekali bukanlah Injil. Baik maut maupun sengatnya, dosa, telah dicabut kemenangannya (ayat 56). Maut yang meluas dari kehidupan ini ke dalam kehidupan masa mendatang bagi "mereka yang akan binasa" (1 Korintus 1:18); tetapi mereka yang "diselamatkan" adalah orang-orang percaya yang mati di dalam Kristus (1 Tesalonika 4:16) - dan kesatuan bersama Dia tidak akan banyak nilainya bila hal itu dapat diputuskan oleh kubur. Kata-kata Paulus menemukan gemanya yang sempurna di dalam 1 Tesalonika 4:14: "Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia."


Ayat 19

LAI TB, Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia
KJV, If in this life only we have hope in Christ, we are of all men most miserable.
TR, ει εν τη ζωη ταυτη ηλπικοτες εσμεν εν χριστω μονον ελεεινοτεροι παντων ανθρωπων εσμεν
Translit interlinear, ei {jika} en {dalam} tê zôê {hidup} tautê {ini} êlpikotes {kita berharap} esmen {kita adalah} en {dalam} khristô {Kristus} monon {saja} eleeinoteroi {orang-orang yang patut dikasihani} pantôn {dari semua} anthrôpôn {manusia2} esmen {kita adalah}


Tergantung pada tempat kata hanya, pernyataan Paulus berikutnya dapat ditekankan dengan cara yang berbeda-beda:

    - Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan.
    - Jikalau kita dalam hidup ini saja hanya menaruh pengharapan.
    - Jikalau kita dalam hidup ini saja menaruh pengharapan hanya pada Kristus.

Bila diterjemahkan secara bebas, frasa Yunani di atas berbunyi: Bila di dalam hidup ini di dalam Kristus kita adalah mereka yang mempunyai hanya pengharapan. Karena hanya diletakkan pada akhir kalimat, ketika bayangan makna itu dapat disiratkan, tetapi yang pertama lebih tepat. Pengharapan yang berpegang hanya pada masa kini bukanlah pengharapan sama sekali; ia membatasi kuasa Allah pada pengalaman masa kini. Bila hidup ini sajalah yang ada, maka mereka yang telah mempertaruhkan segala-galanya di dalam iman kepada Kristus adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Mengapa mengambil semua risiko untuk Kristus bila pada akhirnya kita hanya menjadi bangkai yang busuk? Mengapa tidak sebaiknya kita mengikuti filsafat populer pada zaman itu untuk "makan, minum, dan bersukacita" (ayat 32; 6:13)? Paulus tidak menyangkal bahwa iman dan pengharapan menemukan ganjarannya juga di dalam hidup ini (Roma 5:3-5), tetapi sungguh suatu pengharapan yang sia-sia yang ditawarkan oleh kekristenan bila kepenuhan di dalam Kristus yang dialami sekarang itu tidak akan pernah disingkapkan di dalam kemuliaannya yang penuh (Roma 5:2).


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: KEBANGKITAN, 1 Korintus 15
PostPosted: Wed Apr 15, 2009 11:05 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
III. Maut Harus Dibinasakan


* 1 Korintus 15 :20-28
15:20 Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.
15:21 Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.
15:22 Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.
15:23 Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.
15:24 Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan.
15:25 Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.
15:26 Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut.
15:27 Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Tetapi kalau dikatakan, bahwa "segala sesuatu telah ditaklukkan", maka teranglah, bahwa Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya.
15:28 Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua.



Paulus jarang mengembangkan sebuah argumen tanpa menggunakan Perjanjian Lama sebagai bukti. Di sini pertama-tama ia menunjuk pada perhambaan bersama manusia kepada maut melalui Adam yang pertama, untuk menyoroti karunia kehidupan di dalam bagian yang kedua (ayat 20-22). Mazmur 110:1 dan 8:6 kemudian dikutip untuk membuktikan bahwa Kerajaan Allah akan disempurnakan hanya apabila musuh yang terakhir, maut, telah dihancurkan (ayat 23-28).


Ayat 20

LAI TB, Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.
KJV, But now is Christ risen from the dead, and become the firstfruits of them that slept.
TR, νυνι δε χριστος εγηγερται εκ νεκρων απαρχη των κεκοιμημενων εγενετο
Translit interlinear, nuni {sekarang} de {tetapi} khristos {Kristus} egêgertai {telah dibangkitkan} ek {dari} nekrôn {orang2 mati} aparkhê {(sebagai) yang sulung} tôn kekoimêmenôn {dari orang2 yang meninggal} egeneto {terjadi}


Seperti pada kesempatan lain, pada titik-titik yang penting dari suatu argumen, frasa pendek Tetapi yang benar (secara harfiah, tetapi sekarang) menandai permulaan suatu pernyataan baru. yang menunjuk pada pembalikan dari suatu keadaan yang menyedihkan (Roma 3:21; 7:6; Efesus 2:13). Mereka yang dapat.meng.aku.bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati (ayat 4), tidak perlu berspekulasi tentang masa depan; peristiwa di masa lalu ini meneruskan janji untuk masa depan, bagi orang-orang yang telah meninggal (telah tidur di dalam Kristus). Maut, si penuai yang menakutkan: telah menemui lawannya di dalam Kristus, yang adalah sulung dari tuaian yang baru. Ia adalah "yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati" (Kisah 26:23), "yang sulung dari antara orang mati" (Kolose 1:18). Mereka yang memiliki buah sulung dari tuaian tahu bahwa masih banyak lagi yang akan datang. "Buah sulung Roh dalam hidup ini adalah jaminan bahwa kita akan menerima "pembebasan tubuh kita" di dalam kebangkitan (Roma 8:23). Paskah yang pertama itu adalah janji akan arak-arakan kemenangan besar yang masih akan datang; orang-orang Korintus harus belajar bahwa mereka belum menjadi bagian dari arak-arakan kemenangan ini (1 Korintus 4:8).

Mungkin gambaran Kristus sebagai yang sulung itu dimaksudkan untuk mengingatkan pembacanya akan Imamat 23:10, 11, yang menetapkan bahwa berkas pertama yang akan dituai harus dipersembahkan dalam kurban satu hari setelah Sabat yang jatuh setelah hari Paskah. Bila Paulus menulis surat ini untuk menjangkau orang-orang Korintus pada perayaan Paskah Kristen (lihat 1 Korintus 5:7, 8; 16:8), sebuah acuan kepada Kristus sebagai buah sulung pada han Mmggu raya sesudah paskah itu akan masuk akal.


Ayat 21

LAI TB, Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.
KJV, For since by man came death, by man came also the resurrection of the dead.
TR, επειδη γαρ δι ανθρωπου ο θανατος και δι ανθρωπου αναστασις νεκρων
Translit interlinear, epeidê {sejak yang nyata} gar {sebab} di {melalui} anthrôpou {seorang manusia} ho thanatos {maut (datang)} kai {juga} di {melalui} anthrôpou {seorang Manusia} anastasis {kebangkitan} nekrôn {orang2 mati (datang)}


Tuaian kehidupan sangatlah berbeda dengan tuaian maut. Maut datang karena satu orang manusia. Ketidak-taatan Adam berarti bahwa ia dan keturunannya dihukum untuk kembali kepada debu seperti asalnya (ayat 47-49; Kejadian 2:17; 3:19). Kini pencipta maut menghadapi lawannya yang sangat berbeda dalam diri "Pemimpin kepada hidup, ... Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati" (Kisah 3:15); demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Kristus adalah Adam yang sempurna. Lukas menunjuk pada konsep ini, karena silsilahnya menelusuri Yesus kepada "Adam, anak Allah" (Lukas 3:38); juga sebagai Anak yang taat, Yesus telah diuji dengan pencobaan-Nya sesudah itu anak pertama terbukti tidak taat (Lukas 4:1-12)! Filipi 2:5-8 barangkali menunjuk pada kontras yang sama; Adam yang tidak taat mencoba merampas kesederajatan dengan Allah (Kejadian 3:5), Kristus, Sang Anak, merendahkan diri-Nya dan menjadi taat, bahkan sampai pada kematian. Belakangan, Paulus kembali pada kontras antara Adam pertama dan yang terakhir pada pasal ini (ayat 45-49), tetapi Roma 5:12-21 memberikan suatu komentar penuh tentang ayat-ayat ini.


Ayat 22

LAI TB, Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.
KJV, For as in Adam all die, even so in Christ shall all be made alive.
TR, ωσπερ γαρ εν τω αδαμ παντες αποθνησκουσιν ουτως και εν τω χριστω παντες ζωοποιηθησονται
Translit interlinear, hôsper {sama seperti} gar {kerena} en {di dalam} tô adam {adam} pantes {semua (orang)} apothnêskousin {mati} houtôs {dengan demikian} kai {juga} en {di dalam} tô khristô {Kristus} pantes {semua (orang)} zôopoiêthêsontai {akan dihidupkan}


Dosa dan maut masuk ke dalam sejarah manusia melalui seorang manusia. Semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam. Karena Adam juga berarti "manusia" atau "umat manusia", ia mewakili nasib seluruh umat manusia. Meskipun dosa dan maut berasal darinya, semua anak-cucunya yang pernah hidup mengukuhkan bahwa mereka tergolong padanya melalui dosa mereka dan akibatnya mereka pun dijatuhi hukuman mati. Sebaliknya, dalam persekutuan dengan Kristus semua orang akan dihidupkan kembali. Tirani maut telah dipatahkan; kesatuan dengan Adam sang leluhur telah digantikan dengan kesatuan bersama Kristus. Paulus di sini mempradugakan apa yang kemudian dinyatakannya dalam Roma 5:15-19: Karunia kehidupan dimulai dengan pengampunan dan pembenaran. Keterangan waktu masa depan, akan dihidupkan kembali, memperlihatkan bahwa Paulus sedang berbicara tentang pengukuhan kehidupan baru pada masa kini di dalam Kristus dalam kebangkitan di masa depan. Jadi, dalam ayat berikutnya, kebalikan maut bukanlah semata-mata kehidupan melainkan kebangkitan.

Seperti halnya pula dalam Roma 5, Adam dan Kristus mewakili universalitas dosa dan maut di satu pihak, dan universalitas kasih karunia dan kehidupan di pihak lain. Melalui kelahirannya, semua orang ada di dalam Adam, dan mengungkapkan solidaritasnya de¬ngan dia melalui dosa dan kematian mereka sendiri. Tetapi semua ada di dalam Kristus melalui kelahiran baru yang dikaruniai dalam baptisan (1 Korintus 12:12, 13). Apakah ini berarti bahwa semua akan secara otomatis dibangkitkan dan diselamatkan untuk kekekalan? Paulus di sini hanya berbicara tentang mereka yang telah mati di dalam Kristus (ayat 18, 23; 1 Tesalonika 4:13-18); ia tidak berkata apa-apa tentang kebangkitan umum. Namun demikian, berbagai pernyataan di dalam surat ini memperlihatkan bahwa rasul itu mempradugakan bahwa penolakan terhadap kasih karunia tentunya akan mengakibatkan kematian yang kekal (1 Korintus 1:18; 3:17; 6:9, 10). Jadi, ada pula kebangkitan menuju maut!

Sudah tentu, orang-orang Korintus bertanya: "Kapankah semua.ini akan terjadi, bila kerajaan itu belum tiba di dalarn kepenuhannya dan kami belum memerintah bersama Kristus?" (1 Korintus 4:8). Tiap-tiap orang menurut urutannya (secara harfiah, peringkat atau golongannya, sebuah istilah dari latar belakang militer). Apokaliptik Yahudi (sastra yang dimaksudkan menyingkapkan peristiwa-peristiwa yang membawa kepada akhir dunia) mengembangkan berbagai gagasan dan urutan peristiwa yang membingungkan sampai pada akhir zaman ketika Kerajaan Allah akhirnya akan tiba. Beberapa ciri seperti tanda-tanda, kebangkitan, dan penghakiman terakhir muncul kembali di dalam nubuat-nubuat Yesus (lih. Matius pasal 24-25; Markus 13; Lukas 21), tetapi Yesus menolak untuk memberikan sebuah jadwal yang jelas untuk masa depan (Matius 24:36). Memang, para murid selalu harus bersikap siap dan waspada, tetapi mereka juga harus memperhatikan bahwa kerajaan itu sudah merupakan realitas masa kini karena Dia, Sang Raja, ada di tengah-tengah mereka (Luk. 17:20, 21). Baik Wahyu kepada Yohanes yang agung itu (Wahyu) maupun kata-kata Paulus mengenai masa depan (ayat 50-52; 1 Tesalonika 4:13 - 5:11; 2 Tesalonika 2:1-12) tidak memungkinkan kita untuk menyusun sebuah jadwal yang terinci mengenai akhir zaman (kegagalan untuk melihat hal ini telah menyebabkan munculnya berbagai aliran sesat); keduanya menulis untuk memberikan kekuatan dan penghiburan kepada orang-orang percaya.

(Catatan : Lihat artikel ADAM AKHIR YANG MEMBERI HIDUP, di adam-akhir-yang-memberi-hidup-vt839.html#p2168 )


Ayat 23

Kebenaran yang penting ialah bahwa Kristus sebagai buah sulung telah dibangkitkan (ay. 20). Pada waktu kedatangan-Nya, mereka yang menjadi milik-Nya (1 Korintus 3:23; Galatia 5:24) juga akan bangkit dari kubur mereka. Kita tentu menduga adanya kelompok ketiga dalam urutan ini: yakni mereka yang mati bukan sebagai pengikutNya. Barangkali Paulus menduga bahwa hal itu akan terjadi setelah kedatangan-Nya - sebuah kata yang berarti "kehadiran" dalam pengertian ketibaan. Kata ini digunakan di kalangan dunia Yunani-Romawi kuno (istilah Latin adventus adalah sumber dari kata Adven dalam kalender gerejawi kita) untuk kunjungan resmi seorang pejabat pemerintahan atau penguasa, atau untuk penampakan dewa. Sewajarnyalah bila kata itu kemudian dipergunakan untuk kedatangan terakhir Raja dari segala raja, Anak Allah (1 Tesalonika 2:19; 3:13; 4:15; 5:23; 2 Tesalonika 2:1, 8, 9).


Ayat 24

LAI TB, Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan.
KJV, Then cometh the end, when he shall have delivered up the kingdom to God, even the Father; when he shall have put down all rule and all authority and power.
TR, ειτα το τελος οταν παραδω την βασιλειαν τω θεω και πατρι οταν καταργηση πασαν αρχην και πασαν εξουσιαν και δυναμιν
Translit interlinear, eita {kemudian} to telos {akhirnya/ kesempurnaannya} hotan {apabila} paradô {Ia menyerahkan} tên basileian {kerajaan} tô theô {Allah} kai patri {Bapa} hotan {apabila} katargêsê {Ia meniadakan} pasan {semua} arkhên {pemerintah} kai {dan} pasan {semua} exousian {penguasa} kai {dan} dunamin {kuasa}


Kebangkitan Kristus adalah permulaan dari kesudahannya (τελος – telos istilah Yunaninya di sini erat berkaitan dengan kata yang diterjemahkan dengan "yang sempurna" dalam 1 Korintus 13:10). Namun bahkan kebangkitan orang-orang percaya pun tidak akan menyaksikan kesempurnaan dari pemerintahan Allah; kesudahannya itu tiba hanya dengan kekalahan terakhir dari segala kekuatan anti-Allah. Allah telah menunjuk Kristus untuk melaksanakan pemerintahan mesianik untuk suatu masa tertentu. Ia telah dinobatkan di dalam kemuliaan sejak kebangkitan dan kenaikan-Nya (Roma 1:4; Filipi 2:9-11). Waktunya akan tiba ketika Kristus, wakil Allah, menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan (atau memusnahkan) semua lawannya. Segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan dalam suatu pengertian, telah digulingkan oleh Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya (1 Korintus 2:6-8; Efesus 1:20, 21; Kolose 2:10-15). Jadi, mereka yang ada di dalam Kristus bebas dari kuasa dosa, maut dan iblis - bahkan juga keputusan Taurat. "Baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa ...ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Roma 8:38-39). Hilangnya iman dapat berarti bahwa kuasa-kuasa itu sekali lagi datang untuk menguasai bekas milik mereka, tetapi ancaman mereka akan disingkirkan sekali dan untuk selama-lamanya ketika Kristus datang untuk yang kedua kalinya,


Ayat 25

LAI TB, Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.
KJV, For he must reign, till he hath put all enemies under his feet.
TR, δει γαρ αυτον βασιλευειν αχρις ου αν θη παντας τους εχθρους υπο τους ποδας αυτου
Translit interlinear, dei {harus} gar {karena} auton {Dia} basileuein {menjadi raja} akhris hou {sampai} an thê {Ia meletakkan} pantas {semua} tous ekhthrous {musuh2} hupo {di bawah} tous podas {kaki-kaki} autou {-Nya}


* Mazmur 110:1
LAI TB, Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu."
KJV, The LORD said unto my Lord, Sit thou at my right hand, until I make thine enemies thy footstool.
Hebrew,
לְדָוִד מִזְמֹור נְאֻם יְהוָה ׀ לַֽאדֹנִי שֵׁב לִֽימִינִי עַד־אָשִׁית אֹיְבֶיךָ הֲדֹם לְרַגְלֶֽיךָ׃
Translit, LEDAVID MIZMOR NE'UM YEHOVAH (baca 'Adonay) LE'ADONI SYEV LIMINI 'AD-ASYIT OIVEIKHA HADOM LERAGLEIKHA


Mazmur 110:1 disinggung untuk membuktikan pokok terakhir ini. Teks ini digunakan oleh Yesus untuk menunjukkan kedudukan-Nya sebagai mesias (Matius 22:44 dan paralelnya, lihat artikel yesus-di-sebelah-kanan-allah-vt541.html#p992 ). Bagi jemaat mula-mula, hal ini menggambarkan makna penobatan Kristus di dalam kemuliaan: Allah telah mengangkat Tuhan ke sebelah kanan-Nya dan menempatkan semua musuh di bawah kaki-Nya (Kisah 2:34, 35; Efesus 1:20; Kolose 3:1; Ibrani 1:3, 13; 8:1; 10:12, 13; 12:2). Paulus memperluas makna dari teks ini lebih jauh lagi: Kristus harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya, dalam pengertian memusnahkan mereka itu pada akhirnya.


Ayat 26

Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. Maut, seperti halnya dosa, mitranya di dalam kejahatan, dipersonifikasikan dan digambarkan sebagai tirani terakhir yang akan digulingkan dan dihancurkan untuk selama-lamanya (Wahyu 6:8; 20:13, 14; 21:4). Mengapa maut, si penuai yang menakutkan itu, menjadi musuh yang terakhir dan bukan Iblis? Barangkali karena maut adalah hasil terakhir yang ditimbulkan oleh kekuasaan segala bentuk kejahatan. Mungkin dalam ayat ini ada petunjuk bagi kebangkitan orang-orang yang tidak percaya secara umum. Kalau tidak, untuk apa lagi Paulus berbicara tentang penghancuran terhadap maut setelah orang-orang percaya dibangkitkan?


Ayat 27

Sebuah teks lain dikutip, Mazmur 8:7: Segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Dalam konteks aslinya, ini berarti bahwa Allah telah menciptakan manusia, mahkota ciptaan-Nya, tuan atas segala makhluk lainnya. Namun, jemaat mula-mula menemukan pula di sini sebuah nas yang makna akhirnya bersifat kristologis. Kristus adalah wakil umat manusia, Adam yang baru. Jadi, Mazmur 8:7 dapat dihubungkan dengan 110:1 sebagai gambaran bagi pemuliaan Kristus (Efesus 1:20-22; Ibrani 2:7, 8). Sekali lagi, seperti dengan teks sebelumnya, Paulus memperluas maknanya lebih jauh lagi. Penaklukan kini dipahami sebagai tindakan terakhir dari penghancuran terhadap setiap penyelusup yang mengancam pemerintahan mutlak Allah (ayat 24); segala sesuatu menunjuk pada "semua musuh-Nya" dalam ayat sebelumnya (ayat 25). Filipi 3:21 memberikan sebuah paralel yang menarik, meskipun tidak persis: Pada kedatangan-Nya kembali, Kristus "akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya."


Ayat 28

LAI TB, Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua.
KJV, And when all things shall be subdued unto him, then shall the Son also himself be subject unto him that put all things under him, that God may be all in all.
TR, οταν δε υποταγη αυτω τα παντα τοτε και αυτος ο υιος υποταγησεται τω υποταξαντι αυτω τα παντα ινα η ο θεος τα παντα εν πασιν
Translit interlinear, hotan {apabila} de {tetapi} hupotagê {telah menjadin takluk} autô {kepadaNya} ta panta {segala (sesuatu)} tote {kemudian} kai {juga} autos {sendiri} ho huios {Anak} hupotagêsetai {akan menaklukan diriNya} tô {(kepada Dia yang)} hupotaxanti {telah menaklukan} autô {kepadaNya} ta panta {segala sesuatu} hina {supaya} ê {adalah (menjadi yang memerintah)} ho theos {Allah} ta panta {segala sesuatu} en {di dalam} pasin { segala sesuatu }


Karena Kitab Suci berbicara tentang Allah sebagai Dia yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya (Kristus), maka jelaslah bahwa Ia (Allah) dikecualikan dari penaklukan apa pun. Kristus, wakil yang telah ditunjuk-Nya itu, tidak akan merebut kuasa yang pernah diterima-Nya (Matius 28:18). Kalau segala sesuatu (artinya musuh-musuh Kristus) telah ditaklukkan di bawah Kristus (dalam arti bahwa mereka dihakimi dan dihancurkan), maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia (yaitu Allah). Sang Anak tidak akan berhenti sebagai Anak; sebaliknya, dengan sukarela Ia akan menyerahkan kedudukan-Nya sebagai wakil raja, karena hal itu tidak perlu lagi. Kristus belum pernah menjadi agen yang bebas, melainkan Anak yang taat dalam melakukan kehendak Bapa-Nya (1 Korintus 3:23; Yohanes 4:34; 6:38, 39; 17:4. Catatan : sebagai tambahan, lihat penjelasan di menanggapi-sebuah-tulisan-dari-saksi-yehova-vt2681.html#p15386 ). Tujuan terakhirnya ialah memastikan bahwa pemerintahan Sang Bapa itu mutlak dan tidak tertantang oleh siapa pun, sehingga Allah menjadi semua di dalam semua. Allah akan menjadi semua di dalam semua dalam pengertian bahwa segala sesuatu yang ada yang terjadi karena kuasa-Nya, kini akan melayani Dia dengan bakti yang murni (lihat 1 Korintus 8:6; Roma 9:6; 1 Korintus 11:36). Bahwa Sang Anak yang adalah satu dengan Bapa akan tetap menerima pujian dari orang-orang kudus-Nya, kiranya tidak perlu lagi dikatakan.


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: KEBANGKITAN, 1 Korintus 15
PostPosted: Wed Apr 15, 2009 11:58 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
IV. Mengapa Mempertaruhkan Segala Sesuatu pada Kebangkitan?



* 1 Korintus 15 :29-34
15:29 Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?
15:30 Dan kami juga -- mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya?
15:31 Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar.
15:32 Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka "marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati".
15:33 Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.
15:34 Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu



Kini dikutip contoh-contoh praktis untuk menunjukkan - jelas bukan untuk membuktikan - bahwa iman harus berpegang teguh pada kebangkitan orang mati. Paulus mengacu pada praktik baptisan untuk orang mati (apakah memang benar-benar atau secara hipotetis), berbagai kesusahannya sebagai seorang misionaris dan gembala, dan masalah etika.


Ayat 29

LAI TB, Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?
KJV, Else what shall they do which are baptized for the dead, if the dead rise not at all? why are they then baptized for the dead?
TR, επει τι ποιησουσιν οι βαπτιζομενοι υπερ των νεκρων ει ολως νεκροι ουκ εγειρονται τι και βαπτιζονται υπερ των νεκρων
Translit, epei {karena} ti {apa} poiêsousin {mereka akan melakukan} hoi {yang} baptizomenoi {dibaptis} huper {untuk} tôn nekrôn {orang-orang mati} ei {jika} holôs {semua} nekroi {orang-orang mati} ouk {tidak} egeirontai {mereka dibangkitkan} ti {mengapa} kai {dan} baptizontai {mereka dibaptis} huper {untuk} tôn nekrôn {orang-orang mati}"


Ayat 29 telah banyak menimbulkan sakit kepala di antara para penafsir; ada lebih dari 200 jawaban yang telah dikemukakan, demikian orang pernah menghitungnya. Orang-orang yang dibaptis bagi orang mati adalah sebuah praktik yang tidak dikenal di dalam bagian-bagian Perjanjian Baru lainnya dan di kalangan jemaat mula-mula (selain dari apa yang dicatat oleh beberapa pengajar sesat mula-mula, seperti kaum Marcion, dan Mormon sekarang). Praktik ini berlawanan dengan apa yang kita ketahui tentang baptisan sebagai karunia bagi yang hidup, yang diterima di dalam iman oleh yang hidup. Baptisan jelas berarti kesatuan bersama Kristus di dalam kematian-Nya (Roma 6:3), tetapi bukan suatu tindakan atas nama orang-orang yang telah meninggal. Pun tidak ada gunanya bila kita menafsirkan yang telah meninggal itu sebagai karya-karya yang mati (Ibrani 6:1). Di seluruh pasal ini orang-orang yang telah meninggal itu mempunyai satu makna. Yang berikut ini adalah beberapa solusi yang umum:

    1. Mereka yang dibaptiskan untuk orang-orang yang telah meninggal itu adalah para pemimpin Kristen, seperti para rasul, yang telah mempersembahkan hidupnya untuk bersaksi kepada orang-orang yang kemudian bertobat dan telah meninggal. Yesus memang berbicara tentang kematian-Nya sendiri sebagai suatu "baptisan" (Markus 10:38, 39; Lukas 12:50). Paulus juga selanjutnya berbicara tentang penderitaan-penderitaannya demi Injil sebagai kematian setiap hari (ayat 30-32). Namun demikian, terhadap penafsiran ini terdapat fakta bahwa rasul tersebut berbicara tentang baptisan hanya dalam satu pengertian (1 Korintus 1:14-17; 12:13); baginya hanya ada satu baptisan (Efesus 4:5).

    2. Paulus mengacu pada praktik pembaptisan mualaf di atas kuburan orang mati untuk memperlihatkan bahwa baptisan memberikan kemenangan atas maut. Tidak ada bukti untuk praktik demikian itu, dan solusi ini terlalu jauh menarik makna kata depan bagi yang dipergunakan oleh Paulus, yang biasanya berarti atas nama.

    3. Paulus berbicara tentang para mualaf yang telah meminta untuk dibaptiskan bagi mereka yang telah meninggal dengan pengharapan untuk bergabung dengan orang-orang yang mereka kasihi dan yang telah meninggal di dalam Kristus. Tetapi kembali hal ini terlalu jauh menarik kata depan tersebut dan memberikannya sebuah arti yang asing.

    4. Solusi lainnya menerjemahkan: "Apakah yang akan dilakukan orang-orang yang sudah dibaptiskan itu untuk mereka yang sudah mati ... ?" Hal ini tidak hanya melibatkan penyusunan kembali yang tidak mungkin dari kalimat dalam bahasa Yunaninya, tetapi juga menimbulkan masalah-masalah lebih lanjut.

    5. Para bapak gereja mula-mula memahami orang-orang yang telah meninggal itu sebagai tubuh yang mati. Paulus jelas sedang berbicara tentang kebangkitan jasmani, tetapi ia tentu tidak akan pernah berbicara tentang baptisan sebagai sebuah upacara "atas nama tubuh yang sudah mati".

    6. Solusi lainnya menggunakan perubahan-perubahan dalam tanda-tanda bacaan dari teksnya (naskah-naskah Yunani kuno tidak mempunyai tanda-tanda bacaan yang jelas seperti kita sekarang), tetapi masih cenderung mengikuti penafsiran terakhir: yang telah meninggal = tubuh yang mati.

    7. Meskipun ada banyak kesulitan, solusi terbaik adalah dengan memahami bahwa Paulus mengacu pada suatu baptisan pengganti untuk sanak keluarga dan teman-teman yang sudah meninggal. Sangat kecil kemungkinan bahwa ia telah menciptakan sebuah ritus hipotetis demi sebuah argumen; ia cuma mengacu pada sebuah praktik yang dikenal untuk membuktikan suatu pokok pikiran, tanpa menyetujui praktik tersebut. Ritual-ritual serupa dilaksanakan pada sejumlah ibadah kafir kuno. Barangkali ada orang-orang di Korintus yang memandang baptisan secara magis, seperti halnya mereka menganggap Perjamuan Tuhan sebagai jaminan untuk melawan penyakit tubuh dan kematian (lihat 1 Korintus 10:1-13 dan 11:30). Jadi, dengan demikian Paulus mengatakan: "Apakah yang akan dilakukan oleh orang-orang ini bila mereka melihat betapa konyolnya praktik ini apabila, seperti yang dikatakan oleh sebagian orang, orang mati sama sekali tidak dibangkitkan". Atau mungkinkah ia sekadar memaksudkan: "Apakah yang dikira orang-orang seperti itu sedang mereka lakukan dengan praktik semacam itu? Apakah yang akan mereka peroleh dengan melakukan ini?"

Apa pun juga solusi yang tepat, Paulus menunjuk pada kekonyolan yang tidak mungkin dari suatu praktik yang mempradugakan bahwa ada suatu kehidupan setelah kematian, sementara pada kenyataannya tidak demikian. (Bandingkan Artikel di hubungan-orang-yg-hidup-yg-sudah-mati-babtisan-org-ma-vt423.html#p863 )


Ayat 30-31

Lebih jauh, mengapa Paulus setiap saat membawa dirinya ke dalam bahaya, sementara ia melaksanakan tugas kerasulannya? Bahaya dan kesulitan terus-menerus memperhadapkannya dengan maut, sedemikian rupa sehingga ia dapat mengatakan: "Kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari" (Roma 8:36, mengutip Mazmur 44:23). Tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut, ia menambahkan. Ia mengalami seribu kali kematian - ini sama sekali tidaklah berlebihan, mengingat daftar penderitaannya dalam 2 Korintus 11. Di dalam tubuhnya ia terus-menerus membawa kematian Yesus (2 Korintus 4:10). Mengapa ia harus mengalami semua ini apabila ia dan para mualafnya pada akhirnya tidak lebih daripada debu dan tulang? Sebagai saksi bagi kebenaran pernyataannya, terdapat kebanggaannya terhadap orang-orang Korintus (2 Korintus 7:4; 8:24; 9:3); mereka adalah alasan bagi kebanggaannya, tetapi itu hanya dikarenakan apa yang telah dilakukan oleh Kristus melalui dirinya (1 Korintus 1:31; Roma 15:17, 18). Karena ia adalah ayah mereka di dalam iman (1 Korintus 4:15), ia mempunyai banyak alasan untuk merasa bangga sekaligus juga memiliki terhadap mereka - memiliki di dalam arti bahwa ia telah memenangkan mereka untuk Kristus bukan hanya di dalam kehidupan ini, tetapi juga di dalam kehidupan yang akan datang.


Ayat 32

Sebuah contoh ekstrem dikutip untuk memperlihatkan apa yang Paulus maksudkan dengan mempertaruhkan segala-galanya dalam kebangkitan. Apakah gunanya hal itu bagi dirinya, ketika ia berjuang melawan binatang buas di Efesus? Apa gunanya menempatkan dirinya dalam bahaya yang teramat besar apabila tidak ada pengharapan akan kebangkitan setelah kematian seorang syuhada? Kisah 19:23-40 menyebutkan huru-hara di Efesus pada waktu kunjungannya ke kota tersebut. Ini adalah salah satu kunjungan di mana Paulus dan rekan-rekannya terancam bahaya. 2 Korintus 1 :8, 9 mencatat sebuah peristiwa di daerah yang sama yang akibatnya membuat rasul tersebut merasa putus asa terhadap kehidupan itu sendiri. Paulus tidak mungkin mengacu pada sebuah perjumpaan yang sesungguhnya dengan binatang-binatang buas - ia tentunya tidak akan hidup untuk menceritakan kisah tersebut! Betapapun, bila ia dikutuk dengan nasib seperti itu, otomatis ia akan kehilangan status sebagai warga negara Romawi; dan kewarganegaraan tersebut masih dimilikinya setelah kunjungannya ke Efesus (lihat Kisah 22:25). Ada kemungkinan bahwa Paulus, ketika menulis dari Efesus, masih berbicara tentang sebuah konflik dengan lawan-lawannya yang belum selesai (lihat 1 Korintus 16:8,9); memang, kita dapat menerjemahkan kalimatnya dengan cara berikut ini: "Apakah gunanya hal itu bagiku, jika aku telah berjuang melawan binatang buas?" Apa pun peristiwanya, Paulus menggunakan gambaran yang sangat jelas untuk melukiskan sebuah konflik dengan lawan-lawannya yang (akan) mengancam nyawanya. Sebuah gambaran serupa telah dipergunakan sebelumnya dalam surat ini (1 Korintus 4:9). Ia dan rasul-rasul lainnya adalah bagaikan orang-orang yang dijatuhi hukuman mati di sebuah arena. Citra itu dapat ditelusuri kembali pada kisah-kisah syuhada orang-orang Yahudi (4 Makabe 17:14), dan muncul kembali dalam kisah-kisah tentang mati syahidnya orang-orang Kristen mula-mula. Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja adalah ungkapan dengan berbagai kemungkinan artinya; kata itu dapat berarti "berkata sebagai manusia" (Roma 3:5), atau "pikiran manusia" (1 Korintus 9:8), atau hidup "secara manusiawi" (1 Korintus 3:3). Jadi, mungkin ia bermaksud mengatakan bahwa ia berjuang melawan binatang-binatang buas, "ibaratnya"; atau ia mungkin mengatakan bahwa bila ia melawan mereka hanya "dengan cara manusia", artinya tanpa pengharapan akan kebangkitan, maka perjuangan seperti itu tidak akan ada artinya. Betapapun juga, ia menegaskan bahwa hanya pengharapan akan kebangkitanlah yang dapat memberikan kepadanya daya tahan untuk menghadapi pencobaan-pencobaan dan ancaman-ancaman terhadap kehidupannya.

Tanpa pengharapan ini, tidak ada gunanya menjalani kehidupan yang bermoral - setidak-tidaknya, tidak dalam jangka panjang. Jika orang mati tidak dibangkitkan, demikian orang mungkin mengikuti semboyan dalam Yesaya 22:13: "Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati". "Makan, minum dan berbahagia" adalah filosofis si orang kaya yang bodoh, yang tidak memperhitungkan maut sebagai penghukuman Allah (Lukas 12:19). Ucapan-ucapan serupa dapat ditemukan dalam sastra hikmat Yahudi kuno (Kebijaksanaan 2:6-9) dan dalam tulisan-tulisan kafir. Seperti contoh sebelumnya, argumennya tidaklah dimaksudkan untuk mengikuti alur logika yang ketat. Bahkan mereka yang tidak memiliki pengharapan masa depan, kadang-kadang, dapat menghadapi maut dengan keperkasaan yang heroik - meskipun mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali pujian manusia. Demikian pula, tidak semua yang menolak kebangkitan menjalani kehidupan yang sembarangan. Apa yang Paulus katakan ialah bahwa sebaiknyalah mereka hidup dengan tidak bermoral bila kehidupan inilah segala-galanya.


Ayat 33

Orang-orang Korintus tidak boleh sesat atau membodohi diri sendiri (1 Korintus 6:9, 10; Galatia 6:7). Rasa aman yang sombong tidak membuat seseorang kebal terhadap berbagai pencobaan dari lingkungan sosialnya. Hubungan dengan orang-orang berdosa tidak dapat sepenuhnya dihindari (1 Korintus 5:9, 10; 10:27), tetapi orang Kristen harus menghindari hubungan dan persahabatan terus-menerus dengan orang-orang yang mencari kesenangan semata di dalam hidup ini. Paulus mengutip sebuah pepatah populer: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik - sambil mengutip ucapan dari sebuah komedi yang hilang (Thais) oleh penulis sandiwara Yunani kuno, Menander. Hanya dalam dua tempat lainnya di dalam Perjanjian Baru kita menemukan acuan pada sastra sekular Yunani (Kisah 17:28; Titus 1:12).


Ayat 34

Sebagian orang di Korintus perlu sadar kembali sebaik-baiknya (secara harfiah, bangkitlah dan menjadi siuman); mereka agak dibingungkan oleh kesenangan yang memabukkan dalam kesukaan-kesukaan sesaat. Orang-orang Kristen harus "bangun dari tidur" dan hidup dengan "sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati" (Roma 13: 11, 13). Dan, mereka tidak boleh berbuat dosa lagi. Ini bukanlah tuntutan untuk kesempurnaan (lihat 1 Yohanes 1:8, 10); ungkapan ini mengacu pada penghentian kebiasaan hidup sedemikian rupa yang menunjukkan bahwa motto ayat 32 berlaku! Sebagian orang di Korintus tidak mengenal Allah - meskipun pada kenyataannya mereka dengan bangga bergabung dalam paduan suara bersama: "Kita semua mempunyai pengetahuan" (1 Korintus 8:1). Mengenal Allah berarti mengenal kehendak-Nya - dan melakukannya. Dalam masalah ini pula, kehidupan mereka menunjukkan kisah yang lain. Mereka masih berpikir dan bertindak seperti anak-anak, bukan orang yang dewasa dan siuman (1 Korintus 13:11; 14:20). Sekali lagi seorang gembala yang merasa sedih ini harus berkata kepada penuduh-penuduhnya: Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu (1 Korintus 6:5). Bukanlah maksudnya menulis untuk mempermalukan mereka hingga mereka tunduk (1 Korintus 4:14); ia lebih suka memuji mereka dan mengungkapkan kebanggaannya atas diri mereka (1 Korintus 11:2, 22; 15:31). Namun demikian, bagaimana mungkin ia membungkam dan tidak mengutuk perilaku yang dilihatnya secara langsung berkaitan dengan penolakan mereka terhadap kebangkitan?


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: KEBANGKITAN, 1 Korintus 15
PostPosted: Wed Apr 15, 2009 1:05 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
V. Bagaimanakan Orang-orang Mati itu Dibangkitkan?


* 1 Korintus 15 :35-50
15:35 Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?"
15:36 Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu.
15:37 Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain.
15:38 Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri.
15:39 Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan.
15:40 Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi.
15:41 Kemuliaan matahari lain dari pada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan bintang-bintang, dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain.
15:42 Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan.
15:43 Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan.
15:44 Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.
15:45 Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.
15:46 Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah.
15:47 Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.
15:48 Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga.
15:49 Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.
15:50 Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.



Kini Paulus berbalik kembali pada pokok semula, meninggalkan diskusi tentang betapa bodoh dan konyolnya kehidupan tanpa pengharapan kebangkitan. Seperti setiap guru yang baik lainnya, ia mendengarkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aktual; ia pun mengantisipasi keberatan-keberatan dan menggunakannya sebagai titik tolak untuk pengajarannya selanjutnya. Pengajarannya tentang hakikat tubuh yang bangkit itu bukanlah spekulasi. Hal ini didasarkan pada pengamatan terhadap ketertiban alam (seperti yang tecermin juga dalam kisah Penciptaan dalam Kejadian); ada berbagai jenis tubuh di dalam ciptaan (ayat 39-41). Bahkan benih kecil yang ditanam untuk menghasilkan kehidupan yang baru adalah sebuah perumpamaan tentang kehidupan di masa men¬datang (ayat 36-38). Yang terlebih penting lagi, kontras antara Adam yang pertama dan yang terakhir memperlihatkan perbedaan antara tubuh jasmani kita di masa kini serta tubuh rohani kita di masa datang setelah kebangkitan (ayat 42-51).


Ayat 35

Paulus mengantisipasi jenis-jenis pertanyaan yang pasti akan diajukan oleh seseorang di Korintus. Ia seringkali mengembangkan argumennya dengan cara ini (Roma 3:5, 9; 6:1, 15; 7:7; 9:14, 30; 11:19). Pertanyaan yang penting bukanlah "cara kerja" kebangkitan. Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? sama pentingnya dengan pertanyaan yang kedua: Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali dari dalam kubur ketika kebangkitan itu terjadi? Paulus sebelumnya telah menekankan bahwa tubuh adalah bagian dari pribadi kita; ia bukanlah sesuatu yang tidak penting dalam masalah-masalah rohani. Dan ia telah menunjuk pada kebangkitan tubuh untuk menggarisbawahi argumennya (1 Korintus 6:13, 14).


Ayat 36

Barangsiapa yang tidak memperhitungkan kebangkitan adalah orang bodoh (Lukas 12:20); kebodohan, seperti di dalam Perjanjian Lama berarti tidak mengenal Allah dan kuasa-Nya. Berbicara dalam gaya sastra hikmat, Paulus menunjuk pada alam untuk memperlihatkan bagaimana tubuh dapat dan harus berubah bila ada kehidupan yang akan datang: Apa yang kamu tabur tidak akan tumbuh dan hidup (lebih baik, tidak dijadikan hidup, karena ia berbicara tentang aktivitas Allah yang memberikan kehidupan) kalau ia tidak mati dahulu; dari kematian muncullah kehidupan yang baru, lebih kaya, dan lebih baik daripada yang sebelumnya. Suatu transformasi terjadi. Yesus menggunakan gambaran tentang benih, yang harus mati untuk menghasilkan tuaian yang berlimpah, untuk menunjukkan perlunya kematian-Nya (Yohanes 12:24); Paulus menggunakan gambar ini untuk menunjuk pada janji kehidupan yang baru (lihat pula perumpamaan Yesus tentang biji sesawi dalam Matius 13:31, 32 dan paralelnya).


Ayat 37

Seseorang dapat menaburkan, tetapi biji yang tidak berkulit, mungkin gandum atau biji-biji lainnya. Benda yang kecil dan tampaknya tidak berarti ini bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh setelah benih itu bertunas.


Ayat 38

Tetapi Allah memberikan kepada benih itu suatu tubuh (artinya tanaman yang dewasa), seperti yang dikehendaki-Nya. Sang Pencipta telah mengatur berbagai fungsi tubuh (1 Korintus 12:18), dan memberikan karunia-karunia kepada jemaat melalui Roh sesuai dengan yang dikehendaki-Nya (1 Korintus 12:11). Petani tidak dapat mengubah urut-urutan ini dengan menanam padi untuk mendapatkan nasi! Allah memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri, tanaman yang tumbuh dari padanya. Pada peristiwa Penciptaan, Allah memerintahkan bumi untuk menghasilkan "tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi" (Kejadian 1 :11).


Ayat 39

Alam menggambarkan prinsip perubahan dalam sebuah tubuh (dari kematian ke kehidupan); ia juga memperlihatkan bahwa ada kepelbagaian. Bukan semua daging sama: ada berjenis-jenis tubuh di muka bumi dan di dalam surga. Di sini istilah daging tidak mengandung makna negatif yang umum (seperti dalam Roma 8:3-13 dan Galatia 5:13-24 - di situ digambarkan manusia sebagai makhluk yang telah jatuh dan penuh dosa); istilah ini semata-mata merupa¬kan kata lain dari "tubuh" dalam ayat-ayat sebelum dan sesudah¬nya. Daging adalah istilah yang lebih tepat untuk makhluk-makhluk hidup yang dibedakan dengan "tubuh" (kumpulan, penerj.) bintang dan planet. Daging manusia ... lain dari pada daging binatang, ... burung, ... ikan.


Ayat 40,41

Ada pula perbedaan yang besar antara dua kelompok tubuh sorgawi dan tubuh duniawi, juga di dalam masing-masing kelompok itu. Cahaya yang menerangi angkasa mempunyai suatu jenis kemuliaannya; makhluk-makhluk hidup di muka bumi juga mempunyai kemuliaannya sendiri. Semua makhluk besar dan kecil memancarkan kemuliaan Penciptanya - manusia dalam caranya yang khusus (1 Korintus 11:7); tetapi kemuliaan matahari, bulan, dan bintang-bintang jauh lebih jelas di mata manusia. Ada pula kepelbagaian sementara masing-masing memancar dengan tingkat kecerahannya sendiri-sendiri. Juga di antara bintang-bintang terdapat perbedaan-perbedaan.


Ayat 42, 44a

Pelajaran-pelajaran ini - perubahan berbagai tubuh di dalam alam, kepelbagaian, dan tingkat kemuliaannya yang berbeda-beda - kini diterapkan: Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Empat pasang dari hal-hal yang berlawanan menggambarkan perubahan besar yang akan terjadi terhadap tubuh manusia. Jawaban terhadap ayat 35 ialah bahwa tubuh yang bangkit itu tidaklah sama dengan tubuh yang sekarang, meskipun ada kelanjutan pri¬badi orang tersebut di seberang kematian.


Ayat 42

    1. Apa yang ditaburkan, demikian ibaratnya, di dalam kubur adalah tubuh yang dapat binasa. Kerusakan yang berkuasa atas tubuh yang penuh dosa dalam hidup ini menjangkau sampai ke dalam kubur dengan membusuknya jenazah (Roma 8:21; Galatia 6:8). Apa yang dibangkitkan adalah suatu tubuh yang baru, yang tidak binasa, tidak dapat membusuk (ayat 50).


Ayat 43

    2. Jenazah ditaburkan dalam kehinaan; bahkan upacara penguburan yang paling mulia dan agung, proses pembalseman yang paling canggih, tidak dapat menantang kenyataan maut. Di pihak lain, tubuh itu dibangkitkan dalam kemuliaan; kepadanya akan diberikan kehormatan yang tidak tertandingi di dalam dunia ini, karena ia akan menjadi bagian dari kemuliaan Kristus sendiri (Filipi 3:21; Kolose 3:4). Barangkali Paulus masih berpikir tentang cahaya bintang dalam ayat 41; Daniel 12:3 mengatakan bahwa mereka yang dibangkitkan dari antara orang mati "akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, ... seperti bintang-bintang".

    3. Tubuh yang mati ditaburkan dalam kelemahan yang merupakan ciri dari semua keberadaan manusia, tetapi dibangkitkan dalam kekuatan (sebuah kontras yang lazim dalam kedua suratnya kepada jemaat Korintus; 1:24-27; 4:10; 8:7-12; 2 Kor. 10:10; 12:9, 10; 13:9). Di sini kembali Paulus menunjukkan bahwa orang Kristen akan ikut serta bersama kehidupan kebangkitan Kristus sendiri, karena Ia pun disalibkan di dalam kelemahan tetapi dibangkitkan oleh kekuatan Allah (2 Korintus 13:4; Roma 1:4).


Ayat 44

    4. Karena kuasa Allah adalah istilah lain untuk Roh Kudus (1 Korintus 2:4; Roma 1:4), sebuah kontras lainnya sudah tentu dikemukakan. Apa yang ditaburkan adalah tubuh alamiah; apa yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah; ia akan ikut serta dalam kehidupan baru Dia yang "dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh" (1 Petrus 3:18). Gambaran Paulus tentang dua tubuh yang berbeda ini sulit untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang jelas dan sederhana. Alamiah dimaksudkan untuk menerjemahkan kata sifat yang diambil dari kata Yunani untuk "jiwa" atau "kehidupan" (ψυχη - psukhê, seperti dalam kata "psikologi" atau "psikis"); dalam 2:14 istilah ini digunakan untuk orang-orang yang "tidak rohani" yang tidak tahu atau memahami kuasa Roh Kudus (lihat pula Yakobus 3:15 dan Yudas 19). Di sini Paulus semata-mata memaksudkan tubuh manusia dengan jiwanya yang terjadi secara alamiah. Tubuh rohaniah di sini tidak dengan sendirinya tubuh yang tidak bersifat materi, non-fisik atau tidak kelihatan; ini adalah tubuh yang mulia yang dihidupkan oleh Roh Kudus (2 Korintus 5:1-5; bandingkan 1 Korintus 10:3,4).


Kontras yang terakhir ini penting untuk dikembangkan lebih jauh. Hal ini pertama kali diungkapkan kembali dalam bentuk sebuah tesis: Jika ada tubuh alamiah atau jasmani yang termasuk ke dalam kehidupan ini, maka ada pula tubuh rohaniah yang tergolong ke dalam kehidupan yang akan datang. Tidak ada kehidupan baik di dunia sekarang maupun di seberang kematian tanpa suatu tubuh, meskipun kedua tubuh itu sangat berbeda. Kebangkitan bukanlah semata-mata kehidupan kembali dari tubuh yang lama. Namun demikian, bahkan di dalam kekekalan pun seseorang tidak dapat menjadi seseorang tanpa tubuh!


Ayat 45

Kitab Suci sekali lagi memberikan bukti bagi tesisnya. Paulus
kembali pada kontras antara kedua Adam yang dimulai dalam ayat 21 dan 22 (lihat Roma 5:12-21). Manusia pertama, Adam tidak hanya menjadi bapa bagi seluruh umat manusia, tetapi juga kebalikan dari Manusia yang datang belakangan untuk menghapuskan segala penderitaan yang disebabkan oleh dosa Adam. Seperti ada tertulis dalam Kejadian 2:7 bahwa "TUHAN Allah menciptakan manusia itu dari debu tanah" (Adam berasal dari kata ( אדמה - 'ADAMAH) dalam bahasa Ibrani yang berarti tanah) "dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup,' atau jiwa yang hidup. Adam dengan tubuh jasmani atau alamiahnya "yang diberi jiwa" adalah anti-tipe (kebalikan) dari Adam yang terakhir, Kristus, yang menjadi roh yang menghidupkan. Kebangkitan Kristus, dengan kuasa Roh, menandai permulaan dari suatu umat manusia yang baru yang ikut serta dalam kehidupan baru yang merupakan pemberian dari kuasa Roh yang menghidupkan (Roma 1:4; Yohanes 6:63; 2 Korintus 3:6, 17; Roma 8:23).

Catatan:

Di sini, seperti dalam 1 Korintus 15:21, 22, Paulus rupanya dapat mempradugakan bahwa pembacanya cukup mengenal kontrasnya antara kedua Adam tersebut. Para ahli telah mengumpulkan sejumlah besar bahan untuk memperlihatkan bahwa ada spekulasi di dalam dunia timur kuno tentang gagasan mengenai manusia ideal yang mula-mula. Yudaisme Helenistik melanjutkan spekulasi ini yang belakangan dikembangkan lebih jauh lagi oleh berbagai kelompok sesat seperti kaum Gnostik. Bukan cuma satu, melainkan banyak mitos yang hidup selama berabad-abad. Yang sangat menarik adalah pembedaan yang dibuat oleh filsuf Yahudi yang berbahasa Yunani dari Alexandria, Philo (kira-kira sezaman dengan Paulus) antara kedua Adam. Dengan menggunakan kedua kisah tentang Penciptaan dalam Kitab Kejadian, ia membedakan antara manusia sorgawi dan ideal (Kejadian 1:27) dengan manusia duniawi yang jasmani (Kejadian 2:7). Paulus tidak memasuki spekulasi apa pun di sini; ia pun tidak mendasarkan pembedaannya mengenai kedua Adam itu pada kedua kisah Penciptaan. Baginya Adam yang kedua atau yang terakhir itu adalah Kristus yang menandai permulaan dari sebuah zaman yang baru. Minatnya hanyalah memperlihatkan bagaimana Adam me¬nunjuk ke depan kepada rekannya yang lebih unggul.


Ayat 46

Namun demikian, jenis pemikiran yang ditemukan dalam tulisan-tulisan Philo barangkali telah hadir di Korintus di antara orang-orang bekas Yahudi yang berbahasa Yunani. Sebagian orang mungkin telah mengatakan bahwa manusia yang ideal itu muncul pertama. Paulus menyangkal hal ini: Yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah. Yang pertama datang itu adalah yang alamiah atau tubuh jasmani Adam (dan keturunannya), kemudian barulah datang yang rohaniah (tubuh kebangkitan Kristus dan semua orang percaya yang akan dibangkitkan kelak).


Ayat 47

Kejadian 2: 7 mengatakan Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani. Tetapi Kristus, manusia kedua berasal dari sorga. Yesus pada kedatangan-Nya yang pertama adalah Anak Manusia yang datang "dari sorga" atau "dari atas" (Yohanes 3:13, 31). Di pihak lain, Paulus mungkin membayangkan tentang kedatangan Anak Manusia di masa mendatang di awan kemuliaan (Daniel 7:13; Matius 16:27, 28; 24:27; 25:31). Adam dan Kristus adalah pribadi¬pribadi, tetapi juga wakil umat manusia (seperti dalam Rm. 5:12-21). Karena mereka adalah bagian dari umat manusia, seluruh manusia adalah dari debu tanah dan bersifat jasmani, seperti halnya manusia kedua berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani. Di pihak lain, semua yang tergolong kepada Kristus sebagai manusia yang berasal dari sorga, setelah kebangkitan pada kedatangan-Nya yang kedua kali, akan berasal dari sorga; tubuh duniawi yang lama akan ditukar dengan tubuh sorgawi.


Ayat 49

Semua yang pernah hidup telah memakai rupa dari yang alamiah, dalam cara yang sama seperti semua keturunan Adam yang membawa citranya (Kejadian 5:3). Kita adalah salinan dari bapa kita Adam di dalam kefanaan kita. Di masa depan, setelah kebangkitan, kita juga akan memakai rupa dari yang sorgawi. Kita akan memiliki tubuh yang mulia yang sesuai dengan tubuh Kristus (Filipi 3:21). Sudah tentu, tubuh alamiah kita juga mencerminkan gambar Allah (1 Korintus 11:7; Kejadian 1:27), tetapi ini adalah gambar yang ternoda yang harus diperbarui menjadi gambar Kristus sendiri di dalam kemuliaan sorgawi-Nya, karena dia adalah gambar Allah yang tidak bercacat (2 Korintus 3:18; 4:4). Paulus di sini tidak berbicara tentang pembaruan gambar Allah yang terjadi di dalam hidup ini dengan diberikannya sifat yang baru (Kolose 3:10; Roma 8:29); ia mengucapkan kenyataan (bukan proses) tentang apa yang akan terjadi setelah kebangkitan. Jadi, penafsiran dari beberapa naskah kuno, "marilah kita mengenakan gambar", mengantarkan suatu imbauan yang sama sekali tidak pada tempatnya. Paulus berbicara tentang tubuh sebagai pakaian yang kita kenakan dan kita lepaskan pada saat kematian guna mengenakan suatu tubuh yang baru (ayat 53, 54; 2 Korintus 5:1-5). Gambaran ini juga muncul ketika Paulus mengatakan bahwa kita akan memakai suatu citra atau bentuk yang baru. Ia tidak mengatakan apa-apa tentang keadaan jiwa atau pribadi itu sendiri antara kematian dan kebangkitan. Keprihatinan Paulus satu-satunya hanyalah memastikan bahwa orang-orang Korintus memahami hakikat dari tubuh kebangkitan yang baru dan yang telah diperbarui itu.


Ayat 50

Ayat 50 dapat dipahami sebagai pembukaan dari bagian terakhir di dalam pasal ini; inilah yang hendak kukatakan kepadamu adalah suatu ungkapan yang dipergunakan untuk mengantarkan suatu pemikiran baru dalam 1 Korintus 7:29. Namun kata ini pun mengantarkan pada kesimpulan dari pemikiran yang sebelumnya, dan demikian pulalah halnya di sini. Daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah kedengarannya mirip sekali dengan rumusan tradisional atau yang sudah lazim dikenal. Daging dan darah adalah cara Semit untuk berbicara tentang manusia yang hidup (Galatia 1:16; Efesus 6:12; Matius 16:17). Ungkapan Paulin, mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1 Korintus 6:9, 10; Galatia 5:21) mirip dengan ungkapan dalam Kitab-kitab Injil, "mendapatkan kehidupan kekal" (Matius 19:29; 25:34; Markus 10:17). Di dalam isinya terdapat sebuah paralel yang formal dengan kata-kata Yesus kepada Nikodemus dalam Yohanes 3:5,6: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh." Paulus, seperti halnya Yesus, menekankan bahwa manusia, sesuai dengan sifat alamiahnya, tidak dapat menjadi bagian dari Kerajaan Allah tanpa karya pembaruan Roh. Kehidupan yang baru di dalam Roh kini dan di masa mendatang setelah kebangkitan amatlah erat terkait di dalam pemikiran Paulus (lihat Roma 8:10, 11). Tetapi dalam ayat ini, rasul ini tidak berbicara tentang kelahiran baru dalam bentuk pertobatan dan baptisan yang dengannya seseorang masuk ke dalam Kerajaan Allah sebagai suatu realitas masa kini; ia sedang berbicara tentang pembaruan yang harus dialami oleh mereka yang hidup sebelum mereka juga masuk ke dalam surga (ayat 44-46). Pernyataannya yang kedua ini menambahkan suatu pemikiran pelengkap namun yang sedikit berbeda; yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa (lihat ayat 42). Tubuh yang mati tidak mempunyai klaim yang alamiah terhadap Kerajaan Allah; tubuh jasmani (yang binasa) tidak dapat mengklaim kekekalan. Debu dari yang membusuk harus ditinggalkan di dalam kubur sehingga tubuh rohani yang baru atau tubuh sorgawi itu dapat muncul ketika kedatangan Kristus yang kedua kalinya (ayat 23-26; 51-54). Apakah orang Kristen itu masih hidup atau sudah meninggal pada kedatangan Kristus yang kedua, mereka dapat masuk ke dalam sorga hanya sebagai tubuh yang telah diperbarui (1 Tesalonika 4:14-17 juga membedakan antara yang mati dan yang hidup pada waktu kedatangan Kristus kembali).


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: KEBANGKITAN, 1 Korintus 15
PostPosted: Wed Apr 15, 2009 8:50 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
VI. Kemenangan Kebangkitan adalah Milik Kita!


* 1 Korintus 15 :51-58
15:51 Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah,
15:52 dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.
15:53 Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.
15:54 Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan.
15:55 Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"
15:56 Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.
15:57 Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
15:58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia



Tiba pada puncak dari pasal yang agung ini, sekali lagi Paulus menggambarkan dalam bahasa apokaliptik (lihat ayat 23-28) apa yang akan terjadi pada kedatangan Kristus kelak (ayat 51, 52). Perubahan di masa depan pada waktu kebangkitan sekali lagi digambarkan dalam lstilah-istilah yang kontras (ayat 53, 54a). Dua teks Perjanjian Lama kemudian dijalin menjadi sebuah nyanyian kemenangan yang menantang terhadap maut (ayat 54b-57). Sebuah imbauan terakhir kepada para pembaca untuk hidup dan bekerja sebagai mereka yang mempunyai pengharapan yang pasti akan kebangkitan menutup pasal ini (ayat 58).


Ayat 51

LAI TB, Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah,
KJV, Behold, I shew you a mystery; We shall not all sleep, but we shall all be changed,
TR, ιδου μυστηριον υμιν λεγω παντες μεν ου κοιμηθησομεθα παντες δε αλλαγησομεθα
Translit interlinear, idou {sungguh} mustêrion {suatu rahasia} humin {kepadamu} legô {aku mengatakan} pantes {semua} men ou {tidak} koimêthêsometha {kita akan meninggal} pantes {semua} de {tetapi} allagêsometha {kita akan diubah}


Dengan gaya yang khidmat, Paulus mulai menyimpulkan peristiwa-peristiwa pada akhir zaman. Sesungguhnya mengarahkan perhatian pada pentingnya penyataan yang akan segera disampaikan (2 Korintus 5:17; 6:2, 9; Galatia 1:20). Rahasia yang akan disampaikannya adalah bagian dari kebenaran-kebenaran yang telah dirahasiakan Allah di masa lampau, tetapi kini telah disingkapkan-Nya dengan kedatangan Kristus (Roma 11:25; 16:25, 26; Efesus 3:3-5; Kolose 1:26, 27). Di tempat-tempat lain dalam surat ini, Injil sendiri disebut sebagai "rahasia-rahasia Allah" (1 Korintus 2:7; 4:1; 13:2; 14:2; lihat pula Efesus 6:19), namun penggenapan kehendak Allah yang misterius di masa lampau menunjuk kepada penggenapan di masa depan (Efesus 1 :9) Iman masa kini tidak mungkin ada tanpa pengharapan di masa mendatang.

Pada tahap ini, Paulus tampaknya masih mengharapkan bahwa ia dan sebagian orang di Korintus tidak akan mati sebelum kedatangan Kristus kembali; belakangan ia jelas memperhitungkan kematiannya (2 Korintus 5:8; Filipi 1:23; 3:11). Di sini ia menggemakan pemikiran dari ayat sebelumnya: Orang-orang percaya yang hidup maupun yang mati akan ditransformasikan ketika Kristus kembali; semuanya akan diubah. Seperti dalam 1 Tesalonika 4:13-17, yang juga membedakan antara orang-orang percaya yang sudah mati dan mereka yang masih hidup pada kedatangan Kristus kembali, penekanannya terletak pada kenyataan bahwa tidak ada satu pun dari kedua kelompok itu yang akan dirugikan.


Ayat 52

LAI TB, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.
KJV, In a moment, in the twinkling of an eye, at the last trump: for the trumpet shall sound, and the dead shall be raised incorruptible, and we shall be changed.
TR, εν ατομω εν ριπη οφθαλμου εν τη εσχατη σαλπιγγι σαλπισει γαρ και οι νεκροι εγερθησονται αφθαρτοι και ημεις αλλαγησομεθα
Translit interlinear, en {dalam} atomô {(waktu) yang sangat singkat} en {dalam} ripê {sekejap} ophthalmou {mata} en {pada} tê eskhatê {terakhir} salpiggi {suara trumpet/ sangkakala} salpisei {trumpet akan berbunyi} gar {sebab} kai {dan} hoi nekroi {orang2 mati} egerthêsontai {akan dibangkitkan} aphthartoi {(dalam keadaan) yang tidak dapat binasa} kai {dan} hêmeis {kita} allagêsometha {akan diubah}


Semuanya ini akan terjadi dalam sekejap mata; "Pemusatan segala sesuatu ke dalam satu saat mengungkapkan sifat ajaib dari ciptaan yang baru ini" (Conzelmann). Suara nafiri adalah bagian yang baku dari gambaran apokaliptik (Yoel 2:1; Zefanya 1:16; 1 Tesalonika 4:16; Matius 24:31). Nafiri yang terakhir ini bukanlah satu di antara serangkaian acara (seperti dalam Wahyu 8:2 - 9:21 dan 11:15-19), melainkan pemberitaan yang pasti tentang kemenangan Kristus. (Sia-sialah bila kita berspekulasi tentang apakah suara nafiri itu adalah suara Allah sendiri, seperti dalam Wahyu 1:10 dan 4:1.) Pada saat nafiri itu berbunyi, dalam sekejap orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa, yang tidak akan lagi membusuk (ayat 42, 50). Dengan mengulangi ungkapan kita semua akan diubah, Paulus mengingatkan para pembacanya bahwa orang-orang percaya yang masih hidup pada saat itu akan pula menerima tubuh yang baru.


Ayat 53

LAI TB, Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.
KJV, For this corruptible must put on incorruption, and this mortal must put on immortality.
TR, δει γαρ το φθαρτον τουτο ενδυσασθαι αφθαρσιαν και το θνητον τουτο ενδυσασθαι αθανασιαν
Translit interlinear, dei {harus} gar {karena} to phtharton {yang dapat binasa} touto {ini} endusasthai {mengenakan} aphtharsian {ketidak-fanaan} kai {dan} to thnêton {yang dapat mati} touto {ini} endusasthai {mengenakan} athanasian {keadaab yang tidak dapat mati}


Pengelompokan orang-orang percaya ke dalam mereka yang masih hidup dan sudah mati pada waktu Kristus datang kembali dilanjutkan: Yang dapat binasa ... harus mengenakan yang tidak dapat binasa. Seperti dalam ayat-ayat sebelumnya, yang dapat binasa berarti adalah tubuh jasmani kita; dalam kebangkitan ia akan mengenakan citra atau bentuk yang tidak dapat mati (ayat 49). Gambaran tentang tubuh yang baru ini sebagai pakaian (juga dalam 2 Korintus 5:1-5) tidak menunjukkan bahwa tubuh yang lama akan dipertahankan seperti semacam pakaian dalam. Akan terjadi suatu ciptaan baru yang kepadanya tidak ada suatu pun yang dapat diberikan oleh hakikat yang lama; yang dipertahankan hanyalah jati diri si orang itu semata. Perubahan yang besar ini harus terjadi karena ini adalah Lagian dari rencana Allah. Di sini, seperti yang selalu terjadi di dalam Perjanjian Baru, kata harus menunjuk pada suatu keharusan dari kehendak Allah, bukan suatu konsekuensi alamiah atau logis; tidak ada sesuatu yang secara alamiah baik atau mulia di dalam diri umat manusia yang dapat memaksa Allah untuk menganugerahkan kepadanya kehidupan kebangkitan yang baru.

Jadi, Paulus tidak mengatakan bahwa "jiwa kita yang tidak dapat binasa" akan mewarisi tubuh yang tidak dapat binasa. Sebaliknya, tubuh yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, tubuh yang tidak lagi terancam oleh maut. Acuan kepada orang-orang percaya yang sudah mati dan orang-orang percaya yang masih hidup pada waktu kedatangan Kristus kembali jelas dilanjutkan dalam kata-kata ini. Meskipun yang masih hidup mempunyai tubuh yang fana, yang telah ditetapkan untuk mati, ia pun akan diubahkan untuk ikut serta di dalam kehidupan Allah; Dialah satu-satunya yang memiliki kekekalan (1 Timotius 6:16). "Yang fana" akan "ditelan oleh hidup" (2 Korintus 5:4).


Ayat 54, 55

15:54 LAI TB, Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan.
KJV, So when this corruptible shall have put on incorruption, and this mortal shall have put on immortality, then shall be brought to pass the saying that is written, Death is swallowed up in victory.
TR, οταν δε το φθαρτον τουτο ενδυσηται αφθαρσιαν και το θνητον τουτο ενδυσηται αθανασιαν τοτε γενησεται ο λογος ο γεγραμμενος κατεποθη ο θανατος εις νικος
Translit interlinear, hotan {apabila} de {lalu} to phtharton {yang dapat binasa} touto {ini} endusêtai {mengenakan} aphtharsian {ketidak-fanaan} kai {dan} to thnêton {yang dapat mati} touto {ini} endusêtai {diberi pakaian} athanasian {keadaan yang tidak dapat mati} tote {kemudian} genêsetai {akan dipenuhi} ho logos {firman} ho gegrammenos {yang tertulis} katepothê {telah ditelan} ho thanatos {maut} eis {ke dalam/ dengan} nikos {kemenangan}

15:55 LAI TB, Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"
KJV, O death, where is thy sting? O grave, where is thy victory?
TR, που σου θανατε το κεντρον που σου αδη το νικος
Translit interlinear, pou {di manakah} sou {-mu} thanate {hai maut} to kentron {sengat} pou {di manakah} sou {-mu} hadê {hai hades (dunia orang mati)} to nikos {kemenangan}


Dua nas Alkitab digabungkan untuk menyimpulkan pemikiran sebelumnya, dan untuk membentuk sebuah nyanyian kemenangan yang menantang maut sebagai sebuah kuasa yang, bagi orang Kristen, sudah dikalahkan.

    1. Yesaya 25:8 dalam versi Ibrani mengatakan: "Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya". Kata-kata Paulus, Maut telah ditelan dalam kemenangan, didasarkan pada sejumlah versi Yunani kuno - bukan Septuaginta (versi Yunani resmi yang diterima oleh gereja) di mana maut adalah kuasa yang menelan.

    2. Hosea 13:14 dalam bahasa Ibrani berbunyi: "Di manakah penyakit samparmu, hai maut, di manakah tenaga pembinasaanmu, hai dunia orang mati?"
      Septuaginta berbunyi:
      "Di manakah penghukumanmu, hai maut, di manakah sengatmu, hai dunia orang mati?"
    Kata-kata Paulus berbunyi:
      Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?
    lebih dekat dengan versi Yunani, kecuali bahwa kemenangan dicantumkan dari Yesaya 25:8. Hanya versi Yunanilah yang memberitakan akhir dari maut; dalam versi Ibrani, maut dipanggil untuk menghukum umat Allah yang tidak taat.
    (Bandingkan artikel : Memahami Ucapan Yang Sulit Dalam Perjanjian Lama, 63: Di Manakah Penyakit Samparmu, Hai Maut, di Manakah Tenaga Pembinasamu Hai Dunia Orang Mati, di 63-di-manakah-penyakit-samparmu-hai-maut-vt2788.html )

Bahkan sekarang, orang Kristen dapat menyanyikan lagu kemenangan atas maut yang penuh dengan sukacita sementara mereka menantikan penghancurannya yang terakhir. Kepastian di dalam kebangkitan berarti bahwa maut tidak lagi menakutkan. Maut yang dipersonifikasikan sebagai seorang tirani yang telah kehilangan kerajaannya (lihat komentar tentang ayat 26), ia dapat diejek dan ditantang. Orang Kristen masih menguburkan orang-orang yang mereka kasihi, tetapi mereka tidak meratap seperti mereka yang tidak mempunyai pengharapan (1 Tesalonika 4:13), karena sengat maut telah lenyap. Kata sengat digunakan untuk galah rangsang yang mengendalikan kuda (Kisah 26:14), untuk sengat seekor serangga atau binatang (seperti seekor kalajengking), untuk alat penyiksa, tetapi juga sebagai lambang dari kuasa tirani. Yang terakhir ini jelaslah apa yang dimaksudkan Paulus di sini: sang tirani itu telah kehilangan giginya; ia tidak dapat menggigit kita lagi!


Ayat 56

LAI TB, Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.
KJV, The sting of death is sin; and the strength of sin is the law.
TR, το δε κεντρον του θανατου η αμαρτια η δε δυναμις της αμαρτιας ο νομος
Translit interlinear, to de {yaitu} kentron {sengat} tou thanatou {maut} hê hamartia {adalah dosa} hê de {lalu} dunamis {pemberi kuasa} tês hamartias {kepada dosa} ho nomos {hukum (taurat)}


Memang, persekutuan yang tidak kudus antara dosa dan maut berlanjut terus di sisi kubur ini. Sengat maut ialah dosa; artinya kuasa yang mendorong kita ke dalam kubur, yang menghasilkan maut di dalam seluruh korbannya (Roma 5:12; 6:23; 7:13). Setiap upacara penguburan adalah peringatan akan kuasa dosa yang melayani tuannya, yakni maut. Sementara maut adalah akibat dari dosa, kuasa dosa ialah hukum Taurat. Kehendak Allah, yang diungkapkan di dalam hukum-Nya, menuntut tidak kurang daripada ketaatan yang sempurna; ketika hukum itu menemukan ketidaktaatan, ia menghukum orang-orang berdosa ke dalam kubur (Kejadian 2:17; 3:19). Hukum Allah tidak hanya mencatat catatan pelanggaran yang menyedihkan (Roma 5:13), ia pun mendorong orang berdosa untuk melakukan dosa yang lebih besar lagi - seperti aturan-aturan seko¬lah yang diciptakan hanya untuk dilanggar (Roma 7:5, 7, 11).


Ayat 57

LAI TB, Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
KJV, But thanks be to God, which giveth us the victory through our Lord Jesus Christ.
TR, τω δε θεω χαρις τω διδοντι ημιν το νικος δια του κυριου ημων ιησου χριστου
Translit interlinear, tô de {tetapi} theô {(kepada) Allah} kharis {syukur} tô {yang} didonti {diberikan} hêmin {kepada kita} to nikos {kemenangan} dia {melalui} tou kuriou {Tuhan} hêmôn {kita} iêsou {Yesus} khristou {Kristus}


Namun demikian, pemerintahan ketiga kuasa ini: maut, dosa, dan taurat, akan berakhir; bahkan sekarang pun, pengharapan membawa orang Kristen untuk mengucapkan tetapi yang bersifat membangkang (lihat komentar tentang ayat 20). "Yesus Kristus yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa" (2 Timotius 1:10). Seperti dalam Roma 7:25, Paulus memisahkan diri dari kisah yang menyedihkan tentang perhambaan manusia untuk mengucapkan doa syukur: Syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Mereka yang hidup dengan kasih karunia dan tidak lagi hidup di bawah keputusan Taurat yang menghukum, bebas dari tirani maut - termasuk rasa takut akan maut (Roma 6:14; 8:1, 2; Ibrani 2:14, 15). Kematian fisik masih harus ditanggung, tetapi bahkan itu pun tidak dapat merampas dari kita kepastian akan kemenangan di dalam Kristus di masa datang (Roma 8:37-39). Mereka yang berada di dalam Kristus telah mati kepada dosa (dengan ikut serta di dalam kematian-Nya yang sempurna dalam baptisan); jadi, mereka pun ikut serta di dalam kehidupan-Nya yang baru, kehidupan yang akan disempurnakan pada hari kebangkitan (Roma 6:1-11). Tetapi kemenangan selalu adalah milik Kristus, tak pernah milik kita - meskipun la dengan kasih karunia-Nya memungkinkan kita ikut serta di dalam arak-arakan kemenangan bahkan sejak di dalam kehidupan ini (2 Korintus 2:14).


Ayat 58

LAI TB, 15:58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia
KJV, Therefore, my beloved brethren, be ye stedfast, unmoveable, always abounding in the work of the Lord, forasmuch as ye know that your labour is not in vain in the Lord.
TR, ωστε αδελφοι μου αγαπητοι εδραιοι γινεσθε αμετακινητοι περισσευοντες εν τω εργω του κυριου παντοτε ειδοτες οτι ο κοπος υμων ουκ εστιν κενος εν κυριω
Translit interlinear, hôste {karena itu} adelphoi {hai saudara2} mou {-ku} agapêtoi {yang dikasihi} edraioi {teguh} ginesthe {jadilah} ametakinêtoi {yang tidak goyah} perisseuontes {majulah} en {dalam} tô ergô {pekerjaan} tou kuriou {Tuhan} pantote {selalu} eidotes {ketahuilah} hoti {bahwa} ho kopos {jerih-payah} humôn {-mu} ouk estin {tidaklah} kenos {sia-sia} en {di dalam} kuriô {Tuhan}


Jadi, pengharapan akan kebangkitan memberikan ketetapan dan tujuan bagi segala sesuatu yang dilakukan oleh orang Kristen di dalam kehidupan ini; seperti yang telah diperlihatkan oleh Paulus, pengharapan ini akan dicerminkan di dalam cara hidup orang-orang percaya (ayat 32-34). Ia sekarang menarik kesimpulan untuk pasal yang agung ini dengan membuat imbauan yang sangat kepada saudara-saudara-nya yang kekasih - sebuah istilah sapaan yang bahkan lebih lembut lagi daripada istilah "saudara-saudara" yang sering digunakan dalam dua pasal terakhir ini (lihat 1 Korintus 14:6). Karena segala sesuatu yang telah ia ajarkan kepada mereka di dalam khotbah ini tentang kebangkitan, karena itu mereka harus berdiri teguh, jangan goyah, atau seperti yang dikatakannya dalam Kolose 1:23, "tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil". Tanpa pengharapan "yang kuat dan aman bagi jiwa" (Ibrani 6:19), sebagian orang di Korintus mulai meninggalkan sauh iman yang aman (1 Korintus 16:13)! Hidup di dalam pengharapan sejati, semuanya kini dapat hidup dan bekerja untuk Kristus, karena mereka tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah mereka tidak sia-sia. Iman tidaklah sia-sia (ayat 2, 14, 17); demikian pula perbuatan-perbuatan baik. Mereka tidak memberikan pintu masuk ke dalam surga (hanya kasih karunia Allah di dalam Kristus yang memberikannya), tetapi mereka akan diingat dan diganjar di dalam kekekalan (1 Korintus 3:13-15). "Berbahagialah orang-orang yang mati di dalam Tuhan ... , karena segala perbuatan mereka menyertai mereka" (Wahyu 14:13). Sudah tentu, segala sesuatu yang dilakukan di dalam iman, yang diungkapkan di dalam tindakan kasih, dapat disebut sebagai pekerjaan Tuhan; tetapi ada pula "pekerjaan Tuhan" yang khusus yang di dalamnya Paulus dan Timotius terlibat, seperti yang sekarang mereka katakan (1 Korintus 16:10). Giat atau berlimpah selalu dalam pekerjaan Tuhan adalah sama dengan berlomba-lomba di dalam membangun jemaat (1 Korintus 14:12) - dan inilah tugas semua orang Kristen. Di tempat-tempat lain, Paulus mengatakan bahwa orang-orang percaya harus bergiat atau berlomba di dalam iman, pengharapan, dan kasih (Roma 15:13; 2 Korintus 8:7; Filipi 1:9). Itu tidak bertentangan. Pengharapan akan menjaga iman dan kasih pada kaki yang seimbang; ia memberikan jaminan bahwa pekerjaan Tuhan akan menghasilkan jemaat yang akan bertahan untuk selama-lamanya; bahkan maut tidak dapat membinasakannya (Matius 16:18).



Sumber :
VC Pfitzner, Ulasan atas 1 Korintus, Kesatuan dalam Kepelbagaian, BPK Gunung Mulia, 2000, hlm 287-329.


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 6 posts ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
Powered by phpBB & phpBB SEO
Sarapan Pagi © 2006 by BP & Saxman