SarapanPagi Biblika

Bible Study / Christian Library
It is currently Thu Sep 09, 2010 5:29 pm

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 12 posts ] 
Author Message
 Post subject: KANON ALKITAB
PostPosted: Thu Jun 15, 2006 9:54 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
KANON ALKITAB



Banyak orang mempertanyakan, mengapa kitab Perjanjian Lama terdiri dari 39 kitab dan kitab Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab. Siapa yang menentukan jumlah kitab dalam Alkitab? Apakah ada rapat atau semacam konferensi untuk menentukan jumlah kitab-kitab di dalam Alkitab? Siapakah yang berkompeten menentukan kitab-kitab itu sebagai firman Allah? Kalau Alkitab disebut kanon, apa itu kanon? Apakah kata kanon itu alkitabiah?

Kata kanon berasal dari bahasa Yunani. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan kata ini dengan kata dasar patok, sedangkan dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan dengan rule atau measure. Patok atau kanon atau measure ialah sebuah ketetapan atau sebuah ukuran. Ini biasanya dipakai untuk tindakan pengukuran tanah, misalnya setelah sebidang tanah diukur, kemudian diberi patok yang menandakan telah diukur. Kalau tanah itu dijual maka patok itu telah disetujui oleh baik penjual maupun pembeli atau bahkan telah diperiksa oleh departemen pertanahan sebuah negara.

Alkitab disebut kanon itu artinya Alkitab adalah sebuah ukuran yang telah ditetapkan, atau sebuah ukuran yang telah pasti. Alkitab adalah sebuah patokan bagi semua pihak. Barang siapa yang mencoba menggeser patokan, maka ia adalah penipu atau seseorang yang bertindak curang. Kanon adalah sebuah ukuran pasti, bagaikan alat/tongkat ukur modern yang tidak boleh dipanjangkan maupun dipendekkan, yang telah disetujui untuk dijadikan alat pengukur oleh semua manusia. Alkitab adalah alat pengukur doktrin dan perbuatan, baik pribadi orang percaya maupun jemaat.

Kitab-kitab yang tergabung dalam kitab Perjanjian Lama adalah kitab-kitab yang ditulis antara ± tahun 1500 sebelum Masehi sampai ± tahun 400 sebelum Masehi. Dengan kata lain, ± 400 tahun sebelum kelahiran Yesus ke dalam dunia, kitab-kitab Perjanjian Lama telah tertulis dan sudah sering dibaca oleh masyarakat Yahudi.

Sesungguhnya tidak ada hal yang terlalu istimewa dalam proses pengakuan orang Kristen terhadap kanon kitab-kitab Perjanjian Lama, karena pada prinsipnya orang Kristen hanya memungutnya dari tradisi orang Yahudi. Sesuai dengan tradisi orang Yahudi kanon Perjanjian Lama terdiri dari tiga kelompok kitab, yaitu kelompok kitab Torah, Nevi'im dan Ketubim. Kelompok kitab Torah terdiri dari lima kitab yang ditulis oleh Musa, yaitu kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Kelompok kitab ini selain disebut Torah (hukum) juga disebut kitab Musa. Kitab-kitab itu disebut kitab Musa, karena Musa yang menulisnya. Sebutan ini pasti tercipta pada generasi pertama penerima kitab itu karena mereka tahu persis bahkan kenal dengan penulisnya. Sebutan kitab Musa ini bukan baru diberikan setelah orang Israel kembali dari pembuangan sebagaimana diperkirakan oleh para theolog Liberal. Musa menulis kitab-kitabnya pada empat puluh tahun bagian akhir hidupnya. Dan diketahui bahwa bagian yang menceritakan tentang kematian Musa kemungkinan ditambahkan oleh penerusnya.

Kelompok kitab Nevi'im terdiri dari 19 kitab, yaitu Yosua, Hakim-hakim, Samuel, Raja-raja, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi. Waktu penulisan kitab-kitab tersebut dapat dicocokkan pada masa hidup penulisnya. Tidak diketahui dengan jelas alasan kitab Hakim-hakim dan Raja-raja dimasukkan ke dalam kitab Nevi'im. Ada kemungkinan generasi yang sangat dekat dengan penulisan kitab itu tahu bahwa penulis kedua kitab itu adalah seorang nabi, karena sangat kemungkinan nabi Samuel adalah penulis kitab Hakim-hakim. Sedangkan kitab Raja-raja mungkin ditulis oleh kelompok nabi.

Sedangkan kelompok kitab Ketubim (karangan/tulisan) ada 12 kitab, antara Mazmur, Amsal, Ayub, Kidung Agung, Rut, Ratapan, Pengkhotbah, Ester, Daniel, Ezra, Nehemia dan Tawarikh. Diketahui bahwa sebagian besar kitab Mazmur ditulis oleh Raja Daud, sedangkan anaknya, Salomo, menulis tiga kitab, yaitu Amsal, Kidung Agung dan Pengkhotbah. Sesuai dengan nama kelompok kitab ini Ketubim yang berarti tulisan atau bacaan, maka isinya adalah bacaan yang mengajarkan kebenaran melalui cerita maupun kiasan.

Ini adalah susunan kitab-kitab Perjanjian Lama dalam Alkitab orang Yahudi. Kitab yang paling terakhir dalam susunan mereka itu bukan kitab Maleakhi melainkan kitab Tawarikh. Susunan yang dimiliki sekarang kemungkinan adalah susunan yang disesuaikan dengan Septuaginta, yaitu kitab Perjanjian Lama terjemahan bahasa Yunani yang dikerjakan pada ± tahun 200-an sebelum Masehi. Tadinya jumlah kitab hanya 36 kitab, tetapi karena Samuel, Raja-raja dan Tawarikh dibagi dua, maka menghasilkan jumlah 39 kitab.

Kitab Torah, Nevi'im dan Ketubim ini telah diakui oleh masyarakat Yahudi sebagai firman Allah, bahkan Yesus sendiri dalam Lukas 24:27, 44 menyebut tiga kelompok kitab ini sebagai firman Allah. Pengakuan Yesus adalah otoritas tertinggi sehingga tidak perlu diragukan lagi bahwa kitab Perjanjian Lama yang terdiri dari 39 kitab itu adalah firman Allah. Jadi, bukan hanya karena adanya pengakuan secara tradisi, melainkan juga adanya pengakuan Yesus. Selain itu juga terlihat dalam tulisan Rasul-rasul, sikap mereka terhadap Perjanjian Lama. Petrus berkata, bahwa Perjanjian Lama adalah firman Allah (1 Petrus 2:6, 2 Petrus 1:20).

Tentu bukan hanya Petrus yang memberi pengakuan bahwa kitab Perjanjian Lama adalah kitab suci yang diilhamkan Allah, melainkan semua penulis kitab Perjanjian Baru juga mengakui serta mengutip kitab Perjanjian Lama sambil menyatakan bahwa itu adalah firman Allah. Itulah sebabnya telah dinyatakan bahwa pengakuan orang Kristen terhadap kitab-kitab Perjanjian Lama sebagai kanon kitab suci itu penuh dasar. Dasarnya bukan karena semua orang Yahudi telah menerima kitab Perjanjian Lama sebagai kitab yang diilhamkan Allah, melainkan karena semua rasul juga mengakui, bahkan Yesus sendiri juga mengakui bahwa kitab Perjanjian Lama adalah firman Allah.

Sebelum sampai pada proses pengkanonan, terlebih dahulu didahului proses penulisan (composing) yang berkisar dari sekitar tahun 50 sampai sekitar 100. Kemudian dilanjutkan dengan proses pengumpulan (collecting) yang berkisar dari tahun 100 sampai 200. Proses pengumpulan ini adalah proses dimana orang-orang percaya mengumpulkan surat-surat atau tulisan rasul-rasul untuk kebutuhan jemaat maupun kebutuhan pribadi. Sesudah masa pengumpulan kemudian diikuti masa pembandingan (comparing), yang berkisar dari tahun 200 sampai 300. Proses pembandingan ini ialah proses dimana tiap-tiap jemaat lokal berusaha membanding-bandingkan hasil koleksi mereka. Sesudah itu kemudian diikuti dengan masa pelengkapan (completing) , yang berkisar dari tahun 300 sampai 400. Masing-masing jemaat melengkapi hasil koleksi mereka. Surat yang kurang di satu jemaat, dilengkapi oleh jemaat yang lain. Ini adalah fenomena garis besar proses pengkanonan kitab-kitab Perjanjian Baru. Untuk memahaminya dengan lebih sempurna selanjutnya dilihat proses-proses itu dengan lebih seksama.

Proses pengkanonan kitab-kitab Perjanjian Baru sedikit lain dari proses pengkanonan kitab Perjanjian Lama, namun tetap memiliki prinsip dasarnya. Sebagaimana proses pengkanonan kitab Perjanjian Lama tidak melalui sebuah konferensi, demikian juga dengan proses pengkanonan kitab Perjanjian Baru. Keduanya sama-sama melalui proses waktu yang panjang. Kitab-kitab yang terkandung di dalam kedua kelompok kitab itu diakui satu persatu. Misalnya kitab Musa yang terdiri dari kitab Kejadian sampai Ulangan itu adalah yang pertama diakui sebagai Torah (hukum) yang diberikan Allah kepada bangsa Israel. Demikian juga kitab-kitab Perjanjian Baru diakui oleh jemaat satu persatu.

Injil Matius adalah kitab pertama yang ditulis di antara kitab-kitab Perjanjian Baru. Kelompok Liberal mengatakan bahwa Markus adalah kitab yang pertama ditulis. Sebagian orang Injili terpengaruh pandangan kelompok Liberal, namun kelompok Fundamental tidak beranjak dari keyakinan bahwa Injil Matius adalah kitab pertama yang ditulis dalam seluruh kitab Perjanjian Baru. Jelas sekali bahwa sementara Markus masih anak ingusan yang masih merindukan "bau" ibunya, Matius telah berstatus orang tua yang berwibawa. Kelihatannya pandangan kelompok Liberal itu adalah pandangan yang dipengaruhi konsep dasar teori evolusi, yaitu dari simple (yang sederhana) menuju kompleks. Konsep dasar teori yang berprinsip dari sesuatu yang sederhana menuju sesuatu yang lebih sempurna, menghantui sebagian teolog sehingga mereka menerapkan prinsip itu pada proses penulisan Injil. Bagi mereka, karena kitab Markus lebih sederhana, maka kitab Markus pasti yang terlebih dulu ditulis. Setelah ada Injil Matius yang jauh lebih lengkap, tidak mungkin Markus mau menulis yang lebih sederhana lagi. Tampak bahwa konsep dasar teori evolusi merasuki dunia teologia juga.

Proses pengkanonan kitab-kitab Perjanjian Baru itu sesuai dengan perkembangan penulisan kitab-kitab itu dan pengakuan jemaat. Sementara rasul-rasul mengajar dengan lisan, sebagian mereka digerakkan untuk menulis. Akhirnya jumlah tulisan rasul-rasul semakin bertambah dan dipakai sebagai dasar pengajaran. Sekalipun tulisan rasul kebanyak berbentuk surat, namun ketika jemaat menghadapi persoalan yang terdapat jawabannya di dalam surat rasul itu, maka jawaban itu sama dengan jawaban langsung dari rasul. Jemaat menjadikannya dasar kebenaran karena mereka yakin bahwa surat itu berisikan kebenaran. Logisnya, kalau terhadap nasehat lisan para rasul saja mereka harus patuh dan meyakininya sebagai perintah Allah, tentu jauh lagi terhadap nasehat tertulis mereka yang jauh lebih akurat. Sikap ini menyebabkan mereka menyimpan dengan rapi semua surat yang ditulis oleh rasul-rasul.

Ternyata mereka bukan hanya menyimpan surat rasul yang ditujukan kepada mereka, melainkan mereka saling membagi (share) dengan jemaat lain. Misalnya jemaat Efesus yang menerima Surat Efesus, jemaat Korintus yang menerima Surat Korintus, jemaat Galatia yang menerima Surat Galatia, dan jemaat Tesalonika yang menerima Surat Tesalonika saling mengkopi satu sama lain. Sehingga di jemaat Korintus selain ada Surat Korintus, juga terdapat Surat Efesus, Galatia, dan Tesalonika. Mereka mengkopi surat-surat itu dengan mencatatnya dengan tangan mereka. Tentu dicatat dengan ekstra hati-hati karena bagi mereka itu bukan sembarangan tulisan melainkan firman Allah yang disampaikan melalui rasul-rasul. Inilah yang di bagian awal disebut proses pengumpulan (collecting) .
Dengan tukar menukar surat atau tulisan peninggalan rasul di antara jemaat maka proses pengkanonan berjalan secara alamiah. Sambil mereka menambah koleksi mereka, mereka juga membandingkan koleksi satu jemaat dengan yang lain. Tindakan membandingkan hasil koleksi masing-masing itu dinamakan proses pembandingan (comparing). Mungkin ada jemaat yang telah mengumpulkan 20 kitab dan ada yang baru memiliki 15 kitab. Mereka mencocokkan hasil koleksi masing-masing dan melengkapi diri mereka dengan apa yang masih kurang. Tentu mereka mempertanyakan alasan dimasukkannya surat tertentu ke dalam kanon oleh jemaat lain. Setelah mendapat penjelasan, maka diterimalah surat tersebut oleh jemaat itu sebagai standar firman Allah.

Di dalam pembahasan tentang proses pengkanonan, pertanyaan yang sering muncul ialah, siapa yang memutuskan kitab atau tulisan itu boleh masuk? Dan apa alasan untuk memasukkan sebuah tulisan ke dalam kanon

Jawabannya ialah, tidak ada orang tertentu atau konferensi tertentu yang diadakan untuk menentukan syarat penerimaan sebuah surat atau tulisan ke dalam kanon Perjanjian Baru. Proses pengkanonan berkembang secara alamiah dari saling membandingkan hasil koleksi di kalangan jemaat-jemaat lokal sampai akhirnya secara universal mengakui dan menerima ke-27 kitab Perjanjian Baru sebagai kitab-kitab yang diilhamkan Allah.

Pada abad 16 kaum Roma Katolik dan Kristen Protestan, setelah mengadakan pembicaraan, meneguhkan kembali keterikatan mereka kepada kanon Perjanjian Baru ini, dan gereja Roma Katolik belum lama ini menekankan lagi keterikatannya. Kaum Protestan yang konservatif juga meneruskan memakai Kanon yang diterima melalui tradisi, bahkan para wakil teologia liberal tidak mengajarkan ajaran yang bertentangan. Memang, di dalam penelitian Alkitab yang modern dan pendapat beberapa ahli bahwa ada tulisan-tulisan yang di dalamnya ada yang tidak bersifat rasuli - dan dalam hal ini - perlu dipahami lagi faktor-faktor dan motif-motif yang mendasari proses historis yang telah digariskan. Bahwa dokumen-dokumen itu dimasukkan ke dalam Kanon berarti gereja Kristen mengakui kewibawaan dokumen-dokumen itu.

Pada zaman paling dini belum ada Kanon, karena kehadiran para rasul atau para murid mereka, dan karena tradisi-tradisi lisan yang hidup. Pada pertengahan abad kedua para rasul telah tiada, tapi tulisan-tulisan mereka dan monumen-monumen yang lain menguatkan amanat mereka. Pada waktu yang sama muncullah ajaran bidat, dan penekanannya kepada teori teologis atau kepada pengilhaman baru mengharuskan adanya penekanan baru kepada kewibawaan ajaran yang ortodoks dan suatu rumusan yang lebih ketat terhadap kitab-kitab yang berwibawa.

Demikianlah keempat Injil dan kumpulan Surat-surat Paulus yang telah dipakai di kalangan luas, diumumkan bersifat alkitabiah bersama dengan beberapa tulisan lainnya yang menyatakan diri ditulis oleh para rasul. Baik pembicaraan mengenai ajaran dan yang bersifat ilmu maupun perkembangan, melanjutkan proses pengakuan sampai Kanon itu dilengkapi pada waktu perwujudan intelektual dan kegirangan dari umat Kristen pada abad 4-5. Tiga patokan dipakai, baik pada abad 2 atau 4, guna meneguhkan bahwa dokumen-dokumen tertulis itu mewujudkan laporan yang benar dari suara dan amanat kesaksian para rasul.

Pertama, mengkaitkannya dengan para rasul; ini tidak berlaku bagi semuanya, misalnya Markus dan Lukas diterima sebagai hasil karya orang-orang yang erat hubungannya dengan para rasul.

Kedua, pemakaian oleh gereja-gereja, yaitu pengakuan oleh gereja embimbing atau oleh sebagian besar gereja. Karena patokan ini banyak itab Apokrifa ditolak, beberapa barangkali tidak berbahaya dan bahkan erisi tradisi asli dari kata-kata Yesus, lebih banyak lagi yang hanya iksi saja, tapi tidak ada yang ditolak yang diakui oleh sebagian besar gereja.

Ketiga, kesesuaian dengan ukuran-ukuran ajaran yang sehat; atas dasar ini Injil keempat mula-mula diragukan tapi akhirnya diterima; atau (sebaliknya) Gospel of Peter dilarang oleh Serapion dari Antiokhia karena kecenderungannya kepada doketisme, sekalipun tuntutannya sudah ditulis oleh rasul.

Demikianlah sejarah perkembangan kanonik kitab Perjanjian Baru itu menunjukkan, bahwa Kanon adalah kumpulan kitab-kitab yang dikaitkan dengan rasul-rasul atau dengan murid-murid mereka, yang oleh gereja pada keempat abad pertama dipandang benar, karena kitab-kitab itu mampu memberitakan dan merumuskan ajaran para rasul, sehingga dipandang cocok bagi pengajaran umum dalam kebaktian kepada Allah. Jikalau ini dimengerti dengan pertumbuhannya yang bertahap dan keanekaan sifat Kanon itu, dapat diketahui mengapa dahulu dan sekarang ada persoalan-persoalan dan ada keraguan terhadap karya-karya tertentu yang dimasukkan ke dalamnya. Karena menganggap ketiga patokan itu memadai, maka umat Kristen Protestan kini tidak mendapatkan alasan untuk menolak keputusan-keputusan angkatan-angkatan terdahulu, dan karena itu menerima Perjanjian Baru sebagai suatu laporan lengkap dan berwibawa dari pernyataan Ilahi sesuai yang diumumkan sejak zaman kuno oleh orang-orang terpilih, yang penuh penyerahan dan yang diilhami

Selesai


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Jun 15, 2006 9:55 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
Penjelasan LAI tentang KANON



Selasa, 5 Agustus 2003
Mark Harold yang baik,


Shalom!

Kami sudah membaca dengan seksama email Anda dan berterima kasih atas perhatian pada pekerjaan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Perkenankan kami mengawali penjelasan ini dengan ulasan singkat mengenai apa yang disebut 'kanon' dan sedikit mengenai sejarahnya. Kata 'kanon' semula berarti 'buluh' dan merupakan kata pinjaman dari bahasa Semit yang juga meminjamnya dari bahasa Sumer. Karena buluh dipakai utnuk mengukur maka akhirnya kata ini dipakai sebagak istilah yang berhubungan dengan pengukuran. Dalam hal kitab suci, kanon adalah sebuah istilah teknis yang berarti buku-buku yang dianggap bermuatan 'keilahian' dan dengan demikian dianggap layak masuk dalam Kitab Suci. Dalam hal Perjanjian Lama, ada dua kanon yang paling dikenal, yaitu kanon Ibrani dan kanon Yunani. Yang pertama menerima 39 kitab yang dalam ilmu Perjanjian Lama dikenal sebagai Torah, Nabi-nabi, dan Kitab-kitab. Kanon yang satu lagi, yaitu Kanon Yunani, selain 39 kitab ini memasukkan juga tambahan kitab-kitab lain. Tambahan kitab ini dalam Gereja Katolik dikenal sebagai kitab-kitab Deuterokanonika, sedangkan 39 kitab yang lain dikenal sebagai Protokanonika. Konsili Trent (1546) dan Vatikan I (1870) memutuskan bahwa baik kitab Protokanonika maupun Deuterokanonika sama-sama memiliki kewibawaan sebagai kitab suci. Dalam Gereja Protestan kitab Deuterokanonika disebut Apokrifa (artinya: tersembunyi) dan tidak diterima sebagai bagian dari kanon. Sementara, dalam Gereja Katolik, Apokrifa sendiri adalah juga sebutan untuk kitab-kitab yang oleh gereja-gereja Protestan dikenal sebagai


Pseudoepigrafa.

Sejarah kekristenan mencatat beberapa pandangan yang berbeda mengenai status Apokrifa atau Deuterokanonika. Luther misalnya, memandang Apokrifa sebagai kitab-kitab yang tidak kanonik, tapi berharga dan layak untuk dibaca. Itu sebabnya, dalam Alkitab terjemahannya yang berbahasa Jerman (1534), Luther menyertakan juga Apokrifa. Lain Luther, lain lagi Calvin, menurut reformatoris ini dan pengikutnya, kitab-kitab Apokrifa cenderung bersifat kontroversial dalam gereja, tidak memiliki wewenang keilahian, dan menjadi sumber pengajaran yang keliru. Untuk sedikit menjembatani perbedaan ini, Luther lalu menyusun Alkitab terjemahannya (1534) dengan menempatkan kitab-kitab Deuterokanonika di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tidak lagi sebagai bagian dari Perjanjian Lama sebagaimana dalam Septuaginta. Praktik ini lalu diikuti oleh beberapa terbitan lain seperti The Coverdale Version dalam bahasa Inggris (1535), The Olivetan Bible dalam bahasa Perancis (1535), dan The Reins Valera Bible dalam bahasa Spanyol (1602). Sementara itu, yang mengikuti alur pikiran Calvin dan kawan-kawan tercermin dalam misalnya Confessio Belgica (1561) dan Westminster Confession (1647). Dua perbedaan pandangan ini mewarnai sejarah gereja-gereja Protestan dan pada gilirannya, ketika Lembaga Alkitab Sedunia (United Bible Societies) berdiri dengan diawali oleh kelahiran British and Foreign Bible Society (BFBS) pada tahun 1710 dualisme pandangan ini juga tercermin di dalamnya.

Hal ini misalnya tampak dalam anjuran BFBS yang menasihatkan cabang-cabangnya untuk tidak menyertakan Deuterokanonika dalam terjemahan maupun dalam terbitan mereka. Tetapi, dalam kenyataannya, beberapa cabang di Benua Eropa lebih memilih untuk melayani umat yang menginginkan adanya Alkitab dengan kitab-kitab Deuterokanonika di dalamnya. Bisa dikatakan, pada dekade-dekade selanjutnya lembaga-lembaga Alkitab di negara-negara Anglo-Saxon termasuk American Bible Society lebih menampakkan pengaruh reformasi. Sementara di negara-negara dengan Lutheran sebagai gereja negara, Deuterokanonika diterjemahkan, diterbitkan, dan didistribusikan dengan tanpa keraguan sedikitpun. Pada dekade tahun 1960, sikap lembaga Alkitab makin pasti terhadap terbitan Deuterokanonika. Bersamaan dengan itu, melalui Konsili Vatikan II Gereja Katolik pun memutuskan untuk melayankan misa dalam bahasa nasional suatu negara. Hal ini berarti mesti tersedia Alkitab dalam banyak bahasa yang penuturnya adalah umat Katolik. Melalui berbagai proses, lembaga-lembaga Alkitab yang tergabung dalam Lembaga Alkitab sedunia (UBS) lalu akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa adalah gereja yang menetapkan kanon dan bukan lembaga Alkitab. Dalam hal ini lembaga Alkitab memutuskan untuk tidak bersikap doktrinal dan sebaliknya melayani umat sesuai dengan kebutuhannya. Bagi umat yang menginginkan Deuterokanonika maka hal itu akan disediakan. Jadi, penerjemahan dan penerbitan yang berdasarkan pada permintaan. Selain itu juga diatur berbagai hal lain, di antaranya mengenai penempatan Deuterokanonika yang dalam Kanon Yunani ditempatkan sebagai bagian dari Perjanjian Lama maka sekarang diletakkan di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Lembaga Alkitab Indonesia yang berdiri pada tahun 1954 juga mengambil sikap seperti ini dengan menempatkan Deuterokanonika sebagai bagian dari terbitan LAI untuk umat Katolik. Selain itu, Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Terjemahan Baru 1974, Bahasa Indonesia Sehari-hari 1985) berbahasa Indonesia juga tercatat sebagai salah satu dari sedikit terjemahan di dunia yang berstatus interconfessional, artinya diterima dan dipakai baik oleh gereja-gereja Protestan maupun Katolik. Sebagai sebuah lembaga penyedia Kitab Suci, tujuan LAI adalah melayani semua gereja, kelompok, dan orang yang membutuhkan Alkitab. LAI telah memilih untuk tidak memilih dengan tidak berpihak pada sebuah aliran. Karena, pelayanan kami ditujukan pada orang-orang yang memerlukan Alkitab. Merekalah yang menjadi perhatian utama LAI dan untuk itu kami harus mendahulukan mereka ketimbang memilih sebuah dogma atau doktrin yang cenderung mengikat.

Demikianlah penjelasan kami dan besar harapan kami semoga uraian ini memberi kejelasan.



Wassalam,
Neila G.M. Mamahit
Pjs. Kepala Departemen Penerjemahan LAI


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Jun 15, 2006 9:56 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
Inspirasi dan Kanonisasi Alkitab


http://www.mail-archive.com/i-kan-untuk ... 01711.html


Kanonisasi

Istilah kanon berasal dari bahasa Yunani yang berarti 'tongkat pengukur, standar atau norma'. Secara historis, Alkitab telah menjadi norma yang berotoritas bagi iman dan kehidupan bergereja. Proses pengkanonan ini dilakukan oleh berpuluh-puluh ahli kitab suci dan bahasa yang dengan teliti dan serius memilah-milah banyak tulisan yang dianggap suci untuk menemukan kitab-kitab yang benar-benar suci dan diwahyukan Allah untuk kemudian dijadikan satu.

Tanda-tanda kanonitas meliputi:

• Kitab tersebut ditulis atau disahkan oleh para nabi/rasul.
• Kitab tersebut diakui otoritasnya di kalangan gereja mula-mula.
• Kitab tersebut mengajarkan hal yang selaras dengan kitab-kitab lainnya yang jelas termasuk dalam kanon.


Kanon Perjanjian Lama (PL)

Diawali oleh tulisan Musa, koleksi kanon PL yang mayoritas dalam bahasa Ibrani secara progresif akhirnya terbentuk sejak sekitar tahun 400 SM.

1. Loh batu yang berisi 10 hukum ditaruh dalam Tabut Perjanjian (Keluaran 40:20). Loh batu tersebut masih dalam tabut ketika Salomo membawa tabut tersebut ke dalam Bait Allah yang baru saja didirikan (1 Raja-raja 8:9).

2. Kitab Taurat yang ditulis oleh Musa ditaruh di samping tabut Tuhan sebagai saksi atas kesalahan Israel (Ulangan 31:24-26; Keluaran 24:7).

3. Yosua menulis sebuah kitab yang melanjutkan kitab Taurat (Yosua 24:26).

4. Samuel menulis sebuah kitab, lalu ditaruh di hadapan Tuhan ( 1 Samuel 10:25).

5. Allah menggerakan orang lain untuk melanjutkan mencatat, misalnya:
Kisah Daud oleh Nathan dan Gad (1 Tawarikh 29:29)
Kisah Salomo oleh: Nathan, Ahia, Ido (2 Tawarikh 9:29)

6. Banyak mazmur yang ditulis oleh Daud, dan kitab nabi-nabi yang memakai nama nabi-nabi tersebut.

7. Dalam Yeremia 36:1-32 menceritakan Yeremia setelah bernubuat selama 23 tahun, baru diperintahkan Allah untuk menuliskannya. Setelah ditulis, kemudian dibacakan di hadapan raja Yoyakim. Tetapi raja membakar gulungan tulisan tersebut.

Kemudian Allah menggerakkan Yeremia untuk menulis lagi dan memberikan Yeremia banyak berita lagi. Dalam Yeremia 36:25 ditulis ada orang-orang yang memohon supaya raja jangan membakar gulungan tulisan tersebut. Ini menunjukkan bahwa mereka percaya gulungan tulisan tersebut adalah Firman Allah.

8. Ketika Israel ditawan ke Babilonia, mereka membawa serta kitab Taurat.
Sebab Ezra menyelidiki Taurat di Babilonia dan membawa Taurat tersebut kembali ke Yerusalem (Ezra 7:6,14; Nehemia 8:1-2). Yang dimaksudkan Taurat (the Book of the Law) di sini diperkirakan adalah seluruh kitab PL yang telah ditulis saat itu.

9. Diperkirakan Ezra yang mengumpulkan semua kitab nabi-nabi paling akhir dalam PL dan menyatukannya menjadi kanon yang paling lengkap pada tahun 400 SM.

10. Sekitar tahun 200 SM (sekitar 280-150 SM), PL terjemahkan ke dalam bahasa Yunani yang disebut Septuaginta. Penterjemahan ini dilakukan di Mesir. Pada waktu itu banyak orang Yahudi yang tinggal di Mesir. Fakta bahwa pada waktu itu PL telah diterjemahkan, berarti bahwa kanon PL telah lengkap dan semua kitab itu diterima sebagai Alkitab.


Pembagian Kitab dalam PL sesuai kanon:


Taurat

Terdiri dari 5 kitab: Kejadian, Keluaran, Bilangan, Imamat, Ulangan. Disebut juga Kitab Pentateuch (artinya lima volume). Penulisnya adalah Musa. Kitab Kejadian membicarakan permulaan dari segala sesuatu. Keempat kitab yang lain membicarakan hal permulaan bangsa Israel, sebuah bangsa yang dipilih Allah untuk menyatakan karya keselamatan-Nya bagi seluruh dunia.


Sejarah

Terdiri dari 12 kitab: Yosua, Hakim-hakim, Ruth, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-raja, 2 Raja-raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, dan Ester. Membicarakan tentang jatuh bangunnya bangsa Israel selama kurun waktu sekitar 1000 tahun:

• Israel menduduki Kanaan.
• Kebimbangan Israel di masa hakim-hakim.
• Kebangkitan Israel di masa Saul, Daud dan Salomo.
• Kerajaan Israel yang terpecah setelah Salomo wafat: Kerajaan Utara, runtuh tahun 722 SM; dan Kerajaan Yehuda, runtuh sekitar seabad setelah itu. Tiga kitab terakhir (Ezra, Nehemia, dan Ester) mencatat sejarah kaum Israel yang tersisa setelah masa pembuangan di Babilonia.


Nyanyian

Terdiri dari 5 kitab: Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung. Mereka disebut kitab nyanyian/puisi karena bentuk tulisannya memang demikian. Ciri khusus kitab puisi Ibrani adalah 'sense rhythm' atau pengulangan gagasan.


Nubuatan

Terdiri dari:
• 5 kitab nabi besar: Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel dan Daniel.
• 12 kitab nabi kecil: Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakaria dan Maleakhi.

Para nabi ini muncul untuk menyuarakan Firman Tuhan, khususnya di masa pemberontakan, masa kemunduran dan jatuhnya kerajaan Israel dan Yehuda. Para nabi menyatakan tentang penghakiman dan pemulihan bagi dua kerajaan tersebut (Kerajaan Utara dan Yehuda).
Setelah Kitab Maleakhi, di antara PL dan PB (Perjanjian Baru), menjelang kelahiran Kristus, ada masa dimana Allah diam (tidak ada inspirasi) selama 400 tahun.


Kanon Perjanjian Baru (PB)


Setelah Tuhan Yesus naik ke surga, belum sebuah kitab pun ditulis mengenai diri dan ajaran-Nya, karena belum dirasa perlu – para saksi mata utama masih hidup. Jadi Injil masih dalam bentuk verbal, lisan; dari mulut ke mulut, oleh para rasul.

Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah para saksi mata dan para rasul berkurang, dan semakin banyak ancaman pemberitaan ajaran-ajaran sesat. Pada masa itu banyak ditemukan tulisan-tulisan yang bercorak rohani, yang sebenarnya bukan Firman Allah. Oleh karena itu gereja merasakan pentingnya ditentukan kitab-kitab mana sajakah yang dapat diakui berotoritas sebagai Firman Allah. Kemudian para rasul mulai menuliskan surat-suratnya untuk para jemaat, lalu perlahan-lahan dibuat salinan surat-surat itu untuk berbagai gereja dan salinan itu dibacakan dalam pertemuan gereja (Kolose 4:16; 1 Tesalonika 5:7, Wahyu 1:3). Tulisan-tulisan ini diinspirasikan oleh Allah (2 Petrus 1:20-21; Wahyu 22:18; Efesus 3:5).

Pada waktu yang bersamaan, ada orang-orang yang menulis kitab-kitab tentang Yesus dan surat-surat ke gereja-gereja, yang tidak termasuk kanon. Lambat- laun gereja-gereja mulai jelas mengenai kitab-kitab mana yang diinspirasikan oleh Roh Kudus.


Pada abad ke 2 kanon PB telah lengkap. Hal ini kita ketahui dari:

1. The Old Syriac – terjemahan PB pada abad kedua dalam bahasa Syria. Semua kitab ada, kecuali: 2 Petrus, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas, dan Wahyu.

2. Justin Martyr pada tahun 140 M. Semua kitab PB ada, kecuali: Filipi dan 1 Timotius.
3. The Old Latin – sebuah terjemahan sebelum tahun 200 M. Terkenal sebagai Alkitab dari gereja Barat. Semua PB ada, kecuali Ibrani, Yakobus, 1 Petrus dan 2 Petrus.

4. The Muration Canon pada tahun 170 M. Semua PB ada, kecuali: Ibrani, Yakobus, 1 Petrus dan 2 Petrus (sama dengan The Old Latin).

5. Codex Barococcio pada tahun 206 M. Semua kitab PL dan PB ada, kecuali: Ester dan Wahyu.

6. Polycarp pada tahun 150 M pernah mengutip: Matius, Yohanes, sepuluh surat Paulus, 1 Petrus, 1 Yohanes dan 2 Yohanes.

7. Irenaeus (murid Polycarp) pada tahun 170 M. Semua kitab PB ada, kecuali: Filemon, Yakobus, 2 Petrus, dan 3 Yohanes.

8. Origen pada sekitar tahun 230 M menulis daftar kitab-kitab PB, sebagai berikut: ke-4 Injil, Kisah Para Rasul, ke-13 surat-surat Paulus, 1 Petrus, 1 Yohanes dan Wahyu.

9. Eusebius di awal abad ke 4 menyebut semua kitab PB.

10. Pada tahun 367 M dalam Festal Letter yang ditulis oleh Athanasius, Bishop Alexandria, mencantumkan daftar 27 kitab-kitab PB.

11. Jerome pada tahun 382 M, Ruffinua pada tahun 390 M dan Augustine pada tahun 394 M mencatat kanon PB sebanyak 27 kitab.

12. Akhirnya pada tahun 397 M, konsili gereja di Carthago mengesahkan 27 kitab PB.


Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang ditebus, yang beriman sungguh-sungguh di dalam Kristus bukan menentukan atau menciptakan kanon, tetapi gereja hanya mengesahkan kitab-kitab yang memiliki tanda kanonitas dan karena itu kitab-kitab tersebut memiliki otoritas dalam gereja.


Pembagian kitab dalam PB sesuai kanon:


Injil

Terdiri dari empat kitab: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Mencatat tentang kehidupan dan pelayanan Yesus selama di dunia. Matius menekankan Yesus sebagai raja, Markus menekankan Yesus sebagai hamba, Lukas menekankan Yesus sebagai manusia, Yohanes menekankan Yesus sebagai Anak Allah. Meskipun keempat penulis mempunyai penekanan yang berbeda-beda, tetapi tulisan-tulisan mereka satu dengan yang lain tetap harmonis.


Sejarah

Terdiri dari satu kitab, yaitu Kitab Para Rasul. Mencatat perkembangan kekristenan setelah kenaikan Yesus.


Surat-surat

Terdiri dari:
• 14 surat Paulus: Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, Filemon, dan Ibrani.
• 7 surat bukan dari Paulus : Yakobus, 1 Petrus, 2 Petrus, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes, dan Yudas.


----------


Top
 Profile  
 
 Post subject: SUSUNAN KANON KITAB PL
PostPosted: Mon Nov 05, 2007 1:50 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
SUSUNAN KANON KITAB PL



PEMBENTUKAN KITAB-KITAB PERJANJIAN LAMA


Perjanjian Lama disusun selama periode seribu tahun lebih yang kira- kira dimulai sekitar pertengahan milenium kedua sampai ke pertengahan milenium pertama SM. Walaupun Perjanjian Baru menguraikan bahwa Allah adalah pengarang Perjanjian Lama dengan ilham Roh Kudus (2Timotius 3:16), paling tidak empat puluh orang telah disebut sebagai penulisnya. Teks Perjanjian Lama semula dicatat dalam dua bahasa, bahasa Ibrani klasik atau alkitabiah dan bahasa kerajaan Aram (Kejadian 31:47; Yeremia 10:11; Ezra 4:8 - 6:18; 7:12-26 saja). Di antara para penulis kuno itu terdapat tokoh-tokoh Alkitab yang terkenal seperti Musa, Daud, dan Salomo. Penulis-penulis yang kurang dikenal termasuk wanita-wanita Ibrani seperti Debora (bandingkan Hak. 5:1) dan Miriam (bd. Keluaran 15:20-21) serta orang bukan Ibrani seperti Agur dan Lemuel (bd. Amsal 30:1; 31:1). Perjanjian Lama terdiri atas empat gaya atau jenis sastra dasar, termasuk hukum, kisah sejarah, syair, dan perkataan nubuat.




TEKS DAN TRANSMISI

Tulisan Dalam Masa Timur Dekat Kuno



Sistem tulisan paling awal yang dimiliki oleh manusia telah ada sebelum 3000 SM dan dibuktikan dalam kehidupan masyarakat kuno baik di Mesir maupun di Mesopotamia. Tingkat awal dalam pengembangan tulisan adalah piktogram, di mana gambar-gambar melambangkan obyek-obyek material yang sama (gambar 2.1). Akhirnya piktogram berkembang menjadi ideogram di mana simbol-simbol gambar mengetengahkan ide-ide juga. Seiring dengan perjalanan waktu, piktogram dan ideogram ini menjadi lebih abstrak (sejenis steno atau tulisan cepat) dan menandakan kata (logogram) dan suku kata. Tingkat terakhir dari tulisan merupakan peralihan dari sistem penulisan suku kata kepada tulisan bersifat abjad, di mana satu simbol melambangkan satu huruf dari sistem penulisan abjad.

Bahasa Ibrani dari Perjanjian Lama adalah suatu sistem penulisan abjad dan tergolong sebagai bahasa Semit Barat Laut yang berbeda dengan sistem penulisan suku kata dari Asyur dan Babilonia di Mesopotamia (gambar 2.2). Bahasa Ibrani dan Fenisia, Moab, Amon Edom, dan Ugarit semuanya adalah dialek abjad yang diperoleh dari suatu sistem bahasa abjad proto-Semit yang lazim (lihat Yesaya 19:18, di mana nabi menyebut bahasa Ibrani sebagai suatu dialek orang Kanaan).



Bahan-bahan untuk Tulis


Berbagai macam bahan dipergunakan sebagai permukaan untuk menulis oleh bangsa-bangsa dari Timur dekat kuno. Berbagai inskripsi penting terpelihara di tembok-tembok batu dan lempengan-lempengan batu (lihat daftar ilustrasi). Misalnya, inskripsi Behistun yang tersohor dalam tiga bahasa dari Raja Darius dari Persia itu digoreskan ada permukaan batu dari sebuah tebing. Batu Roseta dan batu Moab merupakan contoh- contoh lain yang terkenal dari dokumen-dokumen yang diukirkan pada batu padat. Perjanjian Lama menunjukkan bahwa Dekalog (Sepuluh Hukum) dituliskan pada "loh-loh batu" (Keluaran 32:15-16) dan bahwa kemudian Yosua membuat salinan dari Hukum Musa di atas batu (Yosua 8:32).

Bahan-bahan kuno lain untuk tulis menulis termasuk lempengan tanah liat dan kayu (terutama di Mesopotamia, tetapi juga dikenal di Siro- Palestina di Ebla dan Ugarit, bdg Yesaya 30:8; Habakuk 2:2), manuskrip dan kitab gulungan dari papirus (dipergunakan mulai dari milenium ketiga sampai milenium pertama SM, bdg. Ayub 8:11, Yesaya 18:2), dan perkamen kulit binatang yang disamak). (Kitab gulungan Yeremia yang dibakar oleh Raja Yoyakim mungkin merupakan papirus atau perkamen bdg. Yeremia 36:2). Ostraka (pecahan-pecahan tembikar) biasanya dipergunakan sebagai bahan untuk tulis yang bukan hanya berlimpah ruah tetapi juga tidak mahal di seluruh wilayah Timur Dekat Kuno, kendatipun bahan itu tidak disebut dalam Perjanjian Lama. Kitab gulungan logam yang ditempa kadang-kadang dipergunakan untuk suatu tujuan khusus. (Sebuah kitab gulungan tembaga ditemukan di antara tulisan-tulisan yang ditinggalkan dalam gua-gua sepanjang Laut Mati oleh masyarakat Qumran; lihat pasal 5 untuk suatu uraian tentang kitab-kitab gulungan Laut Mati.

Perjanjian Lama tidak menyebut penggunaan tinta untuk menulis pada kitab gulungan, tetapi menulis mengenai besi pengukir atau pena besi (Ayub 19:24; Yeremia 17:1), pena buluh (Yeremia 8:8), pisau raut untuk menajamkan pena (Yeremia 36:23), dan tempat tinta (Yeremia 36:18) sebagai alat-alat yang dipergunakan untuk menulis. Sifat dari proses penyalinan dengan tangan dalam dunia kuno sangat mengutamakan pendengaran, penghafalan, dan pembacaan dokumen-dokumen di hadapan umum - karena itu Perjanjian Lama selalu menekankan hal "mendengarkan" firman Tuhan. Menyebarluaskan perkataan yang tertulis juga menyebabkan diperlukannya pelayan-pelayan seperti pelari cepat pembawa kabar, bentara yang mengumumkan berita, dan juru tulis (bdg. 2Samuel 18:19- 23; Daniel 3:4).



Para Juru Tulis Perjanjian Lama


Pengembangan sistem menulis di Timur Dekat Kuno menyebabkan munculnya golongan juru tulis yang profesional. Hal ini juga berlaku bagi masyarakat Ibrani pada zaman Perjanjian Lama. Di Israel pada masa sebelum pembuangan para sekretaris atau panitera negara merupakan tokoh penting baik di bidang keagamaan maupun di pemerintahan sipil (lihat 2Samuel 8:16-17; 20:23-26).

Selama zaman kerajaan-kerajaan Ibrani para juru tulis sedikit banyak berfungsi sebagai "diplomat" karena keahlian mereka dalam bahasa- bahasa dan kesusastraan pada waktu itu memudahkan hubungan surat- menyurat secara internasional (bdg. 2Raja-Raja 18:18-26). Para juru tulis ini juga menulis surat-surat pribadi dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat umum (misalnya, Yesaya 50:1; Yeremia 36:18) dan mencatat data yang sah mengenai kemiliteran dan keuangan untuk kerajaan (bdg. 1Raja-Raja 4:3; 2Raja-Raja 22:3-4; 2Tawarikh 24:11; 26:11). Orang -orang Lewi juga melayani sebagai juru tulis dan pencatat untuk Bait Allah (2Tawarikh 34:13,15).

Sesudah kejatuhan kerajaan Ibrani golongan juru tulis pada masa pasca pembuangan Israel semata-mata dihubungkan dengan Bait Allah dan fokus pekerjaan mereka lebih dipersempit. Para juru tulis Bait Allah ini pada dasarnya adalah cendekiawan yang mengabdikan diri mereka untuk menyalin, melestarikan, menerbitkan, dan menafsirkan Hukum Musa. Ezra sering kali disebut sebagai pelopor dari golongan ahli kitab atau ahli Taurat ini (Ezra 7:1-10). Pada masa Perjanjian Baru, para ahli Taurat merupakan suatu golongan agama dan politik yang berpengaruh di kalangan Yudaisme. Mereka merupakan penentang utama dari pelayanan Yesus, menuduh Dia telah melanggar hukum-hukum Yahudi (bdg. Matius 23:2).



Teks dan Berbagai Versi Perjanjian Lama


Naskah-naskah yang paling awal dari Perjanjian Lama ditulis dalam dua puluh dua huruf konsonan dari abjad Ibrani. Tulisannya diatur dalam baris-baris berlajur tanpa disertai pemisahan kata-kata untuk menghemat tempat. Para ahli kitab melanjutkan pemindahan teks-teks konsonan itu sampai pada zaman para Masoret (kira-kira tahun 500-900 TM). Para Mazoret adalah cendekiawan dan ahli kitab Yahudi yang memperbaiki pembagian kata-kata dan menambahkan huruf hidup atau tanda huruf hidup, tanda baca, dan pembagian ayat pada Perjanjian Lama Ibrani. Sekarang ini teks Ibrani Perjanjian Lama disebut teks Masoret (MT), yang menunjukkan pentingnya sumbangan para Masoret pada pemeliharaan Alkitab Ibrani.

Di samping catatan-catatan di pinggir halaman yang dibuat oleh para Masoret yang menunjukkan peningkatan atau pembetulan versi dari kata- kata atau ayat-ayat, maka perkembangan-perkembangan yang terjadi kemudian dalam Alkitab Ibrani meliputi pembagian tambahan dari kitab- kitab Perjanjian Lama ke dalam pasal-pasal. Pertama kalinya diperkenalkan dalam Alkitab bahasa Latin oleh Stephen Langdon (1150- 1228), pembagian pasal-pasal dipergunakan di Alkitab Ibrani dalam tahun 1518 (Edisi Bomberg). Pasal-pasal diberi nomor dalam Alkitab Ibrani oleh Arius Montanus (sekitar tahun 1571), sedangkan cara ini sudah dipakai dalam Perjanjian Lama edisi Latin (sekitar 1555).

Perubahan nasib dalam sejarah dan politik yang dialami bangsa Israel mengharuskan penerjemahan Alkitab Ibrani ke dalam bahasa- bahasa lain. Beberapa versi kuno ini masih tersedia dalam bentuk manuskrip dan dianggap sebagai saksi-saksi penting sehubungan dengan teks Perjanjian Lama Ibrani. Versi yang lebih penting lagi termasuk Pentateukh versi Samaria (Alkitab orang Samaria yang tanggalnya ditentukan sekitar abad keempat atau kelima SM), Targum versi Aram (saduran pra-Kristen dari Perjanjian Lama dalam bahasa Aram, bahasa pergaulan dari zaman Babilonia dan awal zaman Persia, bdg. Neh. 8:8). Septuaginta Yunani (hasil tambahan dari dampak Helenisme pada bangsa Yahudi, sekitar tahun 250 SM), Vulgata Latin dari Hieronimus (382-405 TM) dan Pesyita Siria (sekitar tahun 400 Tm).



Kritik Teks


Penyalinan dan penerjemahan Perjanjian Lama Ibrani selama berabad-abad telah melipatgandakan jumlah naskah yang tersedia sehingga terdapat beribu-ribu salinan yang masih ada dalam bahasa yang berbeda-beda dari berbgai periode. Dengan sendirinya proses penyalinan yang terus dilakukan dengan tangan menyebabkan terjadinya berbagai kekeliruan transmisi. Kekeliruan-kekeliruan dari penglihatan, pendengaran, tulisan, daya ingat dan penilaian manusia ini disebut sebagai varian (ejaan atau bunyi yang berbeda-beda dari kata yang sama) atau bacaan yang berbeda dari teks.

Kritik teks, atau kritik rendah terhadap penulisan Alkitab adalah ilmu pengetahuan perbandingan naskah. Tujuan penelitian naskah adalah menetapkan atau memulihkan teks tertulis Perjanjian Lama sedapat mungkin kepada bacaannya yang asli. Praktik atau metodologi penelitian naskah termasuk mengumpulkan, menyortir, dan mengevaluasi bacaan- bacaan yang berbeda-beda dari ayat atau bagian tertentu di Alkitab, kemudian dilanjutkan dengan menilai bukti naskah itu untuk memilih bacaan yang paling cocok dari teks yang diteliti atas dasar data yang tersedia (bdg. catatan tepi dalam Alkitab bahasa Inggris modern di 1Samuel 13:1, di mana penelitian naskah digunakan untuk memperbaiki angka yang menunjukkan lama pemerintahan Raja Saul).

Sepatah kata peringatan diperlukan di sini, agar kita tidak disesatkan oleh orang-orang yang menekankan berbagai varian dalam naskah-naskah Perjanjian Lama sebagai bukti yang menentang integritas dan kebenaran Alkitab. Mengingat usianya yang sudah berabad-abad, Perjanjian lama sebenarnya berada dalam keadaan terpelihara yang sangat baik. Hal ini antara lain disebabkan oleh prosedur penyalinan yang cermat sekali dari para ahli kitab Ibrani dan Kristen, penyaluran naskah-naskah Alkitab ke mana-mana sejak awal, dan sikap hormat dan komitmen terhadap Alkitab sebagai "Firman Allah yang diilhami" baik oleh orang Ibrani maupun orang Kristen selama berabad-abad. Yang sama pentingnya adalah pekerjaan Roh Kudus, yang mengilhami penulis manusia, menerangi para pembacanya, dan menjadi pengawas dalam proses kanonisasi.




Sumber :
Andrew E. Hill & John H. Walton, SURVEI PERJANJIAN LAMA : Pembentukan Kitab-kitab Perjanjian Lama, Gandum Mas, 1991, Halaman : 19 – 27


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Mon Nov 05, 2007 2:23 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
SUSUNAN PERJANJIAN LAMA (KANON)



Dalam mempelajari setiap buku, sangat penting kita mengetahui susunan isinya. Demikian juga untuk Alkitab, dan dalam hal ini perlu diketahui suatu istilah, yaitu "kanon", yang berarti "susunan kitab- kitab Alkitab" atau "daftar isi Alkitab". Ada dua kanon Perjanjian Lama yang penting, yakni "Kanon Ibrani" dan "Kanon Yunani". Isinya sebenarnya sama, hanya susunan kitab-kitabnya yang berbeda.

Kanon Ibrani ialah daftar isi yang berlaku untuk Alkitab dalam bahasa Ibrani. Kanon Ibrani itu terdiri dari 24 kitab, yang dibagi atas tiga kelompok sebagai berikut:



KANON IBRANI = SUSUNAN ALKITAB BAHASA IBRANI


1. TAURAT (bahasa Ibrani: torah)

1. Kejadian
2. Keluaran
3. Imamat
4. Bilangan
5. Ulangan


2. NABI-NABI (bahasa Ibrani: nevi'im)
(a) Nabi-nabi yang dahulu


6. Yosua
7. Hakim-hakim
8. Samuel
9. Raja-raja

(b) Nabi-nabi yang kemudian

10. Yesaya
11. Yeremia
12. Yehezkiel
13. 12 nabi


3. KITAB-KITAB (bahasa Ibrani: ketuvim)

14. Mazmur
15. Amsal
16. Ayub
17. Kidung Agung
18. Rut
19. Ratapan
20. Pengkhotbah
21. Ester
22. Daniel
23. Ezra-Nehemia
24. Tawarikh


Yesus menyebut ketiga bagian kanon Ibrani dalam Lukas 24:44 (bagian ketiga disebut "Mazmur", sesuai dengan nama kitab yang pertama dan terpenting dalam bagian itu). Dalam Matius 23:35 Dia menyebut dua pembunuhan, yaitu yang pertama dan yang terakhir dilaporkan dalam kanon Ibrani (Kej 4:8; 2Taw 24:20-21). Agaknya Yesus membaca Alkitab dalam bahasa Ibrani dan mengenal Kanon Ibrani, sebagaimana biasa di antara orang-orang Yahudi di Palestina pada zaman itu.

Kanon Yunani berlaku untuk Alkitab berbahasa Yunani dan juga dipakai untuk Alkitab dalam bahasa Indonesia. Dalam Kanon Yunani beberapa kitab yang terdiri dari lebih dari satu bagian dihitung sesuai dengan jumlah bagian tersebut, misalnya Kitab Samuel menjadi 39, yang dibagi atas empat kelompok sebagai berikut:



KANON YUNANI = SUSUNAN ALKITAB BAHASA YUNANI/INDONESIA


1. TAURAT

1. Kejadian
2. Keluaran
3. Imamat
4. Bilangan
5. Ulangan


2. SEJARAH (a) Sejarah yang pertama

6. Yosua
7. Hakim-hakim
8. Rut
9. 1Samuel
10. 2Samuel
11. 1Raja-raja
12. 2Raja-raja

(b) Sejarah yang kedua

13. 1Tawarikh
14. 2Tawarikh
15. Ezra
16. Nehemia
17. Ester


3. SASTRA

18. Ayub
19. Mazmur
20. Amsal
21. Pengkhotbah
22. Kidung Agung


4. NUBUAT

(a) Kitab-kitab nabi besar


23. Yesaya
24. Yeremia
25. Ratapan
26. Yehezkiel
27. Daniel

(b) Kitab-kitab nabi kecil 28. Hosea

29. Yoel
30. Amos
31. Obaja
32. Yunus
33. Mikha
34. Nahum
35. Habakuk
36. Zefanya
37. Hagai
38. Zakaria
39. Maleakhi


Kalau kita membandingkan Kanon Ibrani dengan Kanon Yunani, ternyata bahwa urutan kitab-kitab adalah sama dalam kedua kanon untuk kelompok kitab yang merupakan dasar Perjanjian Lama, yakni "Taurat". Kitab- kitab yang lain disusun menjadi tiga kelompok, sesuai dengan jenis masing-masing kitab, yaitu sejarah, sastra dan nubuat. "Nabi-nabi yang dahulu" sebenarnya mengandung lebih banyak sejarah daripada nubuat, maka digolongkan sebagai sejarah. Sedangkan "Nabi-nabi yang kemudian" kebanyakan terdiri dari nubuat-nubuat dan digolongkan dalam bagian terakhir sebagai nubuat. Kelompok "Kitab-kitab" dibagi dalam kanon Yunani menurut jenis masing-masing: Rut, Ester, Ezra-Nehemia dan Tawarikh berjenis sejarah; Mazmur, Amsal, Ayub, Kidung Agung dan Pengkhotbah dikumpulkan sebagai tulisan-tulisan sastra; dan Ratapan serta Daniel digolongkan sebagai kitab nubuat.

Kanon Yunanilah yang dikenal oleh orang Kristen pada umumnya, karena diikuti oleh Alkitab dalam bahasa Latin, Inggris, Indonesia dan hampir semua terjemahan Kristen. Oleh karena itu maka kanon Yunani yang menjadi dasar buku pengantar ini.

Perjanjian Lama boleh dilukisan sebagai suatu perpustakaan kecil, yang terdiri dari 39 kitab pada 6 rak, sesuai dengan pembagian kanon Yunani, sebagaimana nampak dalam gambar berikut ini:

Image


1.4 Kitab-kitab Apokrifa/Deuterokanonika

Kitab-kitab Perjanjian Lama yang disebut di atas adalah kitab-kitab yang diterima oleh gereja-gereja Protestan (Reformasi). Perlu diketahui bahwa ada juga beberapa tulisan yang diterima oleh gereja Katolik Romawi dan termuat dalam Alkitab terbitan pihak Katolik dan dalam beberapa Alkitab terbitan ekumenis, yaitu:

• riwayat Tobit;
• riwayat yudit;
• Kitab I dan II Makabe;
• Kebijaksanaan Salomo;
• hikmat Yesus bin Sirakh;
• Kitab Barukh serta Surat Yeremia;
• tambahan-tambahan pada Kitab Ester dan Daniel.

Tulisan-tulisan tersebut dinamakan "Apokrifa" ('tersembunyi') atau "Deuterokanonika" ('kanon yang kedua').

Pada umumnya kitab-kitab Apokrifa/Deuterokanonika dikarang sesudah Perjanjian Lama yang lain, dan sebagian dikarang dalam bahasa Yunani, sehingga tidak termuat dalam Alkitab bahasa Ibrani. Sewaktu Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta) maka kitab-kitab tersebut diikutsertakan, ditambah juga dengan beberapa tulisan lainnya.

Agama Yahudi dan gereja-gereja Prostestan hanya menerima kitab-kitab dari Perjanjian Lama Ibrani sebagai firman Allah, sedangkan gereja Katolik Romawi menerima juga beberapa kitab dari Septuaginta. Akibatnya, kitab-kitab Aprokifa/Deuterokanonika dianggap sebagai buku bacaan saja oleh gereja Protestan; sedangkan oleh gereja Katolik Romawi diakui sebagai kitab suci.



Sumber :
Dr. David Baker, Ed., MARI MENGENAL PERJANJIAN LAMA : Susunan Perjajian Lama (Kanon), BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1997, Halaman : 15-20


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Mon Nov 05, 2007 2:33 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
KANON PERJANJIAN LAMA



I. Nama dan Konsepsi


Kata Yunani kanon, berasal dari bahasa Semit (bnd Ibrani qaneh, Yeh. 40:3 dst). Pada mulanya berarti alat pengukur, kemudian dalam arti kiasan berarti 'peraturan'. Kata itu mendapat tempat dalam bahasa gerejawi. Pertama, menunjukan kepada rumusan pengakuan iman, khususnya simbol (pengakuan) baptis, atau gereja pada umumnya. Kata kanon juga dipakai mengacu pada peraturaran-peraturan gereja yang sifatnya berbeda-beda, tapi hanya dalam arti 'daftar', 'rentetan'. Baru pada pertengahan abad 4 kata itu diterapkan kepada Alkitab. Dalam pemakaian Yunani kata 'kanon' agaknya menunjuk hanya kepada daftar tulisan- tulisan kudus, tapi dalam bahasa Latin kata ini juga menjadi sebutan bagi Alkitab sendiri, jadi menyatakan bahwa Alkitab menjadi patokan bagi perbuatan yang mempunyai kuasa ilahi. Maksud yang terkandung dalam pemakaian istilah 'Kanon PL' ialah bahwa PL adalah wujud lengkap dan utuh dari kumpulan Kitab-Kitab yang tak boleh dikutak-kutik lagi, yaitu Kitab-Kitab yang diilhamkan oleh Roh Allah. Dan Kitab-Kitab itu mempunyai wibawa normatif serta dipakai sebagai patokan bagi kepercayaan dan kehidupan kita.



II. Sifatnya membuktikan keotentikannya


Kitab-kitab PL sama dengan Kitab-kitab PB, yakni dilhamkan oleh Allah. ILHAM, PENGILHAMAN. Tapi Roh Kudus bekerja dalam hati umat Allah, sehingga mereka menerima Kitab-kitab itu sebagai Firman Allah, dan menundukkan diri kepada wibaan ilahinya. Pemeliharaan Allah secara khusus meliputi baik asal usul masing-masing kitab maupun pengumpulannya, oleh pemeliharaan Allah secara khusus inilah maka bilangan-bilangan Kitab PL seperti yang ada sekarang ini, tidak lebih dan tidak kurang.

Inilah kebenaran asasi mengenai Kanon PL dan asal usulnya. Dan apa yang telah dikatakan di atas mengandung gagasan, bahwa Allah menyediakan Kanon, Ia memakai manusia sebagai alat-Nya; perbuatan- perbuatan dan pemikiran-pemikiran manusia turut berperan dalam seluruh proses ini. Karena itu timbul persoalan. Apakah yang kita ketahui mengenai perbuatan-perbuatan dan penalaran manusia itu? Sejak kapan Kanon ini atau bagian-bagiannya diakui kanonik? Bagaimana cara pengumpulan Kitab-kitab kudus itu? Pengaruh siapa yang berperan dan menentukan dalam tahapan-tahapan perkembangannya yang bermacam-macam?

Data-data berikut perlu guna menjawab persoalan-persoalan itu. Tapi baiklah di perhatikan, bahwa data-data itu sedikit sekali, justru tidak dapat menarik kesimpulan yang pasti berdasarkan data itu. Penelitian historis hanya menunjukkan sedikit peranan sinode-sinode atau lembaga-lembaga berwenang mengenai rumusan Kanon PL. Hal ini dapat dimaklumi, sebab tidak dapat menarik kesimpulan yang pasti berdasarkan data itu. Penelitian historis hanya menunjukkan sedikit peranan sinode-sinode atau lembaga-lembaga berwenang mengenai rumusan Kanon PL. Hal ini dapat di maklumi, sebab itu diperlukan badan atau lembaga berwibawa seperti itu yang harus mendapat peranan besar dalam perumusannya. Alkitab memiliki wibawanya bukan dari pernyataan- pernyataan gerejawi, juga bukan dari wibawa manusia apa pun.

Alkitab bersifat autopistos, 'membuktikan sendiri keotentikannya' dengan menyinarkan sendiri wibawa ilahinya. Karena kesaksian Roh Kudus maka orang di mampukan menjadi cakap menangkap terang ini. Seperti dikatakan oleh Confessio Belgica (Pengakuan Iman Gereja-gereja di Nederland), art 5, 'Kita percaya tanpa sedikit meragukan segala sesuatu yang tercakup di dalamnya; bukan karena gereja menerimanya dan menganggapnya demikian, tapi khususnya Roh Kudus memberi kesaksian di dalam hati kita, bahwa kitab-kitab itu datangnya dari Allah'(bdn Westminster Confession, I, 4, 5). Konsili-konsili gereja dan badan- badan yang berwibawa lainnya telah mengambil kesimpulan mengenai kanon itu, dan pertimbangan-pertimbangan ini memang mempunyai fungsi penting dalam menjadikan Kanon itu diakui. Tapi bukan suatu konsili gereja, juga bukan wibawa manusia apa pun yang lain, yang membuat Kitab-kitab dari Alkitab itu menjadi Kanon atau yang memberikan wibawa ilahi kepadanya. Kitab-kitab itu pada dirinya memiliki sendiri dan menggunakan sendiri wibawa ilahinya sebelum badan-badan seperti itu membuat pernyataan mereka; wibawa kitab-kitab itu diakui dikelompok besar ataupun kelompok kecil. Konsili-konsili gerejawi tidak memberikan wibawa ilahi kepada Kitab-kitab itu, tapi mereka justru beroleh dan mengakui bahwa Kitab-kitab itu memiliki wibawa dan menggunakannya.



III. Pengakuan terhadap masing-masing Kitab


Kita akan membicarakan data-data yang disajikan sendiri oleh PL, berkaitan dengan pengumpulan dan pengakuan terhadap Kitab-kitab itu. Dalam rangka ini kita akan mengikuti urutan Kitab-kitab itu sesuai Alkibar Ibrani. Sambil lalu baiklah mengamati bahwa kehadiran beberapa dari kitab itu secara tersendiri, berkaitan dengan pekerjaan pengumpulan yang mendahuluinya. Hal ini menjadi amat jelas, antara lain, dengan Mazmur (lihat ump Mazmur 75:20) dan Amos (lih ump Amsal 25:1).


a. Taurat

Sedini zaman Musa, pengumpulan hukum Taurat disertai pelestariannya dalam bentuk tertulis. Seperti nampak dari Kel. 24:4-7, Musa membuat 'kitab perjanjian' dan orang-orang mengakui wibawa ilahinya. Ul.31:9- 13 (lih juga ay 24 dab) memberitakan bahwa Musa menulis 'hukum Taurat itu', yakni inti UI, dan mengambil langkah-langkah untuk memastikan, bahwa wibawa ilahinya akan diakui sampai jauh di masa depan. Perlu diperhatikan, di sini telah dinubuatkan bahwa umat itu akan sering gagal untuk mengakui wibawa ilahi itu. Banyak kesaksian menunjukkan bahwa sepanjang sejarah Israel, Taurat Musa dipandang sebagai tolok ukur ilahi bagi iman dan hidup (ump Yos 1:7,8; 1Raj 2:3; 2Raja 14:6, dab). Kita tidak tahu pasti bilamana Pentaeukh (Kitab Lima Jilid) lengkap seutuhnya, tapi boleh dianggap, bahwa sejak awal telah dihormati berwibawa tinggi. Pentateukh berisi hukum Taurat yang diberikan Allah kepada Israel dengan perantaraan Musa, dan sebagai tambahan, laporan tentang awal sejarah Israel, yakni perlakuan Allah terhadap umat pilihanNya. Dua catatan dapat ditambahkan.

1. Pada zaman dahulu orang tidak memperlakukan Kitab-kitab yang dianggap Kudus sebagaimana kita memperlakukannya sekarang. Dalam beberapa kitab ada bagian-bagian--kecil atau besar--yang dianggap tambahan dari zaman yang lebih kemudian. Satu hukum dapat diganti dengan hukum lain, karena keadaan-keadaan yang berubah mengharuskan kebijaksanaan itu (bnd Bil. 26:52-56 dengan 27:1-11;36; dan bnd Bil. 15:22 dab dengan Im 4). Sekalipun demikian, jelas orang Israel sangat berhati-hati dalam memperlakukan naskah-naskah tertulis yang berisi sejarah Israel atau hukum-hukum mereka. Penambahan atau perubahan agaknya terbatas dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang berwenang berbuat demikian karena jabatan mereka. Sekedar catatan bernada lebih umum dapat diberikan: kenyataan bahwa orang Israel sangat hati-hati memperlakukan tulisan-tulisan kudusnya nampak dari cara para penulis PL memakai sumber-sumber mereka. Mereka tidak memperlakukan seperti para penulis modern, tapi menyalin bagian-bagian yang perlu seharafiah mungkin.

2. PL mencatat bahwa pada dua kesempatan, orang Israel dengan tulus berjanji untuk mentaati kitab Taurat yang diberikan Allah dengan perantaraan Musa, yakni pada pemerintahan Yosua (2Raj. 22, 23; 2Taw. 34, 35; 'kitab Taurat' mungkin berarti Kitab UI) dan pada zaman Ezra dan Nehemia (Ezr. 7:6, 14; Neh. 8-10; 'kitab Taurat' di sini mungkin berarti seluruh Pentateukh).


b. Nabi-nabi

Tiga faktor khusus memberi sumbangan kepada pengakuan terhadap 'nabi- nabi terdahulu' (Yos, Hak, Sam, Raj) sebagai Kitab-kitab yang berwibawa. Pertama, Kitab-kitab ini menguraikan perlakuan Allah terhadap umat-Nya yang telah dipilih-Nya. Kedua, Kitab-kitab ini menguraikan perlakuan Allah terhadap pilihan-Nya itu dalam jiwa hukum Taurat dan para Nabi-nabi. Ketiga, para penulis Kitab itu tentu adalah penjabat khusus, dalam arti setidak-tidaknya demikian. Menarik sekali membaca Yosua 24:26, bahwa beberapa tambahan kemudian diberikan kepada 'kitab perjanjian Allah', yang anaknya ialah kitab hukum Taurat yang disebutkan dalam Ul. 31:24, dab.

Karena sifatnya khas maka tulisan 'nabi-nabi yang kemudian' (Yes, Yer, Yeh dan ke-12 'Nabi-nabi kecil') dihormati berwibawa sejak semula oleh kelompok kecil atau besar. Bahwa nubuat-nubuat mereka mengenai bencana digenapi dalam Pembuangan, secara pasti mendampakkan peluasan wibawa mereka. Fakta bahwa seorang nabi kadang-kadang mengutip nabi lain, jelas menyatakan bahwa mereka mengakui wibawa nabi terdahulu itu. Justru lebih dari sekali seorang nabi memarahi Israel karena mereka tidak mendengarkan para nabi yang mendahuluinya (bnd Za. 1:4 dab; Hosea 6:5, dst). Yesaya 34:16 agaknya menyebut gulungan yang di dalamnya dituliskan nubuat-nubuat Yesaya dan disebut sebagai 'kitab Tuhan'. Daniel 9:2 menyebut 'kumpulan Kitab' yang dengannya jelas dimaksudkan kumpulan tulisan nabi-nabi, di antaranya termasuk nubuat- nubuat Yeremia. Dari hubungannya jelas bahwa tulisan para nabi ini dihormati sebagai memiliki wibawa ilahi.


c. Tulisan-tulisan

Bagian ketiga dari Kanon Ibrani berisi Kitab-kitab yang sifatnya berbeda-beda, sehingga beberapa dari antara kitab itu dihormati sebagai tulisan kudus. Mengenai Kid sering dikemukakan, bahwa tempatnya di dalam Kanon adalah disebabkan oleh penafsiran alegoris yang dikenakan kepadanya. Tapi keterangan ini tak dapat dibuktikan. Pertama, penempatan demikian bermula pada suatu konsepsi yang keliru tentang 'kanonisasi' (lih butir II di atas). Kedua, sekalipun seandainya Kid belum lengkap seutuhnya sebelum Zaman Pembuangan, namun kitab itu masih memuat bahan-bahan kuno (ump Kid. 6:4). Tiada alasan untuk menyangkal kemungkinan, bahwa pada zaman kuno kidung-kidung cinta ini, yang di dalamnya Salomo menjadi salah seorang tokoh utama, pada dasarnya dipandang tulisan kudus. Akhirnya, seruan bagi pengakuan-pengakuan formal dalam kepustakaan Yahudi (ump di Aboth de- Rabbi Nathan, 1) adalah lemah, karena pengakuan-pengakuan formal itu tidak berasal dari zaman.

Tak perlu mempersoalkan mengapa Mazmur dihormati sebagai tulisan kudus. Banyak dari mazmur mungkin berfungsi sebagai rumusan-rumusan bagi tempat kudus; Daud memberi sumbangan penting dalam penulisan mazmur; beberapa mazmur bernada nubuat (ump Mazmur 50; 81; 110), mengenai Kitab-kitab hikmat, diantaranya Amsal dan Pengkotbah dan, sampai taraf tertentu, Ayub, baiklah diingat, bahwa hikmat dan khususnya kuasa untuk berbuat sebagai guru hikmat, dipandang sebagai kekecualian anugerah Allah (bnd 1Raj. 3:28; 4:29; Ayb. 38, dab; Mzm. 49:1-4; Ams. 8; Pengkotbah 12:11, dst).

Kenyataan bahwa banyak Amsal berasal dari Salomo tentu telah memberi sumbangan bagi pengakuan amsal. Pengamatan-pengamatan yang sama seperti di lakukan dibutir (b) di atas, dapat diterapkan atas Kitab- kitab historis dan nabiah: Ezr, Neh, Rut, Est dan Rat. Halnya sama dengan kedua Kitab Tawarikh, yang sekalipun dengan cara yang berbeda dengan Kitab Raja-Raja, namun ditulis dalam jiwa hukum Taurat dan Nabi-nabi.

Sajian di atas tentu sama sekali tidak menjawab segala persoalan yang mungkin timbul. Marilah kita bahas salah satu dari persoalan itu. Mengapa sumber-sumber yang dipakai bagi penulisan Tawarikh tidak dimasukkan ke dalam Kanon? Benar, bahwa beberapa kitab yang ada selama waktu penulisan Kitab-kitab PL telah hilang, ump 'Kitab Orang Jujur' (Yos. 10:13; 2Sam.1:18). Tapi bertalian dengan sumber-sumber Tawarikh persoalan lebih gawat dan hangat, karena Kitab-kitab sumber data itu ada selama waktu penyusunan Tawarikh, dan karena Kitab-kitab sumber itu ditulis, paling sedikit sebagian, oleh nabi-nabi (ump 1 Taw. 29:29; 2Taw. 9:29; 32:32). Kita harus menganggap bahwa kitab-kitab itu - atau apakah itu satu kitab? - diungguli dan diganti oleh Tawarikh.



Sumber :
J.D. Douglas, Ed., ENSIKLOPEDI ALKITAB MASA KINI; Jilid A-L : Kanon Perjanjian Lama, Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta, 1993, 1994, Halaman : 510-511.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Nov 08, 2007 10:20 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
KANON DAN KITAB-KITAB PERJANJIAN BARU (PB)



A. KANON PB


Pengumpulan naskah-naskah PB terjadi sebagai proses pimpinan Roh Kudus dalam memelihara hasil inspirasi yang dituliskan oleh para penulis Alkitab. Pengumpulan naskah-naskah PB yang akhirnya diterima sebagai kitab-kitab PB dalam Alkitab disebut sebagai Kanonisasi. Melalui beberapa peristiwa, penyeleksian penyusunan daftar kitab (kanon) itu akhirnya diterima gereja.


1. Pengertian Kanon

Kata kanon berasal dari kata Yunani kanon, artinya buluh. Karena pemakaian "buluh" dalam kehidupan sehari-hari jaman itu adalah untuk mengukur, maka kanon juga berarti sebatang tongkat/kayu pengukur atau penggaris.

Namun pada abad ke 4 Athanasius memberikan arti teologis bahwa kanon dipakai untuk menunjuk kepada Alkitab. Sehingga artinya adalah: Daftar naskah kitab-kitab dalam Alkitab yang berjumlah 66 kitab, yang telah memenuhi standard peraturan-peraturan tertentu yang diterima oleh Gereja Tuhan sebagai kitab-kitab Kanonik yang diakui diinspirasikan oleh Allah dan memiliki otoritas penuh dan mutlak terhadap iman Kristen dan perbuatannya.


[/b]2. Sejarah Kanon PB

[/b]Setelah kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga, pengajaran Injil diteruskan pleh para Rasul Tuhan dengan otoritas penuh karena merekalah saksi-saksi mata tentang keselamatan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Tulisan-tulisan tentang pengajaran iman Kristen oleh para Rasul sangat dibutuhkan mengingat bahwa merekalah pada saksi mata yang dapat memberitakan pengajaran Injil Yesus Kristus dengan jelas dan menafsirkannya dengan tepat, sesuai dengan pimpinan Roh Kudus kepada mereka. Selama thn. 100 - 200 M, tulisan-tulisan para Rasul itu dipakai dan dikumpulkan oleh sidang-sidang jemaat dan kemudian di teruskan oleh gereja-gereja generasi berikutnya.


3. Daftar Kanon PB

Beberapa Daftar Kanon PB yang pernah berlaku dalam sejarah gereja:

a. Daftar Marcion

Daftar buku PB yang tertua disusun di Roma pada tahun 140 M oleh seorang bidat yang bernama Marcion. Menurut Marcion kitab PL harus ditolak dan juga kitab-kitab PB yang dipengaruhi oleh Yudaisme, karena menurutnya Allah PL mempunyai status yang lebih rendah dari Allah yang dinyatakan dalam diri Kristus. Itu sebabnya kanon Marcion hanya terdiri dari 2 bagian:

1. Kitab Injil Lukas (Injil yang tidak dipengaruhi oleh Yudaisme)
2. 8 Surat Paulus (3 Surat Penggembalaan tidak dimasukkan), yaitu: 1 & 2 Korintus, Efesus (Laodikia), Filipi, Kolose, 1 & 2 Tesalonika, Filemon.

b. Daftar Muratori

Daftar lain yang lebih muda dikenal dengan sebutan "Fragmen Muratori", berasal dari Roma pada akhir abad dua. Pada daftar kanonnya dimasukkan:
1. Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan Kisah Para Rasul.
2. 9 Surat Paulus kepada Jemaat dan 4 kepada perorangan.
3. 2 Surat Yohanes, Wahyu Yohanes dan Wahyu Petrus (kitab dari apokrifa).

c. Konsili Hippo (393M) dan Konsili Kartago (397M)

Konsili gereja di Afrika Utara ini menerima daftar 27 kitab-kitab PB yang kita pakai sekarang. Penerimaan mereka didasarkan pada kesadaran akan nilai kitab-kitab itu sebagai yang diinspirasikan oleh Allah. Ditambah lagi dengan fakta bahwa kita-kitab tsb. telah umum digunakan oleh gereja-gereja saat itu.


4. Kanon Injil dan Kisah Para Rasul

Pada mulanya kitab-kitab Injil itu merupakan satu kumpulan kitab dalam bentuk tunggal, tetapi dilaporkan sebagai "Menurut Matius", "Menurut Markus" dsb. Tapi pada tahun 115 M, Ignatius mengenal lebih dari satu Injil, jadi mungkin yang dimaksud adalah kumpulan Injil-injil.

Sekitar tahun 170 M, seorang bernama Tatianus membuat Injil rangkap empat menjadi satu cerita yang bersambung, atau disebut "Harmoni Injil-injil" (Diatessaron), salah satu bentuk yang disukai banyak orang.

Walaupun ada lebih dari 4 Injil yang dikenal jaman itu (mis. Injil Barnabas dll.), tapi Ireneus berkata bahwa tidak ada Injil lain selain 4 Injil yang sudah dikenal (Matius, Markus, Lukas, Yohanes). Ia berkata, seperti halnya 4 arah mata angin, maka gereja juga mempunyai 4 Injil sebagai tiang penyangga gereja.

Kitab Kisah Para Rasul mendapatkan pengakuan kanonik karena penulisnya sama dengan Injil ketiga (Lukas). Kedudukan kitab ini penting dalam kanon PB karena merupakan kitab yang sentral, menjadi penghubung antara kitab-kitab Injil dan Surat-surat Kiriman.



B. KITAB-KITAB PERJANJIAN BARU


1. Nama


Nama Perjanjian Baru berasal dari bahasa Latin Novum Testamentum. Istilah Testament atau covenant (bhs. Inggris) ini, artinya persetujuan antar dua pihak yang mengikat, lebih kuat dari hanya sekedar janji.

Bahasa Yunani dari Perjanjian Baru adalah He Kaine Diatheke, artinya pesan atau wasiat terakhir, yang melibatkan dua belah pihak dan sifatnya mengikat dan tidak dapat diubah. Oleh karena itu makna kata "Perjanjian Baru" disimpulkan sebagai perjanjian tertulis yang merupakan wujud persetujuan/kesepakatan yang baru antara Allah dan manusia melalui Kristus.


2. Isi


Isi dari Perjanjian Baru adalah penyataan rahasia janji Allah yang baru yang diwujudkan dalam catatan tentang kata-kata/pengajaran Yesus dan pada pengikut-Nya. Catatan ini terdiri dari 27 buku, yang ditulis dalam kurun waktu 45-50 tahun, ditulis oleh 8-9 orang penulis (berbangsa Yahudi kecuali Lukas). Pengelompokan isi Perjanjian Baru dapat dibagi sbb.:

a. Buku-buku yang berisi sejarah:

Kitab Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan Kisah Para Rasul; menceritakan tentang kehidupan dan kematian Yesus dan riwayat para pengikut-Nya setelah Yesus diangkat ke surga.

b. Buku-buku yang berisi pengajaran doktrin:

Semua surat-surat kiriman Rasul Paulus dan Rasul-rasul lain; surat-surat itu khususnya ditujukan kepada jemaat untuk mengajarkan tentang pokok-pokok iman Kristen serta pelaksanaan hidup Kristen.

c. Buku yang berisi nubuat:

Kitab Wahyu; mengungkapkan nubuatan masa kini dan masa yang akan datang melalui penglihatan dan pengalaman supranatural.


3. Susunan Kitab-Kitab PB


27 Kitab yang ada dalam Alkitab PB disusun tidak berdasarkan urutan tahun ditulis, melainkan berdasarkan kronologis sejarah kisahnya dan sebagian karena sifat-sifat sastranya. Susunan tsb. adalah sbb.:

Kitab Sejarah :

1. Matius, penulis Matius
2. Markus, penulis Markus
3. Lukas, penulis Lukas
4. Yohanes, penulis Yohanes
5. Kisah Para Rasul, penulis Lukas

Surat Kiriman :

6. Roma, penulis Paulus
7. 1Korintus, penulis Paulus
8. 2Korintus, penulis Paulus
9. Galatia, penulis Paulus
10. Efesus, penulis Paulus
11. Filipi, penulis Paulus
12. Kolose, penulis Paulus
13. 1Tesalonika, penulis Paulus
14. 2Tesalonika, penulis Paulus
15. 1Timotius, penulis Paulus
16. 2Timotius, penulis Paulus
17. Titus, penulis Paulus
18. Filemon, penulis Paulus

Surat Kiriman :

19. Ibrani, Penulis Anonim
20. Yakobus, Penulis Yakobus
21. 1Petrus, Penulis Petrus
22. 2Petrus, Penulis Petrus
23. 1Yohanes, Penulis Yohanes
24. 2Yohanes, Penulis Yohanes
25. 3Yohanes, Penulis Yohanes
26. Yudas, Penulis Yudas

Kitab Nubuat :

27. Wahyu, penulis Yohanes


4. Periode PB


Penempatan susunan kitab-kitab dalam Alkitab tidaklah sesuai dengan urutan usia penulisannya, tetapi kronologi peristiwanya. Untuk memudahkan penyelidikan, masa dalam PB dapat dibagi menjadi 3 periode waktu:

a. Periode Kelahiran (5 sM - 30 M)

Masa kehidupan Yesus diuraikan dalam kitab-kitab Injil.

b. Periode Perkembangan (30 M - 60 M)

Masa perkembangan karya kerasulan, khususnya pelayanan Rasul Paulus kepada jemaat non-Yahudi.

c. Periode Pemantapan (60 M - 100)

Masa ini (60-100M) tidak banyak diketahui, tapi yang jelas banyak tulisan-tulisan para Rasul dan juga kitab Injil yang baru beredar pada tahun-tahun ini.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Nov 08, 2007 10:31 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
KANON PERJANJIAN BARU



TENTANG masing-masing kitab Perjanjian Baru sudah didapatkan kesimpulan. Namun masih ada pertanyaan lain : bagaimana Perjanjian Baru itu sendiri sebagai kumpulan tulisan telah terjadi? Siapa yang mengumpulkan tulisan-tulisan itu dan atas dasar apa? Lingkungan macam apa yang mendorong penyusunan suatu daftar, atau kanon, dari kitab- kitab yang berwibawa?

Biasanya iman Kristen yang historis mengatakan bahwa Roh Kudus yang memimpin penulis masing-masing kitab, Dia juga yang memimpin seleksi dan pengumpulannya, jadi melanjutkan pemenuhan janji Tuhan bahwa Ia akan memimpin murid-murid-Nya dalam segala kebenaran. Bagaimana pun juga, ini merupakan sesuatu yang harus disingkapkan oleh penglihatan rohani, dan bukan oleh penelitian historis. Sasaran kita adalah menemukan apa yang diungkapkan penelitian historis tentang asal-usul kanon PB. Ada yang akan mengatakan kepada kita bahwa kita menerima ke 27 kitab PB berdasarkan kewibawaan Gereja. Seandainya pun demikian, bagaimana Gereja sampai mengakui kewibawaan ke 27 buku ini dan bukan yang lain, sebagai kitab-kitab yang pengilhaman dan kewibawaannya setingkat dengan kanon PL?

Daftar buku yang tertua dari Perjanjian Baru yang kita ketahui dengan pasti, disusun di Roma oleh seorang bidat, Marcion, tahun 140. Marcion membedakan Allah Perjanjian Lama yang lebih rendah dari Allah dan Bapa yang dinyatakan dalam Kristus. Oleh karena itu menurut setiap "anti Semitisme teologis" ini Perjanjian Lama harus ditolak dan juga bagian- bagian Perjanjian Baru yang dipengaruhi oleh Yudaisme. Dengan demikian kanon Marcion terdiri dari dua bagian :
(a) Kitab Injil Lukas yang telah dimurnikan dan yang paling sedikit mengandung Yudaisme, karena Lukas adalah seorang bukan Yahudi;
(b) Sepuluh surat Paulus (ketiga "Surat Penggembalaan" tidak dimuat). Tetapi daftar Marcion tidak mencerminkan ketetapan Gereja yang berlaku, melainkan penyimpangan dengan sengaja dari ketetapan itu.

Daftar lain yang lebih muda, juga berasal dari Roma, dari akhir abad II, yang biasa disebut "Fragmen Muratori", karena diterbitkan pertama kalinya tahun 1740 oleh antikuaris Kardinal L.A. Muratori. Sayangnya fragmen ini sudah rusak sejak permulaan, tetapi dengan terang menyebut Matius dan Markus, sebab ia mengacu kepada Lukas sebagai kitab Injil ketiga. Selanjutnya disebut Yohanes, Kisah Para Rasul, sembilan surat Paulus ke jemaat-jemaat dan empat kepada perorangan (Filemon, Titus, I dan II Timotius) [1], dua surat dari Yohanes [2], Wahyu Yohanes dan Wahyu Petrus (ini adalah kitab apokrif). Kitab Gembala dari Hermas disebut sebagai layak untuk dibaca dalam jemaat, tetapi tidak dimasukkan ke dalam daftar tulisan-tulisan nabiah ataupun rasuli.

Langkah-langkah pertama yang menuju pembentukan Kanon kitab-kitab Kristen yang berwibawa sehingga ini layak ditempatkan di samping Kanon Perjanjian Lama, adalah Alkitab Tuhan kita dan para rasul-Nya, nampaknya diambil sekitar permulaan abad kedua. Ini berdasarkan adanya bukti tentang peredaran dua kumpulan tulisan Kristen di dalam Gereja.

Pada waktu yang amat dini keempat kitab Injil disatukan dalam satu kumpulan. Mereka pasti sudah dikumpulkan segera setelah Injil menurut Yohanes ditulis. Kumpulan empat kitab ini mula-mula dikenal sebagai "Injil" dalam bentuk tunggal, jadi bukan sebagai "Injil-injil" dalam bentuk jamak; Jadi yang ada hanyalah satu Injil, yang dituturkan dalam empat laporan, dibeda-bedakan dengan kata "menurut Matius", "menurut Markus", dan seterusnya. Sekitar tahun 115 M, Ignatius, uskup Antiokhia, mengacu kepada "Injil" sebagai tulisan yang berwibawa. Oleh karena ia mengenal lebih dari satu dari keempat "Injil", maka mungkin sekali meskipun tanpa dikatakan bahwa yang dimaksudkannya dengan "Injil" adalah kumpulan empat kitab yang sebutannya memang demikian.

Sekitar tahun 170 M. seorang Kristen dari Assiria bernama Tatianus membuat Injil rangkap empat itu menjadi satu cerita yang bersambung, atau "Harmoni Injil-injil". Ini lama menjadi bentuk yang digemari orang, malahan mungkin bentuk yang resmi dari kitab Injil rangkap empat dalam gereja Assiria. Ini berbeda dari empat kitab Injil versi Siria Kuno. Tidak dapat dipastikan apakah bahasa asli yang dipakai Tatianus dalam menyusun Harmonia, yang biasa dikenal sebagai Diatessaron, adalah bahasa Yunani atau Siria. Tetapi tempat penyusunannya kelihatannya Roma dan bahasa aslinya mungkin bahasa Yunani. Fragmen Diatessaron dari Tatianus yang berbahasa Yunani telah diketemukan pada tahun 1933 di Dura-Europos di daerah aliran sungai Efrat. Bagaimanapun juga, kitab itu telah diberikan kepada orang-orang Kristen Assiria dalam bentuk Siria waktu Tatianus pulang dari Roma, dan Diatessaron Siria ini tetap menjadi "Versi Resmi" dari keempat kitab Injil bagi mereka, sampai diganti dengan Peshitta atau versi yang sederhana pada abad kelima. Pada zaman Irenacus, yang meskipun lahir di Asia tetapi telah menjadi uskup di Lyons di Galia kira-kira tahun 180 M, gagasan kitab Injil rangkap empat telah sedemikian umum diakui di Gereja, hingga ia dapat menyebutnya sebagai hal yang tetap dan diakui sama terangnya dengan keempat arah utama pada kompas atau keempat mata angin.

"Seperti halnya ada empat bagian bumi yang kita huni dan ada empat mata angin, dan seperti halnya Gereja tersebar di seluruh muka bumi dan Injil adalah tiang dan dasar bagi Gereja dan adalah nafas hidup, maka wajarlah bila bumi mempunyai empat tiang, yang menghirup ketidak- fanaan dari keempat penjuru dan menyalakan hidup manusia secara baru. Oleh karena itu teranglah bahwa Sang Sabda yang adalah arsitek dari segala sesuatu, yang duduk di atas Kerubim dan menggenggam segala sesuatu, setelah Ia menyatakan diri kepada manusia, memberikan kepada kita Injil dalam bentuk rangkap empat, tetapi dijadikan satu oleh satu Roh."

Kalau keempat kitab Injil dijadikan satu dalam satu jilid maka hubungan antara kedua bagian dari karya sejarah Lukas dilepaskan. Jadi kalau Injil Lukas dan Kisah Para Rasul dipisahkan maka nampaknya ada satu atau dua modifikasi dilakukan ke dalam teks pada bagian akhir Lukas dan permulaan Kisah Para Rasul. Aslinya agaknya Lukas menempatkan segala cerita tentang kenaikan ke Sorga dalam tulisannya yang kedua. Jadi kata-kata "dan terangkat ke Sorga" ditambahkan dalam Luk 24:51, untuk mengakhiri ceritanya, dan sebagai konsekuensinya ungkapan "Ia terangkat" ditambahkan dalam Kisah 1:2. Beberapa orang telah menemukan bahwa antara kedua cerita tentang kenaikan ke Sorga dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul kurang serasi. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh penyesuaian-penyesuaian waktu kedua kitab ini dipisahkan.

Bagaimanapun juga, Kisah Para Rasul dengan sendirinya kebagian kewibawaan dan kehormatan dari kitab Injil ketiga karena merupakan karya penulis yang sama, dan nampaknya juga diakui sebagai kanonik oleh semua orang kecuali oleh Marcion dan pengikut-pengikutnya. Tentu, Kisah Para Rasul mempunyai tempat yang penting sekali dalam kanon Perjanjian Baru karena merupakan kitab yang sentral, demikian kata Harnack. Sebab Kisah Para Rasul menghubungkan keempat kitab Injil dengan surat-surat, dan dengan ceritanya tentang pertobatan, panggilan dan pelayanan Paulus sebagai penginjil, ia menunjukkan dengan terang betapa nyatanya kewibawaan ramuli di belakang surat-surat Paulus itu.

Corpus Paulinum atau kumpulan tulisan-tulisan Paulus terkumpul kira- kira pada waktu yang sama dengan penghimpunan Injil rangkap empat itu[3]. Sama seperti kumpulan kitab-kitab Injil disebut Euanggelion, kumpulan dari tulisan Paulus disebut dengan satu kata Apostolos, dan tiap surat secara khusus disebut "kepada orang Roma", "Yang pertama kepada jemaat di Korintus", dan sebagainya. Segera surat kepada Orang Ibrani yang tanpa nama digandengkan dengan tulisan-tulisan Paulus. Kisah Para Rasul, untuk gampangnya, digandengkan dengan (surat-surat dari Petrus, Yakobus, Yohanes dan Yudas).

Hanya ada beberapa buku yang diragukan secara agak serius setelah pertengahan abad kedua, yaitu yang ada di akhir dalam deretan Perjanjian Baru kita. Origenes (185-254) menyebut keempat kitab Injil, Kisah Para Rasul, ketiga belas surat Paulus, I Petrus, I Yohanes dan Wahyu sebagai yang diakui semua jemaat; ia berkata bahwa Ibrani, II Petrus, II dan III Yohanes, Yakobus dan Yudas bersama dengan "surat Barnabas", Gembala Hermas, Didache dan "Injil menurut orang-orang Ibrani", disanggah oleh beberapa orang. Eusebius (± 265-340) menyebut seluruh kitab dalam Perjanjian Baru kita sekarang sebagai yang diakui semua orang, kecuali Yakobus, Yudas, II Petrus, II & III Yohanes yang disanggah oleh sejumlah orang tetapi mayoritas mengakuinya. (Eusebius sendiri mestinya menolak kitab Apokaliptik (Wahyu), karena ia tidak menyukai millenarianismenya). Athanasius pada tahun 367 mengatakan bahwa pada kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru kita seperti yang ada itulah kanonik; lama sesudah itu Hironymus dan Agustinus mengikuti teladannya di Barat. Proses di kawasan yang lebih jauh ke Timur agak lebih lama; baru ± tahun 508 II Petrus, II dan III Yohanes, Yudas dan Wahyu dimasukkan ke dalam terjemahan Alkitab Siria sebagai tambahan atas kedua puluh dua kitab lainnya.

Berdasarkan pelbagai alasan maka bagi gereja perlu untuk mengetahui dengan pasti kitab-kitab manakah yang berwibawa ilahi. Kitab-kitab Injil yang menceritakan "segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus," tidak dapat dianggap mempunyai wibawa yang lebih rendah daripada kitab-kitab Perjanjian Lama. Dan ajaran para rasul dalam Kisah Para Rasul dan surat-surat dianggap sebagai yang berkenaan dengan kewibawaan-Nya juga. Jadi wajarlah bila kepada tulisan-tulisan para rasul Perjanjian Baru diberi kehormatan yang sama seperti yang telah diberikan kepada tulisan-tulisan para nabi Perjanjian Lama. Demikianlah Yustinus Martyr, kira-kira tahun 150 M, menggolongkan "catatan- catatan para Rasul" setaraf dengan tulisan-tulisan para nabi, dan bahwa kedua- duanya dibaca dalam pertemuan-pertemuan orang Kristen (Apologia 1:67). Sebab meskipun telah berpisah dengan Yudaisme, gereja tidak mengingkari wibawa Perjanjian Lama, tetapi -- mengikuti teladan Kristus dan Rasul-rasul-Nya -- menerimanya sebagai Firman Allah. Memang Septuaginta sangat mereka akui sebagai milik mereka, meskipun semula adalah terjemahan dalam bahasa Yunani dari kitab- kitab Ibrani bagi orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani sebelum zaman Kristus. Sehingga orang-orang Yahudi meninggalkan Septuaginta bagi orang Kristen dan membuat terjemahan yang baru dalam bahasa Yunani dari Perjanjian Lama bagi orang Yahudi yang berbahasa Yunani.

Terutama penting sekali untuk mengetahui kitab-kitab mana yang dapat dipakai untuk menyusun ajaran Kristen dan yang dapat dijadikan pegangan yang kuat dalam berbicara dengan para bidat. Teristimewa ketika Marcion telah menyusun kanonnya kira-kira tahun 140 M, maka bagi gereja-gereja yang Ortodoks perlu sekali untuk dengan persis mengetahui manakah kanon yang benar, dan ini membantu memacu proses yang telah mulai. Bagaimanapun juga, kelirulah berbicara atau menulis seakan-akan gereja baru mulai menyusun kanon setelah Marcion menerbitkan kanonnya.

Keadaan-keadaan lain yang memerlukan definisi yang terang tentang kitab-kitab mana yang mempunyai kewibawaan ilahi ialah perlunya ditetapkan kitab-kitab yang mana yang harus dibaca dalam kebaktian- kebaktian Gereja (memang ada buku-buku yang tertentu yang tepat dipakai untuk tujuan ini, tetapi tidak dapat dipakai untuk memecahkan persoalan-persoalan mengenai ajaran). Keadaan lain ialah perlunya mengetahui kitab-kitab mana yang dapat atau tidak dapat diberikan kepada polisi kekaisar kalau diminta pada masa penghambatan tanpa menimbulkan rasa bersalah karena mencemarkan yang suci.

Satu hal harus sungguh-sungguh ditekankan. Kitab-kitab Perjanjian Baru tidak menjadi berwibawa bagi Gereja sebab secara formal telah ada dalam daftar yang kanonik; tetapi sebaliknya, Gereja memasukkannya dalam kanonnya karena menganggapnya diilhamkan Allah, sebab Gereja mengetahui nilainya yang dalam dan langsung atau tidak langsung Gereja juga melihat kewibawaannya dari para rasul. Konsili-konsili gerejawi yang pertama yang mendaftarkan kitab-kitab yang kanonik ada dua, kedua-duanya di Afrika Utara - di Hippo Regius tahun 393 dan Karthago tahun 397. Tetapi yang dikerjakan konsili-konsili ini bukan mendesakkan sesuatu yang baru kepada gereja-gereja, melainkan menyusun daftar dari apa yang telah umum digunakan -- gereja-gereja.

Ada banyak persoalan teologis yang timbul dari sejarah kanon yang tidak dapat kita bicarakan di sini; tetapi untuk menunjukkan dengan mudah bahwa pemilihan Gereja adalah tepat, orang dapat membandingkan kitab-kitab Perjanjian Baru kita dengan beraneka ragam dokumen yang dikumpulkan oleh M.R. James dalam bukunya Apocryphal New Testament (1924), atau juga dengan tulisan-tulisan Bapa-bapa Rasuli dan akan disadari keunggulan Perjanjian Baru kita atas buku-buku yang lain.

Sedikit perlu ditambahkan tentang "Injil menurut orang-orang Ibrani" yang, seperti dikatakan di atas, didaftarkan oleh Origenes sebagai satu di antara buku-buku yang diperdebatkan oleh beberapa orang pada zamannya. Buku ini, yang beredar di Transjordan dan Mesir di antara kelompok-kelompok orang Yahudi- Kristen yang disebut orang Ebionit, memiliki sejumlah kemiripan dengan Injil Matius yang kanonik. Mungkin itu adalah saduran yang berdiri sendiri dari suatu dokumen berbahasa Aram yang ada hubungannya dengan Matius yang kanonik. Ia dikenal oleh beberapa Bapa-bapa Kristen yang dulu, dalam terjemahan bahasa Yunani.

Hieronymus (347 - 420) memandang Injil menurut orang Ibrani" ini sama dengan kitab yang ditemukan di Siria, yang disebut Injil orang-orang Nasaren, yang semula dikira - tetapi ini keliru sebagai Injil Matius yang asli dalam bahasa Ibrani (atau Aram). Mungkin juga ia dengan keliru menyamakan ini dengan Injil menurut orang-orang Ibrani. Injil Nasarene yang diketemukan Hieronymus (yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani dan Latin) mungkin hanya terjemahan dalam bahasa Aram dari Matius berbahasa Yunani yang kanonik. Bagaimanapun juga Injil menurut orang Ibrani dan Injil orang Nasarene kedua-duanya mempunyai hubungan dengan Injil Matius dan harus dibedakan dari setumpukan Injil-injil apokrif yang juga beredar pada zaman itu, dan yang tidak ada pengaruhnya bagi studi historis kita ini. Buku-buku ini sama dengan kitab "Kisah Para Rasul" yang apokrif dan tulisan-tulisan serupa. Isinya hampir dongeng melulu. Hanya satu buku di antara "Kisah Para Rasul" yang apokrif yang namanya "Kisah Paulus", yang meskipun diakui sebagai dongeng dari abad kedua, menarik sebab di dalamnya ada potret diri Paulus. Sifat tulisan ini tegas dan tidak biasa waktu itu. Oleh karena itu Sir William Ramsay mengira bahwa itu mewujudkan suatu tradisi dari penampakan rasul seperti tersimpan di Asia kecil. Paulus dilukiskan sebagai "seorang laki- laki yang kecil badannya, alis matanya panjang, hidungnya agak panjang, kepalanya botak, kakinya bengkok, kekar, ramah, kadang-kadang ia nampak seperti lelaki, kadang- kadang memiliki wajah malaikat."



Catatan Kaki:

[1]Ia menambahkan bahwa surat-surat lain dengan nama Paulus tidak diakui oleh Gereja. Ini sebagian besar pseudepigrapha yang dibikin untuk kepentingan- kepentingan bidah.
[2]Ia aneh sekali juga menambahkan "Kebijaksanaan Salomo" di sini.
[3]Ignatius dan Polykarpus (mereka menulis kira-kira tahun 115 M), agaknya mengenal kumpulan-kumpulan surat-surat Paulus.


Sumber :

F.F. Bruce, Dokumen-dokumen Perjanjian Baru, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1993, Halaman : 17 - 24


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Nov 08, 2007 10:39 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
PENGENALAN YANG HARUS ADA TENTANG ALKITAB



SEJARAH TERBENTUKNYA PERJANJIAN BARU


Perjanjian Baru ditulis oleh para rasul dengan pimpinan Allah dan gerakan dari Roh Kudus, kemudian dua puluh tujuh kitab itu diakui oleh gereja, dan pada abad kedua disebut sebagai Alkitab Perjanjian Baru atau disingkat menjadi PB.

Ketika Tuhan Yesus hidup di dunia, orang Yahudi sudah mempunyai sebuah "Kitab", yang pada masa itu sudah diakui sebagai Firman Allah, bahkan Tuhan Yesus sendiri pun sering mengutipnya, yaitu Alkitab Perjanjian Lama yang kita pakai sekarang. Adapun Perjanjian Baru yang kita baca baru terbentuk setelah melewati masa penetapan yang cukup panjang.

Tuhan Yesus Kristus sendiri tidak menulis buku apapun bagi kita. Berita yang Dia sampaikan saat berkhotbah disebut sebagai Injil, yang berarti kabar baik atau berita yang membawa berkat, yaitu kabar baik tentang kasih Allah yang besar, tujuan dan kehendak-Nya atas diri manusia. Tuhan menyampaikan segala kebenaran secara lisan kepada murid-murid-Nya, dan menugaskan mereka untuk memberitakannya secara turun temurun, bersaksi bagi-Nya di mana-mana tempat, baik yang jauh maupun yang dekat. Sebelum Kristus mati, bangkit dan naik ke sorga, Dia memberikan perintah kepada murid-muridNya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia, setelah mereka menerima Roh Kudus, mereka pun pergi ke segala penjuru untuk memberitakan kabar baik, Allah menyelamatkan manusia. Sebab itu, diawal perkembangan kekristenan, Kristus dan murid-murid tidak mempertimbangkan akan meninggalkan karya tulis bagi kita. Pada awal pemberitaan mereka, ayat-ayat yang mereka kutip untuk membuktikan ajaran Kristus hanyalah Perjanjian Lama saja, namun setelah Kristus naik ke sorga, kekristenan menjadi semacam gerakan yang berkuasa, berkembang dengan amat pesat, dan setelah melalui jangka waktu yang cukup panjang, karena kebutuhan masing-masing tempat dan masalah praktis di pelbagai bidang, barulah muncul beberapa tulisan awal, itulah tahap pertama dari penulisan Perjanjian Baru.

Menulis empat Injil adalah tahap kedua, hal itu kita ketahui dari pendahuluan Injil Lukas: "Teofilus yang mulia, banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan saksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar". (Luk. 1:1-4).

Berdasarkan beberapa ayat itu, dapat diketahui dengan jelas, ada banyak catatan tentang pelayanan Kristus yang dipaparkan di hadapan Lukas, dia tidak mengatakan, semua catatan itu tepat adanya, namun mengisyaratkan bahwa catatan- catatan itu tidaklah lengkap atau tidak sempurna. Mungkin sekali merupakan catatan tentang riwayat Kristus yang berbentuk serpihan: dokumen yang satu mungkin mencatat akan kematian dan kebangkitan Kristus, catatan lain mungkin merupakan kumpulan dari perumpamaan-perumpamaan-Nya. Tidak peduli bagaimana isi dari setiap dokumen itu, namun Lukas secara pasti memberitahukan kepada kita, tatkala dia merencanakan menulis Injil Lukas, dokumen- dokumen itu sudah ada. Lukas membandingkan dan menyeleksi data-data itu, disusun dan disatukan, dicocokkan saat berdialog dengan para saksi mata, yang menyaksikan pelayanan Yesus, saat mengadakan perjalanan Pekabaran Injil dengan Paulus pun dia pergunakan untuk mengumpulkan data, supaya bisa memberikan catatan yang tepat bagi gereja. Semua itu adalah fakta yang dapat kita simpulkan. Dia juga memberitahu kita, data-data yang dia dapatkan itu akan dia tuliskan menurut urutannya, maksudnya dia akan menyusun dengan teliti seturut kronologis waktunya, seturut proporsi yang pas pada masing-masing topik, untuk menyatakan bahwa tulisannya mempunyai ciri khas yang seharusnya ada pada tulisan ilmiah dan naskah sejarah. Pendahuluannya mengingatkan kepada kita, iman orang Kristen adalah iman yang didirikan di atas fakta sejarah yang kokoh.

Surat Paulus, juga merupakan representatif dari permulaan Perjanjian Baru. Setelah Paulus mengakhiri perjalanan Pekabaran Injilnya ke Asia Kecil dan pulang ke Antiokhia, dia mendengar berita tentang iman orang Kristen yang baru percaya di Galatia mengalami krisis besar (Gal. 1:6; 3:1). Karena dia tidak bisa segera mengunjungi mereka, maka dia merasa perlu untuk menulis surat menasihati mereka untuk tekun memelihara iman di dalam Kristus, agar tidak dikalahkan oleh bidat, di bawah gerakan Roh Kudus dia menuliskan Surat Galatia. Untuk alasan yang sama, dia juga menulis Surat 1 dan 2Tesalonika, Surat Korintus dan lain-lain, dengan alasan yang sama rasul Petrus juga menuliskan dua buah surat.

Pada mulanya, surat-surat seperti itu hanya ditujukan pada satu gereja atau gereja-gereja di satu wilayah saja, kemudian, ada gereja-gereja yang menyalin surat-surat itu, diedarkan dan dibaca, namun pekerjaan menyusun surat-surat dan kitab-kitab Injil baru dilakukan pada akhir abad pertama. Di akhir zaman rasul- rasul, gereja sudah mulai mengumpulkan karya tulis dan surat-surat para rasul, dan dikategorikan setara dengan Perjanjian Lama, sebagai Firman Allah. Di dalam suratnya, Paulus sendiri jelas-jelas mengatakan bahwa ajarannya diwahyukan dari Allah (1Kor. 2:7-13; 14:37; 2Tes. 2:13), Yohanes juga menegaskan hal yang sama (Why. 1:2). "Seorang pekerja patut mendapat upahnya" kutipan yang Paulus pakai di 1Tim. 5:18 terdapat juga di Mat. 10:10 dan Luk. 10:17. Terlihat di sini bahwa saat itu Injil Matius dan Injil Lukas sudah ada, dan sudah diterima sebagai bagian dari Alkitab. 2Ptr. 3:15-16, Petrus juga dengan jelas menyetarakan Surat Paulus dengan kitab-kitab yang lain.

Selain sekelumit data yang bisa kita dapatkan dari Alkitab sendiri, untuk menyelidiki akan sejarah terbentuknya Perjanjian Baru, kita perlu menelusurinya dari sejarah yang beraneka ragam. Bahan penyelidikan yang penting adalah karya tulis bapak gereja mula-mula, keputusan dan perintah dari konsili gereja, juga bisa mendapatkan bukti tambahan dari karya tulis sebagian bidat.

Setelah zaman para rasul, sebagian besar tulisan Perjanjian Baru sudah dipergunakan secara meluas. Clement, yang di Roma, adalah orang penting dari gereja masa itu. Pada tahun 95 TM, dengan status Uskup, dia menulis surat ke gereja di Korintus, di dalam suratnya tersebut dia mengutip ayat-ayat yang terdapat di Matius, Lukas, Roma, 1Korintus, 2Korintus, Ibrani, Efesus, 1Timotius, 1Petrus dan lain- lain. Uskup pertama di Antiokia, di tahun 110 TM, di tengah perjalanan sahidnya dari Antiokia ke Roma, pernah menulis tujuh pucuk surat, dengan mengutip ayat-ayat dari Matius, 1Petrus, 1Yohanes dan sembilan surat-surat Paulus, bahkan di dalam surat-suratnya itu dia juga memeteraikan ketiga kitab Injil yang lain. Papias, Uskup Hilapolis di dalam tulisannya tafsiran kata-kata kudus Yesus dan buku-buku lain yang menyerang bidat, selain mengutip dari Injil Yohanes, juga menyinggung tentang sumber dari Injil Matius dan Injil Markus. Di antara th. 150-166 TM, Justin Martyr, seorang filsuf yang ternama pada zaman itu, di dalam tulisannya Apologetika Kristen, pernah menyinggung Kitab Wahyu, Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus, dia juga menyebutkan bahwa Injil dan Perjanjian Lama, telah mendapatkan status yang sama di gereja masa itu, bahkan dibacakan secara bergantian di dalam gereja. Saat itu masih ada Tatian, yang pernah menuliskan tafsiran empat Injil, menyebutnya sebagai Synoptic Gospel. Terbukti di sini, bahwa keberadaan empat Injil telah diakui secara umum oleh gereja.

Setelah zaman para rasul, selain kesaksian-kesaksian para Uskup yang telah disinggung tadi, ada banyak bidat dan karangan fiktif yang memakai nama samaran juga bisa dipakai sebagai bukti. Yang dimaksud dengan karangan fiktif adalah sebagian pengarang yang kira-kira sezaman dengan Kitab-kitab Perjanjian Baru, termasuk sebagian Pseudepigrafa, karena zamannya berdekatan, sebab itu memungkinkannya untuk memalsukan, membingungkan. Pengarang-pengarang seperti itu juga mengutip ayat Alkitab, hanya saja membengkokkan arti yang terdapat di dalam ajaran Alkitab dan respons dari tempat-tempat yang mendapat pengaruh Alkitab. Sebab itu, karangan mereka juga menjadi salah satu bahan bukti. Karangan yang sezaman itu termasuk Surat Barnabas, Shepherd of Hermas, II Clement. Karangan- karangan tersebut sangat dipengaruhi oleh Kitab Injil, Surat Paulus, Wahyu dan lain-lain. Adapun penggerak bidat pada zaman ini terdapat Simon, Serinthus Basilides dan lain-lain guru-guru bidat dari aliran Gnostikisme, yang menyelewengkan ajaran Kristus, tetapi mengutip dari Matius, Lukas, Yohanes, Roma, 1 Korintus, Kolose dan lain-lain. Selain itu masih ada Marcion, otak Bidat yang lain, demi mempromosikan ajaran Bidatnya, maka di tahun 140 TM, berdasarkan opininya sendiri terhadap Yesus dan Paulus, juga konsep teologi yang diyakininya, dia menyusun sebuah "Perjanjian Baru". Inilah editor pertama dari Perjanjian Baru. "Perjanjian Baru" yang disusunnya hanya mencakup Injil Lukas, Surat Roma, 1 dan 2Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 dan 2Tesalonika, Filemon.

Ringkasnya, zaman ini bisa disebut sebagai masa permulaan dari Kitab Perjanjian Baru. Gereja, bapa gereja, ajaran bidat, dan karangan fiktif pada zaman itu merefleksikan bahwa saat itu Perjanjian Baru telah memberi pengaruh yang cukup mendalam, orang-orang yang mengutip ayat-ayat Perjanjian Baru juga semakin serius dan semakin tertib.

Di akhir abad ke-2, di antara bapak-bapak gereja, Irenaeus adalah pemimpin yang menonjol, dia adalah Uskup dari kota Lyon, seumur hidupnya berjuang dalam memerangi ajaran-ajaran palsu, mendebat ajaran Bidat. Di antara karangannya, selain Surat Yakobus, 2Petrus, Yudas, Ibrani, keempat kitab ini, ayat-ayat Perjanjian Baru pernah dikutipnya. Saat itu, Perjanjian Baru secara garis besar telah berbentuk, selain beberapa kitab yang masih dipertimbangkan, pada umumnya telah diakui secara tidak langsung oleh semua gereja. Irenaeus amat menekankan Alkitab adalah tulisan yang diwahyukan oleh Roh Kudus. Kira-kira pada tahun 200 TM, waktu Tertullian, pemimpin gereja Carthage masih hidup di dunia, tulisan asli dari Surat-surat Perjanjian Baru masih berada, dia menyebut kitab agama Kristen itu sebagai Perjanjian Baru. Dia pernah mengutip empat Injil, tiga belas Surat Paulus, 1 Yohanes, 1 Petrus, Yudas, Ibrani. Dia berpendapat, bahwa Surat Ibrani ditulis oleh Barnabas.

Pada masa yang sama, muncul Fragments of Muratorian, sebuah gulungan kitab kuno yang baru ditemukan. Pada tahun 1740, Muratorian, sejarawan Itali, menemukan serpihan dari gulungan kuno, di perpustakaan kota Milan, Itali Utara, yang ditulis di dalam bahasa Latin, bagian lainnya mungkin sudah hilang. Gulungan itu dimulai dari Lukas, namun karena Lukas diberi nomor tiga, dan Yohanes diberi nomor empat, maka diketahui bahwa nomor satu dan nomor dua adalah Matius dan Markus. Meskipun bagian awalnya telah hilang, namun gulungan ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Kitab-kitab Perjanjian Baru. Karena inilah kitab kuno pertama yang memandang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu setara adanya. Di depan Perjanjian Baru terdapat daftar isi Perjanjian Lama dan secara resmi menerangkan akan perbedaan Alkitab dengan karangan fiktif. Di antara Kitab-kitab Perjanjian Baru, yang belum disinggung adalah Ibrani, 1 dan 2Petrus, dan Yakobus, namun mencakup The Wisdom of Solomon dan Catatan Inspirasinya Petrus.

Setelah menginjak abad ke-3, sebagian besar karangan Perjanjian Baru telah dipakai oleh gereja-gereja, mayoritas orang di dalam hatinya telah mengakui sebagian kitab-kitab itu sebagai Kanon Alkitab, selain tujuh kitab: Yakobus, 2Petrus, 2 dan 3Yohanes, Ibrani, Yudas, Wahyu, selebihnya sudah tidak ada masalah. Pada masa itu, orang yang paling berpengaruh terhadap gereja adalah Origen dari Alexandra, karena dia bukan hanya banyak membaca, pergaulannya luas, juga memberikan tafsiran terhadap setiap kitab dalam Alkitab, dia telah secara sah menerima kedua puluh tujuh Kitab Perjanjian Baru yang kita pakai sekarang, meski masih sedikit meragukan Surat Yakobus, 2 dan 3Yohanes, 2Petrus.

Setelah abad ke-3, memantapkan keputusan Perjanjian Baru sebagai Kanon Alkitab masih tetap berjalan, hanya kitab-kitab yang dikategorikan sebagai Kanon Perjanjian Baru sudah semakin mantap. Menurut Tertulian, orang yang paling berjerih lelah di dalam hal ini adalah para Uskup dan pemimpin-pemimpin gereja. Nyata bahwa mereka mempunyai pandangan dan insting rohani: sekalipun banyak orang Kristen beranggapan, hanya karangan para rasullah yang pantas dikategorikan sebagai Kanon Perjanjian Baru, namun Kitab Markus dan Lukas yang dikenal oleh umum sebagai kitab yang bukan ditulis oleh rasul, tidak mereka hapus. Garis besar dari patokan mereka adalah, kitab yang diterima tidak ada yang tidak bernilai, kitab yang ditolak tidak ada yang bernilai. Sebuah kitab tidak bisa diterima sebagai Kanon hanya karena pengarangnya memakai nama salah seorang rasul, namun perlu ditinjau bernilai atau tidaknya isi kitab tersebut.

Dari sejarah ringkas itu, kita ketahui, bahwa ada satu masa, di mana gereja memang belum dapat memutuskan kitab-kitab mana saja yang bisa diterima sebagai Kanon Perjanjian Baru. Sebab utamanya antara lain: saat itu, transportasi di dalam kerajaan Romawi yang begitu luas belum begitu lancar, ditambah lagi penganiayaan-penganiayaan yang dialami oleh gereja, membuat gereja-gereja tidak mempunyai kesempatan untuk mengadakan satu kali pertemuan bersama, untuk menetapkan kitab-kitab mana saja yang terbukti memiliki otoritas rasul, dapat dikategorikan sebagai Kanon Perjanjian Baru yang sejajar dengan Perjanjian Lama.

Sampai permulaan abad ke-4, pemerintah Romawi masih melancarkan penganiayaan sebegitu rupa terhadap orang Kristen, sampai-sampai memusnahkan Alkitab. Eusebius, tokoh sejarah gereja lahir di masa ini. Dia adalah seorang pengawas di Kaisaria, saat itu, Kaisar Domitian sedang melangsungkan penganiayaan besar-besaran yang terakhir dan terekstrim untuk memusnahkan orang Kristen. Demi Kristus, Eusebius dijebloskan ke dalam penjara. Salah satu tujuan khusus dari penganiayaan kali ini adalah memusnahkan semua Alkitab orang Kristen. Kurang lebih ada sepuluh tahun, pemerintah Roma mengutus petugas khusus untuk menggeledah Alkitab yang dimiliki oleh penduduk, semua Alkitab yang berhasil ditemukan dibakar di jalan raya, di depan umum. Pada masa yang mengerikan itu, untuk menyelidiki dan memastikan kitab- kitab mana saja yang dapat dikategorikan sebagai Kanon memang menuntut pengorbanan yang amat sangat mahal. Namun saat Kaisar Constantine naik takhta pada tahun 312 TM, situasinya berubah total: Alkitab boleh dibaca secara terbuka, maka selain Kaisar sendiri menerima Kristus, dia bahkan mengesahkan kekristenan sebagai agama negara. Eusebius sangat dipandang oleh Kaisar Constantine, dan diangkatnya sebagai penasihat utama di bidang agama dalam kekaisarannya. Setelah Constantine naik takhta, hal pertama yang dia lakukan adalah memberikan mandat, di bawah komando Eusebius, mereka harus menyediakan lima puluh jilid Alkitab untuk lima puluh buah gereja besar yang berada di Constantinople. Kelima puluh jilid Alkitab itu ditulis di atas gulungan kulit domba yang paling lembut, begitu besarnya volume Alkitab itu, sampai membutuhkan dua buah pedati besar kerajaan, untuk membawanya dari Kaisaria ke Constantinople. Kitab-kitab apa saja yang terdapat di dalam Kanon Perjanjian Barunya Eusebius? Seluruh Kitab Perjanjian Baru yang kita gunakan hari ini. Setelah Eusebius melakukan perjalanan keliling guna meneliti pendapat dari masing-masing gereja, maka dia membagikan Alkitab Perjanjian Baru menjadi empat kategori, yaitu:

1. Kitab-kitab yang diakui secara umum oleh semua gereja, yang mencakup: empat Injil, Kisah Para Rasul, Surat-surat Paulus, 1Yohanes, 1Petrus dan Wahyu.
2. Kitab-kitab yang masih diragukan oleh sebagian orang, karenanya masih perlu dipertimbangkan adalah: Yakobus, Yudas, 2Petrus, 2 dan 3Yohanes.
3. Kitab-kitab Apokrifa yang bermasalah, termasuk: Acts of Paul, Shepherd of Hermas, Apocalypse of Peter, Epistle of Barnabas, Teaching of the Twelve Apostles.
4. Kitab-kitab Bidat, yaitu kitab-kitab yang sama sekali ditolak, seperti: Gospel of Peter, Gospel of Thomas, Act of Andrew, Act of John dan lain-lain.

Dua puluh tujuh kitab yang dia terima dan dimasukkan ke dalam Kanon Perjanjian Baru, bukan saja sama persis yang kita pakai sekarang, pada saat yang sama juga membedakannya dari Kitab-kitab Apokrifa dan Kitab- kitab bidat.

Pada masa yang sama, masih terdapat tidak sedikit tokoh-tokoh penting yang memberikan sumbangsihnya pada penetapan Kanon Perjanjian Baru, kami hanya akan mengutarakan secara singkat akan beberapa orang di antara mereka. Athanathius, Uskup Aleksandria yang amat dikenal sebagai laskar kebenaran itu, adalah leluhur dari Apologis yang ortodoks, seumur hidupnya berperang habis-habisan melawan bidat. Tahun 367 TM, adalah hari Paskah yang ke-39 di dalam jabatan keuskupannya, di dalam wejangan Paskahnya, Athanathius selain memberi nasihat kepada jemaat, juga memberi pengajaran yang diambil dari satu perikop Alkitab, maksudnya adalah untuk mengingatkan kepada jemaat masa itu, untuk tidak membaca buku-buku yang mengaburkan, agar jangan disesatkan oleh ajaran bidat, demi keamanan jemaat, dia menyusun daftar Perjanjian Baru yang dibubuhi dengan penjelasan. Daftar tersebut sama persis dengan Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang kita pakai sekarang. Kedua puluh tujuh Kitab Perjanjian Baru sudah disejajarkan, tidak lagi dipisahkan menjadi beberapa kategori. Kemudian lanjutnya, "Alkitab adalah sumber keselamatan. Barangsiapa merasa dahaga dapat melepaskan dahaganya dengan firman yang terdapat di dalam kitab ini. Hanya kitab-kitab inilah yang mengajarkan firman saleh". Jerome adalah sarjana Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terpenting di masa ini, seumur hidupnya tidak terlepas dari pena. Alkitab Perjanjian Baru berbahasa Latin, yang dipakai di gereja-gereja Roma adalah karya terjemahannya, isinya sama persis dengan kedua puluh tujuh kitab yang kita pakai sekarang. Augustine, Uskup Carthage, teolog ternama pada zaman itu, juga menerima kedua puluh tujuh Kitab Perjanjian Baru. The Council of Carthage yang diselenggarakan pada tahun 397 TM dipimpin olehnya. Salah satu keputusan Konsili itu adalah mengenai Kanon Perjanjian Baru. Setelah direstui dan ditetapkan secara resmi di dalam Konsili itu: menerima sepenuhnya akan kedua puluh tujuh Kitab Perjanjian Baru yang kita pakai sekarang, dengan tidak dibeda- bedakan kategorinya. Inilah ketetapan resmi yang diambil dalam Konsili organisasi gereja mengenai Kanon Perjanjian Baru.

Pada awal abad ke-4, masa di mana kekristenan mulai menggunakan bentuk sidang raya untuk mengatur segala urusan yang menyangkut pengelolaan gereja, maka tidak sedikit pertemuan-pertemuan selanjutnya yang berkaitan erat dengan Kanon Perjanjian Baru, seperti Council of Ephesus, Council of Constantinople, Council of Nicaea dan lain-lain. Namun setelah The Council of Carthage yang diselenggarakan pada tahun 397, gereja-gereja juga sidang raya telah sepakat menerima kedua puluh tujuh Kitab Perjanjian Baru adalah sejajar dengan Perjanjian Lama, sebagai Alkitab yang diwahyukan oleh Allah, yang dijadikan dasar iman dan standar hidup dari seluruh jemaat.

Setelah lebih dari seribu tahun dirongrong oleh banyak raja-raja, ajaran-ajaran bidat dan sebagainya, diserang, dipecah belah, diadili dengan Lower Criticism dan Higher Criticism yang dilancarkan oleh filsuf-filsuf modern, pemikir-pemikir, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh sejarah, Alkitab tetap tidak bergeming, tetap sebagai dasar iman gerejani dan makanan rohani setiap hari bagi jemaat.
Akhirnya, butir yang harus ditegaskan adalah, setiap Kitab Perjanjian Baru, otoritas dan posisi yang dimiliki hari ini, bukannya baru timbul setelah diakui secara resmi sebagai Kanon Alkitab, namun sebaliknya, justru karena gereja menemukan kitab-kitab itu sendiri mempunyai otoritas, sehingga mereka sepakat mengakui kitab-kitab itu memang diwahyukan oleh Allah, dan dimasukkannyalah sebagai Kanon Alkitab.


Sumber :
Dr. Lukas Tjandra, Latar Belakang Perjanjian Baru III, SAAT, Malang, 1999, Halaman : 136 - 147


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Nov 08, 2007 12:11 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
KITAB-KITAB INJIL DAN KEHIDUPAN TUHAN YESUS



1. KITAB-KITAB INJIL



A. Asal-usul Injil


1. Pengertian/Definisi:


Kata Injil dalam bahasa Yunani adalah euanggelion, artinya Kabar Baik. Kabar Baik tentang Yesus Kristus telah ditulis oleh keempat penulis Injil dan mereka mengakui bahwa Yesuslah Tuhan, Anak Allah dan Mesias yang dijanjikan dalam PL dan yang telah mengubah hidup mereka menjadi ciptaan baru.


2. Isi Kitab-kitab Injil

Dari maksud yang disebutkan oleh masing-masing penulis kitab-kitab Injil, dapat ditarik satu kesimpulan bahwa kitab-kitab Injil mempunyai implikasi, yaitu:

a. Kitab-kitab Injil bukanlah kitab-kitab yang ditulis oleh Tuhan Yesus sendiri, tetapi oleh murid dan pengikut-Nya.
b. Kitab-kitab Injil bukanlah kitab-kitab yang berisikan "biografi" lengkap Tuhan Yesus, tetapi kisah selektif tentang kehidupan dan pengajaran Yesus Kristus selama kira-kira 3 tahun saja.
c. Isi pemberitaan kitab-kitab Injil berhubungan erat dengan teologia sang penulis, yang secara khusus sangat berguna untuk Jemaat Gereja Mula-mula, karena memberikan penyataan-penyataan besar dan definitif tentang diri Tuhan Yesus dan hubungannya dengan Allah.
d. Isi kitab-kitab Injil itu sesuai dengan tujuan masing-masing penulisnya. Oleh karena itu sangat penting untuk mempelajari secara saksama latar belakang penulisnya untuk dapat mengerti isi Injil dengan tepat.



B. Injil-injil Sinoptik

Istilah "Sinoptik" berarti "melihat dari sudut pandang yang sama". Dalam hal ini Kitab-kitab Injil yang dimaksud adalah Injil Matius, Markus, dan Lukas. Sedangkan yang disebut sebagai "masalah sinoptik" adalah masalah yang muncul sehubungan dengan sumber apa yang dipakai oleh ketiga Injil; apakah sumber yang dipakai sama? Kalau betul sama, mengapa mereka membuat 3 kesaksian yang berbeda? Jawaban terhadap "masalah sinoptik" ini adalah:


1. Injil Matius ditulis lebih dahulu.

Agustinus, pada abad ke 4, berpendapat bahwa Matius menulis lebih dahulu, lalu Markus membuat ringkasannya dan Lukas menulis berdasarkan Matius dan Markus. Masalah yang timbul dengan pendapat ini:
a. Markus tidak menuliskan inti pemberitaan dengan proporsional yang baik.
b. Bahasa yang dipakai Markus memiliki kualitas lebih rendah dari pada Matius dan Lukas.


2. Injil Markus ditulis lebih dahulu.

Lebih banyak ahli kritik sastra Alkitab yang menerima pendapat bahwa Markus telah ditulis terlebih dahulu dan menjadi sumber bagi Matius dan Lukas. Hal ini terlihat dari:

a. Pemakaian kata-kata

Setengah kosakata yang dipakai Markus terdapat dalam Matius dan Lukas; tetapi ada bagian yang sama yang hanya ada di Matius dan Lukas.

b. Urutan

Matius, Markus dan Lukas memakai urutan peristiwa dan garis besar yang sama dalam penyusunan tulisannya.

c. Isi

606 ayat dari 661 ayat dalam Markus ada di Matius (1060); dan 350 ayat dari Markus ada di Lukas (1150). Kalau Matius dan Lukas dibandingkan maka ada 250 ayat yang sama, tapi tidak ada dalam Markus.

d. Gaya bahasa

Markus memakai bhs. Yunani yang lebih rendah kualitasnya daripada Matius dan Lukas. Juga Markus memakai beberapa bhs. Aram ditulisannya.


Quote:
3. Teori Lain

Beberapa Ahli kritik sastra Alkitab menawarkan teori lain yaitu dengan membedakan sumber-sumber Injil Sinoptik menjadi 4 sumber, yaitu:

a. Markus

Tulisan Markus ditulis di Roma (+60 M).

b. Q (Quelle - sumber)

Tulisan Q ditulis di Antiokia (+50 M), yang berisi kumpulan ajaran Yesus; sumber yang tidak digunakan oleh Markus, tapi digunakan oleh Matius dan Lukas. Namun tidak ada kepastian adanya sumber Q ini karena tidak ada referensi sama sekali, menurut beberapa ahli Alkitab Sumber Q ini hanya bersifat hipotesis saja (lihat Artikel DOKUMEN "Q", di http://www.sarapanpagi.org/post2340.html#p2340 ). Anggapan adanya Dokumen Q ini digunakan untuk mempertanyakan keabsahan Matius dan dr. Lukas selaku penulis sejarah Injil dan PB, dimana ia melakukan investigasi dan pencatatan sejarah dari para saksi mata.



c. M

Tulisan M ditulis di Yerusalem (+65 M), berisi ajaran yang hanya digunakan oleh Matius tetapi tidak oleh Markus maupun Lukas. Dokumen ini juga hanya bersifat Hipotesis, yang hanya digunakan untuk mempertanyakan keabsahan Matius murid Yesus sendiri selaku penulis, dimana ia menulis pengalamannya sendiri dan investigasi dan pencatatan sejarah.

d. L
Tulisan L ditulis di Kaisarea (+60), berisi ajaran yang hanya digunakan oleh Lukas dan tidak oleh Markus maupun Matius. Dokumen ini juga tidak ada bukti aslinya. Anggapan adanya Dokumen L ini digunakan untuk mempertanyakan keabsahan Dr. Lukas selaku penulis sejarah Injil dan PB, dimana ia melakukan investigasi dan pencatatan sejarah dari para saksi mata.


Jadi hasilnya “hipotesis” tsb disimpulkan oleh Drs. B.E. Drewes, M.Th. sbb.:

Matius = memakai bahan Markus + Q + M (dan bahan dari penginjil sendiri)
Matius, yang terdiri dari 1060 ayat, memakai bahan sebagai berikut:

 kurang dari separo (47%) berasal dari Markus,
 kurang dari seperempat (23%) berasal dari Q.
 dan sisanya (30%) dari M (dan penginjil).

Lukas = bahan Markus + Q + L (dan bahan dari penginjil sendiri)
Lukas, terdiri dari 1150 ayat, memakai bahan sebagai berikut:

 kurang dari sepertiga (28%) berasal dari Markus,
 kurang dari seperempat (21%) berasal dari Q,
 dan separo dari Injil itu (51%) berasal dari L (dan penginjil)."

Image


Namun tentu saja keabsahan adanya Dokumen Q, L, dan M hanya bersifat dugaan/ hipotesis semata, namun bukti-bukti sejarah yang mampu menunjukkan bukti naskah-naskah dokumen yang dimaksud tidak pernah ada.




-----


Image


-----


2. KEHIDUPAN TUHAN YESUS KRISTUS


Dari keterangan yang didapatkan dalam kitab-kitab Injil, dan juga tulisan sejarahwan Yahudi, F. Yosefus, dan cerita-cerita tradisi yang beredar pada jaman itu, maka kehidupan Tuhan Yesus bisa diringkaskan sbb.:


A. PENDAHULUAN


1. Silsilah Tuhan Yesus


Injil Matius (1:1-17) memberikan urutan kronologis silsilah Tuhan Yesus, dengan jelas terlihat bahwa secara biologis Tuhan Yesus adalah keturunan raja Daud, tepat seperti apa yang dinubuatkan dalam Yes. 11:1; Yer. 23:5.


2. Tahun Kelahiran Tuhan Yesus

Tahun kelahiran Tuhan Yesus dapat diketahui dengan berbagai cara, yaitu baik dari data-data ekternal atau juga dengan melihat data dari Alkitab sendiri:

a. Data Matius 2:1

Karena Herodes Agung mati pada tahun 4 SM, maka dapat dipastikan bahwa Yesus lahir sebelum 4SM.

b. Data Lukas 2:1-2

Data di luar Alkitab (Yosefus) membenarkan bahwa memang pernah ada sensus yang diselenggarakan pada permulaan tarikh Masehi. Dan ada seorang yang bernama Kirenius yang dikirim ke Siria dan Yudea untuk tugas itu. Tetapi kalau itu benar, maka tahun kelahiran Yesus adalah sekitar tahun 6 - 7 M.

c. Data Lukas 3:1

Tiberius menjadi penguasa kekaisaran Roma pada tahun 14 M, tahun ke-15 adalah tahun 28 M. Tetapi menurut data diketahui bahwa Tiberius sudah memegang kekuasaan tiga tahun sebelumnya. Sehingga bisa disimpulkan pada tahun 25-26 M, Tuhan Yesus berumur 30 tahun. Jadi kelahirannya antara 5-4 SM, yaitu sebelum Herodes meninggal.


3. Masa Muda Tuhan Yesus

Tidak banyak data yang bisa dikumpulkan tentang masa kanak-kanak Yesus. Tapi dari Injil Lukas dan latar belakang tradisi Yahudi, dapat disimpulkan bahwa:

a. Keluarga Yesus mengikuti tradisi Yahudi, Yesus disunat pada hari yang ke delapan (Luk. 2:21). Untuk itu Ia dibawa ke Bait Suci untuk mengesahkan sunat-Nya. Ia j
uga "ditebus" dengan membayar persembahan sebanyak 5 syikal (sepasang burung tekukur dan 2 anak burung merpati). Dan untuk pentahiran-Nya, Maria memberikan kurban untuk orang miskin (Luk. 2:24).

b. Karena ancaman kekejaman raja Herodes Agung yang ketakutan karena berita yang di bawa orang Majus, bahwa telah lahir "Raja orang Yahudi", maka oleh mimpi, Yusuf dituntun untuk membawa keluarganya meninggalkan Betlehem dan mengungsi ke Mesir (Mat. 2:14). Setelah Herodes mati, barulah mereka kembali. Tetapi karena anak raja Herodes (Arkhelaus) masih memerintah di Yudea, dan karena tuntunan mimpi, maka akhirnya mereka menetap di Nazaret (Mat. 2:19-23).

c. Yusuf adalah seorang tukang kayu. Profesi pekerjaan masyarakat biasa yang dapat ditemui di kota kecil Nazaret. Jadi dapat dipastikan Yesus juga mempunyai ketrampilan seperti ayah-Nya. Tapi yang jelas kita ketahui bahwa keluarga Yusuf tidaklah tergolong kaya, malah dapat dikatakan miskin.

d. Walaupun Yesus tidak berasal dari keluarga kaya, tapi terlihat bahwa Yesus mempunyai pendidikan yang cukup baik. Bahkan ia dapat membaca bahasa Ibrani (Luk. 4:16-20).

e. Karena dibesarkan di daerah Galilea, dimana banyak tinggal orang-orang bukan Yahudi, Yesus kemungkinan besar dapat berbicara 3 bahasa (Aram, Yunani, Ibrani).

f. Satu-satunya data tentang masa muda Yesus adalah ditemukan dalam Lukas 2:40-52, yaitu pada waktu Yesus berusia 12 tahun, ketika Ia mengunjungi Bait Allah. Pengetahuan-Nya tentang PL sangat mencengangkan para ahli Taurat.


Lihat Artikel : THE LOST YEARS OF JESUS: DIMANA YESUS BERADA KETIKA BERUSIA 12-30 TAHUN?, di http://www.sarapanpagi.org/the-lost-yea ... 2.html#p101


4. Tuhan Yesus Dibaptis

Pada umur 30 tahun Tuhan Yesus datang kepada Yohanes untuk dibaptis. Yohanes pertama menolak, karena baptisan Yohanes adalah baptisan untuk pertobatan dosa. Namun Yesus mau merendahkan diri untuk sama seperti manusia berdosa (meskipun Ia tidak berdosa) dan mau memikul dosa umat manusia, karena itulah yang dikehendaki Allah Bapa (Mat. 3:15). Kalau dibandingkan dengan Mark. 11:38, maka baptisan Yesus ini juga merupakan permulaan jalan salib yang akan dilalui-Nya.

Kata-kata yang diserukan oleh Bapa pada waktu pembaptisan (Mrk. 1:11) merupakan pendobrakkan terhadap konsep eskatologi Yudaisme tentang Mesias. Setelah peristiwa baptisan yang sangat menguatkan ini, Yesus dibawa oleh Roh untuk dicobai oleh iblis.



B. PELAYANAN TUHAN YESUS


1. Pelayanan di Yudea


Pelayanan awal Tuhan Yesus dilakukan pertama di daerah Yudea. Hanya Injil Yohanes saja yang memberikan kesaksian tentang pelayanan Tuhan yang pertama-tama, khususnya tentang hubungan-Nya dengan Yohanes Pembaptis. Di Betani Tuhan Yesus memilih 5 murid-murid-Nya yang pertama. Lalu Yesus ke Kana (daerah Galilea) dan membuat mukjizat-Nya yang pertama. Lalu ke Kapernaum dan Yerusalem untuk perayaan Paskah. Di sini Yesus mulai menunjukkan kewibawaan-Nya dengan membersihkan Bait Suci. Untuk beberapa saat Yesus melayani di Yerusalem. Percakapan dengan Nikodemus juga terjadi pada saat itu. Pemenjaraan Yohanes Pembaptis, mendorong Yesus pergi ke daerah Galilea. Dalam perjalanan ke sana Yesus sempat berbicara kepada perempuan di Samaria.


2. Pelayanan di Galilea

Kapernaum sering disebut sebagai markas pelayanan-Nya. Selain mengajar di sinagoge-sinagoge pada hari Sabat, Tuhan Yesus sering dijumpai membuat mukjizat dan menyembuhkan orang sakit, sehingga membuat-Nya sangat populer, khususnya dikalangan rakyat jelata. Namun demikian, sikap permusuhan orang Farisi dan ahli Taurat juga semakin kelihatan jelas. Pemilihan ke 12 murid memulai babak baru pelayanan misi Yesus. Pelayanan Yesus menjadi semakin luas dan banyak orang mengikut Yesus, baik untuk motivasi yang benar maupun salah, karena mereka melihat kuasa yang luar biasa melalui mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus dan juga pengajaran-Nya.

Pada akhir pelayanan-Nya di Galilea Yesus mulai banyak mengkonsentrasikan diri kepada 12 murid-murid-Nya. Dan karena semakin keras para ahli Taurat dan Farisi melawan pelayanan Yesus (termasuk usaha untuk menangkap Dia), maka mulailah Yesus mengundurkan diri dari penampilan secara umum. Mereka tidak berhasil mencelakai Yesus karena waktu-Nya belum sampai.


3. Pelayanan di Daerah Perea

70 orang diutus oleh Yesus untuk pergi ke seluruh kota Israel memberitakan tentang "Kerajaan Allah". Yesus masih tetap mengajar dan membuat banyak mukjizat meskipun banyak tantangan. Yesus semakin melihat bahwa waktu kesengsaraan akan segera datang sehingga Ia banyak berbicara tentang kesengsaraan dan kematian-Nya kepada murid-murid- Nya.


4. Minggu terakhir dan Kematian Yesus

Persiapan kematian-Nya didahului dengan peristiwa-peristiwa berikut ini: pengurapan dengan minyak Narwastu oleh Maria, Yesus ke Yerusalem dan disambut dengan sorakan "Hosana", perjamuan malam dan mencuci kaki murid-murid-Nya. Sebelum peristiwa perjamuan makan malam terakhir, (pada hari Paskah) Yudas telah terlebih dahulu menghianati Yesus dengan menjual-Nya kepada pihak Sanhedrin seharga 30 keping perak (harga seorang budak pada jaman itu). Pada saat Yesus ada di taman Getsemani, berdoa, para prajurit menangkap Yesus dengan bantuan Yudas.

Proses pengadilan Yesus dilaksanakan dengan sangat tidak adil, karena walaupun tidak ditemukan satu kesalahan pun Yesus tetap dijatuhi hukuman mati. Yesus disalib pada pukul 9 pagi, hari Jumat. Menjelang petang Yesus mati. Tubuh-Nya diambil dan dikuburkan oleh Yusuf Arimatea dan Nikodemus.


5. Kebangkitan Yesus

Pada hari yang "ketiga" (Minggu), Yesus bangkit dari kematian. Para wanita yang akan memberi rempah-rempah menemukan kubur kosong. Setelah kebangkitan-Nya, Yesus masih melayani murid-murid-Nya, yaitu dengan menguatkan dan menghibur mereka serta memberikan perintah-Nya yang terakhir, yang dikenal sebagai Amanat Agung Yesus Kristus.



C. GELAR-GELAR TUHAN YESUS


1. Anak Manusia


Gelar yang hanya diberikan kepada Tuhan Yesus. Gelar yang memberikan konsep baru yang tidak sama dengan konsep Mesias Yudaisme. Mat. 9:6; 10:23; 11:19


2. Mesias

Gelar yang mempunyai makna yang sama dengan Kristus, yang dalam bahasa Ibraninya berarti "Yang diurapi" Kis. 4:27; 10:38; Mrk. 9:41:14:61-62


3. Anak Allah

Gelar yang menunjukkan keAllahan-Nya, sebagai Oknum kedua dari Allah Tritunggal. Mat. 4:3, 6; 16:16; Luk. 22:70; Yoh. 1:49


4. Tuhan

Gelar yang diasa dipakai untuk menunjukkan pemilikan ("Tuan"), tetapi kadang juga dipakai untuk menunjukkan keAllahan. Mrk. 12:36- 37; Luk. 2:11; Mat. 7:22

Lihat Artikel : GELAR YESUS KRISTUS, di http://www.sarapanpagi.org/gelar-yesus- ... 5.html#p170


D. JABATAN-JABATAN TUHAN YESUS


1. Sebagai Nabi


PL memberikan nubuatan, bahwa Allah akan memberikan Nabi besar yang akan membawa Firman Allah secara utuh kepada umat-Nya (Ul. 18:15), Yesuslah Nabi yang dinubuatkan itu (Kis. 3:22). Lihat Artikel : 4. NABI, di http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=179#179


2. Sebagai Imam

Imam adalah seorang yang dipilih Allah untuk mewakili manusia bertemu dengan Allah, khususnya untuk mempersembahkan korban sebagai "pendamaian". Yesus sendirilah yang telah menjadi Kurban Pendamaian antara manusia dengan Allah (Ibr. 7:25; 9:24). Lihat Artikel : Yesus Sang Mesias – Imam Besar Agung, di http://www.sarapanpagi.org/yesus-sang-m ... .html#p3071


3. Sebagai Raja

Yesus telah memerintah dan berkuasa atas segala sesuatu atas nama jemaat-Nya karena Ia adalah "kepala" jemaat (Ef. 1:22), Ia juga telah menang melawan kuasa si Jahat (1Kor. 15:24-28) sehingga Ia berkuasa atasnya selama-lamanya. Lihat Artikel : 6. RAJA – ANAK DAUD, di http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=182#182


Tidak mungkin kita dapat melihat seluruh kehidupan, pelayanan dan pengajaran Tuhan Yesus secara lengkap dalam salah satu Injil saja. Hal ini jelas terlihat dari pengakuan dari penulis Injil sendiri bahwa ada banyak hal yang belum/tidak mereka catat dalam Injil mereka (Yoh. 20:30). Namun demikian pengajaran penting yang Yesus ajarkan selama di dunia telah secara lengkap dicatat oleh keempat Injil. Oleh karena itu untuk melihat secara lengkap sangat penting jika kita melihat keempat Injil secara bersamaan.


Artikel Terkait :
RIWAYAT HIDUP YESUS KRISTUS, di http://www.sarapanpagi.org/riwayat-hidu ... 8.html#p151


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Nov 08, 2007 12:18 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
PENYUSUNAN INJIL-INJIL SINOPTIK



Injil Matius, Markus dan Lukas disebut "Injil-injil Sinoptik" sebab ada banyak persamaan di antaranya; cara para penulis menyusun logia menjadi kitab Injil merupakan inti "masalah sinoptik".

Kitab-kitab Injil ini pada hakikatnya merupakan tiga edisi yang berbeda dari bahan dasar yang sama. Banyak dari persamaannya dapat dijelaskan dengan dugaan para penulis mungkin telah memakai kumpulan-kumpulan ucapan yang sama dan sedang beredar di antara berbagai kelompok orang Kristen. Tetapi persamaan-persamaannya lebih rumit dari itu, sebab ada banyak tempat di mana ketiga kitab Injil itu memakai bahasa, kosa kata dan susunan tata bahasa yang tepat sama, sehingga kebanyakan ahli yakin mereka memakai sumber-sumber tertulis yang sama pula.
Ada dua teori utama yang menjelaskan persamaan-persamaan ini. Yang pertama menganggap Injil Matius ditulis lebih dahulu, sedangkan yang kedua menganggap Injil Markuslah sebagai kitab Injil yang pertama.


a. Injil Matius ditulis lebih dahulu?


Pada abad ke-4 M, Agustinus berpendapat bahwa Matius ditulis lebih dahulu, kemudian Markus membuat sebuah ringkasan daripadanya. Akhirnya Lukas menulis kitab Injilnya berdasarkan Matius dan Markus. Hingga awal abad ke-20, itulah pandangan yang dipegang secara luas. Tentu terdapat variasi-variasi dari pandangan tersebut. Salah satu di antaranya - "hipotesa Griesbach" (yang dikemukakan oleh seorang ahli Jerman bernama J. J. Griesbach, 1745 - 1812) - yang akhir-akhir ini telah menjadi pusat perhatian para ahli kontemporer. Griesbach setuju dengan Agustinus bahwa Matius merupakan kitab Injil pertama yang ditulis, tetapi ia beranggapan bahwa yang berikutnya adalah Lukas. Kemudian Markus memakai Matius dan Lukas sebagai dasar karyanya.

Ada beberapa masalah dengan pandangan ini.

 Mengapakah seseorang mau meringkaskan Matius dan Lukas sehingga membuat sebuah kitab Injil seperti Markus? Dibandingkan dengan kedua kitab Injil yang lebih panjang, Injil Markus yang pendek itu tidak dapat dianggap komprehensif. Kelahiran Yesus dan masa kanak-kanak-Nya tidak disebut, hanya ada sedikit saja tentang ajaran-Nya yang paling distinktif, dan cerita tentang kebangkitan sangat singkat. Memang para penulis kitab Injil memilih bahan-bahan mereka sesuai dengan perhatian dan kebutuhan pembaca mereka, jadi pada prinsipnya bisa saja Markus menghasilkan suatu bentuk ringkas dari Injil Matius dan Lukas. Tetapi melihat justru unsur-unsur yang sangat sentral tidak disinggung atau hanya sepintas lalu disinggung oleh Markus, hampir mustahil membayangkan suatu kelompok Kristen akan merasa puas dengan cerita Markus tentang Yesus jika mereka sudah memiliki Injil Matius dan Lukas. Orang-orang Kristen dulu cenderung mengutamakan Matius dan Lukas oleh karena alasan-alasan tersebut. Kalau Markus ditulis terakhir, dengan pengetahuan penuh tentang adanya dua kitab Injil lain, sulit sekali menjelaskan mengapa kitab Injil tersebut ditulis.

 Sebagian besar ragam bahasa yang dipakai Markus seakan-akan menunjuk pada suatu kesimpulan yang sama. Kalau Markus telah memakai cerita-cerita Matius dan Lukas dengan bahasa mereka yang halus, mengapakah ia begitu sering menulis dalam bahasa Yunani yang secara praktis tidak dapat dimengerti? Perumpamaan tentang biji sesawi merupakan contoh yang baik di sini (Mrk. 4:30-32; Luk. 13:18-19; Mat. 13:31-32). Baik Matius maupun Lukas memakai ungkapan-ungkapan yang bagus, yang serupa satu sama lain. Tetapi sebaliknya Markus memakai kalimat bahasa Yunani yang ruwet tanpa kata kerja di dalamnya, yang tidak memberikan arti yang lengkap. Kalau ia menyalin dari Matius atau Lukas, maka kelihatannya ia benar-benar berusaha mengelak memakai kata-kata mereka - dan sulit sekali menemukan alasan yang baik untuk itu!

 Hampir sama sulitnya untuk percaya bahwa Lukas telah membaca dan memakai Injil Matius. Kalau ia memang memakainya, maka ia menerapkan prosedur kesusasteraan yang agak aneh. Injil Matius mengandung salah satu karya agung terbesar dalam kitab-kitab Injil, yakni Khotbah di Bukit. Kalau Lukas memiliki Injil Matius sewaktu ia menulis, mengapakah ia memecah-mecahkannya dengan memakai sebagian di dalam tulisannya sendiri, Khotbah di Dataran, dan sisanya disebarkan dalam bagian-bagian kecil di seluruh kitab Injilnya?


b. Injil Markus ditulis lebih dahulu?

Ada banyak contoh lain tentang masalah yang sama di tempat-tempat lain dalam ketiga Injil Sinoptik. Itu sebabnya kebanyakan ahli modern lebih menyukai suatu penjelasan yang agak berbeda tentang hubungan kitab-kitab tersebut satu sama lain.

Penjelasan yang lebih banyak diterima tentang persamaan antara Injil-injil Sinoptik adalah Matius dan Lukas memakai dua dokumen sumber sewaktu menyusun karangannya tentang kehidupan dan pengajaran Yesus. Inilah sumber-sumber yang kita kenal sekarang sebagai Injil Markus dan suatu dokumen hipotetis yang disebut "Q". Dapat dipastikan sedikitnya Lukas memakai berbagai sumber dalam menyusun Injilnya, sebab ia secara eksplisit mengatakan bahwa ia telah menyelidiki hasil pekerjaan orang-orang lain, serta memilih bagian-bagian dari tulisan mereka yang cocok dengan tujuan tulisannya sendiri. Melihat hubungan sastra yang dekat dengan Markus dan Lukas, kelihatannya pasti bahwa penulis Injil Matius memakai metode yang sama dalam karyanya.

Di dalam mencapai kesimpulan bahwa Matius dan Lukas memakai Injil Markus, para ahli Perjanjian Baru telah menganalisis teks ketiga Injil Sinoptik dengan memakai sedikitnya lima kriteria yang berbeda.


Pemakaian kata-kata


Suatu cara sederhana untuk menentukan hubungan sastra teks-teks yang berbeda adalah dengan membandingkan kata-kata yang dipakai dalam teks-teks tersebut. Lebih dari setengah kosakata yang dipakai Markus terdapat dalam Matius dan Lukas, dan keduanya mempunyai bagian-bagian yang sama tepat, yang tidak terdapat dalam Injil Markus. Jadi kelihatannya ada suatu sumber yang diketahui oleh mereka semua, dan suatu sumber lainnya yang hanya dipakai oleh Matius dan Lukas.


Urutan


Jikalau urutan peristiwa dalam suatu cerita yang terdapat dalam lebih dari satu kitab Injil juga sesuai dengan bagian-bagian yang mempunyai kata-kata yang sama, kita dapat maju selangkah dengan berasumsi adanya sumber yang sama, yang urutan maupun kata-katanya telah direkam oleh ketiga penulis. Dan memang ada banyak bukti tentang hal ini. Matius, Markus dan Lukas mengikuti urutan peristiwa yang sama dalam garis besarnya. Mereka mulai dengan pelayanan Yohanes Pembaptis, kemudian melanjutkannya dengan kisah baptisan dan cobaan Yesus. Setelah itu diceritakan tentang pelayanan yang meliputi pembuatan mujizat dan pengajaran di Galilea, yang mulai membangkitkan pertentangan dari para pemimpin Yahudi. Lalu Yesus mengadakan perjalanan ke wilayah utara untuk memberikan pengajaran khusus bagi murid-murid-Nya. Akhirnya mereka pergi ke Yerusalem, dan bagian akhir kitab-kitab Injil memberitakan tentang hari-hari terakhir Yesus, pengadilan-Nya, penyaliban, dan kebangkitan-Nya.
Di dalam kerangka umum ini, peristiwa-peristiwa khusus sering disampaikan dalam urutan yang sama.

Ciri-ciri Injil Sinoptik ini dapat diterangkan sebaik-baiknya bila kita beranggapan Matius dan Lukas memakai Markus, dan bukan sebaliknya. Sebab sesuatu yang mencolok ialah bila Matius menyimpang dari urutan Markus, Lukas tetap mengikuti urutan Markus tersebut; kalau Lukas menyimpang dari urutan Markus, Matius tetap mengikuti Markus. Hanya ada satu peristiwa yang oleh keduanya ditempatkan berlainan dari Markus, yaitu penetapan keduabelas murid (Mrk. 3:13- 19; Mat. 10:1-4; Luk. 6:12-16). Kadang-kadang Matius atau Lukas meninggalkan pola cerita Markus untuk menambah sesuatu yang baru, tetapi setelah penambahan tersebut, biasanya mereka kembali lagi mengikuti urutan Markus. Ini merupakan salah satu argumen terkuat yang mendukung anggapan bahwa Matius dan Lukas memakai Markus, dan tidak sebaliknya.


Isi

Analisis isi cerita juga mengungkapkan pemakaian sumber-sumber yang berlainan. Jika seorang penulis mencatat cerita yang sama dengan kata-kata dan urutan yang sama dengan seorang penulis yang lain, maka kita dapat menyimpulkan keduanya memakai sumber yang sama, atau salah satu telah mengutip dari yang lainnya. Itulah yang terjadi dalam Injil-injil Sinoptik; dari 661 ayat dalam Markus, 606 ayat ditemukan dalam Matius dalam bentuk yang hampir sama, dan kira-kira setengahnya terdapat juga dalam Lukas.


Gaya bahasa


Ini suatu kriteria yang sangat sulit dipakai secara memuaskan. Gaya bahasa seorang penulis dapat bergantung pada begitu banyak hal: situasi di mana ia menulis, kelompok pembaca yang hendak dicapai, apakah ia memakai seorang sekretaris atau tidak, dan sebagainya.

Jelas ada perbedaan gaya bahasa yang nyata antara Markus dan kedua Injil sinoptik lainnya, dan secara keseluruhan Injil Markus ditulis dengan bahasa Yunani yang lebih rendah mutunya. Umpamanya, ia sering melukiskan suatu peristiwa dengan memakai kata kerja bentuk masa kini walau hal-hal tersebut terjadi di masa lampau, sedangkan Matius dan Lukas selalu memakai kata kerja bentuk waktu lampau, yang tentunya lebih tepat. Ini merupakan salah satu argumen yang lemah, sebab hal itu didasarkan atas asumsi para penulis memakai sumber-sumber tersebut dengan cara yang agak kaku, hanya dengan menyalin kata demi kata dari naskah yang ada di hadapan mereka. Tetapi tidak banyak penulis yang mengikuti suatu sumber begitu dekatnya sehingga gaya bahasa sumber tersebut mengaburkan gaya bahasa mereka sendiri. Jika Markus agak lemah dalam penguasaan bahasa Yunani, maka tata bahasanya pun akan lemah, sekalipun dia hanya menyalin dari sumber tertentu.

Kita mempunyai dasar lebih kuat kalau kita mengamati bahwa Markus mencatat delapan ucapan Yesus dalam bahasa Aram. Lukas sama sekali tidak mengikutinya, sedangkan hanya ada satu contoh dalam Injil Matius. Lebih mungkin Matius dan Lukas menghilangkan ucapan-ucapan bahasa Aram tersebut, ketimbang Markus yang secara sengaja menambahkan ucapan-ucapan bahasa Aram dalam Injilnya.


Gagasan dan teologi


Jika dapat ditunjukkan salah satu cerita kitab Injil mengandung teologi yang lebih berkembang daripada kitab Injil lainnya, maka kita dapat menganggap kitab tersebut ditulis belakangan. Kelihatannya ini pengujian yang sederhana, namun tidaklah mudah menerapkannya dalam praktek. Sering sulit memastikan apa yang kelihatan sebagai suatu perbedaan dalam. sikap, memang benar-benar merupakan perbedaan. Lagi pula siapa yang akan menentukan "teologi apa yang berkembang" itu, dan bagaimana kita dapat yakin teologi tersebut berkembang belakangan ketimbang suatu pandangan "primitif"? Jika kita ingat teologi yang sangat berkembang dari Paulus sudah ada pada waktu kitab-kitab Injil ditulis, maka kita dapat melihat bahwa definisi mengenai perbedaan-perbedaan seperti itu, dan hubungan kronologisnya satu sama lain, merupakan suatu hal yang sangat subjektif.

Tentu ada sejumlah penekanan yang berbeda dalam kitab-kitab Injil, tetapi sulit mengetahui dengan pasti pengaruhnya terhadap penyusunan kitab-kitab Injil. Misalnya, Matius dan Lukas tampaknya telah mengubah atau menghilangkan pernyataan tertentu dalam Injil Markus yang dianggap kurang menghormati Yesus. Pernyataan Markus yang blak-blakan bahwa di Nazaret Yesus "tidak dapat mengadakan satu mujizat pun" (Mrk. 6:5), dalam Matius berbunyi, "tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ" (Mat. 13:58), dan Lukas menghilangkannya sama sekali. Begitu juga pertanyaan Yesus dalam Markus, "Mengapa kau katakan Aku baik?" (Mrk. 10:18) muncul dalam Matius sebagai, "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik?" (Mat. 19:17). Tidak semua kriteria di atas sama pentingnya. Ada kesulitan menentukan nilai dari sedikitnya dua di antaranya. Tetapi jika ditinjau bersama, hasil kumulatif dari keterangan yang ada paling mudah dijelaskan jika kita menganggap Matius dan Lukas memakai cerita Markus, dan Matius bukan kitab Injil asli yang diringkaskan oleh Markus dan sumber yang dipakai Lukas untuk kutipan-kutipan selektif.


Sumber :
John Drane, Memahami Perjanjian Baru, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996, Halaman : 191 - 196


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Thu Nov 08, 2007 12:24 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6494
SATU BERITA INJIL - EMPAT INJIL



Seorang rekan saya yang menjadi penginjil telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membangun persahabatan yang sungguh-sungguh akrab dengan sepasang suami istri berkebangsaan Jepang. Pasangan suami istri itu tinggal tidak jauh dari rumahnya. Dalam percakapan mereka pada suatu hari, rekan saya itu mendorong mereka agar memberi perhatian lebih saksama pada akar-akar historis dari iman Kristen dengan cara membaca Perjanjian Baru. Setelah beberapa hari membaca keempat Injil, si istri kemudian membuat rekan saya itu terkejut karena mengajukan pertanyaan berikut, "Mengapa Yesus harus mati empat kali?"

Bagi orang-orang yang besar di dalam lingkungan gereja ataupun mereka yang cukup akrab dengan Alkitab, pertanyaan ini terdengar agak konyol. Akan tetapi, pertanyaan ini segera membangkitkan suatu isu yang genting bagi para pembaca Injil-Injil. Mengapa harus ada empat catatan? Kenapa ada empat versi yang berbeda? Mengapa ada empat perspektif yang masing-masing memiliki kekhasan? Mengapa tidak dibuatkan satu saja catatan yang berotoritas? Ini tentu saja adalah salah satu isu paling genting yang harus dihadapi para pembaca empat kitab pertama dari Perjanjian Baru ini: Ada empat Injil-Injil, dan masing-masing tidak selalu sepakat dengan yang lain dalam berbagai hal.


MENGAPA EMPAT INJIL?


Mengapa empat Injil? Segera muncul dua jawaban yang saling kait- mengait. Di satu pihak, tidak seorang pun mampu menangkap keseluruhan signifikansi dari orang lain, dan prinsip ini berlaku terutama bagi sosok dengan bobot dan orisinalitas seperti Yesus. Walaupun potret Yesus yang disediakan Lukas dapat menolong para pembacanya, ia tentu saja tidak mampu menangkap seluruh hal-hal yang penting. Karena alasan inilah kita dapat bersyukur karena kita tidak hanya memiliki satu melainkan empat potret Yesus.

Di pihak lain, bahkan sejak zaman para rasul masing-masing komunitas Kristen membutuhkan catatan tentang pelayanan Yesus serta signifikansinya yang dikisahkan dalam cara yang secara khusus memenuhi kebutuhan mereka. Injil-injil adalah dokumen-dokumen yang memiliki tujuan tertentu. Dengan kata lain, kita dapat menyimpulkan bahwa Injil-injil, seperti surat-surat Paulus, adalah "tulisan-tulisan untuk menangani suatu keadaan tertentu." Maksudnya, sebagaimana Paulus menuliskan surat pertamanya kepada orang-orang Kristen di Korintus untuk menghadapi masalah-masalah spesifik yang terjadi di sana (misalnya, lihat 1Kor. 1:11; 5:1; 7:1), demikian juga para penulis Injil menuliskan Injilnya untuk menghadapi kebutuhan-kebutuhan tertentu. Karena itu, wajar bila Injil Yohanes menampilkan rasa yang berbeda bila dibandingkan dengan Injil Matius; Yohanes hendak menyapa suatu khalayak pembaca yang berbeda pula.

Sebenarnya, ada banyak "injil" yang ditulis pada abad-abad pertama keberadaaan gereja. Lukas sendiri menyadari adanya beberapa upaya untuk menyampaikan kisah Yesus yang telah dilakukan sebelum upayanya ini (Luk. 1:1). Karena itu, tidak perlu kita ragukan lagi kalau ada (semacam) injil-injil yang telah beredar pada dekade-dekade awal dari sejarah Kekristenan. Kita juga menyadari bahwa selama beberapa abad orang-orang terus terdorong untuk menuliskan injil-injil. Sebagian dari hasil upaya-upaya tersebut telah dikenal oleh para sarjana biblika dalam bentuk yang utuh sejak dulu; karya-karya lainnya yang dikutip oleh penulis-penulis masa lalu kini hanya dikenal namanya saja; namun, masih ada beberapa karya lain yang baru-baru ini ditemukan di antara penemuan-penemuan arkeologis di Nag Hammadi.

Kemungkinan besar injil-injil dalam kelompok yang disebut terakhir tadi (kadang-kadang disebut sebagai "injil-injil apokrifa") dituliskan lama setelah Injil-Injil Perjanjian Baru ditulis. Isi dari injil-injil ini kadang menyajikan bahan-bahan yang sangat menghibur dan mengikutsertakan kisah-kisah fantastis tentang Yesus serta perkataan- perkataan penuh teka-teki dan esoteris yang dianggap berasal dari Yesus. Seperti yang telah kita ketahui, hanya empat Injil - Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes - yang kemudian memiliki status otoritas yang diterima secara luas. Munculnya injil-injil lain yang kurang didasari oleh sejarah dan memiliki kecenderungan untuk melakukan penafsiran yang spekulatif ini bisa saja menjadi pendorong bagi pengakuan akan Injil-Injil dalam Perjanjian Baru sebagai catatan- catatan yang berotoritas.

Walaupun demikian, beberapa orang masih merasa tidak nyaman karena harus menghadapi kesaksian berganda tentang kisah Yesus yang seperti ini, bahkan pada masa-masa awal tersebut. Terasa adanya suatu ketegangan tertentu bila catatan-catatan yang berbeda itu ditempatkan berdampingan. Untuk memecahkan masalah ini, maka disusunlah edisi "harmonisasi Injil-injil" yang pertama. Penyusun buku ini, Tatianus, berusaha untuk menyuling narasi-narasi yang bervariasi dalam Injil- injil itu ke dalam satu catatan yang berotoritas. Pada akhirnya, buah dari usaha ini pun dirasakan tidak memuaskan oleh gereja purba waktu itu.

Kelihatannya judul-judul yang dibubuhkan kepada Injil-Injil tersebut memberikan sudut pandang terbaik bagi kita untuk memahami solusi purba bagi masalah empat Injil ini. Pada awalnya, Injil-Injil ini diedarkan tanpa dibubuhi baris judul. Judul-judul baru dibutuhkan setelah keempat Injil ini dikumpulkan bersama. Bila diterjemahkan secara harfiah, tulisan-tulisan ini diberi judul "Menurut Matius", "Menurut Markus", dst. Kata-kata ini tidak sekadar mengandung makna bahwa Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes adalah penulis kitab-kitab itu. Sebaliknya, kata "menurut" di sini menyiratkan suatu konformitas yang sangat mendasar kepada satu kisah - maksudnya, kepada satu berita injil - yang disampaikan oleh keempat penulis Injil. Hanya ada satu berita injil, tetapi berita injil itu telah disampaikan melalui empat penulis. 3 Karena itu, dengan memberikan judul demikian kepada keempat kitab tersebut, gereja purba sedang memberi kesaksian tentang kesatuan dari fokus dan bahasan keempat Injil itu. Pada saat yang sama mereka sekaligus memberi ruang bagi hadirnya keragaman dalam penyampaian kisah Injil.


EMPAT INJIL: OTORITAS YANG DIPIKUL BERSAMA


Apakah implikasi hal ini bagi pemahaman kita atas Injil-injil pada saat ini? Ada dua hal. Pertama, kita harus menyadari bahwa ketika gereja mula-mula memilih keempat Injil tersebut dan menempatkan mereka berdampingan, gereja mula-mula sedang menyatakan bahwa di antara keempat Injil-injil tidak ada Injil yang "paling baik" atau "lebih benar" daripada tiga Injil yang lain. Tentu saja, ketika kita mengakui peran aktif dari gereja purba di dalam proses kanonisasi Injil-injil, kita tidak menganggap hal ini sebagai suatu upaya manusiawi semata. Sebaliknya, kita percaya bahwa Roh Kudus menuntun keseluruhan proses ini.

Lalu apa anti dari kesimpulan bahwa keempat Injil-injil itu memiliki status yang sama? Pada intinya, itu berarti keempat Injil-injil merupakan saksi-saksi yang sama-sama valid atas berita injil yang tunggal itu, walaupun masing-masing memang memberikan kesaksian tentang berita injil itu dalam caranya yang khas. Masing-masing harus dibiarkan untuk bertumpu pada kakinya sendiri. Karena itu, Injil Yohanes tidak boleh kita anggap sebagai kunci untuk memahami berita dari Injil Markus. Sebagai karya-karya sastra, Injil-injil tetap memiliki integritasnya masing-masing. Akan tetapi, implikasi lain yang juga muncul adalah: tidak satu pun dari keempat Injil itu yang layak untuk menjadi saksi berotoritas atas berita injil bila hadir sendirian tanpa Injil yang lain. Karena Injil-injil disampaikan dari perspektif- perspektif yang berbeda, maka keempat Injil itu saling melengkapi satu dengan yang lain; keempatnya saling menyeimbangkan; masing-masing menyajikan aspek yang berbeda dari hakikat berita injil yang tunggal itu, yaitu signifikansi dari kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Kita membutuhkan keempat-empatnya dan tidak satu pun dari empat Injil itu dapat kita perlakukan sebagai saksi tunggal tentang signifikansi Yesus.

Kita dapat mengilustrasikan poin terakhir ini sambil mengacu kepada salah satu bagian dari Ucapan Berbahagia yang disampaikan dalam dua bentuk yang berbeda oleh Matius dan Lukas:

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga." (Mat. 5:3).

"Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah." (Luk. 6:20).

Yang menjadi pusat perhatian kita bukanlah perbedaan antara bentuk orang ketiga ("merekalah") yang digunakan Matius dan bentuk orang kedua ("kamulah") yang digunakan Lukas. Juga bukan tentang perbedaan antara istilah Kerajaan Surga yang digunakan Matius dengan Kerajaan Allah yang digunakan Lukas (sebenarnya, "Kerajaan Surga" dan "Kerajaan Allah" merupakan sinonim). Lima masalah yang lebih mendasar dalam ayat- ayat paralel ini terpusat pada kontras antara sapaan yang dalam Injil Matius kelihatannya ditujukan kepada "orang yang miskin secara rohani" dengan sapaan kepada "orang yang miskin secara materiil" di dalam Injil Lukas. Bila kita mengakui kedua Injil ini sebagai saksi- saksi yang sama-sama berotoritas atas satu berita injil yang sama, maka kita harus melawan semua upaya yang hendak menonjolkan versi yang satu melebihi versi lainnya. Kita perlu mendengarkan kedua-duanya. Bila kita menonjolkan yang satu melawan yang lain, maka hasilnya justru akan merugikan kita.

Karena itu, sementara kita menghargai serta memberi salut atas bangkitnya kembali kesadaran di antara banyak orang Injili mengenai kebenaran alkitabiah tentang sikap Allah bagi orang yang tertindas dan juga tanggung jawab kita demi kepentingan mereka, kita harus berusaha untuk mengapresiasi keseluruhan kisah itu. Dengan alasan yang kuat, kalangan Injili yang mulai mengembangkan kesadaran sosial telah memalingkan perhatian mereka kepada Injil Lukas. Sikap ini mereka lakukan dalam upaya mendasarkan segala keprihatinan yang mereka rasakan pada inti dari berita injil.6 Dari berbagai sisi, tampak bahwa Injil Lukas memang sangat cocok untuk upaya ini. Injil ini memang memberi penekanan pada Yesus sebagai Juruselamat bagi semua orang, bahkan (dan terutama) bagi mereka yang tertindas. Walaupun demikian, Lukas hanyalah salah satu dari empat Injil yang ada. Bila kita mengesampingkan Injil Matius, Markus, ataupun Injil Yohanes dalam upaya untuk menjangkau inti dari pemberitaan Yesus, maka kita sama saja sedang menolak fakta bahwa yang hadir di hadapan kita adalah Injil yang memiliki empat wajah! Karena itu, tidak satu pun dari keempat Injil itu yang dapat kita perlakukan sebagai saksi berita injil yang komplit, sehingga tidak perlu dilengkapi oleh tiga Injil lainnya.

Selain itu, bila kita memperhatikan signifikansi dari istilah miskin pada masa-masa sebelum dan sesudah pelayanan Yesus di bumi, kita akan melihat tidak adanya kontradiksi antara ucapan berbahagia versi Matius dengan versi Lukas tersebut. Oleh karena kondisi-kondisi sosial dan politis yang timbul akibat pendudukan asing pada masa tersebut (yang akan kita perhatikan pada pasal berikut), kesetiaan kepada Allah dapat berdampak pada kemiskinan materiil, dan bahkan inilah yang kerap terjadi! Karena itu, kedua istilah ini, "miskin" (kemiskinan yang bersifat sosioekonomis) serta "miskin dalam roh" (kerendahan hati yang penuh kesalehan) sama-sama mencakup dimensi-dimensi kehidupan yang bersifat religius serta sosial. Ketika Matius dan Lukas menyampaikan perkataan Yesus ini, keduanya sedang menunjuk kepada satu realitas yang sama sambil memberi penekanan pada aspek-aspeknya yang berbeda.



Sumber:
Joel B. Green, Memahami Injil-injil dan Kisah Para Rasul, Persekutuan Pembaca Alkitab, Jakarta, 2005, Halaman : 19 – 25


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 12 posts ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
Powered by phpBB & phpBB SEO
Sarapan Pagi © 2006 by BP & Saxman