SarapanPagi Biblika

Bible Study / Christian Library
It is currently Mon Sep 06, 2010 10:25 pm

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 2 posts ] 
Author Message
 Post subject: JULIUS CAESAR 100 sM-44 SM
PostPosted: Wed Jun 28, 2006 4:09 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6490
JULIUS CAESAR 100 sM-44 SM



Image


Tatkala suasana politik bukan alang-kepalang hangat dan tajamnya, lahirlah di Roma seorang militer dan politikus Romawi yang masyhur, Gaius Julius Caesar, tahun 100 SM.

Di abad kedua sebelum Masehi, sesudah kemenangannya menundukkan Cartago dalam Perang Punik kedua, orang-orang Romawi sudah berhasil mendirikan kekaisaran yang luas. Penaklukan ini membikin mereka punya harta melimpah. Tetapi, peperangan membikin keadaan sosial ekonomi porak poranda dan banyak petani terusir dari sawah ladangnya. Senat Romawi, yang asalnya semacam dewan kota kecil, terbukti tak mampu mengatur negeri yang sudah begitu melebar secara efisien. Korupsi politik merajalela dan seluruh daerah Laut Tengah menderita sangat akibat ketidakbecusan pemerintah Romawi. Di Roma sendiri, bermula pada tahun 133 SM, sudah terjadi kekacaubalauan dalam masa yang cukup lama.

Politisi, para jendral dan para demagog saling bergulat merebut kursi kekuasaan dan pasukan pemberontak (seperti yang dipimpin Marius tahun 87 SM dan yang dipimpin Sulla tahun 82 SM) bergerak langsung ke jantung Roma. Kendati kebrengsekan pemerintahan sudah jelas-jelas bagi setiap orang, umumnya rakyat Romawi masih tetap ingin mempertahankan sistem pemerintahan republik. Julius Caesar mungkin pemimpin politik penting pertama yang dengan gamblang melihat bahwa pemerintahan demokratis di Roma tak ada faedahnya dipertahankan, dan memang sesungguhnya sudah lama tak ada bawa faedah.

Caesar sendiri berasal-usul keluarga bangsawan lama. Dia peroleh pendidikan baik dan sebagai anak muda dia sudah menceburkan diri ke dunia politik. Pelbagai jabatan yang pernah dipegangnya, pertumbuhan karier politiknya yang mengesankan, hubungan persekutuan yang pernah dibuatnya, secara detail tidak akan dijabarkan di sini. Tetapi, tahun 58 SM ketika usianya menginjak empat puluh dua Julius Caesar ditunjuk sebagai gubernur yang membawahi tiga propinsi di bawah Roma: Cisalpine Gaul (bagian utara Itali); Illyricum (daerah pantai Yugoslavia kini); dan Narbanese Gaul (pantai Perancis sekarang). Di bawah komandannya saat itu ada empat pasukan Romawi yang beranggotakan 20.000 tentara.

Selama tahun-tahun antara 58-51 SM, Caesar menggunakan pasukan itu menyerbu dan menaklukkan sisa daerah Gaul, daerah yang kira-kira terdiri dari Perancis dan Belgia kini, berikut bagian-bagian dari Swiss, Jerman, dan Negeri Belanda. Meskipun jumlah pasukannya teramatlah sedikit, dia berhasil memukul orang-orang Gallik dan sekaligus memperluas daerah kekuasaan Romawi hingga menyentuh Sungai Rhine. Dia juga mengirimkan dua ekspedisi ke Inggris, tetapi tidak berhasil menaklukkan secara permanen.

Penaklukan Gaul membuat Caesar --yang memang sudah menjadi pemuka politik-- seorang pahlawan tatkala kembali ke Roma. Dan di mata lawan-lawan politiknya malahan terlampau populer dan terlampau kuat. Ketika kendali komando militernya berakhir, dia diperintahkan oleh Senat Romawi kembali ke Roma dan menjadi penduduk biasa. Yang artinya tanpa punya pasukan samasekali. Caesar khawatir, dan kekhawatiran ini beralasan, karena jika dia kembali ke Roma tanpa pasukan, lawan-lawan politiknya akan menggunakan peluang menghancurkannya. Oleh sebab itu, di malam tanggal 10-11 Januari 49 SM, dalam perlawanan terbuka terhadap Senat, Caesar memimpin pasukannya menyeberangi Sungai Rubicon di belahan utara Italia dan menuju Roma. Ini merupakan langkah melanggar aturan dan tak lain daripada suatu pemula perang saudara antara pasukan Caesar di satu pihak melawan pasukan yang setia kepada Senat di lain pihak. Pertempuran berkecamuk tak kurang dari empat tahun lamanya yang akhirnya dimenangkan oleh Caesar. Pertempuran penghabisan yang menentukan terjadi di Munda, Spanyol, tanggal 7 Maret 45 SM.

Caesar berkesimpulan bahwa despotisme yang efisien yang diperlukan Romawi hanyalah dia yang bisa melakukannya. Dia kembali ke Roma bulan Oktober tahun 45 SM dan segera menjadi diktator seumur hidup. Di bulan Februari 44 SM dia ditawari mahkota tetapi mentah-mentah ditolaknya. Meskipun dia sudah jadi diktator militer, ini belum cukup meyakinkan secara mantap lawan-lawan yang berhaluan republik. Tanggal 15 Maret 44 SM, Caesar terbunuh di sidang Senat oleh tangan sebuah komplotan.

Di masa-masa akhir hayatnya, Caesar merancangkan pelbagai program perbaikan. Dia merencanakan penempatan veteran tentara serta kaum miskin penduduk Romawi di dalam suatu masyarakat baru di seluruh kekaisaran. Dia pun memperluas kewarganegaraan Romawi dengan memberi kesempatan kepada pelbagai golongan memasukinya. Dia merencanakan meletakkan dasar administrasi seragam untuk seluruh pemerintahan kota-kota di seluruh negeri. Dan tak lupa rencana pembangunan, serta kodifikasi hukum Romawi. Yang tidak berhasil dilakukannya adalah menyusun sistem konstitusi yang memuaskan untuk pemerintah Romawi. Dan inilah mungkin yang menjadi sebab utama kejatuhannya.


Peta Asia Minor saat Julius Caesar memerintah

Image

Karena selisih satu tahun antara kemenangan Caesar di Munda dengan terbunuhnya dia di sidang Senat di Roma, banyak rencana-rencananya tak sempat diterapkan.

Karena itu sukar diperkirakan kesempurnaan pemerintahan yang bagaimana yang akan bisa dinikmati andaikata Caesar dapat terus hidup. Dari semua perbaikan-perbaikan, yang paling punya akibat lestari adalah diperkenalkannya kalender baru. Kalender baru yang diperkenalkannya ini, dengan sedikit penyempurnaan, tetap terpakai sejak itu.

Julius Caesar adalah salah seorang dari tokoh politik yang punya daya kharisma dalam sejarah, melekat dalam dirinya pelbagai rupa bakat. Dia seorang politikus yang sukses, seorang jendral yang brilian, seorang orator yang mempesona, dan seorang penulis yang bagus. Buku yang ditulisnya (De bello Gallico) melukiskan ihwal penaklukan Gaul, sudah lama dianggap sebagai karya kesusasteraan klasik. Menurut pendapat banyak mahasiswa, buku itu paling mudah dibaca dan paling menarik dari semua kesusasteraan klasik. Caesar berpembawaan berani, penuh energi, dan ganteng. Tak salah dicatat, Caesar terkenal juga seorang perayu ulung, seorang Don Yuan, bahkan menurut ukuran jamannya pun dia termasuk jempolan. (Petualangan cintanya yang paling terkenal tentu saja --romannya yang menggemparkan dengan Cleopatra).

Watak Caesar sering jadi sasaran kritik. Ambisinya terhadap kekuasaan terlampau besar, dan dia memang betul-betul gunakan jabatannya untuk perkaya diri. Tetapi, tak seperti umumnya politisi yang ambisius, dia tidaklah licik dan plintat-plintut, dan tidak pula munafik. Caesar seorang keras dan kejam tatkala memerangi Gaul. Di lain pihak, dia teramat ramah kepada orang-orang Romawi penentangnya yang sudah dipatahkannya.

Ini merupakan petunjuk dari nama baik yang melekat pada dirinya. Karena itu, baik gelar raja Jerman "Kaiser" maupun raja Rusia "Czar", berasal dari nama Caesar. Dia senantiasa lebih masyhur dari cucu kemenakannya Agustus Caesar, tokoh yang sesungguhnya pendiri kekaisaran Romawi. Tetapi, pengaruh sesungguhnya Julius Caesar terhadap sejarah tidaklah setara dengan ketenaran namanya. Memang betul, dia pegang peranan penting dalam jatuhnya Republik Romawi. Tetapi arti penting ini tidaklah perlu dilebih-lebihkan, karena republik itu sebetulnya sudah sempoyongan dengan sendirinya.

Karya terpenting Caesar ialah penaklukannya atas Gaul. Daerah yang ditaklukkannya tetap berada di bawah kekuasaan Romawi selama hampir lima abad. Dalam jangka masa itu, semuanya "diromawikan." Hukumnya, adat-istiadatnya, bahasanya, dan juga kekristenan Romawi. Bahasa Perancis sekarang pada dasar pokoknya berasal-usul dari bahasa Latin masa itu.

Penaklukan Caesar atas Gaul juga pengaruh penting terhadap Romawi sendiri, karena menyediakan pelindung buat Itali selama berabad-abad dari serangan dari sebelah utara. Sesungguhnya penaklukan Gaul merupakan faktor keamanan buat keseluruhan kekaisaran Romawi.

Apakah Romawi --cepat atau lambat-- mampu menaklukkan Gaul tanpa Julius Caesar? Mereka tidak punya kelebihan teknologi atau kelebihan jumlah daripada suku-suku Gaul. Tetapi di lain pihak, Romawi sudah meluaskan daerahnya di masa sebelum Caesar menaklukkan Gaul, begitu pula sesudahnya. Menilai keefektifan segi militer Romawi saat itu dan keretakan yang ada dalam tubuh suku-suku Gallic, tampaknya memang kecil kemungkinan Gaul bisa bertahan sebagai suatu bangsa merdeka. Namun, tidaklah disangsikan lagi Caesar merupakan seorang jendral yang sesungguhnya sudah menaklukkan pasukan Celtic yang besar dan menaklukkan Gaul. Dan tercantumnya dia di daftar buku ini adalah karena terutama dari apa yang sudah dilakukannya itu.

Situs Web
http://www.perseus.tufts.edu/JC/
http://www.vroma.org/~bmcmanus/caesar.html
http://www.iol.ie/~coolmine/typ/romans/romans6.html
http://www.livius.org/caa-can/caesar/caesar01.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Julius_Caesar



Disalin dari :
Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart, 1978
Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostPosted: Sun Jul 09, 2006 6:59 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6490
JULIUS CAESAR

Menarik menyaksikan dua film DVD panjang dalam seminggu ini, yang pertama berjudul Julius Caesar yang terdiri dari dua keping dan yang kedua berjudul Rome produksi HBOfilms yang terdiri dari empat keping yang mencakup masa tayang 12 jam secara keseluruhan. Mengumpulkan koleksi film-film berkenaan dengan sejarah para raja dan kerajaan sekitar masa kehidupan Yesus menarik untuk menjadi bahan pelajaran sejarah, sebab film-film semacam a.l. Alexander, Cleopatra, Spartacus, Attila, Caligula dan Nero memberikan kita gambaran mengenai carut-marut dunia politik yang menyangkut raja-raja dan kerajaan Romawi pada masa sekitar kelahiran kekristenan, carut-marut yang akhirnya menjadi boomerang yang menenggelamkan raja/kerajaan itu sendiri (bandingkan dengan buku SuveiPerjanjian Baru karya Merril C. Tenney yang mengupas latar belakang sejarah sekitar kelahiran kekristenan).

Julius Caesar adalah tokoh paling populer dalam rangkaian cerita itu, apalagi perkawinannya dengan Cleopatra banyak dikenal. Julius Caesar mati karena dibunuh (44 sM) oleh anggota Senat termasuk temannya sendiri dengan ucapannya yang terkenal sebelum ia menghembuskan nafas terakhir: “Kau juga Brutus?” Kematiannya karena konspirasi menyebabkan Roma sempat mengalami chaos namun kemudian pada tahun 43 sM setelah para pembunuhnya satu-persatu dibinasakan oleh pendukung Caesar, posisinya digantikan oleh triumvirat Markus Antonius, Lepidus, dan Octavianus yang masih berumur 18 tahun. Pelan dan pasti kemudian Lepidus lepas dari trio ini dan setelah Markus Antonius yang kemudian mengawini Cleopatra bunuh diri maka Octavianus naik tahta tunggal dengan gelar Augustus (27sM – 14M). Agustus yang adalah kemenakan-cucu dari Julius Caesar kita kenal sebagai penyelenggara sensus yang mendorong Yusuf dan Maria pergi dari Nazaret ke Betlehem sebelum melahirkan Yesus (Lukas 2:1).

Banyak tokoh pemimpin memulai programnya dengan kerinduan untuk mendatangkan perubahan dan demokrasi, tapi sama halnya dengan Julius Caesar, banyak pemimpin ketika makin berkuasa dan kerajaannya menjadi besar, kemudian terikat jerat ambisi kekuasaan yang tak terbendung dan berakhir pada otorianisme dan tiranisme. Kekuasaan atau tahta adalah jerat kepemimpinan yang sulit dihindari manusia yang penuh ambisi seingga segala usaha dan intrik-intrik politik digunakan untuk merebutnya. Harta adalah tujuan sampingan yang melekat dalam kekuasaan dan menjadi tujuan para pemimpin karena tanpa harta kekuasaan sulit digapai dan dengan kekuasaan harta bisa direbut.

Menarik menyaksikan sejarah kekristenan awal, betapa firman Tuhan menanamkan konsep berbeda mengenai sikap kita menghadapi kekuasaan dan harta. Pelayanan para rasul yang tanpa pamrih pelan tapi pasti kemudian mulai mempengaruhi dunia perpolitikan sehingga kondisi para kaisar dan tatanan pemerintahan Romawi menjadi semakin manusiawi dimata rakyat. Kondisi ini memuncak dengan ‘bertobatnya’ kaisar Konstantin menjadi Kristen sehingga pusat pemerintahan dipengaruhi dengan moralitas yang diajarkan oleh Yesus dan para Rasulnya.

Masuknya Konstantin menjadi Kristen sekaligus menjadi berkat tetapi juga menjadi petaka bagi kekristenan. Menjadi berkat karena kalau sebelumnya kekristenan dibungkam kemudian kekristenan dijadikan agama resmi bahkan direstui oleh kaisar, tetapi kondisi demikian sekaligus menjadi petaka bagi kekristenan, sebab masa itu dikenal sebagai masa ‘gereja disekularisasikan.’ Gereja diangkat sebagai agama resmi pemerintahan dan para pemimpinnya diberi pakaian kebesaran bak pejabat negara, demikian juga gereja dihadiahi gedung-gedung Basilika yang besar sebagai tempat ibadat. Pengaruh visual ini disusul pengaruh virtual dimana kemudian kalau sebelumnya moralitas Kristen menggarami kerajaan Romawi, sekarang kepemimpinan kristen dipengaruhi oleh moralitas dunia politik riel dengan intrik dan perebutan kekuasaan dan asset. Ketika dunia dikristenkan, ketika itu juga terjadi gereja di duniawikan.

Perjalanan gereja selanjutnya sampai sekitar satu melenium menghasilkan masa kegelapan (abad-5-15) dalam sejarah Eropah, dimana kekuasaan gereja menjadi-jadi dan menjadi penguasa lahir batin atas rakyatnya. Sejarah Eropah diisi oleh sejarah gereja yang penuh lika-liku perpolitikan. Perang salib (abad-11-13) lebih merupakan perang politik daripada perang keyakinan, demikian juga Inquisisi pada abad pertengahan dan perang Hugenot pada masa Reformasi lebih menggambarkan pergesekan politik negara-negara daripada urusan kegerejaan. Sejarah gereja abad kegelapan mengungkapkan kepada kita bahwa gereja tidak rentan terhadap pengaruh dunia politik yang penuh dengan intrik-intrik dan interes berebut kekuasaan dan asset (lihat VCD ‘History of Christianity’ dan DVD ‘Christianity, The First Thousand Years’ dan ‘Christianity, The Second Thousand Years.’

Riak-riak ‘politik masuk gereja’ masih ada sampai sekarang. Kita bukan saja telah melihat perebutan kekuasaan antar keuskupan di Eropah pada masa kegelapan (seperti kasus The Templar yang disinggung dalam The Da Vinci Code), tetapi masakini pun perebutan mencapai kedudukan ketua sinoda juga masih sering diisi ambisi-ambisi akan kursi dan uang yang menyedihkan Tuhan. Kedudukan pendeta jemaat pun masakini banyak diisi dengan ambisi yang lebih mempermalukan Tuhan daripada memuliakann-Nya!

Memang banyak pendeta melayani dengan tulus sehingga ketika pensiun (emiritat) banyak jemaat masih merindukannya dan tetap bernostalgia akan pelayanan tanpa pamrih pendetanya itu. Tetapi perlu banyak didoakan karena di gereja-gereja tertentu persaingan antar pendeta tidak jarang terjadi. Kalau ada dua pendeta maka timbullah fraksi-fraksi yang mendukung masing-masing pendeta. Belum lagi kalau harus menyerahkan estafet kepemimpinan, tidak jarang timbul hal-hal yang tidak kasih, sehingga timbullah ‘demam Julius’ mengenai ‘pewaris kekuasaan’ yang sering dicapai dengan tidak kasih atau bahkan nepotisme dengan diangkatnya putra mahkota yaitu anak sendiri sebagai penerus kerajaan pelayanan.

Dalam gereja-gereja yang berpola ‘presbyterian’ (jemaat dipimpin para penatua), sekalipun kemungkinan pergeseran pelayanan kearah kekuasaan lebih kecil tapi ‘demam Julius’ juga acap kali terjadi, apalgi di jemaat-jemaat yang berpola ‘konggregasional’ (jemaat setempat) sering kali terjadi bahkan majelis jemaatpun kalau ada, bisa tidak bergigi dan keuangan gereja dikuasai pendetanya dan bahkan ada yang majelis dan jemaatnya tidak mempunyai akses sama sekali untuk mengontrolnya.

Di tengah dunia yang makin sekuler dimana ‘demam Julius’ dimana kekuasaan dan keuangan menjadi prioritas yang dikejar, dunia gereja berada dalam bahaya demam yang sama. Sudah saatnya gereja-gereja dan khususnya para jemaat mendoakan dengan benar perilaku para pemimpin gereja, agar mereka kembali bermental ‘melayani’ dan bukannya ‘memerintah.’ Rasul Petrus yang begitu ambisius dan temperamental, ketika makin dewasa imannya menulis surat:

“Aku menasehatkan para penatua diantara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kami berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah menjadi teladan bagi kawanan domba itu.” (1Petrus 5:1-3).

Amin!


Disalin dari : Herlianto/ http://www.yabina.org


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 2 posts ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
Powered by phpBB & phpBB SEO
Sarapan Pagi © 2006 by BP & Saxman