VIII. KEUNGGULAN ROMAWI
Pada tahun 66 sM senat dan bangsa Roma mengutus jendral paling ulung waktu itu,
Pompius, untuk menyelesaikan perang, yang mereka lancarkan sewaktu-waktu selama lebih dari 20tahun terhadap
Mithridates, raja dari
Pontus, yang telah membentuk suatu kerajaan di Asia Barat meliputi daerah negeri-negeri
Seleukus yang makin lemah dan Negara-negara yang berdekatan. Tidak lama
Pompius mengalahkan
Mithridates (yang lari ke Krimea dan bunuh diri disana) ; tapi sebagai akibatnya
Pompius dihadapkan kepada keharusan menata kembali kehidupan politik di Asia Barat. Tahun 64sM
Pompius mencaplok Siria dan menjadikannya propinsi Roma. Ia juga diundang oleh beberapa golongan yang bertikai di negeri
Yahudi, untuk mencampuri persoalan mereka dan mengakhiri perang saudara antara anak-anak
Yannaeus.
Berkat analisis tajam
Antipater mengenai situasi, maka partai yang mendukung
Hyrkanus menunjukkan sikap bersedia bekerja-sama dengan Roma, dan
Yerusalem membuka gerbang-gerbangnya bagi
Pompius pada musim semi tahun 63 sM. Tapi
Bait Suci, yang terpisah dibentengi dan dipertahankan oleh pendukung
Aristobulus, menderita pengepungan selama 3 bulan, sebelum direbut oleh pasukan
Pompius.
Yehuda sekarang menjadi pembayar upeti kepada Roma. Kekuasaannya atas kota-kota Yunani yang ditaklukkan raja-raja
Hasmonaean dicabut, dan
orang Samaria dibebaskan dari pengawasan
Yahudi.
Hyrkanus diberhentikan sebagai imam besar dan pemimpin bangsa itu, dan dia harus puas dengan gelar
"ethnarch" (wali negeri) karena Pemerintah Roma menolak menakuinya sebagai raja.
Antipater terus menolak membantunya, bertekat memanfaatkan perubahan yang baru itu demi kepentingannya sendiri yang (ini harus diakui) umumnya sesuai dengan keuntungan Yehuda.
Aristobulus dan keluarganya berupaya terus dari waktu ke waktu untuk menimbulkan pemberontakan terhadap Roma, sedemikian rupa, untuk menegakkan kekuasaan di Yehuda untuk dirinya sendiri. Tapi selama beberapa tahun upaya ini selalu gagal. Gubernur-gubernur Romawi berusaha keras untuk menguasai Yehuda dan Siria, karena kedua propinsi Roma ini sekarang berada di perbatasan timur wilayah kerajaan Roma, berbatasan dengan kerajaan saingan,
Partia.
Akan betapa pentingnya letak strategis kedua daerah ini teracu dalam jumlah pokok besar sejarah Romawi, yang turut berperan dalam perjalanan sejarah Yehuda dan menjadikannya propinsi Roma;
Krassus, gubernur Siria tahun 54-53sM yang merampok
Bait Suci di
Yerusalem dan banyak lagi kuil di Siria, sambil mengumpulkan sumber-sumber dana untuk biaya perang melawan
Partia, tapi dikalahkan dan dibunuh oleh musuhnya di
Karhae t di tahun 53sM;
Julius Caesar yang menjadi pemimpin dunia Romawi setelah menyingkirkan
Pompius di
Farsalus tahun 48sM;
Mark Anthony, yang menguasai propinsi-propinsi wilayah timur kerajaan Roma, setelah dia dan
Octavius mengalahkan pembunuh
Julius Caesar dan komplotan pembunuh itu di Filipi tahun 42sM; kemudian
Octavius sendiri yang menyingkirkan
Mark Anthony dan
Cleopatra di
Aktium pada tahun 31sM dan sesudah itu memerintah dunia Romawi yang dikenal sebagai
Kaisar Agustus.
Selama pergantian pemimpin pada prang saudara dan perang melawan kerajaan lain,
Antipater dan keluarganya mempertahankan politik mendukung wakil utama kekuasaan Romawi di Timur setiap waktu, siapapun orangnya dan dari partai manapun dia di Negara Romawi. Khususnya
Julius Caesar mempunyai alasan untuk berterima kasih kepada
Antipater atas bantuannya, sewaktu
Julius Caesar terkepung di
Alexandria selama musim dingin tahun 48-47sM,
Julius Caesar memberikan hak-hak istimewa bukan hanya kepada
Antipater sendiri, tetapi juga kepada
orang Yahudi.
Kepercayaan ini sebagai dampak dari jasa keluarga
Antipater yang dinikmati oleh orang Roma, nyata mencolok pada tahun 40sM. Pada tahun itu orang
Partia menyerbu
Siria dan
Palestina dan memampukan
Antigonus, anak terakhir yang masih hidup dari
Aristobulus II untuk memperoleh kembali takhta
Hasmonaean dan memerintah sebagai raja sekaligus Imam Besar atas
orang Yahudi.
Hyrkanus II dipuntungkan sehingga tidak boleh menjadi imam besar lagi. Pada waktu ini
Antipater telah meninggal. Tapi orang mencoba mengangkap dan menghancurkan keluarganya. Seorang anaknya
Fasael, ditangkap dan dibunuh, tapi
Herodes, anak
Antipater yang paling cakap, lari ke Roma.
Senar Roma memilih
Herodes menjadi raja
orang Yahudi, atas permintaan
Mark Anthony dan
Octavius. Tugasnya ialah merebut kembali
Yehuda dari
Antigonus (yang tidak diganggu oleh komandan pasukan Romawi di
Siria, sewaktu pasukan penyerbu dari
Partia diusir keluar) dan memerintah daerah itu demi kepentinga Romawi, sebagai 'teman dan sekutu' mereka. Tigas itu tidak mudah dan baru tuntas tahu 37sM dengan penyerbuan
Yerusalem setelang pengepungan selama 3 bulan. Nyata bagi
Herodes bahwa kebencian terhadap dirinya membara pada pihak warga yang baru itu, yang tidak dapat disingkirkannya betapapun ia berusaha.
Antigonus dibelenggu dan dikirim kepada
Mark Anthony, yang menjatuhinya hukuman mati. Herodes mencoba mengukuhkan kedudukannya di mata
orang Yahudi dengan mengawini
Miriamme, seorang putri
Hasmonaean, tapi perkawinan ini bahkan menambah kesulitan, bukan mengurangi.
Kedudukan
Herodes sangat gawat pada 6tahun pertama pemerintahannya. Biarpun
Mark Anthony adalah teman dan pelindungya, tapi
Cleopatra bertekat memasukkan
Yehuda ke dalam kerajaannya, seperti diperbuat nenek moyangnya, orang
Ptolemeus. Untuk tujuan itu
Cleopatra berusaha mempengaruhi
Mark Anthony. Tergilingnya
Cleopatra dan
Mark Anthony pada tahun 31sM, dan dikukuhkannya kedudukan
Herodes dalam kerajaannya oleh sang penakluk,
Kaisar Agustus, mendapakkan beberapa keringanan dalam hal urusan luar negeri baik dalam lingkungan keluarganya sendiri maupun dalam hubungannya dengan
bangsa Yahudi. Namun dia memerintah
Yehuda dengan tangan besi, dengan melayani kepentingan-kepentingan Roma lebih baik dibandingkan Gubernur Romawi manapun juga.
Sesudah
Herodes meninggal tahun 4sM, kerajaannya dibagi oleh ketiga anak-anaknya yang masih hidup.
Herodes Arkelaus memerintah
Yehuda dan
Samaria sebagai wali negeri sampai tahun 6M;
Herodes Antipas memerintah
Galilea dan
Perea sebagai raja wilayah sampai 39M;
Herodes Filipus menerima daerah timur dan timur laut dari Tasik
Galilea, yang ditenteramkan ayahnya untuk kepentingan Kaisar, dan memerintah sebagai raja wilayah itu sampai kematiannya tahun 34M.
Herodes Antipas mewarisi keecrdasan politik dan menerukan tugas memajukan kepentingan Romawi di wilayahnya dan sekitarnya. Tetapi
Herodes Arkelaus mewarisi kebengisan ayahnya tanpa kecerdasan. Segera warganya bangkit menentang dia, yang mencapai puncaknya ketika mereka memohon supaya Kaisar Romawi menggesernya guna menghindari timbulnya pemberontakan. Sesuai dengan permohonan itu
Herodes Arkelaus dipecat dan diasingkan. Wilayah timur diatur kembali sebagai satu propinsi Romawi tingkat tiga. Dan guna pengaturan upeti tahunan kepada bendahara kekaisaran, maka Gubernur
Siria,
Kirenius, mengadakan sensus di
Yehuda dan
Galilea. Sensus ini menyulut pemberontakan
Yudas dari
Galilea. Pemberontakan itu dipatahkan, namun cita-citanya tetap hidup dalam kelompok
orang Zelot, yang menyatakan bahwa membayar upeti kepada Kaisar atau kepada pemerintah kafir manapun, adalah merupakan pengkianatan terhadap Allah Israel.
Sesudah sensus,
Yudea (Propinsi
Yehuda dan
Samaria) diperintah oleh seorang wali dari Romawi sebagai gubernur. Wali negeri ditunjuk oleh kaisar dan tunduk pada pengawasan umum para Gubernur
Siria. Para wali negeri terdahulu menerapkan hak menunjuk imam besar Israel – suatu hak yang sejak akhir keluarga
Hasmonaean, telah diterapka oleh
Herodes (Agung) dan
Herodes Arkelaus. Para wali negeri menjual jabatan kudus itu kepada para penawar tertinggi, dan harkat spiritual menjadi sangat rendah. Berdasarkan jabatannya, imam besar mengetuai
Sanhedrin (Mahkamah Agama Agung) yang mengurus soal-soal intern bangsa itu.
Dari para wali negeri terdahulu, satu-satunya yang terkenal ialah
Pontius Pilatus. Sifatnya yang kasar dank eras kepala dicatat dalam halaman-halaman buku
Josephus dan
Philo – tanpa menyebut peranannya dalam PB (Perjanjian Baru). Bah wa ia membangun saluran air yang baru guna memperbaiki penyediaan air untuk
Yerusalem dan
Bait Suci, menandakan keuntungan-keuntungan Romawi, bahwa ia meremhkan keberatan-keberatan religius
orang Yahudi dengan berkeras membiayai pembangunan saluran air itu dengan dana
Bait Suci, menunjukkan segi pemerintahan Romawi yang bertanggung jawab atas pemberontakan tahun 66M; artinya kekebalan tanggung jawab gubernur atas perasaan local.
Dalam kurun waktu singkat antara tahun 41 dan 44M,
Yudea menikmati kelegaan administrasi dari wali Romawi, kepada
Herodes Agripa I, cucu dari
Herodes Agung dan
Mariamme,
Kaisar Gayus memberikan bekas wilayah
Filistin tahun 37M, lalu memperluasnya dengan menambahkan
Galilea dan
Perea tahun 39M. Setelah
Herodes Antipas dipecat dan dibuang. Kemudian
Herodes Agripa I menerima
Yudea dan
Samaria sebagai tambahan bagi kerajaannya dari
Kaisar Claudius tahun 41M. Karena dialah keturunan
Hasmonaean (melalui
mariamme) dia cukup disenangi kalangan
Yahudi. Tetapi sesudah keatiannya tahun 44M, dalam usia 54tahun, Propinsi
Yudea (sekarang ddidalamnya termasuk baik
Galilea maupun
Samaria) kembali kepada pemerintahan wali negeri sebab anak dari
Herodes Agripa I,
Agripa muda, terlalu muda untuk menerima tanggung jawab kerajaan ayahnya. Tetapi kelonggaran diberikan untuk memenuhi keinginan
orang Yahudi, yakni hak istimewa menunjuk imam besar, yang diwarisi
Agripa muda dari para wali negeri yang mendahuluinya, tidak kembali kepada para wali negeri yang menggantinya, melainkan diberikan pertama kepada saudaranya,
Herodes dari
Khalkis, dan sesudah kematian
Herodes tahun 48 M, diberikan kepada
Agripa Muda.