INJIL YUDAS Menggugat Yesus Injil Kanonik
PENDAHULUAN
Ditengah-tengah ramainya kontroversi soal buku
The Da Vinci Code sejak terbitnya di tahun 2003, dan di ketika buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan terbit pada medio tahun 2004 dan kemudian ramai lagi dengan dirilisnya film itu pada bulan Mei 2006, dunia diramaikan lagi dengan dilontarkannya isu
Injil Yudas oleh
National Geographic Society, maka tidak disangkal bahwa novel The Da Vinci Code telah berhasil mendongkrak perhatian orang pada Injil-Injil Gnostik.
Injil Yudas mulai dikenal khalayak ramai ketika
situs web National Geographic Society memuat liputan panjang soal Injil Yudas. Liputan mana juga difilmkan dan diputar melalui media TV, dan kemudian pada bulan berikutnya dimuat dalam versi cetak dan menjadi cover story majalah
National Geographic - May 2006 dan versi laporan Indonesianya dimuat dalam edisi
National Geographic - Juni 2006. Akhirnya Injil Yudas diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris (April 2006) dan terjemahan bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia dan dirilis pada tanggal 29 Juni 2006.
Dari Nag Hamadi ke El-Minya
Khasanah Gnostik adalah kumpulan tulisan yang dijilid (kodeks) dalam bahasa koptik yang ditemukan di Mesir di lokasi
Nag Hamadi di tepi sungai Nil di Mesir. Penemuan itu terjadi pada tahun 1945 dan kemudian baru pada tahun 1957 dikenal luas setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris. Perpustakaan itu berasal dari abad-3-4M dan berisi tulisan-tulisan berfaham Gnostik, faham Gnostik baru berkembang sekitar abad-2-3M di sekitar Palestina.
Dalam khasanah Gnostik di Nag Hamadi terkumpul sebanyak 13 kodeks papirus yang dijilid dengan sampul kulit (perkamen) dan seluruhnya terdiri dari 52
traktat Gnostik, termasuk 3 karya
Corpus Hermeticum dan terjemahan karya
Plato ‘Republik.’ Setelah melalui berbagai tangan di pasar gelap barang antik, sebagian besar khasanah Gnostik itu akhirnya terkumpul dan disimpan di
Museum Koptik di Kairo, Mesir.
Dari khasanah Gnostik itu, 5 diantaranya disebut Injil, yang memuat percakapan-percakapan tentang Yesus yaitu
Injil Thomas, Injil Filipus, Injil Mesir, dan
Injil Kebenaran. Dari kelima Injil itu, Injil Thomas-lah yang paling terkenal karena ditemukan dalam naskah lengkap, dan Injil inilah yang paling diminati para penganut Jesus Seminar dan dianggap sebagai Injil Kelima. Tiga fragmen
Injil Maria Magdalena semula ditemukan di tahun 1898 yang kemudian dipublikasikan pada tahun 1938 dan disusul dua lainnya pada tahun 1955 31n 1983. Injil Gnostik lainnya yang ditemukan kemudian di
El-Minya, kira-kira 300 KM disebelah utara Nag Hamadi, pada tahun 1970-an adalah
Injil Yudas.
Injil-Injil ini tidak ada satu pun yang sesuai dengan Injil Perjanjian Baru dari abad-1M. Ciri khas dari Injil gnostik adalah percakapan antara Yesus ilahi yang bangkit dengan murid-murid-Nya dimana ajaran gnostik diajarkan di dalamnya.
Faham Gnostik
Khasanah Gnostik dimiliki komunitas Gnostik di Mesir waktu itu yang mungkin karena adanya tentangan disembunyikan. Ajaran Gnostik adalah ajaran mistik esoterik yang kemudian dipercayai secara sinkretis dengan kekristenan oleh para pengikutnya. Gnostik berasal dari bahasa yunani
‘Gnosis’ yang artinya ‘pengetahuan rahasia’ yang diungkapkan kepada manusia. Aliran gnostik menawarkan pengetahuan rahasia mengenai realita ilahi. Percikan atau benih ilahi yang baik itu jatuh dari realitas yang transenden ke dunia materi yang jahat, dan terpenjara dalam tubuh manusia. Dibangunkan oleh pengetahuan rahasia, percikan api ilahi itu dapat kembali ke dunia dimana dia sebenarnya berasal yaitu dunia spiritual yang transenden.
Bagi para pengikut gnostik, ada sumber kebaikan tertinggi yang disebut pikiran Ilahi yang esa yang berada dialam spiritual diluar alam materi ini yang pada dasarnya baik. Pikiran ilahi yang lebih rendah dipancarkan keluar dari sumber itu secara bertingkat. Yang terakhir dari seri pancaran itu adalah ‘Sophia’ (hikmat) yang mengandung keinginan untuk mengetahui sumber kebaikan yang tidak diketahui itu. Keinginan ini menghasilkan bayangan ilahi yang cacat dan jahat atau ‘Demiurge’ yang diyakini sebagai yang menciptakan alam semesta. Percikan ilahi yang mendiami manusia jatuh ke alam materi untuk membebaskan kemanusiaan.
Graham Stanton, ahli Perjanjian Baru Inggeris merumuskan keyakinan Gnostik Kristen secara sederhana sebagai:
“dunia adalah tempat yang jahat diciptakan oleh Tuhan yang jahat (Yahweh), dan yang berbalikan dari Tuhan yang benar dan Esa. Pengikut Gnostik kristen menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. Kristus memberitakan rahasia (gnosis) pada para pengikut Gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar.” (
Gospel Truth? hlm.87).
Manusia sebagai keturunan Ilahi yang esa itu memiliki percikan Ilahi itu, namun ia terkurung dalam penjara tubuh materi. Berbeda dengan kepercayaan Kristen, gnostik mengajarkan bahwa setiap orang bisa berhubungan dengan pikiran Ilahi itu dan keselamatan terletak dalam membangunkan percikan api Ilahi itu dan kembali menyatu kedalam pikiran Ilahi (pandangan mistik/kebatinan). Untuk mencapainya dibutuhkan seorang pembimbing rohani yang dikalangan gnostik-kristen disebut Kristus.
Bagi Gnostik, Kristus mengajarkan ucapan rahasia agar yang mengerti mencapai ke’Ilahi’ annya sama seperti Kristus. Bagi mereka, Kristus, roh yang ilahi mendiami tubuh manusia Yesus, dan Yesus yang ilahi tidak mati disalib tetapi dinaikkan ke realita ilahi dimana Ia semula berasal. Pengikut Gnostik menolak penderitaan dan kematian Yesus yang menebus manusia dan kebangkitan tubuh.
Bagaimana Dengan Injil Yudas?
Injil Yudas ditemukan diantara tahun 1950-60 dilokasi
El Minya, 300 Km di utara ‘Nag Hamadi’ (yang pada tahun 1945 ditemukan pustaka Gnostik koptik termasuk Injil Thomas). Menurut perhitungan waktu radiokarbon, kodeks itu berasal dari tahun 220-340, dan ada yang menyimpulkan sebagai terjemahan dari naskah asli bahasa Yunani dari tahun 130-180. Yang jelas, sekalipun disebut berjudul Injil Yudas, Injil itu tidak mengklaim diri sebagai ditulis oleh Yudas (Iskariot).
Kodeks El Minya kemudian disebut sebagai
kodeks Tschacos karena dimiliki secara bertanggung jawab sampai diterjemahkan dan diserahkan ke museum koptik di Kairo, Mesir, oleh
Frieda Tschacos Nussberger, seorang pedagang antik asal Mesir. Kodeks Tschacos terdiri dari empat tulisan sebagai berikut:
1.
Surat Petrus kepada Filipus, yang juga ditemukan di Nag Hamadi (kodeks VIII);
2. Naskah
Yakobus, versi lain dari Wahyu Pertama Yakobus dalam khazanah Nag Hamadi (kodeks V);
3.
Injil Yudas;
4.
Kitab Allogenes (si orang Asing), judul sementara yang merupakan julukan untuk Set, anak Adam dan Hawa.
Injil Yudas menarik perhatian ditahun 1970 ketika dicuri keluar Mesir dan muncul di pasar antik Jenewa (1983), dan mulai diperkenalkan pada konperensi Koptik di Paris pada 2004. Setahun kemudian diberitakan bahwa naskah itu akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, Perancis dan Jerman. Pada tahun 2006 dapat dikumpulkan dua-pertiga dari naskah lengkap 66 halaman itu. Pada bulan April 2006, National Geographic mengumumkan selesainya terjemahan Injil Yudas ke dalam bahasa Inggeris dan terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan Gramedia pada tanggal 29 Juni 2006.
Memang, dalam catatan sejarah gereja,
Irenius dari Lyons pernah menyebut mengenai
Injil Yudas sebagai sejarah fiktif dalam tulisannya
‘Adversus Haereses’ (180) yang kemudian dikutip oleh
Origenes dalam tulisannya
‘De Stromateis’ (230). Pada tahun 375,
Epiphanes, uskup Salamis, juga menolak Injil Yudas. Apakah Injil Yudas yang disebutkan oleh Irenius, Origenes dan Epiphanes sama dengan Injil Yudas yang baru ditemukan itu memang tidak pasti, yang jelas Irenius menyebut Injil Yudas yang disebutnya sebagai sesat karena tidak merupakan fakta sejarah dan mengandung ajaran Gnostik ini dikuatkan oleh Origenes dan Epiphanes. Bila perkiraan perhitungan waktu penulisan Injil Yudas baru itu benar, mungkin Injil Yudas itulah yang dimaksudkan oleh Irenius.
Isi dari Injil Yudas memang bersifat gnostik sama halnya dengan tulisan-tulisan yang ditemukan dalam pustaka Gnostik di Nag Hamadi. Bagi Gnostik memang kematian Yesus diatas salib sebagai penebus tidak ada artinya, itulah sebabnya dalam Injil Yudas kesan Yesus sebagai korban yang disalibkan menjadi kabur dan Yudas dijadikan pahlawan. Injil Yudas diawali kalimat berbunyi:
“Isi Rahasia Wahyu yang dikatakan Yesus dalam percakapannya dengan Yudas,” dan rahasia itu juga mengungkapkan bahwa yang dimengerti para murid Yesus selama ini salah arah.
Kita akan segera mengetahui bahwa isi Injil Yudas bertentangan dengan yang selama ini diketahui umat Kristen melalui data ke-4 Injil. Dimana disebutkan bahwa:
“Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas rasul itu. Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang diantara kamu akan menyerahkan Aku”.” (Matius 26:20-21)
Ucapan Yesus dalam ayat diatas pada waktu Perjamuan Malam merupakan tema yang digunakan
Leonardo Da Vinci untuk melukis lukisan yang terkenal
‘Last Supper.’ Sikap dan posisi para murid dalam lukisan itu memang merupakan reaksi atas ucapan Yesus di atas. Dalam lukisan itu digambarkan dengan jelas reaksi tiga murid terdekat dikiri Yesus dan tiga murid di kanan Yesus. Di sebelah kiri Yesus, Thomas digambarkan mengacungkan tangan meragukan ucapan Yesus itu, Yakobus merentangkan tangan menolak ucapan itu, dan Filipus meletakkan kedua tangan didadanya menunjukkan devosinya. Di kanan Yesus, Yohanes tersentak mendengar ucapan itu dan mendengar reaksi keras Petrus yang marah dan ingin membela Yesus. Terlihat Yudas dengan wajah gelap terperanjat dan condong ke belakang sambil menyekap pundi-pundi uang suap yang telah diterimanya.
Sejak itu Yudas memang menjadi tokoh antagonis yang dianggap penghianat dan yang menyerahkan Yesus untuk disalib, apalagi mengenainya Yesus pernah berkata
“celakah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” (Markus 14:21). Semua label negatip ini melekat dalam diri Yudas dan menjadi anggapan umum tradisi gereja selama dua milenium. Maka, kalau sekarang ada yang melontarkan data bahwa sebenanya situasinya berbeda dengan itu, maka ramailah mass-media mengakomodasi gossip baru itu.
National Geographic dalam edisi situsnya diinternet April 2006 mencuatkan tema
‘The Judas Gospel’ kemudian tema ini dijadikan cover-story edisi majalah
National Geographic, May 2006, maka ramailah mass-media mengelu-elukan gosip baru setelah selama beberapa tahun terakhir dunia diresapi gosip dengan terbitnya buku dan film ‘The Da Vinci Code.’ Apakah ‘The Judas Gospel’ itu?
Yang jelas, isi Injil Yudas berbalikkan dengan berita Injil yang selama ini dipercayai gereja, misalnya ucapan Yesus yang mengingatkan para muridnya bahwa
“mereka selama ini salah jalan.“ Dalam injil ini, Yudas digambarkan secara positif sebagai murid yang paling disukai Yesus, setia dan taat akan perintah Yesus dan bukan sebagai seseorang yang menyerahkan Yesus. Yesuslah yang menyuruh Yudas untuk menyerahkan diri-Nya. Injil ini tidak mengklaim bahwa para murid lainnya setuju dengan pemikirannya, tetapi inti Injil ini menyebutkan bahwa para murid Yesus lainnya belum mengerti Injil yang benar yang hanya diajarkan oleh Yesus secara rahasia kepada Yudas. Itulah sebabnya ada gambaran dalam ‘Injil Yudas’ bahwa ia mati karena dilempari batu oleh murid-murid lainnya. Dalam beberapa kesempatan Yesus disebutkan mengkritik para muridnya akan ketidak acuhan mereka tetapi memuji Yudas yang memiliki roh ilahi dalam dirinya.
Teologi Injil Yudas
Injil Yudas menekankan pentingnya
gnosis, atau
pengetahuan esoteris yang eksklusif yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu, yaitu pengetahuan mistik rahasia, gaib, pengetahuan mengenai sumber hidup dan kesatuan esensial antara diri manusia dengan sumbernya.
(Inilah) kisah rahasia mengenai pewahyuan yang diucapkan oleh Yesus dalam pembicaraannya dengan Yudas Iskariot selama seminggu, tiga hari sebelum dia merayakan Paskah.
Pendekatan keselamatan bukan disebabkan oleh penebusan yang dilakukan oleh orang lain (seperti diberitakan Injil Kanonik) tetapi ditemukan dalam spiritualitas gnostik yang tidak membutuhkan perantara, karena manusia sudah berhubungan secara langsung dengan Roh dan Cahaya yang ada dalam diri mereka.
Mereka yang terbilang bagian dari iman esoteris ini disebut sebagai termasuk
generasi Set, karena mereka menganggap Set sebagai lambang kelahiran generasi baru setelah saudaranya Kain membunuh Habel. Karena itu, aliran ini disebut
aliran kaum Set (Sethian gnostic). Menurut gnostik, masalah azasi kehidupan manusia adalah ketidak-acuhan dan ketidak-tahuan dan bukan dosa, dan mengatasinya adalah dengan mengerti pengetahuan itu.
Gnostik pada umumnya, berpendapat bahwa dunia materi adalah jahat dan bukan merupakan tempat tinggal yang tetap dan merupakan penjara bagi jiwa kita. Manusia hanya dapat melepaskan diri melalui pengetahuan rahasia yang diwahyukan Yesus. Bagi penganut gnostik Kristen, Yesus adalah guru pembimbing yang dapat membantu manusia mengalami kelepasan dan pencerahan.
Dia mulai bicara kepada mereka mengenai berbagai misteri yang melampaui dunia ini, dan yang akhirnya akan terjadi.
Dalam Injil Yudas diberitahukan bahwa Yesus menyampaikan rahasia kepada Yudas bahwa permulaannya hanya ada satu keberadaan yang benar, baik, dan tak terbatas yang tidak terjangkau, dan melalui proses pancaran terciptalah isi seluruh semesta dengan percikan api ilahi. Setiap generasi dibawah yang terpancar, lebih rendah dari yang diatas dan pencipta dunia atau demiurge ini (Allah PL) adalah ilah yang lebih rendah dari yang memancarkannya. Ajaran eksklusif ini hanya diberikan oleh Yesus kepada Yudas saja karena ia istimewa:
Karena tahu bahwa Yudas memantulkan dalam dirinya sesuatu yang mulia, Yesus berkata kepadanya, “Jauhilah yang lain, dan aku akan memberitahukan kepadamu misteri-misteri kerajaan”.
Diresapi nafas
Platonic (dalam karya
Timaeus) dipercaya bahwa setiap pribadi memiliki bintangnya sendiri dan kehidupan mereka terkait dengan bintang-bintang itu. Dalam Injil Yudas juga disebutkan bahwa pada akhirnya Yudas kembali kepada bintangnya sendiri.
Bintang yang mengarahkan jalan adalah bintangmu. Yudas mengangkat matanya dan melihat awan bercahaya cemerlang, dan dia masuk ke dalamnya.
Yesus memiliki pancaran api/cahaya ilahi dalam dirinya maka manusiapun demikian, hanya berbeda dengan konsep mistik timur dimana semua manusia dianggap memiliki percikan api ilahi itu, dalam gnostik Set disebut bahwa hanya mereka yang berpengetahuan rahasia itulah yang memilikinya yang lain tidak. Mereka yang memiliki itulah yang layak kembali dalam alam kekekalan sedangkan yang tidak memiliki akan binasa
Sumber kebaikan yang agung itu memancarkan api/cahayanya kepada generasi yang lebih rendah yaitu ilah-ilah yang biasa disebut sebagai
demiurge dalam istilah Gnostik, dan dalam Injil Yudas disebut sebagai
El/Allah dengan pembantunya
Nebro (atau Yaldabaoth), dan
Saklas. Dalam konsep ini generasi ini disebut jahat dan bodoh. Ilah itu menciptakan alam semesta merupakan Ilah Perjanjian Lama (Yahweh) yang jahat, haus darah, dan bodoh.
Kemudian Saklas berkata kepada para malaekatnya, ‘Marilah kita menciptakan umat manusia seturut dengan kemiripan dan citra[nya]. Mereka membentuk Adam dan isterinya, Hawa, yang didalam awan disebut Zoe.
Dalam Injil Yudas disebutkan bahwa Yudas berkata tentang Yesus:
Saya tahu siapa engkau sesungguhnya dan dari mana asalmu. Engkau berasal dari alam yang tak mengenal kematian, tempat kediaman Barbelo. Dan saya tak pantas mengucapkan nama Dia yang telah mengutusmu (Injil Yudas 35).
Barbelo merupakan tokoh mencolok dalam naskah gnostik aliran Set. Ada konsep tritunggal dalam Injil Yudas, dan sekalipun tidak sama dengan ketritunggalan yang disebutkan dalam kekristenan, Injil Yudas menyebutkan mengenai trio
Bapa – Barbelo – Autogenes. Bapa disebut sebagai Roh Agung yang tidak dapat dilihat:
Dia adalah Allah dan Orangtua, Bapa Segala Sesuatu, Dia Yang Tak Dapat Dilihat yang mengatasi semua, yang tidak bisa cacat atau cela, yaitu cahaya murni yang tak dapat ditatap oleh mata.
Barbelo ditampilkan dalam peran
Ibu surgawi dalam umumnya karya gnostik, sedangkan
Autogenes (terjadi dengan sendirinya) biasa dianggap sebagai ilah independen tetapi merupakan generasi yang lebih rendah dari Barbelo atau keturunan Barbelo. Pada akhir Injil Yudas, Autogenes menampakkan diri dalam rupa Yesus.
Yang Maha Agung (Yang Satu) itu memancarkan cahayanya ke bawah ke aeon-aeon memenuhi semesta sampai kedunia bawah tempat dunia yang didiami manusia dimana cahayanya dirasakan. Karena ada kesalahan maka pencipta dunia ini dan ciptaannya menjadi rusak, cacat dan tidak lagi mencerminkan pancaran kebaikan dan kebenaran itu. Kebaikan dan kebenaran masih bisa dicapai percikan ilahi yang tersisa dalam manusia.
Pencerahan diri merupakan keselamatan yang dicapai setiap manusia. Pencerahan bisa dicapai pada saat hidup, namun kesempurnaannya hanya bisa dicapai pada saat tubuh ragawi kita mati. Percikan api ilahi atau jiwa atau roh dalam keturunan Set akan terus bersinar kembali kepada kemuliaannya sedangkan kepada yang tidak termasuk kaum Set akan mengalami kematian kekal atau musnah baik tubuh maupun jiwa mereka.
Akhir Kata
Injil Yudas menyebut bahwa hanya pada Yudas diceritakan rahasia yang benar sedangkan pada murid lainnya tidak. Ini tentu berlawanan dengan Injil-Injil dan naskah Gnostik lainnya (a.l. Injil Thomas, Filipus, Yakobus, Yohanes, dan Petrus) yang dianggap ditulis para rasul lainnya yang semuanya menceritakan rahasia Yesus juga sebagai hak eksklusif mereka masing-masing.
Oleh para penerjemahnya Injil Yudas diharapkan menjadi kejutan baru yang melawan ajaran gereja tradisional, namun rupanya sejak awalnya kehadiran Injil ini memang kurang dipandang berarti, apalagi kehadirannya bertepatan dengan kembali populernya kejutan buku dan terutama film ‘The Da Vinci Code’ yang dirilis di festival film Cannes pada tanggal 19 Mei 2006 sehingga kehadiran berita mengenai Injil Yudas meredup. Namun, dibalik semua itu, umat Kristen juga tidak perlu terkejut dengan kehadiran Injil Yudas yang berkembang dalam jemaat Gnostik dua puluh abad yang lalu itu.
Amin!
Disalin dari tulisan : bP. Herlianto
herlianto@yabina.org
----
1.Ayat Pembuka, The Gospel of Judas, hlm.3-4.
2. The Gospel of Judas, hlm.4.
3. The Gospel of Judas, hlm.9.
4. Secara harfiah, dalam naskah ini Yudas adalah bintangnya. (Catatan kaki dalam
The Gospel of Judas, hlm.37-38 ).
5. The Gospel of Judas, hlm.31
6. The Gospel of Judas, hlm.152.
7. The Gospel of Judas, hlm.156-157.
8. Konsep ini kelihatannya mengilhami doktrin keselamatan
Saksi-Saksi Yehuwa yang memang diturunkan oleh Arius dari Alexandria, Mesir pada abad-4 dimana aliran gnostik sedang produktif menghasilkan karya-karya mereka di Mesir
*) Makalah ini disampaikan pada Seminar Pembinaan yang diselenggarakan oleh Gereja Kristen Indonesia, Jl. Nurdin Raya, Jakarta, pada tanggal 3 Agustus 2006. Penulis adalah ketua YABINA ministry (
http://www.yabina.org) dan 13 tahun mengajar di STT-Bandung, dan telah menulis 30 buku dalam berbagai bidang a.l. yang berkenaan dengan topik ini adalah: Yesus Sejarah, Siapakah Aku Ini? (Yabina, 1997), Kode Da Vinci, Fakta Disela-sela Fiksi (Mitra Pustaka, 2005); Yesus Digugat (Mitra Pustaka & Yabina, 2006); dan Injil Yudas, Menggugat Yesus Injil Kanonik (Mitra Pustaka & Yabina), 2006.