|
Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Kisah Para Rasul 17:31 Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati." Kisah Para Rasul 18:28 Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias. I Petrus 3:15 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, Bukti dan Iman. Dua hal yang saling berkaitan sekaligus sering dipertentangkan. "Buktikan dulu, baru saya beriman" adalah kalimat yang sering diucapkan kaum skeptis. Bahkan Tomas memakai presuposisi ini untuk percaya kepada Tuhan Yesus yang telah bangkit. Buktikan dulu, baru saya percaya. Apakah kalimat tersebut salah? Tentu saja tidak. Kalau tidak ada bukti, masakan kita akan percaya dengan iman buta? Kalau tidak ada bukti, apa yang mesti dipercaya? Ada yang mendasarkan iman berdasarkan atas iman, yaitu segala pengetahuan dan pengertian harus didasarkan atas iman dan menolak bukti serta fakta. Itulah fideisme. Percaya secara membabi buta. Percaya atas dasar POKOKNYA PERCAYA. Kalau begitu, apakah iman perlu dibuktikan? Apakah sesudah dibuktikan, bukan iman namanya? Apa hubungan antara pembuktian dengan beriman? Apa hubungan antara kebenaran dan bukti? Manakah yang duluan ada? Bukti atau kebenaran? Bukankah bukti digunakan untuk menyatakan kebenaran? Tetapi kalau tidak ada kebenaran, apakah bukti dapat menyatakannya? Vantillian berpegang bahwa segala kebenaran berasal dari Allah dan merupakan dasar pengetahuan. Ini artinya dalam metode pembuktian, kebenaran adalah subjek sekaligus objek. Kebenaran adalah bukti itu sendiri yang akan membuktikan dirinya sendiri. Bukti penting bagi penyelidikan ilmu pengetahuan. Bukti didasarkan atas fakta. Adanya fakta membuktikan bahwa itu benar-benar BENAR. Tidak ada rekayasa, tidak ada kebohongan. Karena itu, maka berkembanglah metode ilmu pengetahuan berdasarkan atas PEMBUKTIAN. Untuk mendukung suatu teori, perlu adanya bukti yang memadai. Hal ini berimbas kepada dunia teologi kekristenan. Bagaimana cara tahu Allah itu ada? Kita membeberkan sederetan bukti dari A sampai Z. Bagaimana cara tahu Alkitab itu benar? Kita juga melakukan hal yang sama. Mengumpulkan bukti yang mendukung, menganalisa bukti dan menafsirkan bukti. Sayang sekali, seringkali metode pembuktian dengan bukti fakta/data dan argumen mempunyai banyak kelemahan. Salah satunya adalah mengenai JUMLAH BUKTI yang memadai. Jika kita ingin membuktikan dengan fakta bahwa Allah itu ada, sampai berapa bukti yang mesti kita jabarkan supaya pembuktian kita menjadi valid? Sampai berapa bukti yang mesti kita kumpulkan untuk meyakinkan seorang ateis bahwa argumennya sudah tidak memadai? Tidak ada hukum yang mengatur ini. Tidak ada ilmu logika yang menetapkan ini. Apa bedanya mengumpulkan satu bukti dengan beratus bukti jika satu bukti KUALITASNYA lebih berbobot. Inilah masalah kedua pembuktian. Mengenai kualitas bukti yang diberikan. Seberapa berkualitas bukti yang diberikan bisa menunjukkan sesuatu itu benar? Inilah salah satu masalah serius dari evidensialis. Seorang yang meyakini kebenaran berdasarkan kekuatan bukti. Bukankah satu bukti kadang bisa menguatkan daripada berpuluh-puluh bukti? Siapa yang menetapkan standar bukti kebenaran? Bukti selalu berkaitan dengan argumen, fakta, data dan objektif. Bukti tidak memihak kepada siapa-siapa. Bukti hanya memihak kepada kebenaran. Karena itu, bukti adalah turunan dari kebenaran. Bukti HARUS dimengerti dari presuposisi kebenaran itu sendiri. Tidak ada bukti tanpa pewahyuan kebenaran. Tidak ada bukti tanpa kebenaran presuposisi. Apa maksudnya? Bukankah tidak pernah ada bukti yang memadai yang bisa membuktikan kebenaran suatu argumen atau fakta? Bukankah bukti harus diterjemahkan, diinterpretasikan, dan dianalisa berdasarkan presuposisi? Semua kebenaran bukti berdasarkan atas kebenaran pewahyuan. Tanpa penyingkapan, tidak ada kebenaran yang menjadi bukti suatu hal/objek. Disinilah kita bertemu dengan dilema pembuktian yang lain. Orang teis membuktikan adanya Allah dengan bukti tertentu. Ateis juga membuktikan Allah tidak ada dengan bukti tertentu. Mana yang benar? Kalau begitu, apakah kita akan jatuh dalam relativisme? Tentu tidak, karena sebagai orang percaya, kita tidak menerima bukti argumentasi dari presuposisi orang tidak percaya. Kita percaya akan kebenaran Allah. Kita membuktikan kepercayaan kita. Kita memakai presuposisi Alkitab untuk membuktikan bahwa kebenaran memang kebenaran. Karena itu, dalam I Petrus 3:15 tertulis : Kuduskanlah Kristus dalam hatimu sebagai Tuhan. Itulah dasar presuposisi setiap orang percaya. Ketuhanan Kristus adalah yang menjadi ultimat bagi semua pembelaan iman kristen. Tanpa dasar ini, maka kita akan terjatuh dalam dilema BUKTI dan IMAN. Dengan demikian implikasinya jelas, tidak ada kenetralan dalam pembuktian. Semua pembuktian atas kebenaran oleh orang percaya dan non percaya adalah didasarkan atas keberpihakan terhadap presuposisi yang dipegang. Manusia yang telah jatuh dalam dosa bukan tidak percaya kepada Allah, karena penyataan Allah sudah jelas bagi mereka. Manusia berdosa melawan kebenaran. Karena itu, semua bukti yang dipakai untuk menindas dan menentang kebenaran adalah bukti yang sedang menentang dirinya sendiri. Presuposisi manusia berdosa adalah presuposisi ketidakbenaran, antitesis terhadap kebenaran. Presuposisi manusia berdosa adalah OTONOMI DIRI atau mendasarkan kebenaran terhadap diri sendiri. ( Roma 10:3 tertulis : Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.) Dari presuposisi muncullah worldview atau cara pandang. Cara pandang manusia berdosa adalah berpusat kepada diri sendiri. Karena itu, segala pembuktian melawan kebenaran adalah pembuktian DIRI menjadi benar. Bukan mencari kebenaran itu sendiri. Manusia menjadi standar bukti kebenaran itu sendiri. Manusia menjadi beriman kepada dirinya sendiri. Iman adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Apakah ini berarti iman tidak perlu melihat? Apakah berarti melihat pasti tidak akan beriman? Apakah ketika kita tidak melihat segala sesuatu, kita baru butuh iman? Kalimat di atas terlalu gampang dan susah untuk dimengerti. Karena iman adalah dasar (substance) dan bukti (evidence). Kita beriman dalam kebenaran, karena Sang Kebenaran itu sendiri yang akan memimpin dan membawa iman kita kepada kesempurnaan ( Ibrani 12:2 ). Kebenaran adalah presuposisi dari iman. Tanpa itu, kita tidak akan beriman. Karena beriman, maka kita menjadi mengerti. Inilah presuposisi orang kristen. Yang menentukan kebenaran bukti. Bukti yang digunakan manusia berdosa berdasarkan imannya adalah bukti dari presuposisi melawan kebenaran. Iman Kristen bukan iman tanpa pembuktian, karena Lukas sendiri menyusun Injilnya dengan cermat dan teliti. Paulus dan Apolos menggunakan Kitab Suci untuk membuktikan bahwa Injil adalah kebenaran. Kebenarannya adalah : Kebenaran telah diwahyukan, karena itu menjadi presuposisi dari iman orang percaya sehingga dibuktikan statusnya sebagai kebenaran. Tanpa bukti, kebenaran tetap kebenaran. Tetapi tanpa kebenaran, bukti bukanlah bukti. Karena tidak ada yang berguna dari bukti lagi. Kebenaran adalah presuposisi dari iman. Iman adalah presuposisi dari bukti. Jadi, kebenaran karena bukti memerlukan iman untuk menerimanya. NB : Presuposisi dapat berarti Pra-asumsi/Pra-dugaan atau Paradigma/kerangka dasar pola pikir. Vantillian mendefinisikan presuposisi sebagai anggapan dasar pola pikir yang mendahului semua rasionalitas pemikiran. .
|