V. Kesimpulan
Selama berabad-abad hampir tidak ada keraguan tentang keberadaan Alkitab sebagai firman Allah, baik dari kalangan Yahudi maupun bapa-bapa gereja. Mereka menerima otoritas Alkitab sebagai wahyu Allah dan tidak pernah mempersoalkan masalah kepenulisan kitab-kitab dalam Alkitab. Dan hal tersebut sangat nyata dan jelas, maka dari itu menjadi menjadi sebuah pertanyaan, apa yang mendasari pemikiran mereka sehingga mereka begi-tu gigih untuk menyelidiki Alkitab dan meragukan konsep yang sudah tertanam selama berabad-abad? Apa yang membuat mereka merumuskan konsep yang baru dan justru sangat bertentangan dengan pendangan yang sudah begitu mapan? Berikut ini adalah merupakan poin-poin yang melatar belakangi pandangan
Higher Criticism. menjadi dasar pikiran mereka?
1. Prinsip-Prinsip Dasar Higher Criticism
Adanya kemiripan sastra yang ada dalam literatur daerah Timur Dekat, membuat para kritikus menerapkan prinsip-prinsip penyelidikan sejarah kesusastraan timur kuno kepada Perjanjian Lama. Setidaknya ada 3 prinsip dasar yang mereka terapkan:
[28]
a. Menerapkan pendekatan harmonis atas Alkitab seperti karya kuno lainnya.
Untuk menentukan historisitas suatu dokumen kuno, “para sarjana sejarah dan kesusastraan tetap mengikuti dictum atau ucapan Aristoteles, bahwa fungsi prasangka harus diberikan kepada dokumen itu sendiri. Dan para kritikus menekankan pentingnya telaah ini diterapkan ke dalam Alkitab, dan mereka menyebut ini sebagai metode harmonisasi.
b. Melatih Berpikir Terbuka
Konsep rasionalisasi yang dipegang teguh oleh para kritikus, menyebabkan mereka sangat bero-rientasi kepada fakta, dan akan mengubah pemikiran mereka jika ada fakta baru yang ditemukan. Mereka siap untuk mengubah teori jika teori ini tidak mencerminkan seluruh fakta secara memuaskan.
c. Menerima Pengaruh-pengaruh Luar yang obyektif
Para kritikus mengemukakan konsep pendekatan terhadap Alkitab dengan menggunakan kriteria este-tika, dan kriteria sastra zaman modern, dan mene-rapkan ukuran-ukuran masyarakat timur terutama bangsa Israel. Dan prioritas mereka arahkan kepada data yang obyektif tetapi dari luar Alkitab. Namun pada kenyataannya bukti-bukti Arkeologi sekarang ini justru banyak diabaikan oleh para kritikus ini.
2. Pandangan yang Anti Supranatural
Satu pemikiran penting yang harus dilihat dari penganut
Higher Criticism adalah pemahaman terhadap hal-hal supranatural. Keraguan terhadap hal-hal supranatural terutama hal-hal mujijat ini terutama dipengaruhi oleh konsep rasionalis. Dengan satu kalimat bisa dikatakan, bahwa formula kekuatan dari
Higher Criticism digerakkan oleh kekuatan rasionalisme, dan tokoh-tokoh yang bergerak didalamnya merupakan orang-orang, yang lebih menjunjung tinggi konsep filsafat yang jelas bertentangan dengan firman Tuhan.
Para kritikus berpendapat bahwa segala sesuatu harus diselaraskan dengan hal-hal yang alamiah dan disesuaikan dengan kursus ilmu pengetahuan alam.
3. Praduga-Praduga Higher Criticism
Salah satu alasan yang mendasari kebanyakan metodologi
Higher Criticism adalah beberapa bebe-rapa praduga. Kritikus ini bukanlah orang yang kurang dalam hal kecakapan, keilmuan dan sebagai-nya. Persoalannya bukan karena mereka kurang mengetahu bukti, melainkan karena tafsiran dan pendekatan mereka terhadap Alkitab didasarkan pada pandangan hidup mereka.
Pembahasan pada tingkat praduga, akan me-nunjukkan apakah orang pantas untuk sampai pada satu kesimpulan yang logis. Jika orang berdasarkan bukti yang diketahui memiliki praduga-praduga yang masuk akal, maka kesimpulan-kesimpulan logikanya akan benar. Namun jika praduga-praduganya salah, maka kesimpulan-kesimpulan logikanya hanya akan memperbesar kekeliruan-kekeliruan awal sementara argumen dikembang-kan.
[29]
Salah satu kebutuhan pokok satu studi adalah menyelaraskan praduga-praduga dengan data obyektif yang tersedia. Persoalan yang berkaitan dengan kelompok
Higher Criticism ialah,”Apa yang menjadi praduga-praduga mereka, dan apakah itu mungkin?”
a. Lebih Mementingkan Analisis Sumber
Kelemahan utama kelompok ini adalah tentang analisis mereka dan kesimpulan tentang dokumen-dokumen dugaan hanya didasarkan teori-teori subyektif mereka tentang isi Alkitab dan pada kemungkinan perkembangan dan proses kompilasi berbagai sumber yang juga masih bersifat dugaan. Sedikit sekali mereka mengacu kepada informasi yang lebih obyektif dan dapat dibuktikan sebagaimana yang disediakan oleh arkeologi. Sikap yang mengandalkan metodologi yang subyektif seperti itu sebagai sumber analisis dikritik oleh banyak sarjana.
b. Mengaplikasikan teori evolusi ke dalam Alkitab
Pemikiran lain yang sangat berpengaruh dalam konsep kritikus Alkitab adalah penekanan terhadap teori evolusi yang diaplikasikan dalam menjelaskan kebenaran Alkitab.Konsep pemahaman evoluisoner tentang sejarah dan pandangan antroposentris ten-tang agama menonjol pada abad kesembilan belas. Konsep filsafat Hegel sangat mempengaruhi studi tentang Akitab. Para kritikus Alkitab tampil me-mandang agama sama sekali terlepas dari intervensi kekuatan ilahi manapun dan menjelaskannya sebagai suatu perkembangan alam berdasarkan kebutuhan subyektif manusia. Bahwa keseluruhan praduga, yaitu pandangan evolusi kedalam konsep penafsiran Alkitab penting bagi
Higher Criticism. Seiring juga dengan konsep tentang sikap anti supranatural, maka mereka juga tidak mengakui pernyataan langsung dari Allah, atau Alkitab adalah wahyu dari Allah.
4. “Historie” dan “Geschichte”
Istilah
historie dan
Geschicte dalam bahasa Jerman adalah konsep yang digunakan oleh para kritikus didalam diskusi-diskusi tentang sejarah Alkitab, dan keduanya dibedakan.
Historie dikata-kan sebagai “laporan lugas tentang sebenarnya terjadi.” Ini adalah laporan tentang fakta masa lalu, mengenai apa yang umu dan bisa dijelaskan menurut kanon studi modern.
Geschichte adalah ‘laporan tentang peristiwa-peristiwa masa lalu dilihat dari arti pentingnya pada masa kini.” Ia berbicara terlalu jauh atau mengabaikan (bahkan menyangkali) hal-hal factual. Dalam hal kisah Alkitab, istilah ini berkaitan dengan apa yang dipercayai terjadi pada kisah tersebut, bukan pada apa yang mungkin sebenarnya terjadi.
5. Kesimpulan
Pengaruh yang ditimbulkan ditimbulkan oleh metode-metode kritik ini sangat besar bagi perkem-bangan studi biblika. Teks Alkitab dalam bentuk terakhirnya (kanon) dibongkar-bongkar, dipotong-potong dan dipisah-pisahkan sebagai unit-unit bahasa atau sastra yang berdiri sendiri berdasarkan konteks sejarahnya masing-masing. Cara dan hasil kerja yang dibangun semakin menjauhkan Alkitab dari kehidupan konkrit umat yang beriman dan otoritas Alkitab semakin dipurukkan oleh sebagian teolog yang mengaku profesional.
Kalau dilihat secara seksama maka, masalah utama dari kelompok
Higher Criticism ini adalah adalah mereka tidak percaya bahwa Allah sendiri merupakan author dari Alkitab, sehingga menolak banyak hal yang bersifat supranatural yang terdapat dalam Alkitab, sekalipun hal itu sangat meyakinkan. Pemikiran ini didasari oleh asumsi dasar mereka yang menekankan rasio di atas segala-galanya, serta menempatkan konsep evolusi didalam pemikiran mereka untuk melihat segala sesuatu. Jadi sejauh apapun bukti yang disodorkan untuk mematahkan kesimpulan mereka terhadap Alkitab, mereka tetap tidak akan mengerti, kecuali mereka harus lebih dahulu menyerahkan hati mereka kepada Allah.
--------------------------------------------------------------------------------
[1] Josh McDowell, Apologetika: Volume 2 (Malang: Penerbit Gandum Mas, 2003), hal. 95.
[2] Ibid.
[3] Herlianto, Yesus Sejarah: Siapakah Aku Ini ( Bandung: Yabina, 1997), hal. 105.
[4] Josh McDowell, Op. Cit., hal. 96.
[5] R.K. Harrison, An Introduction to the Old Testament, hal. 4-5, dikutip oleh Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1998), hal. 79.
[6] Ibid
[7] Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1998), hal. 79.
[8] R.K. Harrison, An Introduction to the Old Testament, hal. 60, dikutip oleh Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1998), hal. 82.
[9] Archer, Survey, hal. 84, dikutip oleh Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1998), hal. 82.
[10] Carpenter, Pentateukh” hal. 744-45, dikutip oleh Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1998), hal. 82-83.
[11] Tucker, Form Criticism, hal. 19, dikutip oleh Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1998), hal. 93.
[12] Martin North, Uberlieferungsgeschichte des Pentateuch (Stuttgart; W. Kohlhammer,1948), dikutip oleh Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1998), hal. 94.
[13] Ibid
[14] James Muilenburg, “Form and Criticism Beyod,” JBL 88 (1969), 1-18, dikutip oleh Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1998), hal. 95.
[15] Allis, Isaiah, p. 47, dikutip oleh Frank E. Gaebelein, The expositor’s Bible Commentary: Volume 6 (Grand Rapids : Regency reference Library, 1984), hal. 7.
[16] R.E. Clement, The Unity of the Book of Isaiah, hal. 117, dikutip oleh Geoffrey W. Grogan, The Expositor’s Bible Commentary:Isaiah (Grand Rapids: Regency, 1986), hal. 8.
[17] B.S. child, Introductin to the Old Testament as Scripture (London: SCM, 1979), hal.311-38.
[18] Ibid
[19] W.M. Brownlee, The Meaning of the Qumran Scroll for the Bible, hal. 247-59, dikutip oleh Geoffrey W. Grogan, The Expositor’s Bible Commentary:Isaiah (Grand Rapids: Regency, 1986), hal. 8.
[20] W.S. Lasor, dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2 (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2004), hal. 262.
[21] Ibid.
[22] Ibid, hal. 263.
[23] Ibid.
[24] S.O. Aitonam, “Pengantar Keragaman Metoda Tafsir” Forum Biblika; Jurnal Ilmiah Populer, diedit oleh M.K. Sembiring (Jakarta: LAI,1998),hal. 8.
[25] Martin Harun, “Penelitian Sumber” Forum Biblika; Jurnal Ilmiah Populer, diedit oleh M.K. Sembiring (Jakarta: LAI,1998),hal. 12.
[26] Paul Ens, The Moody Handbook of Theology (Malang: Literatur SAAT, 2003),hal.94.
[27] R. Rajagukguk, “Apa Itu Penelitian Bentuk” Forum Biblika; Jurnal Ilmiah Populer, diedit oleh M.K. Sembiring (Jakarta: LAI,1998),hal. 33
[28] Josh McDowell, Op.Cit., hal. 38-39.
[28] Ibid.
[29] Josh McDowell, Op.Cit., hal. 126.
Disalin dari :
http://sttip.com/artikel%20kritik%20tin ... lkitab.htm