5. Persepuluhan Itu Sesat dan Lezat! 
Mang Ucup inginnya sih ikutan demo untuk turut , menduduki gedung DPR (Dewan Pemerkosa Rakyat), tetapi karena berada jauh dari tanah air, biarlah demo di depan komputer aza, sambil mengajak para pembaca ikut-ikutan demo. Bagaimana kalau mulai hari Minggu yang akan datang, kita juga demo alias mogok untuk tidak memberikan perpuluhan lagi? Wah ini dosa, Mang; sebab kewajiban memberikan perpuluhan sudah tercantum di Alkitab!
Inilah yang sebenarnya disebut doktrin ngawur alias doktrin sesat. Kalau Anda mau memberikan perpuluhan hanya karena alasan doktrin ini, berarti Anda sudah menjadi korban pemerkosaan rohani. Kaciaaan deh loe!
Perpuluhan itu tidak alkitabiah, doktrin ini disebarluaskan dan di-brain washing kepada umat oleh para salesman PT. Surgawi untuk memperkaya entah gerejanya, entah dirinya sendiri. Bahkan ada beberapa gereja yang sudah melakukan praktik ala Mafia, di mana mereka memaksakan umatnya agar menandatangani surat pernyataan mengenai penghasilan bulanan mereka dan menyatakan kesediaannya untuk memberikan perpuluhan secara tertulis. Jadi, mirip dengan surat perjanjian utang piutang, begitu .... Apabila Anda melalaikan kewajiban Anda, maka Anda akan mendapatkan peringatan dari
Debt Collector-nya (baca: penatua/ diaken) atau akan di permalukan di depan umum dengan peringatan dari atas mimbar.
Menurut Alkitab, dan mungkin juga sebagian besar pembaca, Mang Ucup itu penipu (baca : "perampok"). Kenapa? Karena ogah memberikan perpuluhan. Tapi kalau Anda kagak percaya, bacalah:
"Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu (merampok) Aku. Tetapi kamu berkata: 'Dengan cara bagaimanakah kami menipu (merampok) Engkau?' Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!" (Maleakhi 3:8).
Di samping itut bukankah di dalam Alkitab tercantum dengan jelas bagi mereka yang mau memberikan perpuluhan (menabur) akan dapat menuai lebih banyak pula.
"Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit/ akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga" (2 Korintus 9:6) dan sederet ayat-ayat untuk mendorong kita agar lebih rajin dan lebih banyak memberikan perpuluhan, agar Allah tetap berkenan kepada kita, agar kita bisa tetap berhubungan baik dengan Allah, bahkan agar Allah tidak pelit pada kita. Jadi kita akan bisa menuai jauh berlipat ganda daripada apa yang kita tabur.
Kadang-kadang saya suka bertanya, apakah Allah itu sama seperti para pejabat ketika zaman Orba, di mana kita harus memberikan uang pelumas (nyogok = menabur) terlebih dahulu sebelum kita bisa mendapatkan projek.
Apakah dengan menabur kita bisa memojokkan Allah ke dalam posisi "berutang" kepada kita? Bahkan Rasul Paulus pernah bertanya,
"Siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?" (Roma 11:35). Jadi, bukankah yang kita berikan kepada Dia sebenarnya milik Dia juga. "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"
Ingat, bagi Tuhan Yesus persepuluhan itu tidaklah penting. Kalau tidak percaya, baca Matius 23:23
"Celakalah kamu ... hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan." Catatan :
Tambahan dari SarapanPagi Biblika
Quote:
Sabda Yesus dalam Matius 23:23 DAN Lukas 11:42 TIDAK MENGAJARKAN PERSEPULUHAN yang dapat diterapkan kepada Ibadah Kristiani, umat Perjanjian Baru. Ayat-ayat itu juga bukan LEGALISASI PUNGUTAN PERSEPULUHAN dalam Praktek Ibadah Gerejawi Perjanjian Baru.
Tuhan Yesus tidak mengajarkan persepuluhan. Dalam Matius 23:23 dan Lukas 11:42; kalau Ia menyinggung soal persepuluhan, konteksnya berbica mengenai '
percakapannya dengan orang Farisi' yang menekankan perbuatan lahir TAURAT (seperti persepuluhan) tanpa motivasi keadilan, tanpa belas kasihan dan tanpa kesetiaan, dan kata-kata itu
ditujukan kepada orang Farisi. Perhatikan ini :
* Matius 23:23
LAI TB,
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
KJV,
Woe unto you, scribes and Pharisees, hypocrites! for ye pay tithe of mint and anise and cummin, and have omitted the weightier matters of the law, judgment, mercy, and faith: these ought ye to have done, and not to leave the other undone.
TR,
ουαι υμιν γραμματεις και φαρισαιοι υποκριται οτι αποδεκατουτε το ηδυοσμον και το ανηθον και το κυμινον και αφηκατε τα βαρυτερα του νομου την κρισιν και τον ελεον και την πιστιν ταυτα εδει ποιησαι κακεινα μη αφιεναι
Translit interlinear,
ouai {celakalah} humin {kalian} grammateis {ahli-ahli kitab (ahli taurat)} kai {dan} pharisaioi {orang-orang farisi} hupokritai {orang-orang munafik} hoti {bahwa} apodekatoute {kamu memberi sepersepuluh} to êduosmon {dari selasih} kai {dan} to anêthon {adas manis} kai {dan} to kuminon {jintan} kai {tetapi} aphêkate {kalian meninggalkan} ta {hal-hal} barutera {yang lebih penting} tou nomou {dari taurat} tên krisin {yaitu keadilan} kai {dan}ton eleon {belas kasihan} kai {dan} tên pistin {kesetiaan} tauta {hal-hal ini} edei {seharusnya} poiêsai {yang satu kalian melakukan} kakeina {yang lainnya} mê {jangan} aphienai {ditinggalkan}* Lukas 11:42
LAI TB,
Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran , tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
KJV,
But woe unto you, Pharisees! for ye tithe mint and rue and all manner of herbs, and pass over judgment and the love of God: these ought ye to have done, and not to leave the other undone.
TR,
αλλ ουαι υμιν τοις φαρισαιοις οτι αποδεκατουτε το ηδυοσμον και το πηγανον και παν λαχανον και παρερχεσθε την κρισιν και την αγαπην του θεου ταυτα εδει ποιησαι κακεινα μη αφιεναι
Translit interlinear,
all {tetapi} ouai {celakalah} humin {bagi kalian} tois pharisaiois {hai orang-orang farisi} hoti {sebab} apodekatoute {kalian memberikan sepersepuluh} to êduosmon {dari selasih} kai {dan} to pêganon {inggu} kai {dan} pan {setiap} lakhanon {(jenis) tumbuhan yang tumbuh di kebun} kai {tetapi} parerkhesthe {mengabaikan} tên krisin {keadilan} kai {dan} tên agapên {kasih} tou theou {kepada Allah} tauta {hal-hal ini} edei {tetapi harus} poiêsai {dmelakukan} kakeina {dan hal-hal itu} mê {jangan} aphienai {mengabaikan} Ayat-ayat di atas kalau diterapkan ke orang Jawa misalnya, kalau di dapur rumahnya ada 'terasi' 10cm, yang 1 cm dimasukin dalam amplop persepuluhan......
Punya cabe 1 ons, yang 0.1 ons dimasukin dalam amplop persepuluhan......
Punya bawang 1 kg, yang 1 ons dimasukin dalam amplop persepuluhan......
Perhatikan baik-baik, "persepuluhan" yang disinggung Tuhan Yesus dalam Matius 23:23 dan Lukas 11:42 adalah
jenis-jenis persepuluhan yang "mboten-mboten" :
persepuluhan bumbu-bumbu dapur yaitu "
persepuluhan selasih, adas manis, jintan, inggu, dll." yang merupakan
"hukum persepuluhan tambah-tambahan" yang secara agamawi dilaksanakan ketat oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.
Dari "sentilan yang lucu" ini, kita seharusnya jeli membaca ayat tersebut, bahwa Tuhan Yesus justru sedang mengecam praktek "persepuluhan" mereka itu. Tuhan Yesus ketika berbicara kepada para lawanNya (dalam hal ini orang-orang Farisi dan ahli Tarat) sering dengan
gaya bahasa satir yang menyindir, bahkan kadang juga dengan gaya bahasa sarkastik. Justru setiap kali Yesus hendak mendobrak atau membongkar sesuatu dalam kemunafikan ibadah mereka, gaya satir hampir selalu ada.
Dengan demikian,
dapatkah Matius 23:23 dan Lukas 11:42 "diplintir" sebagai legitimasi bagi gereja untuk memungut persepuluhan dalam gereja dan diperlakukan sebagai hukum yang mengikat orang-orang Kristen?Jikalau kedua ayat ini masih diperlakukan sebagai alasan dari para pendeta untuk memberlakukan pungutan persepuluhan dalam gereja, ini adalah bentuk nyata "
abusement" ayat-ayat Alkitab. Gereja-gereja dan "hamba-hamba Tuhan gadungan" yang sebenarnya tidak melayani Tuhan melainkan perut mereka sendiri (Roma 16:18), mereka yang melakukan "tindak kriminal" ini secepatnya
harus bertobat!. Reff
diskusi-persepuluhan-vt2792-20.html#p15720 Persembahan perpuluhan sebenarnya berasal dari zaman Perjanjian Lama, saat mereka belum mempunyai pemerintahan seperti sekarang ini. Pada saat itu, bentuk pemerintahan Israel adalah Teokratis, yang berarti di bawah peraturan Allah. Sebenarnya ada tiga persembahan perpuluhan, yaitu 10% untuk suku Lewi, 10% untuk membiayai perayaan hari raya, dan 10% untuk fakir miskin. Ini adalah persembahan wajib, sama seperti "pajak" yang harus kita setor kepada negara pada masa kini. Perlu diketahui bahwa memberikan perpuluhan tidak dimulai oleh Taurat Musa, melainkan juga oleh Abraham (Kejadian 14:20) dan juga bangsa-bangsa kuno lainnya, karena ini sama seperti pembayaran pajak. Tetapi sekarang kita sudah melunasinya dengan membayar pajak kepada negara, karena itu persembahan wajib itu sudah tidak ada dan tak ada paksaan lagi.
Persembahan seharusnya diberikan bukan dengan paksaan atau dengan ancaman dari bermacam-macam ayat dari Alkitab. Persembahan harus diberikan secara sukarela, bahkan pada saat membangun kemah suci Allah berkata kepada Musa,
"Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka memungut bagiKu persembahan khusus; dari setiap orang yang terdorong hatinya" (Keluaran 25:2). Di sini tercantum dengan jelas "tanpa paksaan", hanya bagi mereka yang terdorong hatinya. Bahkan pernyataan ini diulang untuk kedua kalinya dalam Keluaran 35:5. Rasul Paulus sendiri menyatakan,
"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan" (2 Korintus 9:7). Jadi, tanpa adanya paksaan-tidak ada ayat yang mengharuskan atau memaksakan kita untuk memberikan perpuluhan.
Walaupun demikian, Mang Ucup mendukung sepenuhnya persembahan untuk gereja, entah 10% atau 100%. Itu hak kita masing masing, sesuai dengan keinginan dan kerelaan hati kita. Tetapi saya menentang sepenuhnya bila ini dilakukan dengan cara paksaan, apalagi kalau harus menandatangani surat utang segala macam ala Mafiosi. Janganlah kita memerkosa umat dengan segala macam ayat untuk mengingatkan kewajiban pembayaran upeti, apalagi dengan ancaman fatwa mati segala macam dengan menggunakan kisah seperti yang dialami oleh Ananias beserta istrinya Safira yang harus mati, karena ketidakjujuran mereka dalam memberikan persembahan (Kisah 5:1-11).
Menurut Mang Ucup, bukankah sekehendak kita untuk memberikan persembahan ini dengan penuh rasa sukacita. Bukan seperti dipaksa atau ditodong.