III. PREMILENIALISME
Sekarang mari kita perhatikan konsep tentang Kerajaan Seribu Tahun (
milenium) yang ketiga, yaitu
premilenialisme historis. Kita perlu membicarakan premi1enialisme historis secara terpisah dari premiLenialisme dispensasi, sebab dalam beberapa aspek yang penting, keduanya berbeda. Secara singkat, premiLenialis percaya bahwa kedatangan Kristus yang kedua kali akan terjadi sebelum milenium.
Karena itu, orang-orang
premilenialis mengharapkan terjadinya pemerintahan oleh Kristus di bumi selama seribu tahun segera sete1ah kedatangan-Nya kembali, dan sebelum Kristus membawa orang-orang percaya ke dalam kekekalan. Di bagian ini kita akan membahas terlebih dahulu pemahaman dasar dari premiLenialisme historis
[23]. Tentunya dengan tetap mengingat, bahwa orang-orang premilenialis historis sendiri saling berbeda satu dengan lainnya dalam aspek-aspek yang lebih detail
[24].
Menurut premilenialisme, sejum1ah peristiwa akan mendahului kedatangan Kristus, yaitu: penginjilan kepada bangsa-bangsa, masa kesusahan, murtad atau pemberontakan yang hebat, dan munculnya satu pribadi antikristus. Gereja harus melewati seluruh kesusahan akhir ini. Kedatangan Kristus yang kedua tidak akan terjadi dalam dua tahap, me1ainkan hanya satu peristiwa saja. Ketika Kristus datang kembali, orang-orang percaya yang telah mati akan dibangkitkan, orang-orang percaya yang masih hidup akan diubahkan dan dimuliakan, dan sete1ah itu kedua kelompok orang percaya ini akan diangkat bersama-sama untuk bertemu dengan Tuhan di awan-awan
[25]. Setelah perjumpaan ini, orang-orang percaya akan mendampingi Kristus turun ke bumi.
Setelah Kristus turun ke bumi, antikristus akan dibinasakan dan pemerintahannya akan diakhiri. Baik pada masa ini atau sebelumnya, sejumlah besar orang Yahudi akan bertobat, percaya kepada Kristus sebagai Mesias, dan diselamatkan; pertobatan orang-orang Yahudi ini akan menjadi ber yang besar bagi dunia.
Setelah itu, Kristus menegakkan Kerajaan-Nya di bumi selama seribu tahun. Secara kasatmata, Tuhan Yesus akan memerintah atas seluruh bu bersama-sama dengan orang percaya - yang terdiri dari orang-orang Yah dan bangsa-bangsa lain. Meskipun orangorang Yahudi bertobat belakangan, yaitu setelah dikumpulkannya jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain, namun mereka bukanlah dua kelompok yang berbeda, sebab hanya ada satu umat Allah. Mereka yang memerintah bersama-sama dengan Kristus selama seribu tahun itu adalah mereka yang baru dibangkitkan dan mereka yang masih hidup ketika Kristus datang. Bangsa-bangsa yang tidak percaya kepada Kristus, yang masih ada pada masa seribu tahun tersebut, akan duduk di bawah pemerintahan Kristus.
Milenium sebagaimana digambarkan di atas, bukanlah keadaan akhir (final state), sebab dosa dan kematian masih tetap ada. Namun demiki kejahatan akan sangat dibatasi, dan sebaliknya kebenaran akan menguasai seluruh bumi seperti belum pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah zaman yang penuh keadilan sosial, politik, dan ekonomi, serta damai dan kernakmuran. Bahkan alam pun akan merefleksikan berkat-berkat pada zaman tersebut; bumi akan menjadi sangat subur dan padang gurun akan bersemi dengan mawar.
Namun demikian, menjelang milenium berakhir, Iblis, yang selama masa tersebut diikat, akan dilepaskan lagi dan kembali menyesatkan bangsa-bangsa. Ia akan mengumpulkan bangsa-bangsa yang tidak percaya untuk mengadakan perang Gog dan Magog, dan akan memimpin orang-orang fasik untuk menyerang "kemah orang-orang kudus." Namun api akan turun dari sorga, atas orang-orang durhaka, dan Ihlis akan dicampakkan ke dalam "lautan api."
Di akhir dari milenium akan terjadi kebangkitan orang-orang fasik dari kematian. Hal ini akan diikuti oleh penghakiman, namun bukan penghakiman akhir di mana semua umat manusia, baik yang percaya maupun tidak, akan dihakimi di hadapan sebuah takhta putih yang mulia. Mereka yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan akan masuk ke dalam kehidupan kekal, sedangkan mereka yang namanya tidak terdapat dalam kitab tersebut, akan dilemparkan ke dalam lautan api. Setelah semuanya itu, maka semua umat manusia akan masuk ke dalam keadaan akhir: orang-orang yang tidak percaya akan menjalani penghukuman kekal di dalam neraka, sedangkan orang-orang yang percaya akan hidup selama-lamanya dalam bumi yang baru, yang telah disucikan dari segala kejahatan.
Apakah dasar Alkitab bagi orang-orang premilenialis untuk percaya bahwa akan ada kerajaan seribu tahun di bumi sesudah Kristus kembali? George Eldon Ladd mengakui bahwa satu-satunya bagian di mana A1kitab berbicara tentang kerajaan milenial di bumi tersebut ada1ah Wahyu 20:1-6
[26]. Ia melihat bahwa kedatangan Kristus yang kedua dinyatakan dalam Wahyu 19, sehingga bagi Ladd, Wahyu 20 ada1ah gambaran bagi peristiwa-peristiwa yang akan mengikuti Kedatangan Kedua tersebut. Tiga ayat pertama dari Wahyu 20, Ladd percaya, menggambarkan diikatnya Iblis selama masa milenium yang terjadi sesudah Kristus kembali
[27]. Wahyu 20:4, karenanya, me1ukiskan tentang orang-orang percaya yang te1ah dibangkitkan dan bersama-sama Kristus memerintah di bumi se1ama masa milenium. Ladd yakin bahwa kata Yunani
εζησαν - ezêsan (mereka hidup, atau menjadi hidup), yang terdapat di ayat 4 dan 5, harus dipahami sebagai kebangkitan dari kematian secara fisik." Ia mendapati di ayat 4, sebuah gambaran tentang kebangkitan fisik dari orang-orang percaya di awal milenium (yang kemudian akan disebut sebagai "kebangkitan pertama"), dan di ayat 5, sebuah gambaran tentang kebangkitan fisik orang-orang yang tidak percaya di akhir milenium. Ladd mendasarkan keyakinannya bahwa ajaran tentang pemerintahan seribu tahun di bumi ini hanya dijumpai dalam pasal Wahyu 20, adalah karena progresivitas dalam pewahyuan.
Ladd juga mendapati dukungan bagi ajarannya di da1am 1 Korintus 15:23-26, meskipun ia mengakui bahwa perikop ini tidak memberikan bukti yang meyakinkan bagi milenium di bumi
[29]. Ia khususnya merujuk pada ayat 23 dan 24:
"Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian (eita) tiba kesudahannya (telos), yaitu bi1amana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa .... "
Menurut Ladd, di sini Paulus sedang menggambarkan kemenangan Kerajaan Kristus yang terwujud dalam tiga tahap. Tahap pertama ada1ah kebangkitan Kristus. Tahap kedua muncul pada saat Kedatangan Kedua, yaitu ketika orang-orang percaya dibangkitkan. Kemudian terjadi1ah tahap yang terakhir, yaitu ketika Kristus menyerahkan Kerajaan Allah kepada Bapa. Oleh karena terdapat jeda waktu antara tahap pertama dan kedua, maka sangat mungkin juga terdapat jeda waktu antara tahap kedua dan ketiga. Ladd menegaskan bahwa kata kemudian (
eita) dan kesudahannya (
telos) memberikan kemungkinan bagi adanya jeda waktu antara Kedatangan Kedua dan kesudahannya, yaitu masa ketika Kristus akan secara utuh mengakhiri kekuasaan musuh-musuh-Nya." Jeda waktu ini adalah masa seribu tahun (milenium).
Jika kita mengamati posisi Ladd, maka pertama-tama kita bisa melihat bahwa ada banyak hal yang patut kita hargai dari pandangan Ladd. Di antaranya adalah pemahamannya bahwa :
(1) Allah tidak memiliki dua macam kelompok manusia dengan tujuan yang berbeda (yaitu, Yahudi dan bangsabangsa lain, atau Israel dan gereja), melainkan hanya satu umat saja;
(2) Kerajaan Allah mencakup pada masa sekarang ini dan yang akan datang;
(3) pada masa sekarang ini gereja telah menikmati berkat-berkat eskatologis;
(4) tanda-tanda zaman telah berlangsung sejak kedatangan Kristus yang pertama, namun akan mencapai puncaknya sebelum Kedatangan Kedua;
(5) Kedatangan Kristus yang kedua bukanlah dua fase peristiwa yang terpisah, melainkan sebuah peristiwa tunggal.
Kita juga harus menghargai penolakan Ladd terhadap ajaran-ajaran premilenialisme dispensasi; itu sebabnya, paham premilenialisme Ladd, sebagaimana paham premilenialisme historis lainnya," harus dibedakan secara tajam dari premilenialisme dispensasi. Namun demikian, ada beberapa keberatan terhadap ajaran yang dipegang baik oleh premilenialisme dispensasi maupun historis tentang pemerintahan seribu tahun di bumi setelah Kristus kembali.
Keberatan-keberatan tersebut adalah sebagai berikut:
(1)
Wahyu 20 tidak memberikan bukti yang meyakinkan bagi adanya pemerintahan seribu tahun yang akan mengikuti Kedatangan Kedua.
Banyak teolog Injili tidak melihat adanya bukti dari perikop ini bagi pemerintahan di bumi seperti diajarkan oleh premilenialisme. Bahkan, sebagaimana akan ditunjukkan dalam bab berikutnya, ada kemungkinan lain untuk menafsirkan perikop ini. Pemahaman yang dipegang oleh amilenialisme tentang Wahyu 20:1-6, yaitu sebagai gambaran bagi pemerintahan di sorga oleh jiwa-jiwa orang percaya yang telah mati bersama-sama dengan Kristus, terus dipegang oleh kebanyakan gereja sejak zaman Augustinus
[32]. Untuk penjelasan lebih lanjut dan pembelaan bagi penafsiran
amilenialis terhadap perikop ini, lihat, Hoekema AA,
Alkitab dan Akhir Zaman, momentum, 2004, Bab 16.
Ada beberapa penjelasan lebih lanjut dari penafsiran premilenialisme terhadap Wahyu 20:1-6 yang perlu ditambahkan. Umumnya orang-orang premilenialis (non-dispensasi) menerima bahwa mereka yang memerintah bersama dengan Kristus pada masa milenium akan mencakup bukan hanya orang-orang percaya yang telah dibangkitkan dari kematian, namun juga orang-orang percaya yang masih hidup ketika Kristus kembali. Tetapi, perlu dicatat bahwa bagi premilenialis, perikop ini sama sekali tidak berbicara tentang kelompok yang kedua tersebut. Jika kalimat "mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun" dimengerti sebagai "mereka dibangkitkan dari kematian dan memerintah bersama-sama dengan Kristus," maka tidak ada pengertian bagi orang-orang percaya yang tidak mati ketika Kristus kembali. Karena itu, menurut kebanyakan tafsiran premilenialis, perikop ini hanya berbicara tentang orang-orang percaya yang dibangkitkan dari kematian, dan memerintah bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun. Tetapi akibatnya, hal ini menunjukkan pada pemerintahan milenial di bumi yang berbeda dari yang umumnya diajarkan oleh premilenialisme
[33].
(2)
1 Korintus 15:23-24 tidak memberikan bukti yang jelas bagi pemerintahan di bumi seperti yang dipahami dalam premilenialisme.
Patut dikemukakan terlebih dahulu bahwa tidak pernah ada dalam tulisan Paulus pengharapan tentang kerajaan seribu tahun yang akan mendahului keadaan akhir. Terlebih lagi, tidak ada dasar bagi pemerintahan milenial seperti dalam pemahaman premilenialisme terhadap perikop 1 Korintus 15 ini. Konteks perikop ini adalah bahwa Paulus sedang berurusan dengan orang-orang Kristen yang walaupun mempercayai kebangkitan Kristus secara fisik, namun tidak menerima kebangkitan fisik orang-orang percaya. Terhadap kesalahan ini, Paulus menggambarkan dalam I Korintus 15:23-24 relasi kebangkitan Kristus dengan kebangkitan orang percaya. Dikatakan bahwa: Kristus, sebagai yang sulung, dibangkitkan terlebih dahulu; setelah itu, pada saat Kedatangan Kedua, mereka yang percaya kepada Kristus akan dibangkitkan dari kematian. Paulus di sini sarna sekali tidak berbicara bahwa kebangkitan orang-orang yang tidak percaya akan terjadi seribu tahun sesudah kebangkitan orang-orang percaya - di perikop ini ia bahkan tidak berbicara apa-apa tentang kebangkitan orang-orang yang tidak percaya. Lebih lanjut, kalimat di ayat 24, "kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa," tidak tentu harus berarti mengandung adanya jeda waktu sesudah kebangkitan orang percaya. Kalimat ini hanyalah kata lain untuk menegaskan bahwa sesudah semua itu terjadi, tergenapilah secara utuh karya mesianis Tuhan kita Yesus Kristus
[34].
(3)
Turunnya Kristus bersama-sama dengan orang-orang percaya yang dimuliakan ke bumi, di mana kemudian dosa dan kematian masih tetap akan ada, bertentangan dengan realitas kemuliaan akhir.[i]
Apa perlunya orang-orang percaya yang telah menikmati kemuliaan sorgawi selama Masa Antara (intermediate state) [35], dibangkitkan dari kematian dengan tujuan untuk kembali ke bumi di mana dosa dan kematian masih tetap ada? Bukankah hal ini akan menjadi antiklimaks? Bukankah tubuh kemuliaan adalah tujuan kehidupan dalam bumi yang baru, di mana segala dosa dan akibatnya telah ditiadakan? Lebih lanjut, mengapa pula Kristus yang telah dimuliakan, kembali ke bumi di mana dosa dan kematian masih tetap ada? Mengapakah Kristus setelah datang dalam kemuliaan masih harus memerintah musuhmusuh-Nya dengan tongkat besi, dan masih harus terlibat dalam peperangan akhir di penutupan masa seribu tahun? Bukankah Kristus telah mengalahkan musuh-musuh-Nya pada kedatangan-Nya yang pertama? Bukankah pada masa itu (Kedatangan Pertama), Kristus te1ah secara mutlak mengalahkan kejahatan, dosa, kematian, dan Iblis? Bukankah Alkitab mengajarkan bahwa Kristus akan datang kembali dengan penuh kemuliaan untuk membawa kita bukan sekadar ke dalam masa damai dan penuh berkat yang sementara saja, tetapi keadaan akhir yang sempurna?
(4) [i]Pemerintahan seribu tahun di bumi sebagaimana diajarkan oleh premilenialis, tidak sejalan dengan ajaran Perjanjian Baru ten tang eskatologi, karena pemerintahan semacam ini tidak masuk dalam kategori masa sekarang maupun yang akan datang.
Di bagian awal
[36] kita telah melihat bahwa Perjanjian Baru mengontraskan dua masa: masa sekarang dan masa yang akan datang. Tidak ada indikasi dalam Injil, Kisah Para Rasul, ataupun surat-surat lainnya bahwa akan ada jenis zaman yang ketiga selain masa sekarang ini dan masa yang akan datang. Para penulis Perjanjian Barn menegaskan bahwa ketika Tuhan Yesus datang kembali, Ia akan membawa kita ke dalam zaman yang baru. Itu sebabnya, misalnya, kita membaca dalam Matius 25:31,
"Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia [sebuah gambaran yangjelas tentang kedatangan-Nya kembali], maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya." Bahwa ini bukan sekadar takhta milenial di bumi, tetapi takhta penghakiman yang akan membawa kita kepada akhir zaman, tampak je1as dari ayat 46, "Dan mereka ini [yaitu orang-orang fasik] akan masuk ke temp at siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal." Di Kisah Para Rasul 3 kita membaca bagaimana Petrus berkata dalam khotbahnya di Bait Allah, "Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus. Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu" (ayat 19-21). Sudah tentu "waktu pemulihan segala sesuatu" menunjukkan bukan kepada masa milenium yang berfungsi sebagai interval atau jeda waktu, tetapi keadaan akhir atau kekekalan itu sendiri. Paulus mengajarkan bahwa kedatangan Kristus yang kedua akan segera diikuti oleh penghakiman akhir: "Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan dalam hati" (l Korintus 4:5). Di suratnya yang kedua Petrus menyatakan dengan sangat jelas bahwa Kedatangan Kedua akan segera diikuti oleh dimusnahkannya bumi yang lama dan penciptaan bumi yang baru:
Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur duma akan hangus dalam nyala api, dan burni dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara dernikian, betapa suci dan salehnya kamu hams hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang bam dan bumi yang bam, di mana terdapat kebenaran (2 Petrus 3:10-13).
Karena itu, pemahaman milenium dari premilenialisme adalah sesuatu yang aneh secara teologi. Masa itu digambarkan oleh mereka sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda dari masa sekarang ini, namun juga sarna sekali berbeda dari masa yang akan datang. Masa itu dikatakan lebih baik daripada masa sekarang, tetapi masih jauh dari keadaan akhir yang sempuma. Bagi orang-orang percaya yang dibangkitkan dan dimuliakan, milenium adalah penundaan tibanya kemuliaan keadaan akhir yang begitu mereka harapkan. Bagi bangsa-bangsa yang tidak percaya, milenium adalah kesempatan kedua sesudah masa sekarang berakhir, yaitu masa di mana Allah mengizinkan kejahatan untuk tetap ada sementara Ia menunda penghakiman-Nya. Karena pemerintahan milenial di bumi semacam ini tidak pemah diajarkan dalam Alkitab, dan karena ciri-ciri yang digambarkan bertentangan dengan apa yang Alkitab nyatakan tentang Kedatangan Kedua dan tentang zaman sesudah masa sekarang ini, maka tidak ada lagi alasan bagi kita untuk menerima penafsiran premilenialisme terhadap Wahyu 20:1-6. Kita tidak perlu menandaskan pemahaman terhadap Wahyu 20 yang sarna sekali tidak didukung oleh bagian Alkitab lainnya. Bukankah lebih bijaksana bila kita menafsirkan ayat apokaliptik yang sulit ini di dalam terang dan harmoni bagian-bagian Alkitab lainnya yang lebih jelas?
Kita sekarang beralih ke paham milenial utama yang keempat, yaitu premilenialisme dispensasi. Perlu dinyatakan terlebih dahulu bahwa premilenialisme dispensasi adalah ajaran yang baru muncul belum terlalu lama. Meskipun premilenialisme sudah ada sejak abad dua
[37], namun sistem teologi yang dikenal sebagai dispensasionalisme - yaitu ajaran yang secara tegas membedakan antara Israel dan gereja sebagai dua umat Allah yang berbeda - baru muncul pada abad sembilan belas, melalui John Nelson Darby (1800-1882)
[38].
Premilenialisme dispensasi memiliki kesamaan dengan premilenialisme historis dalam pemahaman bahwa Kristus akan memerintah di bumi selama seribu tahun sesudah Ia datang kembali. Namun selebihnya, kedua pandangan ini mengemukakan ajaran yang sangat berbeda.
Sebelum kita melihat beberapa ajaran utama dispensasionalisme (atau premilenialisme dispensasi), kita patut mencatat dua prinsip dasar pemikiran dispensasi:
(1)
Penafsiran secara harfiah nubuat-nubuat Alkitab.
Herman Hoyt, seorang dispensasionalis kontemporer, menggaris-bawahi prinsip ini di dalam kalimat berikut ini:
Prinsip ini jika dipahami dengan benar berarti memahami se1uruh AIkitab di dalam pengertian yang harfiah dan apa adanya. Artinya, aspek sejarah dalam Alkitab harus diterima secara harfiah; demikian pula materi doktrin di dalamnya harus ditafsirkan secara harfiah; berita moral dan rohani harus pula mengikuti pola tersebut; dan tentunya materi nubuat dalam Alkitab juga harus dimengerti secara harfiah. Hal ini tidak berarti bahwa Alkitab tidak mengandung bahasa figuratif. Tetapi kalaupun Alkitab memakai bahasa simbolis, kita tetap harus menerapkan penafsiran secara harfiah. Jika kita menerapkan metode penafsiran lainnya, maka kita akan mengurangi berita yang hendak Allah sampaikan kepada umatNya.[39]
(2)
Perbedaan yang mendasar dan kekal antara Israel dan gereja.
Kutipan dan dua orang teolog dispensasionalis lainnya berikut ini akan menjelaskan maksud prinsip yang kedua:
Orang-orang dispensasionalis percaya bahwa di sepanjang sejarah, Allah sedang menggenapi dua macam rencana-Nya: yang satu berkaitan dengan bumi, dengan melibatkan umat di burni dan sasaran-sasaran duniawi, yaitu Yudaisme; yang lainnya berkaitan dengan sorga, dengan melib atkan urnat sorgawi dan sasaran-sasaran sorgawi yaitu Kekristenan... [40].
Hal yang paling penting dalam penafsiran premilenialisme adalah bahwa Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, membedakan antara tujuan yang Allah tetapkan bagi gereja dan bagi bangsa Israel. Orang-orang keturunan Yakub pada masa sekarang ini memiliki hak istimewa yang sama seperti bangsa-bangsa lain da1am hal iman kepada Kristus dan sebagai bagian dari tubuh Kristus. Namun demikian, baik Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama menyatakan bahwa bangsa Israel hanya akan memperoleh janji di da1am Kristus di masa yang akan datang, ketika Kristus memerintah secara langsung sebagai Raja atas mereka .... Masa sekarang ini, menurut penafsiran premilenialisme, ada1ah waktu penggenapan bagi rencana dan tujuan Allah untuk memanggil sebagian dari orang-orang Yahudi dan non- Yahudi, untuk percaya kepada Kristus dan hidup sebagai umat yang kudus. Bilamana tujuan ini tergenapi, maka Allah akan melaksanakan penghakiman-Nya yang menakutkan, sebagai pendahuluan bagi kerajaan mi1enium yang akan dipimpin oleh Kristus. Sete1ah itu, Allah akan menegakkan kebenaran dan damai sebagai karakteristik utama kerajaan seribu tahun. [41]
Sebenarnya sulit bagi kita untuk menyimpulkan ciri-ciri utama premilenialisme dispensasi. Hal ini karena orang-orang yang memegang paham ini saling berbeda satu dengan yang lainnya, dalam aspek-aspek yang lebih detail. Penjelasan berikut ini adalah usaha untuk menggambarkan aspek utama eskatologi dispensasi kontemporer, sebagaimana dinyatakan dalam New Scofield Bible edisi tahun 1967
[42].
Dispensasionalisme membagi sejarah atau pola hubungan Allah dengan manusia ke dalam beberapa "dispensasi" [pembagian waktu]. New Scofiled Bible membedakan adanya tujuh macam dispensasi: Tak Berdosa (Innocence), Hati Nurani atau Tanggung Jawab Moral (Conscience or Moral Responsibility), Pemerintahan oleh Manusia (Human Government), Janji (Promise), Hukum (Law), Gereja (Church), dan Kerajaan (Kingdom). Satu dispensasi didefinisikan sebagai "suatu periode waktu di mana manusia diuji dalam hal ketaatannya kepada penyingkapan-penyingkapan tertentu dari kehendak Allah"
[43]. Meskipun di setiap dispensasi Allah menyatakan kehendak-Nya dengan cara yang berbeda, seluruh dispensasi yang disebutkan tersebut bukanlah cara-cara yang berbeda dalam hal keselamatan. "Di masing-masing dispensasi, manusia didamaikan dengan Allah hanya melalui satu cara, yaitu anugerah Allah di dalam karya Kristus yang telah digenapi di atas kayu salib dan ditegaskan dalam kebangkitan-Nya"
[44]. Dispensasi yang terakhir, Kerajaan, adalah pemerintahan milenium oleh Kristus, yang akan berlangsung sesudah kedatangan-Nya yang kedua.
Perjanjian Lama berisi banyak janji bahwa suatu saat di masa yang akan datang, Allah akan menegakkan Kerajaan-Nya di bumi yang akan melibatkan orang-orang Israel, yaitu bangsa petjanjian Allah sejak semula. Meskipun perjanjian Allah dengan Abraham mencakup pula berkat-berkat bagi keturunan Abraham secara rohani, namun inti dari janji tersebut tetaplah keturunan Abraham secara fisik yang akan mewarisi tanah Kanaan sebagai milik pusaka yang kekal. Dalam perjanjian Allah dengan Daud, Allah berjanji bahwa salah seorang dari keturunan Daud (yaitu, Mesias yang akan datang) akan duduk di takhta Daud selama-lamanya, dan memerintah atas bangsa Israel. Janji Allah yang baru, sebagaimana tertulis dalam Yeremia 31 :31-34, meskipun mencakup beberapa hal yang telah digenapi dalam diri orang-orang percaya pada masa sekarang ini, namun pada hakikatnya janji ini adalah untuk bangsa Israel, yang hanya akan digenapi dalam milenium yang akan datang. Ayat-ayat lainnya dalam Mazmur dan nabi-nabi (misal Mazmur 72:1-20; Yesaya 2:1-4; 11:1-9,11-16; 65:18-25; Yeremia 23:5-6; Amos 9:1115; Mikha 4:1-4; Zakharia 14:1-9, 16-21) menubuatkan bahwa di masa yang akan datang bangsa Israel akan sekali lagi dikumpulkan di tanah Kanaan, dan akan menikmati masa yang penuh kemakmuran dan berkat, serta akan memperoleh status yang lebih istimewa dibandingkan bangsa-bangsa lainnya. Pada masa itu, mereka akan hidup di bawah pemerintahan yang penuh kasih karunia dan sempuma dari Sang Mesias yang adalah keturunan Daud. Karena tidak satu pun dari nubuat-nubuat ini telah tergenapi, orang-orang dispensasionalis menyimpulkan bahwa semua itu akan digenapi pada masa pemerintahan seribu tahun.
Ketika Kristus dulu datang ke dalam dunia, Ia sebenamya telah mewartakan Kerajaan Sorga kepada orang-orang Yahudi pada zaman-Nya. Kerajaan ini akan berupa pemerintahan di bumi atas Israel, sebagaimana dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Untuk masuk ke dalam kerajaan tersebut, mereka perlu bertobat dari dosa, beriman kepada Yesus sebagai Mesias, dan memiliki kerinduan untuk hidup menurut standar moral yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, misa1nya, seperti yang diajarkan da1am Khotbah di Bukit. Namun demikian, orang-orang Yahudi pada masa tersebut meno1ak kerajaan tersebut. Karena itu, pemenuhan janji kerajaan tersebut ditunda hingga kedatangan Kristus yang kedua, yang akan merupakan awal bagi masa seribu tahun. Sementara itu, pada masa sekarang ini kerajaan yang terwujud adalah kerajaan dalam bentuknya yang "misterius" - yaitu seperti yang digambarkan da1am Perumpamaan tentang Penabur dan Perumpamaan tentang Lalang di antara Gandum da1am Matius 13. Salah seorang pendukung paham ini, E. Schuyler English, menje1askan hal ini sebagai berikut:
"Kerajaan dalam wujud misteri tersebut ada1ah Kekristenan pada masa sekarang ini; yaitu gereja yang tampak, yang terdiri dari orang-orang yang percaya maupun tidak. Kerajaan ini akan terus berlangsung hingga akhir zaman, yaitu ketika Kristus nanti kembali ke bumi sebagai Raja" [45].
Lantaran kerajaan dalam bentuk "sebenamya" telah ditolak oleh orangorang Yahudi, maka Kristus sekarang ini menggantinya dengan gereja. Tujuan gereja ada1ah untuk mengumpu1kan orang-orang percaya, khususnya bangsa-bangsa non-Yahudi, tetapi juga termasuk Yahudi, sebagai tubuh Kristus - sebuah usaha "pemanggilan keluar" yang tidak akan selesai sampai Kristus datang kembali untuk mengangkat orang-orang percaya. Jadi sebenamya yang dinubuatkan da1am Perjanjian Lama ada1ah ditegakkannya kembali kerajaan Daud, bukan gereja. Sebab itu, gereja hanya1ah merupakan semacam "tambahan" di da1am rencana Allah, sementara Allah menunda penggenapan rencana-Nya bagi Israel. " ... Masa sekarang ini [Zaman Gereja] ada1ah sebuah tambahan atau periode waktu yang tidak dinubuatkan da1am Perjanjian Lama; karena itu, kondisi sekarang ini tidak memenuhi atau seja1an dengan peristiwa-peristiwa yang diwahyukan me1a1ui nubuatnubuat da1am Perjanjian Lama"
[46].
Kembalinya Kristus, sebagaimana telah kita pelajari
[47], menurut dispensasionalisme akan terjadi dalam dua tahap atau fase :
Fase pertama adalah apa yang disebut sebagai pengangkatan (rapture), yang dapat terjadi setiap saat. Di sinilah terletak perbedaan antara premilenialisme dispensasi dan historis.
Premilenialisme historis mengharapkan tergenapinya tanda-tanda zaman terlebih dahu1u sebelum Kristus datang kembali, namun bagi premilenia1isme dispensasi, tanda-tanda tersebut akan digenapi setelah kedatangan Kristus fase pertama terwujud. Dengan kata lain, dispensasionalis percaya kepada kedatangan Kristus
yang sudah sangat dekat atau kapan saja dapat terjadi [48] Pada saat pengangkatan tersebut, Kristus belum sepenuhnya turon ke bumi, Ia masih berada di awan-awan. Sebelum pengangkatan, terjadilah kebangkitan seluruh orang-orang percaya, khususnya orangorang kudus dari masa Perjanjian Lama. Kemudian orang-orang percaya yang masih hidup - baik orang Yahudi maupun bangsa lain - akan dalam sekejap matadiubahkan dan dimuliakan. Baik orang percaya yang dibangkitkan maupun diubahkan, akan diangkat ke awan-awan untuk bertemu dengan Tuhan Yesus di langit. Bersama-sama dengan Kristus, seluruh orang percaya - yaitu Gereja - akan naik ke sorga untuk merayakan perjamuan kawin Anak Domba selama tujuh tahun.
Tujuh tahun yang dimaksud di atas adalah penggenapan dari minggu ketujuh puluh dari nubuat Daniel (Dan. 9:24-27). Orang-orang dispensasionalis percaya bahwa meskipun enam puluh sembilan minggu yang disebutkan dalam nubuat tersebut telah digenapi pada saat kedatangan Kristus yang pertama, namun nubuat tentang minggu ketujuh puluh (ay. 27) hanya akan digenapi sesudah terjadinya pengangkatan. Selama masa tujuh tahun ini, yaitu ketika Gereja berada di sorga, sejumlah peristiwa tetap berlangsung di bumi:
(1) digenapinya masa kesusahan sebagaimana dinubuatkan dalam Daniel 9:27, yaitu pertengahan tujuh masa yang disebut sebagai kesusahan besar;
(2) antikristus mulai melaksanakan pemerintahannya yang penuh kejahatan - sebuah pemerintahan yang akan mencapai klimaksnya ketika pribadi antikristus tersebut ingin disembah sebagai Allah;
(3) penghakiman yang menakutkan, jatuh ke atas orang-orang yang masih tinggal di bumi;
(4) pada masa ini, sisa-sisa Israel akan berbalik kepada Yesus dan mengakuiNya sebagai Mesias - yaitu 144.000 orang Israel yang telah dimeteraikan, seperti tertulis dalam Wahyu 7:3-8;
(5) sisa-sisa Israel ini akan mulai mernberitakan "Injil Kerajaan" - yaitu Injil yang inti beritanya adalah ditegakkannya kembali kerajaan Daud, di samping termasuk pula berita tentang salib dan perlunya orang untuk bertobat dan beriman;
(6) melalui kesaksian sisa-sisa orang Yahudi ini, sejumlah besar bangsa-bangsa lain akan dibawa ke dalam keselamatan (Wahyu 7:9);
(7) raja-raja fasik di bumi, beserta tentara dan nabi-nabi palsunya, akan bersatu dan menyerang umat Allah dalam Perang Harmagedon.
Akhir dari masa tujuh tahun tersebut, Kristus akan turun kembali dalam kemuliaan, beserta dengan Gereja-Nya. Kali ini, Ia akan turon hingga ke bumi dan membinasakan musuh-musuh-Nya, sehingga dengan kata lain Ia mengakhiri Perang Harmagedon. Pada waktu itulah bangsa Israel akan dikumpulkan kembali di tanah Pa1estina. Sejumlah besar orang Israel yang masih hidup ketika Kristus turun ke bumi, akan beriman kepada Kristus dan dise1amatkan, seperti yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Iblis akan diikat, dilemparkan ke dalam jurang maut, dan dimeteraikan selama seribu tahun - yaitu peri ode waktu dalam arti secara harfiah. Orang-orang percaya yang mati pada masa tujuh tahun tribulasi akan dibangkitkan dari kematian (Wahyu 20:4); demikian pula kebangkitan orang-orang percaya dari masa Perjanjian Lama juga akan terjadi pada masa ini. Namun demikian, orang-orang percaya yang baru saja dibangkitkan tersebut tidak akan masuk ke dalam kerajaan seribu tahun yang segera ditegakkan setelah kebangkitan tersebut; mereka akan bergabung dengan orang-orang percaya lainnya yang telah lebih dulu dibangkitkan dan diubahkan (yaitu mereka yang mengalami pengangkatan), untuk masuk ke dalam sorga. Sesudah itu, berlangsunglah penghakiman atas bangsa-bangsa lain, sebagaimana tertulis dalam Matius 25:31-46. Penghakiman ini ditujukan bukan kepada bangsa secara keseluruhan, tetapi kepada masing-masing individu. "Ujian dalam penghakiman ini adalah bagaimana tiap-tiap individu dari bangsa-bangsa non- Yahudi telah memperlakukan saudara-saudara Tuhan Yesus - baik saudara menurut daging (yaitu orang-orang Israel), maupun saudara menurut Roh (yaitu orang-orang yang diselamatkan) - selama masa "tribulasi"
[49] Domba-domba - yaitu mereka yang berhasil melalui ujian tersebut - akan tetap tinggal di bumi dan masuk ke da1am kerajaan seribu tahun. Kambing-kambing - yaitu mereka yang tidak dapat melalui ujian tersebut - akan dilemparkan ke dalam neraka yang kekal. Peristiwa selanjutnya adalah penghakiman atas bangsa Israel sendiri, sebagaimana dinubuatkan dalam Yehezkie120:33-38. Orang-orang Israel yang tetap memberontak akan dihukum mati pada saat itujuga dan tidak akan diizinkan untuk menikmati berkat-berkat da1am kerajaan seribu tahun. Sedangkan orang-orang Israel yang telah berbalik kepada Tuhan, akan masuk ke dalam pemerintahan seribu tahun dan menikmati segala berkat di dalamnya.
Fase kedua, yaitu setelah semuanya itu, maka dimulailah kerajaan seribu tahun yang dipimpin oleh Kristus sendiri. Ia akan duduk di takhta yang berada di Yerusalem dan memerintah atas sebuah kerajaan yang terdiri dari utamanya adalah bangsa Yahudi, namun juga sebagian dari bangsa-bangsa lain - namun demikian, bangsa.Yahudi memperoleh hak istimewa di atas bangsa-bangsa lain. Di awal kerajaan seribu tahun tersebut, Kristus memerintah atas bangsa Yahudi dan non-Yahudi yang telah berhasil melalui penghakiman, sebagaimana telah disebutkan. Karena itu, mereka yang termasuk dalam kerajaan seribu tahun, bukanlah orang-orang percaya yang dibangkitkan, melainkan orang-orang percaya yang masih hidup ketika Kristus turun kembali dalam tahap kedua dari kedatangan-Nya yang kedua kali. Patut pula dicatat bahwa ini awal kerajaan seribu tahun itu, tidak ada satu pun orang fasik yang masih tmggal di bumi. Kerajaan seribu tahun yang dipimpin oleh Kristus ini, menggenapi janji Allah yang disampaikan kepada bangsa Israel sejak Perjanjian Lama: "Tujuan pemerintahan di bumi atas orang-orang Israel sebagaimana diajarkan oleh dispensasionalisme, adalah menyangkut janji kepada !srael sebagai bangsa, yang akan digenapi pada masa seribu tahun, yaitu ketika mereka hidup di bumi dengan belum mengenakan tubuh kebangkitan. Kerajaan senbu tahun bagi Israel tersebut sama sekali tidak berbicara tentang orang-orang Israel yang telah mati sebelum kerajaan tersebut digenapi"
[50]
Mereka yang masuk ke dalam kerajaan seribu tahun adalah manusia dalam kondisi sebagaimana adanya. Mereka akan tetap kawin dan memiliki anak, bahkan tetap mengalami kematian. Namun kerajaan seribu tahun merupakan masa yang penuh kemakmuran, produktivitas, dan damai; ini adalah zaman keemasan yang belum pemah terjadi sebelumnya di bumi. Bumi akan dipenuhi dengan pengenalan terhadap Allah, seperti air yang menutupi lautan. Ibadah kepada Allah akan berpusat di Bait Allah, di Yerusalem, yang akan dibangun kembali. Semua bangsa di bumi akan datang ke Yerusalem dan menaikan puji-pujian kepada Allah. Akan ada lagi korban-korban bakaran bagi Allah di dalam Bait-Nya. Namun korban-korban tersebut bukanlah korban untuk penghapusan dosa, melainkan dengan tujuan untuk memperingati kematian Kristus.
Apakah hubungan kebangkitan orang-orang percaya dengan kerajaan seribu tahun? Orang-orang percaya yang dibangkitkan akan hidup di dalam Yerusalem yang baru, yang bersifat sorgawi, sebagaimana digambarkan dalam Wahyu 21:1-22:5. Selama masa seribu tahun, Yerusalem sorgawi tersebut akan berada di awan-awan, di atas bumi, dan memancarkan terangnya ke seluruh bumi, Orang-orang percaya yang dibangkitkan akan turut ambil bagian dalam pemerintahan seribu tahun, sebagaimana mereka akan turut serta bersama Kristus dalam penghakiman (bandingkan Matius 19:28; 1 Korintus 6:2; dan Wahyu 20:6). Karena itu, tampaknya orang-orang percaya yang dibangkitkan akan mampu untuk turun dari Yerusalem baru ke bumi dan terlibat dalam penghakiman tersebut. Namun demikian, tindakan ini "akan dibatasi hanya dalam beberapa fungsi tertentu; selebihnya, aktivitas utama orang-orang percaya yang dibangkitkan adalah di dalam kota sorgawi yang baru"
[51].
Meskipun di awal masa kerajaan seribu tahun, orang-orang yang tinggal hanyalah mereka yang telah lahir baru dan masih hidup di bumi, namun mereka akan bertambah-tambah melalui anak-anak yang dilahirkan secara fisik, bahkan jumlah generasi berikutnya akan melebihi orang-orang percaya generasi pertama. Sebagian dari anak-anak yang dilahirkan ini akan bertobat dan menjadi orang percaya sejati. Mereka yang memberontak kepada Tuhan akan dihukum, bahkan jika perlu, dibinasakan. Mereka yang hanya mengaku percaya kepada Kristus di mulut, jadi bukan orang percaya sejati, akan dikumpulkan oleh Iblis di akhir masa kerajaan seribu tahun (yaitu setelah Iblis dilepaskan dari rantainya), untuk mengadakan serangan akhir terhadap "kemah-kemah orang kudus." Namun demikian, pemberontakan akhir ini akan segera dikalahkan oleh Kristus. Musuh-rnusuh Allah akan dibinasakan, dan Iblis akan dilemparkan ke dalam lautan api. Sebelum masa seribu tahun berakhir, semua orang percaya yang mati pada masa tersebut, akan dibangkitkan.
Sesudah masa seribu tahun, semua orang-orang fasik yang telah mati akan dibangkitkan dan dihakimi di hadapan takhta putih yang mulia. Karena nama-nama mereka tidak tertulis dalam kitab kehidupan, maka mereka akan dibuang ke dalam lautan api, yang mana merupakan kematian kedua bagi mereka.
Pada akhimya, seluruh orang percaya akan masuk ke dalam kehidupan kekal. Allah akan menciptakan langit dan bumi yang baru, di mana dosa dan kelemahan akan dihapuskan. Yerusalem sorgawi, yaitu temp at berdiamnya orang-orang percaya yang telah dibangkitkan sebelumnya, akan turon ke bumi yang baru, dan di sanalah Allah dan seluruh umat-Nya akan tinggal bersama dalam kemuliaan yang sempuma selama-lamanya. Meskipun umat Allah di bumi yang baru merupakan satu-kesatuan, namun tetap dibedakan antara orang-orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain.
Hubungan antara penggenapan janji-janji Allah bagi bangsa Israel selama masa seribu tahun dan masa kekekalan, dapat kita lihat melalui kutipan berikut ini: " ... Perjanjian Lama memberikan sebuah pengharapan bagi seluruh bangsa Israel, yang penggenapannya akan sepenuhnya terwujud pada masa kerajaan seribu tahun. Pengharapan orang-orang percaya dalam Perjanjian Lama bagi adanya sebuah kota yang kekal, akan diwujudkan melalui kebangkitan yang terjadi di dalam Yerusalem sorgawi, di mana Israel- tanpa kehilangan identitasnya - akan bergabung bersama-sama dengan seluruh umat Allah lainnya yang telah dibangkitkan dan diubahkan, untuk mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus selama-lamanya"
[52].
--------------
Catatan :
[23] Kita dapat melihat sejarah dan bibliografi singkat tentang prernilenialisme historis dalam Clouse, op. cit., hIm. 7-13, 217-28. Sejarah yang lebih lengkap tentang perkembangan konsep ini dapat dilihat dalam D.H. Kromrninga, The Millennium in the Church (Grand Rapids: Eerdmans, 1945).
[24]Dalam penjelasan berikut ini pandangan George Eldon Ladd, seorang teolog masa kini yang ternama, akan kita pakai sebagai acuan bagi paham prernilenialisme historis. Pandangan Ladd dapat ditemui dalam beberapa buku berikut ini: Crucial Questions about the Kingdom of God (Grand Rapids: Eerdmans, 1952), The Blessed Hope (Eerdmans, 1956), The Gospel of the Kingdom (Eerdmans, 1959), Commentary on the Revelation of John (Eerdmans, 1972), A Theology of the New Testament (Eerdmans, 1974), dan "Historic Prernillenialism," da1am The Meaning of the Millennium, ed. Robert G. Clause.
[25] Dengan kata lain, prernilenialisme historis percaya bahwa pengangkatan akan terjadi sesudah tribulasi (masa kesusahan).
[26] Clouse, op. cit., him. 32.
[27] Commentary on Revelation, him. 262-63. Ladd tidak mengatakan bahwa seribu tahun itu hams dipaharni dalam pengertian "harfiah yang kaku" (him. 262).
[28] Clouse, op. cit., him. 35-38.
[29] Tentang perikop dalam I Korintus ini Ladd berkata, "Namun dernikian, ada satu perikop dalam tulisan Paulus yang menunjukkan adanya sebuah kerajaan interim, kalaupun bukan kerajaan rnilenium [seperti yang dimaksud dalam Wahyu 20]" (ibid., hlm, 38 ).
[30] Ibid., hlm. 38-39. Lihatjuga The Gospel of the Kingdom, hlm. 42-45.
[31] Di antaranya adalah: Henry Alford, H. Grattan Guinness, Robert H. Gundry, S.H. Kellogg, D.H. Kromminga, J. Barton Payne, Alexander Reese, Nathaniel West.
[32] Namun demikian, perlu diketahui bahwa tafsiran Augustinus terhadap Wahyu 20 tidak sepenuhnya sarna dengan kebanyakan amilenialis lainnya. Ia memahami pemerintahan bersarna dengan Kristus dalam perikop ini sebagai (1) pemerintahan dari orang-orang yang memegang jabatan di gereja pada masa sekarang ini, (2) ditundukkannya nafsu-nafsu dosa da1am diri orang-orang percaya pada masa sekarang ini, dan (3) pemerintahan dari orang-orang percaya yang te1ah mati bersamasama dengan Kristus di sorga, pada masa sekarang ini (City of God, XX, 9-10).
[33] Di dalam buku Theology of the New Testament, Ladd berpendapat bahwa kalimat "yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka" mewakili mereka yang bertahan pada masa tribulasi dan masih hidup ketika Kristus kembali (him. 628-29). Keberatan terhadap tafsiran semacam ini adalah kemudian kata
ezesan [mereka hidup, atau menjadi hidup] memiliki dua makna: kebangkitan fisik dan diubahkannya orangorang percaya yang masih hidup. Tetapi hal ini tidak sejalan dengan argumen Ladd bahwa kata
ezesan di ayat 4 dan 5 hanya dapat memi1iki satu arti, yaitu: kebangkitan dari kematian. Terlebih 1agi, jika kita memasukkan orang-orang percaya yang masih hidup ke dalam ayat 4, maka hal ini akan bertentangan dengan ayat 5 yang dengan jelas berkata: "Tetapi
orang-orang mati yang lain tidak bangkit sebelum berakhimya masa yang seribu tahun itu" [cetak miring dari penulis].
[34] Lihat H. Ridderbos, Paul, hlm, 556-59; bdk. G. Vos, Pauline Eschatology, hlm, 226-60. Lihat juga Yohanes 5:28-29, di mana dikatakan bahwa kebangkitan orang percaya dan tidak percaya, terjadi pada saat yang bersamaan.
[35] Lihat, Hoekema AA,
Alkitab dan Akhir Zaman, momentum, 2004, Bab 9.
[36] Lihat, Hoekema AA,
Alkitab dan Akhir Zaman, momentum, 2004, Bab 2.
[37] Lihat D.H. Kromminga, The Millennium in the Church, Bab 3-7.
[38] Clarence B. Bass, Backgrounds to Dispensationalism (Grand Rapids: Eerdmans, 1960), hlm, 7, 64-99; bdk. Ladd, The Blessed Hope, hlm, 40-41. Lihat juga Dave MacPherson, The Unbelievable Pre-trib Origin (Kansas City: Heart of America Bible Society, 1973). Buku ini menjadi permulaan bagi ajaran pretribulasionisme.
[39] "Dispensational Premillennialism," dalam Clouse, op. cit., hlm, 66-67.
[40] Lewis Sperry Chafer, Dispensationalism (Dallas: Seminary Press 1936) hlm 107.
[41] Walvoord, Kingdom, him. vii-viii.
[42] Edisi ini merupakan revisi dari edisi tahun 1909. Revisi ini di1aksanakan oleh sebuah komite yang terdiri dari 9 teolog dispensasionalis utama, dan karenanya dapat dipakai untuk mewakili paham premi1enialisme dispensasi. Tulisan-tulisan 1ainnya yang dapat membantu kita untuk memahami dispensasionalisme antara lain ada1ah: Charles C. Ryrie, The Basis of the Premillennial Faith (New York:
Loizeaux, 1953) dan Dispensationalism Today (Chicago: Moody, 1965); J. Dwight Pentecost, Things to Come; Alva J. McClain, The Greatness of the Kingdom (Grand Rapids: Zondervan, 1959); John F. Wa1voord, The Millennial Kingdom; E. Schuyler English, A Companion to the New Scofield Reference Bible (New York: Oxford Univ. Press, 1972); dan Herman A. Hoyt, "Dispensational Premillennialism," da1am Clouse, op. cit., hlm. 63-92.
[43] NSB, hlm, 3, catatan kaki no. 3.
[44] Ibid.
[45] A Companion to the New Scofield Reference Bible, hlm, 97.
[46] Walvoord, Kingdom, him. 231.
[47] Lihat hlm. 22-24 dari buku ini.
[48] Variasi lain dalam dispensasionalisme, yaitu rnidtribulasionis, percaya bahwa gereja akan diangkat dari tengah-tengah tribulasi (rnasa sengsara). Sedangkan variasi lainnya, posttribulasi, menegaskan bahwa gereja akan diangkat sesudah tribulasi berakhir. ltu sebabnya dispensasionalisme posttribulasi tidak menerirna teori kedatang an Kristus yang bersifat "kapan saja dapat terjadi," sebab paham ini masih menantikan digenapinya terlebih dahulu tanda tertentu sebelum pengangkatan itu berlangsung.
[49] English, op. cit., hlm. 150.
[50] Charles C. Ryrie, Dispensationalism Today, hlm, 146.
[51] Walvoord, Kingdom, hIm. 329. Tentang peran Yerusalem sorgawi selama masa seribu tahun, lihat juga Pentecost, Things to Come, hlm. 563-80.
[52] Pentecost, Things to Come, hlm. 546.
Disalin dari :
Anthony A Hoekema ,
Alkitab dan Akhir Zaman, momentum, 2004, Bab 14.
Artikel Terkait :
SERIBU TAHUN (MILENIUM), di
http://www.sarapanpagi.org/seribu-tahun ... .html#p5418
SEBUAH KRITIK TERHADAP PAHAM PREMILENIALISME DISPENSASI, di
http://www.sarapanpagi.org/kritik-thd-p ... .html#p5407