VI. INJIL SALIBAyat berikut inilah yang merangkum makna Kabar Baik, INJIL, yang disebutkan oleh Gabriel, kepada para gembala
"…. telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." Yesus Kristus sendiri berkata dalam berbagai versi dan istilah, bahwa alasan bagiNya untuk datang ke dunia adalah menyerahkan nyawaNya – menumpahkan darahNya – sebagai bagian dari pengampunan/ penebusan dosa kita, yang dinyatakan dalam penyalibanNya :
• "Anak Manusia (Yesus) juga datang …. untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Markus 10:45)
• "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya" (Yohanes 10:11)
• "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yohanes 15:13)
• "Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa" (Matius 26:28 )
Dengan demikian, Kabar-Baik atau INJIL yang dibawakanNya adalah INJIL-SALIB yang ditandai dengan darah pengorbanan demi penebusan.
Yesus tidak berkata sendirian, namun kata-kata dengan maksud yang sama 700 tahun sebelumnya telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya :
* Yesaya 53:10
LAI TB,
Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnyaKJV,
Yet it pleased the LORD to bruise him; he hath put him to grief: when thou shalt make his soul an offering for sin, he shall see his seed, he shall prolong his days, and the pleasure of the LORD shall prosper in his hand.
Hebrew,
וַיהוָה חָפֵץ דַּכְּאֹו הֶחֱלִי אִם־תָּשִׂים אָשָׁם נַפְשֹׁו יִרְאֶה זֶרַע יַאֲרִיךְ יָמִים וְחֵפֶץ יְהוָה בְּיָדֹו יִצְלָח׃
Translit,
VAYEHOVAH KHAFETS DAKO HEKHELI 'IM-TASIM 'ASYAM NAFSYO YIREH ZERA YA'ARIKH YAMIM VEKHEFETS YEHOVAH BEYADO YITSLAKHMasih ada banyak sekali fakta dan nubuat, dan tidak ada caranya untuk dibantah berkenaan dengan
penyerahan nyawa atau penyaliban Yesus, yang sudah diungkapkan 700-1000 tahun sebelum Yesus lahir, antara lain :
• Seorang yang ditikam karena kejahatan kita (Yesaya 53:5)
• Seorang yang menyerahkan nyawa untuk menanggung dosa banyak orang (Yesaya 53:12)
• Nubuat Daud tentang penyaliban (penusukan) tangan dan kakiNya (Mazmur 22:17-19 dan disusul dengan
pembagian pakaianNya, semuanya tepat digenapi dalam peristiwa penyalibanNya)Demikian nubuat berlanjut hingga kepada Yohanes Pembabtis (Yohanes 1:27) dan bahkan Yesus sendiri juga banyak menubuatkannya sebelum kematianNya :
*Markus 10:33,34
10:33 kata-Nya: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah,
10:34 dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit."* Lukas 9:22
Dan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.Dan masih banyak lagi. (Nubuat selengkapnya dapat dibaca di artikel : Nubuat PL Tentang Mesias Terpenuhi Dalam Diri Yesus Kristus, di
nubuat-pl-tentang-mesias-terpenuhi-dalam-diri-yesus-kristus-vt2217.html )
Jadi, INJIL yang ada didunia ini adalah selalu INJIL-SALIB. Yang ditandai dengan pengorbanan nyawa untuk penyelamatan manusia. Dimanapun dan kepanpun, tidak pernah exist Injil yang non-salib (Yesus tidak mati disalib) kecuali dalam imajinasi/ khayalan tanpa fakta.Injil itulah Babar Baik –
berita kesukaan besaruntuk seluruh bangsa – yang oleh Malaikat Gabriel disebut sebagai lahirnya seorang Penyelamat umatNya (Penebus yang berkorban nyawa, bukan sekedar pemberita). Yang oleh Yohanes Pembabtis disebut
“Anak Domba Allah” atau Anak Kurban (Yohanes 1:29)
Nubuat para nabi, seperti yang dikutip diatas adalah
otoritas eksklusif dari Allah untuk memberitahu suatu kejadian yang akan terjadi masa depan – sekaligus untuk meyakinkan orang untuk percaya kepadaNya, karena Ia terbukti menguasai “hari esok” dan sejarah manusia.
Anehnya, sekalipun nubuat yang ternyata benar ini tidak terbantahkan oleh otak dan ilmu manusia manapun, namun HATI dari orang-orang yang tegar tengkuk tetap mempermasalahkannya.
Dr. Mc Dowell mensinyalir bahwa penolakan terhadap penyaliban/ kematian Yesus bukan merupakan masalah
pikiran (benar atau tidaknya), melainkan masalah kemauan. Bukan masalah
“saya tidak bisa percaya”, tetapi
“ saya tak mau percaya”. Mereka tetap
memilih percaya apa yang jauh lebih sulit untuk dipercayai. Itukah pengalaman anda? Mari kita perhadapkan dengan kasus-kasus dibawah ini :
Menolak Salib dan klaim bukanlah bukti, sekalipun mengatas-namakan AllahAda pengkritik yang menolak keras bahwa Yesus itu disalib. Ketika ditanyai apa bukti penolakannya? Mereka tidak menyodorkan bukti, melainkan hanya membela dengan “pikiran logisnya”. Seorang kawan baik telah menyusun
Tanggapan atas Penyaliban Yesus , ada baiknya anda baca sebagai referensi.
Menurut peng-kritik, tidaklah logis jikalau Allah membiarkan Utusan-KhususNya untuk dihina dan dianiaya dan disalibkan. Bukankah setiap nabi akan dipagari Allah dengan malaikat-malaikatNya? Namun ketika ditanya lebih jauh, apakah nabi-nabi Allah tidak ada satupun yang dibantai/dibunuh manusia, merekapun segera masuk dalam dilema yang kusut.
Ya, sejarah kenabian Israel sedemikian dinodai oleh darah para nabi sehingga Yesus sempat mengecam para ahli Taurat demikian :
* Lukas 11:47-51
11:47 Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka.
11:48 Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya.
11:49 Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya,
11:50 supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan,
11:51 mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini. “Pikiran Logis” lainnya yang dilemparkan untuk menyanggah penyaliban Yesus adalah bahwa Yesus tak-mungkin-mati kalau Ia sungguh-sungguh Anak-Allah. Terhadap “gagasan logis” yang amat sempit dan yang bukan bukti ini, kita justru ingin memberi bukti bahwa kematian Yesus itu adalah
kematian-pemenang, bukan mati
konyol dan hilang, seperti halnya dengan kematian kita-kita, manusia biasa. Kita sungguh-sungguh perlu menyadari bahwa seajaib “kelahiran Yesus yang tanpa unsur dunia”, seajaib pulalah “kematian dan kebangkitanNya”.
Kematian Yesus adalah terbukti, pemakamannya juga terbukti. Tetapi karena Dia bukan berasal dari debu, maka jasadNya tidak kembali kepada debu! (reff. Kejadian 3:19). Selanjutnya Ia menjadi amat berbeda melewati kodrat dunia :
Ia terbukti bangkit kembali, menjadi pemenang, dengan
tubuh kemuliaan yang berbeda sama sekali!. Dengan tubuh kemuliaan baru, yang kompatibel dengan unsur sorgawi inilah Ia naik, masuk ke Sorga, lagi-lagi dengan
bukti bahwa saksi mata bahkan para palaikat.
Deretan peristiwa “penyaliban dan kebangkitan” inilah yang merupakan puncak penggenapan misi Yesus ke dunia bagi manusia, yaitu
kematian yang mengalahkan MAUT, suatu
kematian yang sukses dengan kebangkitan. Disini nubuat Yesus dipenuhi sepenuhnya, “Sebab inilah darahKu, darah perjanjian (yang sudah dijanjikan dari dulu), yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa”. Kini manusia ditebus dari perhambaan dosa yang membawa maut – menjadi anak-anak yang dimerdekakan dalam Yesus : “setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa…. Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka” ….. dan sekarang, “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran” (Yohanes 8:34; Roma 6:18 ).
Namun anugerah “penyaliban dan kebangkitan” ini bukannya diterima-baik oleh manusia, melainkan terus diingkari dan ditolak orang dengan pelbagai pendalilan. Mereka menolak semua bukti; dari para saksi mata maupun dari nubuat yang digenapi!.
Mereka malahan menggagaskan
Injil-non-salib sebagai Injil-Asli, dan
Injil-Salib dituduh sebagai sempalan palsu. Mereka menggagaskan pula bahwa Injil-non-salib ditandai dengan Yesus yang tidak disalib melainkan diraibkan Allah. Namun, bila Yesus diraibkan begitu, sesungguhnya tidak ada Kabar-Baik apapun yang dapat diberikan oleh seorang Yesus kepada dunia. Ia malahan hanyalah nabi yang gagal dalam segala-galanya karena tidak mampu mempertanggungjawabkan tugas-kenabianNya yang paling substansif :
(1). Ia tidak membela murid-muridNya yang sedang tak berdaya dan ketakutan diteror oleh orag-orang Yahudi. Ia mencari selamat sendiri sambil meninggalkan mereka, bahkan
menghilang entah kemana tanpa pamit!. Ia menjadi seorang pembohong karena Ia yang mengajak muridNya dengan berkali-kali berkata : “Ikutlah Aku” , tetapi ternyata Dialah yang memutuskan relasi, ngacir pergi.
(2) Ia harus bertanggung jawab kenapa “Injil Asli non-salib” itu sampai
hilang, karena belum pernah ditemukan didunia hingga sekarang.
Ia setidaknya harus menitipkan, atau berpesan sesuatu untuk mengamankan “Injil-Asli” tersebut, sehingga “INJIL SALIB” dianggap palsu, jangan sampai merajalela seperti sekarang. (Tetapi para pengkritik tidak berani menyinggung apakah mungkin Firman Allah yang sengaja diwahyukan ke dunia itu bisa dihilangkan oleh manusia? Apakah manusia mampiu “mendiktekan-wahyu-mereka” balik kepada Allah dan mengalahkan wahyu-asli-Allah?)
(3) Para pengikutNya juga
hilang, semua tanpa bekas, karena ternyata “rasul-rasul palsu” yang mengajarkan “INJIL SALIB”! Bermilyar-milyar manusia pengikut Yesus yang disalib telah dituntun dalam kesesatan. Yesus uang sudah diutus dan diperlengkapi Allah dengan segunung mujizat raksasa, malahan menciptakan tragedi terbesar bagi kerajaan Allah!.
Jadi lihatlah betapa otoritas INJIL-SALIB itu tidak bisa begitu saja di-otak-atik atau dihilangkan oleh manusia. Sekali mereka melakukannya, mereka harus mengingkari dan “menghilangkan” (yang tidak bisa dihilangkan) bukti-bukti sejarah, sains, dan logika yang paling mendasar. Yaitu
hilangnya Yesus (entah kemana tanpa saksi, tanpa bukti),
hilangnya seluruh pengikutNya dan
hilangnya Injil Salib. Padahal semuanya tidak ada yang hilang kecuali “Injil-
non-Salib” yang justru hilang sendiri, tidak tercarikan dalam sejarah dan arkeologi! Itukah rencana dan karya Allah?
Banyak orang tidak sadar bahwa Allah-Alkitab sangat mengutuki injil-injilan manapun yang berpolakan non-salib. Bahkan bilapun gagasan penyangkalan salib itu
diklaim datangnya dari seorang malaikat-sorga, Tuhan tetap melaknatinya :
* Galatia 1:8
Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah diaArti dari ayat diatas ini hanya satu, yaitu bahwa Yesus dan Injil-Salib (Firman) itu lebih besar daripada malaikat-wahyu yang mengatas-namakan Allah!
"(Ia, Yesus) jauh lebih tinggi daripada malaikat-malaikat" (Reff Ibrani 1:4, Matius 24:30,31).
Tidakkah kita melihat bahwa hanya Yesus yang berani dan berotoritas “meningkatkan” standard moral Hukum Taurat tatkala Ia berkhotbah di bukit?
*Matius 5:43-44
5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu(Lihat Artikel Hukum Kasih, di
hukum-kasih-vt344.html#p746)
Yesus memperhadapkan “
Apa kata Firman Allah” dengan “
apa kata Yesus”. Itu jelas tidak bisa dilakukan dengan “Akunya” Yesus dengan otoritas yang
kurang dari Allah!
-----
Penebusan Salib dapat ditolak, namun keselamatanNya tak dapat digantkan, sekalipun itu mengatasnamakan Allah.Penolakan terhadap penebusan-salib juga sering didasarkan atas “
logika pahala” : Mana mungkin keselamatan (naik ke Sorga) diberikan kepada orang yang percaya saja tapi tidak berprestasi dalam kesalehan amal-ibadah?
Ya, banyak pihak yang percaya bahwa keselamatan bisa
diusahakan dengan perbagai filsafat hicup, ajaran-ajaran hidup bersih, tidak menjahati orang, melainkan melakukan amal-ibadah yang mendatangkan pahala saja. Dengan demikian, mereka percaya bahwa manusia cukup diberitahu oleh ‘Pemberita-Keselamatan’ (nabi atau pemberi peringatan). Lalu selebihnya adalah urusan masing-masing apakah sungguh-sungguh mau berusaha dan “berprestasi” untuk mendapatkan selamat atau tidak. Masing-masing dan sendiri-sendiri!.
Disinilah sedihnya, bahwa mereka kembali tidak mengandalkan sumber-daya dari atas yang ditawarkan Yesus. Bukankah Yesus itu cocok
Imanuel, yang berarti “
Allah menyertai kita”?
Yesus menjanjikan penyertaan Allah bagi kita sampai kepada akhir zaman, dan tidak akan membiarkan kita berjuang sendiri-sendiri yang bagaimanapun tidak akan kita menangkan tanpa-Dia (Matius 1:23, Matius 28:30, Yohanes 15:5).
Konsep pengusahaan pahala lewat diri sendiri, walau seolah logis di telinga, namun mendengungkan sedikitnya 2 pertanyaan kristis :
(1) Bisakah amal-pahala menghapus atau meringankan dosa?
(2) Mampukah manusia yang berwatak-dosa ini menyelamatkan diri-sendiri?
Sayang, bahwa keduanya harus dijawab dengan TIDAK!
AD (1) Amal-Pahala meringankan dosa? Dan banyak orang yang murah hati berkata bahwa itu seharusnya memang begitu. Tapi jangan kaget bahwa Allah yang paling bermurah hati sekalipun harus mengatakan TIDAK!. Dimata Tuhan yang Maha Kudus dan Benar (bukan dimata manusia), dosa yang setitik adalah ibarat segunung kenajisan, yang tetap akan memisahkan Allah dengan manusia.
Tuhan tidak bisa Maha Adil dan Benar bila Ia tidak secara konsekwen menghukumnya, dan upah dosa yang dianggap secuil-pun tetaplah maut konsekwensinya, yaitu kematian kekal, terputus dengan Sumber Kehidupan (Kejadian 2:17; Roma 6:23).
Seseorang yang dikenakan
hukuman mati tidak mungkin daigantikan menjadi
non mati mentang-mentang ia berjasa dan berpahala. Itu adalah penghakiman politis, bukan penghakiman ilahi.
Tuhan tidak berhutang amal-pahala
Dimata Tuhan, prestasi amal-pahala kita yang segunungpun tidak memberikan kita kelonggaran (apalagi hak) untuk satu kali menzalimi orang lain!
Bahkan, tepatnya, manusia (hamba Allah) sesungguhnya tidak mempunyai amal-pahala apapun dihadapanNya. Tuhan tidak berhutang kepada siapapun, yang harus dibayar dengan tiket masuk Sorga. Segala sesuatu adalah milkNya, termasuk yang kita anggap (klaim) sebagai “pahala kita”. Budak/hamba tak punya apapun. Yang ada hanyalah yang datang dari anugerahNya Harap dimaknai dengan benar, bahwa “perbuatan-perbuatan baik” atau “amal-ibadah” usaha dari mansuia itu bukan perbuatan-jasa kepada Allah. Kebaikan itu memang seharusnya dikerjakan demi untuk kebaikan manusia sendiri, bukan memiutangi Tuhan secara harfiah. Diterimanya kita selamat disisi Tuhan adalah karena penyerahan
seluruh diri kita kepadaNya, yaitu karena iman, bukan usaha-jasa. Perbuatan baik, sebaik dan sebanyak apapun, tidak akan menghapus dosa (kematian rohani), sama halnya bahwa jasa-jasa terbaik manusia juga tidak bisa mencabut kematian jasmani kita :
* Yakobus 2:10
Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnyaTidak ada satupun manusia yang sanggup memenuhi hukum itu, meski orang yang tak-tahu-diri merasa sanggup.
Hanya Yesus yang mampu menggenapi seluruh hukum karena
Ia tidak berdosa dan tidak berbuat dosa apapun. Itulah sebabnya hanya Ia yang dapat menjadi Anak Domba
yang menebus dosa manusia lewat salibNya. Sekalipun anda menolakNya, anda tidak dapat menggantikanNya dengan nabi atau ketidak-nabian (amal-ibadah-pahala) lainnya. Tak ada yang lain yang bisa menyelamatkan.
Terbukti tidak ada satupun nabi atau guru agung yang berani mengklaim mampu menyelamatkan anda dan saya, kecuali Yesus!.
Apa yang disebut-sebut sebagai “prestasi-kebajikan” sesungguhnya bukan itu yang harus dikerjakan duluan. Sebab jikalau itu yang dikedepankan, bisa-bisa itu menjadi “prestasi kesombongan” karena belum dikuduskan. Tuhan memprioritaskan pertobatan kita agar diampuni dan dikuduskan dari kejahatan. Baru setelah itu kita mampu “berprestasi” dalam keluhuran, yaitu menyangkali diri kita, memikul salib kita, dan mengikuti Dia melakukan perbuatan-perbuatan kasih (Markus 8:34). Jadi bagi kita, melakukan perbuatan baik itu bukanlah usaha-usaha mencari pahala untuk
moga-moga mendapat keselamatan, malainkan itu merupakan ungkapan syukur dan ujud kasih atas apa yang telah kita peroleh dari Tuhan kita yang baik!
AD (2) Kita manusia berwatak-dosa, mampukah menyelamatkan diri-sendiri? Disini para penganut “logika pahala” sering keluar dari jalur teologis dan lupa bahwa persoalan yangs edang kita bicarakan adalah dosa dihadapan Allah (dan bukan dimata manusia). Allah telah berkata bahwa
upah (atau akibat) dari dosa adalah kematian kekal. Kerena semua manusia adalah orang berdosa (Mazmur 51:7; 58:4, Yesaya 48:8, Ayub 15:14; Roma 5:12; dll)., mereka adalah orang-orang mati (rohani). Maka mustahil orang mati dapat berusaha menyelamatkan, “menghidupkan” sesama orang mati. Maka tak ada satupun nabi atau guru agung yang tampil meng-klaim (apalagi membuktikan) mampu menyelamatkan dirinya sendiri dan orang lain. Ada satu analogi penyelamatan yang diilustrasikan dalam sebuah kisah rakyat Tiongkok :
Seorang anak-didik jatuh kedalam sebuah sumur sempityang dalam. Dari atas mulut sumur, giri-gurunya meneriakkan kepada si anak sejumlah petunjuk dan kita yang harus dilakukan agar ia bisa naik sendiri ke atas. Namun sang anak tetap tidak mampu melaksanakan “aturan-aturan” penyelamatan-diri. Akhirnya datanglah seorang Maha Guru yang langsung terjun ke dalam sunur itu. Dengan ilmu dalamnya yang dasyat ia berhasil mengangkat sang-anak ke atas dan diselamatkanItulah analogi untuk Yesus yang menanggalkan keilahianNya dan turun ke dunia untuk menyelamatkan (menebus) manusia yang tidak sanggup menyelamatkan dirinya sendiri betapapun kerasnya ia berusaha menerapkan ajaran-ajaran penyelamatan.
Itulah misi Yesus yang tidak ada substitusinya. Ia berkarya sebagai
penebus dan
penyelamat atas orang-orang yang hilang (orang berdosa). Ia bukan sekedar
Nabi atau
Pengajar Moral moga-moga manusia bisa selamat sendiri dengan aturan-aturan dan ajaran! Yesus-lah keselamatan, tempat dosa anda dan saya tertebus (Matius 26:28; Markus 2:5), sehingga selamatlah kita-kita yang mempercayakan diri kita kepada Sang Sumber-hidup, yaitu Dia sendiri yang tak tergantikan.
-----
Bila keselamatan Penebusan-Salib ditolak, adakah jaminan keselamatan lainnya yang lebih baik?.Yesus berkata :
"Kalau Aku bersaksi tentang diriKu sendiri, maka kesaksianKu itu tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku".
Namun banyak agama mengklaim Tuhannya maha-kasih dan maha-penyayang, tetapi tidak memberi bukti, apalagi saksi (adikodrati). Orang sering menunjuk kehadiran embun-hujan-udara-sinar Matahari dll sebagai bukti kasih Allah kepda makhluknya, padahal itu bukan ujud MAHAKASIH, melainkan lebih cenderung barupa
tanggung-jawab Sang Khalik terhadap makhluk ciptaanNya demi mendukung kelangsungan mereka. Bukti kasih, apalagi Maha-Kasih, hanyalah satu, yaitu
berkorban sebesar-besar korban bagi yang dikasihiNya. Korban terbesar yang dapat diberikan seseorang adalah nyawa si pengorban itu sendiri.
Dan Yesus memang benar mengorbankan nyawaNya diatas kayu salib, demi menebus dosa Anda dan saya. Yesus berkata :
- "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik. Memberikan nyawanya bagi domba-dombanya" (Yohanes 10:1-42)
- "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Markus 10:45)
Kata "
bagi" disini berarti
sebagai pengganti. Yaitu menggantikan kematian yang seharusnya kita tanggung sendiri karena dosa dan kesalahan kita terhadap Allah. Dosa adalah kekejian bagi Allah, dan hukumannya adalah maut, kematian kekal.
Namun Yesus menebus kematian kita dengan kematianNya diatas kayu salib, sehingga kita terbebas dari hukuman kekal.
Bahkan andaikata di dunia ini hanya hidup anda dan saya, Yesus akan tetap melakukannya untuk kita berdua.
Allah manakah seperti Engkau?
Allah makanah yang membuktikan diriNya berkorban sebesar-besarnya bagi umatNya? Dan Allah manakah yang mengasihi satu jiwa dikolong jembatan, sama seperti Dia mengasihi ribuan bangsa dikolong langit?Nalar dan logika anda tak akan mampu mempercayainya! Anda tak akan menemukannya di tempat lain, Allah yang begitu komit untuk menyelamatkan anda seorang. Namun itulah yang telah dibuktikan Yesus, sebagaimana yang dikatakannya dalam ayat-ayat berikut :
"Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?"
"Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan".
"Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang." (Lukas 14:4-7, Matius 18:14)
Resapilah ke batin anda, betapa
satu jiwa dari kita begitu berharga dimataNya. Inilah penebusan bagi manusia yang dilandasi MAHA-KASIH-Nya ALLAH yang tiada banding.
Maka jikalau anda mencari Allah yang betul-betul Maha-Kasih, mengapa tidak mencari Dia yang dapat mengasihi anda seorang diri sepenuhnya, sepenuh seperti Dia berurusan dengan 6 Milyar lebih manusia lain yang masal?
Mengapa anda hanya mampu cukup puas dengan kasih Allah yang hanya mampu membuktikan kasihNya dengan klaim, tetapi tidak dengan bukti perbuatan
pengorbanan-diri? Dan jikalau anda menolak Salib Penebusan yang melambangkan Maha-Kasih Allah itu semata-mata karena “tegar-tengkuk”, adakah anda mendapatkan konsep keselamatan yang lebih terandalkan?
Siapakah yang sanggup dan peduli untuk menenangkan kegelisahan kita akan kepergian kita nantinya dari bumi ini? Namun, Yesus berkata di dalam janjinya :
"Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku (Sorga) banyak rumah tinggal….. Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada". (Yohanes 14:1-3)
Amin.
Blessings in Christ,
BP
November 24, 2005
Sumber :
- Samawi Tada,
Yesus menyaksikan Yesus, Reach Catalog
- Yohannes/ Biblika
dan beberapa sumber lain