Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm Posts: 5959
|
5. Matafora Imanuel : Kehadiran Allah Bersama Umat-Nya Tema ini mengilustrasikan kesinambungan dan ketidaksinambungan di antara presentasi Allah di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ialah metafora Imanuel. Kata Ibrani "Imanuel," yang secara harfiah berarti "Allah beserta kita," mempunyai denotasi kehadiran Allah bersama umat-Nya. Tema ini merupakan sebuah area di mana beberapa pembaca Alkitab berpikir bahwa mereka melihat sebuah kontras di antara kedua Perjanjian. Di Perjanjian Lama mereka berkata, Allah sepertinya jauh, sedangkan di Perjanjian Baru, Allah mau menghampiri dengan umat-Nya. Kita akan melihat bahwa ada beberapa kebenaran dari impresi ini, tetapi kontras ini bukan berarti sebuah kontradiksi. Ketika kita menelusuri perkembangan rencana penebusan Allah dari Kejadian sampai Wahyu, kita akan melihat, sebagaimana dengan tema pahlawan Ilahi, bahwa ada beberapa fase yang berbeda (lihat diagram 3 ). a. Taman Firdaus
1. SEBELUM KEJATUHAN MANUSIA
Setelah Adam diciptakan, ia ditempatkan di Taman Firdaus (Kejadian 2:8), di mana Hawa kemudian diciptakan. Jadi Taman Firdaus merupakan rumah pertama bagi umat manusia. Taman ini dilukiskan sebagai sebuah taman yang amat indah dan limpah isinya. Bagian naratif dalam bahasa Ibrani biasanya tidak bertele-tele dalam memberikan deskripsi fisik [17], tetapi dalam bagian ini penulis Kejadian dengan fasih menguraikan kekayaan tempat tinggal manusia pertama. Sungai-sungai, metal-metal berharga, hewan-hewan, "pohon-pohon yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya" - semua ada dalam Taman Firdaus. Sungguh sebuah tempat yang indah untuk didiami.
Tetapi yang paling utama, taman ini merupakan sebuah tempat yang amat harmonis. Allah pertama menciptakan Adam, dan ia merasa kesepian kemudian Allah menciptakan Hawa. Persekutuan mereka dilukiskan dengan hubungan yang erat: "keduanya menjadi satu daging" (Kejadian 2:24). Lebih lanjut, persekutuan mereka didukung dengan hubungan dengan Pencipta. Allah berjalan dalam Taman bersama ciptaan-Nya (Kejadian 3:8). Ia berbicara dengan mereka. Adam dan Hawa dapat bertemu secara bebas dengan Allah di mana saja dalam Taman itu. Kejadian 2 memberikan kita sebuah gambar hubungan yang bahagia.
 Catatan : [17] Tremper Longman III, Literary Approaches to Biblical Interpretation (Grand Rapids: Zondervan, 1987),88-91. 2. SETELAH KEJATUHAN KE DALAM DOSA
Di antara banyak pohon yang Allah ciptakan untuk Adam dan Hawa, ada dua pohon yang dicatat secara khusus, yaitu pohon kehidupan dan pohon pengetahuan baik dan jahat. Tidak banyak yang dicatat tentang pohon kehidupan, jadi kita dapat mengira bahwa Adam dan Hawa makan buah pohon ini ketika mereka ada di Taman Firdaus [18]. Tetapi Allah secara khusus memberitahukan mereka agar jangan makan pohon yang kedua. Tidak ada alasan untuk larangan ini sehingga hal ini mungkin merupakan bagian dari ujian yang Allah berikan. Apakah pasangan yang berbahagia ini akan menaati larangan yang diberikan kepada mereka oleh Pencipta mereka?
Satu sosok baru masuk dalam cerita, yaitu ular yang diidentifikasikan kemudian dalam Alkitab sebagai Setan (Wahyu 12:9; 20:2). Ciptaan ini membujuk Hawa yang kemudian membujuk Adam untuk memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat sehingga pada prinsipnya mereka berontak terhadap Pencipta merela. Episode ini yang biasa disebut kejatuhan ke dalam dosa, mempunyai banyak implikasi, tetapi kita akan memfokuskan pada pokok hubungan dan kehadiran Allah. Ringkasnya, kejatuhan ke dalam dosa berakibat dengan rusaknya hubungan antara Adam dengan Hawa, yang pasti dan lebih fundamental antara hubungan Allah dengan pasangan manusia. Akhirnya Allah mengusir mereka dari Taman Firdaus, sehingga mereka terpisah dari pohon kehidupan. Untuk pertama kali, kematian masuk ke dalam dunia. Allah menempatkan malaikat sebagai ciptaan yang berkuasa di pintu Taman Firdaus sehingga Adam dan Hawa tidak dapat kembali ke Taman Firdaus. Setelah diusir dari Taman Firdaus, Adam dan Hawa tidak lagi mempunyai jalan masuk yang bebas, intim dan mudah ke Pencipta. Allah tidak lagi bersama dengan mereka.
Sebuah pertanyaan yang ruwet timbul di sini. Alkitab dengan jelas mengajar bahwa Allah ada di mana-mana. Pada dasarnya, Ia tidak absen dari ciptaan-Nya. Para theo log menyebut kebenaran ini sebagai doktrin ke Mahaadaan Allah. Ini terlihat pada stansa kedua dari Mazmur 139:
* Mazmur 139:7-12 139:7 Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? 139:8 Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. 139:9 Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, 139:10 juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. 139:11 Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," 139:12 maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang. Berdasar pandangan ajaran Alkitab ini, bagaimana kita dapat berkata tentang absennya Allah?
Secara sederhana, dari satu sudut pandang, Allah hadir di mana saja, tidak ada satu halpun yang berada di luar pengetahuan-Nya. Dari sudut lain, Ia hadir di beberapa tempat dan absen dari tempat-tempat lain. Para theolog menyebut kebenaran ini dengan kehadiran khusus Allah. Ini berarti, Ia membuat kehadiran-Nya yang berkuasa terasa di lokasi-lokasi tertentu dan tidak di lokasi-lokasi lain. Dalarn pembicaraan pemisahan fundamental di antara Allah dengan manusia setelah kejatuhan ke dalam dosa, maka cocok untuk berbicara tentang kehadiran khusus Allah dan ketidakhadiran-Nya.
Catatan : [18] Butir ini diperdebatkan oleh Gordon J. Wenham, Genesis 1-15 (Waco: Word, 1987),62-64. b. Periode (Pra-) Bapa Beriman
Di Taman Firdaus tidak ada tempat khusus untuk pertemuan antara Ilahi dengan manusia. Tidak ada ruang kudus atau tempat kudus, karena seluruh Taman adalah kudus. Setelah kejatuhan ke dalam dosa, sebuah ruang kudus dibutuhkan kalau manusia sebagai ciptaan mau bertemu dengan Pencipta mereka. Allah tidak mau bertemu mereka di sembarang tempat dalam dunia ini, sebuah tempat khusus harus disediakan. Pengaturan ini secara simbolis menandakan adanya jurang pemisah di antara hubungan Allah dengan manusia. Dosa memisahkan mereka dan fakta ini harus diakui.
Dalam konteks air bah kita mendapatkan catatan pertama tentang sebuah mezbah [19]. Setelah air bah surut, Nuh dan keluarganya meninggalkan bahtera. Kemudian "Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu" (Kejadian 8:20). Meskipun kita tidak mempunyai catatan rinci, tetapi dari catatan lain (umpamanya Keluaran 20:24-26) kita dapat menerima dengan cukup aman bahwa mezbah itu adalah mezbah sederhana yang terbuat dari tanah atau batu-batu. Mezbah-mezbah yang lebih awal merupakan struktur yang sementara, dibuat di udara terbuka.
Ketika kita memasuki periode patriakal, kita membaca lebih lanjut tentang pembangunan mezbah-mezbah dan kurban, khususnya dalam naratif Abraham [20]. Naratif tersebut memberitahukan kita bahwa Abraham membangun mezbah-mezbah di mana saja ia berhenti untuk waktu tertentu. Catatan perhentiannya yang pertama di tanah Kanaan ialah di Sikhem, di mana tercatat Tuhan menampakkan diri kepadanya dengan firman yang mengafirmasikan kembali janji-janji tentang tanah dan keturunan, kemudian Abraham mernberikan respons dengan mendirikan "mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya" (Kejadian 12:7). Pada peristiwa ini Abraham membuat mezbah sebagai respons kepada theofani atau penampakan diri Allah. Penampakan diri ini membuat tempat tersebut menjadi kudus, jadi kurban harus dipersembahkan.
Tetapi naratifini tidak memberitahukan bahwa pada setiap pembuatan mezbah selalu ada theofani. Memang pada ayat selanjutnya (12:8), kita membaca bahwa Abraham pindah perkemahan antara Betel dan Ai dan membuat sebuah mezbah di sana supaya ia dapat menyembah Allah. Jadi pembangunan mezbah dapat terjadi atas inisiatif Allah atau Abraham. Motivasi pembangunan mezbah pada tiap peristiwa ialah untuk menyediakan tempat persekutuan antara Allah dengan manusia yang berdosa.
Amat menarik untuk diperhatikan yaitu ketika Abraham mendirikan mezbah di Sikhem dan kemudian di Hebron (Kejadian 13: 18), dia mendirikan mezbah-mezbah itu berdekatan dengan pohon-pohon penting. Ia mendirikan mezbah di Sikhem dekat dengan "pohon tarbantin di Moreh" (Kejadian 12:6) dan mezbah di Hebron didirikan dekat "pohon-pohon tarbantin di Mamre" (Kejadian 13: 18). Hubungan antara tempat kudus dengan pohon-pohon bukanlah kebetulan, karena tempat kudus yang pertama adalah sebuah taman yang penuh dengan pohon-pohon. Di sini kita mendapat petunjuk pertama bahwa tempat-tempat kudus ini mengingatkan kita kepada Taman Fidaus [21].
Mezbah yang dibangun di Kejadian 22 amat berhubungan dengan perkembangan-perkembangan yang kemudian. Dalam bagian Alkitab ini yang dikenal dalam tradisi Yahudi dengan Akedah yaitu "pengikatan" Ishak, Abraham di suruh pergi ke gunung Maria untuk mengurbankan putranya. Ia pergi ke sana dan mendirikan mezbah (Kejadian 22:9). Pada saat Abraham menyatakan penyerahan yang teguh, Tuhan menyediakan sebuah pengganti bagi putranya. Bagi maksud kita, tempat mendirikan mezbah ini amat penting, tetapi kepentingannya seringkali terlupakan. Allah menyuruh Abraham pergi ke gunung Moria (22:2). Kita membaca nama ini hanya satu kali lagi di Alkitab, 2 Tawarikh 3:1 : "Salomo mulai mendirikan rumah TUHAN di Yerusalem di gunung Maria." Jadi Moria rupanya adalah nama lain untuk Sion [22] . Memang naratif Alkitab mencatat Abraham khususnya berkaitan dengan pembuatan mezbah-mezbah, tetapi perlu juga diperhatikan bahwa baik putranya Ishak (Bersyeba [Kejadian 26:25]) dan cucunya Yakub (Sikhem [Kejadian 33:20]); Betel [Kejadian 35:1, 3, 7]) dihubungkan juga dengan pembangunan mezbah. Meskipun naratif tersebut tidak bermaksud memberitahukan kita tentang semua perbuatan para bapa beriman, termasuk pembuatan mezbah-mezbah mereka, tetapi kita dapat mendeteksi adanya sebuah motif yang melampaui apa yang tertulis yaitu penyediaan sebuah tempat bagi para bapa beriman dan keluarga mereka untuk bersekutu dengan Allah di negeri yang baru. Ingatlah bahwa pada masa ini, dalam sejarah umat Allah, mereka mempunyai janji tentang tanah, tetapi mereka belum memilikinya. Dengan membuat mezbah-mezbah di seantero negeri, mereka mengklaim tanah itu demi nama Allah. Pada akhir masa bapa beriman, mezbah-mezbah yang menjadi simbol untuk persekutuan Allah dengan umat-Nya ada di mana-mana di negeri kanaan, mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang akan datang. Catatan : [19] Kejadian 4:4-5 meskipun tidak eksplisit, tetapi secara implisit mungkin sekali mencatat tentang mezbah.
[20] Dalam naratif Abraham yang lebih awal, ia disebut dengan nama Abram. Demi konsistensi, dalam bagian berikut dan seterusnya kami akan menyebut dia dengan nama Abraham.
[21] Kita tidak memaksakan bahwa setiap mezbah dibangun dekat sebuah pohon, teks Alkitab tidak mengizinkan kita untuk menafsir demikian jauh. Tetapi di pihak lain, hubungan di antara pendirian mezbah dengan pohon begitu sering sehingga kedua peristiwa ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan.
[22] Moria mungkin sebuah nama yang lebih dahulu atau mungkin juga nama sebuah pegunungan di mana Sion adalah sebuah puncak yang penting. c. Kemah Pertemuan
Beberapa abad lewat di antara akhir Kitab Kejadian dengan permulaan Kitab Keluaran. Keluarga Allah ketika pertama kali diam di Mesir berjumlah hanya tujuh puluh orang (Kejadian 46:27). Ketika mereka ke luar dari Mesir, keluarga Allah ini sudah menjadi umat yang besar. Perjanjian di Sinai menjadi transisi yang jelas untuk umat Allah yang tadinya sebuah keluarga, sekarang menjadi sebuah bangsa (Keluaran 19-24). Sebuah mezbah terbuka seperti yang pernah digunakan oleh para bapa beriman tidak cukup untuk demikian banyak orang. Jika umat Allah ingin mempunyai ibadah komunal, maka harus ada beberapa perubahan. Tentunya perubahan tersebut bukan ditentukan oleh bangsa Israel, tetapi Allah sendiri mewahyukan isi hati-Nya kepada Musa di gunung Sinai. Dia memerintah Musa untuk membangun sebuah Kemah Pertemuan di mana Dia akan menyatakan kehadiran-Nya secara khusus (Keluaran 25:9; 26:30).
Pada waktu ini bangsa Israel bukan sebuah bangsa yang tinggal tetap. Mereka adalah bangsa yang berpindah-pindah. Sejak bangsa Israel meninggalkan Sinai sampai mereka tinggal tetap di negeri Kanaan, Kemah Pertemuan menjadi tempat yang sentral untuk ibadah mereka dan selama ini Allah akan berdiam di tempat kudus yang berpindah-pindah. Sebagaimana umat-Nya, Allah akan tinggal dalam bentuk semacam tenda.
Pada saat ini kita melihat jumlah umat merupakan sebuah faktor bagi Allah untuk menentukan bentuk untuk tempat menyembah Dia. Selama masa bapa beriman hanya ada sedikit orang, dan kepala keluarga dengan mudah melayani sebagai seorang imam yang adalah mediator. Ketika umat Allah menjadi banyak, Allah membuat tempat ibadah bersama yang lebih besar. Dia juga memilih waktu ini untuk mendirikan jabatan keimaman. Kepala keluarga tidak lagi mengurus tanggungjawab yang ada. Seluruh suku Lewi diasingkan untuk tugas ini.
Pusat utama dari Kemah Suci ialah Ruang Mahakudus, di mana terletak tabut, simbol yang paling kuat dari kehadiran Allah. Ruang Mahakudus dipisahkan dari Ruang Kudus oleh sebuah tirai (Keluaran 26:33). Di Ruang Mahakudus Allah bertakhta.
Bagian dalam dari Kemah Suci di penuhi oleh awan yang menyatakan kemuliaan-Nya (Keluaran 40:34-38; Bilangan 9: 15-23). Allah jelas hadir di Kemah Suci.
Deskripsi Kemah Suci dan perabot-perabotnya sangat rinci dicatat di Kitab Keluaran. Bahkan kebanyakan dari bagian kedua dari kitab ini difokuskan kepada petunjuk-petunjuk untuk mendirikan Kemah Suci (pasal 25-31) dan pembangunannya (pasal 35-40). Interupsi yang strategis tentang peristiwa lembu emas di pasal 32-34, merupakan catatan tentang penghukuman atas sebuah pemberontakan terhadap ibadah yang benar [23]. Meskipun di sini kami tidak akan memberikan penjelasan rinci tentang signifikansi theologis dari Kemah Suci dan perlengkapan-perlengkapannya, tetapi kami akan memberikan sebuah garis besar umum sebagai sebuah keseimbangan terhadap kebiasaan membaca teks secara alegoris yang sembarangan [24].
Kemah Suci merupakan sebuah tenda yang dibangun dari beberapa macam logam, kayu dan kain. Karena fokus utama adalah Ruang Mahakudus, maka tidak heran jika seseorang masuk ke ruangan yang di pusat, dia akan melihat bahan-bahan yang lebih mahal digunakan, ini untuk merefleksikan penambahan intensitas kesucian. Jadi tembaga dipakai untuk jadi alas bagi tiang-tiang yang menahan kain lenan yang memisahkan pelataran dengan perkemahan. Perpindahan dari keliling Kemah Suci ke bagian pusat terdapat kemajuan yang jelas dari tembaga ke perak ke emas, sampai akhimya dalam Ruang Mahakudus terdapat "emas mumi."
Kemajuan yang sama terlihat dalam bahan-bahan kain. Kain yang dipakai untuk memisahkan pelataran dengan perkemahan adalah sederhana, meskipun itu adalah lenan putih yang mahal. Hanya ada satu kekecualian. Pada pintu masuk terdapat lenan biru, ungu dan lenan kirmizi yang dimaksud untuk menarik perhatian kepada pintu masuk kompleks yang ada.
Kemah Suci itu sendiri mempunyai lapisan yang paling dalam dan tiga lapis bahan yang berbeda. Bahan pasti untuk lapis yang paling atas masih diperdebatkan; istilah bahasa Ibrani tahas (Keluaran 26:14; 36:19) tidak jelas. LAI Terjemahan Lama memakai istilah kulit mina-gadjah; LAI Terjemahan Baru memakai terjemahan kulit lumba-lumba. Semua terjemahan ini mengacu kepada bahan yang bermanfaat. Yang jelas ini adalah lapisan yang paling luar dan harus dapat bertahan terhadap elemen-elemen tertentu. Lapis kedua dari luar terbuat dari "kulit domba jantan yang diwarnai merah." Ini juga berfungsi sebagai pelindung, sebagaimana lapis yang berikut, yang terbuat dari "bulu kambing" (Keluaran 26:7-13).
Perhatian khusus diberikan kepada lapis yang paling dalam. Lapis ini adalah yang paling dekat dengan hadirat Ilahi dan juga merupakan lapis yang terlihat, meskipun buram (karena hanya ada sinar dari kandil) dan jarang dilihat (karena faktanya hanya beberapa orang yang masuk ke Kemah Suci). Secara simbolis, lapis yang terdalam merupakan tempat yang paling utama dari Kemah Suci, yaitu: "surga di bumi." Sebab itu bahan tenunannya adalah yang paling rinci dari semuanya: "sepuluh tenda dari lenan halus yang dipintal benangnya dari kain biru, ungu dan kain kirmizi; dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun" (Keluaran 26: 1). Biaya dari bahan-bahan kain ini terlihat dari warna-warnanya yang amat sukar di produksi pada masa kuno jadi bahan-bahan tersebut biasanya disimpan untuk jubah-jubah raja. Perhatikan juga bahwa lapis yang paling dalam adalah sebuah campuran lenan dengan wol. Hal ini khususnya amat menarik jika ditinjau dari Imamat 19: 19 yang melarang memakai pakaian yang dibuat dari dua macam jenis bahan. Jelas bahwa campuran ini hanya untuk tujuan-tujuan yang kudus.
Bayangkan Anda berdiri di Kemah Suci dan melihat ke atas ke arah atap. Permukaannya kebiru-biruan - seperti surga - yang didiami oleh makhluk-makhluk surgawi, kerubim yang berkuasa. Hanya dengan satu kata, seseorang berdiri di surga, atau sedikitnya sebuah simbol surga di bumi. Kemah Suci, tempat yang Allah pilih secara khusus untuk kehadiran-Nya merupakan tempat di mana surga berhubungan dengan bumi.
Karena naturnya yang unik, Kemah Suci di kelilingi dengan segala macam perlindungan tata ibadah. Umpama, hanya orang-orang dari golongan tertentu dapat masuk ke Ruang Mahakudus, dan setelah mereka mempersembahkan korban-korban yang diwajibkan sebagai penebusan bagi dosa-dosa mereka. Ketika umat Allah berkemah selama mengembara di belantara, Kemah Suci diletakkan di pusat dari seluruh suku. Suku Lewi, suku yang diasingkan untuk melayani imam, mengelilingi Kemah Suci, mereka menjadi sebuah bufer terhadap siapa saja yang dengan sengaja atau tidak sengaja mau menajiskan tempat kudus. Tetapi suku Lewi hanya dapat masuk dalam area Kemah Suci. Para keturunan imam Harun dapat masuk lebih jauh, tetapi mereka tidak dapat masuk ke dalam Ruang Mahakudus. Hak istimewa ini hanya untuk imam besar, dan ia dapat masuk ke Ruang Mahakudus hanya pada Hari Penebusan (Imamat 16).
Sebuah deskripsi lengkap tentang Kemah Suci mencakup satu bagian tentang bermacam-macam benda yang diletakkan di dalamnya. Kami sudah menyebut tabut perjanjian, dan dengan singkat kami akan menyinggung tentang satu alat lagi yaitu kandil. Alat ini terbuat dari emas, jadi cocok sebagai alat yang berada di pusat dari tempat kudus. Yang paling menarik dari bentuk kandil ini ialah bentuknya yang seperti pohon: "Kandil itu dibuat, baik kakinya baik batangnya; kelopaknya - dengan tombolnya dan kembangnya - haruslah seiras dengan kandil itu. Enam cabang harus timbul dari sisinya: tiga cabang kandil itu dari sisi yang satu dan tiga cabang dari sisi yang lain. Tiga kelopak yang berupa bunga badam pada cabang yang satu - dengan tombol dan kembangnya - dan tiga kelopak yang serupa pada cabang yang lain - dengan tombol dan kembangnya" (Keluaran 25 :31-33). Dari deskripsi ini kita mengerti bahwa kandil (menorah) bentuknya seperti sebuah pohon buah badam [25]. Setelah kita memperhatikan hubungan mezbah-mezbah bapa beriman dengan pohon-pohon, maka kita tidak perlu ragu-ragu untuk berkata bahwa motif pohon membangkitkan ingatan kita akan taman Eden.
Kemah Suci tetap dipakai selama bertahun-tahun setelah umat Allah masuk ke negeri Perjanjian. Sayangnya kami tidak dapat memberikan sejarah rinci tentang lokasi-lokasi di mana Kemah Suci berada dan penggunaannya. Catatan yang paling jelas berasal dari periode awal dari kehidupan Samuel, ketika Eli menjadi hakim, di mana tabut dan Kemah SUCI berada di Sila (l Samuel 1-4). Catatan : [23] Bagian Alkitab yang menginterupsi ini juga menjelaskan mengapa suku Lewi diberikan status sebagai imam.
[24] 24.Untuk sebuah contoh dari penafsiran alegoris dari naratif Kemah Suci lihat Paul F. Kiene, The Tabernacle of God in the Wilderness of Sinai (Grand Rapids: Zondervan, 1977).
[25] Carol L. Meyers, The Tabernacle Menorah (Missoula, Mont.: Scholars, 1976). d. Bait Allah
Transisi utama berikut dalam sejarah di mana Allah menyatakan kehadiran-Nya di antara umat-Nya ialah dengan Daud dan Salomo. Pada waktu ini Bait Allah dibangun. Untuk mengerti transisi yang terjadi, kita harus bertanya apakah perbedaan antara Kemah Suci dengan Bait Allah, dan mengapa struktur Bait Allah menjadi penting dalam sejarah penebusan.
Pada dasarnya, Bait Allah amat sama dengan Kemah Suci. Struktur bangunan ini, makin ke dalam, makin bertambah kudus, dan mencapai puncaknya pada Ruang Mahakudus yang berada di bagian belakang, di mana Allah menyatakan kehadiran-Nya secara khusus. Perbedaan antara Bait Allah dengan Kemah Suci sama seperti perbedaan antara sebuah rumah dengan sebuah tenda. Sebuah tenda ialah sebuah tempat tinggal yang dapat dibongkar dan dipindahkan. Sebuah rumah ialah sebuah bangunan yang permanen. Jadi Bait Allah melambangkan keabadian, kemantapan, keteguhan, sebuah ciri umum yang dikonfirmasikan oleh keistimewaan arsitektur yang inovatif.
Yang perlu diperhatikan ialah konstruksi dari dua tiang besar ("tinggi 18 hasta dan 12 hasta kelilingnya," 1 Raja 7:15). Kedua tiang ini menyatakan kekuatan dan keabadian, kemuliaan dan keagungan, sebuah fakta yang terlihat dari nama-nama mereka ("ia [Hiram] menamakan tiang di sebelah kanan Yakhin, dan tiang yang di sebelah kiri Boas," 1 Raja 7:21). Yakhin dapat diterjemahkan dengan "ia menegakkan," dan Boas berarti "di dalam dia ada kekuatan."
Di luar halaman Bait Suci terdapat sebuah bejana air yang disebut Laut. Alat ini merupakan tempat di mana para imam membasuh secara ritual yang berhubungan dengan tanggung Jawab mereka. Nama khusus untuk bejana ini sangat menarik perhatian kita. Di seluruh Timur Dekat laut merupakan sebuah lambang dari kekuatan kekacau-balauan, kosmik dan bersifat sejarah [26]. Dalam Perjanjian Lama, YHVH Allah Pencipta menyatakan kuasa-Nya dengan menaklukkan laut. Kita membaca ini di bagian puisi Alkitab (Ayub 12: 15; Mazmur 18: 15) dan nabi-nabi (Yesaya 19:.5; 27:1; Yeremia 5:22; Daniel 7; Nahum 1:4). Air yang banyak di bejana yang disebut laut mengingatkan umat bahwa Allah sudah menaklukkan kuasa kekacauan dan menegakkan sebuah rasa keabadian.
Sebagaimana sebuah struktur arsitektur melambangkan keteguhan dan kekekalan, maka bukanlah sebuah kebetulan kalau Bait Allah menjadi sebuah realita segera setelah penaklukan tanah Kanaan terlaksana. Cerita ini sebenarnya dimulai sejak Ulangan 12, di mana Musa menyampaikan pengajaran Allah kepada bangsa Israel di belantara agar mereka be.nbadah di satu (hanya satu) tempat yang permanen. Peraturan ini berlaku untuk masa depan, ketika mereka akhirnya akan diam di tanah perjanjian. Sesungguhnya hal ini hanya akan terjadi kalau "kamu memusnahkan bangsa-bangsa yang diam di sana" (Ulangan 12:2). Sebab itu proposal pertama untuk membangun sebuah Bait Allah berada dalam sebuah pasal yang mulai, dengan TUHAN telah memberikan damai kepada tanah (2 Samuel 7:1). Allah melalui Daud telah mengusir bangsa Filistin dan membawa bangsa Israel kepada tingkat keamanan yang baru.
Ketika waktunya tepat untuk membangun Bait Allah Daud berdialog dengan nabi Natan. Diskusi ini berkisar tentang kata Ibrani בית - BAYIT (diterjemahkan di seluruh pasal dengan "rumah," "bait Allah," "istana," dan "dinasti") [27]. Daud mulai dengan keluhan tentang perbedaan mengenai kehidupannya dalam sebuah istana (BAYIT) yang indah, sedangkan tabut berada dalam sebuah kemah (dan mungkin pada saat itu kemahnya sudah tua). Pada permulaan Natan memberikan respons dengan meneguhkan maksud Daud, tetapi pada malam itu Tuhan menyatakan diri kepadanya dengan berita bahwa Daud bukanlah orangnya yang akan membangun "bait Allah" (BAYIT).
Alasan Allah tidak mengizinkan Daud membangun Bait Allah beralasan sekali. Pertama, Allah bertanya, "Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami?" Dengan kata lain, Allahlah yang berinisiatif membangun tempat tinggal-Nya, tidak ada seorang pun yang mempunyai hak ini. Kalau kita menengok ke belakang sejenak yaitu kepada naratif kemah kudus, kita ingat bahwa Allah yang berinisiatif untuk pembangunan ini lalu memberikan kepada Musa rencana arsitekturnya (lihat umpamanya Keluaran 26:30). Kedua, ketika Daud mengingat pemberian instruksi sebelum kematiannya, Tuhan telah berkata kepadanya sebelumnya, "Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah" (1 Tawarikh 28:3). Banyak pembaca Alkitab salah mengerti hal ini dengan berpikir bahwa Allah tidak mengizinkan seseorang yang telah terlibat dalam pembunuhan untuk melakukan sebuah pekerjaan kudus seperti mendirikan Bait Allah. Tetapi hal ini tidak memperhitungkan bahwa Allah sendiri yang menyuruh dan memimpin Daud melakukan perang kudus. Bukan, Firman Allah memiliki sebuah kepentingan penebusan yang bersifat sejarah dan bukan hanya merupakan kepentingan etis. Daud berperan untuk menuntaskan penaklukan negeri Kanaan, dan karena Bait Allah melambangkan damai dari musuh-musuh, maka tanggung jawab ini sebaiknya diserahkan kepada penerusnya yang bernama Salomo yang berarti "damai."
Di bagian ini kami tidak bertujuan untuk mengembangkan lebih lanjut theologi 2 Samue17 yang dikenal sebagai perjanjian Daud, tetapi kami lalai kalau tidak memberikan garis besar secara umum tentang respons Allah kepada Daud. Daud, karena tinggal di bayit ("istana") yang indah, sudah menawarkan untuk membangun sebuah BAYIT ("bait") bagi Allah. Allah menolak tawaran ini, tetapi kemudian Allah menganugerahkan sebuah bayi t ("dinasti," 2 Samuel 7: 11) kepada Daud.
Sesuai dengan kehendak Allah, Daud tidak membangun bait Allah, tetapi Kitab 1 Tawarikh mencatat bahwa dia berusaha keras mempersiapkan pembangunan bait Allah ini. Bait Allah dibangun dan didedikasikan oleh Salomo dengan kata-kata yang jelas yaitu meskipun Allah sudah menyatakan kehadiran-Nya di Bait Allah, tetapi Dia tidak diam di sana: "Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini!" (1 Raja 8:27) [28].
Berabad-abad kemudian umat Israel melakukan kesalahan fatal dengan memperlakukan bait Allah sebagai tempat tinggal permanen Allah. Mereka tidak bersandar kepada Allah, melainkan mereka menganggap bait Allah sebagai sebuah berhala yang menjamin mereka mengenai kehadiran dan perlindungan Allah. Ini merupakan pusat khotbah Yeremia di bait Allah (pasal 7) yang menuduh umat tidak memberikan respons kepada panggilan Allah untuk bertobat. Malah mereka berharap kepada perlindungannya karena dia tinggal di Yerusalem. Selama Bait Allah ada di Yerusalem, Allah tidak akan mengizinkan kota mereka mengalami bahaya, bukankah demikian?
Yehezkiel 9 sampai 11 menceri takan respons Allah terhadap pertanyaan ini. Pasal-pasal ini memperlihatkan Allah bangkit dari takhta-Nya di Ruang Mahakudus, pindah ke pintu masuk (9:3), mengendarai kereta-Nya yang dikemudikan oleh kerubim, dan menuju ke timur ke arah Babilon (11:23). Selanjutnya Dia terlihat sebagai pemimpin bala tentara Babilon yang menghancurkan Yerusalem dan meruntuhkan Bait Allah.
Memang benar setelah pengudusan sejumlah kecil yang tersisa akhimya akan kembali ke tanah air mereka. Kelompok ini kemudian membangun Bait Allah kedua, di mana Allah sekali lagi menyatakan kehadiran-Nya di antara umat-Nya. Tetapi bila dibandingkan dengan Bait Allah yang pertama, Bait Allah ini "seperti tidak ada artinya" (Hagai 2:4). Sebuah kemuliaan yang lebih besar masih akan datang. Catatan : [26] Longman and Reid, God Is a Warrior,64.
[27] Lihat Tomoo Ishida, The Royal Dynasties in Ancient Israel (New York: W. de Gruyter, 1977).
[28] Karena kitab-kitab Tawarikh ditulis ketika Bait Allah kedua sedang dibangun, yaitu pada periode pasca-pembuangan, maka kedua kitab ini amat memperhatikan konstruksi Bait Allah pertama: Lihat Roddy L Brann, 1 Chronicles (Waco: Word, 1986), xxix-xxxii, e. Kristus sebagai Bait Allah
Secara sepintas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sepertinya berbeda mengenai kehadiran Allah. Dalam Perjanjian Lama Allah sepertinya jauh, Dia dihampiri hanya dengan ketakutan, gemetar dan korban. Dia hadir hanya di tempat-tempat tertentu dan tempat-tempat ini, baik mezbah, tabut atau Bait Allah dikelilingi dengan larangan-larangan dan tabu-tabu. Tetapi dalam Perjanjian Baru, Allah sepertinya dekat dengan kita. Kita mempunyai sebuah hubungan yang erat dengan Dia. Kita boleh memanggil Dia "Abba," bahasa Aramaik untuk "bapa" (Roma 8: 15). Perbandingan ini sepertinya sangat kontras, dan kenyataan ini memang benar sebagaimana dicatat di Kitab Ibrani 12. Bagaimanapun juga, pada masa ini kita tidak datang kepada sebuah gunung harfiah seperti Sinai, sebuah tempat yang menakutkan sehingga kita tidak ingin menghampiri (ayat 18-21), sebaliknya kita telah datang ke "bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah" (ayat 22). Tetapi kalau kita membaca Perjanjian Baru dengan baik temyata hal ini bukan sebuah kontras yang benar. Karena Perjanjian Lama sebenamya adalah fondasi bagi persekutuan kita yang erat dengan Allah dalam Perjanjian Baru. Ringkasnya, Yesus Kristus adalah kemah Suci yang baru, Bait Allah yang baru.
Ingatlah bahwa pokok kita adalah kehadiran Allah di antara kita. Perjanjian Baru dengan jelas mengajar bahwa Yesus adalah Allah. Prolog dari Injil Yohanes memberitahukan kita bahwa Firman menjadi manusia dan "diam di antara kita" (1:14). Kebanyakan terjemahan bahasa Indonesia tidak menangkap tekanan yang ada dalam bahasa Yunani. Kata "diam" terjemahan dari kata σκενοω – skenoō yang merupakan bentuk kata kerja dari "kemah" (σκηνη – skēnē). Yesus datang dan "berkemah di antara kita." Yohanes sedang menyatakan kedatangan seseorang yang akan menggantikan tempat-tempat ibadah yang berbentuk bangunan.
Di Yohanes 4, sebuah bagian Alkitab lain yang berhubungan dengan pokok kita, Yesus berbicara dengan seorang wanita Samaria. Bangsa Samaria dan bangsa Yahudi mempunyai perdebatan tentang tempat yang benar untuk menyembah Tuhan. Bangsa Yahudi merasa bahwa Al1ah sudah memilih bukit Sion, tetapi bangsa Samaria menyembah Allah di gunung Gerizim dekat kota Sikhem. Yesus mengemukakan masalah theologis ini dengan mengajar bahwa seseorang sudah datang dan dia akan membuat pertanyaan ini sudah tidak berlaku lagi: "Waktunya (Yohanes 4:23-24). Sepertinya di konteks ini Yesus mengakui pengalaman masa lalu bangsa Yahudi yang beribadah di Sion, tetapi komentar-Nya menyatakan bahwa bait Allah sudah tidak dibutuhkan lagi.
Bukti bahwa Bait Allah sudah tidak dibutuhkan lagi terlihat jelas di Markus 13 di mana Yesus mengajar tentang hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ketika berjalan bersama Yesus di halaman Bait Allah (yang dipugar oleh Herodes Agung), murid-murid kagum dengan apa yang dilihat dan berkata, "Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu!" Yesus mengagetkan mereka dengan menjawab, "Tidak satu batupun dari gedung-gedung yang hebat ini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan" (Markus 13:2). Pemyataan ini menjadi sebuah kesempatan bagi percakapan-Nya tentang masa yang akan datang, yang biasa disebut dengan apokalips kecil. Kemudian waktu Dia diadili di depan imam besar, Dia dituduh berkata bahwa Dia akan menghancurkan Bait Allah dan akan membangunnya kembali dalam tiga hari (Markus 14:55-59). Pemyataan ini sudah terdistorsi, tetapi amat provokatif. Yang jelas, penulis-penulis Injil sungguh mengerti bahwa Yesus menempatkan diri-Nya sebagai pengganti Bait Allah. Ketika Bait Allah merupakan tempat di mana Allah menyatakan kehadiran-Nya, Yesus sendiri adalah kehadiran Allah di antara manusia. Dia adalah realita dari yang diharapkan oleh Bait Allah.
Metafora Kristus sebagai Bait Allah dipakai secara fleksibel di Kitab-kitab Perjanjian Baru yang lain. Dalam Surat-surat, umpamanya, orang-orang Kristen dibandingkan dengan bait Allah, baik secara individu (1 Korintus 6: 19) atau secara komunal (1 Korintus 3:16-17). Sama seperti Allah hadir di Ruang Maha-kudus, demikian juga Roh Kudus diam dalam orang Kristen. Menarik sekali bahwa Petrus mengakui gereja sebagai Bait Allah, tetapi dia menyatakan bahwa Kristus adalah "batu yang hidup" (1 Petrus 2:4).
Ide bahwa Kristus adalah penggenapan Bait Allah cocok dengan pengertian Perjanjian Baru tentang hubungan antara Kristus dan seluruh aparatus ibadah dari Perjanjian Lama. Pokok ini khususnya dikembangkan oleh Kitab Ibrani yang mengajar bahwa Kristus adalah penggenapan korban dan keimaman Perjanjian Lama. Yesus Kri stus adalah korban yang sempurna dan imam yang sempurna (Ibrani 9:11-10: 18).
Untuk melengkapi tema kehadiran Allah di Alkitab, kita harus maju ke Kitab Wahyu. Dalam dua pasal terakhir dari kitab ini, kita mendapat sebuah gambaran tentang dunia yang akan datang, yaitu langit dan bumi yang baru. Uniknya kita membaca bahwa "tidak ada bait Suci; sebab Allah, Tuhan yang Mahakuasa adalah bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu" (21:22). Di sana tidak perlu lagi ada tempat kudus yang khusus. Dosa sudah dihapus dan Allah dengan manusia hidup lagi dalam harmonis dan kebahagiaan. Tidak heran, kita mendapat alusi-alusi tentang Taman pada akhir dari kanon Alkitab: "Lalu malaikat menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yangjemih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa" (22: 1-2). Ini merupakan klimaks sejarah penebusan. Restorasi Firdaus, malah lebih dari restorasi. Imageri ini, termasuk dua pohon kehidupan, menyatakan bahwa Firdaus surgawi kita akan melampaui yang pertama.
Kita mulai pasal ini dengan menanyakan pertanyaan, "Apakah Allah Perjanjian Lama sama dengan Allah Perjanjian Baru?" Kita dipaksa bertanya pertanyaan ini karena pembacaan Alkitab yang sepintas akan menyebabkan seorang mengkontraskan gambaran Allah yang ada di dua Perjanjian, Apakah Allah Perjanjian Lama jauh, dingin, pemarah, menghakimi, sembarangan? Apakah Allah Perjanjian Baru, khususnya yang kita lihat di dalam Putra-Nya, Yesus Kristus, hangat, dekat, personal, murah-hati dan penuh perhatian')
Kita memperhatikan bahwa Alkitab menjauhkan diri dari spekulasi dan abstraksi tentang Allah, malah Alkitab memakai kata-kata utuk menggambarkan hubungan antara Allah dengan umat-Nya. Kita memilih untuk menyelidiki tiga dari tema ini untuk melihat apakah Allah Perjanjian Lama berbeda dengan Allah Perjanjian Baru. Dalam pengamatan kita kita melihat bagaimana perjanjian-perjanjian dalam Perjanjian Lama menuju ke Perjanjian Baru. Kita kagum ketika mengetahui bahwa YHVH pahlawan Ilahi dari Perjanjian Lama mengantisipasi peperangan-peperangan dari Yesus dalam Perjanjian Baru. Kita mengikuti cerita bagaimana Allah yang berdiam dengan umat-Nya mengalahkan pemberontakan manusia yang membawa dari Taman ke Yerusalem Baru.
Pelajaran kita sudah mencapai konklusi yaitu bahwa Alkitab memberikan sebuah kesatuan gambar Allah. Allah Perjanjian Baru jelas adalah Allah Perjanjian Lama. Tetapi kesatuan gambar ini tidak statis. Allah secara progresifmenyatakan diri-Nya kepada umat-Nya sepanjang masa. Bayang-bayang Perjanjian Lama menuju kepada kenyataan Perjanjian Baru. Ketika Agustinus memandang kepada Yesus Kristus sebagai penggenapan Perj anj ian Lama, ia meringkaskan dengan indah: "Perjanjian Baru tersembunyi dalam Perjanjian Lama; Perjanjian Lama dinyatakan dalam Perjanjian Baru." Sumber : Tremper Longman III, Memahami Perjanjian Lama, Tiga Pertanyaan Penting, SAAT, 2001, hlm 63 - 119.
|
|