SarapanPagi Biblika

Studi Alkitab & Pustaloka Kristiani
It is currently Tue Feb 09, 2010 9:09 pm

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 7 posts ] 
Author Message
 Post subject: ALLAH di PL dan di PB
PostPosted: Mon Jun 12, 2006 7:37 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 5959
BUKANKAH ALLAH PERJANJIAN LAMA ADALAH ALLAH YANG PEMBENCI SEDANGKAN ALLAH PERJANJIAN BARU ADALAH ALLAH YANG PENGASIH?



Tuduhan yang sering dilontarkan terhadap Alkitab ialah bahwa didalamnya terdapat dua konsep yang berbeda tentang Allah. Menurut dugaan orang Perjanjian Lama memperkenalkan Allah yang suka murka saja, sedangkan Perjanjian Baru diduga melukiskan Allah yang penuh kasih saja.

Dalam Perjanjiam Lama terdapat cerita-cerita tentang perintah Allah untuk membinasakan kota Sodom, pembasmian orang-orang Kanaan, dan banyak cerita lainnya mengenai hukuman dan murka Allah. Para penuduh itu mengatakan bahwa hal ini memperlihatkan dewa primitif yang suka perang yang bertentangan dengan ajaran Yesus tentang kasih sebagaimana terdapat dalam Khotbah di Bukit.

Tampaknya gagasan-gagasan tentang Allah ini saling bertentangan. Akan tetapi, bila kita memikirkan kembali sejenak akan nyata hal yang sebaliknya. Yesus sendiri menyatakan bahwa Perjanjian Lama boleh disimpulkan dalam perintah-perintah untuk mengasihi Allah dan sesama kita (Matius 22:37-40). Ia juga berkata bahwa Allah dalam Perjanjian Lama senantiasa menghedaki kasih dan belas kasihan lebih daripada persembahan (Matius 9:13; Matius 12:7).

Sikap ini dapat terlihat dengan pernyataan-pernyataan seperti, “Apakah Aku berkenan kepada kematian orang Fasik?.... Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?” (Yehezkiel 18:23).

Allah tidak mungkin membinasakan bangsa-bangsa tertentu, kecuali Ia adalah Allah yang adil dan kejahatan bangsa-bangsa itu tidak dapat lagi dicegah dan dimaafkan.

Ia memang bermaksud dan ingin menghukum mereka sebagai suatu bagian dari rencanaNya. Apa yang dikehendakiNya sesuai dengan perangaiNya yang suci. Ia lakukan dalam keadilan, dalam kasus mereka, asalkan mereka belum bertobat dan menyesuaikan diri dengan sifatNya (Yeremia 18).

Dalam kasus orang Amori, Allah memberikan mereka waktu ratusan tahun untuk bertobat, namun mereka tidak bertobat (Kejadian 15:16). Nuh berkotbah 120tahun lamanya kepada orang-orang sezamannya sebelum air bah tiba (Kejadian 6:3). Gambaran Perjanjian Lama yang sebenarnya ialah mengenai Allah yang sangat sabar, yang memberikan kepada bangsa-bangsa ini kesempatan-kesempatan yang tak terhitung banyaknya untuk bertobat dan kembali ke dalam hubungan yang harmonis dengan Dia. Hanya jika mereka terus-menerus menolak, maka Ia mengadili dan menghukum mereka karena perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu.

Bertentangan dengan kepercayaan yang populer, pernyataan-pernyataan yang paling tegas tentang pernghukuman dan murka dalam Alkitab telah diucapkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Dalam Matius 23, misalnya Ia mengecam pemimpin-pemimpin agama pada zamanNya, mengatakan mereka orang munafik dan pemimpin palsu, serta memberitahukan mereka bahwa mereka akan dibuang selama-lamanya dari hadapan Allah.

Dalam Matius 10:34 Yesus berkata bahwa tujuan misiNya bukanlah untuk mempersatukan, melainkan untuk menceraikan. “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai, melainkan pedang”. Selanjutnya Ia berkata bahwa firmanNya akan menyebabkan akan menyebabkan seorang ayah anak laki-laki, seorang ibu melawan anak perempuannya, dan seorang menantu perempuan melawan ibu mertuanya (Matius 10:35).

Kita menjumpai penghukuman maupun kasih tersebar diseluruh Perjanjian Baru; belas kasihan, dan juga penghukuman tersebar diseluruh Perjanjian Lama. Allah adalah tetap dan tidak berubah, tetapi keadaan keadaan yang berbeda menuntut penekanan-penekanan yang berbeda pula. Oleh sebab itu, waktu kita membaca kedua Perjanjian itu dengan semestinya, keduanya menyatakan Allah Kudus yang sama, yang kaya akan rahmat, namun yang tidak akan membiarkan dosa tanpa dihukum.



Dikutip dari buku :
Josh Mc Dowel & Don Steward, JAWABAN BAGI PERTANYAAN ORANG YANG BELUM PERCAYA, Halaman 84-85.


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: ALLAH di PL dan di PB
PostPosted: Mon Jan 14, 2008 9:28 am 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 5959
Mengapa dalam Perjanjian Lama Allah begitu berbeda dengan dalam Perjanjian Baru?


Tanya :
"Mengapa dalam Perjanjian Lama Allah begitu berbeda dengan dalam Perjanjian Baru?"


Jawab :


Saya percaya bahwa pada pertanyaan ini didasarkan pada salah pengertian yang mendasar mengenai apa yang Perjanjian Lama dan Baru ungkapkan mengenai pribadi Allah. Cara lain untuk mengekspresikan pemikiran yang sama adalah waktu orang mengatakan, ”Allah Perjanjian Lama adalah Allah yang murka sedangkan Allah Perjanjian Baru adalah Allah yang mengasihi.” Fakta bahwa Alkitab adalah penyataan diri Allah secara progressif melalui peristiwa-peristiwa sejarah dan cara Allah berhubungan dengan manusia sepanjang sejarah memungkinkan terjadinya salah pengertian terhadap Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Namun ketika orang membaca baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru langsung jelas bahwa Allah tidak berbeda dan bahwa murka dan kasih Allah diungkapkan dalam kedua Perjanjian.

Contohnya, dalam Perjanjian Lama Allah dikatakan sebagai ”penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” :
Keluaran 34:6
Bilangan 34:6
Ulangan 4:31
Nehemia 9:17
Mazmur 86:5; 15;
Mazmur 108:4;
Mazmur 145:8;
Yoel 2:13

Dan di dalam Perjanjian Baru kasih setia dan kemurahan Allah dinyatakan dengan lebih jelas dalam pernyataan :


”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).


Dalam Perjanjian Lama kita juga menemukan bahwa Allah memperlakukan Israel dengan cara yang sama seperti seorang ayah yang pengasih terhadap anak-anaknya. Saat mereka secara sengaja berdosa kepadaNya dan menyembah berhala, Tuhan akan menghukum mereka, namun setiap kali mereka bertobat dari penyembahan berhala, Tuhan menolong dan membebaskan mereka. Allah juga bersikap demikian terhadap orang-orang Kristen dalam Perjanjian Baru. Misalnya, Ibrani 12:6 memberitahu kita, sbb :


”Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak" (Ibrani 12:6).


Demikian pula dalam Perjanjian Lama kita melihat penghakiman dan murka Tuhan dicurahkan atas orang-orang berdosa yang tidak mau bertobat. Dalam Perjanjian Baru kita melihat bahwa ”Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.” (Roma 1:18 ).

Bahkan sekalipun kita hanya membaca Perjanjian Baru secara sekilas, kita akan melihat dengan jelas bahwa Yesus berbicara lebih banyak mengenai neraka daripada mengenai surga. Jadi jelas bahwa dalam Perjanjian Lama Allah tidak berbeda dengan dalam Perjanjian Baru. Berdasarkan naturnya, Allah tidak dapat berubah dan walaupun dalam ayat-ayat Alkitab tertentu aspek tertentu dari natur Allah lebih ditekankan dari aspek-aspek lainnya, Allah sendiri tidak pernah berubah.

Ketika seseorang betul-betul membaca dan mempelajari Alkitab, nyata dengan jelas bahwa dalam Perjanjian Lama dan Baru Allah tidak berbeda. Dan sekalipun Alkitab terdiri dari 66 kitab yang bebeda, ditulis di tiga benua, dalam tiga bahasa, dalam kurun waktu sekitar 1500 tahun, oleh lebih dari 40 penulis (dari berbagai latar belakang), Alkitab tetap merupakan satu kesatuan dari awal sampai akhir tanpa kontradiksi. Dalam Alkitab kita menemukan bagaimana Allah dengan kasih, kemurahan dan keadilan memperlakukan orang-orang berdosa dalam berbagai situasi. Alkitab benar-benar adalah surat cinta Allah pada umat manusia. Kasih Allah kepada ciptaanNya, khususnya umat manusia, nyata dalam Alkitab. Dalam Alkitab kita menemukan Allah dengan kasih dan murah hati menarik manusia ke dalam hubungan yang khusus dengan diriNya, bukan karena manusia pantas mendapatkannya, namun karena Allah itu penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setiaNya. Namun kita juga melihat Allah yang suci dan benar, Allah yang adalah Hakim bagi semua yang tidak taat kepada FirmanNya dan menolak menyembah Dia dan memilih menyembah allah yang mereka ciptakan sendiri, menyembah berhala dan illah-illah lain dan bukan menyembah Allah yang esa dan sejati (Roma 1).

Karena karakter Allah yang adil dan suci, semua dosa, baik dari masa lalu, sekarang dan masa depan harus dihakimi. Namun demikian Allah dalam kasihNya yang tidak terbatas telah menyediakan pembayaran bagi dosa dan jalan pendamaian supaya orang berdosa dapat bebas dari murkaNya. Kita melihat kebenaran yang indah ini dalam ayat-ayat seperti 1 Yohanes 4:10 ”Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yohanes 4:10). Dalam Perjanjian Lama Allah menyediakan sistim korban persembahan di mana dosa dapat ditebus; namun sistim ini hanya sementara dan untuk mengantisipasi kedatangan Yesus Kristus yang akan mati di salib untuk benar-benar menggantikan dan menebus dosa-dosa kita. Juruselamat yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama diungkapkan dengan lebih jelas dalam Perjanjian Baru dan puncak pernyataan kasih Allah, yaitu pengutusan Anaknya Yesus Kristus diungkapkan dengan segala kemuliaan. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru diberikan ”menuntun engkau kepada keselamatan” (2 Timotius 3:15) dan ketika kita mempelajarinya dengan teliti, nyata dengan jelas bahwa Allah dalam Perjanjian Baru tidak berbeda dengan Allah dalam Perjanjian Lama.


Disalin dari :
http://www.gotquestions.org/Indonesia/A ... rbeda.html


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: ALLAH di PL dan di PB
PostPosted: Sun Jun 14, 2009 11:09 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 5959
Apakah Tuhan Perjanjian lama Juga Tuhan Perjanjian Baru?



Yesus berpaling kepada murid-murid-Nya dan berkata, "Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain" (Lukas 6:29).

Setelah menyeberangi Laut Merah, Musa memimpin bangsa Israel dalam sebuah pujian untuk merayakan perbuatan besar yang Tuhan baru saja lakukan:

TUHAN itu pahlawan perang; TUHAN, itulah nama-Nya.
Kereta Firaun dan pasukannya dibuang-Nya ke dalam laut.
Para perwiranya yang pilihan
dibenamkan ke dalam Laut Merah.
Samudra raya menutupi mereka;
ke air yang dalam mereka tenggelam seperti batu
(Keluaran 15:3-5).


Pada akhir kehidupan-Nya ketika Ia sedang disiksa dengan kejam di salib, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, "Ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34).

Kembali ke Perjanjian Lama, kita mendengar nabi Yeremia berkata mewakili Tuhan. Karena umat-Nya sudah melawan Dia, Tuhan berkata kepada mereka bukan dengan kata-kata pengampunan, tetapi dengan kata-kata penghukuman: "Aku akan membuat Yerusalem menjadi timbunan puing, tempat persembunyian serigala-serigala. Aku akan membuat kota-kota Yehuda menjadi sunyi sepi, tiada berpenduduk lagi" (Yeremia 9: 11). Yeremia tidak berbicara sendiri. Kebanyakan nabi memberitakan kata-kata keras yang sama tentang penghukuman Ilahi.

Tidak heran banyak orang merasa bahwa ada gap yang tidak dapat dijembatani di antara konsep Allah di Perjanjian Lama dan di Perjanjian Baru. Mereka menekankan perbedaan antara kedua Perjanjian dan bahkan mereka mengklaim bahwa kedua Perjanjian ini saling berkontradiksi. Penghukuman, pengeluaran dan kekejaman dari Perjanjian Lama dikontraskan dengan keselamatan, pemasukan dan belas kasihan dari Perjanjian Baru. Perbedaan yang lebih tajam, Tuhan sebagai pahlawan yang menghukum di Perjanjian Lama dikontraskan dengan Yesus, Mesias yang menderita.

Sebuah film yang saya lihat di awal tahun 1970an dengan jelas mengilustrasikan (mis) konsepsi yang umum ini. Di permulaan dari film The Rulling Class, Jack tokoh yang dimainkan oleh Peter O'Toole, berpikir bahwa dia adalah Yesus dan memperlakukan tiap orang dengan kebaikan dan kemurahan hati. Tema dari film ini ialah seseorang seperti Yesus tidak dapat tetap hidup dalam masyarakat masa kini, jadi Jack akhirnya diserahkan ke rumah sakit jiwa. Peristiwa yang paling menarik terdapat di tengah film ketika seorang pasien yang berpikir dia adalah YHVH, Tuhan dari Perjanjian Lama, dibawa kepada Jack. Karakter pasien ini berbeda dengan karakter O'Toole. Dia kasar, tidak sopan, bengis, diasosiasikan dengan Tuhan dari Perjanjian Lama, yaitu pandangan stereotip dari kebanyakan orang masa kini, bahkan juga orang Kristen.

Apakah Alkitab melukiskan Tuhan secara dikotomi sedemikian ini? Bagaimana kita dapat menghubungkan Tuhan dari Perjanjian Lama dengan Tuhan dari Perjanjian Baru? Inilah subjek dari pertanyaan penting kedua kita tentang Perjanjian Lama.



1. Stereotip-stereotip yang Salah


Kita harus hati-hati dengan stereotip yang salah baik tentang Tuhan dari Perjanjian Lama dan Yesus yang dinyatakan di Perjanjian Baru. Tuhan dari Perjanjian Lama bukan seorang figur yang sembarangan dan gelap, dan Yesus bukan seluruhnya bunga, terang dan kebaikan yang lemah lembut. Yahweh tidak pemah berubah-ubah atau dengan sembrono menghukum seseorang. Sebaliknya, kesaksian dari Perjanjian Lama adalah konsisten bahwa Ia adalah "Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya" (Keluaran 34:6). Ia menghukum hanya setelah pemberontakan yang berulang-ulang dan peringatan yang terus menerus. Ia selalu mempunyai hati untuk keselamatan umat-Nya bahkan ketika mereka amat menyakitkan hati-Nya.

Mungkin bagian Alkitab yang amat berkesan berkenaan dengan hal ini di perlihatkan oleh nabi Hosea. Berdasar dosa bangsa Israel yang terus menerus, Tuhan menetapkan bahwa waktunya tiba untuk melanjutkan ancaman-Nya yang berulang-ulang untuk menghukum mereka. Tetapi ketika Ia melakukan hal ini, hati-Nya pecah: "Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Masakan Aku membiarkan engkau seperti Asthma, membuat engkau seperti Zeboim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangki t serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan" (Hosea 11: 8-9). Berdasar Firman Tuhan ini sukar untuk menerima bahwa Allah dari Perjanjian Lama adalah seorang despot yang tidak berbelas kasihan. Keputusan untuk menghukum umat-Nya merobek-robek perasaan-Nya. Kita sukar untuk mengerti bagian Alkitab ini sedikitnya karena kita sering lupa bahwa Tuhan kita adalah seorang Tuhan yang berkeinginan kuat [1]. Tentunya la tidak dapat dihanyutkan dengan kuasa emosi-Nya, tetapi Ia adalah pribadi yang beremosi. Meskipun bangsa Israel layak dilenyapkan, belas kasihan-Nya tidak akan membiarkan Dia melaksanakan hal ini. Sesungguhnya, kasih yang begitu hebat untuk manusia ciptaan-Nya merupakan jembatan bagi korban yang terbesar sepanjang masa: kematian Kristus di atas salib.

Tuhan dari Perjanjian Lama bukan seorang penggertak monolitis, demikian juga Yesus Kristus tidak selamanya pasif atau pasifis. Fakta menyatakan, Dia menyucikan Bait Allah menghubungkan-Nya dengan gambaran Perjanjian Lama tentang penghukuman Ilahi. Ketika Yesus melihat bahwa rumah Tuhan sudah digunakan untuk perdagangan yang tidak benar, Dia amat marah. Ia mengambil cambuk dan mengusir orang-orang yang melanggar hukum ini. Peristiwa ini menginspirasikan penulis Injil Yohanes untuk mengutip deklarasi pemazmur, "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku" (Yohanes 2:17 mengutip Mazmur 69:9).

Jadi tidak benar membuat perbedaan antara pandangan Allah dari Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Dalam sisa pasal ini kita akan mengeksplorasi presentasi yang amat beraneka ragam tentang Tuhan di Perjanjian Lama, tetapi dalam setiap kesempatan kita akan melihat bukti kesinambungan ketika kita pindah ke Perjanjian Baru. Tuhan dari Perjanjian Lama adalah Tuhan dari Perjanjian Baru.

Catatan :

[1] Lihat Dan Allender and Tremper Longman III, Cry of the Saul (Colorado Springs: Nav Press, 1994).


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: ALLAH di PL dan di PB
PostPosted: Sun Jun 14, 2009 11:10 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 5959
2. YHVH: Pusat dari Alkitab


Ketika kita membaca Alkitab, pasti impresi kita yang pertama ialah tentang perbedaan. Kita sudah mengobservasi dalam pasal 1 bahwa Alkitab ditulis dalam masa yang panjang oleh banyak pengarang yang berbeda, memakai beraneka ragam genre. Kadang-kadang sukar untuk melihat cerita yang satu di antara cerita-cerita yang ada. Meskipun demikian ada sebuah kesatuan organis dalam Alkitab. Bukti yang paling jelas ialah kita dapat berkata tentang seorang Pengarang utama. Seluruh isi Alkitab pada mulanya diinspirasikan oleh Tuhan.

Tetapi ada juga pertanyaan mengenai kesatuan berita dari Alkitab. Apakah suara-suara yang banyak dalam Alkitab menyanyi secara harmoni atau apakah Alkitab merupakan sebuah suara hiruk-pikuk dari nyanyian-nyanyian individu? Kadang-kadang para ahli Alkitab bertanya apakah ada satu pusat dalam Theologi Alkitab. Apakah ada satu tema atau motif di mana seluruh wahyu Alkitab dapat diperlihatkan garis besarnya? Beberapa ahli melihat pusat wahyu Alkitab dalam perjanjian atau janji-janji Tuhan [2]. Ahli-ahli lain melihatnya dalam sejarah penebusan atau dalam pola Tuhan [3]. Banyak ahli lain yang jumlahnya bertambah akhir-akhir ini, menjawab pertanyaan di atas secara negatif. Tidak ada pusat dalam Theologi Alkitab.

Pendapat saya sendiri kira-kira berada di tengah. Pada satu pihak, saya tidak percaya bahwa Alkitab dapat secara total digolongkan dalam satu tema. Mereka yang menerima tema perjanjian sebagai pusat, bergumul dalam menempatkan literatur hikmat di bawah tema ini [4]. Sebenamya ada tema yang mempersatukan yaitu Tuhan sendiri. Mengenai pertanyaan "Alkitab itu tentang apa?" jawab yang tepat ialah Alkitab itu tentang Tuhan.

Kalau kita berhenti dengan observasi sederhana bahwa Tuhan adalah pusat Alkitab, kita belum bicara banyak. Di antara observasi-observasi tambahan yang kita dapat buat ialah Tuhan tidak pemah kelihatan secara abstrak. Alkitab bukan berisi esei-esei filosofi tentang sifat Tuhan. Kita tidak menemukan bahasa theologi sistematik atau formulasi-formulasi kredo. Bukannya teme-tema ini salah atau tidak berguna, tetapi kita tidak menemukan dalam Alkitab kata-kata seperti hipostasis, Tritunggal, apatis. Sebaliknya Tuhan dinyatakan dalam simile-simile dan metafora-metafora hidup yang konkret. Kita membaca Tuhan itu adalah seorang raja, seorang guru, seorang pahlawan, seorang gembala, seorang ayah/ibu, seorang suami/ istri.

Meskipun Alkitab tidak pemah memberitahu kita mengapa Alkitab menyatakan Tuhan secara metafora, tetapi kita dapat membayangkannya. Metafora-metafora yang hidup dan konkret berasal dari pengalaman setiap hari. Orang berpendidikan atau buta huruf, muda dan tua, dapat mengertinya. Alkitab bukan sebuah dokumen kaum elit, melainkan untuk semua orang. Bahkan bahasa metafora dari Alkitab berguna lebih dari memberikan informasi kepada intelek kita. Imageri dapat membangkitkan emosi kita, sedangkan prosa tidak dapat. Umpama waktu kita membaca Tuhan adalah bapa kita menimbulkan sebuah respons yang melampaui apa yang dapat diberikan oleh sebuah prosa.

Selain metafora bersifat konkret, kebanyakan metafora-metafora penting dalam Alkitab mempunyai pertalian hubungan. Memang tidak semuanya demikian. Umpama Tuhan adalah sebuah batu karang, sebuah benteng (Mazmur 18:1-2), sebuah perisai (Mazmur 3:3), terang (Mazmur 104:2), seekor burung (Mazmur 91:4). Tetapi kebanyakan gambaran-gambaran tentang Tuhan berkenaan dengan sebuah hubungan. Umpama, Tuhan digambarkan sebagai bapa (Mazmur 68:5) dan ibu (Mazmur 131) dari orang-orang yang setia menyatakan bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan. Gambar Tuhan sebagai suami bangsa Israel (Hosea 1-3) berarti bahwa bangsa Israel adalah istri Tuhan. Aklamasi Alkitab bahwa Tuhan adalah raja berarti ciptaan-Nya adalah umat-Nya. Melalui hubungan metafora-metafora ini Alkitab mencapai para pembacanya bukan dengan bahasa yang abstrak dan dingin, melainkan dengan bahasa yang personal dan hangat.

Catatan :

[2] O. Palmer Robertson, The Christ of the Covenants (Grand Rapids: Baker, 1980); dan Walter C. Kaiser, Jr., Toward an Old Testament Theology (Grand Rapids: Zondervan, 1978).

[3] Elmer A. Martens, God 's Design (Grand Rapids: Baker, 1981).

[4] Lihat usaha Meredith G. Kline dalam The Structure of Biblical Authority (Grand Rapids: Eerdmans, 1972).


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: ALLAH di PL dan di PB
PostPosted: Sun Jun 14, 2009 11:12 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 5959
3. Metafora Raja dari Perjanjian


Kita telah meletakkan fondasi dasar dalam membahas isu yang menjadi perhatian kita yaitu: Apakah Tuhan dari Perjanjian Baru sama dengan Tuhan dari Perjanjian Lama? Kita akan menyelidiki tiga metafora pertalian yang menyatukan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru: Tuhan sebagai raja perjanjian; Tuhan sebagai pahlawan; Tuhan sebagai Imanuel. Ketika kita menyelidiki tema-tema ini, kita akan mengobservasi baik kesinambungan antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru dan ketidaksinambungan di mana Yesus Kristus secara radikal menggenapkan apa yang diantisipasi oleh Perjanjian Lama.


    a. Penegakan Perjanjian antara Yahweh dengan Umat-Nya

    Bagian mana saja dari Perjanjian Lama yang kita baca, kita akan bertemu dengan konsep perjanjian, Ada banyak peristiwa di mana Tuhan mengadakan perjanjian dengan umat-Nya. Kita melihat hal ini pertama kali terjadi dengan Nuh (Kejadian 9) [5]. Kemudian kita membaca Abraham menikmati sebuah hubungan perjanjian dengan Tuhan. Kita tidak pemah melihat Tuhan sungguh-sungguh mengadakan perjanjian dengan Abraham, tetapi yang pasti janji-janji dari Kejadian 12: 1-3 mensyaratkannya. Keluaran 19-24 merupakan pusat deskripsi perjanjian yang dibuat antara Tuhan dengan bangsa Israel di gunung Sinai. Musa adalah mediator di antara dua kelompok yang termasuk dalam ikatan perjanjian ini. Kemudian Tuhan juga mengadakan perjanjian dengan Daud (2 Samuel 7; 1 Tawarikh 17).

    Di samping peristiwa-peristiwa pengadaan perjanjian, ada bagian-bagian Alkitab di mana berbagai perjanjian diperbarui. Tidak ada istilah baru yang diajukan, tidak ada janji-janji atau tanggung jawab-tanggung jawab baru. Melainkan hubungan yang sudah ada diteguhkan kembali. Beberapa contoh cukup untuk membuktikan bahwa pembaruan-pembaruan sering kali datang pada waktu yang tidak terduga atau pada waktu krisis, seperti masa transisi dari satu pemimpin ke pemimpin lain. Kejadian 15 dan 17 mencatat dua peristiwa terpisah ketika Tuhan datang kepada Abraham untuk menegaskan kembali janji-Nya mengenai keturunan yang banyak. Untuk menjadi "bapak" (Kejadian 12:2) pertama Abraham perlu mempunyai seorang anak. Tetapi ketika dia menjadi lebih tua, dia mulai meragukan kemungkinan mendapat seorang anak melalui Sarah yang sudah tua. Jadi dua kali dia memakai cara-cara manusia untuk mendapat keturunan. Di Kejadian 15 tercatat Abraham mengadopsi Eliezer hambanya. Di Kejadian 16 Abraham mendapat seorang anak melalui Hagar gundiknya. Dalam dua peristiwa itu Tuhan menyatakan diri kepada Abraham dan dengan murah hati menegaskan perjanjian kembali dengan dia.

    Seluruh Kitab Ulangan merupakan sebuah penegasan kembali perjanjian yang Tuhan buat dengan bangsa Israel di Sinai. Krisis yang mengharuskan pembaruan perjanjian ini adalah kematian Musa yang sudah dekat. Penegasan kembali perjanjian yang berikut yangjuga merupakan perjanjian dengan Musa dicatat di Yosua 24, tepat sebelum kematian Yosua. Tetapi ada juga petunjuk dalam buku Ulangan bahwa perjanjian ditegaskan kembali pada periode interval baik waktu ada krisis atau tidak ada:

      * Ulangan 31:9-13
      31:9 Setelah hukum Taurat itu dituliskan Musa, maka diberikannyalah kepada imam-imam bani Lewi, yang mengangkut tabut perjanjian TUHAN, dan kepada segala tua-tua Israel.
      31:10 Dan Musa memerintahkan kepada mereka, demikian: "Pada akhir tujuh tahun, pada waktu yang telah ditetapkan dalam tahun penghapusan hutang, yakni hari raya Pondok Daun,
      31:11 apabila seluruh orang Israel datang menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya, maka haruslah engkau membacakan hukum Taurat ini di depan seluruh orang Israel.
      31:12 Seluruh bangsa itu berkumpul, laki-laki, perempuan dan anak-anak, dan orang asing yang diam di dalam tempatmu, supaya mereka mendengarnya dan belajar takut akan TUHAN, Allahmu, dan mereka melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini,
      31:13 dan supaya anak-anak mereka, yang tidak mengetahuinya, dapat mendengarnya dan belajar takut akan TUHAN, Allahmu, -- selama kamu hidup di tanah, ke mana kamu pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya."


Catatan :

[5] Ada perdebatan yang hangat mengenai status dari ide perjanjian sebelum zaman Nuh. Beberapa ahli ajaran Reformed berpendapat bahwa meskipun kata perjanjian tidak terdapat sebelum Kejadian 6: 18, konsep perjanjian sudah berlaku sejak permulaan catatan Alkitab dan merupakan sebuah deskripsi yang cocok untuk hubungan antara Tuhan dengan Adam dan Hawa bahkan sebelum mereka jatuh dalam dosa.


    b. Perjanjian sebagai Hubungan Metaforikal

    Banyaknya referensi tentang pembuatan dan pembaruan perjanjian menyebabkan ide perjanjian sebagai sebuah konsep Alkitab yang utama. Tetapi apakah kita sungguh mengerti apa yang dimaksud? Mari kita mengeksplorasi sifat dari perjanj ian dan melihat bagaimana perjanjian menyediakan kesinambungan antara pengertian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tentang Tuhan.

    Hal pertama yang perlu diperhatikan ialah bahwa perjanjian merupakan sebuah hubungan metaforikal. Kata Indonesia "perjanjian" (bahasa Inggris "covenant") terjemahan dari bahasa Ibrani ברית - BERIT, merupakan sebuah istilah hukum yang sudah kuno. Di luar Alkitab kata ini hanya ditemukan dalam bahasa hukum. Sebuah perjanjian adalah sebuah persetujuan di antara dua kelompok yang terikat secara hukum. Meskipun istilah ini tidak cukup untuk menjelaskan konsep yang terdapat di Alkitab, tetapi istilah ini memperlihatkan kepada kita bahwa kita sedang berhubungan dengan sebuah hubungan secara hukum antara Tuhan dengan umat manusia.


    c. Perjanjian sebagai Pakta

    Dengan menempatkan konsep perjanjian menurut konteks sejarah dan budayanya (lihat hal. 53-54), kita dapat lebih tepat dalam mengerti perjanjian di Perjanjian Lama. Bukannya kita sudah salah mengerti konsep perjanjian selama bertahun-tahun, sama sekali tidak. Tetapi melalui melihat perjanjian-perjanjian yang ada di Alkitab sebagai pakta-pakta kita boleh mempunyai apresiasi yang lebih kaya dan dalam tentang kuasa dari konsep ini. Istilah ini juga memberikan sebuah fondasi yang lebih baik untuk menyediakan konsep ini ke dalam pengertian masa kini kita tentang sifat Tuhan dan hubungan kita dengan Dia.

    Pada pertengahan abad keduapuluh, penyelidikan membuktikan koneksi sastra yang dekat antara perjanjian-perjanjian Alkitab dengan pakta-pakta politik Timur Dekat Kuno. Kebanyakan dari pakta-pakta ini ditulis dalam bahasa Akkadia yang berasal dari abad kedua (pakta-pakta bangsa Heti) atau periode neo-Asyur ( abad ketujuh SM) [6]. Perbedaan di antara dua dokumen ini dipakai oleh beberapa ahli dalam usaha mereka untuk menyelesaikan isu-isu tahun penulisan (khususnya penulisan Kitab Ulangan). Tetapi perbedaan-perbedaan ini tidak tegas dan tidak cukup konsisten untuk memberikan bukti yang konklusif.

    Perbedaan lain yang telah menolong untuk pengertian kita tentang perjanjian-perjanjian Alkitab ialah pakta-pakta paritas dan pakta-pakta vasal. Pakta-pakta golongan pertama ialah pakta-pakta di antara raja sebuah bangsa dengan seorang penguasa yang hampir setara. Sebuah contoh kontemporer ialah sebuah pakta antara America dengan Tiongkok. Sebuah contoh pakta kuno ialah antara Mesir dengan Hatti, sebuah kekuatan Anatolia pada pertengahan milenium kedua. Sedangkan sebuah pakta vasal ialah sebuah aliansi antara seorang raja besar dengan seorang raja kecil. Sebuah contoh masa kini ialah pakta antara Amerika dengan Haiti. Sebuah contoh kuno ialah sebuah pakta antara Hatti dengan Ugarit, sebuah kota di pantai Mediteranian di bawah Turki masa kini.

    Pakta-pakta vasal secara substansi berbeda dengan pakta-pakta paritas dalam sifat dan struktur. Apa yang kita lihat dalam sebuah pakta vasal ialah pemaksaan kehendak seorang raja yang berkuasa atas seorang raja yang kurang berkuasa. Keseimbangan kuasa yang amat sepihak dalam pakta vasal menjadikan pakta ini sebuah pola yang baik untuk perjanjian-perjanjian Alkitab. Di perjanjian-perjanjian dalam Alkitab Tuhan raja yang berkuasa masuk dalam persekutuan dengan ciptaan-Nya, vasal-Nya. Inilah pusat dari metafora perjanjian: YHVH raja terikat oleh pakta dengan umat-Nya.

Catatan :

[6] Untuk terjemahan bahasa Inggris dari pakta-pakta Timur Dekat Kuno lihat Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament, ed. James B. Pritchard, 3d ed. (Princeton: Princeton University Press, 1969), 199-206, 531-41.


    d. Struktur dari Perjanjian/Pakta

    Jadi Tuhan memakai kebiasaan legal manusia, yaitu pakta, untuk menyatakan diri-Nya dengan umat-Nya. Pakta ini memperkaya pengertian mereka tentang siapakah mereka sebagai umat Tuhan. Hubungan yang dekat tentang perjanjian-perjanjian Alkitab ini dan pakta-pakta internasional terefleksi dalam struktur-struktur mereka yang sama dan terdiri dari enam bagian dasar. Untuk contoh-contoh Alkitab kita akan memakai Kitab Ulangan dan Yosua 24. Kedua perjanjian ini merupakan pembaruan dari Perjanjian Musa. (Karena Alkitab memberikan deskripsi pembuatan dan pembaruan perjanjian dan bukan dokumen-dokumen tersebut, maka analogi kita akan mempu¬nyai bcherapa bagian yang kurang jelas. Meskipun demikian persamaan-persamaan yang terdapat di antara keduanya amat mencolok.)


      1. INTRODUKSI TENTANG KELOMPOK-KELOMPOK

      Bagian pertama dari sebuah pakta hanya mengintroduksikan kedua kelompok yang termasuk dalam hubungan perjanjian. Raja besar dan raja kecil disebut nama-namanya. Pembukaan Kitab Ulangan (1:1-5) menginformasikan pembaca bahwa bangsa Israel memperhatikan kata-kata Musa yang adalah wakil Tuhan. Dalam Y osua 24 umat berdiri di hadapan Y osua yang juga bertindak sebagai wakil Tuhan. Teks dari Yosua 24 berkata bahwa umat "berdiri di hadapan Allah" (ayat 1). Kelompok-kelompok sudah hadir dan siap mendengar kata-kata dari perjanjian/pakta.


      2. PROLOG SEJARAH

      Sesudah bagian introduksi, pakta vasal kemudian menceritakan sejarah perhubungan antara dua bangsa sampai pada saat ini. Tekanannya ialah mengenai betapa raja besar itu amat baik hati dan suka menolong raja kecil. Dalam pakta-pakta politik Timur Dekat Kuno masa ini bisa ada propaganda politik ketika raja besar menulis sejarah opresi dan eksploitasi dengan bahasa kasih dan perhatian kepada raja kecil. Tetapi Tuhan sama sekali tanpa ada kemunafikan, yang dicatat adalah sejarah yang memperlihatkan betapa Tuhan itu murah hati dan mengasihi umat-Nya. Kita dapat mengetahui ini dari satu bagian besar Kitab Ulangan (1 :9-3:27) dan juga dalam Yosua 24:2-13. Pada bagian Alkitab yang belakangan ini, sejarah mulai dengan Abraham dan keluarganya sebelum memasuki Tanah Perjanjian dan berakhir pada saat bangsa Israel berdiri di Tanah Perjanjian sebagai sebuah bangsa besar. Yosua berbicara mewakili Tuhan, menceritakan penyeberangan Laut Merah, penaklukan dan pemilikan tanah dan banyak hal lain.


      3. HUKUM

      Sesudah menimbulkan rasa berterima kasih dan tanggung jawab pada diri vasal, cerita sejarah berlanjut kepada pemberian hukum yang akan mengatur hubungan di antara kedua pihak. Tujuan dari laporan sejarah ialah untuk memberi rasa tanggung jawab pada vasal. Hukum yang menjadi fokus dari pakta merupakan usaha raja besar dalam memberikan bentuk konkret kepada respons terima kasih dari vasal.

      Dalam pakta-pakta politik hukum biasanya berhubungan dengan tanggung jawab raja kecil untuk mendukung politik luar negeri raja besar, yaitu menjadikan musuh raja besar sebagai musuh mereka, menjadikan teman raja besar sebagai teman mereka. Dalam teks-teks Alkitab transisi dari sejarah kepada hukum terlihat sebagai sebuah perkembangan dari masa lalu ke masa sekarang dan ditandai dengan kata keterangan "sekarang" (atau "oleh sebab itu"; kata Ibraninya ialah עתה -'ATAH). Kita melihat sebuah transisi sedemikian di Yosua 24: 14 ketika kita maju dari cerita sejarah yang berakhir di ayat 13, kepada perintah-perintah dari hukum: "Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN." Dalam Kitab Ulangan bagian hukum jauh lebih panjang; bahkan hampir seluruh kitab (Ulangan 4:1-26: 19).

      Sifat hukum dari sebuah perjanjian/pakta pada dasarnya sudah dikenal oleh semua ahli yang memakai pilihan antara "covenant" atau "testament," yang merupakan istilah hukum, untuk menerjemahkan kata Ibrani ברית - BERIT dan kata Yunani διαθηκη -diathēkē ke bahasa Inggris. Meskipun demikian kita harus berhati-hati menjaga distorsi yang amat berbahaya dari sifat hukum perjanjian-perjanjian. Sebuah perjanjian/pakta tidak meneguhkan sebuah hubungan yang didasari oleh observasi hukum, meskipun perjanjian/pakta melaksanakan hubungan ini. Raja besar sudah menaklukan atau menakutkan raja lain dalam posisi vasal pada saat pakta ditulis. Dalam kasus perjanjian dengan Musa, Tuhan sudah meneguhkan hubungan-Nya dengan bangsa Israel melalui anugerah-Nya sebelum memberikan mereka hukum. Sesungguhnya, prakata dari Sepuluh Hukum memberikan indikasi yang sedemikian ketika Tuhan memperkenalkan diri-Nya sebagai "seorang yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir" (Keluaran 20: 1).


      4. BERKAT-BERKAT DAN KUTUK-KUTUK

      Karena perjanjian/pakta merupakan sebuah dokumen hukum, maka tidak heran jika perjanjian/pakta mempunyai berkat-berkat dan kutuk-kutuk yang mengikuti hukum. Kalau raja vasal melakukan hukum-hukum yang ada, maka raja besar akan mengganjar dia dengan damai, kekayaan, kemakmuran, dan suksesi kerajaan yang mantap. Yang paling penting, raja besar akan melindungi raja vasal dari musuh-musuh di sekeliling. Tetapi kalau vasal memberontak terhadap raja besar, maka vasal akan menerima murka raja besar yang akan menyerbu vasal, menaklukan dia dan menghukum dia atas pemberontakannya.

      Sampai di sini kita sudah tidak kaget melihat perjanjian-perjanjian dalarn Alkitab mengikuti pola pakta-pakta politik. Yosua 24 menekankan kutuk-kutuk: "Apabila kamu meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing, maka la akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu" (24:20). "Pembaruan perj anj i an yang lebih panjang di Kitab Ulangan berisi berkat-berkat yang ekstensif (28:1-14) dan kutuk-kutuk (27:11-26; 28:15-68). Memang berkat-berkat dan kutuk-kutuk ini berpengaruh besar atas kanon Perjanjian Lama yang selanjutnya. Kitab-kitab Sejarah seperti Yosua, Hakim-hakim, Samuel, dan Raja-raja menunjukkan bagaimana kutuk-kutuk dari Kitab Ulangan mengikuti pemberontakan bangsa Israel. Jadi para nabi sering mendasari berita-berita mereka dari hukuman yang berasal dari kutuk-kutuk ini.


      5. SAKSI-SAKSI

      Sebagaimana kebanyakan dokumen-dokumen hukum, pakta diratifikasi di hadapan saksi-saksi. Dalam pakta-pakta Timur Dekat Kuno, para dewa dan dewi dari masing-masing bangsa berfungsi sebagai saksi. Bagi bangsa Israel, para saksi dapat bangsa Israel sendiri (Yosua 24:22), sebuah monumen yang didirikan sebagai sebuah peringatan bagi ketentuan-ketentuan perjanjian (Yosua 24:26), atau ciptaan Tuhan yaitu langit dan bumi (Ulangan 30: 19-20).


      6. TINJAUAN DAN PERGANTIAN RAJA

      Untuk melengkapi gambaran tentang pakta atau perjanjian di Perjanjian Lama, kita harus menyebut perhatian bagi pemeliharaan dan pembacaan secara teratur dokumen dan penyediaan bagi pergantian raja-raja, khususnya di negara vasal. Pakta-pakta memandang melampaui masa kini ke masa yang akan datang. Maka para penulis membuat dua kopi pakta dan biasanya meletakkan mereka dalam kuil-kuil terpenting dari dua bangsa yang mengadakan pakta. Prosedur ini tidak perlu dalam perjanjian Allah - manusia di Alkitab, meskipun pemah dikemukakan bahwa dua loh hukum terdiri dari dua kopi. Biar bagaimanapun, hukum ditulis dan diletakkan sedapat mungkin di tempat yang paling kudus - tabut perja ljian. Setiap tujuh tahun, selama Hari Raya Pondok Daun dari tahunjubile, para imam akan membaca hukum supaya umat dapat mengafirmasikan kembali kesetiaan mereka kepada hukum ini (Ulangan 31 :9-13).

      Sukar untuk menghindari kesimpulan bahwa perjanjian di Perjanjian Lama merupakan sebuah pakta antara raja besar, yaitu YHVH dan vasal-Nya, yaitu umat/hamba-Nya, Dengan demikian perjanjian merupakan sebuah metafora hubungan yang menyoroti fakta bahwa Allah adalah raja dari bangsa Israel. Ini cocok dengan banyak bagian dari Alkitab yang mempunyai tema tentang kerajaan [7].

Catatan :

[7] Perhatikan yang disebut mazmur-mazmur raja (Mazmur 47,93, 96,98,99, 100) yang merayakan Allah sebagai raja.



    e. Yesus Kristus dan Penggenapan Perjanjian

    Pertanyaannya sekarang ialah bagaimana konsep Perjanjian Lama tentang Allah cocok dengan konsep Perjanjian Baru. Apakah ada kesinambungan atau ketidaksinambungan? Ketika kita memfokuskan pada tema Allah sebagai raja perjanjian kita, maka jawabnya ialah - dua-duanya.

    Pada akhir hidup-Nya, sebelum menuju ke salib, Yesus mengadakan perjamuan terakhir bersama murid-murid-Nya. Pada perjamuan ini Ia memperkenalkan sebuah upacara yang kita kenal sebagai Perjamuan Kudus:

      * Matius 26:26-30
      26:26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku."
      26:27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.
      26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.
      26:29 Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku."
      26:30 Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun.

    Yesus memeteraikan sebuah perjanjian dengan murid-murid¬Nya yang mengingatkan kita akan perjanjian Allah di Perjanjian Lama. Lukas menambahkan sebuah kata "baru" di muka perjanjian (22:20), sehingga terdapat sebuah hubungan yang eksplisit dengan Yeremia 31 :31-33. Bahasa Yesus menyatakan kesinambungan dan ketidaksinambungan ketika kita pindah dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, sebuah transisi di mana nubuat Yeremia memegang peranan penting.

    Yeremia adalah seorang nabi pada akhir abad ketujuh dan permulaan abad keenam SM. Bangsa Israel mempunyai sebuah sejarah yang panjang baik mengenai hubungan perjanjian dengan Allah, juga sebuah sejarah yang panjang dalam tidak menaati hukum perjanjian. Akibatnya, Yeremia diutus oleh Allah untuk memberitahukan mereka bahwa kutuk-kutuk dari perjanjian akan datang sehingga mereka akan berakhir pada pembuangan (Ulangan 28:63-68).

    Tetapi Allah tidak meninggalkan bangsa Israel tanpa pengharapan. Ia juga menginstruksikan Yeremia untuk memberitahukan umat-Nya bahwa hukuman akan membawa mereka kepada pertobatan dan penyelamatan sebuah umat yang tersisa. Contoh yang paling mencolok dari janji ini terdapat di bagian Alkitab yang disebut buku penghiburan, di mana Yeremia 31:31-34 merupakan berita pengharapan dari hati Allah:

      * Yeremia 31:31-34
      31:31 Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda,
      31:32 bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN.
      31:33 Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.
      31:34 Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka."

    Di sini kita melihat sebuah jembatan di antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru, yaitu jembatan yang mengutarakan kesinambungan dan ketidaksinambungan. Yeremia 31 :31-34 adalah sebuah perjanjian yang fondasi-fondasinya ada di dalam perjanjian-perjanjian dari Perjanjian Lama, tetapi dalam beberapa aspek mempunyai hal yang baru. Mari kita menggali apa yang baru dalam Perjanjian Baru, maksudnya ketidaksinambungan antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Dari permulaan kitu perlu mengetahui bahwa Palmer Robertson benar dalam menetapkan keperluan ketidaksinambungan bukan terletak pada kegagalan pada diri Allah atau pada perjanjian itu, tetapi pada umat sendiri: "Pengusiran umat Allah dari tanah perjanjian pada waktu pembuangan menyatakan kegagalan besar bangsa Israel di bawa Perjanjian Lama" [8].

    Menurut Yeremia, Perjanjian Baru ketika dibandingkan dengan Perjanjian Lama adalah bersifat internal, langsung dan akrab. Perbedaan-perbedaan ini bukan perbedaan-perbedaan dalam macam tetapi dalam tingkatan. Mungkin lebih tepat dikatakan bahwa Perjanjian Baru adalah lebih bersifat internal, langsung dan akrab dari Perjanjian Lama. Yeremia 31 memberikan sebuah sebutan untuk Perjanjian Baru sebagai "sebuah ciri yang unik dalam kuasanya mengubah partisipan-partisipannya dari dalam hati mereka" [9]. Lebih lanjut, dalam Perjanjian Baru tidak perlu ada seorang guru. Orang-orang Kristen mengetahui melalui pengalaman bahwa Perjanjian Baru tidak bermaksud bahwa kita mengetahui semua atau segala sesuatu berkenaan dengan Allah dan Firman-Nya sudah jelas bagi kita. Juga tidak berarti bahwa guru-guru dan hamba-hamba Tuhan harus mencari pekerjaan lain. Yang dimaksud ialah mediator-mediator manusia untuk hubungan dalam perjanjian tidak diperlukan lagi. Dalam Perjanjian Lama, Musa, Daud, dan pemimpin-pemimpin lain adalah penerima-penerima dekat dari hubungan perjanjian, dan mereka memberikannya kepada umat. Menurut Perjanjian Baru hanya ada satu mediator, ia bukan hanya manusia, melainkan Yesus Kristus, Anak Allah (1 Timotius 2:5).

    Pada pihak lain, kata "baru" tidak berarti ada sebuah pemutusan yang total dengan yang lama. Menyadari hal ini, Robertson menyebut Perjanjian Baru sebagai perjanjian konsumasi. Hal ini terlihat dari kenyataan bahwa Yesus Kristus tidak membatalkan atau menolak perjanjian-perjanjian dalam Perjanjian Lama melainkan menggenapi mereka. Robertson memakai istilah yang disebut oleh mantan murid-muridnya sebagai diagram "lazy V" untuk menyatakan bahwa perjanjian-perjanjian merupakan fungsi dari pewahyuan yang progresif, di mana sebuah perjanjian dibangun pada perjanjian-perjanjian yang sudah ada sampai semua perjanjian ini berkonsumasi di dalam Kristus (lihat diagram 1).


    Diagram 1
    Struktur Perjanjian dari Alkitab

    Image
    Dari O. Palmer Robertson, The Christ of the Covenants (Grand Rapids: Baker, 1980),62


    Yesus menggenapi perjanjian dengan Abraham yang mempunyai janji-janji tentang keturunan, tanah, dan berkat untuk bangsa-bangsa. Yesus menggenapi perjanjian hukum yang dimediasikan oleh Musa, karena Ia yang menggenapi tuntutan-tuntutan hukum. Ia juga menggenapi perjanjian kerajaan dari Daud, karena Ia adalah Putra yang lebih Agung dari Daud yang duduk di atas takhta kerajaan surga yang dilukiskan melalui kerajaan politik Daud.

    Kita telah melihat bahwa perjanjian adalah sebuah metafora penting dari Alkitab, terbukti sebagai gambar Alkitab yang paling menonjol mengenai hubungan antara Allah dan umat-Nya. Ketika kita mengikuti lintasan konsep ini dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, kita melihat bahwa tidak ada identitas yang sederhana atau kontras yang jelas antara perjanjian-perjanjian. Perjanjian Baru dari Yesus Kristus jelas berbeda dengan Perjanjian Lama, tetapi bukan dalam hal Perjanjian Baru menggantikan Perjanjian Lama. Sebaliknya, raja perjanjian dari Perjanjian Baru merupakan penggenapan dari yang diantisipasi dalam Perjanjian Lama. Allah dari Perjanjian Baru jelas sama dengan Allah dari Perjanjian Lama, bedanya ialah kita telah mengenal-Nya lebih baik.

Catatan :

[8] Robertson, Christ of the Covenant, 271.

[9] Ibid., 276.


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: ALLAH di PL dan di PB
PostPosted: Sun Jun 14, 2009 11:14 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 5959
4. Metafora Pahlawan Ilahi


Ketika kita mengeksplorasi teologi Allah sebagai seorang pahlawan [10], kita berada pada pusat dari kecurigaan banyak orang bahwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memberikan gambaran tentang Allah yang berbeda dan bahkan berkontradiksi. YHVH yang pembalas dan kejam digantikan oleh Yesus yang penuh kasih dan berbelas kasihan. Tetapi ketika kita memeriksa tema Allah sebagai pahlawan dalam seluruh Alkitab, kita akan mengetahui sebagaimana kita telah melihat melalui konsep perjanjian bahwa di samping ada ketidaksinambungan, ada juga kesinambungan yang kuat ketika kita pindah dari perang kudus YHVH ke peperangan rohani Yesus dan kemudian berakhir pada peperangan-peperangan klimaks yang berhubungan dengan kedatangan Kristus kedua kali dan hukuman akhir. Sekali lagi kita akan melihat sebuah pola dari wahyu yang lebih lengkap.

Catatan :

[10] Untuk sebuah presentasi yang rinci tentang tema ini lihat Tremper Longman 1II dan Daniel G. Reid, God Is a Warrior (Grand Rapids: Zondervan, 1995).


    a. Perang Kudus dalam Perjanjian Lama

    Ketika kita membaca halaman demi halaman dari Perjanjian Lama, kita bertemu dengan banyak peristiwa yang keras. Dari peperangan yang dilakukan Abraham untuk membebaskan Lot dari tawanan raja-raja (Kejadian 14) ke penaklukan Kanaan sampai ke periode pasca-pembuangan, kita membaca banyak hal tentang perang dan perjuangan bersenjata. Ketika kita membuka kode hukum yang penting dan berpengaruh dalam Kitab Ulangan, kita juga mendapatkan hampir dua pasal penuh (7 dan 20) tentang hukum-hukum yang mengatur peperangan dari umat Allah. Dari hukum-hukum ini dan deskripsi-deskripsi sejarah kita mendapat sintesa kita tentang peperangan dalam Perjanjian Lama.


      1. SEBELUM PERANG

      Mengetahui kehendak Tuhan. Allah berjanji melindungi bangsa Israel, umat pilihan-Nya. Tetapi ini tidak berarti bahwa bangsa Israel dapat memerangi siapa saja yang mereka ingin perangi dengan cara apa saja yang mereka pilih. Untuk satu hal, hukum (lihat Ulangan 20: 10-18) dengan jelas membedakan antara musuh yang berada di luar Negeri Perjanjian dan musuh yang berada di dalam Negeri Perjanjian. Musuh yang pertama dapat menyerah dan diperlakukan sebagai budak, sedangkan seluruh penduduk dari musuh yang kedua harus dibinasakan.

      Ada lagi yang lain. Bangsa Israel harus mengetahui secara konkret bahwa Allah ingin mereka memerangi musuh tertentu pada waktu yang tertentu. Hal ini dapat diketahui berdasar salah satu dari: perintah Ilahi atau bertanya dulu kepada Tuhan. Ilustrasi dari yang pertama ialah perang melawan Yerikho. Setelah menyeberangi sungai Yordan, ketika Yosua sedang mengintai ia bertemu dengan seorang figur yang aneh dengan sebuah pedang terhunus (Yosua 5:13-15). Sebagai respons kepada tantangan Yosua, figur tersebut mengidentifikasikan diri sebagai "Panglima Bala tentara TUHAN." Yosua menanggalkan kasutnya dan sujud sebagai tanda hormat serupa dengan apa yang Musa lakukan dalam peristiwa semak duri yang menyala (Keluaran 3) menjelaskan bahwa figur ini tidak lain adalah YHVH sendiri. Ketika kita membaca catatan perang dalam pasal berikut, kita menyadari bahwa YHVH pada saat itu mengutus dan memberikan strategi perang kepada Yosua.

      Sebuah contoh mengenai pengutusan model kedua, yaitu melalui bertanya dulu kepada Tuhan terdapat di 1 Samuel 23. Bagian Alkitab ini melukiskan larinya Daud dari raja Saul yang marah. Meskipun Daud belum menjadi raja, tetapi ia mempunyai semua perlengkapan dari seorang raja. Ia mempunyai pasukan, seorang nabi dan seorang imam yang siap melayani. Jadi ketika Daud mendengar bahwa sebuah kota di Yehuda bernama Kehila diserang oleh orang Filistin, ia bertanya-tanya dalam hati apakah ia perlu menyelamatkan kota itu. Syukur Daud tidak bertindak secara impulsif. Daud memanggil Abyatar, imam di dalam pembuangan, dan meminta dia memakai efod untuk bertanya kepada Tuhan. Tuhan memberikan jawab yang pasti dan Daud melakukan panggilan tanggung jawab Ilahinya.

      Kita mempunyai sebuah catatan tentang pemimpin perang yang gagal bertanya kepada Tuhan. Waktunya ialah penaklukan Kanaan ketika pasukan Yosua dengan pertolongan Ilahi baru saja mengalahkan kota Yerikho yang kuat. Mereka berjuang menghadapi kota Ai dan akhirnya berhasil mengalahkan Ai. Kemudian mereka didatangi oleh sekelompok gabungan pengembara keletihan yang sepertinya datang dari tempat yang jauh (Yosua 9). Yosua yang mengetahui perbedaan antara kota-kota di dalam dan di luar Negeri Perjanjian, bersedia mengadakan perundingan dengan kelompok orang-orang ini, yang kita kenal sebagai orang Gibeon. Yosua dengan segera menyadari kesalahannya. Mereka telah menipu dia, mereka sebenarnya sebuah suku yang berasal dari dalam negeri. Kesalahan di sini terdapat pada para pemimpin bangsa Israel, sebagaimana di catat dalam Yosua 9: 14 "orang-orang Israel mengambil bekal orang-orang itu (Gibeon), tetapi tidak meminta keputusan TUHAN."

      Persiapan rohani. Selain perlu mengetahui kehendak Tuhan, penting bagi bangsa Israel mempunyai persiapan rohani sebelum terjun dalam peperangan. Umpama, sebelum perang melawan Yerikho, bangsa Israel merayakan hari Paskah dan yang menyolok - semua pria disunat. Karena beberapa alasan yang tidak ditetapkan, bangsa Israel yang dilahirkan di belantara belum disunat, jadi sebelum memasuki perang penaklukan yang pertama, mereka harus disunat. Urgensi dari tindakan tersebut terlihat dari keadaan militer yang merugikan yang jelas dialami oleh bangsa Israel. Mereka dalam jarak serang oleh musuh mereka. Penyunatan yang dialami oleh pejuang-pejuang Israel menyebabkan mereka sementara waktu terganggu (bandingkan catatan dibunuhnya Sikhem di Kejadian 34). Tetapi rupanya lebih berbahaya bagi bangsa Israel terjun dalam peperangan tanpa persiapan rohani (atau secara agama) daripada mereka dalam keadaan tidak menguntungkan secara fisik.

      Indikasi lain mengenai perlunya persiapan rohani ialah kurban-kurban yang diberikan sebelum perang. Umpamanya bayangkan 1 Samuel 13, sebuah cerita di mana persiapan-persiapan perang jadi tidak karuan. Sebagai seorang raja yang baru ditunjuk, tugas utama Saul ialah memimpin bangsa Israel menumpas opresor mereka yaitu orang Filistin. Orang Filistin sedang menuju pusat kerajaan Saul dengan sebuah pasukan perang yang hebat. Saul jelas menjadi bingung, demikian juga dengan pasukan Israel, beberapa di antara mereka sudah ada yang melarikan diri. Saul berpikir, kecuali ia bergerak cepat, semua pasukannya akan segera bersembunyi di bukit-bukit. Tetapi dia tidak dapat terjun dalam peperangan tanpa memberikan kurban kepada Tuhan, dan imam Samuel tidak tahu ada di mana. Saul menjadi panik dan memberikan kurban sendiri.

      Patut diperhatikan bahwa Saul sama sekali tidak mengabaikan kurban-kurban. Kurban-kurban ini amat penting. Tetapi ketika Samuel tiba, dia menyatakan murka Tuhan kepada kelancangan raja dalam mempersembahkan kurban sendiri. Sebenarnya Saul bukan seorang imam, ia sudah melampaui haknya. Akibatnya Tuhan mengambil dari dia setiap pengharapan bahwa dia mendirikan sebuah kerajaan di Israel. Dosanya adalah kurang penyerahannya kepada Tuhan, Pahlawan yang sanggup melindungi dia sampai Samuel muncul.

      Kita akan melihat satu naratif lagi dari Perjanjian Lama berhubungan dengan persiapan rohani bagi peperangan. Dua Samuel II mencatat peristiwa terkenal di mana Daud bertemu Dria setelah raja meniduri Batsyeba, istri Uria. Daud berusaha menutupi perzinahannya dengan memanggil Uria kembali dari medan perang, di mana dia menj adi laskar Yoab dalam perang melawan bangsa Aman. Setelah menerima laporan dari Uria, Daud mengirim dia pulang. Keesokan harinya Daud bingung ketika mengetahui bahwa Dria tidak tidur dengan Batsyeba, tetapi tidur di pintu masuk istana. Merasa gagal dalam rencananya, Daud berkata, "Bukankah engkau baru pulang dari perjalanan? Mengapa engkau tidak pergi ke rumahmu?" (11:10). Respons Dria sepertinya agak membingungkan: "Tabut serta orang Israel dan orang Yehuda diam dalam pondok, juga tuanku Yoab dan hamba-hamba tuanku sendiri berkemah di padang; masakan aku pulang ke rumahku untuk makan minum dan tidur dengan istriku? Demi hidupmu dan demi nyawamu, aku takkan melakukan hal itu!" (11:11).

      Seorang pembaca modern dapat menafsir respons Uria dengan kalimat, "Bagaimana saya dapat bersenang-senang dan relaks ketika teman seperjuanganku sedang mengurbankan hidup mereka?" Memang respons Uria dapat mengacu ke arah ini, tetapi dengan disebutnya tabut memberi petunjuk kepada kita bahwa ada yang lebih agung, ada isu-isu teologi yang dipertaruhkan di sini. Kalau Dria pulang ke rumah dan tidur dengan istrinya, dia dapat berada di bawah peraturan hukum dari Kitab Imamat 15: 1-18 yaitu seorang pria yang mengeluarkan mani, bahkan di dalam konteks hubungan seksual dalam pernikahan, adalah najis secara ritual selama dua puluh empat jam dan tidak dapat menghampiri Allah. Dalam kondisi ini Dria tidak dapat kembali ke medan perang.

      Patut kita perhatikan bahwa naratif ini menempatkan Dria dalam posisi yang baik dan Daud dalam posisi yang dirugikan. Dria sebenarnya bukan seorang Israel, ia adalah seorang prajurit upahan bangsa Heti yang rupanya bertobat kepada Tuhan. Dia membuktikan bahwa dia amat kritis terhadap seluk beluk hukum orang Israel. Sebaliknya Daud, bukan saja seorang Israel, tetapi juga merupakan favorit Allah dan seorang raja. Dia sia-sia berusaha menutupi pelanggarannya terhadap hukum ketujuh dan segera akan jatuh dalam dosa pembunuhan.

      Tabut. Tidak banyak orang yang akan membantah bahwa tabut merupakan simbol yang paling jelas untuk hadirat Allah di dalam Perjanjian Lama [11]. Tabut memegang peran utama di dalam Ruang Mahakudus dari Kemah Pertemuan. Mobilitasnya juga ideal sekali sebagai representasi Allah dalam medan perang.

      Mungkin episode yang paling terkenal di mana tabut memegang peran penting ialah perang melawan Yerikho. Tuhan memerintah Yosua: "Haruslah engkau mengelilingi kota itu, yakni semua prajurit harus mengedari kota itu sekali saja; demikianlah harus engkau perbuat enam hari lamanya, dan tujuh orang imam harus membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut. Tetapi pada hari yang ketujuh, tujuh kali kamu harus mengelilingi kota itu sedang para imam meniup sangkakala. Apabila sangkakala tanduk domba itu panjang bunyinya dan kamu mendengar bunyi sangkakala itu, maka haruslah seluruh bangsa bersorak dengan sorak yang nyaring, maka tembok kota itu akan runtuh, lalu bangsa itu harus memanjatnya, masing-masing langsung ke depan" (Yosua 6:3-5). Sentralitas tabut dalam naratifini menekankan peran utama Allah dalam perang: Allahlah yang menyebabkan tembok-tembok runtuh.

      Sebelum Yerikho, tabut juga mempunyai sebuah posisi yang penting di pengembaraan di belantara. Kata-kata yang diucapkan sebelum dan sesudah berdefile selama satu hari jelas membuktikan bahwa kata-kata ini merupakan sebuah prosedur militer dan Allah terlihat sebagai seorang pemimpin perang: "Apabila tabut itu berangkat, berkatalah Musa, 'Bangkitlah, TUHAN, supaya musuh-Mu berserak dan orang-orang yang membenci Engkau melarikan diri dari hadapan-Mu!' Dan apabila tabut itu berhenti, berkatalah ia, 'Kembalilah, TUHAN, kepada umat Israel yang beribu-ribu laksa ini! '" (Bilangan 1 0:35-36). Kehadiran tabut di muka pasukan paralel dengan fungsi seorang raja yang secara pribadi memimpin pasukannya. Jadi kita tidak terkejut bahwa tabut, seperti tenda raja, diletakkan di tengah perkemahan ketika bangsa Israel beristirahat (Bilangan 2).

      Defile. Selama masa penaklukan Kanaan, tabut merepresentasikan YHVH sebagai pasukan Israel yang maju berdefile. Demikian juga, catatan tentang defile pasukan Yosafat ke medan perang di 2 Tawarikh 20 menunjukkan sifat religius dari peperangan di Perjanjian Lama:

        * Bilangan 20:20-21
        20:20 Keesokan harinya pagi-pagi mereka maju menuju padang gurun Tekoa. Ketika mereka hendak berangkat, berdirilah Yosafat, dan berkata: "Dengar, hai Yehuda dan penduduk Yerusalem! Percayalah kepada TUHAN, Allahmu, dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan kamu akan berhasil!"
        20:21 Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: "Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"

Catatan :

[11] Lihat Marten H. Woudstra, The Ark of the Covenant from Conquest to Kingship (Philadelphia: Presbyterian and Reformed, 1965).


      2. SELAMA SATU PEPERANGAN

      Sebuah karakteristik yang hebat dari peperangan di Perjanjian-Lama ialah sikap acuh terhadap jumlah pasukan dan bahkan terhadap kualitas senjata-senjata yang dipakai dalam sebuah peperangan. Mungkin "sikap acuh" adalah kata yang salah; Allah peduli dengan jumlah pasukan yang bangsa Israel miliki dalam sebuah peperangan. Dia peduli dalam hal agar mereka tidak mempunyai terlalu banyak pasukan.

      Cerita Gideon merupakan sebuah ilustrasi yang baik. Ketika Tuhan melihat bahwa tiga puluh dua ribu orang maju menghadapi orang Midian, Allah memberitahukan Gideon, "Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau" (Hakim 7:2). Ketika orang-orang yang takut diizinkan untuk pulang, dua puluh dua ribu orang pulang. Tetapi sepuluh ribu tetap masih terlalu banyak. Kemudian Allah menyuruh pasukan tersebut minum dari wadi Harod. Ketiga ratus orang yang menciduk air dengan telapak tangan mereka dan menjilat dengan lidah mereka di pilih untuk berperang. Banyak tinta sudah dipakai untuk menulis tentang mengapa Allah memilih serdadu-serdadu ini? Apakah istimewanya cara minum seperti ini? Jawabnya ialah tidak ada yang istimewa. Allah hanya tidak mau bangsa Israel mempunyai terlalu banyak pasukan sehingga mereka "memegah-rnegahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: 'Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku'" (7:2b).

      Perkelahian antara Daud dan Goliat mengilustrasikan keprihatinan ini pada tingkat perang individual. Orang Filistin mengusulkan kepada bangsa Israel agar mereka menyelesaikan konflik mereka melalui sebuah perkelahian antara juara-juara [12]. Orang Filistin merasa bahwa mereka tidak akan kalah karena mereka mempunyai Goliat. Dia besar sekali dan bersenjata lengkap dengan teknologi mutakhir (1 Samuel 17:4-7). Sebaliknya, bangsa Israel hanya mempunyai anak muda Daud, yang tidak sanggup memakai senjata dan hanya mempunyai perlengkapan sebuah umban. Perkelahian yang tidak seimbang ini berakhir dengan kemenangan Daud, bukan karena kepandaiannya tetapi karena Allah menyertai dia.

Catatan :

[12]Lihat Yigael Yadin, The Art of Warfare in Biblical Lands (New York: McGraw-Hill, 1963).


      3. SESUDAH PERANG

      Jika perang adalah sebuah perang kudus, maka tidak ada keraguan mengenai hasilnya. Bangsa Israel adalah pemenangnya. Kalau perang terjadi di Negeri Perjanjian, perintah Allah sudah jelas. Semua jarahan harus "dipersembahkan" kepada Allah (arti dari istilah Ibrani herem). Ini berarti bahwa barang-barang berharga akan diserahkan kepada para imam dan semua musuh yang hidup akan dibunuh. Ini adalah akhir dari orang berdosa yang datang ke hadapan Allah tanpa ditutupi oleh kurban-kurban [13].

      Karena Allah sudah menang, respons yang benar dari bangsa Israel bukan merayakan kekuatan mereka tetapi kuasa Allah. Beberapa nyanyian di kitab-kitab sejarah (umpamanya Keluaran 15 dan Hakim 5) merupakan contoh-contoh yang baik. Banyak mazmur berasal dari latar belakang peperangan, khususnya dalam konteks sebuah kemenangan (lihat Mazmur 24 dan 98). Jadi setelah perang, sebagaimana sebelum dan selama perang, fokus dari bangsa Israel ialah pada Allah [14].

Catatan :

[13] Untuk mengetahui lebih lanjut tentang peperangan herem, lihat Longman dan Reid, God is a Warrior, 46-47.

[14] 14.Memang ada mazmur-mazmur yang dikarang dalam konteks sebelum perang (Mzm. 7), konteks perang (Mzm. 91), dan konteks sesudah perang. Lihat Tremper Longman lII,"Psalm 98: A Divine Warrior Victory Psalm," Journal of the Evangelical Theological Society 27 (1984): 267-74.



    b. Sebuah Theology Alkitab tentang Peperangan Ilahi

    Dalam survei kita tentang perang kudus di dalam Perjanjian Lama, prinsip yang mencakup secara keseluruhan ialah Yahweh hadir dalam perang. Jadi peperangan sebenamya merupakan sebuah bentuk ibadah. Sebab itu pahlawan bangsa Israel perlu berada dalam kondisi persiapan rohani, sepertinya ia sedang berjalan ke halaman Bait Allah.

    Tidak ada seorang pun pemah menyatakan teologi perang kudus lebih baik dari Daud yang muda ketika dia berhadapan dengan raksasa Goliat. Tepat sebelum mereka berperang, Daud dengan jaya berkata:

      * 1 Samuel 17:45-47
      17:45 Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.
      17:46 Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah,
      17:47 dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami."

    Di Perjanjian Lama, YHVH berperang demi umat-Nya. Ketika kita memperluas studi kita dengan memasukkan perkembangan sejarah penebusan, kita akan mengetahui bahwa ada sebuah pola progresif dari aktivitas perang Allah. Kita akan melihat lima fase yang jelas mengenai perang Ilahi dalam Alkitab. Meskipun tidak secara ketat berurutan, kelima fase ini merefleksikan perkembangan sejarah penebusan (lihat diagram 2).

    Image


      1. ALLAH BERPERANG MELAWAN MLSUH-MUSUH DARAH -- DAN -- DAGING DARI BANGSA ISRAEL

      Deskripsi kita tentang perang kudus di Perjanjian Lama sesungguhnya merupakan sebuah deskripsi dari fase pertama dari perang Ilahi. Allah berperang melawan musuh-musuh darah - dan - daging dari bangsa Israel dan memberikan umat-Nya kemenangan. Tetapi Tuhan tidak berperang bagi bangsa Israel secara sembarangan. Peperangan-Nya berhubungan dengan perjanjian-Nya yang berisi janji untuk melindungi bangsa Israel ketika mereka taat kepada-Nya (Ulangan 28:7).

      Bagian Alkitab yang dengan jelas menyebut Allah sebagai seorang pahlawan terdapat di Keluaran 15. Setelah Allah menang atas pasukan Mesir di Laut Merah, Musa dan umat Israel meresponi dengan menyanyi:

        * Keluaran 15:2-3
        15:2 TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah bapaku, kuluhurkan Dia.
        15:3 TUHAN itu pahlawan perang; TUHAN, itulah nama-Nya.

      Meskipun Keluaran 15 adalah bagian Alkitab yang pertama secara eksplisit menyebut YHVH sebagai pahlawan, sifat kemiliteran-Nya sudah diwahyukan lebih dahulu ketika Dia mendeklarasikan perang kepada ular yang telah merayu orang yang memiliki gambar-Nya untuk berbuat dosa: "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya" (Kejadian 3: 15).

      Banyak dari peperangan dalam Perjanjian Lama termasuk dalam kategori pertama ini. Selain konflik Laut Merah, beberapa peperangan yang dapat kami pikirkan di antaranya peperangan-peperangan dalam penaklukan Kanaan, konflik-konflik para hakim terhadap opresor-opresor bangsa Israel, peperangan-peperangan Daud melawan orang Filistin, dan nubuat Nahum terhadap kehancuran Niniwe.


      2. PERANG ALLAH TERHADAP BANGSA ISRAEL

      Perjanjian bukan hanya menjanjikan kemenangan karena ketaatan bangsa Israel, tetapi juga ancaman kekalahan karena ketidaktaatan. Umpama, Ulangan 28:25-26 memperingati, "TUHAN akan membiarkan engkau terpukul kalah oleh musuhmu. Bersatu jalan engkau akan keluar menyerang mereka, tetapi bertujuh jalan engkau akan lari dari depan mereka, sehingga engkau menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi" Sayangnya, ancaman-ancaman ini sering menjadi kenyataan, karena bangsa Israel tidak tetap setia kepada Tuhan, pahlawan Ilahi mereka.

      Sebagaimana Yerikho merupakan paradigma kemenangan untuk ketaatan bangsa Israel, demikian juga Ai, perang yang selanjutnya, merupakan paradigma dari konsekuensi ketidaktaatan. Sementara Yerikho merupakan kota yang tertua, bahkan mungkinjuga yang terkaya, dan kota yang mempunyai pertahanan yang paling baik di Negeri Perjanjian, Ai merupakan sebuah kota yang tidak mempunyai reputasi. Namanya saja berarti "kehancuran," jadi Yosua tidak menganggap serius kota ini, dan hanya mengirim sebuah pasukan yang relatifkecil untuk menaklukan kota ini. Tetapi, tanpa setahu Yosua, seorang bernama Akhan telah melanggar prinsip-prinsip perang herem dengan menyimpan beberapa kekayaan Yerikho untuk diri sendiri. Akibatnya, bangsa Israel dikalahkan di Ai sampai akhimya situasi ini menjadi beres.

      Bukannya kebetulan bahwa perang melawan Yerikho dan Al dicatat lebih panja~g dibandingkan dengan perang-perang melawan kota-kota lain. Catatan-catatan ini lebih dari hanya catatan sejarah atau traktat-traktat historikal-theologikal; mereka .Juga teks-teks didaktik yang mengajar generasi-generasi kemudian mengenai akibat-akibat dari ketaatan ("Kalau engkau berpaut kepada Allah, Dia akan memberikan kemenangan kepadamu tidak peduli berapa banyak musuhmu") dan ketidaktaatan ("Allah akan membuatmu tunggang-langgang oleh satu pasukan yang lemah").

      Ilustrasi yang paling menakutkan tentang perang kudus yang menyedihkan ialah penaklukan oleh bangsa Babilon dan pembuangan ke Babilon [15]. Bangsa Israel mengira kehadiran Allah di Yerusalem akan menyelamatkan mereka (Yerikho 7), tetapi Allah sudah meninggalkan kota ini (Yehezkiel 9-11). Bukan hanya Allah membiarkan kota ini dihancurkan oleh bangsa Babilon, tetapi Dia ikut aktif dalam kekalahan kota ini (Yeremia 21: 3-7). Tidak ada lagi buku yang mengekspresikan begitu pedih tentang kehancuran kekalahan ini selain Kitab Ratapan, di mana Allah dilukiskan sebagai musuh bangsa Israel:

        * Ratapan 2:4-5
        2:4 Ia membidikkan panah-Nya seperti seorang seteru dengan mengacungkan tangan kanan-Nya seperti seorang lawan; membunuh segala yang menyenangkan mata dalam kemah puteri Sion, memuntahkan geram-Nya seperti api.
        2:5 Tuhan menjadi seperti seorang seteru; Ia menghancurkan Israel, meremukkan segala purinya, mempuingkan benteng-bentengnya, memperbanyak susah dan kesah pada puteri Yehuda.


      3. ANTISIPASI PAHLAWAN ILAHI PADA ZAMAN PASCA PEMBUANGAN

      Pembuangan ke Babilon dengan mudah dapat menjadi akhir dari bangsa Israel karena umat Allah secara sistematis dan sadar menolak Allah. Mereka berharap kepada kesetiaan-Nya sementara mereka dengan sembarangan tidak menaati Dia. Tetapi sebagaimana dengan Adam dan Hawa setelah kejatuhan ke dalam dosa, Allah tidak meninggalkan sama sekali ciptaan-Nya.

      Sepanjang masa pembuangan sampai masa pasca-pembuangan Allah mengutus nabi-nabi-Nya untuk memberitakan berita pengharapan di tengah opresi. Memang nabi-nabi zaman pra-pembuangan sudah mengantisipasi beberapa macam restorasi: sebuah berita pengharapan (lihat, umpamanya Yeremia 30-31) tertanam di dalam ancaman-ancaman penghukuman mereka. Tetapi nabi-nabi zaman pembuangan dan pasca-pembuangan percaya bahwa umat Allah akan berlangsung terus setelah pembuangan, meskipun mereka tetap berada dalam opresi. Dari sudut pandang kita di Perjanjian Baru, kita mengetahui bahwa setelah bangsa Israel kembali ke negeri mereka atas dekrit Koresy pada tahun 538 SM, mereka hidup di bawah opresi dari Persia, Yunani dan Roma [16].

      Zakharia 14 merupakan sebuah contoh dari sebuah nubuat pengharapan pasca-pembuangan di tengah penderitaan masa kini. Nubuat ini mulai dengan sebuah peringatan untuk mengantisipasi datangnya "hari TUHAN": "Sesungguhnya akan datang hari yang ditetapkan TUHAN, maka jarahan yang dirampas daripadamu akan dibagi-bagi di tengah-tengahmu. Aku akan mengumpulkan segala bangsa untuk memerangi Yerusalem; kota itu akan direbut, rumah-rumah akan dirampoki dan perempuan-perempuan akan ditiduri. Setengah dari penduduk kota itu harus pergi ke dalam pembuangan, tetapi selebihnya dari bangsa itu tidak akan dilenyapkan dari kota itu" (14:1-2). Tetapi ketika situasi kelihatan amat suram, Zakharia berkata lebih lanjut,"Kemudian TUHAN akan maju berperang melawan bangsa-bangsa itu seperti Ia berperang pada hari pertempuran" (14:3). Ayat-ayat selanjutnya melukiskan konsekuensi-konsekuensi perubahan besar dari penampakan diri Allah yang adalah pahlawan perang. Akan timbul gempa bumi-gempa bumi, bala tentara surga akan datang, terang akan menjadi gelap, sungai-sungai akan mengalir dari Yerusalem. Banyak bala dan kehancuran akan terjadi. Akibat yang paling akhir ialah kemenangan Tuhan dan seluruh dunia akan menyembah Dia sebagai raja. Seluruh dunia akan didedikasikan kepada-Nya (14:20-21).

      Ini adalah catatan di mana Perjanjian Lama berakhir. Umat Allah melihat ke depan dan menantikan dengan pengharapan penampakan pahlawan Ilahi yang akan membebaskan mereka dari opresi.


      4. PEPERANGAN YESUS KRISTUS MELAWAN SETAN

      Kata-kata Yohanes Pembaptis yang tajam mengingatkan akan pengharapan Perjanjian Lama tentang pahlawan Ilahi di masa depan:

        Matius 3:10-12
        3:10 Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
        3:11 Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
        3:12 Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."

      Ketika Yesus datang ke Yordan, Yohanes mengenal-Nya sebagai seorang yang diharapkan dan membaptiskan Dia. Pada ketika ini pelayanan Yohanes menjadi berkurang sedangkan pelayanan Yesus menjadi bertambah, Yohanes ditangkap oleh Herodes dan dibuang ke penjara.

      Ketika dia ada di penjara, Yohanes mulai mendengar berita¬berita yang menggelisahkan yang membuat dia bertanya apakah dia membaptis orang yang salah. Maka dia mengirim dua dari murid-muridnya kepada Yesus dengan pertanyaan ini, "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah. kamu menantikan orang lain?" (Matius 11:3). Apa yang terjadi dalam pikiran Yohanes? Dia adalah perintis dari Mesias, pahlawan Ilahi yang akan datang, yang dia harapkan akan mermmpm sebuah perang fisik yang keras melawan musuh-musuh umat Allah. Tetapi Yesus meruntuhkan pengharapan Yohanes dengan menyembuhkan yang sakit, mengusir setan, dan memberitakan kabar baik. Sesungguhnya, Yesus merespom murid-murid Yohanes dengan melakukan lebih banyak khotbah dan melakukan lebih banyak penyembuhan dan eksorsisme.
      Apa yang Yesus katakan melalui perbuatan-perbuatan ini?

      Yang Yesus katakan ialah, "Yohanes engkau benar. Aku adalah Mesias, pahlawan yang sedang datang. Tetapi perang yang Aku sedang perangi adalah lebih dahsyat, lebih berbahaya daripada perang fisik yang engkau harapkan. Aku sudah datang untuk berperang dengan Setan sendiri." Inilah yang dimaksud dengan eksorsisme-eksorsisme. Mereka merupakan bagian dan perang rohani yang Yesus lakukan terhadap kuasa-kuasa dan penguasa-penguasa.

      Di antara perubahan-perubahan yang terjadi melalui kedatangan Yesus bukan hanya objek perang yang utama tetapi senjata-senjata yang digunakan. Di Perjanjian Lama, para serdadu memakai senjata-senjata fisik: pedang-pedang, tombak-tombak, lembing-lembing, busur-busur dan anak-anak panah. Allah bahkan memakai hujan es sebagai. senjata. Tetapi ketika Yesus ditangkap, Dia menyatakan transisi yang radikal dengan berkata kepada Petrus, "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya" (Matius 26:52). Dan ketika Dia disalibkan, Dia mengalahkan perang melawan Setan bukan dengan membunuh, melainkan melalui kematian. Paulus mengerti kisah penyaliban ini sebagai kemenangan militer yang besar: "[Allah] menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib. Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka" (Kolose 2: 14-15).

      Kita dapat melihat di sini kesinambungan dan ketidaksinambungan di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Yesus adalah pahlawan Ilahi, tetapi Dia melakukan peperangan-Nya dengan cara yang lebih hebat dan intensif dalam melawan kuasa-kuasa rohani yang berada di belakang semua kejahatan di dunia. Sementara Daniel 10 di Perjanjian Lama mengindikasikan adanya pergumulan rohani di belakang semua kejahatan, Perjanjian Baru memberikan kita sebuah situasi yang lebih jelas. Tetapi dengan kemenangan Yesus di atas salib, kita masih belum berada pada akhir cerita.


      5. PERANG YANG TERAKHIR

      Ketika kita sampai ke fase kelima dan terakhir dari drama pembentangan Alkitab tentang perang Ilahi, kita melihat bahwa Yohanes Pembaptis tidak salah. Tepatnya, dia merupakan seorang nabi yang khas dalam hal dia menyampaikan Firman Allah lebih baik daripada yang dia tahu. Sudah lama diakui bahwa nabi-nabi sering berbicara tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang sepertinya peristiwa-peristiwa tersebut akan terjadi pada suatu waktu tertentu, tetapi penggenapannya sesungguhnya terjadi lama setelah itu. Ini terbukti pada penampakan Yesus sebagai seorang pahlawan. Kedatangan Yesus bukan hanya merupakan sebuah peristiwa tertentu, Dia sudah datang sekali pada masa lalu, dan Dia akan datang kembali di masa yang akan datang.

      Yesus sendiri memberitahukan murid-murid-Nya untuk mengharapkan Dia datang kembali. Ketika menyampaikan ini, Yesus memakai sebuah metafora yang sangat tepat untuk melukiskan kedatangan-Nya kembali: "Tiap orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya" (Markus13:26). Kitab Wahyu memberikan gambaran ini: "Lihatlah, la datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia.juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin!" (Wahyu 1:7).

      Dalam Perjanjian Lama, YHVH naik awan ke medan perang. Awan yang merupakan kereta perang dari pahlawan Ilahi merupakan sebuah tema dalam Mazmur (18: 10-11; 68:34; 104:3) dan nabi-nabi (Nahum 1:3). Perikop Perjanjian Baru mengenai Yesus lebih berkaitan dengan Daniel 7: 13. Konteksnya ialah prediksi akhir Perjanjian Lama dari Daniel tentang invasi di masa depan dari pahlawan Ilahi untuk membersihkan dunia kejahatan. Kedatangan Kristus kedua kali terlihat di Perjanjian Baru sebagai penggenapan akhir dari pengharapan ini. Yesus akan datang kembali untuk menuntaskan kemenangan yang Dia sudah miliki di kayu salib.

      Banyak perikop dalam Kitab Wahyu mengembangkan tema kedatangan kembali Yesus dalam kemenangan, tetapi kami hanya akan menyebut satu, yaitu dari Wahyu 19: 11-21. Di sini sebuah metafora lain dipakai untuk melukiskan kedatangan kembali Yesus. Pada kesempatan ini Dia dilukiskan menunggang kuda putih sebagai pemimpin dari pasukan sorga. Sebuah pedang keluar dari mulut-Nya dan Dia "memakai jubah yang telah dicelup dalam darah." Kutipan ini berasal dari Yesaya 63:3, di mana Yahweh dilukiskan sebagai pahlawan Ilahi.

      Perikop-perikop apokaliptik dari Perjanjian Baru membawa ke sebuah konklusi dramatik tentang penguraian cerita perang Allah. Cerita ini mulai pada peristiwa Kejatuhan, khususnya dengan kutuk pada ular di Kejadian 3: 15 dan berakhir pada pembuangan Setan ke lubang yang dalam. Pada waktu ini musuh-musuh Allah baik musuh manusia dan musuh rohani akan dihakimi. Kematian dan kubur akan dihancurkan (Wahyu 20: 11-15), dan sebuah "langit dan bumi baru" akan menj adi sebuah kenyataan (Wahyu 21-22).

      Pembacaan Alkitab yang superfisial, sebagaimana kita telah lihat, akan mempertentangkan kekerasan Allah Perjanjian Lama dengan kemurahan hati Yesus Kristus. Tetapi pembacaan Alkitab yang dalam tidak mengabaikan perbedaan ini, melainkan menyatakan bahwa Perjanjian Baru merupakan sebuah penggenapan dalam kesinambungan dengan Perjanjian Lama dan bukan sebuah pengganti dari ajaran-ajaran yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Ketika kita membaca tentang peperangan-peperangan bangsa Israel yang merintis jalan bagi peperangan-peperangan rohani gereja yang mengantisipasi peperangan final pada akhir zaman, kita melihat rencana progresif Allah sedang bekerja.

Catatan :

[15]W.L. Moran,"The End of the Unholy War and the Anti-Exodus," Biblica 44 (1963): 333-42.

[16] 16.Untuk periode masa ini lihat Lester L. Grabbe, Judaism from Cyrus to Hadrian (Minneapolis: Augsburg Fortress, 1992), vol.I.


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: ALLAH di PL dan di PB
PostPosted: Sun Jun 14, 2009 11:18 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 5959
5. Matafora Imanuel : Kehadiran Allah Bersama Umat-Nya


Tema ini mengilustrasikan kesinambungan dan ketidaksinambungan di antara presentasi Allah di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ialah metafora Imanuel. Kata Ibrani "Imanuel," yang secara harfiah berarti "Allah beserta kita," mempunyai denotasi kehadiran Allah bersama umat-Nya. Tema ini merupakan sebuah area di mana beberapa pembaca Alkitab berpikir bahwa mereka melihat sebuah kontras di antara kedua Perjanjian. Di Perjanjian Lama mereka berkata, Allah sepertinya jauh, sedangkan di Perjanjian Baru, Allah mau menghampiri dengan umat-Nya. Kita akan melihat bahwa ada beberapa kebenaran dari impresi ini, tetapi kontras ini bukan berarti sebuah kontradiksi. Ketika kita menelusuri perkembangan rencana penebusan Allah dari Kejadian sampai Wahyu, kita akan melihat, sebagaimana dengan tema pahlawan Ilahi, bahwa ada beberapa fase yang berbeda (lihat diagram 3 ).


    a. Taman Firdaus


      1. SEBELUM KEJATUHAN MANUSIA

      Setelah Adam diciptakan, ia ditempatkan di Taman Firdaus (Kejadian 2:8), di mana Hawa kemudian diciptakan. Jadi Taman Firdaus merupakan rumah pertama bagi umat manusia. Taman ini dilukiskan sebagai sebuah taman yang amat indah dan limpah isinya. Bagian naratif dalam bahasa Ibrani biasanya tidak bertele-tele dalam memberikan deskripsi fisik [17], tetapi dalam bagian ini penulis Kejadian dengan fasih menguraikan kekayaan tempat tinggal manusia pertama. Sungai-sungai, metal-metal berharga, hewan-hewan, "pohon-pohon yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya" - semua ada dalam Taman Firdaus. Sungguh sebuah tempat yang indah untuk didiami.

      Tetapi yang paling utama, taman ini merupakan sebuah tempat yang amat harmonis. Allah pertama menciptakan Adam, dan ia merasa kesepian kemudian Allah menciptakan Hawa. Persekutuan mereka dilukiskan dengan hubungan yang erat: "keduanya menjadi satu daging" (Kejadian 2:24). Lebih lanjut, persekutuan mereka didukung dengan hubungan dengan Pencipta. Allah berjalan dalam Taman bersama ciptaan-Nya (Kejadian 3:8). Ia berbicara dengan mereka. Adam dan Hawa dapat bertemu secara bebas dengan Allah di mana saja dalam Taman itu. Kejadian 2 memberikan kita sebuah gambar hubungan yang bahagia.

      Image

Catatan :

[17] Tremper Longman III, Literary Approaches to Biblical Interpretation (Grand Rapids: Zondervan, 1987),88-91.



      2. SETELAH KEJATUHAN KE DALAM DOSA

      Di antara banyak pohon yang Allah ciptakan untuk Adam dan Hawa, ada dua pohon yang dicatat secara khusus, yaitu pohon kehidupan dan pohon pengetahuan baik dan jahat. Tidak banyak yang dicatat tentang pohon kehidupan, jadi kita dapat mengira bahwa Adam dan Hawa makan buah pohon ini ketika mereka ada di Taman Firdaus [18]. Tetapi Allah secara khusus memberitahukan mereka agar jangan makan pohon yang kedua. Tidak ada alasan untuk larangan ini sehingga hal ini mungkin merupakan bagian dari ujian yang Allah berikan. Apakah pasangan yang berbahagia ini akan menaati larangan yang diberikan kepada mereka oleh Pencipta mereka?

      Satu sosok baru masuk dalam cerita, yaitu ular yang diidentifikasikan kemudian dalam Alkitab sebagai Setan (Wahyu 12:9; 20:2). Ciptaan ini membujuk Hawa yang kemudian membujuk Adam untuk memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat sehingga pada prinsipnya mereka berontak terhadap Pencipta merela. Episode ini yang biasa disebut kejatuhan ke dalam dosa, mempunyai banyak implikasi, tetapi kita akan memfokuskan pada pokok hubungan dan kehadiran Allah. Ringkasnya, kejatuhan ke dalam dosa berakibat dengan rusaknya hubungan antara Adam dengan Hawa, yang pasti dan lebih fundamental antara hubungan Allah dengan pasangan manusia. Akhirnya Allah mengusir mereka dari Taman Firdaus, sehingga mereka terpisah dari pohon kehidupan. Untuk pertama kali, kematian masuk ke dalam dunia. Allah menempatkan malaikat sebagai ciptaan yang berkuasa di pintu Taman Firdaus sehingga Adam dan Hawa tidak dapat kembali ke Taman Firdaus. Setelah diusir dari Taman Firdaus, Adam dan Hawa tidak lagi mempunyai jalan masuk yang bebas, intim dan mudah ke Pencipta. Allah tidak lagi bersama dengan mereka.

      Sebuah pertanyaan yang ruwet timbul di sini. Alkitab dengan jelas mengajar bahwa Allah ada di mana-mana. Pada dasarnya, Ia tidak absen dari ciptaan-Nya. Para theo log menyebut kebenaran ini sebagai doktrin ke Mahaadaan Allah. Ini terlihat pada stansa kedua dari Mazmur 139:

        * Mazmur 139:7-12
        139:7 Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
        139:8 Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau.
        139:9 Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,
        139:10 juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.
        139:11 Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,"
        139:12 maka kegelapan pun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.

      Berdasar pandangan ajaran Alkitab ini, bagaimana kita dapat berkata tentang absennya Allah?

      Secara sederhana, dari satu sudut pandang, Allah hadir di mana saja, tidak ada satu halpun yang berada di luar pengetahuan-Nya. Dari sudut lain, Ia hadir di beberapa tempat dan absen dari tempat-tempat lain. Para theolog menyebut kebenaran ini dengan kehadiran khusus Allah. Ini berarti, Ia membuat kehadiran-Nya yang berkuasa terasa di lokasi-lokasi tertentu dan tidak di lokasi-lokasi lain. Dalarn pembicaraan pemisahan fundamental di antara Allah dengan manusia setelah kejatuhan ke dalam dosa, maka cocok untuk berbicara tentang kehadiran khusus Allah dan ketidakhadiran-Nya.


Catatan :

[18] Butir ini diperdebatkan oleh Gordon J. Wenham, Genesis 1-15 (Waco: Word, 1987),62-64.



    b. Periode (Pra-) Bapa Beriman

    Di Taman Firdaus tidak ada tempat khusus untuk pertemuan antara Ilahi dengan manusia. Tidak ada ruang kudus atau tempat kudus, karena seluruh Taman adalah kudus. Setelah kejatuhan ke dalam dosa, sebuah ruang kudus dibutuhkan kalau manusia sebagai ciptaan mau bertemu dengan Pencipta mereka. Allah tidak mau bertemu mereka di sembarang tempat dalam dunia ini, sebuah tempat khusus harus disediakan. Pengaturan ini secara simbolis menandakan adanya jurang pemisah di antara hubungan Allah dengan manusia. Dosa memisahkan mereka dan fakta ini harus diakui.

    Dalam konteks air bah kita mendapatkan catatan pertama tentang sebuah mezbah [19]. Setelah air bah surut, Nuh dan keluarganya meninggalkan bahtera. Kemudian "Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu" (Kejadian 8:20). Meskipun kita tidak mempunyai catatan rinci, tetapi dari catatan lain (umpamanya Keluaran 20:24-26) kita dapat menerima dengan cukup aman bahwa mezbah itu adalah mezbah sederhana yang terbuat dari tanah atau batu-batu. Mezbah-mezbah yang lebih awal merupakan struktur yang sementara, dibuat di udara terbuka.

    Ketika kita memasuki periode patriakal, kita membaca lebih lanjut tentang pembangunan mezbah-mezbah dan kurban, khususnya dalam naratif Abraham [20]. Naratif tersebut memberitahukan kita bahwa Abraham membangun mezbah-mezbah di mana saja ia berhenti untuk waktu tertentu. Catatan perhentiannya yang pertama di tanah Kanaan ialah di Sikhem, di mana tercatat Tuhan menampakkan diri kepadanya dengan firman yang mengafirmasikan kembali janji-janji tentang tanah dan keturunan, kemudian Abraham mernberikan respons dengan mendirikan "mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya" (Kejadian 12:7). Pada peristiwa ini Abraham membuat mezbah sebagai respons kepada theofani atau penampakan diri Allah. Penampakan diri ini membuat tempat tersebut menjadi kudus, jadi kurban harus dipersembahkan.

    Tetapi naratifini tidak memberitahukan bahwa pada setiap pembuatan mezbah selalu ada theofani. Memang pada ayat selanjutnya (12:8), kita membaca bahwa Abraham pindah perkemahan antara Betel dan Ai dan membuat sebuah mezbah di sana supaya ia dapat menyembah Allah. Jadi pembangunan mezbah dapat terjadi atas inisiatif Allah atau Abraham. Motivasi pembangunan mezbah pada tiap peristiwa ialah untuk menyediakan tempat persekutuan antara Allah dengan manusia yang berdosa.

    Amat menarik untuk diperhatikan yaitu ketika Abraham mendirikan mezbah di Sikhem dan kemudian di Hebron (Kejadian 13: 18), dia mendirikan mezbah-mezbah itu berdekatan dengan pohon-pohon penting. Ia mendirikan mezbah di Sikhem dekat dengan "pohon tarbantin di Moreh" (Kejadian 12:6) dan mezbah di Hebron didirikan dekat "pohon-pohon tarbantin di Mamre" (Kejadian 13: 18). Hubungan antara tempat kudus dengan pohon-pohon bukanlah kebetulan, karena tempat kudus yang pertama adalah sebuah taman yang penuh dengan pohon-pohon. Di sini kita mendapat petunjuk pertama bahwa tempat-tempat kudus ini mengingatkan kita kepada Taman Fidaus [21].

    Mezbah yang dibangun di Kejadian 22 amat berhubungan dengan perkembangan-perkembangan yang kemudian. Dalam bagian Alkitab ini yang dikenal dalam tradisi Yahudi dengan Akedah yaitu "pengikatan" Ishak, Abraham di suruh pergi ke gunung Maria untuk mengurbankan putranya. Ia pergi ke sana dan mendirikan mezbah (Kejadian 22:9). Pada saat Abraham menyatakan penyerahan yang teguh, Tuhan menyediakan sebuah pengganti bagi putranya. Bagi maksud kita, tempat mendirikan mezbah ini amat penting, tetapi kepentingannya seringkali terlupakan. Allah menyuruh Abraham pergi ke gunung Moria (22:2). Kita membaca nama ini hanya satu kali lagi di Alkitab, 2 Tawarikh 3:1 : "Salomo mulai mendirikan rumah TUHAN di Yerusalem di gunung Maria." Jadi Moria rupanya adalah nama lain untuk Sion [22]
    .
    Memang naratif Alkitab mencatat Abraham khususnya berkaitan dengan pembuatan mezbah-mezbah, tetapi perlu juga diperhatikan bahwa baik putranya Ishak (Bersyeba [Kejadian 26:25]) dan cucunya Yakub (Sikhem [Kejadian 33:20]); Betel [Kejadian 35:1, 3, 7]) dihubungkan juga dengan pembangunan mezbah. Meskipun naratif tersebut tidak bermaksud memberitahukan kita tentang semua perbuatan para bapa beriman, termasuk pembuatan mezbah-mezbah mereka, tetapi kita dapat mendeteksi adanya sebuah motif yang melampaui apa yang tertulis yaitu penyediaan sebuah tempat bagi para bapa beriman dan keluarga mereka untuk bersekutu dengan Allah di negeri yang baru. Ingatlah bahwa pada masa ini, dalam sejarah umat Allah, mereka mempunyai janji tentang tanah, tetapi mereka belum memilikinya. Dengan membuat mezbah-mezbah di seantero negeri, mereka mengklaim tanah itu demi nama Allah. Pada akhir masa bapa beriman, mezbah-mezbah yang menjadi simbol untuk persekutuan Allah dengan umat-Nya ada di mana-mana di negeri kanaan, mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang akan datang.

Catatan :

[19] Kejadian 4:4-5 meskipun tidak eksplisit, tetapi secara implisit mungkin sekali mencatat tentang mezbah.

[20] Dalam naratif Abraham yang lebih awal, ia disebut dengan nama Abram. Demi konsistensi, dalam bagian berikut dan seterusnya kami akan menyebut dia dengan nama Abraham.

[21] Kita tidak memaksakan bahwa setiap mezbah dibangun dekat sebuah pohon, teks Alkitab tidak mengizinkan kita untuk menafsir demikian jauh. Tetapi di pihak lain, hubungan di antara pendirian mezbah dengan pohon begitu sering sehingga kedua peristiwa ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan.

[22] Moria mungkin sebuah nama yang lebih dahulu atau mungkin juga nama sebuah pegunungan di mana Sion adalah sebuah puncak yang penting.




    c. Kemah Pertemuan

    Beberapa abad lewat di antara akhir Kitab Kejadian dengan permulaan Kitab Keluaran. Keluarga Allah ketika pertama kali diam di Mesir berjumlah hanya tujuh puluh orang (Kejadian 46:27). Ketika mereka ke luar dari Mesir, keluarga Allah ini sudah menjadi umat yang besar. Perjanjian di Sinai menjadi transisi yang jelas untuk umat Allah yang tadinya sebuah keluarga, sekarang menjadi sebuah bangsa (Keluaran 19-24). Sebuah mezbah terbuka seperti yang pernah digunakan oleh para bapa beriman tidak cukup untuk demikian banyak orang. Jika umat Allah ingin mempunyai ibadah komunal, maka harus ada beberapa perubahan. Tentunya perubahan tersebut bukan ditentukan oleh bangsa Israel, tetapi Allah sendiri mewahyukan isi hati-Nya kepada Musa di gunung Sinai. Dia memerintah Musa untuk membangun sebuah Kemah Pertemuan di mana Dia akan menyatakan kehadiran-Nya secara khusus (Keluaran 25:9; 26:30).

    Pada waktu ini bangsa Israel bukan sebuah bangsa yang tinggal tetap. Mereka adalah bangsa yang berpindah-pindah. Sejak bangsa Israel meninggalkan Sinai sampai mereka tinggal tetap di negeri Kanaan, Kemah Pertemuan menjadi tempat yang sentral untuk ibadah mereka dan selama ini Allah akan berdiam di tempat kudus yang berpindah-pindah. Sebagaimana umat-Nya, Allah akan tinggal dalam bentuk semacam tenda.

    Pada saat ini kita melihat jumlah umat merupakan sebuah faktor bagi Allah untuk menentukan bentuk untuk tempat menyembah Dia. Selama masa bapa beriman hanya ada sedikit orang, dan kepala keluarga dengan mudah melayani sebagai seorang imam yang adalah mediator. Ketika umat Allah menjadi banyak, Allah membuat tempat ibadah bersama yang lebih besar. Dia juga memilih waktu ini untuk mendirikan jabatan keimaman. Kepala keluarga tidak lagi mengurus tanggungjawab yang ada. Seluruh suku Lewi diasingkan untuk tugas ini.

    Pusat utama dari Kemah Suci ialah Ruang Mahakudus, di mana terletak tabut, simbol yang paling kuat dari kehadiran Allah. Ruang Mahakudus dipisahkan dari Ruang Kudus oleh sebuah tirai (Keluaran 26:33). Di Ruang Mahakudus Allah bertakhta.

    Bagian dalam dari Kemah Suci di penuhi oleh awan yang menyatakan kemuliaan-Nya (Keluaran 40:34-38; Bilangan 9: 15-23). Allah jelas hadir di Kemah Suci.

    Deskripsi Kemah Suci dan perabot-perabotnya sangat rinci dicatat di Kitab Keluaran. Bahkan kebanyakan dari bagian kedua dari kitab ini difokuskan kepada petunjuk-petunjuk untuk mendirikan Kemah Suci (pasal 25-31) dan pembangunannya (pasal 35-40). Interupsi yang strategis tentang peristiwa lembu emas di pasal 32-34, merupakan catatan tentang penghukuman atas sebuah pemberontakan terhadap ibadah yang benar [23]. Meskipun di sini kami tidak akan memberikan penjelasan rinci tentang signifikansi theologis dari Kemah Suci dan perlengkapan-perlengkapannya, tetapi kami akan memberikan sebuah garis besar umum sebagai sebuah keseimbangan terhadap kebiasaan membaca teks secara alegoris yang sembarangan [24].

    Kemah Suci merupakan sebuah tenda yang dibangun dari beberapa macam logam, kayu dan kain. Karena fokus utama adalah Ruang Mahakudus, maka tidak heran jika seseorang masuk ke ruangan yang di pusat, dia akan melihat bahan-bahan yang lebih mahal digunakan, ini untuk merefleksikan penambahan intensitas kesucian. Jadi tembaga dipakai untuk jadi alas bagi tiang-tiang yang menahan kain lenan yang memisahkan pelataran dengan perkemahan. Perpindahan dari keliling Kemah Suci ke bagian pusat terdapat kemajuan yang jelas dari tembaga ke perak ke emas, sampai akhimya dalam Ruang Mahakudus terdapat "emas mumi."

    Kemajuan yang sama terlihat dalam bahan-bahan kain. Kain yang dipakai untuk memisahkan pelataran dengan perkemahan adalah sederhana, meskipun itu adalah lenan putih yang mahal. Hanya ada satu kekecualian. Pada pintu masuk terdapat lenan biru, ungu dan lenan kirmizi yang dimaksud untuk menarik perhatian kepada pintu masuk kompleks yang ada.

    Kemah Suci itu sendiri mempunyai lapisan yang paling dalam dan tiga lapis bahan yang berbeda. Bahan pasti untuk lapis yang paling atas masih diperdebatkan; istilah bahasa Ibrani tahas (Keluaran 26:14; 36:19) tidak jelas. LAI Terjemahan Lama memakai istilah kulit mina-gadjah; LAI Terjemahan Baru memakai terjemahan kulit lumba-lumba. Semua terjemahan ini mengacu kepada bahan yang bermanfaat. Yang jelas ini adalah lapisan yang paling luar dan harus dapat bertahan terhadap elemen-elemen tertentu. Lapis kedua dari luar terbuat dari "kulit domba jantan yang diwarnai merah." Ini juga berfungsi sebagai pelindung, sebagaimana lapis yang berikut, yang terbuat dari "bulu kambing" (Keluaran 26:7-13).

    Perhatian khusus diberikan kepada lapis yang paling dalam. Lapis ini adalah yang paling dekat dengan hadirat Ilahi dan juga merupakan lapis yang terlihat, meskipun buram (karena hanya ada sinar dari kandil) dan jarang dilihat (karena faktanya hanya beberapa orang yang masuk ke Kemah Suci). Secara simbolis, lapis yang terdalam merupakan tempat yang paling utama dari Kemah Suci, yaitu: "surga di bumi." Sebab itu bahan tenunannya adalah yang paling rinci dari semuanya: "sepuluh tenda dari lenan halus yang dipintal benangnya dari kain biru, ungu dan kain kirmizi; dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun" (Keluaran 26: 1). Biaya dari bahan-bahan kain ini terlihat dari warna-warnanya yang amat sukar di produksi pada masa kuno jadi bahan-bahan tersebut biasanya disimpan untuk jubah-jubah raja. Perhatikan juga bahwa lapis yang paling dalam adalah sebuah campuran lenan dengan wol. Hal ini khususnya amat menarik jika ditinjau dari Imamat 19: 19 yang melarang memakai pakaian yang dibuat dari dua macam jenis bahan. Jelas bahwa campuran ini hanya untuk tujuan-tujuan yang kudus.

    Bayangkan Anda berdiri di Kemah Suci dan melihat ke atas ke arah atap. Permukaannya kebiru-biruan - seperti surga - yang didiami oleh makhluk-makhluk surgawi, kerubim yang berkuasa. Hanya dengan satu kata, seseorang berdiri di surga, atau sedikitnya sebuah simbol surga di bumi. Kemah Suci, tempat yang Allah pilih secara khusus untuk kehadiran-Nya merupakan tempat di mana surga berhubungan dengan bumi.

    Karena naturnya yang unik, Kemah Suci di kelilingi dengan segala macam perlindungan tata ibadah. Umpama, hanya orang-orang dari golongan tertentu dapat masuk ke Ruang Mahakudus, dan setelah mereka mempersembahkan korban-korban yang diwajibkan sebagai penebusan bagi dosa-dosa mereka. Ketika umat Allah berkemah selama mengembara di belantara, Kemah Suci diletakkan di pusat dari seluruh suku. Suku Lewi, suku yang diasingkan untuk melayani imam, mengelilingi Kemah Suci, mereka menjadi sebuah bufer terhadap siapa saja yang dengan sengaja atau tidak sengaja mau menajiskan tempat kudus. Tetapi suku Lewi hanya dapat masuk dalam area Kemah Suci. Para keturunan imam Harun dapat masuk lebih jauh, tetapi mereka tidak dapat masuk ke dalam Ruang Mahakudus. Hak istimewa ini hanya untuk imam besar, dan ia dapat masuk ke Ruang Mahakudus hanya pada Hari Penebusan (Imamat 16).

    Sebuah deskripsi lengkap tentang Kemah Suci mencakup satu bagian tentang bermacam-macam benda yang diletakkan di dalamnya. Kami sudah menyebut tabut perjanjian, dan dengan singkat kami akan menyinggung tentang satu alat lagi yaitu kandil. Alat ini terbuat dari emas, jadi cocok sebagai alat yang berada di pusat dari tempat kudus. Yang paling menarik dari bentuk kandil ini ialah bentuknya yang seperti pohon: "Kandil itu dibuat, baik kakinya baik batangnya; kelopaknya - dengan tombolnya dan kembangnya - haruslah seiras dengan kandil itu. Enam cabang harus timbul dari sisinya: tiga cabang kandil itu dari sisi yang satu dan tiga cabang dari sisi yang lain. Tiga kelopak yang berupa bunga badam pada cabang yang satu - dengan tombol dan kembangnya - dan tiga kelopak yang serupa pada cabang yang lain - dengan tombol dan kembangnya" (Keluaran 25 :31-33). Dari deskripsi ini kita mengerti bahwa kandil (menorah) bentuknya seperti sebuah pohon buah badam [25]. Setelah kita memperhatikan hubungan mezbah-mezbah bapa beriman dengan pohon-pohon, maka kita tidak perlu ragu-ragu untuk berkata bahwa motif pohon membangkitkan ingatan kita akan taman Eden.

    Kemah Suci tetap dipakai selama bertahun-tahun setelah umat Allah masuk ke negeri Perjanjian. Sayangnya kami tidak dapat memberikan sejarah rinci tentang lokasi-lokasi di mana Kemah Suci berada dan penggunaannya. Catatan yang paling jelas berasal dari periode awal dari kehidupan Samuel, ketika Eli menjadi hakim, di mana tabut dan Kemah SUCI berada di Sila (l Samuel 1-4).


Catatan :

[23] Bagian Alkitab yang menginterupsi ini juga menjelaskan mengapa suku Lewi diberikan status sebagai imam.

[24] 24.Untuk sebuah contoh dari penafsiran alegoris dari naratif Kemah Suci lihat Paul F. Kiene, The Tabernacle of God in the Wilderness of Sinai (Grand Rapids: Zondervan, 1977).

[25] Carol L. Meyers, The Tabernacle Menorah (Missoula, Mont.: Scholars, 1976).




    d. Bait Allah

    Transisi utama berikut dalam sejarah di mana Allah menyatakan kehadiran-Nya di antara umat-Nya ialah dengan Daud dan Salomo. Pada waktu ini Bait Allah dibangun. Untuk mengerti transisi yang terjadi, kita harus bertanya apakah perbedaan antara Kemah Suci dengan Bait Allah, dan mengapa struktur Bait Allah menjadi penting dalam sejarah penebusan.

    Pada dasarnya, Bait Allah amat sama dengan Kemah Suci. Struktur bangunan ini, makin ke dalam, makin bertambah kudus, dan mencapai puncaknya pada Ruang Mahakudus yang berada di bagian belakang, di mana Allah menyatakan kehadiran-Nya secara khusus. Perbedaan antara Bait Allah dengan Kemah Suci sama seperti perbedaan antara sebuah rumah dengan sebuah tenda. Sebuah tenda ialah sebuah tempat tinggal yang dapat dibongkar dan dipindahkan. Sebuah rumah ialah sebuah bangunan yang permanen. Jadi Bait Allah melambangkan keabadian, kemantapan, keteguhan, sebuah ciri umum yang dikonfirmasikan oleh keistimewaan arsitektur yang inovatif.

    Yang perlu diperhatikan ialah konstruksi dari dua tiang besar ("tinggi 18 hasta dan 12 hasta kelilingnya," 1 Raja 7:15). Kedua tiang ini menyatakan kekuatan dan keabadian, kemuliaan dan keagungan, sebuah fakta yang terlihat dari nama-nama mereka ("ia [Hiram] menamakan tiang di sebelah kanan Yakhin, dan tiang yang di sebelah kiri Boas," 1 Raja 7:21). Yakhin dapat diterjemahkan dengan "ia menegakkan," dan Boas berarti "di dalam dia ada kekuatan."

    Di luar halaman Bait Suci terdapat sebuah bejana air yang disebut Laut. Alat ini merupakan tempat di mana para imam membasuh secara ritual yang berhubungan dengan tanggung Jawab mereka. Nama khusus untuk bejana ini sangat menarik perhatian kita. Di seluruh Timur Dekat laut merupakan sebuah lambang dari kekuatan kekacau-balauan, kosmik dan bersifat sejarah [26]. Dalam Perjanjian Lama, YHVH Allah Pencipta menyatakan kuasa-Nya dengan menaklukkan laut. Kita membaca ini di bagian puisi Alkitab (Ayub 12: 15; Mazmur 18: 15) dan nabi-nabi (Yesaya 19:.5; 27:1; Yeremia 5:22; Daniel 7; Nahum 1:4). Air yang banyak di bejana yang disebut laut mengingatkan umat bahwa Allah sudah menaklukkan kuasa kekacauan dan menegakkan sebuah rasa keabadian.

    Sebagaimana sebuah struktur arsitektur melambangkan keteguhan dan kekekalan, maka bukanlah sebuah kebetulan kalau Bait Allah menjadi sebuah realita segera setelah penaklukan tanah Kanaan terlaksana. Cerita ini sebenarnya dimulai sejak Ulangan 12, di mana Musa menyampaikan pengajaran Allah kepada bangsa Israel di belantara agar mereka be.nbadah di satu (hanya satu) tempat yang permanen. Peraturan ini berlaku untuk masa depan, ketika mereka akhirnya akan diam di tanah perjanjian. Sesungguhnya hal ini hanya akan terjadi kalau "kamu memusnahkan bangsa-bangsa yang diam di sana" (Ulangan 12:2). Sebab itu proposal pertama untuk membangun sebuah Bait Allah berada dalam sebuah pasal yang mulai, dengan TUHAN telah memberikan damai kepada tanah (2 Samuel 7:1). Allah melalui Daud telah mengusir bangsa Filistin dan membawa bangsa Israel kepada tingkat keamanan yang baru.

    Ketika waktunya tepat untuk membangun Bait Allah Daud berdialog dengan nabi Natan. Diskusi ini berkisar tentang kata Ibrani בית - BAYIT (diterjemahkan di seluruh pasal dengan "rumah," "bait Allah," "istana," dan "dinasti") [27]. Daud mulai dengan keluhan tentang perbedaan mengenai kehidupannya dalam sebuah istana (BAYIT) yang indah, sedangkan tabut berada dalam sebuah kemah (dan mungkin pada saat itu kemahnya sudah tua). Pada permulaan Natan memberikan respons dengan meneguhkan maksud Daud, tetapi pada malam itu Tuhan menyatakan diri kepadanya dengan berita bahwa Daud bukanlah orangnya yang akan membangun "bait Allah" (BAYIT).

    Alasan Allah tidak mengizinkan Daud membangun Bait Allah beralasan sekali. Pertama, Allah bertanya, "Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami?" Dengan kata lain, Allahlah yang berinisiatif membangun tempat tinggal-Nya, tidak ada seorang pun yang mempunyai hak ini. Kalau kita menengok ke belakang sejenak yaitu kepada naratif kemah kudus, kita ingat bahwa Allah yang berinisiatif untuk pembangunan ini lalu memberikan kepada Musa rencana arsitekturnya (lihat umpamanya Keluaran 26:30). Kedua, ketika Daud mengingat pemberian instruksi sebelum kematiannya, Tuhan telah berkata kepadanya sebelumnya, "Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah" (1 Tawarikh 28:3). Banyak pembaca Alkitab salah mengerti hal ini dengan berpikir bahwa Allah tidak mengizinkan seseorang yang telah terlibat dalam pembunuhan untuk melakukan sebuah pekerjaan kudus seperti mendirikan Bait Allah. Tetapi hal ini tidak memperhitungkan bahwa Allah sendiri yang menyuruh dan memimpin Daud melakukan perang kudus. Bukan, Firman Allah memiliki sebuah kepentingan penebusan yang bersifat sejarah dan bukan hanya merupakan kepentingan etis. Daud berperan untuk menuntaskan penaklukan negeri Kanaan, dan karena Bait Allah melambangkan damai dari musuh-musuh, maka tanggung jawab ini sebaiknya diserahkan kepada penerusnya yang bernama Salomo yang berarti "damai."

    Di bagian ini kami tidak bertujuan untuk mengembangkan lebih lanjut theologi 2 Samue17 yang dikenal sebagai perjanjian Daud, tetapi kami lalai kalau tidak memberikan garis besar secara umum tentang respons Allah kepada Daud. Daud, karena tinggal di bayit ("istana") yang indah, sudah menawarkan untuk membangun sebuah BAYIT ("bait") bagi Allah. Allah menolak tawaran ini, tetapi kemudian Allah menganugerahkan sebuah bayi t ("dinasti," 2 Samuel 7: 11) kepada Daud.

    Sesuai dengan kehendak Allah, Daud tidak membangun bait Allah, tetapi Kitab 1 Tawarikh mencatat bahwa dia berusaha keras mempersiapkan pembangunan bait Allah ini. Bait Allah dibangun dan didedikasikan oleh Salomo dengan kata-kata yang jelas yaitu meskipun Allah sudah menyatakan kehadiran-Nya di Bait Allah, tetapi Dia tidak diam di sana: "Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini!" (1 Raja 8:27) [28].

    Berabad-abad kemudian umat Israel melakukan kesalahan fatal dengan memperlakukan bait Allah sebagai tempat tinggal permanen Allah. Mereka tidak bersandar kepada Allah, melainkan mereka menganggap bait Allah sebagai sebuah berhala yang menjamin mereka mengenai kehadiran dan perlindungan Allah. Ini merupakan pusat khotbah Yeremia di bait Allah (pasal 7) yang menuduh umat tidak memberikan respons kepada panggilan Allah untuk bertobat. Malah mereka berharap kepada perlindungannya karena dia tinggal di Yerusalem. Selama Bait Allah ada di Yerusalem, Allah tidak akan mengizinkan kota mereka mengalami bahaya, bukankah demikian?

    Yehezkiel 9 sampai 11 menceri takan respons Allah terhadap pertanyaan ini. Pasal-pasal ini memperlihatkan Allah bangkit dari takhta-Nya di Ruang Mahakudus, pindah ke pintu masuk (9:3), mengendarai kereta-Nya yang dikemudikan oleh kerubim, dan menuju ke timur ke arah Babilon (11:23). Selanjutnya Dia terlihat sebagai pemimpin bala tentara Babilon yang menghancurkan Yerusalem dan meruntuhkan Bait Allah.

    Memang benar setelah pengudusan sejumlah kecil yang tersisa akhimya akan kembali ke tanah air mereka. Kelompok ini kemudian membangun Bait Allah kedua, di mana Allah sekali lagi menyatakan kehadiran-Nya di antara umat-Nya. Tetapi bila dibandingkan dengan Bait Allah yang pertama, Bait Allah ini "seperti tidak ada artinya" (Hagai 2:4). Sebuah kemuliaan yang lebih besar masih akan datang.

Catatan :

[26] Longman and Reid, God Is a Warrior,64.

[27] Lihat Tomoo Ishida, The Royal Dynasties in Ancient Israel (New York: W. de Gruyter, 1977).

[28] Karena kitab-kitab Tawarikh ditulis ketika Bait Allah kedua sedang dibangun, yaitu pada periode pasca-pembuangan, maka kedua kitab ini amat memperhatikan konstruksi Bait Allah pertama: Lihat Roddy L Brann, 1 Chronicles (Waco: Word, 1986), xxix-xxxii,




    e. Kristus sebagai Bait Allah

    Secara sepintas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sepertinya berbeda mengenai kehadiran Allah. Dalam Perjanjian Lama Allah sepertinya jauh, Dia dihampiri hanya dengan ketakutan, gemetar dan korban. Dia hadir hanya di tempat-tempat tertentu dan tempat-tempat ini, baik mezbah, tabut atau Bait Allah dikelilingi dengan larangan-larangan dan tabu-tabu. Tetapi dalam Perjanjian Baru, Allah sepertinya dekat dengan kita. Kita mempunyai sebuah hubungan yang erat dengan Dia. Kita boleh memanggil Dia "Abba," bahasa Aramaik untuk "bapa" (Roma 8: 15). Perbandingan ini sepertinya sangat kontras, dan kenyataan ini memang benar sebagaimana dicatat di Kitab Ibrani 12. Bagaimanapun juga, pada masa ini kita tidak datang kepada sebuah gunung harfiah seperti Sinai, sebuah tempat yang menakutkan sehingga kita tidak ingin menghampiri (ayat 18-21), sebaliknya kita telah datang ke "bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah" (ayat 22). Tetapi kalau kita membaca Perjanjian Baru dengan baik temyata hal ini bukan sebuah kontras yang benar. Karena Perjanjian Lama sebenamya adalah fondasi bagi persekutuan kita yang erat dengan Allah dalam Perjanjian Baru. Ringkasnya, Yesus Kristus adalah kemah Suci yang baru, Bait Allah yang baru.

    Ingatlah bahwa pokok kita adalah kehadiran Allah di antara kita. Perjanjian Baru dengan jelas mengajar bahwa Yesus adalah Allah. Prolog dari Injil Yohanes memberitahukan kita bahwa Firman menjadi manusia dan "diam di antara kita" (1:14). Kebanyakan terjemahan bahasa Indonesia tidak menangkap tekanan yang ada dalam bahasa Yunani. Kata "diam" terjemahan dari kata σκενοω – skenoō yang merupakan bentuk kata kerja dari "kemah" (σκηνη – skēnē). Yesus datang dan "berkemah di antara kita." Yohanes sedang menyatakan kedatangan seseorang yang akan menggantikan tempat-tempat ibadah yang berbentuk bangunan.

    Di Yohanes 4, sebuah bagian Alkitab lain yang berhubungan dengan pokok kita, Yesus berbicara dengan seorang wanita Samaria. Bangsa Samaria dan bangsa Yahudi mempunyai perdebatan tentang tempat yang benar untuk menyembah Tuhan. Bangsa Yahudi merasa bahwa Al1ah sudah memilih bukit Sion, tetapi bangsa Samaria menyembah Allah di gunung Gerizim dekat kota Sikhem. Yesus mengemukakan masalah theologis ini dengan mengajar bahwa seseorang sudah datang dan dia akan membuat pertanyaan ini sudah tidak berlaku lagi: "Waktunya (Yohanes 4:23-24). Sepertinya di konteks ini Yesus mengakui pengalaman masa lalu bangsa Yahudi yang beribadah di Sion, tetapi komentar-Nya menyatakan bahwa bait Allah sudah tidak dibutuhkan lagi.

    Bukti bahwa Bait Allah sudah tidak dibutuhkan lagi terlihat jelas di Markus 13 di mana Yesus mengajar tentang hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ketika berjalan bersama Yesus di halaman Bait Allah (yang dipugar oleh Herodes Agung), murid-murid kagum dengan apa yang dilihat dan berkata, "Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu!" Yesus mengagetkan mereka dengan menjawab, "Tidak satu batupun dari gedung-gedung yang hebat ini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan" (Markus 13:2). Pemyataan ini menjadi sebuah kesempatan bagi percakapan-Nya tentang masa yang akan datang, yang biasa disebut dengan apokalips kecil. Kemudian waktu Dia diadili di depan imam besar, Dia dituduh berkata bahwa Dia akan menghancurkan Bait Allah dan akan membangunnya kembali dalam tiga hari (Markus 14:55-59). Pemyataan ini sudah terdistorsi, tetapi amat provokatif. Yang jelas, penulis-penulis Injil sungguh mengerti bahwa Yesus menempatkan diri-Nya sebagai pengganti Bait Allah. Ketika Bait Allah merupakan tempat di mana Allah menyatakan kehadiran-Nya, Yesus sendiri adalah kehadiran Allah di antara manusia. Dia adalah realita dari yang diharapkan oleh Bait Allah.

    Metafora Kristus sebagai Bait Allah dipakai secara fleksibel di Kitab-kitab Perjanjian Baru yang lain. Dalam Surat-surat, umpamanya, orang-orang Kristen dibandingkan dengan bait Allah, baik secara individu (1 Korintus 6: 19) atau secara komunal (1 Korintus 3:16-17). Sama seperti Allah hadir di Ruang Maha-kudus, demikian juga Roh Kudus diam dalam orang Kristen. Menarik sekali bahwa Petrus mengakui gereja sebagai Bait Allah, tetapi dia menyatakan bahwa Kristus adalah "batu yang hidup" (1 Petrus 2:4).

    Ide bahwa Kristus adalah penggenapan Bait Allah cocok dengan pengertian Perjanjian Baru tentang hubungan antara Kristus dan seluruh aparatus ibadah dari Perjanjian Lama. Pokok ini khususnya dikembangkan oleh Kitab Ibrani yang mengajar bahwa Kristus adalah penggenapan korban dan keimaman Perjanjian Lama. Yesus Kri stus adalah korban yang sempurna dan imam yang sempurna (Ibrani 9:11-10: 18).

    Untuk melengkapi tema kehadiran Allah di Alkitab, kita harus maju ke Kitab Wahyu. Dalam dua pasal terakhir dari kitab ini, kita mendapat sebuah gambaran tentang dunia yang akan datang, yaitu langit dan bumi yang baru. Uniknya kita membaca bahwa "tidak ada bait Suci; sebab Allah, Tuhan yang Mahakuasa adalah bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu" (21:22). Di sana tidak perlu lagi ada tempat kudus yang khusus. Dosa sudah dihapus dan Allah dengan manusia hidup lagi dalam harmonis dan kebahagiaan. Tidak heran, kita mendapat alusi-alusi tentang Taman pada akhir dari kanon Alkitab: "Lalu malaikat menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yangjemih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa" (22: 1-2). Ini merupakan klimaks sejarah penebusan. Restorasi Firdaus, malah lebih dari restorasi. Imageri ini, termasuk dua pohon kehidupan, menyatakan bahwa Firdaus surgawi kita akan melampaui yang pertama.

    Kita mulai pasal ini dengan menanyakan pertanyaan, "Apakah Allah Perjanjian Lama sama dengan Allah Perjanjian Baru?" Kita dipaksa bertanya pertanyaan ini karena pembacaan Alkitab yang sepintas akan menyebabkan seorang mengkontraskan gambaran Allah yang ada di dua Perjanjian, Apakah Allah Perjanjian Lama jauh, dingin, pemarah, menghakimi, sembarangan? Apakah Allah Perjanjian Baru, khususnya yang kita lihat di dalam Putra-Nya, Yesus Kristus, hangat, dekat, personal, murah-hati dan penuh perhatian')

    Kita memperhatikan bahwa Alkitab menjauhkan diri dari spekulasi dan abstraksi tentang Allah, malah Alkitab memakai kata-kata utuk menggambarkan hubungan antara Allah dengan umat-Nya. Kita memilih untuk menyelidiki tiga dari tema ini untuk melihat apakah Allah Perjanjian Lama berbeda dengan Allah Perjanjian Baru. Dalam pengamatan kita kita melihat bagaimana perjanjian-perjanjian dalam Perjanjian Lama menuju ke Perjanjian Baru. Kita kagum ketika mengetahui bahwa YHVH pahlawan Ilahi dari Perjanjian Lama mengantisipasi peperangan-peperangan dari Yesus dalam Perjanjian Baru. Kita mengikuti cerita bagaimana Allah yang berdiam dengan umat-Nya mengalahkan pemberontakan manusia yang membawa dari Taman ke Yerusalem Baru.

    Pelajaran kita sudah mencapai konklusi yaitu bahwa Alkitab memberikan sebuah kesatuan gambar Allah. Allah Perjanjian Baru jelas adalah Allah Perjanjian Lama. Tetapi kesatuan gambar ini tidak statis. Allah secara progresifmenyatakan diri-Nya kepada umat-Nya sepanjang masa. Bayang-bayang Perjanjian Lama menuju kepada kenyataan Perjanjian Baru. Ketika Agustinus memandang kepada Yesus Kristus sebagai penggenapan Perj anj ian Lama, ia meringkaskan dengan indah: "Perjanjian Baru tersembunyi dalam Perjanjian Lama; Perjanjian Lama dinyatakan dalam Perjanjian Baru."


Sumber :
Tremper Longman III, Memahami Perjanjian Lama, Tiga Pertanyaan Penting, SAAT, 2001, hlm 63 - 119.


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 7 posts ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: Google [Bot] and 0 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
Powered by phpBB & phpBB SEO
Sarapan Pagi © 2006 by BP & Saxman