V. TEMA UTAMA
1. Pernyataan diri sebagai Mesias dan Anak Allah
Berbeda dari semua guru agama lain, Yesus tidaklah pertama-tama mengajarkan kebenaran-kebenaran mengenai Allah dan Agama. Inti ajaranNya ialah
pengumuman mengenai diriNya sendiri sebagai Anak Allah dan Juruselamat dunia.
Hal itu bukanlah melulu sistem teologi, tapi pernyataan diri. Memang benar Ia tidak secara terbuka dan tidak setiap saat mengumumkan diriNya adalah
Mesias dan
Anak Allah. Dan karena di benak orang Yahudi terdapat konsep yang salah dengan watak dan tugas Mesias, maka Ia sangat berhati-hati – tidak memaparkan secara luas ke-mesias-anNya kepada mereka. Tetapi penelitian yang cermat atas ke-empat Injil menyingkapkan bahwa sejak dari awal Yesus mengajarkan bahwa Dia adalah
Anak Allah. Penting diperhatikan bahwa dalam ucapan Yesus yang pertama sekali seperti dicatat dalam Injil, Ia dengan lembut tapi pasti mengingatkan Maria bahwa BapaNya yang sebenarnya ialah Allah (Lukas 2:48-50); dan ucapan-Nya yang terakhir di kayu-salib Ia menyerahkan diriNya kepada Allah :
“Ya Bapa, kedalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” (Lukas 23:46). Dan sesudah kebangkitanNya Ia menugasi Maria Magdalena untuk menyampaikan pesanNya kepada murid-muridNya : “Aku akan pergi kepada Bapaku” (Yohanes 20:17).
2. Allah sebagai Bapa
Ciri paling khas ajaran Tuhan Yesus ialah pengumumanNya bahwa
Allah adalah Bapa. Memang, dalam satu-dua ayat di PL, Allah telah dinyatakan sebagai Bapa, tetapi dalam ajaran Yesus ini Allah diperkenalkan lebih sebagai Bapa dari umatNya, Israel, ketimbang Bapa dari pribadi orang percaya.
Yesus mengumumkan Allah sebagai Bapa dalam
cara-baru yang bersifat pribadi. Dalam ke-empat Injil ada kira-kira 150 acuan dimana Yesus menyebut Allah sebagai Bapa. Ia mengajarkan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dalam arti khas :
Lukas 2:49; 10:21-22; 20:41-44; 22:29
Matius 11:25-27; 15:13; 16:13-17,27; 21:37; 22:2; 26:29,63-64; 27:43; 28:18-20
Markus 8:38; 12:6,35-37; 13:24-27; 14:61-62;
Yohanes 3:35; 5:18,22-23 dst.
Ia tak pernah menyapakan ke-Bapak-an Allah dalam hubungan terhadap diriNya sendiri dengan ke-Bapak-an Allah dalam hubungan terhadap murid-muridNya atau terhadap manusia lain pada umumnya. Tidak pernah Yesus berdoa kepada Allah dengan ucapan
‘Ya Bapa kami!’, tetapi selalu langsung
‘Ya Bapa’ (Markus 14:36; Matius 11:25; Lukas 10:21; Yohanes 11:41; 17:1-26 dst.).
Jika Yesus berbicara kepada murid-muridNya, Ia tidak pernah menyebut Allah sebagai
‘Bapa kita’, tapi selalu ‘BapaKu’ (Lukas 10:22; Matius11:27; 12:50; Yohanes 20:17) atau ‘Bapamu’ (Markus 11:25-26; Matius 5:45,48 dst). Pembatasan yang demikian jelas perihal hubunganNya dengan Allah, bergema sepanjang ajaranNya, baik dalam Injil-injil sinoptik, maupun Injil ke-empat.
Dalam hal ini Yesus memang unik. Tidak seorangpun guru agama sebelum dan sesudah Dia yang menyatakan hubunganNya mutlak dengan Allah, seperti terungkap dalam kata-kata
“Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Matius 11:27; bandingkan dengan Lukas 10:22; Markus 8:38; Yohanes 17:1-5 dst.)
Tetapi ajaran Yesus mengenai ke-Bapak-an Allah tidak berhenti pada pengumuman hubunganNya yang khas dengan Allah Bapa. Yesus juga mengajar murid-muridNya mempercayai Allah sebagai Bapa dari semua orang percaya (lihat khususnya di Matius 6:1-34; bandingkan dengan Lukas 6:36). Karena hubungan Allah dengan manusia inilah yang harus mendasari hidup rohani pengikutNya, maka Yesus mengajar mereka berdoa kepada Allah dengan ucapan “Bapa kami” (Matius 6:9). Karena Allah adalah Bapa mereka, mereka tidak usah takut (Matius 10:28-30; 6:26-32); mereka dapat dan harus berdoa dengan iman yang sungguh kepadaNya (Matius 7:7; Lukas 11:9-13). Karena Allah sempurna dalam kasih dan kemurahan, maka mereka harus demikian juga (Matius 5:43-48; Lukas 6:36).
Ajaran Yesus mengenai ke-Bapak-an Allah merupakan pukulan maut terhadap ahli-ahli Taurat, yang sudah membebani agama demikian sarat dengan bentuk-bentuk lahiriah, upacara dan peraturan. Justru Yesus berkata bahwa ajaranNya sedemikian barunya, jadi untuk mendekati Allah, tata cara lama harus dihapus dan diganti dengan tata cara baru melalui Dia (Markus 2:22; Matius 9:14-17; Lukas 5:33-39).
Dengan mengajarkan bahwa hubungan antara Allah dan orang-orang percaya adalah sama dengan hubungan antara seorang ayah dengan anak-anaknya, maka Yesus menyampaikan hubungan Allah dan manusia yang sama-sekali berbeda dengan ajaran agama-agama lain. Karena Allah adalah Bapa yang panjang sabar dan mengasihi, maka masih ada harapan bagi pendosa yang paling besar (bandingkan dengan ajaran Yesus tentang perumpamaan anak yang hilang, yang diterima bapanya dengan welas-asih dipulihkan ke dalam hidup baru oleh bapanya yang pengampun, Lukas 15:11-32).
Sebagai Bapa, Allah memperhatikan bahkan ciptaanNya yang paling kecil sekalipun dan mengasuh semuanya (Matius 6:26; 10:29-30; Lukas 12:24-27). Sebagai Bapa, Ia tahu kebutuhan yang sesungguhnya dari anak-anakNya, karena itu orang percaya tidak usah kuatir atau takut (Lukas 12:4-7, 22-32). Sebagai Bapa, Ia tetap setia terhadap mereka, bahkan di tengah-tengah suasana paling sukar dan berbahaya (Lukas 12:11-12; Markus 13:11).
Tapi serentak Yesus juga mengajarkan dengan gamblang bahwa Allah bukan hanya Bapa yang imanen dan hadir dimana-mana, tapi Allah juga sekaligus Tuhan yang transenden dan mahakuasa atas langit dan bumi (Matius 11:25). Karena itu jika berdoa kepada Allah, kita wajib berkata “Bapa kami yang di Sorga” (Matius 6:9). Dan karena Allah adalah Bapa yang Mahakuasa yang menciptakan dan memelihara segala sesuatu (Lukas 10:21; Matius 19:26), maka tugas mulia dan luhur bagi orang percaya ialah memuliakan atau mengukuskan Nama Allah (Matius 5:16; 6:9; Markus 12:17,30; Lukas 8:39; Yohanes 15:8 ). Melakukan kehendak Bapa bukan lagi menjadi beban yang memberatkan, tetapi hak istimewa dan penuh sukacita (bandingkan kata-kata ‘Jadilah kehendakMu di bumi seperti di Sorga’, Matius 6:10 dan Yohanes 15:10-15). Yang jadi pendorong bagi orang percaya untuk melayani selamanya dan bahkan untuk mengasihi musuhnya, ialah kerinduan menjadi anak-anak yang lauak bagi Bapa sorgawinya (Matius 5:44-48 ).
Ajaran Yesus mengenai ke-Bapak-an Allah memaparkan kebenaran yang menakjubkan, yaitu bahwa demikian kasihnya Allah memelihara orang percaya dan seluruh ciptaan, sehingga bahkan ramput di kepala merekapun Dia hitung ( Matius 10:30), bunga bakung Dia perlengkapi dengan keelokan dan burung terkecil sekalipun Dia asuh (Matius 6:26-30: 10:29). Karena kasih yang demikian, maka tidak ada alasan bagi orang percaya untuk kuatir akan kebutuhan pribadinya maupun kebutuhan lainnya, juga tentang hari yang akan datang (Matius 6:25, 34). Jika orang percaya menempatkan hidupnya, maka Dia akan memelihara mereka dalam setiap keadaan, bahkan keadaan yang paling gawat sekalipun (Markus 13:11, Lukas 12:4-12; 21:18 ).
Pada pihak lain, juga sama jelas dan gamblangnya, Yesus mengajarkan bahwa barangsiapa menolak Dia dan tidak mentaati Allah Bapa, orang-orang yang menolak kasih karuniaNya yang menyelamatkan, ajan langsung menghadap hukuman yang tidak terelakkan (Matius 8:12; 21:43-45; 22:13; 25:30, 41-46; Markus 8:38; 12:9-12; 13-26 dab; Lukas 13:27 dab, 34 dab; 19:27; 21:20-24). Ia tidak membiarkan pendengarNya ragu sedikitpun, bahwa tujuan akhir manusia tergantung pada sikap mereka terhadap Dia dan perkataanNya (Markus 8:38; 10:29 dab; 12:6-11; Lukas 9:26; Yohanes 12:48; 14:6, 21-24; 15:22 dab). Ia datang untuk memberi nyawaNya menjadi
tebusan bagi banyak orang (Markus 10:45; Matius 20:28; 26:28; Yohanes 10:11), dan karena Allah Bapa sudah menyerahkan segala sesuatu kepada Dia, maka Ia mengundang semua orang datang kepadaNya untuk beroleh hidup yang kekal (Matius 11:27-28; 22:1-10; 25:1-12; Yohanes 6:35-37). Mencari dan menyelamatkan orang yang hilang adalah keinginan yang sungguh dan kesukaan besar bagi BapaNya dan Dia sendiri (Matius 22:4, 9; Markus 10:45; Lukas 12:32; 15:1-32; 19:10; Yohans 3:16 dab); tapi barangsiapa menolak penyelamatan ini, berarti mendatangkan dapa dirinya kebinasaan yang kekal (Markus 12:9; Matius 22:7, 13; 25:30,41,46; Yohanes 8:24).
Sebagai Anak Manusia, yang kepadaNya telah diberikan kuasa atas Alam semesta (Yohanes 5:25 bandingkan dengan Daniel 7:13 dan ayat berikutnya), Yesus mengajar bahwa Dia-lah yang akan melaksanakan penghakiman pada saatnya segala sesuatu akan digenapi. Dia akan berkata kepada orang-orang benar,
“Mari, hai kaum yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu….” (Matius 25:34, dan kepada orang-orang fasik
“Enyahlah dari hadapanku, hai kamu orang-orang terkutuk” (Matius 25:41). Sikap orang terhadap Dia dan terhadap ‘saudara-saudaraNya’ yang dinyatakan dalam hidup harian orang itu, akan dijadikan patokan yang menentukan pada hari penghakiman (Matius 25:31-46; Markus 9:37, 41; Lukas 10:10-16; Yohanes 8:51; 12:26; 15:23 dab), Sebab Yesus bukan tukang sulap, juga bukan melulu Mesias orang Yahudi saja, tapi Anak-Allah yang kepadaNya telah diberikan segala kuasa yang ada di Sorga dan di bumi (Matius 11:27; 28:18-20; Lukas 10:22; Markus 12:6; Yohanes 3:34-46; 5:17-27; 8:58; 10:30 ).