Quote:
1. Alasan Perzinahan.
Orang-orang Yahudi menuduh Yesus sebagai orang yang lahir dari hasil perzinahan Maria, ibunya, dengan laki-laki. Berikut kutipan ayat-ayatnya:
Tetapi yang kamu (orang-orang Yahudi) kerjakan ialah berusaha membunuh Aku (Yesus); Aku seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri." Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah." (Yohanes 8:40-41)
Dalam kutipan ayat-ayat di atas, orang-orang Yahudi menyindir Yesus bahwa mereka bukanlah orang-orang yang lahir dari hasil perzinahan kedua orang tuanya. Kalimat ini merupakan sindiran terhadap Yesus yang mereka anggap sebagai orang yang lahir dari hasil perzinahan kedua orang tuanya.
Konsekuensi dari tuduhan tersebut adalah orang-orang Yahudi menolak segala predikat baik yang melekat pada diri Yesus, baik sebagai guru, imam, pemimpin, raja, nabi, rasul, apalagi sebagai Tuhan.
JAWAB :Dalam hal ini "tuduhan Yesus adalah hasil zinah" tidak pernah terbukti, semua adalah dugaan. Penghukuman karena zinah harus selalu bisa menunjuk pihak-pihak yang melakukan zinah. Siapa si laki-laki dan siapa si perempuannya. Dan anak hasil zinah, dalam hukum apapun tidak ikut dihukum di pengadilan (Ulangan 17:5 ; Ulangan 17:6).
Orang-orang Yahudi yang menghendaki Yesus disalib memang tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah. Namun ketidak-percayaan mereka ini bukanlah fakta yang menunjukkan Yesus itu bukan Tuhan dan Allah.
Quote:
2. Alasan Klaim sebagai Anak Allah.
Orang-orang Yahudi menuduh Yesus telah menghujat Allah karena dia konon telah menyatakan dirinya sebagai Anak Allah. Berikut kutipan ayat-ayatnya:
Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau (Yesus), melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." ....masihkah kamu (orang-orang Yahudi) berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku (Yesus) telah berkata: Aku Anak Allah? (Yohanes 10:33,36)
Dari tuduhan tersebut, orang-orang Yahudi bersepakat untuk membunuh Yesus, karena menurut mereka, hukuman bagi orang yang menghujat Allah adalah hukuman mati, sebagaimana perintah Tuhan dalam Kitab Imamat berikut ini:
Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama TUHAN, haruslah dihukum mati.[/i] (Imamat 24:16)
Berkenaan dengan hukuman mati Yesus di tiang salib, orang-orang Yahudi menganggap Yesus sebagai manusia terkutuk di muka bumi, sebagaimana catatan Kitab Ulangan berikut ini:
"Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian [u]kaugantung dia pada sebuah tiang, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu." (Ulangan 21:22-23)
JAWAB :Yesus dituduh orang-orang Yahudi/ ahli Taurat menghujat Allah karena Dia menyatakan diriNya adalah Anak Allah; Allah; dan Mesias. Dan Ia menyatakan kesetaraan diriNya dengan BapaNya di Surga. Namun tuduhan itu bukan suatu kebenaran bahwa Yesus bukan Allah.
Seseorang/sekelompok orang bisa saja menuduh orang lain, namun ia (si tersangka) selamanya akan "tak bersalah/ innocent" sebelum kesalahannya terbukti (asas
presumption of innocent / asas praduga tak bersalah). Itu berarti bahwa seseorang dianggap tidak bersalah sampai dibuktikan bersalah oleh pengadilan.
Presumption of innocent adalah hak-hak tersangka sebagai manusia diberikan dan merupakan prinsip hakiki dalam hukum. Prinsip ini berlaku dalam semua fase proses hukum: baik di taraf kepolisian maupun di taraf kejaksaan dan juga di taraf pengadilan itu sendiri. Dalam Taurat sendiri ada aturan untuk tidak menghukum seorang "yang diduga bersalah" sebelum ia "terbukti bersalah" di pengadilan (
Mitsvot ke-260: Bilangan 35:12).
Dalam sidang yang menentukan Yesus Kristus akan dihukum mati atau tidak; justru tidak menyertakan delik tuduhan "menghujat Allah" karena pemimpin sidang tertinggi saat itu, yaitu Pilatus tidak menemukan kesalahan-Nya :
* Matius 27:17
27:17 Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?"
27:18 Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.
27:19 Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam."
27:20 Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati.
27:21 Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas."
27:22 Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!"
27:23 Katanya: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!"
27:24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!"
27:25 Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"
27:26 Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.
27:27 Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. Pilatus tidak menemukan kesalahan Yesus Kristus (ayat 24) untuk itu ia "melakukan aksi cuci tangan" bahwa hukuman yang akan dilaksanakannya kepada Yesus Kristus ini atas permintaan "orang-orang yang dengki kepada Yesus" (ayat 18 ).
Dengan demikian Pilatus dalam otoritasnya melaksanakan hukuman terhadap seseorang karena permintaan orang banyak "yang dengki", bukan atas dasar "kesalahan yang diperbuat Yesus Kristus". Pilatus melakukan ini untuk menghindari kekacauan di negeri dimana ia ditugaskan sebagai Wali-Negeri. Kemudian ia melaksanakan "hukuman terhadap Yesus" atas permintaan orang banyak, dan ia sendiri melakukan tindakan "mencuci-tangan" sebagai simbol bahwa hukuman itu bukan atas kehendaknya.
Jelas sekali bahwa Yesus Kristus mengalami hukuman "tanpa delik tuduhan". Sebagai Orang yang Benar, Ia bisa saja menolak hukuman itu. Namun hal tersebut tetap Ia jalani sebagai "cawan-pahit" yang secara rela ia minum.
Kematian Yesus di Kayu Salib adalah "kematian-kurban", karena Ia merelakan jiwanya sendiri untuk dikorbankan (masih bisa dihindari , tetapi Ia merelakan) demi kasih yang begitu besar untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang dikasihinya. Jenis kematian ini adalah total berlandaskan kasih, dan tidak diselewengkan dengan dalil-dalil manusia yang melekatkan kebencian dan dendam atas nama Tuhan atau 'perjuangan'
Meskipun Kristen dan Islam itu biasa disebut agama-agama Ibrahimi (
abrahamic religions). Agama-agama di dunia lainnya misalnya Hindu dan Buddha juga tergolong dalam agama etika (
ethical religion), yakni agama yang mengajarkan ethic, bahwa keselamatan manusia tergantung pada perbuatan baik dan amal salehnya. Ini berbeda dengan Kekristenan. Kristen adalah agama sakramental (
sacramen religion) yaitu agama yang mengajarkan bahwa keselamatan itu diperoleh melalui Sang Penebus Dosa. Esensi kematian Yesus di kayu salib sering dipersoalkan oleh kalangan Muslim karena memang mereka tidak mengerti arti kematian kurban Yesus Kristus.
Yesus merupakan 'anak domba' yang disediakan Allah untuk dikorbankan sebagai pengganti orang berdosa. Melalui kematian-Nya, Yesus memungkinkan penghapusan kesalahan dan kuasa dosa dan membuka jalan kepada Allah bagi seluruh dunia (Yohanes 1:29). Dalam Perjanjian Lama telah dikenal bahwa menurut ajaran Yahudi, perlu darah untuk pengampunan dosa, ini ditegaskan di PB dalam Ibrani 9:22. Oleh karena itu Allah menyediakan tubuh dari daging dan darah dan datang ke dalam dunia sebagai manusia untuk menyelamatkan manusia (Ibrani 10:5). Allah sendiri telah datang ke dalam dunia karena selain dari Dia tidak ada juruselamat (Yesaya 43:11).
* Ibrani 9:22
Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.
* Ibrani 10:5
Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: 'Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki -- tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku.'
* Yesaya 43:11
"Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku."Perbuatan baik tidak memaafkan seseorang dari dosanya. Lukas 18:18-27 menulis ada seorang kaya menganggap 'perbuatan baik dapat menyelamatkan' (beroleh hidup kekal), namun kebenaran yang dijelaskan Alkitab, perbuatan baik tersebut tidak menyelamatkan. Keselamatan hanya dengan darah. Darah itu telah disediakan oleh Yesus Kristus, sehingga kepada setiap orang yang percaya kepadaNya, dia akan diselamatkan.
Di sepanjang Perjanjian Lama, sejak mulanya Allah sudah memberikan gambaran kisah datangnya Tuhan Yesus Kristus sebagai "kurban penebus dosa" sejak kitab Kejadian. Mulai dari analogi 'cawat-kulit' dari tertumpahnya darah binatang, yang kulitnya dipakai untuk menutup aurat Adam. Kemudian analogi 'kurban anak Abraham' yang diganti dengan 'domba yang disediakan Allah'. Peristiwa 'darah paskah' yang membebaskan Israel dari tulah ke 10 pada zaman Musa. Dan nubuat-nubuat para nabi pada Perjanjian Lama akan datangnya Mesias yang memberikan darahNya untuk keselamatan manusia. Perjanjian Lama, walaupun spesifik ditujukan untuk orang-orang Yahudi (Yudaisme), namun Perjanjian Lama tetap merupakan Firman yang sangat berharga bagi umat Kristiani. Dan tidak dipungkiri bahwa Yudaisme ini adalah akar dari Kekristenan. Dan penekanan Kekristenan itu ada dalam Perjanjian Baru. Hal itu amat berharga bagi umat Kristiani. Konsep harga yang harus dibayar terhadap perbuatan dosa, penebusan dosa dengan darah, keselamatan dengan darah (inti pengertian paskah) adalah merupakan hal yang pokok.
Dalam hukum Taurat, hampir segala sesuatu disucikan, dan diampunkan dengan darah (yang dianggap nyawa), dan
"tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan" (Ibrani 9:22). Ini dilakukan lewat domba yang dikorbankan diatas mezbah, berulang-ulang untuk setiap kali pengampunan hingga digenapi oleh Sang Mesias. Datangnya Allah dalam manusia Yesus yang menyediakan 'darah' bagi pengampunan, adalah selaras dengan prinsip Taurat tadi, dan benar Dia sedirilah yang menggenapinya. Hadirnya Yesus ke dunia, mati disalibkan, bangkit dan naik ke
Surga dan kedatanganNya yang kedua kali nanti adalah pokok dari iman Kristiani. Yesus dengan gelar Mesias/Kristus, dan sebutan Juruselamat kepadaNya, semuanya bukan hanya sekedar memberikan pengajaran, melainkan justru memerankan fungsi penyelamatan "Allah Juruselamat" (Yesaya 45:21).
Pembuktian kematian Yesus disalib serta kebangkitanNya, tidak terkira kokohNya, internal maupun external. Itu sudah banyak sekali ditulis oleh para ahli tanpa ada sanggahan yang layak. Kematian-kurban memang exist bagi Mesias, dan itu bukan bikinan atau diada-adakan oleh manusia. Ia sungguh telah dijanjikan Tuhan dari Firman yang keluar dari mulutNya dan/atau dari tanganNya sendiri dan diteruskan turun-temurun sejak manusia-pertama!.
Pengertian
keselamatan dari Allah ini, memang tidak selaras dengan ketentuan yang berlaku di agama-agama lain, sehingga serangan-serangan yang ditujukan kepada iman Kristiani dengan mempersoalkan kematian Yesus jika dipandang dari kepercayaan mereka yang menganggap keselamatan dari amal-ibadah, tentu saja tidak akan dimengerti ataupun diselaraskan. Dan perbedaan ini sangat prinsip, tidak bisa diperdebatkan.
It just different.... Quote:
Berkenaan dengan hukuman mati Yesus di tiang salib, orang-orang Yahudi menganggap Yesus sebagai manusia terkutuk di muka bumi, sebagaimana catatan Kitab Ulangan berikut ini:
"Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu." (Ulangan 21:22-23)
JAWAB :
Yesus yang tidak berbuat dosa dan kesalahan itu yang menanggung kutuk-dosa umat manusia, untuk itulah Ia mempunyai gelar yang menandakan hal ini yaitu gelar
Anak Domba Allah. Hal ini juga
tidak dikenal dalam kepercayaan Muslim, sehingga penuduh dari kalangan Muslim ini seringkali mempersoalkannya.
Mengenai ayat yang dipersoalkan, yaitu Ulangan 21:22-23, Rasul Petrus menjelaskannya kepada kalangan Yahudi, esensi kematian Yesus yang "digantung" pada kayu itu sbb :
* Kisah 5:30
LAI TL :
Adapun Allah Tuhan nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang sudah kamu ini bunuh dengan menggantungkan Dia pada kayu itu.
TR :
ho theos tôn paterôn hêmôn êgeiren iêsoun on humeis diecheirisasthe kremasantes epi xulou
Kematian dengan cara digantung itu di sebuah tiang kayu, (Ibrani
'ETS), adalah lambang suatu
kutuk. Penulis Kitab Kisah Para Rasul (Lukas) mencatat perkataan Petrus dalam Kisah 5:30, istilah khusus yang diucapkan Petrus ini yang sudah dikenal dalam pengajaran Yudaisme, bahwa orang yang mati dengan cara
digantung adalah
dikutuk oleh Allah (bandingkan dengan Kisah 10:39, Galatia 3:13).
Konteks Petrus mengucapkan kata-kata itu adalah dihadapan
Sanhedrin (Mahkamah Agama Yahudi), baca selengkapnya Kisah 5:26-42.
Petrus menggunakan rujukan Tanakh-Ibrani dalam menjelaskan kematian Yesus dengan cara digantung
"TALAH" di kayu yang merupakan lambang
kematian terkutuk.
Dalam kesempatan ini pula Petrus mewartakan kematian Yesus, bahwa Yesus memikul
kutuk dosa manusia dalam kematianNya dengan cara "digantung"/
"TALAH" itu. Dan kemudian menjelaskan dihadapan Sandherin itu
misi kematian Yesus adalah sebagai anak-domba kurban dosa bagi seluruh umat manusia :
* Kisah 5: 31-33
5:31 Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.
5:32 Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia."