|
Memahami Ucapan Yang Sulit Dalam Perjanjian Lama, 65:
Berlakulah Adil, Cintailah Kesetiaan, dan Hiduplah dengan Rendah Hati di Hadapan Allahmu
* Mikha 6:6-8 6:6 "Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun? 6:7 Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?" 6:8 "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"
Da jenis pernyataan keliru yang berbeda dan bertentangan dibuat tentang teks ini. Ada pembaca yang melihat bahwa teks ini membuktikan segala upacara agamawi yang nampak dari luar sejalan dengan respons iman yang dalam sepenuhnya kepada Allah adalah tidak benar. Yang lain, bereaksi terhadap sejumlah teologi konservatif tentang penebusan, membantah bahwa perilaku-perilaku agamawi yang penting terpusat hanya pada masalah-masalah keadilan, belas kasihan, dan kerendahan hati; semua yang lain berada di luar apa yang Allah harapkan dari yang paling tulus.
Sayangnya, kedua pendapat tersebut adalah ekstrem-ekstrem yang gagal menggapai maksud nabi Mikha. Jawabannya atas pertanyaan, "Dengan [benda] apakah aku akan pergi menghadap TUHAN?" tentunya berada di luar tanggapan yangmengejutkan dari orang-orang. Mereka merasa yakin bahwa mereka bisa memperoleh pengasihan Allah melalur-perbuatan dan berbagai jenis perilaku agamawi dan bahkan cara kafir, seperti pengorbanan manusia dari anak sulung mereka. Mereka siap tawar-menawar dengan Allah dan menawar tinggi jika perlu. Namun kebenaran yang demi kepentingan diri ini tak membuat mereka berharga di mata Allah.
Jawaban sang nabi, atas nama Tuhannya, sangat berbeda dengan jawaban mereka, sekalipun itu sebenamya bukan jawaban baru. Mereka telah mengetahui apa yang baik dan menyenangkan Allah, sebab Allah telah menyatakannya sekali dan sekali lagi. Setiap kali mereka menolak mengakuinya sebagai jalan Allah.
Tiga hal yang disebutkan: keadilan, cinta dan kerendahan hati di hadapan Allah. Peraturan keadilan telah ditetapkan oleh sifat dan kepribadian Allah yang hidup, bukan oleh standar manusia. Norma keadilan Allah yang diumumkan melalui hukum-Nya, menuntut keadilan yang sempurna yang bisa disediakan hanya oleh iman kepada Allah yang telah berjanji mengirimkan benih perjanjian.
Cinta, perintah kedua, harus mengikuti pola cinta Allah sebagaimana diungkapkan melalui Firman-Nya, yaitu kasih yang tidak mementingkan diri terhadap Allah dan sesama.
Yang ketiga merupakan seruan bagi umat itu untuk mengingat bahwa apapun yang baik dalam diri mereka adalah karena pemampuan oleh Allah. Mereka yang mengakui Tuhan sebagai Allah harus membuktikannya dengan cara hidup yang saleh. Kecongkakan merupakan kebalikan dari apa yang dituntut di sini, yaitu iman. Hidup dengan rendah hati berarti hidup dengan iman. Iman semacam ini berusaha memberi Allah tempat yang utama daripada merebutnya untuk diri sendiri. Dalam penggunaan bagian ini oleh Tuhan dalam Matius 23:23, Ia menyebutkan tiga syarat menyenangkan Allah sebagai "keadilan, belas kasihan dan kesetiaan."
Jadi, bagian ini lebih dari sekadar suatu pengganti etika atau cara pemujaan bagi semua penemuan agama yang dimiliki manusia. Sesungguhnya itu adalah kewajiban, tetapi kewajiban yang didasarkanpada sifat dan kasih karunia Allah. Pertanyaan yang diajukan dalam Mikha 6:6 sangat mirip dengan pertanyaan dalam Ulangan 10:12, "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu?" Namun latar belakang bagi kedua pertanyaan tersebut sama, sebab dalam Ulangan 10, sebagaimana dalam Mikha 6, Allah telah mengumumkan diri-Nya siap menghancurkan Israel karena ketidaktaatan mereka dalam peristiwa anak lembu emas jika bukan Musa, yang dipersiapkan oleh Allah untuk kesempatan semacam itu, menjadi penengah bagi mereka dan mengalihkan hukuman dari Allah.
Jadi perkataan ini bukanlah suatu undangan, sebagai pengganti Injil, untuk menyelamatkan diri melalui perbuatan kebaikan dan kejujuran yang dilakukan dengan baik. Perkataan ini juga bukanlah suatu serangan terhadap bentuk-bentuk pengorbanan dan tindakan-tindakan pemujaan yang disebutkan dalam perintah-perintah kemah pertemuan dan bait suci. Sebaliknya perkataan ini merupakan panggilan akibat alami dari laki-laki dan perempuan yang benar-benar telah diampuni untuk mempertunjukkan realita iman mereka dengan menyatakannya di tempat terbuaka. Hidup sedemikian itu pasti disertai dengan tindakan dan perbuatan penuh kasih, keadilan, dan memberi perhatian pada para yatim piatu, janda dan orang miskin.
Sumber: Walter C Kaiser, Jr., Ucapan yang Sulit dalam Perjanjian Lama, Saat, 2003, p 249-251
|