Memahami Ucapan Yang Sulit Dalam Perjanjian Baru, 60:
Siapakah Pengikut Nikolaus Itu?
* Wahyu 2:1-7 Kepada jemaat di Efesus
2:1 "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.
2:2 Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
2:3 Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.
2:4 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
2:5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
2:6 Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci.
2:7 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."
* Wahyu 2:12-17 Kepada jemaat di Pergamus
2:12 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Pergamus: Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua:
2:13 Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam.
2:14 Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah.
2:15 Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus.
2:16 Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini.
2:17 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya."
Kitab Wahyu memiliki banyak simbol dan gambar yang ganjil, tetapi juga ada nama-nama yang tidak dikenal. Dalam Wahyu 2:6, 15, nama yang tidak lazim menghalangi pemahaman kita. Dalam dua ayat dari surat-surat yang ditulis kepada dua jemaat yang berbeda (Efesus dan Pergamus) kita menemukan kata pengikut-pengikut Nikolaus. Siapakah mereka? Agaknya penulis yakin bahwa para pembaca suratnya akan tahu, tetapi kita tidak berada dalam posisi yang sarna dengan mereka. Apa yang mereka perbuat? Mengapa Allah membenci perbuatan itu? Sebelum kita mengerti hal ini, kecaman terhadap mereka akan tetap merupakan misteri bagi kita. Kita mungkin bahkan sedang melakukan hal yang sama tanpa menyadarinya.
Identifikasi paling awal mengenai para pengikut Nikolaus, yang didapatkan pada bapa-bapa gereja, adalah pengikut Nikolaus dari Antiokia, seorang pemeluk bam agama Yahudi, yang merupakan salah satu dari tujuh orang yang terpilih (Kisah Para Rasul 6:5). Sayangnya, tidak seorang pun dari penulis tersebut tampaknya mengetahui banyak hal mengenai ajaran sesat itu, bahkan salah satu dari mereka mengatakan bahwa Nikolaus itu sendiri sebenarnya ortodoks tetapi telah disalahartikan. Meskipun mungkin sebagian informasi itu tepat (ada pemimpin-pemimpin gereja yang dipenuhi dengan Roh tetapi terlibat dalam aliran sesat), tampaknya ini merupakan sebuah usaha untuk menernukan beberapa nama dalam Kitab Suci yang dapat digunakan untuk mengenali sekte. Nikolaus mungkin mengalami kemalangan karena namanya digunakan secara salah. Bahkan jika Nikolaus dari Kisah Para Rasul itu tidak mempunyai hubungan apapun dengan aliran sesat itu, mungkin saja Nikolaus-Nikolaus lainnya adalah pemimpin dari kelompok semacam itu. (Bagaimana pun, Nikolaus adalah nama yang cukup ban yak dipakai.)
Penafsiran kedua yang umum dalam lingkup teologi adalah melihat pada etimologi Yunani dari kata "Nicolaitan" (
nikan dan
laos secara berurutan berarti "menaklukkan" dan" orang"). Penafsiran tersebut berargumentasi bahwa kelompok Nikolaus itu menindas kaum awam untuk kepentingan kependetaan yang semakin berkembang. Tetapi penjelasan ini lebih ditentukan oleh konsep modern mengenai kependetaan dan kaum awam daripada oleh informasi abad pertama, karena terminologi semacam itu (rnisalnya penggunaan kata laos hanya untuk satu golongan jernaat) belum dikenal pada masa itu. Etimologi (ilmu asal kata ) merupakan cara yang sangat berbahaya untuk menemukan arti dari sebuah istilah. Kita hanya perlu mengamati istilah bahasa lnggris "awful" [mengerikan], (yang tidak berarti "full of awe" [penuh dengan kekagumanJ) untuk mengetahui hal ini. Lagi pula, tidak ada sesua tu pun di dalam bacaan tersebut yang mendukung pengertian ini.
Petunjuk terhadap arti yang sebenarnya dari istilah ini ditemukan dalam identifikasi dari para pengikut Nikolaus dengan "pengajaran Bilearn" dalam Wahyu 2:14-15. Bukan saja ada kemungkinan "pengikut Nikolaus" itu adalah bentuk Yunani dari "Bileam" (seperti pengertian para pendeta Yahudi) tetapi, yang lebih pen ting, penafsiran ini sesuai baik dengan teks bacaan mau pun situasi abad pertama.
Yohanes mengidentikkan pengajaran Bileam dengan dua hal: "memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala" dan "pelanggaran seksual." Gereja yang mula-mula tak henti-hentinya berjuang melawan kompromi terhadap penyembahan berhala, seperti kita lihat dalam uraian Paulus yang panjang lebar dalam 1 Korintus 8-10 serta kesimpulan yang dicapai dalam Kisah Para Rasul 15:20,29. Kedua uraian itu berkisar pada makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala. Kesimpulan Paulus adalah seseorang boleh memakan makanan itu jika dibeli dari pasar, tetapi ia tidak boleh memakan makanan di tempat penyembahan berhala. Tetapi mengikuti peraturan Paulus semacam ini akan memutuskan seseorang dari keanggotaan di serikat kerja perdagangan, upacara kebangsaan (terrnasuk upacara penghormatan kepada kaisar, yang dianggap sangat perlu untuk menjadi warganegara yang baik, meskipun tidak dianggap sebagai peristiwa keagamaan yang serius oleh masyarakat kelas atas) dan ban yak perayaan keluarga. Kita dapat dengan mudah melihat tekanan untuk melakukan rasionalisasi dan melakukan kompromi.
Masalah pelanggaran seksual lebih sulit, karena masalah tersebut juga disebutkan dalam Wahyu 2:20, 22 dalam kasus Izebel (kata sandi Perjanjian Lama untuk pemimpin wanita dari jemaat Tiatira dalam Perjanjian Baru, yang menunjukkan siapa dirinya dan penilaian Allah terhadapnya, bukan nama perempuan itu sebenarnya). Di satu pihak, pelanggaran seksual merupakan masalah di gereja yang mula-mula, seperti tampak dalam uraian Paulus (l Korintus 5:1; 6:12-20; bandingkan dengan Ibrani 13:4). Di tengah-tengah masyarakat berhala yang menerima kehadiran pelacur (meskipun para istri diharapkan untuk tetap setia), sulit untuk tetap taat dalam masalah ini dan relatif mudah untuk berkompromi. Di lain pihak, d a larn Perjanjian Lama "pelanggaran seksual" dipergunakan untuk menunjukkan keterlibatan dengan dewa-dewa berhala. Misalnya, sepanjang pengetahuan kita Izebel d alam kata Perjanjian Lama tidaklah asusila secara jasmani-ia mungkin setia kepada Ahab seluruh hidupnya-tetapi ia benar-benar menyesatkan bangsa Israel ke dalam pemujaan berhala. Karena Israel adalah "mempelai" Allah, maka keterlibatan dengan allah-allah lain disebut sebagai "perzinahan" atau "pelanggaran seksual."
Selanjutnya sulit untuk ditarik garis an tara kedua arti "pelanggaran susila" tersebut. Pelanggaran seksual tampak dalam peristiwa Peor (berkaitan dengan Bileam, Bilangan 25:1-18 ), tetapi hubungan seksual dengan perempuan itu sendiri tidak melanggar hukum Perjanjian Lama yang mana pun. Hukum Perjanjian Lama tidak melarang seorang pria untuk berhubungan dengan pelacur, melainkan dengan wanita berkeluarga yang bukan istrinya. Masalah yang timbul dalam kasus Peor adalah bahwa perempuan itu adalah bangsa Moab atau Midian, yang menyembah berhala, dan pada saatnya mereka akan menuntun si pria untuk memakan makanan yang berhubungan dengan allah-allah mereka dan kemudian menyembahnya. Dengan kata lain, pelanggaran seksual itu salah karena berkaitan dengan pemujaan allah-allah lain. lni merupakan kejadian yang biasa dalarn dunia berhala di mana banyak bait Allah rnemiliki pelacur yang dapat menarik seorang pria untuk "menyatu" dengan allah mereka.
Dengan demikian, jika Yohanes mengambil contoh-contoh Perjanjian Lama sebagai dasar uraiannya, maka pelanggaran seksual itu bersifat kiasan. Hal ini menunjukkan pemujaan mereka terhadap dewa-dewa lain, yang secara tidak langsung dinyatakan melalui kehadiran mereka dalam pesta di kuil-kuil berhala. Sebaliknya, jika ia menggunakan contoh Perjanjian Lama secara tidak begitu ketat, maka ia mungkin menunjukkan dua masalah yang berkaitan yaitu menghadiri pesta di kuil-kuil berhala dan melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, mungkin dengan pelacur. Perbedaan antara kedua penjelasan itu sangat kecil. Kedua tindakan itu dikutuk dalam bacaan-bacaan lain di Perjanjian Baru, bagaimana pun penafsiran orang terhadap bacaan di atas.
Jadi pengikut Nikolaus adalah sekelompok orang yang merusak anak-anak Allah dengan membujuk mereka untuk melakukan kompromi terhadap budaya pada masa itu. Daripada menyembah Allah saja. mereka mengatakan bahwa adalah tepat untuk melibatkan diri dalam upacara kebangsaan (misalnya pesta yang berkaitan dengan pemujaan Kaisar) dan lembaga budaya lainnya (misalnya serikat sekerja perdagangan, yang mirip dengan serikat sekerja atau perkumpulan profesional modern, beserta pemujaannya). Mungkin saja sebagai bagian dari upacara tersebut atau sebagai tindakan kompromi secara terpisah, mereka juga mengizinkan penggunaan pelacur (barangkali sebagai bagian yang diterima dari "etika bisnis" pada zaman mereka). Yesus (yang berbicara melalui Yohanes) tidak berkompromi. Bahkan Dia mengancam akan menghukum jemaat.
Meskipun masalah inti yang dihadapi berbeda, gereja menghadapi kompromi yang serupa pada masa kini. Setiap masyarakat memiliki "berhalar'nya sendiri dan mengharapkan semua penduduknya untuk memujanya. Berhala tersebut mungkin adalah pemerintahan itu sendiri atau beberapa nilai atau kebiasaan dalam masyarakat, baik yang dinyatakan sebagai berhala atau pun tidak. "Berhala-berhala" itu adalah tempat di mana nilai-nilai masyarakat bertentangan dengan kesetiaan sepenuhnya kepada Kristus. Selanjutnya, para pengikut Nikolaus itu masih bersama kita dengan menggunakan nama yang berbeda-beda, karena selalu ada orang yang dengan alasan bersikap "realistis" atau pembenaran teologis lainnya menasihatkan untuk berkompromi dengan budaya yang dominan. Bacaan ini mengingatkan kita bahwa Yesus tidak akan "menyetujui" pembenaran-pembenaran tersebut. Dia menuntut kesetiaan sepenuhnya kepada pribadi dan bimbingan-Nya. Kurangnya ketaatan akan membuat mereka yang berkompromi mengalami penghakiman-Nya.
Disalin dari:
Peter H Davids,
Ucapan yang Sulit Dalam Perjanjian Baru, SAAT Malang, p. 312-316
Artikel terkait :
KELOMPOK NIKOLAUS (WAHYU 2:5,15), di
http://www.sarapanpagi.org/kelompok-nik ... vt348.html