Perumpamaan-perumpamaan:27. Orang Kaya yang Bodoh* Lukas 12:13-21
12:13 Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku."
12:14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?"
12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."
12:16 Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.
12:17 Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.
12:18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
12:19 Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
12:20 Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?
12:21 Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."
"Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi", kata Yesus dalam Khotbah di Bukit. Dia benar-benar menyadari arti dari perkataan ini ketika Dia dikelilingi oleh orang banyak. Seseorang meminta Dia rnenjadi hakim di dalarn perselisihan keluarga. Dua bersaudara mempertengkarkan warisan mereka. Ayahnya telah meninggal dan menurut pendapat adiknya, kakaknya tidak memenuhi ketentuan seperti yang ditulis dalarn surat wasiat. Mungkin alasan untuk tidak membagi warisan didasarkan pada dasar-dasar agama
[1]. Tetapi adiknya keberatan dengan tindakan ini dan memohon kepada Yesus. Dia menyebut Dia sebagai "Guru," yaitu, "Rabi"
[2].
Tetapi Yesus menolak terlibat dalam pertengkaran itu dan menolak rnenjadi hakim dan pengantara. Dia menolak menjadi Musa yang lain, yang memihak ke salah satu pihak dalam sebuah perselisihan dan sebagai akibatnya harus meninggalkan sebuah negeri
[3]. Dia menolak digunakan oleh seseorang yang bertindak berdasarkan motif-motif yang hanya mementingkan diri sendiri.
Saudara yang meminta Yesus untuk ikut campur tangan kelihatannya datang sendiri. Kita tidak melihat petunjuk kalau kakaknya setuju dengan adanya pihak ketiga yang menilai situasi ini. Juga, tidak dikatakan tentang rincian dari klaim itu. Apa buktinya kalau orang tersebut ingin menggunakan Yesus sebagai seorang pengacara, hakim, dan pengantara. Singkatnya, dia ingin mempekerjakan Yesus sebagai seorang hamba. Dia gagal melihat Yesus sebagai seorang Guru. Dan karena para rabi, dididik dalam Hukum Taurat, melayani baik sebagai guru maupun sebagai pengacara, orang ini tidak melihat adanya perbedaan.
Karena alasan inilah Yesus, sesudah menegur orang itu bahkan dengan agak tajam, melanjutkan dengan mengajar kerumunan orang banyak sebuah pengajaran rohani dengan perkataan yang umum dan sebuah perumpamaan. "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Sebagai Guru, Yesus memperingatkan orang banyak untuk melawan
bahaya rohani dari ketamakan. Ketamakan adalah penyembahan berhala
[4]. Ketamakan merupakan penyembahan terhadap ciptaan, bukan Pencipta. Yesus langsung menuju akar masalah manusia. Dia membongkar sumber kesalahan yang menyebabkan orang itu meminta Yesus menjadi pengacaranya. Yesus memperingatkan orang tersebut dan juga kerumunan orang banyak akan bahaya ketamakan. Orang yang tamak tidak mewarisi Kerajaan Allah
[5].
Perkataan Yesus diuraikan di dalam surat Paulus yang pertama kepada Timotius: "Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah" (1 Timotius 6: 7,8). Makanan, pakaian, dan tempat tinggal merupakan kebutuhan hidup. Segala sesuatu yang melebihi hal-hal ini berarti kelimpahan dan harus dibagikan kepada orang miskin.
Perumpamaan :Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh menunjukkan bahwa kehidupan di dalam arti kata yang sebenarnya tidak tergantung pada kekayaan di dunia ini. Beberapa tahun yang lalu, definisi-definisi kebahagiaan sangat digemari: "Kebahagiaan adalah ... " Tetapi di antara semua definisi ini, tidak satu pun yang menyebutkan kekayaan. Kekayaan tidak membawa kebahagiaan. Tetapi kekayaan sering kali menjadi penyebab dari keruntuhan dan kehancuran.
Di dalam perumpamaan Yesus ini, seorang petani yang kaya mengalami satu musim panas yang luar biasa, karena pada musim menuai dia mengumpulkan hasil panen yang luar biasa. Petani ini berbicara kepada dirinya sendiri, mempertimbangkan apa yang dilakukan dengan panennya ini dan di mana menyimpannya. Dia membuat keputusan dan berkata: "aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku." Dengan berkata kepada dirinya sendiri dan dengan menggunakan kata-kata l (=aku) dan my (=milikku) berulang-ulang, dia menyatakan keegoisannya
[6]. Allah telah berjanji untuk mengisi lumbung-lumbung seseorang dengan berkelimpahan jikalau orang tersebut memuliakan Tuhan dengan hasil pertama dari semua penghasilannya
[7]. Tetapi orang tersebut tidak memperhatikan janji Allah ini. Nyatanya, dia menunjukkan kejahatan dengan merombak lumbung-Iumbungnya dan mendirikan lumbung yang lebih besar
[8]. Orang ini benar-benar mgin mengontrol situasi. Baginya tidak perlu percaya dan bergantung kepada Allah. Lagipula membantu orang miskin tidak pernah ada di dalam pikirannya. Dia hanya memikirkan ketenangan, kesenangan, dan keamanan dirinya sendiri. Dia menunjukkan sikap acuh tak acuh sama sekali terhadap ringkasan dasar dari hukum Allah: "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap pikiranmu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Allah dan sesama tidak ada baginya. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah." Orang kaya ini hanya menunjukkan kesenangan diri sendiri
[9], bahkan memperkaya kehidupannya sendiri tidak dianggapnya. Kesenangan diri sendiri sebenarnya menambah keegoisan. Lingkaran kehidupannya telah dikurangi sampai ke sebuah titik. Kehidupannya tidak ditandai dengan dosa-dosa karcna perbuatan, tetapi karena dosa pengabaian. Dia gagal mengucap syukur kepada Allah untuk kekayaan yang dia terima, dan dia mengabaikan untuk memperhatikan sesamanya yang membutuhkan. Tanpa Allah dan sesama, kehidupannya hanya berpusat pada diri sendiri. Sendiri, tanpa ada Allah, dia ingin masa depannya aman. Yakobus, di dalam suratnya, menegur orang yang demikian yang berkata, " ... Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung" Jawab Yakobus, "sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap" (Yakobus 4:13, 14).
Allah campur tangan dengan menyebut dia orang yang bodoh
[10]. dan memberitahu dia bahwa kehidupannya akan berakhir malam itu juga
[11]. Dia akan kehilangan hidupnya dan seluruh kekayaannya. Allah memanggilnya untuk memberikan perhitungan tentang semua kekayaannya. Allah ingin adanya keseimbangan simpanan antara harta milik di dunia dan harta milik rohani.
Petani yang kaya itu telah menimbun semua penghasilannya di dalam lumbung dan telah mengumpulkan kekayaan yang cukup selama bertahun-tahun. Tetapi karena dia tidak membagikan miliknya dengan sesamanya dan tidak pernah peduli dengan Allah, rekening simpanan rohaninya tercatat nol. Ketika Allah memanggil orang ini, rekeningnya ditutup dan tidak dapat diubah
[12].
"Malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti?" Pertanyaan ini bernada retorik dan terkandung di dalamnya bahwa sebenarnya kekayaan orang itu milik Allah. Dia yang memberikan kekayaan itu dan Dia juga yang mengambilnya pada waktu yang sudah ditentukan-Nya.
Kesimpulan :Yesus tidak mengatakan bahwa manusia harus menghindari kekayaan, kesenangan, dan ketenangan duniawi. Demikian pula Dia tidak mencoba memberitahu orang yang datang dengan keluhan tentang bagian warisannya itu untuk mengabaikan hal-hal yang bersifat material. Manusia harus menyadari bahwa Allah adalah pemilik ciptaan yang mulia ini, dan bahwa Allah telah menempatkan manusia sebagai pengurus di dalam dunia yang diciptakan-Nya
[13]. Sebagai pengurus, manusia harus memberikan laporan berkala kepada Allah. Ketika manusia gagal melakukan hal ini dan bertindak seolah-olah dia adalah pemilik dari hartanya, dia melampaui hukum Allah dan dikutuk sebagai orang yang bodoh. Kapan saja manusia hidup untuk dirinya sendiri, secara rohani dia mati.
Di hadapan Allah kita berdiri dengan tangan kosong, "Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar." (1 Timotius 6:7). Hanya apa yang kita berikan kepada Allah dan sesama akan bertahan. Kematian tidak dapat mengambil pemberian kasih dan ucapan syukur dari diri kita, karena perbuatan-perbuatan itu memiliki nilai rohani.
Hidup hanya sekali, dan segera akan berlalu;
Hanya apa yang dilakukan untuk Kristus akan bertahan.
Yesus mengakhiri perumpamaan-Nya dengan mendorong manusia untuk menyimpan harta di surga dan menjadi kaya di hadapan Allah. Pengajaran ini seperti yang Yesus ajarkan dalam Khotbah di Bukit: "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21)
[14].
--------------
Catatan :
[1] Mazmur 133:1 Josephus menunjukkan bahwa kelompok Essenes menyerahkan hak harta milik pribadi dengan hidup bersama, seperti yang dilakukan beberapa saudara di tanah milik keluarga.
Wars 2:122.
[2] Orang-orang Yahudi akan memohon kepada rabi-rabi dan menunjuk pada Kitab Suci, Bilangan 27:1-7; 36:2-10; Ulangan 21:15-17.
[3] Keluaran 2:14; Kisah Para Rasul 7:27, 35. The Gospel of Thomas, Saying 72, hanya menggambarkan Yesus sebagai seorang pemisah: "Seseorang mengatakan kepadanya: Berbicaralah kepada saudara-saudaraku supaya mereka mau membagi harta milik ayahku dengan aku. Yesus mengatakan kepadanya: Saudara, siapakah yang menjadikan Aku seorang pemisah? Dia berbalik kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: Aku bukan seorang pemisah, bukan?"
[4] Kolose 3:5.
[5] 1 Korintus 6:9, 10. JD.M. Derrett, "The Rich Fool: A Parable of Jesus concerning Inheritance." Studies in the New Testament (Leiden: Brill, 1978),2:103.
[6] Bandingkan perumpamaan ini dengan kisah tentang Nabal, yang di dalam perkataan dan perbuatannya menunjukkan dirinya sebagai budak dari harta miliknya. 1 SamueI25:11.
[7] Amsal 3:10 dan Ulangan 28:8.
[8] Derrett, "The Rich Fool," 112.
[9] Bandingkan dengan Ecclesiasticus 11:19.
[10] Mazmur 14:1; 53:1.
[11] Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh di dalam the Gospel of Thomas, Saying 63, berbeda dalam penekanan dan ruang lingkup dengan catatan kanonikal: "Yesus berkata: Ada seorang kaya yang mempunyai banyak harta. Dia berkata, aku akan menggunakan harta ku yang aku tabur dan tuai dan tanam dan mengisi lumbung-lumbungku dengan hasilnya schingga aku tidak kekurangan apa-apa. Inilah yang dikatakan di dalam hatinya. Dan pada malam itu dia mati. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar."
[12] Derrett, "The Rich Fool," 114.
[13] Mazmur 24:1.
[14] Dengan jelas konteks yang umum menunjuk pada pengajaran tentang Khotbah di Bukit. Karena itu, perumpamaan ini dapat dilihat sebagai pengembangan dari perintah Yesus untuk tidak menyimpan harta di bumi tetapi di sorga (Matius 6:19, 20).
Disalin dari :
Simon Kistemaker,
Perumpamaan-perumpamaan Yesus, Saat, 2001, p 197-202