SarapanPagi Biblika

Bible Study / Christian Library
It is currently Mon Sep 06, 2010 11:47 pm

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 1 post ] 
Author Message
 Post subject: 26. Seorang Teman di Tengah Malam
PostPosted: Fri May 16, 2008 6:21 pm 
Offline
Merdeka dlm Kristus
Merdeka dlm Kristus
User avatar

Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm
Posts: 6490
Perumpamaan-perumpamaan:


26. Seorang Teman di Tengah Malam



* Lukas 11:5-8
11:5 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti,
11:6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya;
11:7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara.
11:8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.



Lukas mencatat Doa Bapa Kami dalam bentuk yang lebih singkat dari Injil Matius. Dia tidak mengikuti doa tersebut dengan mendesak orang-orang untuk saling mengampuni, tetapi dengan menggunakan sebuah perumpamaan di mana di dalamnya Yesus mengajarkan pemohon itu supaya bertekun. Pengajaran perumpamaan tentang seorang teman di tengah malam digemakan secara ringkas oleh seorang rasul di dalam perintahnya "Tetaplah berdoa" (1 Tesalonika 5:17). Hanya Lukas yang mencatat perumpamaan tentang seorang teman di tengah malam. Dia melukis gambaran tentang seorang yang kehabisan roti hanya dengan beberapa kata yang indah - dia mungkin memiliki roti yang terakhir untuk makan malam - dan kemudian menerima seorang musafir yang berkunjung ke rumahnya di tengah malam [1]. Kota itu kecil dan roti tidak dapat dibeli kecuali seorang tetangga mau meminjamkan beberapa potong roti.

Mungkin untuk menghindari panasnya hari, musafir itu datang pada tengah malam [2]. Merasa lelah dan lapar, dia mengharapkan tuan rumah bersedia menerima dia sebagai tamu. Tetapi karena kedatangannya bukan pada jam yang biasa, dia menempatkan tuan rumah dalam keadaan yang sulit: menolak kunjungannya, karena dia tidak punya roti/ atau pergi ke rumah tetangga untuk meminta beberapa potong roti. Suatu situasi yang tidak mungkin! Jika dia menolak memberi makan teman musafirnya, dia akan melanggar norma kesediaan menerima tamu yang sudah dibangun; dan jika dia pergi ke rumah tetangganya, dia akan menimbulkan perasaan tidak senang pada tetangganya.

Kisah yang diceritakan Yesus mungkin didasarkan pada kejadian yang sebenarnya, dan termasuk ke dalam cerita-cerita yang diklasifikasikan sebagai "Pernahkah kamu mendengar?" Kisah ini menimbulkan senyum-senyum yang bijaksana bagi semua orang yang mendengar kisah ini karena kisah ini begitu nyata dalam kehidupan. Setiap orang sangat ingin mendengar akhir ceritanya.

Rumah-rumah di Israel, khususnya di wilayah pedesaan, berukuran kecil, terdiri dari satu ruangan yang digunakan sebagai ruang duduk, ruang makan, dan ruang tidur [3]. Sebuah rumah memiliki satu pintu yang dibiarkan terbuka sepanjang hari. Tetapi pada sore hari ketika matahari sudah terbenam, kepala keluarga akan menutup pintu dan memasang sebuah palang kayu melalui lingkaran pada pintu dan dinding untuk mencegah orang yang mau menyusup masuk [4]. Tikar-tikar dibentangkan dan digunakan sebagai tempat tidur di mana seluruh keluarga tidur berjajar di atasnya. Dalam keadaan seperti itu agaknya sulit untuk bangun di dalarn gelap dan menemukan barang yang diperlukan.

Karena ingin mematuhi peraturan-peraturan tentang kesediaan menerima tamu, tuan rumah pergi ke rumah tetangganya dan membangunkan dia: "Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalarn perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya." Dia memanggil tetangganya itu "saudara," mungkin untuk mengurangi kemarahan tetangganya, rneskipun membangunkan di tengah malam bukan merupakan sikap yang bersahabat. Pertanyaannya adalah Siapakah yang disebut lebih dari seorang sahabat, apakah tetangga yang mau membantu atau tetangga yang membangunkan dia. Siapakah yang pantas disebut "saudara"?

Sepotong roti pada zaman itu tidak lebih besar daripada ukuran satu batu yang dapat dipegang dengan satu tangan. (Matius di dalarn konteks yang pararel mencatat, "Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti?" [Matius 7:9]). Dan tiga potong roti cukup untuk satu kali makan seseorang. Penjelasan yang panjang lebar dari si peminjam merupakan usaha untuk menjelaskan keadaannya yang sulit kepada tetangganya, dan mengungkapkan harapan agar tetangganya itu bisa memahami. Tentu saja, tuan rumah itu sangat menyadari kesulitan yang disebabkan oleh permintaannya. Bagaimana pun juga, apa yang dia minta disebabkan karena dia mengetahui bahwa hanya itu satu-satunya jalan untuk mendapatkan roti bagi temannya yang lapar dan yang lelah.

Memberikan roti kepada tetangga yang persediaannya habis merupakan satu kebiasaan di Israel. Pada waktu pagi ketika roti masih baru dibakar, jumlah roti yang dipinjam akan dikembalikan. Jadi yang rnenjadi masalah bukanlah berapa jumlah yang dipinjam oleh tetangga. Yang menjadi masalah adalah soal waktu.

Suara tetangga itu sangat tidak menyenangkan. Reaksi semua manusia ketika seseorang mengganggu tidurnya adalah dengan berkata, "Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara." Dia mengungkapkan keengganannya, tidak mau memenuhi permintaan tersebut. Jika dia memenuhi permintaan tersebut, itu berarti bahwa dia harus bangun, membangunkan anak-anaknya karena menyalakan pelita, mencari roti, dan membuka pintu dengan mengangkat palang kayu pada pintunya. Jauh lebih mudah jika tetangga sebelahnya itu tidak muncul di tengah malam.

Tetapi tetangganya tidak membiarkan dia istirahat dan tidur. Dia tidak dapat kembali ke rumah dengan tangan kosong, di mana temannya sedang menunggu. Dia tetap meminta roti, sampai tetangganya itu bangun, menyalakan pelita, mengangkat palang pintu, membuka pintu dan memberinya roti. Tetangganya melakukan hal ini bukan karena persahabatan tetapi karena ketekunan orang yang meminta.

Kata ketekunan merupakan kata kunci di akhir perumpamaan ini [5]. Kata ini menggambarkan sikap seseorang yang diwajibkan untuk menunjukkan kesediaan menerima tamu kepada seorang teman yang datang kepadanya di tengah malam. Di dalam konteks kebudayaannya, dia keluar dari kebiasaannya untuk menyediakan kebutuhan fisik dari teman yang mengunjunginya. Dia mau mengorbankan persahabatan dengan tetangganya supaya bisa menjadi tuan rumah yang bisa membantu. Dia tekun. Dia tahu bahwa permintaannya akan dihargai bahkan mungkin dalam keadaan yang sebaliknya.

Di dalam perumpamaan ini, dengan jelas Yesus menggunakan peraturan-peraturan orang Yahudi tentang kekontrasan [6]. Peraturan ini menekankan hal-hal yang lebih besar melalui mengajarkan hal-hal yang lebih kecil. Dalam peristiwa ini, fokus adalah pada ketekunan si tuan rumah, yang mengetahui bahwa tetangganya akan menyediakan tiga potong roti, Yesus mengajarkan bahwa kita dapat datang kepada Allah di dalam doa dan mengetahui bahwa Dia akan menjawab. "Aku berkata kepadamu ... namun karena sikapnya yang tidak tahu malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu" (Lukas 11 :8, 9). Jika seorang tetangga bangun di tengah malam dan memberikan temannya tiga potong roti, betapa lebihnya Allah Bapa kita akan menjawab doa anak-Nya yang datang membutuhkan pertolongan-Nya!

Apakah yang diajarkan perumpamaan ini? Perumpamaan ini tidak mengajarkan bahwa, seperti tetangga yang dibangunkan dari tidurnya, demikian juga Allah tidak ingin diganggu. Tetapi perumpamaan ini memberikan pemikiran bahwa sama seperti tuan rumah tersebut terus meminta, tahu bahwa tetangganya akan membuka pintu dan memberinya roti, demikian juga orang-orang Kristen harus terus menerus berdoa dengan rajin. Di dalam iman dia tahu bahwa Allah akan menjawab doa-doanya dan memberinya sebanyak yang dia butuhkan. Allah menjawab doa sebagai jawaban atas iman yang diungkapkan orang percaya. Karena itu orang Kristen mengakhiri doanya dengan kata amin. Seperti di dalam kata-kata katekismus abad ke enam belas tentang Doa Bapa Kami :

Amin berarti, Pasti!
Bahkan lebih pasti lagi
bahwa Allah mendengarkan doaku, lebih dari yang sebenarnya aku inginkan yang aku doakan.
[7]




--------------

Catatan :

[1] Terjemahan dari Lukas 11:5 berbeda, berkenaan dengan kata sahabat. Terjemahan NIV, "Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat, dan dia pergi kepadanya di tengah malam ...." Tetapi NEB menerjemahkan sebagai berikut, "Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat yang datang kepadanya di tengah malam .... " Apakah yang disebut sahabat itu tetangga yang meminjami roti, ataukah musafir yang lapar itu? Yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang dimaksud dengan seorang sahabat dan kepada siapa

[2] Pada zaman Yesus, melakukan perjalanan pada malam hari itu sudah umum: orang-orang Majus melakukan perjalanan pada malam hari, demikian juga yang dilakukan Yusuf, Maria, dan bayi Yesus (Lihat Matius 2:9,14).

[3] Kegiatan memasak biasanya dilakukan di luar rumah, atau di bawah sengkuap. Lihat Daniel-Rops, Palestine, 220.

[4] Daiman, Arbeit und Sitte VII: 70-72, 178-79; Armstrong, Parables, 80; dan Jeremias, Parables, 157.

[5] Di dalam seluruh Perjanjian Baru, kata anaideia hanya muncul di sini. Kata ini mungkin dapat diterjemahkan sebagai "tidak tahu malu" untuk menjelaskan tentang ketidaksopanan seseorang yang membangunkan tetangganya. Jeremias, Parables, 158, dan Marshall, Luke, 465, memberikan kemungkinan bahwa rasa tidak tahu malu dapat dikenakan pada tetangga itu juga karena menolak permintaan sahabatnya. Kemudian kata ini memberikan arti "tidak kehilangan muka." Karena itu tetangga itu memenuhi permintaannya karena dia tidak ingin menyebabkan keluarganya malu karena penolakannya.

[6] Peraturan ini, disebut Kal Wa-homer (dari yang tidak penting ke yang lebih penting), adalah salah satu dari tujuh peraturan hermeneutik yang disusun oleh Rabbi Hillel (60 SM - 20 M). H.L. Strack, Introduction to the Talmud and Midrash (New York: Meridian Books, 1969), 93-94.

[7] Heidelberg Catechism, Question 129.



Disalin dari :
Simon Kistemaker, Perumpamaan-perumpamaan Yesus, Saat, 2001, p 192-196


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 1 post ] 

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
Powered by phpBB & phpBB SEO
Sarapan Pagi © 2006 by BP & Saxman