It is currently Fri Apr 29, 2016 2:49 am

SarapanPagi Biblika

Bible Study / Christian Library

23. Penghakiman Terakhir

User avatar
 
Posts: 12090
Joined: Fri Jun 09, 2006 5:20 pm

23. Penghakiman Terakhir

Post by BP » Thu Oct 18, 2007 6:22 am

Perumpamaan-perumpamaan:


23. Penghakiman Terakhir



* Matius 25:31-46
25:31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
25:32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,
25:33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.
25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;
25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.
25:44 Lalu mereka pun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?
25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.
25:46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.



Sesungguhnya, perikop tentang penghakiman terakhir ini jauh lebih bersifat nubuatan daripada perumpamaan. Yang merupakan perumpamaan hanya pada bagian tentang domba dan kambing. Perbandingan singkat ini sungguh menyatakan tujuan Yesus di dalam mengajarkan doktrin tentang penghakiman terakhir [1] kepada para pengikut-Nya. Secara singkat Yesus menunjuk pada adegan penggembalaan yang biasa terjadi pada zaman itu. Gembala menggembalakan sekawanan domba yang bercampur dengan kambing. Di tempat-tempat yang jarang digunakan untuk menggembalakan. Oleh karen a daerahnya kering, maka kambing cenderung berjalan kesana kemari untuk mencari rumput dari pada diam di satu tempat [2]. Kambing-kambing itu bercampur dengan domba, tetapi domba dan kambing tidak diharapkan supaya bercampur. Pada waktu petang, domba mendengarkan suara gembala, sementara kambing memilih untuk mengabaikan panggilan gembala. Pada waktu malam tiba, domba lebih suka di tempat terbuka sedangkan kambing tidak, karena kambing tidak tahan terhadap udara dingin dan harus berada di kandang [3].

Gembala menempatkan domba di sebelah kanan dan kambing di sebelah kiri. Dia tidak memisahkan domba betina dari domba jantan, tetapi memisahkan domba dari kambing. Dia memisahkan dua jenis binatang ini. Secara simbolis dia menempatkan domba di sebelah kanan dan kambing di sebelah kiri. Domba lebih berharga daripada kambing [4], dan warna bulunya yang putih, yang berbeda dengan warna kulit kambing yang hitam, melambangkan kebenaran [5]. Sudah lama kambing diasosiasikan dengan kejahatan. Perjanjian Lama menggambarkan kambing sebagai binatang yang harus menanggung dosa yang dilepaskan ke padang gurun (Imamat 16:20-22). Bahkan dalam bahasa kita sendiri ada kata scapegoat (=kambing hitam) yang mengingatkan kita pada ayat dalam Kitab Imamat. Lagipula, sebelah kanan selalu menandakan yang baik, tetapi sebelah kiri menunjukkepada sesuatu yang menakutkan, curang, jahat, dan jelek.

Semua bangsa di dunia dibandingkan dengan domba dan kambing yang dipisahkan oleh gembala pada akhir zaman. Bangsa-bangsa akan dikumpulkan di hadapan Anak Manusia yang duduk di atas takhta-Nya dalam kemuliaan Surgawi. Melalui perintah ilahi malaikat-malaikat akan pergi dan mengumpulkan orang-orang pilihan dari empat penjuru mata angin dan menghadirkan mereka di hadapan takhta penghakiman (Matius 13:41, 42; 24:31; 2 Tesalonika 1:7, 8; Wahyu 14:17-20). Semua orang akan berdiri di hadapan Hakim. Semua orang hadir baik orang baik maupun tidak, orang jahat dan orang benar. Tidak seorang pun dikecualikan. Dan Hakim itu akan memisahkan manusia satu dengan yang lain seperti gembala yang memisahkan kawanan domba dari kambing sesudah hari penggembalaan di padang rumput.



Sebelah Kanan


Di sepanjang Injil Matius terbentang tema tentang pemisahan dan penghakiman. Gandum dikumpulkan ke dalam lumbung, tetapi sekamnya dibakar dengan api yang tidak terpadamkan (Matius 3:12); lalang dipisahkan dari gandum, dan lalang diikat lalu dibakar, sementara gandum dikumpulkan ke dalam lumbung (Matius 13:30). Pada akhir zaman para malaikat memisahkan orang benar dari orang jahat, dan melemparkan orang jahat ke dalam perapian yang menyala (Matius 13:49, 50). Lima gadis pengiring pengantin yang bodoh menemukan pintu terkunci dan mendengar mempelai laki- laki berkata, "Aku tidak mengenal kamu" (Matius 25:12). Hamba yang malas yang menguburkan satu talentanya dilemparkan ke luar ke dalam kegelapan (Matius 25:30). Dan di dalam perumpamaan ten tang domba dan kambing, prinsip pemisahan dan penghakiman diterapkan dengan jelas.

Anak Manusia, sebagaimana Yesus menyebut diri-Nya, datang dalam kemuli aan-Nya dan duduk di atas takhta-Nya dalam kemuliaan surgawi, dikelilingi oleh malaikat-malaikat-Nya, Perikop-perikop di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengulangi pernyataan kebenaran ini, yang dengan tepat menunjuk pada penghakiman terakhir sebagai penghakiman yang bersifat universal [6]. Di dalam perumpamaan tentang domba dan kambing, Yesus menerima semua orang yang telah dibawa ke hadapan-Nya, yang telah dipilih dari kekekalan. Mereka adalah orang-orang yang mendengar Raja berkata, "Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan." Mereka diselamatkan sebab Allah Bapa telah memberkati mereka dan memberitahu mereka untuk mengambil tempat di Kerajaan Surga yang telah disediakan sebelumnya [7]. Keselamatan bagi orang benar bukan berakar di dalam perbuatan-perbuatan baik mereka tetapi di dalam kebaikan hati Allah Bapa. Perbuatan-perbuatan baik yang diperlihatkan orang benar bukan merupakan dasar keselamatan tetapi merupakan buah kasih karunia [8]. Anugerah pemilihan Allah tidak mengabaikan perbuatan-perbuatan baik orang percaya. Perbuatan-perbuatan baik diharapkan keluar secara alami dari anak-anak-Nya sebagai buah dari kasih dan ketaatan.

Menarik sekali melihat bagaimana tanpa penjelasan penulis Injil ini beralih dari gambaran tentang Anak Manusia ke gambaran tentang Raja. Mengapa Matius menggunakan dua sebutan ini? Sebenarnya, identifikasi Yesus sebagai Anak Manusia dengan umat manusia tidak perlu dibuktikan lagi. Transisi dari Anak Manusia ke Raja menjadi berarti apabila dikaitkan dengan nubuat dari Daniel, di mana pribadi Anak Manusia datang dengan awan-awan di langit. "Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah" (Daniel 7:14). Tidak dapat disangkallagi bahwa Anak Manusia itu adalah Raja dan pada hari penghakiman akan berbicara sebagai Hakim yang berkuasa [9].

Perbuatan orang benar adalah perbuatan kasih dan belas kasihan yang tanpa disadari dilakukan untuk Kristus sendiri. Yesus menggunakan kata ganti orang pertama Aku enam kali dibandingkan dengan penggunaan kata kamu yang tidak mementingkan diri sendiri pada waktu berbicarakepada orang benar.

Aku lapar
dan engkau memberi Aku makan,

Aku haus
dan engkau memberi Aku minum.

Aku sebagai orang asing
dan engkau memberi Aku tumpangan,

Aku telanjang
dan engkau memberi Aku pakaian.

Aku sakit
dan engkau melawat Aku,

Aku di dalam penjara
dan engkau mengunjungi Aku
[10].


Orang benar telah menunjukkan tanggung jawabnya sebagai manusia dan perhatiannya yang tulus dalam semua perbuatan mereka. Mereka terbukti layak menjadi warga Kerajaan Surga. Pada hari penghakiman mereka akan diberi hak istimewa untuk mengambil bagian di dalam Kerajaan itu. Mereka menunjukkan kesetiaan dan kerajinan di dalam kegiatan sehari-hari. Mereka akan menerima upah mereka pada hari penghakiman. Orang benar menunjukkan kasih dan kesetiaan mereka dalam hal-hal kecil. Pada akhir zaman mereka akan dihormati oleh Allah sendiri.

Orang-orang yang berdiri di sebelah kanan Yesus Sang Raja mendengar bahwa mereka memberi makan Yesus ketika Dia lapar, dan memberi minum ketika Dia haus; mereka adalah orang-orang yang memberi tumpangan, memberi pakaian, melawat, dan mengunjungi Dia. Mereka memperhatikan orang-orang dengan siapa Kristus mengidentifikasikan diri-Nya, Tetapi siapakah orang-orang ini yang menjadi penerima kasih dan kebaikan dari orang benar? Pertanyaan mengejutkan yang diajukan kepada Yesus ini adalah, "Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar?" Dan Raja itu menjawab, "segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." Tetapi siapakah saudara-saudara Kristus ini? [11].

Di dalam Perjanjian Baru Yesus mengidentifikasi Diri-Nya dengan pengikut-pengikut-Nya [12]. Ilustrasi yang paling menyolok tentang ikatan antara Kristus dan pengikut-pengikut-Nya adalah perjumpaan Paulus dengan Yesus di jalan menuju Damaskus. "Mengapa engkau menganiaya Aku?" tanya Yesus. Sebenarnya Paulus menganiaya pengikut-pengikut-Nya [13]. Yesus adalah satu dengan pengikut-pengikut-Nya, karena setiap orang Kristen yang percaya adalah saudara atau saudari Kristus. Jadi, dengan menganiaya orang-orang percaya, Paulus menganiaya Yesus [14].

Di dalam Injil Matius,ungkapan "salah satu yang paling hina" merupakan sinonim untuk murid-murid Yesus. Ketika keduabelas rasul diutus berdua, Yesus berkata, "Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya" (Matius 10:42) [15]. Ketika Dia memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah para murid, Dia mendesak keduabelas murid-Nya untuk menjadi seperti anak-anak kecil. Orang yang paling hina yang percaya kepada Yesus menjadi milik-Nya (Matius 18:5, 6,10). Demikian juga, di dalam Matius 25:40 istilah "hina" digunakan dalam bentuk superlatif ketika Yesus berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." Karena itu, kebaikan hati yang diungkapkan kepada salah seorang pengikut Kristus, dilakukan untuk Kristus sendiri. Orang-orang Kristen dijunjung tinggi, karena pemberian atau perbuatan-perbuatan baik yang tersembunyi yang diberikan oleh dunia akan dihakimi berkenaan dengan mereka. Mereka dan Kristus adalah satu!

Pengikut Yesus Kristus diutus untuk menjadi saksi yang hidup bagi-Nya. Dia adalah wakil dari Raja, dan telah diberi otoritas untuk bersaksi demi nama Tuhan. Seorang utusan selalu menjadi milik orang yang mengutusnya. Dan orang yang diutus itu harus selalu mewakili pengutusnya.

Mereka yang menerima para utusan Raja, dan memperlakukan mereka dengan baik dengan menyediakan makanan ketika mereka lapar, minum ketika mereka haus, pakaian ketika mereka kedinginan, dan penghiburan ketika mereka sakit atau di dalam penjara, sebenarnya melakukan untuk Raja. Meniadakan kasih dan belas kasihan terhadap para utusan ini sebenarnya menghalangi orang yang mereka wakili untuk masuk (Matius 10:40).



Sebelah Kiri :


Dua teks yang sangat penting di dalam perikop tentang penghakiman terakhir adalah Matius 25:40 dan 45. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku"; dan, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku." Kedua ayat ini merupakan ayat yang paralel dan sebenarnya mempunyai susunan kata yang sarna. Penghilangan frasa "saudara-saudara-Ku" dalam ayat 45 mungkin merupakan gaya bahasa. Yang pertama dari teks-teks ini dinyatakan sungguh-sungguh dan ditujukan kepada orang benar; yang kedua ditujukan kepada orang berdosa di dalam istilah yang negatif.

Orang jahat tidak melakukan kejahatan apapun. Mereka tidak membunuh siapapun; mereka tidak berzinah, mereka tidak mencuri. Dosa-dosa mereka bukanlah dosa perbuatan tetapi kelalaian. Pada hari penghakiman apa yang gagal mereka lakukan akan diperhitungkan. Daftar keseluruhan dari kebutuhan yang diresponi dengan tepat oleh orang benar diulangi lagi, tetapi sekarang kelalaian yang menyolok disorot.

Aku lapar
dan engkau tidak memberi Aku makan,

Aku haus
dan engkau tidak memberi Aku minum,

Aku sebagai orang asing
dan engkau tidak memberi Aku tumpangan,

Aku telanjang
dan engkau tidak memberi Aku pakaian,

Aku sakit dan dalam penjara
dan engkau tidak mengunjungi Aku.



Pada saat penghakiman, seperti digambarkan dalam perikop ini, tidak ada pertanyaan tentang iman dan pertobatan di dalam Kristus. Yang ditanyakan hanyalah pertanyaan tentang tingkah laku[16]. Tentu saja, daftar perbuatan-perbuatan tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja; seseorang tidak membutuhkan latihan di dalam iman Kristen supaya mampu melakukannya.

Ketika pengikut-pengikut Kristus datang meminta tolong kepada mereka yang berdiri di sebelah kiri Raja, mereka telah ditolak dengan kasar. Di sinilah sebenarnya manusia dipisahkan, yaitu antara mereka yang bersama atau melawan Yesus. Tidak ada kenetralan ketika dikaitkan dengan Yesus: manusia harus memilih. Seperti dikatakan Yesus dengan singkat, "Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan" (Matius 12:30). Jika seseorang menolak pernyataan Injil dan menolak dengan kasar pengikut Yesus, dia menolak Kristus dan memilih di pihak musuh[17].

Apakah orang-orang yang tidak pernah mengenal Yesus juga termasuk di dalamnya? Pada hari penghakiman mereka akan dihakimi sama seperti yang lain yang ada di hadapan Anak Manusia. Rasul Paulus menyinggung hal ini ketika ia menulis tentang pengadilan Allah yang adil: "Sebab semua orang yang berdosa tanpa Hukum Taurat akan binasa tanpa Hukum Taurat" (Roma 2:12). Hanya mereka yang taat kepada hukum Allah yang dinyatakan benar[18].

Karena penolakan mereka untuk membantu pengikut-pengikut Kristus, orang-orang berdosa telah menempatkan diri mereka sendiri di luar lingkup berkat-berkat Allah. Mereka berada di bawah kutukan. Mereka mendengar kata-kata yang mengerikan, "Enyahlah kamu dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah tersedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya." Mereka dihukum dan diberi tempat bersama-sama dengan setan dan pengikut-pengikutnya [19]. Orang-orang berdosa dipisahkan dari Kristus untuk selama-lamanya: mereka dikirim ke suatu temp at di mana mereka akan menghabiskan kekekalan bersama setan dan pengikut-pengikutnya. Tempat ini dijelaskan di dalam Alkitab sebagai neraka [20].

Dalam ruang pengadilan, orang yang ditempatkan di sebelah kiri hakim akan terkejut, dan menanyakan keputusan tersebut: "Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?" Jawaban untuk pertanyaan ini adalah mereka menolak melihat Kristus ketika pengikut-pengikut-Nya datang kepada mereka. Mereka menutup mata dan mengeraskan hati ketika pengikut-pengikut Yesus memerlukan kebutuhan hidup yang mendasar. "Segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku." Frasa, "saudara-saudara-Ku," meskipun dihilangkan, tersirat. Yesus menunjuk pada murid-murid-Nya, saudara-saudara-Nya. Mereka adalah orang-orang yang percaya kepada-Nya dan membentuk gereja. Ketika mereka ditolak, Kristus juga ditolak. Mereka mewakili Yesus.

Di hadapan takhta pengadilan semua bangsa dikumpulkan; bangsa-bangsa di dunia berada di hadapan Kristus. Dan meskipun setiap orang diadili secara individual, bangsa-bangsa juga datang ke hadapan hakim secara bersama-sama. Manusia bertanggung jawab untuk sikap dan responsnya terhadap Yesus, firman-Nya, dan Kerajaan-Nya, dan menerima keputusannya sebagai individu. Tetapi manusia adalah bagian dari komunitasnya dan sebagai warga di dalam negaranya. Bersama dengan rekan-rekan senegaranya dia memikul tanggung jawab bersama atas perbuatan-perbuatan yang diprakarsai dan dilakukan "melawan Tuhan dan melawan Orang yang diurapi-Nya ... " (Mazmur 2:2). Selama pelayanan-Nya di dunia, Yesus mencela Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum, karen a mereka tidak bertobat meskipun Dia telah melakukan banyak mujizat di sana (Matius 11:20-24). Pada hari penghakiman tanggungan yang lebih ringan adalah atas Tirus, Sidon dan Sodom dari pada kota-kota di sebelah utara Galilea yang tidak meresponi pesan Yesus. Mereka akan menerima penghakiman bersama-sama.



Implikasi :


Perumpamaan ten tang domba dan kambing merupakan pendahuluan ke dalam gambaran ten tang penghakiman yang terakhir. Seperti seorang gembala yang memisahkan dombanya dari kambing, demikian juga Yesus memisahkan orang benar dari orang jahat pada hari penghakiman. Pada hari itu, semua bangsa di dunia berdiri di hadapan Anak Manusia dan dihakimi berdasarkan penerimaan atau penolakan mereka terhadap Yesus ketika para utusan-Nya menyampaikan tuntutan-tuntutan-Nya [21]. Implikasi dari gambaran ini adalah bahwa penghakiman hanya bisa terjadi ketika perintah dari Pengutus Agung telah dilaksanakan sepenuhnya. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa ... " (Matius 28:19). Ketika perintah ini telah dipenuhi, akhir zaman sudah dekat. Pengikut-pengikut Yesus harus memberitakan pesan Kerajaan Surga kepada semua bangsa dengan setia, karena ketika tugas ini selesai akhir zaman akan datang (Matius 24:14).

Para utusan Injil Yesus mengalami penderitaan dan harus menanggung lapar, haus, kedinginan, sakit, kesepian, dan dipenjarakan. Paulus menghubungkan pengalamannya dan berbicara mengenai kelaparan dan kehausan, kedinginan dan tanpa pakaian, disesah oleh orang-orang sebangsanya dan oleh orang-orang bukan Yahudi, dipenjarakan, didera, dan dalam bahaya maut (2 Korintus 11:23-27) [22]. Orang-orang yang menolong dan memedulikan dia ketika di pengadilan dan di dalam kesulitan, mereka telah menunjukkan kasih yang tulus. Perbuatan-perbuatan mereka, seperti yang dikatakan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi yang mengirimkan pemberian kepadanya, adalah " ...suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah" (Filipi 4:18 ). Tetapi ketika Paulus ditinggalkan oleh semua orang saat dia berada di pengadilan, Tuhan berdiri di sampingnya dan memberinya kekuatan. Bagi mereka yang meninggalkan dia Paulus menulis, "kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka" (2 Timotius 4:16). Paulus menyerahkan penghakiman kepada Tuhan. Meskipun dia mewakili Yesus, dia tidak mengambil alih otoritas yang dimiliki oleh Pengutusnya sebagaimana mestinya untuk dirinya sendiri. Yesus adalah hakim, dan Dia akan menjatuhkan putusan pada hari penghakiman. Paulus hanya bisa berdoa agar perbuatan mereka yang meninggalkan dia tidak ditanggungkan atas mereka yang seharusnya mendukung dia.

Pengidentifikasian Yesus dengan saudara-saudara-Nya tidak berarti mencakup semua orang miskin dan semua orang yang memerlukan bantuan di dunia. Apabila kita memakai perikop tentang penghakiman yang terakhir sebagai dasar orang-orang Kristen menyatakan kasih kepada orang-orang miskin, tanpa memandang siapa mereka, karen a semua orang-orang miskin melambangkan Kristus, adalah mengambil kesimpulan yang tidak dimaksudkan oleh teks tersebut. Pengidentifikasian Kristus dengan manusia yang ditolak di sepanjang jalan ke Yerikho atau dengan Lazarus yang terbaring di dekat pintu rumah orang kaya merupakan eksegesis yang keliru [23]. Perumpamaan tentang domba dan kambing dan penggambaran berikutnya tentang hari penghakiman menekankan kata saudara (Matius 25:40). Bagi Matius istilah saudara tidak berlaku untuk setiap orang, tetapi hanya mereka yang mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka [24]. Di dalam Injilnya, Matius memberikan suatu pemahaman Kristen tentang kata ' saudara [25]. Bagi dia, kata saudara berarti murid dan pengikut Yesus. Karena itu, frasa "saudara-saudara-Ku" di dalam Matius 25:40 menunjuk pada orang-orang yang percaya kepada Yesus. Mereka adalah anggota tubuh-Nya, yaitu Gereja.

Tentu saja, kata-kata Yesus, "Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu" (Matius 26:11; Markus 14:7; Yohanes 12:8 ), tidak berarti bahwa di dalam ketidakhadiran-Nya Yesus diwakili oleh orang-orang miskin. Kata-kata-Nya merupakan desakan untuk memperhatikan orang-orang miskin, sebagaimana Allah telah berbicara kepada bangs a Israel: "Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu" (Ulangan 15:11). Paulus sadar akan perintah yang sarna ini, yang datang kepadanya sekali lagi ketika dia terlibat di dalam misi orang-orang bukan Yahudi. Sesudah dia menerima jabat tangan persahabatan dari Yakobus, Petrus, dan Yohanes, dia berkata: "hanya kami harus tetap mengingat orang¬orang miskin ... " (Galatia 2:10).

Tidak seorang pun boleh mengabaikan orang miskin, karena perintah Allah cukup jelas, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Penggenapan hukum adalah kasih, dan dia yang memelihara hukum Kerajaan ini berarti berbuat baik (Yakobus 2:8). Karena itu orang-orang .Kristen berada di bawah kewajiban ilahi untuk menunjukkan kasih yang tulus dan perhatian yang sepenuh hati kepada mereka yang membutuhkan dan ditolak, tanpa memandang suku, asal-usul, umur, jenis kelamin, atau agama. Semua orang memenuhi syarat sebagai saudara dan berhak atas kasih, tetapi tidak setiap orang disebut saudara atau saudari Kristus. Hanya mereka yang percaya kepada Kristus dan melakukan kehendak Allahlah yang disebut saudara dan saudari Kristus (Matius 12:48 ).

Di dalam perumpamaan dan pertunjukan ten tang adegan penghakiman, orang-orang berikut ini muncul secara individual dan secara kolektif:
(1) Anak Manusia,
(2) semua bangsa-bangsa,
(3) seorang gembala,
(4) Raja,
(5) Bapa dari Raja,
(6) Orang-orang percaya,
(7) Saudara-saudara Raja, dan
(8 ) Orang-orang yang tidak percaya.

Jelaslah bahwa Allah adalah Bapa dari Raja; tetapi Allah bukanlah hakim. Raja itulah hakim, yang dibandingkan dengan seorang gembala yang memisahkan domba dari kambing. Lebih lanjut, Raja juga dikenal sebagai Anak Manusia, yang merupakan penunjukan diri Yesus. Juga saudara-saudara Raja hadir pada sa at penghakiman. Siapakah mereka? Yesus memberitahu murid-murid-Nya bahwa "sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel" (Matius 19:28 ). Hak istimewa menghakimi bersama-sama dengan Kristus tidak terbatas pada kedua belas murid-Nya saja. Orang-orang Kudus akan menghakimi dunia, tulis Paulus kepada jemaat di Korintus (1 Korintus 6:2) [26]. Hakim itu tidak sendiri tetapi dia jurubicara bagi saudara-saudaranya. Dia tidak menjatuhkan penghakiman ke atas saudara-saudaranya; tetapi semua bangsa berada di hadapan takhta dan dibagi menjadi dua kelompok: mereka yang di sebelah kanan hakim, karena mereka membantu saudara-saudara. dan mereka yang di sebelah kiri, karena mereka menolak untuk membantu.

Di dalam perumpamaan ini Yesus hanya memberikan satu aspek dari adegan penghakiman terakhir. Perikop-perikop lain di dalam Alkitab memberikan pandangan tambahan tentang apa yang akan terjadi pada hari itu [27]. Perumpamaan tentang domba dan kambing menjelaskan pembagian antara mereka yang ditempatkan di sebelah kanan dan mereka yang ditempatkan di sebelah kiri. Penggambaran ten tang penghakiman itu berakhir dengan sebuah referensi mengenai nasib mereka yang tetap. "Dan mereka ini [mereka yang berada di sebelah kiri] akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal" (Matius 25:46). Bagian akhir menunjukkan bahwa keputusan untuk kedua belah pihak merupakan keputusan akhir dan tidak bisa diubah. Orang benar menikmati kepenuhan dari kehidupan kekal, dan orang jahat memikul kutuk hukuman yang kekal.




--------------



Catatan :

[1] Meninjau teologi Matius, G. Gray, dalam "The Judgment of the Gentiles in Matthew's Theology," Scripture, Tradition and Interpretation, Festschrift honoring E.F. Harrison (Grand Rapids: Eerdmans, 1978), 199-215, menyimpulkan bahwa "Penghakiman bagi orang-orang bukan Yahudi belum tentu merupakan penghakiman terakhir bagi semua manusia," 213. J.R. Michaels, "Apostolic Hardships and Righteous Gentiles: A Study of Matthew 25:31-46," IBL84 (1965): 27-38; R'C. Oudersluys, "The Parable of the Sheep and Goats (Matthew 25:31-46):
Eschatology and Mission, Then and Now," RefR26 (1973): 151-61. Tetapi, faktanya tetap, yaitu bahwa perumpamaan ini secara keseluruhan berhubungan dengan penghakiman terakhir, dan bahwa pengadilan itu meliputi semua manusia dan bersifat final.

[2] Cansdale, Animals of Bible Lands, 44.

[3] Armstrong, Parables, 191; Jeremias, Parables, 206.

[4] Dalman, Arbeit und Sitte, VI: 217.

[5] Jeremias, Parables, 206; Manek, Frucht, 76.

[6] Zakaria 14:5; Matius 16:27; 19:28; 2Tesalonika 1:7; Yudas 14, 15; Wahyu 3:21; 20:11, 12. Di dalam bagian yang disebut "Perumpamaan" di dalam The Book of Enoch 62:5, orang-orang berdosa "melihat bahwa Anak Manusia sedang duduk di atas takhta kemuliaan-Nya." Dia adalah Mesias yang membunuh semua orang berdosa dengan perkataan dari mulut-Nya. Charles, Apocrypha and Pseudepigrapha, 2:228.

[7] Bentuk passive perfect tense untuk kata "blessed" (=diberkati, eulogemenoi) dan "prepared" (=dipersiapkan, hetoimasmenen) menandakan kesempurnaan dari keadaan yang dihasilkan di mana suatu tindakan yang dilakukan pada waktu lampau mempunyai arti yang kekal untuk waktu sekarang dan waktu yang akan datang.

[8] Hendriksen, Matthew, 888.

[9] Plummer, St. Matthew, 350; Manek, Frucht, 75; Manson, Sayings, 249.

[10] Di dalam The Testaments of the Twelve Patriarchs, Joseph 1:5,6 suatu gem a yang redup terdengar, meskipun pemikiran ini diakui berbeda secara menyolok dari bagian di dalam Injil Matius:
"aku dijual ke dalam perbudakan, dan Tuhan dari semuanya membebaskan aku: aku ditawan, dan tangan-Nya yang kuat menolong aku.
aku mengalami kelaparan, dan Tuhan sendiri memberi aku makan. aku sendirian, dan Allah menghibur aku:
aku sakit, dan Tuhan menjenguk aku:
aku di dalam penjara, dan Allahku menunjukkan kemurahan-Nya kepadaku." Charles, Apocrypha, 2: 346.

[11] Untuk penelitian komprehensif, lihat G.E. Ladd, "The Parable of the Sheep and the Goats in Recent Interpretation," New Dimensions in New Testament Study, ed. R.N. Longenecker dan M.e. Tenney (Grand Rapids: Zondervan, 1974), 191-99.

[12] Matius 10:40,42; Markus 13:13; Yohanes 15:5, 18,20; 17:10,23,26; Kisah Para Rasul 9:4; 22:7; 26:14; lKorintus 12:27; Galatia 2:20; 6:17; Ibrani 2:17.

[13] J.C. Ingelaire, "La 'parabole' du jugement dernier (Matthieu 25/31-46)," Revue d'Histoire et de Philosophie Religieuses 50 (1970):52.

[14] H.E.W. Turner, "The Parable of the Sheep and the Goats (Matthew 25:31-46)," ExpT 77 (1966): 245, menafsirkan Kisah Para Rasul 9:4 dengan mengatakan, "Sebenarnya ini adalah ilmu kebatinan, tetapi ilmu kebatinan tentang identifikasi diri sendiri dari pada tentang penyatuan." Lihat juga e.L. Mitton, "Present Justification and Final Judgment - A Discussion of the Parable of the Sheep and the Goats," ExpT68 (1956): 46-50.

[15] J.A.T. Robinson, "The 'Parable' of the Sheep and the Goats," NTS2 (1956): 225-37, juga diterbitkan dalam Twelve New Testament Studies, (Naperville: A.R. Allenson, 1962),76-93, memberikan perhatian kepada bacaan ini tetapi untuk alasan-alasan linguistik.

[16] Plummer, St. Matthew, 350.

[17] Manson, Sayings, 251.

[18] "Karena itu, ada hubungan yang erat antara karakter dosa mereka karena 'tanpa Hukum Taurat' dan kehancuran terakhir yang datang ke atas mereka juga karena 'tanpa Hukum Taurat'," J. Murray, The Epistle to the Romans (Grand Rapids:
Eerdmans, 1959), 1:70.

[19] Bentuk passive perfect tense untuk bentuk partisipal cursed (=dikutuk, keteramenoi) dan prepared (=dipersiapkan, hetoimasmenon), seperti orang-orang yang ada di dalam Injil Matius 25:34, adalah kesempurnaan dari keadaan yang dihasilkan, di mana suatu tindakan yang terjadi pada waktu lampau mempunyai keabsahan pada waktu sekarang dan akan datang.

[20] Misalnya, Yesaya 33:14; 66:24; Matius 5:22; 13:42,50; 18:8,9; Lukas 16:19-31; Yudas 7; Wahyu 19:20; 20:10, 14, 15; 21:8.

[21] L. Cope, "Matthew XXV: 31-46. "The Sheep and the Goats' reinterpreted," NovT 11 (1969): 43.

[22] J. Manek, "Mit wem identifiziert sich Jesus? Eine exegetische Rekonstruktion ad Matt. 25:31-46," Christ and Spirit in the New Testament, ed. B. Lindars and 5.5. Smalley (Cambridge: University Press, 1973), 19.

[23] Sejumlah komentator melihat Kristus yang tersembunyi sedang memperhadapkan kita dengan orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan yang tidak beruntung di dunia ini. Misalnya, Hunter, Parables, 118; Armstrong, Parables, 193.

[24] Manek. "Exegetische Rekonstruktion," 22; Manek, Frucht, 79.

[25] Matius 5:47; 12:48; 18:15; 23:8; 28:10.

[26] Manson, Sayings, 217.

[27] Misalnya, Daniel 7:9, 10; Wahyu 20:11-15.



Disalin dari :
Simon Kistemaker, Perumpamaan-perumpamaan Yesus, Saat, 2001, p 160-172


Artikel terkait :
- Khotbah Yesus Kristus di Bukit Zaitun (Matius 24: 1-25:46), di khotbah-yesus-kristus-di-bukit-zaitun-matius-24-1-25-46-vt2287.html#p12435

Return to Perumpamaan-perumpamaan

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests